Maria Valentina Makung, Ristanto Hadi, Yohana Rosaripatria, Siskarossa Ika Oktora
{"title":"DETERMINAN PENGANGGURAN TERDIDIK DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) TAHUN 2018 MENGGUNAKAN REGRESI LOGISTIK BINER","authors":"Maria Valentina Makung, Ristanto Hadi, Yohana Rosaripatria, Siskarossa Ika Oktora","doi":"10.26714/jsunimus.9.2.2021.64-78","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Pengangguran telah menjadi masalah serius yang harus diselesaikan di NTT. Tingkat pengangguran di NTT telah meningkat dari tahun ke tahun. Ironisnya, tingkat pengangguran ini didominasi oleh pengangguran terdidik. Berdasarkan data dari BPS, tingkat pengangguran di NTT tahun 2018 cenderung menurun, tetapi pengangguran yang berpendidikan meningkat. Dengan menggunakan data Sakernas Agustus 2018, penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pengangguran terdidik di NTT yang dilihat berdasarkan karakteristik individualnya. Karakteristik individu yang digunakan adalah jenis kelamin, usia, status rumah tangga, status perkawinan, pelatihan kerja, pengalaman kerja, dan daerah tempat tinggal. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan regresi logistik biner. Hasil analisis deskriptif menunjukkan karakteristik tenaga kerja terdidik di NTT tahun 2018 mayoritas memiliki usia 15-24 tahun, jenis kelamin perempuan, tidak berstatus kepala rumah tangga, tidak pernah menikah, tidak pernah berpartisipasi dalam pelatihan kerja, memiliki pengalaman kerja dan tinggal di wilayah perkotaan. Hasil inferensia menunjukkan bahwa variabel yang mempengaruhi pengangguran berpendidikan adalah variabel umur, status rumah tangga, status perkawinan, pengalaman kerja dan daerah tempat tinggal. Sementara jenis kelamin dan pelatihan kerja tidak memengaruhi tenaga kerja terdidik untuk menjadi pengangguran. Hasil penelitian ini sangat penting bagi pemerintah NTT untuk mengambil kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan pengangguran terdidik.","PeriodicalId":183562,"journal":{"name":"Jurnal Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang","volume":"831 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.26714/jsunimus.9.2.2021.64-78","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
DETERMINAN PENGANGGURAN TERDIDIK DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) TAHUN 2018 MENGGUNAKAN REGRESI LOGISTIK BINER
Pengangguran telah menjadi masalah serius yang harus diselesaikan di NTT. Tingkat pengangguran di NTT telah meningkat dari tahun ke tahun. Ironisnya, tingkat pengangguran ini didominasi oleh pengangguran terdidik. Berdasarkan data dari BPS, tingkat pengangguran di NTT tahun 2018 cenderung menurun, tetapi pengangguran yang berpendidikan meningkat. Dengan menggunakan data Sakernas Agustus 2018, penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pengangguran terdidik di NTT yang dilihat berdasarkan karakteristik individualnya. Karakteristik individu yang digunakan adalah jenis kelamin, usia, status rumah tangga, status perkawinan, pelatihan kerja, pengalaman kerja, dan daerah tempat tinggal. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan regresi logistik biner. Hasil analisis deskriptif menunjukkan karakteristik tenaga kerja terdidik di NTT tahun 2018 mayoritas memiliki usia 15-24 tahun, jenis kelamin perempuan, tidak berstatus kepala rumah tangga, tidak pernah menikah, tidak pernah berpartisipasi dalam pelatihan kerja, memiliki pengalaman kerja dan tinggal di wilayah perkotaan. Hasil inferensia menunjukkan bahwa variabel yang mempengaruhi pengangguran berpendidikan adalah variabel umur, status rumah tangga, status perkawinan, pengalaman kerja dan daerah tempat tinggal. Sementara jenis kelamin dan pelatihan kerja tidak memengaruhi tenaga kerja terdidik untuk menjadi pengangguran. Hasil penelitian ini sangat penting bagi pemerintah NTT untuk mengambil kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan pengangguran terdidik.