关于宪法法院(MK)关于最高法院关于司法审查的SE (MA)的决定的全民原则的执行情况

Ceprudin Ceprudin
{"title":"关于宪法法院(MK)关于最高法院关于司法审查的SE (MA)的决定的全民原则的执行情况","authors":"Ceprudin Ceprudin","doi":"10.21580/walrev.2021.3.2.9423","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This study aims to analyse the decisions of the Constitutional Court (MK) and Circular Letters (SE) of the Supreme Court (MA) regarding Judicial Review (PK) in criminal cases. In March 2014, through decision No. 34/PUU-XI/2013, the Constitutional Court stated that in a criminal case, a PK may be conducted more than once. The verdict states that Article 268 paragraph (3) of Law no. 8 of 1981 concerning the Criminal Procedure Code (KUHAP) is contrary to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Interestingly, the Supreme Court issued SE No. 7 of 2014 which stipulates that PK is only allowed once. SEMA was signed on December 31, 2014, Chairman of the Supreme Court, Hatta Ali. The existence of the Constitutional Court and SEMA decisions has implications for the dualism of legal practice between only one time and maybe more than once in a PK application. Until now, the SEMA has not been revoked. The existence of the dualism of these rules seems to create uncertainty in the practice of PK law enforcement in Indonesia. Analysing the two legal products from two conflicting state institutions is very important to clarify the procedure for review. The review, which is also often called an extraordinary legal effort, is essential to maintain legal justice and safeguard the basic rights of citizens. In reviewing this fact, we will refer to the principle of Erga Omnes and its correlation with the protection of the basic rights of citizens. The principle of Erga Omnes (applies to everyone in the same case) must be heeded by all state institutions including the Supreme Court. In addition, regulation and its implementation must still pay attention to human rights. So this study uses the normative legal method. Based on the provisional facts presented, the authors hypothesise that SEMA should support the Constitutional Court's decision on PK as an implementation of the principle Erga Omnes and protect the basic rights of citizens. The principle of Erga Omnes and the framework for protecting basic human rights are two things that must be signed in the practice of review.[]Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Surat Edaran (SE) Mahkamah Agung (MA) tentang Peninjauan Kembali (PK) dalam perkara pidana. Pada Maret 2014, melalui putusan No. 34/PUU-XI/2013, MK menyatakan bahwa perkara pidana, PK boleh lebih dari satu kali. Putusan itu menyatakan Pasal 268 ayat (3) Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bertentangan dengan UUD NRI 1945. Menariknya, MA menerbitkan SE No. 7 Tahun 2014 yang menentukan bahwa PK hanya dibolehkan satu kali. SEMA ditandatangani pada 31 Desember 2014 Ketua MA, Hatta Ali. Adanya putusan MK dan SEMA itu berimplikasi pada dualisme praktik hukum antara hanya satu kali dan boleh lebih dari satu kali dalam permohonan PK. Hingga kini, SEMA tersebut belum dicabut. Adanya dualisme aturan tersebut seakan menimbulkan ketidakpastian praktik penegakkan hukum PK di Indonesia. Menganalisis dua produk hukum dari dua lembaga negara yang bertentangan itu sangat penting untuk menjernihkan tata cara peninjauan kembali. Peninjauan kembali yang juga kerap disebut upaya hukum luar biasa pada hakikatnya untuk menjaga keadilan hukum dan menjaga hak-hak dasar warga negara. Dalam mengkaji fakta ini, akan merujuk asas erga omnes dan korelasinya dengan perlindungan hak dasar warga negara. Asas erga omnes (berlaku bagi semua orang dalam perkara yang sama) harus diindahkan oleh semua lembaga negara termasuk MA. Selain itu, dalam sebuah aturan dan pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak asasi manusia. Sehingga kajian ini menggunakan metode hukum normatif. Atas fakta sementara yang tesaji, penulis berhipotesa bahwa SEMA seharusnya mendukung putusan MK tentang PK sebagai implementasi asas erga omnes dan melindungi hak-hak dasar warga negara. Asas erga omnes dan kerangka perlindungan hak dasar manusia merupakan dua hal yang harus menjadi rambu-rambu dalam praktik peninjauan kembali.","PeriodicalId":255287,"journal":{"name":"Walisongo Law Review (Walrev)","volume":"30 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":"{\"title\":\"Implementation of the Erga Omnes Principle on the Decision of the Constitutional Court (MK) concerning the Supreme Court's SE (MA) regarding Judicial Review\",\"authors\":\"Ceprudin Ceprudin\",\"doi\":\"10.21580/walrev.2021.3.2.9423\",\"DOIUrl\":null,\"url\":null,\"abstract\":\"This study aims to analyse the decisions of the Constitutional Court (MK) and Circular Letters (SE) of the Supreme Court (MA) regarding Judicial Review (PK) in criminal cases. In March 2014, through decision No. 34/PUU-XI/2013, the Constitutional Court stated that in a criminal case, a PK may be conducted more than once. The verdict states that Article 268 paragraph (3) of Law no. 8 of 1981 concerning the Criminal Procedure Code (KUHAP) is contrary to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Interestingly, the Supreme Court issued SE No. 7 of 2014 which stipulates that PK is only allowed once. SEMA was signed on December 31, 2014, Chairman of the Supreme Court, Hatta Ali. The existence of the Constitutional Court and SEMA decisions has implications for the dualism of legal practice between only one time and maybe more than once in a PK application. Until now, the SEMA has not been revoked. The existence of the dualism of these rules seems to create uncertainty in the practice of PK law enforcement in Indonesia. Analysing the two legal products from two conflicting state institutions is very important to clarify the procedure for review. The review, which is also often called an extraordinary legal effort, is essential to maintain legal justice and safeguard the basic rights of citizens. In reviewing this fact, we will refer to the principle of Erga Omnes and its correlation with the protection of the basic rights of citizens. The principle of Erga Omnes (applies to everyone in the same case) must be heeded by all state institutions including the Supreme Court. In addition, regulation and its implementation must still pay attention to human rights. So this study uses the normative legal method. Based on the provisional facts presented, the authors hypothesise that SEMA should support the Constitutional Court's decision on PK as an implementation of the principle Erga Omnes and protect the basic rights of citizens. The principle of Erga Omnes and the framework for protecting basic human rights are two things that must be signed in the practice of review.[]Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Surat Edaran (SE) Mahkamah Agung (MA) tentang Peninjauan Kembali (PK) dalam perkara pidana. Pada Maret 2014, melalui putusan No. 34/PUU-XI/2013, MK menyatakan bahwa perkara pidana, PK boleh lebih dari satu kali. Putusan itu menyatakan Pasal 268 ayat (3) Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bertentangan dengan UUD NRI 1945. Menariknya, MA menerbitkan SE No. 7 Tahun 2014 yang menentukan bahwa PK hanya dibolehkan satu kali. SEMA ditandatangani pada 31 Desember 2014 Ketua MA, Hatta Ali. Adanya putusan MK dan SEMA itu berimplikasi pada dualisme praktik hukum antara hanya satu kali dan boleh lebih dari satu kali dalam permohonan PK. Hingga kini, SEMA tersebut belum dicabut. Adanya dualisme aturan tersebut seakan menimbulkan ketidakpastian praktik penegakkan hukum PK di Indonesia. Menganalisis dua produk hukum dari dua lembaga negara yang bertentangan itu sangat penting untuk menjernihkan tata cara peninjauan kembali. Peninjauan kembali yang juga kerap disebut upaya hukum luar biasa pada hakikatnya untuk menjaga keadilan hukum dan menjaga hak-hak dasar warga negara. Dalam mengkaji fakta ini, akan merujuk asas erga omnes dan korelasinya dengan perlindungan hak dasar warga negara. Asas erga omnes (berlaku bagi semua orang dalam perkara yang sama) harus diindahkan oleh semua lembaga negara termasuk MA. Selain itu, dalam sebuah aturan dan pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak asasi manusia. Sehingga kajian ini menggunakan metode hukum normatif. Atas fakta sementara yang tesaji, penulis berhipotesa bahwa SEMA seharusnya mendukung putusan MK tentang PK sebagai implementasi asas erga omnes dan melindungi hak-hak dasar warga negara. Asas erga omnes dan kerangka perlindungan hak dasar manusia merupakan dua hal yang harus menjadi rambu-rambu dalam praktik peninjauan kembali.\",\"PeriodicalId\":255287,\"journal\":{\"name\":\"Walisongo Law Review (Walrev)\",\"volume\":\"30 1\",\"pages\":\"0\"},\"PeriodicalIF\":0.0000,\"publicationDate\":\"2021-12-01\",\"publicationTypes\":\"Journal Article\",\"fieldsOfStudy\":null,\"isOpenAccess\":false,\"openAccessPdf\":\"\",\"citationCount\":\"0\",\"resultStr\":null,\"platform\":\"Semanticscholar\",\"paperid\":null,\"PeriodicalName\":\"Walisongo Law Review (Walrev)\",\"FirstCategoryId\":\"1085\",\"ListUrlMain\":\"https://doi.org/10.21580/walrev.2021.3.2.9423\",\"RegionNum\":0,\"RegionCategory\":null,\"ArticlePicture\":[],\"TitleCN\":null,\"AbstractTextCN\":null,\"PMCID\":null,\"EPubDate\":\"\",\"PubModel\":\"\",\"JCR\":\"\",\"JCRName\":\"\",\"Score\":null,\"Total\":0}","platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Walisongo Law Review (Walrev)","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.21580/walrev.2021.3.2.9423","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

摘要

本研究旨在分析宪法法院(MK)和最高法院(MA)关于刑事案件司法审查(PK)的决定(SE)。判决书指出,第268条第(3)款规定,关于《刑事诉讼法》的1981年第8号法令违反了1945年《印度尼西亚共和国宪法》。有趣的是,最高法院发布了2014年SE第7号,规定PK只允许一次。SEMA于2014年12月31日由最高法院主席哈塔·阿里签署。宪法法院和SEMA判决的存在对法律实践的二元论产生了影响,在PK申请中只有一次和可能不止一次。到目前为止,SEMA还没有被撤销。这些规则的二元论的存在似乎给印尼的PK执法实践带来了不确定性。分析来自两个相互冲突的国家机构的两种法律产品对于澄清审查程序非常重要。这一审查通常也被称为非同寻常的法律努力,对于维护法律公正和保障公民的基本权利至关重要。在审查这一事实时,我们将提到全民平等原则及其与保护公民基本权利的关系。包括最高法院在内的所有国家机构都必须遵守Erga Omnes(在同一案件中适用于所有人)的原则。此外,监管及其实施仍必须重视人权。因此,本研究采用规范法学方法。根据所提供的临时事实,作者假设,SEMA应支持宪法法院关于PK的决定,将其作为“人人平等”原则的实施,并保护公民的基本权利。在审查实践中必须签署的是“人人享有”原则和保护基本人权的框架。[]Penelitian ini bertujuan untuk menganalis putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Surat Edaran (SE) Mahkamah Agung (MA) tentang Peninjauan Kembali (PK) dalam perkara pidana。Putusan itu menyatakan Pasal 268 ayat (3) Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tenang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bertentanan an dengan UUD NRI 1945。menarikya, MA menerbitkan SE No. 7 Tahun 2014 yang menentukan bahwa PK hanya dibolehkan satu kali。2014年12月31日Ketua MA, Hatta Ali。Adanya putusan MK dan SEMA i berimplikasi pada dualisme praktik hukum antara hanya satu kali dan boleh lebih dari satu kali dalam permohonan PK. hinga kini, SEMA tersebut belum dicabut。Adanya的二元论是自然的,但seakan menimbulkan ketidakpastian praktik penegakkan hukum PK di印度尼西亚。梦之梦,梦之梦,梦之梦,梦之梦,梦之梦,梦之梦,梦之梦,梦之梦Peninjauan kembali yang juga kerap disebut upaya hukum lua biasa pada hakikatnya untuk menjaga keadilan hukum dan menjaga hak-hak dasar warga negara。Dalam mengkaji fakta ini, akan merujuk,以及erga omnes, korelasinya dengan perlindungan hak dasar warga negara。as erga omnes (berlaku bagi semua orang dalam perkara yang sama) harus diindahkan oleh semua lembaga negara termasuk MA。Selain itu, dalam sebuah aturan和pelaksanaannya harus成员,haatikan haasasia。成兴加加建,孟古那坎方法,胡库姆规范。Atas fakta sementara yang tesaji, penulis berhipotesa bawa SEMA seharusnya mendukung putusan MK tentang PK sebagai implementasi和erga omnes dan melindungi hak-hak dasar warga negara。就像所有的人一样,当kerangka perlindungan hak dasar manusia merupakan dua hal yang harus menjadi rambu-rambu dalam praktik peninjauan kembali。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
查看原文
分享 分享
微信好友 朋友圈 QQ好友 复制链接
本刊更多论文
Implementation of the Erga Omnes Principle on the Decision of the Constitutional Court (MK) concerning the Supreme Court's SE (MA) regarding Judicial Review
This study aims to analyse the decisions of the Constitutional Court (MK) and Circular Letters (SE) of the Supreme Court (MA) regarding Judicial Review (PK) in criminal cases. In March 2014, through decision No. 34/PUU-XI/2013, the Constitutional Court stated that in a criminal case, a PK may be conducted more than once. The verdict states that Article 268 paragraph (3) of Law no. 8 of 1981 concerning the Criminal Procedure Code (KUHAP) is contrary to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Interestingly, the Supreme Court issued SE No. 7 of 2014 which stipulates that PK is only allowed once. SEMA was signed on December 31, 2014, Chairman of the Supreme Court, Hatta Ali. The existence of the Constitutional Court and SEMA decisions has implications for the dualism of legal practice between only one time and maybe more than once in a PK application. Until now, the SEMA has not been revoked. The existence of the dualism of these rules seems to create uncertainty in the practice of PK law enforcement in Indonesia. Analysing the two legal products from two conflicting state institutions is very important to clarify the procedure for review. The review, which is also often called an extraordinary legal effort, is essential to maintain legal justice and safeguard the basic rights of citizens. In reviewing this fact, we will refer to the principle of Erga Omnes and its correlation with the protection of the basic rights of citizens. The principle of Erga Omnes (applies to everyone in the same case) must be heeded by all state institutions including the Supreme Court. In addition, regulation and its implementation must still pay attention to human rights. So this study uses the normative legal method. Based on the provisional facts presented, the authors hypothesise that SEMA should support the Constitutional Court's decision on PK as an implementation of the principle Erga Omnes and protect the basic rights of citizens. The principle of Erga Omnes and the framework for protecting basic human rights are two things that must be signed in the practice of review.[]Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Surat Edaran (SE) Mahkamah Agung (MA) tentang Peninjauan Kembali (PK) dalam perkara pidana. Pada Maret 2014, melalui putusan No. 34/PUU-XI/2013, MK menyatakan bahwa perkara pidana, PK boleh lebih dari satu kali. Putusan itu menyatakan Pasal 268 ayat (3) Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bertentangan dengan UUD NRI 1945. Menariknya, MA menerbitkan SE No. 7 Tahun 2014 yang menentukan bahwa PK hanya dibolehkan satu kali. SEMA ditandatangani pada 31 Desember 2014 Ketua MA, Hatta Ali. Adanya putusan MK dan SEMA itu berimplikasi pada dualisme praktik hukum antara hanya satu kali dan boleh lebih dari satu kali dalam permohonan PK. Hingga kini, SEMA tersebut belum dicabut. Adanya dualisme aturan tersebut seakan menimbulkan ketidakpastian praktik penegakkan hukum PK di Indonesia. Menganalisis dua produk hukum dari dua lembaga negara yang bertentangan itu sangat penting untuk menjernihkan tata cara peninjauan kembali. Peninjauan kembali yang juga kerap disebut upaya hukum luar biasa pada hakikatnya untuk menjaga keadilan hukum dan menjaga hak-hak dasar warga negara. Dalam mengkaji fakta ini, akan merujuk asas erga omnes dan korelasinya dengan perlindungan hak dasar warga negara. Asas erga omnes (berlaku bagi semua orang dalam perkara yang sama) harus diindahkan oleh semua lembaga negara termasuk MA. Selain itu, dalam sebuah aturan dan pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hak asasi manusia. Sehingga kajian ini menggunakan metode hukum normatif. Atas fakta sementara yang tesaji, penulis berhipotesa bahwa SEMA seharusnya mendukung putusan MK tentang PK sebagai implementasi asas erga omnes dan melindungi hak-hak dasar warga negara. Asas erga omnes dan kerangka perlindungan hak dasar manusia merupakan dua hal yang harus menjadi rambu-rambu dalam praktik peninjauan kembali.
求助全文
通过发布文献求助,成功后即可免费获取论文全文。 去求助
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
0
期刊最新文献
Identity Politics in the Construction of Electoral Laws: A Qualitative Analysis The Concept of Legal Intensity: Harmonizing God’s Rule within Constitutional Law Understanding the Nature of Legal Knowledge: In-Depth Critique of the Legal Fiction Principle Unveiling the Issues: Feminist Legal Theory's Critique on Rape Formulation in Indonesia Legal Analysis of the Role of the Regional Assembly in the Monitoring of Notaries After Amendment of Law No. 2/2014
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
现在去查看 取消
×
提示
确定
0
微信
客服QQ
Book学术公众号 扫码关注我们
反馈
×
意见反馈
请填写您的意见或建议
请填写您的手机或邮箱
已复制链接
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
×
扫码分享
扫码分享
Book学术官方微信
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:481959085
Book学术
文献互助 智能选刊 最新文献 互助须知 联系我们:info@booksci.cn
Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。
Copyright © 2023 Book学术 All rights reserved.
ghs 京公网安备 11010802042870号 京ICP备2023020795号-1