{"title":"Islamic Hegemony in Forming Religious Attitudes: Study of Majority and Minority Islam in Southeast Asia","authors":"Moh Bashori Alwi Almanduri","doi":"10.30983/fuaduna.v5i2.5011","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This article critically examines why the dualism of the Islamic model occurs in Southeast Asia. This article uses a historical approach with the literature method to identify how is the map of the distribution of majority and minority Islam in Southeast Asia, what causes the dualism of the Islamic model in Southeast Asia, and how the minority model occurs in the minority Islamic countries. The results show that Islamic syncretism in the archipelago is a logical consequence of the complicated process of struggling religious reflection. His entity also received many challenges from local Indigenous. The majority of Islam is largely determined by the success of harmonizing Islam with political, social and cultural conditions. On the other hand, poor harmonization with the rulers, military invasion, and colonialism cause Muslim minorities. Islamic minority models can be classified into three parts: First, Separatists, such as the Moro Philippines Muslim Separatist movement. Second, accommodating Pattani Muslims in Thailand and Singapore. Third, Genocide happened to Rohingya Muslims in Burma and Khmer Muslims in Cambodia. Furthermore, research on each minority model can be carried out further to enrich the treasures of Islamic studies in Southeast Asia.Artikel ini menelaah secara kritis mengapa terjadi dualisme model Islam di Asia Tenggara. Artikel ini menggunakan pendekatan historis dengan metode kepustakaan akan mengidentifikasi: Bagaimana peta persebaran Islam mayoritas dan minoritas di Asia Tenggara, apa yang menyebabkan dualisme model Islam di Asia Tenggara, dan bagaimana model keminoritasan yang terjadi pada negara-negara Islam minoritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sinkretisme Islam di Nusantara merupakan konsekuensi logis dari proses pergulatan refleksi keagamaan yang rumit. Entitasnya pun banyak mendapatkan tantangan dari Indigeneous lokal. Islam mayoritas sangat ditentukan oleh keberhasilan harmonisasi Islam dengan kondisi politik, sosial, dan budaya. Sebaliknya harmonisasi yang kurang baik dengan penguasa, invasi militer, dan kolonialisme menjadi faktor penyebab minoritas Islam. Model-model minoritas Islam dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian: Pertama, Separatis, seperti gerakan Separatis Muslim Moro Philipina. Kedua, Akomodatif, muslim Pattani di Thailand dan Singapura. Ketiga, Genosida, terjadi kepada muslim Rohingya di Burma dan Muslim Khmer di Kamboja. Selanjutnya penelitian terhadap masing-masing model minoritas bisa dilakukan untuk semakin memperkaya khazanah studi Islam di Asia Tenggara.","PeriodicalId":34228,"journal":{"name":"Fokus","volume":"79 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Fokus","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.30983/fuaduna.v5i2.5011","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
This article critically examines why the dualism of the Islamic model occurs in Southeast Asia. This article uses a historical approach with the literature method to identify how is the map of the distribution of majority and minority Islam in Southeast Asia, what causes the dualism of the Islamic model in Southeast Asia, and how the minority model occurs in the minority Islamic countries. The results show that Islamic syncretism in the archipelago is a logical consequence of the complicated process of struggling religious reflection. His entity also received many challenges from local Indigenous. The majority of Islam is largely determined by the success of harmonizing Islam with political, social and cultural conditions. On the other hand, poor harmonization with the rulers, military invasion, and colonialism cause Muslim minorities. Islamic minority models can be classified into three parts: First, Separatists, such as the Moro Philippines Muslim Separatist movement. Second, accommodating Pattani Muslims in Thailand and Singapore. Third, Genocide happened to Rohingya Muslims in Burma and Khmer Muslims in Cambodia. Furthermore, research on each minority model can be carried out further to enrich the treasures of Islamic studies in Southeast Asia.Artikel ini menelaah secara kritis mengapa terjadi dualisme model Islam di Asia Tenggara. Artikel ini menggunakan pendekatan historis dengan metode kepustakaan akan mengidentifikasi: Bagaimana peta persebaran Islam mayoritas dan minoritas di Asia Tenggara, apa yang menyebabkan dualisme model Islam di Asia Tenggara, dan bagaimana model keminoritasan yang terjadi pada negara-negara Islam minoritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sinkretisme Islam di Nusantara merupakan konsekuensi logis dari proses pergulatan refleksi keagamaan yang rumit. Entitasnya pun banyak mendapatkan tantangan dari Indigeneous lokal. Islam mayoritas sangat ditentukan oleh keberhasilan harmonisasi Islam dengan kondisi politik, sosial, dan budaya. Sebaliknya harmonisasi yang kurang baik dengan penguasa, invasi militer, dan kolonialisme menjadi faktor penyebab minoritas Islam. Model-model minoritas Islam dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian: Pertama, Separatis, seperti gerakan Separatis Muslim Moro Philipina. Kedua, Akomodatif, muslim Pattani di Thailand dan Singapura. Ketiga, Genosida, terjadi kepada muslim Rohingya di Burma dan Muslim Khmer di Kamboja. Selanjutnya penelitian terhadap masing-masing model minoritas bisa dilakukan untuk semakin memperkaya khazanah studi Islam di Asia Tenggara.
本文批判性地考察了为什么伊斯兰模式的二元论出现在东南亚。本文运用历史研究方法和文献研究方法,对东南亚伊斯兰教的多数和少数民族的分布图、东南亚伊斯兰教模式二元化的原因、少数民族模式在少数民族伊斯兰教国家中是如何发生的进行了研究。研究结果表明,群岛上的伊斯兰教融合是宗教反思斗争复杂过程的必然结果。他的实体也受到了当地原住民的许多挑战。伊斯兰教的多数派很大程度上取决于能否成功地将伊斯兰教与政治、社会和文化条件协调起来。另一方面,与统治者的不和谐、军事入侵和殖民主义造成了穆斯林少数民族。伊斯兰少数民族模式可分为三部分:一是分离主义,如摩洛菲律宾穆斯林分离主义运动。第二,在泰国和新加坡接纳Pattani穆斯林。第三,缅甸罗兴亚穆斯林和柬埔寨高棉穆斯林遭受种族灭绝。进一步开展对各少数民族模式的研究,丰富东南亚伊斯兰研究的瑰宝。阿蒂克尔尼menelaah secara kritis mengapa terjadi二元论模式伊斯兰教在亚洲登加拉。在此基础上,笔者提出了一种新的研究方法,即:将伊斯兰教视为亚洲的少数民族,将伊斯兰教视为亚洲的少数民族,将伊斯兰教视为亚洲的少数民族,将伊斯兰教视为亚洲的少数民族。Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinkretime Islam di Nusantara merupakan konsekuensi logis dari proses pergulatan refleksi keagamaan yang rumit。Entitasnya pun banyak mendapatkan tantangan dari土著居民。伊斯兰教市长sangat ditentukan oleh keberhasilan harmonisasi Islam dengan kondisi政治,社会,dan budaya。塞巴利尼亚harmonisasi yang kurang baik dengan penguasa,入侵军人,dan殖民主义者menjadi faktor penyebab少数民族伊斯兰教。模范-模范少数民族伊斯兰教dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian: Pertama, separs, seperti gerakan分离穆斯林摩洛菲律宾。Kedua, Akomodatif,穆斯林Pattani di Thailand and Singapura。Ketiga, Genosida, terjadi kepada缅甸罗兴亚穆斯林和柬埔寨高棉穆斯林。Selanjutnya penelitian terhadap masmasing - masmasing模式少数民族bisa dilakukan untuk semakin成员kaya khazanah研究伊斯兰教在亚洲登加拉。