{"title":"化学学习模块Chemo entreeship (CEP)在胶体材料上的设计和测试","authors":"Yuni Safriani, Lazulva Lazulva","doi":"10.31958/je.v1i2.4930","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"The unavailability of contextualized teaching resources for chemistry learning, as well as a lack of student interest in entrepreneurship, prompted this research. 4-D development model was used in this research until the development step. The subjects of this research were a lecturer of media expert, a teacher of material expert, 2 Senior High School teachers for media practicality test, and 10 students at State Senior High School 4 Bagan Sinembah for knowing the responses to the developed module. The data collected in this research were collected in the forms of interview and questionnaire. Questionnaire data validity and questionnaire answer were the tools of collecting data. The obtained data were analyzed by using qualitative and quantitative descriptive analysis techniques. Based on the research findings, the percentages of media validation evaluation were 97,3% by the material expert and 97,8% by the media expert with very valid evaluation criteria, and the evaluation percentage was 96,7% for teacher practicality test with very practical criterion Keyword: Learning Module, Chemo-Entrepreneurship, Colloid 1. Pendahulauan Penyusunan perangkat pembelajaran yang baik dan tepat akan mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang kondustif. Perangkat pembelajaran yang disusun hendaknya sesuai dengan kurikulum yang digunakan saat ini yaitu kurikulum 2013, yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan sebagai pribadi yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan afektif serta mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat (Sufairoh, 2016). Kondisi ini menuntut guru harus lebih kreatif dalam menentukan model, metode dan bahan ajar yang akan digunakan salah satunya berupa modul. Berdasarkan analisis kebutuhan siswa, diperlukan inovasi dalam mendesain modul yang menarik perhatian siswa untuk belajar. Pemahaman peserta didik terhadap suatu konsep kimia tidak mudah tercapai dengan sendirinya tanpa adanya upaya dan fasilitas yang didesain khusus dalam pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendesain bahan ajar berupa modul yang mampu menfasilitasi pemahaman konsep peserta didik. Modul perlu didesain secara menarik agar dapat merangsang peserta didik untuk tertarik belajar dan dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh peserta didik. Desain perangkat modul yang baik sangat dibutuhkan agar tercapainya proses pembelajaran yang mendorong peserta didik lebih aktif, dapat mendorong untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terdapat didalam modul, dan hasil yang didapat didalam modul dapat memotivasi dalam berwirausaha. Modul merupakan bahan ajar yang dikembangkan dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri dengan atau tanpa bimbingan langsung dari pengajar. Modul adalah salah satu bahan ajar cetak yang dilengkapi dengan petunjuk belajar, kompetensi yang ingin dicapai, isi materi pelajaran, informasi pendukung, latihan soal, petunjuk kerja, evaluasi, dan balikan terhadap Vol 1 No 2, Desember 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 82 hasil evaluasi peserta didik. Dengan adanya modul, peserta didik tidak hanya dapat belajar di dalam kelas pada proses pembelajaran kimia berlangsung, tetapi juga diluar kelas secara mandiri ataupun kelompok (Fani et al., 2014). Modul dapat dikembangkan dengan menggunakan pendekatan untuk menunjang proses pembelajaran kimia. Salah satu pendekatan kontekstual dalam pembelajaran kimia adalah pendekatan ChemoEntrepreneurship (CEP). Menurut Supartono dkk, melalui pendekatan CEP siswa diajarkan untuk mengkaitkan langsung pada objek nyata atau fenomena di sekitar kehidupan manusia, sehingga selain mendidik dengan pendekatan pembelajaran CEP ini memungkinkan siswa dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan memotivasi siswa untuk berwirausaha. Selain untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konsep kimia yang dipelajari, penerapan CEP dalam kegiatan pembelajaran juga dapat menjadikan suasana belajar lebih aktif dan menyenangkan. Hal ini sesuai seperti yang dipaparkan oleh Sumarti bahwa dengan pendekatan CEP, menjadikan pembelajaran kimia tidak membosankan dan memberi kesempatan siswa untuk mengoptimalkan potensinya dalam menghasilkan suatu produk. Bila siswa terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian tidak menutup kemungkinan akan menumbuhkan jiwa kewirausahaannya. jiwa kewirausahaan yang didukung kemampuan berpikir yang memadai akan meningkatkan efektifitas pembelajaran kimia tersebut. Melalui penerapan pendekatan CEP diharapkan siswa memperoleh suatu pembekalan untuk lebih kreatif dalam menghasilkan suatu produk yang bernilai ekonomis, karena kenyataan di lapangan tidak semua siswa setelah menamatkan bangku sekolah melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi (Rahmawanna et al., 2016). Pendekatan konsep CEP adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan obyek nyata. Tujuannya adalah untuk memotivasi siswa agar mempunyai semangat berwirausaha. Melalui pendekatan ini pengajaran kimia akan lebih menyenangkan dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan produk. Apabila siswa sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan akan memotivasi mereka untuk berwirausaha. Bertolak dari masalah tersebut ,kiranya perlu dilakukan langkah-langkah agar pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan di dunia kerja (vocational skill) yang merupakan bagian dari life skill siswa sehingga dapat memberikan kemampuan dan keberanian menghadapi problema kehidupan, kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Salah satu pendekatan yang cocok untuk menjawab permasalahan diatas adalah pendekatan Chemo-Entrepreneurship (CEP) (Supartono et al., 2009). Modul dengan pendekatan CEP sebagai bahan ajar dalam pembelajaran dapat digunakan untuk menyampaikan materi kimia salah satunya materi koloid. Koloid adalah salah satu dari materi pembelajaran kimia. Koloid ialah campuran dari dua atau lebih zat yang salah satu fasanya tersuspensi sebagai sejumlah besar partikel yang sangat kecil dalam fasa kedua (Oktoby & W, 1999). Materi koloid merupakan materi yang tidak hanya memerlukan pemahaman hafalan, tetapi juga pemahaman konsep agar peserta didik lebih mudah memahami, mengingat, dan menjawab soal-soal latihan yang ada didalam modul. Materi koloid ini berhubungkan secara langsung dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Materi koloid merupakan salah satu materi yang pengaplikasiannya nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti pembuatan agar-agar, dan pembuatan yoghurt, yang dapat dijadikan suatu produk untuk menghasilkan nilai ekonomis, maka dari itu dibutuhkan pendekatan yang dapat menumbuhkan semangat ataupun jiwa berwirausaha peserta didik. Pendekatan yang sesuai adalah pendekatan CEP yaitu pendekatan kontekstual yang dikaitkan dengan objek nyata. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kartika et al., (2017) kepada 19 orang guru kimia diketahui bahwa dalam pembelajaran kimia, guru mengajar menggunakan buku pelajaran kimia berupa buku paket yang digunakan sebagai pedoman untuk mengajar (100%). Terdapat Vol 1 No 2, Desember 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 83 guru yang pernah membuat modul kimia, namun belum disesuaikan dengan model pembelajaran (20%). Siswa memiliki buku pegangan berupa LKS, modul kimia, dan buku yang dipinjamkan oleh sekolah (100%). Sumber belajar tersebut memfasilitasi siswa dalam memahami materi dan dijadikan sebagai pedoman untuk siswa saat belajar (60%). Terdapat kekurangan dari buku yang digunakan diantaranya ada beberapa buku yang tidak langsung tertuju pada indikatornya, sehingga guru mengajar menggunakan beberapa buku lain (80%). Selain itu, belum ada buku yang digunakan mengarahkan siswa untuk berpikir kontekstual (0%). Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu guru kimia di sekolah SMA Negeri 4 Bagan Sinembah, di dapatkan informasi bahwa di sekolah tersebut bahwa belum ada modul pembelajaran kimia yang menyajikan materi secara konteksual seperti berbasis kewirausahaan. Selain itu berdasarkan wawancara dengan siswa diketahui bahwa siswa banyak yang belum memahami aplikasi kimia yang dapat dijadikan ide berwirausaha. Selain itu, berdasarkan penyebaran angket kebutuhan modul kepada 10 orang siswa diketahui bahwa siswa membutuhkan modul berbasis wirausaha (100%), siswa berpendapat bahwa variasi dalam sumber belajar penting (100%), bahan pembelajaran selama ini melatih jiwa kewirausahaan (20%), siswa mengetahui ide-ide wirausaha kimia dengan menggunakan bahan ajar yang digunakan selama ini (20%). Selain, pada materi koloid siswa mengetahui tentang contoh contoh produk koloid yang mungkin dijadikan ide-ide berwirausaha (30%). Hal ini mengindikasikan diperlukannya modul pembelajaran kimia berbasis CEP pada materi koloid. Keunggulan dari modul dengan berbasis CEP ini untuk mewujudkan pembelajaran kimia menjadi lebih menarik, menyenangkan dan lebih bermakna. Dengan adanya modul ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat/jiwa berwirahusaha bagi siswa dalam proses belajar seperti kreatif, inovatif, berwawasan luas, mandiri dan pantang menyerah. Dengan adanya modul berbasis CEP diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar, dan meningkatkan kreativitas siswa secara segnifikan, serta dapat meningkatkan pengembangan kecakapan hidup dan menumbuhkan sikap kewirausahaan siswa. Tujuan dari penenilitian ini adalah adalah untuk mengetahui tingkat validitas dan praktikalitas dari desain dan uji coba modul kimia berbasis Chemo-Entrepreneurship (CEP) pada materi koloid yang telah didesain untuk digunakan sebagai sumber belajar bagi guru dan peserta didik. 2. Metode Penelitian ini merupakan penelitian R&D. Dalam penelitian ini dilakukan desain 4-D yang terdiri dari pendefinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran, namun penelitian ini dibatasi hingga ke pe","PeriodicalId":244772,"journal":{"name":"Edusainstika: Jurnal Pembelajaran MIPA","volume":"24 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":"{\"title\":\"Desain dan Uji Coba Modul Pembelajaran Kimia Berbasis Chemo Entrepreneurship (CEP) Pada Materi Koloid\",\"authors\":\"Yuni Safriani, Lazulva Lazulva\",\"doi\":\"10.31958/je.v1i2.4930\",\"DOIUrl\":null,\"url\":null,\"abstract\":\"The unavailability of contextualized teaching resources for chemistry learning, as well as a lack of student interest in entrepreneurship, prompted this research. 4-D development model was used in this research until the development step. The subjects of this research were a lecturer of media expert, a teacher of material expert, 2 Senior High School teachers for media practicality test, and 10 students at State Senior High School 4 Bagan Sinembah for knowing the responses to the developed module. The data collected in this research were collected in the forms of interview and questionnaire. Questionnaire data validity and questionnaire answer were the tools of collecting data. The obtained data were analyzed by using qualitative and quantitative descriptive analysis techniques. Based on the research findings, the percentages of media validation evaluation were 97,3% by the material expert and 97,8% by the media expert with very valid evaluation criteria, and the evaluation percentage was 96,7% for teacher practicality test with very practical criterion Keyword: Learning Module, Chemo-Entrepreneurship, Colloid 1. Pendahulauan Penyusunan perangkat pembelajaran yang baik dan tepat akan mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang kondustif. Perangkat pembelajaran yang disusun hendaknya sesuai dengan kurikulum yang digunakan saat ini yaitu kurikulum 2013, yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan sebagai pribadi yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan afektif serta mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat (Sufairoh, 2016). Kondisi ini menuntut guru harus lebih kreatif dalam menentukan model, metode dan bahan ajar yang akan digunakan salah satunya berupa modul. Berdasarkan analisis kebutuhan siswa, diperlukan inovasi dalam mendesain modul yang menarik perhatian siswa untuk belajar. Pemahaman peserta didik terhadap suatu konsep kimia tidak mudah tercapai dengan sendirinya tanpa adanya upaya dan fasilitas yang didesain khusus dalam pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendesain bahan ajar berupa modul yang mampu menfasilitasi pemahaman konsep peserta didik. Modul perlu didesain secara menarik agar dapat merangsang peserta didik untuk tertarik belajar dan dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh peserta didik. Desain perangkat modul yang baik sangat dibutuhkan agar tercapainya proses pembelajaran yang mendorong peserta didik lebih aktif, dapat mendorong untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terdapat didalam modul, dan hasil yang didapat didalam modul dapat memotivasi dalam berwirausaha. Modul merupakan bahan ajar yang dikembangkan dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri dengan atau tanpa bimbingan langsung dari pengajar. Modul adalah salah satu bahan ajar cetak yang dilengkapi dengan petunjuk belajar, kompetensi yang ingin dicapai, isi materi pelajaran, informasi pendukung, latihan soal, petunjuk kerja, evaluasi, dan balikan terhadap Vol 1 No 2, Desember 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 82 hasil evaluasi peserta didik. Dengan adanya modul, peserta didik tidak hanya dapat belajar di dalam kelas pada proses pembelajaran kimia berlangsung, tetapi juga diluar kelas secara mandiri ataupun kelompok (Fani et al., 2014). Modul dapat dikembangkan dengan menggunakan pendekatan untuk menunjang proses pembelajaran kimia. Salah satu pendekatan kontekstual dalam pembelajaran kimia adalah pendekatan ChemoEntrepreneurship (CEP). Menurut Supartono dkk, melalui pendekatan CEP siswa diajarkan untuk mengkaitkan langsung pada objek nyata atau fenomena di sekitar kehidupan manusia, sehingga selain mendidik dengan pendekatan pembelajaran CEP ini memungkinkan siswa dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan memotivasi siswa untuk berwirausaha. Selain untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konsep kimia yang dipelajari, penerapan CEP dalam kegiatan pembelajaran juga dapat menjadikan suasana belajar lebih aktif dan menyenangkan. Hal ini sesuai seperti yang dipaparkan oleh Sumarti bahwa dengan pendekatan CEP, menjadikan pembelajaran kimia tidak membosankan dan memberi kesempatan siswa untuk mengoptimalkan potensinya dalam menghasilkan suatu produk. Bila siswa terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian tidak menutup kemungkinan akan menumbuhkan jiwa kewirausahaannya. jiwa kewirausahaan yang didukung kemampuan berpikir yang memadai akan meningkatkan efektifitas pembelajaran kimia tersebut. Melalui penerapan pendekatan CEP diharapkan siswa memperoleh suatu pembekalan untuk lebih kreatif dalam menghasilkan suatu produk yang bernilai ekonomis, karena kenyataan di lapangan tidak semua siswa setelah menamatkan bangku sekolah melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi (Rahmawanna et al., 2016). Pendekatan konsep CEP adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan obyek nyata. Tujuannya adalah untuk memotivasi siswa agar mempunyai semangat berwirausaha. Melalui pendekatan ini pengajaran kimia akan lebih menyenangkan dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan produk. Apabila siswa sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan akan memotivasi mereka untuk berwirausaha. Bertolak dari masalah tersebut ,kiranya perlu dilakukan langkah-langkah agar pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan di dunia kerja (vocational skill) yang merupakan bagian dari life skill siswa sehingga dapat memberikan kemampuan dan keberanian menghadapi problema kehidupan, kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Salah satu pendekatan yang cocok untuk menjawab permasalahan diatas adalah pendekatan Chemo-Entrepreneurship (CEP) (Supartono et al., 2009). Modul dengan pendekatan CEP sebagai bahan ajar dalam pembelajaran dapat digunakan untuk menyampaikan materi kimia salah satunya materi koloid. Koloid adalah salah satu dari materi pembelajaran kimia. Koloid ialah campuran dari dua atau lebih zat yang salah satu fasanya tersuspensi sebagai sejumlah besar partikel yang sangat kecil dalam fasa kedua (Oktoby & W, 1999). Materi koloid merupakan materi yang tidak hanya memerlukan pemahaman hafalan, tetapi juga pemahaman konsep agar peserta didik lebih mudah memahami, mengingat, dan menjawab soal-soal latihan yang ada didalam modul. Materi koloid ini berhubungkan secara langsung dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Materi koloid merupakan salah satu materi yang pengaplikasiannya nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti pembuatan agar-agar, dan pembuatan yoghurt, yang dapat dijadikan suatu produk untuk menghasilkan nilai ekonomis, maka dari itu dibutuhkan pendekatan yang dapat menumbuhkan semangat ataupun jiwa berwirausaha peserta didik. Pendekatan yang sesuai adalah pendekatan CEP yaitu pendekatan kontekstual yang dikaitkan dengan objek nyata. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kartika et al., (2017) kepada 19 orang guru kimia diketahui bahwa dalam pembelajaran kimia, guru mengajar menggunakan buku pelajaran kimia berupa buku paket yang digunakan sebagai pedoman untuk mengajar (100%). Terdapat Vol 1 No 2, Desember 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 83 guru yang pernah membuat modul kimia, namun belum disesuaikan dengan model pembelajaran (20%). Siswa memiliki buku pegangan berupa LKS, modul kimia, dan buku yang dipinjamkan oleh sekolah (100%). Sumber belajar tersebut memfasilitasi siswa dalam memahami materi dan dijadikan sebagai pedoman untuk siswa saat belajar (60%). Terdapat kekurangan dari buku yang digunakan diantaranya ada beberapa buku yang tidak langsung tertuju pada indikatornya, sehingga guru mengajar menggunakan beberapa buku lain (80%). Selain itu, belum ada buku yang digunakan mengarahkan siswa untuk berpikir kontekstual (0%). Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu guru kimia di sekolah SMA Negeri 4 Bagan Sinembah, di dapatkan informasi bahwa di sekolah tersebut bahwa belum ada modul pembelajaran kimia yang menyajikan materi secara konteksual seperti berbasis kewirausahaan. Selain itu berdasarkan wawancara dengan siswa diketahui bahwa siswa banyak yang belum memahami aplikasi kimia yang dapat dijadikan ide berwirausaha. Selain itu, berdasarkan penyebaran angket kebutuhan modul kepada 10 orang siswa diketahui bahwa siswa membutuhkan modul berbasis wirausaha (100%), siswa berpendapat bahwa variasi dalam sumber belajar penting (100%), bahan pembelajaran selama ini melatih jiwa kewirausahaan (20%), siswa mengetahui ide-ide wirausaha kimia dengan menggunakan bahan ajar yang digunakan selama ini (20%). Selain, pada materi koloid siswa mengetahui tentang contoh contoh produk koloid yang mungkin dijadikan ide-ide berwirausaha (30%). Hal ini mengindikasikan diperlukannya modul pembelajaran kimia berbasis CEP pada materi koloid. Keunggulan dari modul dengan berbasis CEP ini untuk mewujudkan pembelajaran kimia menjadi lebih menarik, menyenangkan dan lebih bermakna. Dengan adanya modul ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat/jiwa berwirahusaha bagi siswa dalam proses belajar seperti kreatif, inovatif, berwawasan luas, mandiri dan pantang menyerah. Dengan adanya modul berbasis CEP diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar, dan meningkatkan kreativitas siswa secara segnifikan, serta dapat meningkatkan pengembangan kecakapan hidup dan menumbuhkan sikap kewirausahaan siswa. Tujuan dari penenilitian ini adalah adalah untuk mengetahui tingkat validitas dan praktikalitas dari desain dan uji coba modul kimia berbasis Chemo-Entrepreneurship (CEP) pada materi koloid yang telah didesain untuk digunakan sebagai sumber belajar bagi guru dan peserta didik. 2. Metode Penelitian ini merupakan penelitian R&D. Dalam penelitian ini dilakukan desain 4-D yang terdiri dari pendefinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran, namun penelitian ini dibatasi hingga ke pe\",\"PeriodicalId\":244772,\"journal\":{\"name\":\"Edusainstika: Jurnal Pembelajaran MIPA\",\"volume\":\"24 1\",\"pages\":\"0\"},\"PeriodicalIF\":0.0000,\"publicationDate\":\"2021-12-31\",\"publicationTypes\":\"Journal Article\",\"fieldsOfStudy\":null,\"isOpenAccess\":false,\"openAccessPdf\":\"\",\"citationCount\":\"0\",\"resultStr\":null,\"platform\":\"Semanticscholar\",\"paperid\":null,\"PeriodicalName\":\"Edusainstika: Jurnal Pembelajaran MIPA\",\"FirstCategoryId\":\"1085\",\"ListUrlMain\":\"https://doi.org/10.31958/je.v1i2.4930\",\"RegionNum\":0,\"RegionCategory\":null,\"ArticlePicture\":[],\"TitleCN\":null,\"AbstractTextCN\":null,\"PMCID\":null,\"EPubDate\":\"\",\"PubModel\":\"\",\"JCR\":\"\",\"JCRName\":\"\",\"Score\":null,\"Total\":0}","platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Edusainstika: Jurnal Pembelajaran MIPA","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.31958/je.v1i2.4930","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
Desain dan Uji Coba Modul Pembelajaran Kimia Berbasis Chemo Entrepreneurship (CEP) Pada Materi Koloid
The unavailability of contextualized teaching resources for chemistry learning, as well as a lack of student interest in entrepreneurship, prompted this research. 4-D development model was used in this research until the development step. The subjects of this research were a lecturer of media expert, a teacher of material expert, 2 Senior High School teachers for media practicality test, and 10 students at State Senior High School 4 Bagan Sinembah for knowing the responses to the developed module. The data collected in this research were collected in the forms of interview and questionnaire. Questionnaire data validity and questionnaire answer were the tools of collecting data. The obtained data were analyzed by using qualitative and quantitative descriptive analysis techniques. Based on the research findings, the percentages of media validation evaluation were 97,3% by the material expert and 97,8% by the media expert with very valid evaluation criteria, and the evaluation percentage was 96,7% for teacher practicality test with very practical criterion Keyword: Learning Module, Chemo-Entrepreneurship, Colloid 1. Pendahulauan Penyusunan perangkat pembelajaran yang baik dan tepat akan mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang kondustif. Perangkat pembelajaran yang disusun hendaknya sesuai dengan kurikulum yang digunakan saat ini yaitu kurikulum 2013, yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan sebagai pribadi yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan afektif serta mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat (Sufairoh, 2016). Kondisi ini menuntut guru harus lebih kreatif dalam menentukan model, metode dan bahan ajar yang akan digunakan salah satunya berupa modul. Berdasarkan analisis kebutuhan siswa, diperlukan inovasi dalam mendesain modul yang menarik perhatian siswa untuk belajar. Pemahaman peserta didik terhadap suatu konsep kimia tidak mudah tercapai dengan sendirinya tanpa adanya upaya dan fasilitas yang didesain khusus dalam pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendesain bahan ajar berupa modul yang mampu menfasilitasi pemahaman konsep peserta didik. Modul perlu didesain secara menarik agar dapat merangsang peserta didik untuk tertarik belajar dan dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh peserta didik. Desain perangkat modul yang baik sangat dibutuhkan agar tercapainya proses pembelajaran yang mendorong peserta didik lebih aktif, dapat mendorong untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terdapat didalam modul, dan hasil yang didapat didalam modul dapat memotivasi dalam berwirausaha. Modul merupakan bahan ajar yang dikembangkan dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri dengan atau tanpa bimbingan langsung dari pengajar. Modul adalah salah satu bahan ajar cetak yang dilengkapi dengan petunjuk belajar, kompetensi yang ingin dicapai, isi materi pelajaran, informasi pendukung, latihan soal, petunjuk kerja, evaluasi, dan balikan terhadap Vol 1 No 2, Desember 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 82 hasil evaluasi peserta didik. Dengan adanya modul, peserta didik tidak hanya dapat belajar di dalam kelas pada proses pembelajaran kimia berlangsung, tetapi juga diluar kelas secara mandiri ataupun kelompok (Fani et al., 2014). Modul dapat dikembangkan dengan menggunakan pendekatan untuk menunjang proses pembelajaran kimia. Salah satu pendekatan kontekstual dalam pembelajaran kimia adalah pendekatan ChemoEntrepreneurship (CEP). Menurut Supartono dkk, melalui pendekatan CEP siswa diajarkan untuk mengkaitkan langsung pada objek nyata atau fenomena di sekitar kehidupan manusia, sehingga selain mendidik dengan pendekatan pembelajaran CEP ini memungkinkan siswa dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan memotivasi siswa untuk berwirausaha. Selain untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konsep kimia yang dipelajari, penerapan CEP dalam kegiatan pembelajaran juga dapat menjadikan suasana belajar lebih aktif dan menyenangkan. Hal ini sesuai seperti yang dipaparkan oleh Sumarti bahwa dengan pendekatan CEP, menjadikan pembelajaran kimia tidak membosankan dan memberi kesempatan siswa untuk mengoptimalkan potensinya dalam menghasilkan suatu produk. Bila siswa terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian tidak menutup kemungkinan akan menumbuhkan jiwa kewirausahaannya. jiwa kewirausahaan yang didukung kemampuan berpikir yang memadai akan meningkatkan efektifitas pembelajaran kimia tersebut. Melalui penerapan pendekatan CEP diharapkan siswa memperoleh suatu pembekalan untuk lebih kreatif dalam menghasilkan suatu produk yang bernilai ekonomis, karena kenyataan di lapangan tidak semua siswa setelah menamatkan bangku sekolah melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi (Rahmawanna et al., 2016). Pendekatan konsep CEP adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan obyek nyata. Tujuannya adalah untuk memotivasi siswa agar mempunyai semangat berwirausaha. Melalui pendekatan ini pengajaran kimia akan lebih menyenangkan dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan produk. Apabila siswa sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan akan memotivasi mereka untuk berwirausaha. Bertolak dari masalah tersebut ,kiranya perlu dilakukan langkah-langkah agar pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan di dunia kerja (vocational skill) yang merupakan bagian dari life skill siswa sehingga dapat memberikan kemampuan dan keberanian menghadapi problema kehidupan, kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Salah satu pendekatan yang cocok untuk menjawab permasalahan diatas adalah pendekatan Chemo-Entrepreneurship (CEP) (Supartono et al., 2009). Modul dengan pendekatan CEP sebagai bahan ajar dalam pembelajaran dapat digunakan untuk menyampaikan materi kimia salah satunya materi koloid. Koloid adalah salah satu dari materi pembelajaran kimia. Koloid ialah campuran dari dua atau lebih zat yang salah satu fasanya tersuspensi sebagai sejumlah besar partikel yang sangat kecil dalam fasa kedua (Oktoby & W, 1999). Materi koloid merupakan materi yang tidak hanya memerlukan pemahaman hafalan, tetapi juga pemahaman konsep agar peserta didik lebih mudah memahami, mengingat, dan menjawab soal-soal latihan yang ada didalam modul. Materi koloid ini berhubungkan secara langsung dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Materi koloid merupakan salah satu materi yang pengaplikasiannya nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti pembuatan agar-agar, dan pembuatan yoghurt, yang dapat dijadikan suatu produk untuk menghasilkan nilai ekonomis, maka dari itu dibutuhkan pendekatan yang dapat menumbuhkan semangat ataupun jiwa berwirausaha peserta didik. Pendekatan yang sesuai adalah pendekatan CEP yaitu pendekatan kontekstual yang dikaitkan dengan objek nyata. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kartika et al., (2017) kepada 19 orang guru kimia diketahui bahwa dalam pembelajaran kimia, guru mengajar menggunakan buku pelajaran kimia berupa buku paket yang digunakan sebagai pedoman untuk mengajar (100%). Terdapat Vol 1 No 2, Desember 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 83 guru yang pernah membuat modul kimia, namun belum disesuaikan dengan model pembelajaran (20%). Siswa memiliki buku pegangan berupa LKS, modul kimia, dan buku yang dipinjamkan oleh sekolah (100%). Sumber belajar tersebut memfasilitasi siswa dalam memahami materi dan dijadikan sebagai pedoman untuk siswa saat belajar (60%). Terdapat kekurangan dari buku yang digunakan diantaranya ada beberapa buku yang tidak langsung tertuju pada indikatornya, sehingga guru mengajar menggunakan beberapa buku lain (80%). Selain itu, belum ada buku yang digunakan mengarahkan siswa untuk berpikir kontekstual (0%). Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu guru kimia di sekolah SMA Negeri 4 Bagan Sinembah, di dapatkan informasi bahwa di sekolah tersebut bahwa belum ada modul pembelajaran kimia yang menyajikan materi secara konteksual seperti berbasis kewirausahaan. Selain itu berdasarkan wawancara dengan siswa diketahui bahwa siswa banyak yang belum memahami aplikasi kimia yang dapat dijadikan ide berwirausaha. Selain itu, berdasarkan penyebaran angket kebutuhan modul kepada 10 orang siswa diketahui bahwa siswa membutuhkan modul berbasis wirausaha (100%), siswa berpendapat bahwa variasi dalam sumber belajar penting (100%), bahan pembelajaran selama ini melatih jiwa kewirausahaan (20%), siswa mengetahui ide-ide wirausaha kimia dengan menggunakan bahan ajar yang digunakan selama ini (20%). Selain, pada materi koloid siswa mengetahui tentang contoh contoh produk koloid yang mungkin dijadikan ide-ide berwirausaha (30%). Hal ini mengindikasikan diperlukannya modul pembelajaran kimia berbasis CEP pada materi koloid. Keunggulan dari modul dengan berbasis CEP ini untuk mewujudkan pembelajaran kimia menjadi lebih menarik, menyenangkan dan lebih bermakna. Dengan adanya modul ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat/jiwa berwirahusaha bagi siswa dalam proses belajar seperti kreatif, inovatif, berwawasan luas, mandiri dan pantang menyerah. Dengan adanya modul berbasis CEP diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar, dan meningkatkan kreativitas siswa secara segnifikan, serta dapat meningkatkan pengembangan kecakapan hidup dan menumbuhkan sikap kewirausahaan siswa. Tujuan dari penenilitian ini adalah adalah untuk mengetahui tingkat validitas dan praktikalitas dari desain dan uji coba modul kimia berbasis Chemo-Entrepreneurship (CEP) pada materi koloid yang telah didesain untuk digunakan sebagai sumber belajar bagi guru dan peserta didik. 2. Metode Penelitian ini merupakan penelitian R&D. Dalam penelitian ini dilakukan desain 4-D yang terdiri dari pendefinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran, namun penelitian ini dibatasi hingga ke pe