Gumilang Ramadhan, Arinda Putri Wulandari, N. C. Apsari
{"title":"HUBUNGAN ANTARA PERILAKU KEKERASAN SEKSUAL DENGAN KONDISI LINGKUNGAN FISIK DI KAMPUS UNPAD JATINANGOR: SUDUT PANDANG MAHASISWA","authors":"Gumilang Ramadhan, Arinda Putri Wulandari, N. C. Apsari","doi":"10.31595/rehsos.v5i1.697","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Kekerasan seksual merupakan isu yang sedang hangat-hangatnya di lingkungan kampus Unpad Jatinangor, bermunculannya akun-akun di media sosial yang berisikan photo-photo pelaku kekerasan seksual dan terbentuk SATGAS PPKS yang berfokus pada penanganan kasus kekerasan seksual merupakan bukti nyata bahwa isu ini memang terjadi di lingkungan kampus. Kasus kekerasan seksual di kampus Unpad Jatinangor juga dirasa masih belum mendapatkan penanganan dengan maksimal sehingga masih banyak kasus yang tidak terselesaikan dengan baik, hal ini dipengaruhi oleh alur pengaduan yang belum diketahui oleh seluruh civitas akademik termasuk mahasiswa. Kekerasan seksual yang terjadi di kampus pun didukung oleh beberapa faktor seperti kondisi lingkungan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara kondisi fisik serta lingkungan dengan kekerasan seksual di kampus Unpad Jatinangor dengan mengacu kepada Stimulation Theory dan Behavioral Setting Theory. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian yang didapatkan menjelaskan bahwa kekerasan seksual dipengaruhi oleh adanya lingkungan fisik kampus yang sepi, gelap dan sulitnya menjangkau pos-pos keamanan, serta kurang terawatnya serta ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana seperti CCTV. Jalanan sepanjang rumpun SOSHUM dan SAINTEK, lorong-lorong gedung dan toilet menjadi beberapa titik yang berpotensi menjadi tempat terjadinya kekerasan seksual. Diperlukan aksi nyata serta kontribusi dari berbagai elemen sehingga isu ini bisa mendapatkan prioritas untuk mendapatkan penanganan dengan tepat. Seperti perbaikan sarana dan prasarana ataupun sosialisasi yang menyeluruh dan berkelanjutan mengenai upaya pencegahan serta penanganan kasus kekerasan seksual. \n \nKata Kunci: Lingkungan, Kekerasan Seksual, Stimulation Theory, Behavioral Setting Theory, Unpad Jatinangor","PeriodicalId":404475,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos)","volume":"12 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos)","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.31595/rehsos.v5i1.697","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Kekerasan seksual merupakan isu yang sedang hangat-hangatnya di lingkungan kampus Unpad Jatinangor, bermunculannya akun-akun di media sosial yang berisikan photo-photo pelaku kekerasan seksual dan terbentuk SATGAS PPKS yang berfokus pada penanganan kasus kekerasan seksual merupakan bukti nyata bahwa isu ini memang terjadi di lingkungan kampus. Kasus kekerasan seksual di kampus Unpad Jatinangor juga dirasa masih belum mendapatkan penanganan dengan maksimal sehingga masih banyak kasus yang tidak terselesaikan dengan baik, hal ini dipengaruhi oleh alur pengaduan yang belum diketahui oleh seluruh civitas akademik termasuk mahasiswa. Kekerasan seksual yang terjadi di kampus pun didukung oleh beberapa faktor seperti kondisi lingkungan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara kondisi fisik serta lingkungan dengan kekerasan seksual di kampus Unpad Jatinangor dengan mengacu kepada Stimulation Theory dan Behavioral Setting Theory. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian yang didapatkan menjelaskan bahwa kekerasan seksual dipengaruhi oleh adanya lingkungan fisik kampus yang sepi, gelap dan sulitnya menjangkau pos-pos keamanan, serta kurang terawatnya serta ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana seperti CCTV. Jalanan sepanjang rumpun SOSHUM dan SAINTEK, lorong-lorong gedung dan toilet menjadi beberapa titik yang berpotensi menjadi tempat terjadinya kekerasan seksual. Diperlukan aksi nyata serta kontribusi dari berbagai elemen sehingga isu ini bisa mendapatkan prioritas untuk mendapatkan penanganan dengan tepat. Seperti perbaikan sarana dan prasarana ataupun sosialisasi yang menyeluruh dan berkelanjutan mengenai upaya pencegahan serta penanganan kasus kekerasan seksual.
Kata Kunci: Lingkungan, Kekerasan Seksual, Stimulation Theory, Behavioral Setting Theory, Unpad Jatinangor