{"title":"马来土地上的伊斯兰形式主义运动:占碑市克里奇穆斯林社区的经验","authors":"Marjan Fadil, Martunus Rahim, Indra Ikhsan","doi":"10.30983/FUADUNA.V5I1.4596","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This article aims to analyze the development of Islamic religious movements in the Malay traditional land of Kerinci Jambi, particularly related to the tendency of religious formalism in Islamic communities. The pattern of education, local customs and traditions, as well as religious ideology contributed to the emergence of a Muslim community that only paid attention to the formal side of religion or known as formalist Islam. This study uses an anthropological approach through interviews, observations, and documentation of Muslim communities in Kerinci Jambi. This paper finds that formalist Islam tends to be difficult to develop in Malay society exclusively from indigenous groups, and more easily accepted for inclusive societies from immigrant groups or mixing with outsiders and academics. This exclusive Malay community seeks to maintain the Islamic ideology that has been institutionalized in the structure of society that does not contradict between custom and religion since the first, namely Islam with the nuances of Sufism, based on the Shafi'i Madhhab in fiqh, and al-Ghazali Madhhab in theology. Meanwhile, inclusive societies tend to be open to accepting various Islamic identities and most of them do not hold strong traditional values. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan gerakan keagamaan Islam di tanah adat Melayu Kerinci Jambi, khususnya terkait kecenderungan formalisme keberagamaan komunitas-komunitas Islam. Pola pendidikan, adat dan tradisi lokal, serta ideologi keagamaan memberi kontribusi bagi kemunculan komunitas Muslim yang hanya memperhatikan sisi formal agama saja atau dikenal dengan Islam formalis. Studi ini menggunakan pendekatan antropologis melalui wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap komunitas-komunitas Muslim yang terdapat di Kerinci Jambi. Tulisan ini menemukan bahwa Islam formalis cenderung sulit berkembang dalam masyarakat Melayu eksklusif dari golongan masyarakat pribumi, dan lebih mudah diterima bagi masyarakat inklusif dari golongan pendatang atau percampuran dengan masyarakat luar dan para akademisi. Masyarakat Melayu eksklusif ini berupaya mempertahankan ideologi Islam yang telah melembaga dalam struktur masyarakat yang tidak mempertentangkan antara adat dan agama semenjak dahulu yakni Islam dengan nuansa tasawuf, bermazhab Syafi’i dalam fikih, dan bermazhab al-Ghazali dalam teologi. Sedangkan masyarakat inklusif cenderung terbuka menerima beragam identitas Islam dan mereka sebagian besar tidak memegang nilai adat secara kuat. ","PeriodicalId":34228,"journal":{"name":"Fokus","volume":"4317 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"1","resultStr":"{\"title\":\"The Islamic Formalism Movement in Malay Land: Experiences of the Muslim Community in Kerinci, Jambi\",\"authors\":\"Marjan Fadil, Martunus Rahim, Indra Ikhsan\",\"doi\":\"10.30983/FUADUNA.V5I1.4596\",\"DOIUrl\":null,\"url\":null,\"abstract\":\"This article aims to analyze the development of Islamic religious movements in the Malay traditional land of Kerinci Jambi, particularly related to the tendency of religious formalism in Islamic communities. The pattern of education, local customs and traditions, as well as religious ideology contributed to the emergence of a Muslim community that only paid attention to the formal side of religion or known as formalist Islam. This study uses an anthropological approach through interviews, observations, and documentation of Muslim communities in Kerinci Jambi. This paper finds that formalist Islam tends to be difficult to develop in Malay society exclusively from indigenous groups, and more easily accepted for inclusive societies from immigrant groups or mixing with outsiders and academics. This exclusive Malay community seeks to maintain the Islamic ideology that has been institutionalized in the structure of society that does not contradict between custom and religion since the first, namely Islam with the nuances of Sufism, based on the Shafi'i Madhhab in fiqh, and al-Ghazali Madhhab in theology. Meanwhile, inclusive societies tend to be open to accepting various Islamic identities and most of them do not hold strong traditional values. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan gerakan keagamaan Islam di tanah adat Melayu Kerinci Jambi, khususnya terkait kecenderungan formalisme keberagamaan komunitas-komunitas Islam. Pola pendidikan, adat dan tradisi lokal, serta ideologi keagamaan memberi kontribusi bagi kemunculan komunitas Muslim yang hanya memperhatikan sisi formal agama saja atau dikenal dengan Islam formalis. Studi ini menggunakan pendekatan antropologis melalui wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap komunitas-komunitas Muslim yang terdapat di Kerinci Jambi. Tulisan ini menemukan bahwa Islam formalis cenderung sulit berkembang dalam masyarakat Melayu eksklusif dari golongan masyarakat pribumi, dan lebih mudah diterima bagi masyarakat inklusif dari golongan pendatang atau percampuran dengan masyarakat luar dan para akademisi. Masyarakat Melayu eksklusif ini berupaya mempertahankan ideologi Islam yang telah melembaga dalam struktur masyarakat yang tidak mempertentangkan antara adat dan agama semenjak dahulu yakni Islam dengan nuansa tasawuf, bermazhab Syafi’i dalam fikih, dan bermazhab al-Ghazali dalam teologi. Sedangkan masyarakat inklusif cenderung terbuka menerima beragam identitas Islam dan mereka sebagian besar tidak memegang nilai adat secara kuat. \",\"PeriodicalId\":34228,\"journal\":{\"name\":\"Fokus\",\"volume\":\"4317 1\",\"pages\":\"\"},\"PeriodicalIF\":0.0000,\"publicationDate\":\"2021-06-30\",\"publicationTypes\":\"Journal Article\",\"fieldsOfStudy\":null,\"isOpenAccess\":false,\"openAccessPdf\":\"\",\"citationCount\":\"1\",\"resultStr\":null,\"platform\":\"Semanticscholar\",\"paperid\":null,\"PeriodicalName\":\"Fokus\",\"FirstCategoryId\":\"1085\",\"ListUrlMain\":\"https://doi.org/10.30983/FUADUNA.V5I1.4596\",\"RegionNum\":0,\"RegionCategory\":null,\"ArticlePicture\":[],\"TitleCN\":null,\"AbstractTextCN\":null,\"PMCID\":null,\"EPubDate\":\"\",\"PubModel\":\"\",\"JCR\":\"\",\"JCRName\":\"\",\"Score\":null,\"Total\":0}","platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Fokus","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.30983/FUADUNA.V5I1.4596","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
摘要
本文旨在分析伊斯兰宗教运动在马来传统土地Kerinci Jambi的发展,特别是与伊斯兰社区的宗教形式主义倾向有关。教育模式、当地习俗和传统以及宗教意识形态促成了一个只关注宗教形式方面或被称为形式主义伊斯兰教的穆斯林社区的出现。本研究采用人类学方法,通过访谈、观察和记录Kerinci Jambi的穆斯林社区。本文发现,形式主义的伊斯兰教往往难以在马来人社会中从土著群体中发展,而更容易被移民群体或与外来者和学者混合的包容性社会所接受。这个排他的马来社区试图维持伊斯兰意识形态,这种意识形态在社会结构中已经制度化,从一开始就不与习俗和宗教相矛盾,即伊斯兰教与苏菲主义的细微差别,基于菲格里的Shafi'i Madhhab,以及神学中的al-Ghazali Madhhab。与此同时,包容性社会倾向于接受各种伊斯兰身份,其中大多数不持有强烈的传统价值观。我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是。Pola pendidikan, adat dan tradisi local, serta意识形态keagamaan成员kontribusi bagi kemunculan komunitas穆斯林yang hanya成员hatikan sisi formal agama saja atau dikenal dengan Islam formalis。研究新疆的人类学家,观察新疆的穆斯林。在伊斯兰教中,伊斯兰教是一种正式的宗教信仰,它是一种宗教信仰,是一种宗教信仰,是一种宗教信仰,是一种宗教信仰,是一种宗教信仰。Masyarakat Melayu eksklusif ini berupaya成员pertahankan意识形态Islam yang telah melembaga dalam struktur Masyarakat yang tidak member perpertentenkan antara adat dan agama semenjak dahulu yakni Islam dengan nuansa tasawuf, bermazhab Syafi 'i dalam fikih, dan bermazhab al-Ghazali dalam teologih。Sedangkan masyarakat inklusif cenderung terbuka menerima beragam identias伊斯兰教,但mereka sebagian besar meegang nilai adat secara kuat。
The Islamic Formalism Movement in Malay Land: Experiences of the Muslim Community in Kerinci, Jambi
This article aims to analyze the development of Islamic religious movements in the Malay traditional land of Kerinci Jambi, particularly related to the tendency of religious formalism in Islamic communities. The pattern of education, local customs and traditions, as well as religious ideology contributed to the emergence of a Muslim community that only paid attention to the formal side of religion or known as formalist Islam. This study uses an anthropological approach through interviews, observations, and documentation of Muslim communities in Kerinci Jambi. This paper finds that formalist Islam tends to be difficult to develop in Malay society exclusively from indigenous groups, and more easily accepted for inclusive societies from immigrant groups or mixing with outsiders and academics. This exclusive Malay community seeks to maintain the Islamic ideology that has been institutionalized in the structure of society that does not contradict between custom and religion since the first, namely Islam with the nuances of Sufism, based on the Shafi'i Madhhab in fiqh, and al-Ghazali Madhhab in theology. Meanwhile, inclusive societies tend to be open to accepting various Islamic identities and most of them do not hold strong traditional values. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan gerakan keagamaan Islam di tanah adat Melayu Kerinci Jambi, khususnya terkait kecenderungan formalisme keberagamaan komunitas-komunitas Islam. Pola pendidikan, adat dan tradisi lokal, serta ideologi keagamaan memberi kontribusi bagi kemunculan komunitas Muslim yang hanya memperhatikan sisi formal agama saja atau dikenal dengan Islam formalis. Studi ini menggunakan pendekatan antropologis melalui wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap komunitas-komunitas Muslim yang terdapat di Kerinci Jambi. Tulisan ini menemukan bahwa Islam formalis cenderung sulit berkembang dalam masyarakat Melayu eksklusif dari golongan masyarakat pribumi, dan lebih mudah diterima bagi masyarakat inklusif dari golongan pendatang atau percampuran dengan masyarakat luar dan para akademisi. Masyarakat Melayu eksklusif ini berupaya mempertahankan ideologi Islam yang telah melembaga dalam struktur masyarakat yang tidak mempertentangkan antara adat dan agama semenjak dahulu yakni Islam dengan nuansa tasawuf, bermazhab Syafi’i dalam fikih, dan bermazhab al-Ghazali dalam teologi. Sedangkan masyarakat inklusif cenderung terbuka menerima beragam identitas Islam dan mereka sebagian besar tidak memegang nilai adat secara kuat.