Pub Date : 2024-07-25DOI: 10.25139/ayumi.v11i1.7614
Devi Haryanti Oktavia, Syihabuddin
Honne (本音) dan Tatemae (建前) adalah konsep penting dalam budaya Jepang yang menggambarkan perbedaan antara perasaan atau pendapat pribadi yang sebenarnya (honne) dan perasaan atau pendapat yang diungkapkan kepada publik (tatemae). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi yang bertujuan untuk mendeskripsikan konsep honne-tatemae yang digunakan dalam komunikasi di anime Omoi Omoware Furi Furare. Pembahasan dalam penelitian ini mencakup mengenai penerapan konsep dan honne-tatemae di dalam anime tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak catat dengan teknik analisis deskriptif. Temuan yang diperoleh adalah penerapan honne-tatemae di dalam anime ini digunakan dalam berbagai konteks situasi. Honne tatemae yang terlihat dalam anime Omoi Omoware Furi Furare digunakan saat menghindari konflik langsung, keinginan untuk menjaga harmoni sosial, dan untuk melindungi diri sendiri. Kata kunci: komunikasi; konsep budaya; honne tatemae.
{"title":"Konsep Honne Tatemae Tokoh Utama dalam Anime Omoi Omoware Furi Furare","authors":"Devi Haryanti Oktavia, Syihabuddin","doi":"10.25139/ayumi.v11i1.7614","DOIUrl":"https://doi.org/10.25139/ayumi.v11i1.7614","url":null,"abstract":"Honne (本音) dan Tatemae (建前) adalah konsep penting dalam budaya Jepang yang menggambarkan perbedaan antara perasaan atau pendapat pribadi yang sebenarnya (honne) dan perasaan atau pendapat yang diungkapkan kepada publik (tatemae). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi yang bertujuan untuk mendeskripsikan konsep honne-tatemae yang digunakan dalam komunikasi di anime Omoi Omoware Furi Furare. Pembahasan dalam penelitian ini mencakup mengenai penerapan konsep dan honne-tatemae di dalam anime tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak catat dengan teknik analisis deskriptif. Temuan yang diperoleh adalah penerapan honne-tatemae di dalam anime ini digunakan dalam berbagai konteks situasi. Honne tatemae yang terlihat dalam anime Omoi Omoware Furi Furare digunakan saat menghindari konflik langsung, keinginan untuk menjaga harmoni sosial, dan untuk melindungi diri sendiri. \u0000Kata kunci: komunikasi; konsep budaya; honne tatemae.","PeriodicalId":518082,"journal":{"name":"Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra","volume":"90 3","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141802339","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-07-16DOI: 10.25139/ayumi.v11i1.8191
Ni Kadek Rai Nining Sonia Dewi, Ni Wayan Meidariani
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan gaya bahasa kiasan oleh tokoh Betsuyaku Hiroka pada film Ryū to Sobakasu no Hime karya Mamoru Hosoda. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak catat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori gaya bahasa Gorys Keraf. Sumber dari penelitian ini berupa film Ryū to Sobakasu no Hime karya Mamoru Hosoda yang berdurasi 2 jam 1 menit 15 detik. Hasil dari penelitian didapatkan bahwasannya terdapat 5 jenis gaya bahasa kiasan yang digunakan tokoh Betsuyaku Hiroka diantaranya 1) Persamaan atau simile, 2) Ironi, 3) Sinisme, 4) Sarkasme, 5) Inuendo. Bentuk gaya bahasa kiasan yang paling banyak digunakan oleh tokoh Betsuyaku Hiroka adalah sinisme. Penggunaan gaya bahasa kiasan sinisme tersebut untuk merendahkan, mengkritik maupun mengolok-olok fisik, sikap dan pemikiran dari lawan bicara. Kata kunci: film; gaya bahasa; kiasan; stilistika.
本研究旨在分析细田守(Mamoru Hosoda)的电影《龙与そばかすの姬》(Ryū to Sobakasu no Hime)中的角色广香倍赏(Betsuyaku Hiroka)对具象语言风格的运用。本研究采用观察法收集数据。本研究采用的方法是描述性定性方法和 simak catat 技术。本研究采用的理论是戈里斯-凯拉夫的语言风格理论。本研究的资料来源是细田守导演的电影《Ryū to Sobakasu no Hime》,时长 2 小时 1 分 15 秒。研究结果发现,角色广香倍赏使用了 5 种形象化语言风格,包括 1)相似或比喻,2)反讽,3)嘲讽,4)讽刺,5)影射。贝津乐博か这一人物使用最多的形象化语言风格是冷嘲热讽。冷嘲热讽这种形象化语言风格的使用是对对话者的身体、态度和思想进行诋毁、批评或取笑。关键词:电影;文体学;具象语言;文体学。
{"title":"Gaya Bahasa Kiasan Tokoh Betsuyaku Hiroka pada Film Ryū to Sobakasu no Hime","authors":"Ni Kadek Rai Nining Sonia Dewi, Ni Wayan Meidariani","doi":"10.25139/ayumi.v11i1.8191","DOIUrl":"https://doi.org/10.25139/ayumi.v11i1.8191","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan gaya bahasa kiasan oleh tokoh Betsuyaku Hiroka pada film Ryū to Sobakasu no Hime karya Mamoru Hosoda. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak catat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori gaya bahasa Gorys Keraf. Sumber dari penelitian ini berupa film Ryū to Sobakasu no Hime karya Mamoru Hosoda yang berdurasi 2 jam 1 menit 15 detik. Hasil dari penelitian didapatkan bahwasannya terdapat 5 jenis gaya bahasa kiasan yang digunakan tokoh Betsuyaku Hiroka diantaranya 1) Persamaan atau simile, 2) Ironi, 3) Sinisme, 4) Sarkasme, 5) Inuendo. Bentuk gaya bahasa kiasan yang paling banyak digunakan oleh tokoh Betsuyaku Hiroka adalah sinisme. Penggunaan gaya bahasa kiasan sinisme tersebut untuk merendahkan, mengkritik maupun mengolok-olok fisik, sikap dan pemikiran dari lawan bicara. \u0000Kata kunci: film; gaya bahasa; kiasan; stilistika. \u0000 ","PeriodicalId":518082,"journal":{"name":"Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra","volume":" 17","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141831636","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-01-17DOI: 10.25139/ayumi.v10i2.7196
Intan Suri, N. Rahayu, S. Nuraisyah
Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan bagaimana indeks kigo yang terdapat dalam haiku karya Matsuo Basho dalam perspektif semiotik Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu studi pustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui indeks kigo apa saja pada haiku karya Matsuo Basho. Hasil dari penelitian ini adalah ada lima haiku yang menjelaskan kigo yang mempunyai sebab akibat. Kigo tersebut berhubungan dengan kondisi alam dan musim sehingga dapat diasumsikan bahwa melalui kigo dapat digambarkan suasana hati penyair. Dalam penelitian ini, diharapkan selain mampu menambah wawasan mengenai indeks, penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya yang inigin membahas kigo dalam haiku. Khususnya haiku karya Matsuo Basho. Kata Kunci: haiku; indeks; kigo; Matsuo Basho.
{"title":"Indeks Kigo pada Haiku Karya Matsuo Basho dalam Perspektif Semiotik Charles Sanders Peirce","authors":"Intan Suri, N. Rahayu, S. Nuraisyah","doi":"10.25139/ayumi.v10i2.7196","DOIUrl":"https://doi.org/10.25139/ayumi.v10i2.7196","url":null,"abstract":"Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan bagaimana indeks kigo yang terdapat dalam haiku karya Matsuo Basho dalam perspektif semiotik Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu studi pustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui indeks kigo apa saja pada haiku karya Matsuo Basho. Hasil dari penelitian ini adalah ada lima haiku yang menjelaskan kigo yang mempunyai sebab akibat. Kigo tersebut berhubungan dengan kondisi alam dan musim sehingga dapat diasumsikan bahwa melalui kigo dapat digambarkan suasana hati penyair. Dalam penelitian ini, diharapkan selain mampu menambah wawasan mengenai indeks, penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya yang inigin membahas kigo dalam haiku. Khususnya haiku karya Matsuo Basho. \u0000Kata Kunci: haiku; indeks; kigo; Matsuo Basho.","PeriodicalId":518082,"journal":{"name":"Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra","volume":"223 3","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-01-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140531437","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}