Oralitas Sekunder Dan Literasi Digital Masyarakat Indonesia

Rizki Saga Putra
{"title":"Oralitas Sekunder Dan Literasi Digital Masyarakat Indonesia","authors":"Rizki Saga Putra","doi":"10.30998/g.v2i2.1373","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Studi ini bertujuan untuk memberi gambaran bahwa kebutuhan dasar manusia akan tujuan, kebebasan, serta konektivitas yang sangat dipermudah oleh teknologi bisa jadi merupakan pekerjaan rumah yang cukup besar mengingat masyarakat Indonesia bisa dikatakan melompati era literasi yang justru sangat dibanggakan masyarakat Eropa pada masa pencerahan, di mana pengetahuan berumbuh pesat pada zaman itu. Minat baca yang merupakan tingkat literasi tahap awal sampai detik ini belum berkembang menjadi sebuah budaya yang mengakar bahkan cenderung tergerus oleh budaya tutur yang dimediasi teknologi multimedia. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia semakin tertinggal jauh terkait dengan budaya literasi. Budaya oralitas sekunder di mana bentuk audio-visual jauh lebih banyak digemari ketimbang budaya baca yang justru menyebabkan homo digitalis berevolusi menjadi homo brutalis dengan meninggalkan pemikiran kritis dan mengedepankan viralitas dibandingkan fakta serta kompetensi pemberi pesan. Kenyataan pahit terpampang nyata dimana hoax menjelma menjadi sebuah epidemi di tengah hiruk pikuk pesan viral yang jauh meninggalkan kredibilitas sumber pesan. Meningkatkan literasi dengan menumbuhkan minat baca dan pemikiran kritis atas kebenaran sebuah informasi menjadi tantangan terbesar kita sebagai homo digitalis agar tetap bertahan di tengah buaian teknologi komunikasi. Karena jangan sampai buaian teknologi membuat jari lebih aktif berkembang ketimbang otak kita dalam runtutan evolusi manusia. ","PeriodicalId":301512,"journal":{"name":"GANDIWA Jurnal Komunikasi","volume":"76 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"GANDIWA Jurnal Komunikasi","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.30998/g.v2i2.1373","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Studi ini bertujuan untuk memberi gambaran bahwa kebutuhan dasar manusia akan tujuan, kebebasan, serta konektivitas yang sangat dipermudah oleh teknologi bisa jadi merupakan pekerjaan rumah yang cukup besar mengingat masyarakat Indonesia bisa dikatakan melompati era literasi yang justru sangat dibanggakan masyarakat Eropa pada masa pencerahan, di mana pengetahuan berumbuh pesat pada zaman itu. Minat baca yang merupakan tingkat literasi tahap awal sampai detik ini belum berkembang menjadi sebuah budaya yang mengakar bahkan cenderung tergerus oleh budaya tutur yang dimediasi teknologi multimedia. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia semakin tertinggal jauh terkait dengan budaya literasi. Budaya oralitas sekunder di mana bentuk audio-visual jauh lebih banyak digemari ketimbang budaya baca yang justru menyebabkan homo digitalis berevolusi menjadi homo brutalis dengan meninggalkan pemikiran kritis dan mengedepankan viralitas dibandingkan fakta serta kompetensi pemberi pesan. Kenyataan pahit terpampang nyata dimana hoax menjelma menjadi sebuah epidemi di tengah hiruk pikuk pesan viral yang jauh meninggalkan kredibilitas sumber pesan. Meningkatkan literasi dengan menumbuhkan minat baca dan pemikiran kritis atas kebenaran sebuah informasi menjadi tantangan terbesar kita sebagai homo digitalis agar tetap bertahan di tengah buaian teknologi komunikasi. Karena jangan sampai buaian teknologi membuat jari lebih aktif berkembang ketimbang otak kita dalam runtutan evolusi manusia. 
查看原文
分享 分享
微信好友 朋友圈 QQ好友 复制链接
本刊更多论文
印度尼西亚社会的继位性和数字素养
本研究旨在给预示人类的基本需求、自由和互联互通的目标会被技术可以非常方便,所以是足够大的房子因为印尼社会工作可以说是跳过素养却很骄傲的时代欧洲启蒙时代,知识在哪里berumbuh当时迅猛发展。到目前为止,早期的识字水平还没有发展成根深蒂固的文化,甚至可能被多媒体技术的语言文化所削弱。这表明印尼社会在读写文化方面越来越落后。一种比阅读文化更受欢迎的次要性文化,这种文化导致数码塔利斯人通过放弃批判性思维和突出的视觉事实和能力而进化成暴利主义者。一个残酷的现实是,在狂热的病毒信息中,恶作剧变成了一种流行病,这使得信息的来源变得更加可信。提高读写能力,培养对信息的兴趣和批量思考,是我们作为数字主义者在通信技术摇篮中生存的最大挑战。因为科技的摇篮不应该让手指比我们的大脑在人类进化的冲击中更活跃。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 去求助
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
0
期刊最新文献
Representasi Perjuangan Ras Kulit Hitam Pada Series The Falcon And Winter Soldier Strategi Komunikasi Di Era Revolusi Digital (Kajian Fenomena Pengemis Online Media Sosial Tiktok) Prospek Kerja Content Creator Gen Z di Era 5.0 (Studi Participacy Media Culture) Pengelolaan Informasi Peran dan Fungsi Dalam Memikat Produk Ilmiah Dosen Indonesia (Melalui Program Sinta) Pemulihan Sektor Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Pada Akun Instagram @Kemenparekraf.RI
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
现在去查看 取消
×
提示
确定
0
微信
客服QQ
Book学术公众号 扫码关注我们
反馈
×
意见反馈
请填写您的意见或建议
请填写您的手机或邮箱
已复制链接
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
×
扫码分享
扫码分享
Book学术官方微信
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:481959085
Book学术
文献互助 智能选刊 最新文献 互助须知 联系我们:info@booksci.cn
Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。
Copyright © 2023 Book学术 All rights reserved.
ghs 京公网安备 11010802042870号 京ICP备2023020795号-1