{"title":"仪式与流行病:在新冠疫情期间,Tarekat Naqsyabandiyah Bukittinggi的苏鲁克传统","authors":"Adlan Sanur Tarihoran","doi":"10.30983/fuaduna.v5i2.4988","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This article analyzes the suluk tradition carried out in Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi during the Covid-19 Pandemic with health protocol regulations. This study uses a qualitative method. Data were collected through observation, interviews and also documentation. The data analysis technique was descriptive analytic as described by Schaltzman and Strauss from the three data interpretation models. The results showed that the Tarekat Naqsyabandiyah in performing suluk at Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi was still running as usual. However, during the time of Covid-19 with strict health protocols. Surau provides a place to wash hands, measure temperature, and are required to wear masks. When carrying out the suluk ritual, each individual is ensured of safety by staying at a safe distance. In the context of mysticism, the reduction in mobility does not occur. It is because suluk is a negation of mobility itself. The ritual of suluk during the pandemic is following the presentation of the murshid that the existence of performing rituals has become a means of self-quarantine for the Tarekat Naqsyabandiyah. The goal is to avoid disease and increase faith and body immunity through remembrance worship.Artikel ini bertujuan untuk mengetahui tentang tradisi suluk yang dilakukan di Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi pada masa Pandemi Covid-19 yang mensyaratkan adanya protokol kesehatan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif analisi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan juga dokumentasi. Teknik analisis data dengan deskriptif analitik sebagaimana yang dikemukan oleh Schaltzman dan Strauss dari tiga model penafsiran data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamaah Tarekat Naqsabandiyah dalam melakukan suluk di Surau Tarbiyah Tengah Sawah Kota Bukittinggi masih tetap berjalan seperti biasa pada masa Covid-19 dengan protocol kesehatan yang ketat. Surau menyediakan tempat mencuci tangan, pengukur suhu dan wajib memamakai masker. Dalam hal menjaga jarak karena di tempat suluk ada tempat masing-masing jadi tentu tetap terjaga. Mengurangi mobilitas tentu tidak terjadi karena mereka bersuluk itu tidak adanya mobilitas. Ritual bersuluk pada masa Pandemi sesuai dengan penyampaian mursyid bahwa dengan adanya kegiatan bersuluk menjadi sarana karantina mandiri bagi jamaah tarekat Naqsabandiyah untuk terhindar dari penyakit serta dengan adanya zikir yang kuat meningkatkan daya iman dan imun tubuh.","PeriodicalId":34228,"journal":{"name":"Fokus","volume":"19 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":"{\"title\":\"Ritual and Pandemic: The Suluk Tradition of the Tarekat Naqsyabandiyah Bukittinggi Amid the Covid-19\",\"authors\":\"Adlan Sanur Tarihoran\",\"doi\":\"10.30983/fuaduna.v5i2.4988\",\"DOIUrl\":null,\"url\":null,\"abstract\":\"This article analyzes the suluk tradition carried out in Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi during the Covid-19 Pandemic with health protocol regulations. This study uses a qualitative method. Data were collected through observation, interviews and also documentation. The data analysis technique was descriptive analytic as described by Schaltzman and Strauss from the three data interpretation models. The results showed that the Tarekat Naqsyabandiyah in performing suluk at Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi was still running as usual. However, during the time of Covid-19 with strict health protocols. Surau provides a place to wash hands, measure temperature, and are required to wear masks. When carrying out the suluk ritual, each individual is ensured of safety by staying at a safe distance. In the context of mysticism, the reduction in mobility does not occur. It is because suluk is a negation of mobility itself. The ritual of suluk during the pandemic is following the presentation of the murshid that the existence of performing rituals has become a means of self-quarantine for the Tarekat Naqsyabandiyah. The goal is to avoid disease and increase faith and body immunity through remembrance worship.Artikel ini bertujuan untuk mengetahui tentang tradisi suluk yang dilakukan di Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi pada masa Pandemi Covid-19 yang mensyaratkan adanya protokol kesehatan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif analisi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan juga dokumentasi. Teknik analisis data dengan deskriptif analitik sebagaimana yang dikemukan oleh Schaltzman dan Strauss dari tiga model penafsiran data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamaah Tarekat Naqsabandiyah dalam melakukan suluk di Surau Tarbiyah Tengah Sawah Kota Bukittinggi masih tetap berjalan seperti biasa pada masa Covid-19 dengan protocol kesehatan yang ketat. Surau menyediakan tempat mencuci tangan, pengukur suhu dan wajib memamakai masker. Dalam hal menjaga jarak karena di tempat suluk ada tempat masing-masing jadi tentu tetap terjaga. Mengurangi mobilitas tentu tidak terjadi karena mereka bersuluk itu tidak adanya mobilitas. Ritual bersuluk pada masa Pandemi sesuai dengan penyampaian mursyid bahwa dengan adanya kegiatan bersuluk menjadi sarana karantina mandiri bagi jamaah tarekat Naqsabandiyah untuk terhindar dari penyakit serta dengan adanya zikir yang kuat meningkatkan daya iman dan imun tubuh.\",\"PeriodicalId\":34228,\"journal\":{\"name\":\"Fokus\",\"volume\":\"19 1\",\"pages\":\"\"},\"PeriodicalIF\":0.0000,\"publicationDate\":\"2021-12-31\",\"publicationTypes\":\"Journal Article\",\"fieldsOfStudy\":null,\"isOpenAccess\":false,\"openAccessPdf\":\"\",\"citationCount\":\"0\",\"resultStr\":null,\"platform\":\"Semanticscholar\",\"paperid\":null,\"PeriodicalName\":\"Fokus\",\"FirstCategoryId\":\"1085\",\"ListUrlMain\":\"https://doi.org/10.30983/fuaduna.v5i2.4988\",\"RegionNum\":0,\"RegionCategory\":null,\"ArticlePicture\":[],\"TitleCN\":null,\"AbstractTextCN\":null,\"PMCID\":null,\"EPubDate\":\"\",\"PubModel\":\"\",\"JCR\":\"\",\"JCRName\":\"\",\"Score\":null,\"Total\":0}","platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Fokus","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.30983/fuaduna.v5i2.4988","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
摘要
本文分析了在2019冠状病毒病大流行期间在Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi进行的suluk传统和卫生协议条例。本研究采用定性方法。通过观察、访谈和文献收集数据。数据分析技术是Schaltzman和Strauss从三种数据解释模型中描述的描述性分析。结果显示,在Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi表演suluk的Tarekat Naqsyabandiyah仍然像往常一样运行。然而,在2019冠状病毒病期间,严格的卫生协议。Surau提供了一个洗手、测量温度的地方,并要求戴口罩。在进行suuk仪式时,每个人都要保持安全距离,以确保安全。在神秘主义的背景下,流动性的减少不会发生。这是因为suluk是对流动性本身的否定。大流行期间的suluk仪式是在murshid的提出之后,即表演仪式的存在已成为Tarekat Naqsyabandiyah自我隔离的一种手段。目的是通过纪念崇拜来避免疾病,增加信仰和身体免疫力。这是我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国,我的祖国Jenis penelitian对数据进行了定性分析。数据分析、数据分析、数据分析和数据分析。Teknik分析数据登记者,分析数据sebagaimana yang dikemukan oleh Schaltzman danstrauss dari tiga模型penafsiran数据。在新冠肺炎疫情防控协议上,我们将继续努力,为新冠肺炎疫情做好准备,为新冠疫情做好准备。Surau menyediakan tempat menuci tangan,企鹅suhu dan wajib memamakai面具。Dalam hal menjaga jarak karena di tempat suluk ada tempat masing-masing jadi tentu tetap terjaga。蒙古兰吉动员起来了,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,动员起来了。仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式仪式
Ritual and Pandemic: The Suluk Tradition of the Tarekat Naqsyabandiyah Bukittinggi Amid the Covid-19
This article analyzes the suluk tradition carried out in Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi during the Covid-19 Pandemic with health protocol regulations. This study uses a qualitative method. Data were collected through observation, interviews and also documentation. The data analysis technique was descriptive analytic as described by Schaltzman and Strauss from the three data interpretation models. The results showed that the Tarekat Naqsyabandiyah in performing suluk at Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi was still running as usual. However, during the time of Covid-19 with strict health protocols. Surau provides a place to wash hands, measure temperature, and are required to wear masks. When carrying out the suluk ritual, each individual is ensured of safety by staying at a safe distance. In the context of mysticism, the reduction in mobility does not occur. It is because suluk is a negation of mobility itself. The ritual of suluk during the pandemic is following the presentation of the murshid that the existence of performing rituals has become a means of self-quarantine for the Tarekat Naqsyabandiyah. The goal is to avoid disease and increase faith and body immunity through remembrance worship.Artikel ini bertujuan untuk mengetahui tentang tradisi suluk yang dilakukan di Surau Tarbiyah Tengah Sawah Bukittinggi pada masa Pandemi Covid-19 yang mensyaratkan adanya protokol kesehatan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif analisi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan juga dokumentasi. Teknik analisis data dengan deskriptif analitik sebagaimana yang dikemukan oleh Schaltzman dan Strauss dari tiga model penafsiran data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamaah Tarekat Naqsabandiyah dalam melakukan suluk di Surau Tarbiyah Tengah Sawah Kota Bukittinggi masih tetap berjalan seperti biasa pada masa Covid-19 dengan protocol kesehatan yang ketat. Surau menyediakan tempat mencuci tangan, pengukur suhu dan wajib memamakai masker. Dalam hal menjaga jarak karena di tempat suluk ada tempat masing-masing jadi tentu tetap terjaga. Mengurangi mobilitas tentu tidak terjadi karena mereka bersuluk itu tidak adanya mobilitas. Ritual bersuluk pada masa Pandemi sesuai dengan penyampaian mursyid bahwa dengan adanya kegiatan bersuluk menjadi sarana karantina mandiri bagi jamaah tarekat Naqsabandiyah untuk terhindar dari penyakit serta dengan adanya zikir yang kuat meningkatkan daya iman dan imun tubuh.