{"title":"Teratoma Sakrokoksigeus: Kelainan Kongenital yang dapat Dikoreksi","authors":"Arsyi Adliah Anwar, Efendi Lukas","doi":"10.24198/obgynia.v2n2s.142","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Latar Belakang : Teratoma sakrokoksigeus (SCT) adalah jenis tumor sel germinal yang terjadi terutama pada bayi dan anak-anak. Insidennya adalah satu dari 40.000 kelahiran hidup. Teratoma sakrokoksigeus yang terdeteksi prenatal harus menjadi perhatian dan memerlukan pemantauan ketat. Kasus : Seorang wanita 23 tahun terdeteksi memiliki janin dengan teratoma sakrokoksigeus dengan diagnosis banding meningomielokel pada usia kehamilan 34 minggu. Pasien ini tidak melakukan kunjungan antenatal yang teratur. Terminasi kehamilan dilakukan dengan seksio sesarea. Prosedur operatif dilakukan dua bulan setelah kelahiran. Kesimpulan : Teratoma sakrokoksigeus yang terdiagnosis prenatal dapat menyebabkan komplikasi yang berat pada janin, meskipun tidak terjadi pada kasus ini. Kunjungan prenatal yang teratur diperlukan untuk memantau ukuran massa. Mielomeningokel adalah salah satu diagnosis banding pada teratoma sakrokoksigeus tipe A. Proses terminasi kehamilan dapat menyebakan trauma pada jaringan tumor. Oleh karena itu, pilihan terminasi harus mempertimbangkan ukuran tumor. Kata kunci : Teratoma Sakrokoksigeus, Anomali Kongenital Abstract Background : Sacrococcygeal teratomas (SCT) is a subset of germ cell tumours occur predominantly in infants and children. The incidence is one in 40 000 live births. Sacrococcygeal teratomas diagnosed prenatally should be a caution and need regular observation. Case : A 23 years old woman was detected having a fetus with sacrococcygeal teratoma with differential diagnosis as a myelomeningocele at 34 weeks of pregnancy. The patient didn’t do prenatal visit regularly. The pregnancy was terminated with cesarean section without any complication. Surgical procedure of the tumor was succesfully done 2 months after delivery. Conclusion : Sacrococcygeal teratoma diagnosed prenatally can cause severe complication for the fetus, although it was not occur in this case.. Regular prenatal visit is needed to observe the size of the mass. Myelomeningocele is one of the differential diagnose in type A sacrococcygeal teratoma. The process of delivery can cause trauma to the tumor. In order that, termination method should be based on the size of the tumor. Key words : Sacrococcygeal Teratoma, Congenital Anomaly","PeriodicalId":210732,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science","volume":"56 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2019-09-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"1","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.24198/obgynia.v2n2s.142","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Abstract
Latar Belakang : Teratoma sakrokoksigeus (SCT) adalah jenis tumor sel germinal yang terjadi terutama pada bayi dan anak-anak. Insidennya adalah satu dari 40.000 kelahiran hidup. Teratoma sakrokoksigeus yang terdeteksi prenatal harus menjadi perhatian dan memerlukan pemantauan ketat. Kasus : Seorang wanita 23 tahun terdeteksi memiliki janin dengan teratoma sakrokoksigeus dengan diagnosis banding meningomielokel pada usia kehamilan 34 minggu. Pasien ini tidak melakukan kunjungan antenatal yang teratur. Terminasi kehamilan dilakukan dengan seksio sesarea. Prosedur operatif dilakukan dua bulan setelah kelahiran. Kesimpulan : Teratoma sakrokoksigeus yang terdiagnosis prenatal dapat menyebabkan komplikasi yang berat pada janin, meskipun tidak terjadi pada kasus ini. Kunjungan prenatal yang teratur diperlukan untuk memantau ukuran massa. Mielomeningokel adalah salah satu diagnosis banding pada teratoma sakrokoksigeus tipe A. Proses terminasi kehamilan dapat menyebakan trauma pada jaringan tumor. Oleh karena itu, pilihan terminasi harus mempertimbangkan ukuran tumor. Kata kunci : Teratoma Sakrokoksigeus, Anomali Kongenital Abstract Background : Sacrococcygeal teratomas (SCT) is a subset of germ cell tumours occur predominantly in infants and children. The incidence is one in 40 000 live births. Sacrococcygeal teratomas diagnosed prenatally should be a caution and need regular observation. Case : A 23 years old woman was detected having a fetus with sacrococcygeal teratoma with differential diagnosis as a myelomeningocele at 34 weeks of pregnancy. The patient didn’t do prenatal visit regularly. The pregnancy was terminated with cesarean section without any complication. Surgical procedure of the tumor was succesfully done 2 months after delivery. Conclusion : Sacrococcygeal teratoma diagnosed prenatally can cause severe complication for the fetus, although it was not occur in this case.. Regular prenatal visit is needed to observe the size of the mass. Myelomeningocele is one of the differential diagnose in type A sacrococcygeal teratoma. The process of delivery can cause trauma to the tumor. In order that, termination method should be based on the size of the tumor. Key words : Sacrococcygeal Teratoma, Congenital Anomaly