REKONSTRUKSI ETIKA EUDAIMONISME PERSPEKTIF AL- GHAZALI DAN SIDDHARTA GAUTAMA

Suhuf Pub Date : 2021-10-01 DOI:10.23917/suhuf.v33i2.16586
Eriska Ismiagi, Imam Sukardi
{"title":"REKONSTRUKSI ETIKA EUDAIMONISME PERSPEKTIF AL- GHAZALI DAN SIDDHARTA GAUTAMA","authors":"Eriska Ismiagi, Imam Sukardi","doi":"10.23917/suhuf.v33i2.16586","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Artikel ini  bertujuan untuk  mendeskripsikan konsep Eudaimonisme sebagai  pandangan hidup manusia. Kebahagiaan merupakan hal yang esensial bagi kehidupan manusia. Kebahagiaan yang dimaksud bukan hanya terbatas kepada perasaan subjektif seperti senang atau gembira sebagai aspek emosional, melainkan lebih mendalam dan objektif menyangkut pengembangan seluruh aspek kemanusiaan suatu individu (aspek moral, sosial, emosional, rohani). Al-Ghazali dijelaskan dalam bukunya yang berjudul Kimiya As-Sa‟adah menjelaskan tentang pengetahuan mengenai seluruh kehidupan ini melalui Ma‟rifatullah untuk mencapai kebahagiaan sejati. Siddharta Gautama tokoh berpengaruh agama Buddha juga membahas tentang pelepasan diri dari penderitaan (dukkha) menuju pencerahan (Nibbāna) dijelaskan dalam buku yang berjudul The Buddha‟s Way To Peace and Happiness yang ditulis oleh YM Chanmyay Sayādaw. Melalui studi kepustakaan, dengan pendekatan interpretasi dan deskriptif analitis. Konsep dari keduanya memberikan pemahaman baru masyarakat beragama saat ini. Bahwa baik dalam agama Islam maupun Buddha memandang etika merupakan inti dari ajaran agama, ada tuntutan bagi pemeluknya untuk senantiasa berbuat baik kepada sesamanya. Islam memandang bahwa segala perbuatan manusia baik aktivitas individual maupun kolektif dianggap sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Sementara agama Buddha meyakini bahwa segala perbuatan baik manusia bermula dari adanya watak sejati yang  sudah  ada  dalam  diri  manusia  sebagai  kodratnya. Kedua  agama  tersebut  sama-sama berpandangan bahwa manusia itu sejatinya sama di  hadapan Tuhan, yang membedakannya adalah tingkat kebajikannya atau dalam Islam disebut ketaqwaannya.","PeriodicalId":32680,"journal":{"name":"Suhuf","volume":"32 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-10-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Suhuf","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.23917/suhuf.v33i2.16586","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Artikel ini  bertujuan untuk  mendeskripsikan konsep Eudaimonisme sebagai  pandangan hidup manusia. Kebahagiaan merupakan hal yang esensial bagi kehidupan manusia. Kebahagiaan yang dimaksud bukan hanya terbatas kepada perasaan subjektif seperti senang atau gembira sebagai aspek emosional, melainkan lebih mendalam dan objektif menyangkut pengembangan seluruh aspek kemanusiaan suatu individu (aspek moral, sosial, emosional, rohani). Al-Ghazali dijelaskan dalam bukunya yang berjudul Kimiya As-Sa‟adah menjelaskan tentang pengetahuan mengenai seluruh kehidupan ini melalui Ma‟rifatullah untuk mencapai kebahagiaan sejati. Siddharta Gautama tokoh berpengaruh agama Buddha juga membahas tentang pelepasan diri dari penderitaan (dukkha) menuju pencerahan (Nibbāna) dijelaskan dalam buku yang berjudul The Buddha‟s Way To Peace and Happiness yang ditulis oleh YM Chanmyay Sayādaw. Melalui studi kepustakaan, dengan pendekatan interpretasi dan deskriptif analitis. Konsep dari keduanya memberikan pemahaman baru masyarakat beragama saat ini. Bahwa baik dalam agama Islam maupun Buddha memandang etika merupakan inti dari ajaran agama, ada tuntutan bagi pemeluknya untuk senantiasa berbuat baik kepada sesamanya. Islam memandang bahwa segala perbuatan manusia baik aktivitas individual maupun kolektif dianggap sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Sementara agama Buddha meyakini bahwa segala perbuatan baik manusia bermula dari adanya watak sejati yang  sudah  ada  dalam  diri  manusia  sebagai  kodratnya. Kedua  agama  tersebut  sama-sama berpandangan bahwa manusia itu sejatinya sama di  hadapan Tuhan, yang membedakannya adalah tingkat kebajikannya atau dalam Islam disebut ketaqwaannya.
查看原文
分享 分享
微信好友 朋友圈 QQ好友 复制链接
本刊更多论文
尤氏道德重构主义观点AL- GHAZALI和悉达多GAUTAMA
本文旨在描述eudaimonism作为一种人类观点的概念。幸福是人类生活的必需品。幸福不只是一种主观的感觉,比如情绪上的愉悦或兴奋,而是一种更深层次的、客观的、涉及到个人人性(道德、社会、情感、精神)方方面面的发展。Al-Ghazali在他的书《Kimiya As-Sa》中解释道,rifatullah通过Ma解释了对整个生命的认识,从而获得真正的幸福。Siddharta乔达摩有影响力的佛教也谈到了自己从苦难(dukkha)释放到启蒙(Nibbāna)书中描述的名字《佛陀所写的“和平与幸福的路YM Chanmyay说ā观看。通过文献研究,通过解释方法和分析描述性描述。这两者的概念为今天的宗教社会提供了新的理解。在伊斯兰教和佛教中,伦理都是宗教教义的核心,信徒必须永远善待自己的同胞。伊斯兰教认为,人类的所有行为,个人和集体活动,都被视为对上帝的一种崇拜。虽然佛教相信,所有人类的善行都源于内在的人性,这是人类的天性。这两种宗教都认为人在上帝面前是平等的,这是因为他的美德水平或在伊斯兰教中被称为美德。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 去求助
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
10
审稿时长
4 weeks
期刊最新文献
Spinning Wheels of Knowledge: Elevating Arabic Language Learning Through Innovative Teaching Methods The Role of Waqf in Supporting Sustainable Development Goals: Linking theory and its practices Interaction Between Religious People in the Qur’an: Examining Tolerance in Tafsir Bun Yanun Marshush Unlocking HAMKA's Insights on Inner Peace in Tafsir al-Azhar The Reality of Tarbiyah, Ta’lim, and Ta’dib in Islamic Education
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
现在去查看 取消
×
提示
确定
0
微信
客服QQ
Book学术公众号 扫码关注我们
反馈
×
意见反馈
请填写您的意见或建议
请填写您的手机或邮箱
已复制链接
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
×
扫码分享
扫码分享
Book学术官方微信
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:481959085
Book学术
文献互助 智能选刊 最新文献 互助须知 联系我们:info@booksci.cn
Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。
Copyright © 2023 Book学术 All rights reserved.
ghs 京公网安备 11010802042870号 京ICP备2023020795号-1