Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.37905/jirev.v3i2.23146
Sintiana Sintiana, A. Rasyid, Hendra Uloli
Strategi Pengendalian Persediaan di PT. Awet Sarana Sukses. Berdasarkan uraian latar belakang bagimana analisis pengendalian persediaan barang dagang jika mengguakan metode ABC dan EOQ (Economic Order Quantity). Metode ABC metode ini bertujuan untuk mengkategorikan barang apa saja yang persediaannya lebih banyak, sedang-sedang, dan yang lebih sedikit persediaannya, Metode EOQ (Economic Order Quantity) metode ini bertujuan untuk menentukan jumlah pembelian pada setiap kali pesan dengan biaya yang paling rendah. Mie dan minuman masuk Kategori kelas A dengan volume penggunaan uang tahunan sekitar 15% dan mempresentasikan 70-80% dari nilai total pemakaian uang. Sabun detergen masuk Kategori kelas B dengan volume penggunaan uang tahunan sekitar 30% barang persediaan dan mempresentasikan 15 - 25% dari nilai total pemakaian uang. Jenis kecap manis dan sabun cuci piring masuk dalam kategori kelas C dengan volume penggunaan uang tahunan sekitar 55% barang persediaan dan mempresentasikan 5 – 12% dari nilai total pemakaian uang. Kata kunci: Metode ABC, Metode EOQ, Pengendalian Persediaan
PT. Awet Sarana Sukses 公司的库存控制策略。根据使用 ABC 和 EOQ(经济订货量)方法分析贸易商品库存控制的背景说明。该方法中的 ABC 法旨在对库存较多、中等和较少的商品进行分类,而 EOQ(经济订货量)法旨在以最低成本确定每个订单的采购数量。面条和饮料属于 A 类,年货币使用量约为 15%,占货币使用总值的 70-80%。洗洁精肥皂属于 B 类,每年的资金使用量约占存货的 30%,占资金使用总值的 15%-25%。酱油和洗洁精属于 C 类,年货币使用量约占存货项目的 55%,占货币使用总值的 5 - 12%。关键词ABC 法、EOQ 法、库存控制
{"title":"PENGENDALIAN PERSEDIAAN DI PT. AWET SARANA SUKSES MENGGUNAKAN METODE ABC DAN EOQ","authors":"Sintiana Sintiana, A. Rasyid, Hendra Uloli","doi":"10.37905/jirev.v3i2.23146","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.v3i2.23146","url":null,"abstract":"Strategi Pengendalian Persediaan di PT. Awet Sarana Sukses. Berdasarkan uraian latar belakang bagimana analisis pengendalian persediaan barang dagang jika mengguakan metode ABC dan EOQ (Economic Order Quantity). Metode ABC metode ini bertujuan untuk mengkategorikan barang apa saja yang persediaannya lebih banyak, sedang-sedang, dan yang lebih sedikit persediaannya, Metode EOQ (Economic Order Quantity) metode ini bertujuan untuk menentukan jumlah pembelian pada setiap kali pesan dengan biaya yang paling rendah. Mie dan minuman masuk Kategori kelas A dengan volume penggunaan uang tahunan sekitar 15% dan mempresentasikan 70-80% dari nilai total pemakaian uang. Sabun detergen masuk Kategori kelas B dengan volume penggunaan uang tahunan sekitar 30% barang persediaan dan mempresentasikan 15 - 25% dari nilai total pemakaian uang. Jenis kecap manis dan sabun cuci piring masuk dalam kategori kelas C dengan volume penggunaan uang tahunan sekitar 55% barang persediaan dan mempresentasikan 5 – 12% dari nilai total pemakaian uang. Kata kunci: Metode ABC, Metode EOQ, Pengendalian Persediaan","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"41 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139198698","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.37905/jirev.v3i2.23152
Ismayati Sutina Azis
Mesin produksi merupakan salah satu faktor produksi yang harus dioptimalkan penggunaannya. Cooler Booster Compressor merupakan alat penukar panas yang berfungsi untuk menurunkan temperatur gas setelah proses kompresi pada booster compressor. Pada alat penukar panas ini, umumnya beberapa kali terjadi masalah, hal tersebut tentunya mengganggu keseluruhan proses pada sistem gas. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyebab dan akibat kerusakan pada komponen Cooler Booster Compressor yang memiliki nilai RPN tertinggi serta langkah yang tepat untuk menanggulangi kerusakan yang terjadi pada komponen kritis cooler booster compressor. Metode yang digunakan untuk penelitian adalah menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai kritis RPN terdapat pada 4 komponen kritis, yaitu terdapat pada komponen Monoblok dengan total nilai RPN sebesar 144, Bearing Electic motor 72 dan 60, sensor vibrasi sebesar 70 dan bearing Monoblok sebesar 60. Nilai RPN keempat risiko tersebut berada diatas 52 yang merupakan nilai kritis RPN. Kata kunci: Cooler Booster Compressor, FMEA, Preventive Maintenance, RPN
{"title":"ANALISIS KERUSAKAN PADA MESIN COOLER BOOSTER COMPRESSOR (330-E-1001 A2) MENGGUNAKAN METODE FMEA DI PT. XYZ","authors":"Ismayati Sutina Azis","doi":"10.37905/jirev.v3i2.23152","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.v3i2.23152","url":null,"abstract":"Mesin produksi merupakan salah satu faktor produksi yang harus dioptimalkan penggunaannya. Cooler Booster Compressor merupakan alat penukar panas yang berfungsi untuk menurunkan temperatur gas setelah proses kompresi pada booster compressor. Pada alat penukar panas ini, umumnya beberapa kali terjadi masalah, hal tersebut tentunya mengganggu keseluruhan proses pada sistem gas. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyebab dan akibat kerusakan pada komponen Cooler Booster Compressor yang memiliki nilai RPN tertinggi serta langkah yang tepat untuk menanggulangi kerusakan yang terjadi pada komponen kritis cooler booster compressor. Metode yang digunakan untuk penelitian adalah menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai kritis RPN terdapat pada 4 komponen kritis, yaitu terdapat pada komponen Monoblok dengan total nilai RPN sebesar 144, Bearing Electic motor 72 dan 60, sensor vibrasi sebesar 70 dan bearing Monoblok sebesar 60. Nilai RPN keempat risiko tersebut berada diatas 52 yang merupakan nilai kritis RPN. Kata kunci: Cooler Booster Compressor, FMEA, Preventive Maintenance, RPN","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"63 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139205835","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.37905/jirev.v3i2.22982
Jessica Gabriani Mamonto, A. Rasyid, H. Hasanuddin
Perkembangan Industri kelapa sawit saat ini di Indonesia sedang meningkat, karena kelapa sawit merupakan salah satu tanaman unggulan yang menghasilkan minyak kelapa sawit dan menjadi sumber devisa bagi negara Indonesia juga membuka lapangan kerja. Kecacatan produk sering terjadi pada setiap indsutri pengolahan kelapa sawit termasuk pada PT.XYZ, untuk dapat mengoreksi kesalahan pada proses produksi yang mengakibatkan kualitas produk kurang baik diperlukan pengendalian kualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab kenaikan Free Fatty Acid (FFA) pada proses pemurnian, dan mengetahui langkah yang tepat untuk mengatasi kenaikan FFA berlebih pada Crude Palm Oil (CPO) dengan menggunakan metode fishbone yang berguna dalam berbagai konteks, seperti perbaikan proses, analisis masalah, dan perbaikan produk atau layanan. Didapatkan tingkat kecacatan mencapai 52%. Hal ini mengindikasikan proses masih mengalami penyimpangan dan belum mencapai tingkat kecacatan zero defect, penyebab utama kenaikan yaitu buah sawit yang digunakan oleh pabrik bukan merupakan buah yang memenuhi standar sempurna. Bahan dasar delusion yang digunakan berasal dari cairan fat pit tidak menggunakan air panas, langkah yang tepat mengatasi kenaikan FFA berlebih pada CPO maka pabrik perlu mengganti bahan delusion yang awalnya menggunakan cairan fat pit menjadi air panas agar kenaikan FFA dapat terkendali, dan menggunakan buah kelapa sawit yang matang sempurna. Kata kunci: Crude Palm Oil, Fishbone Chart, Free Fatty Acid
{"title":"PENGENDALIAN KUALITAS KADAR FFA PADA PROSES PEMURNIAN CPO MENGGUNAKAN METODE FISHBONE CHART DI PT. XYZ","authors":"Jessica Gabriani Mamonto, A. Rasyid, H. Hasanuddin","doi":"10.37905/jirev.v3i2.22982","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.v3i2.22982","url":null,"abstract":"Perkembangan Industri kelapa sawit saat ini di Indonesia sedang meningkat, karena kelapa sawit merupakan salah satu tanaman unggulan yang menghasilkan minyak kelapa sawit dan menjadi sumber devisa bagi negara Indonesia juga membuka lapangan kerja. Kecacatan produk sering terjadi pada setiap indsutri pengolahan kelapa sawit termasuk pada PT.XYZ, untuk dapat mengoreksi kesalahan pada proses produksi yang mengakibatkan kualitas produk kurang baik diperlukan pengendalian kualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab kenaikan Free Fatty Acid (FFA) pada proses pemurnian, dan mengetahui langkah yang tepat untuk mengatasi kenaikan FFA berlebih pada Crude Palm Oil (CPO) dengan menggunakan metode fishbone yang berguna dalam berbagai konteks, seperti perbaikan proses, analisis masalah, dan perbaikan produk atau layanan. Didapatkan tingkat kecacatan mencapai 52%. Hal ini mengindikasikan proses masih mengalami penyimpangan dan belum mencapai tingkat kecacatan zero defect, penyebab utama kenaikan yaitu buah sawit yang digunakan oleh pabrik bukan merupakan buah yang memenuhi standar sempurna. Bahan dasar delusion yang digunakan berasal dari cairan fat pit tidak menggunakan air panas, langkah yang tepat mengatasi kenaikan FFA berlebih pada CPO maka pabrik perlu mengganti bahan delusion yang awalnya menggunakan cairan fat pit menjadi air panas agar kenaikan FFA dapat terkendali, dan menggunakan buah kelapa sawit yang matang sempurna. Kata kunci: Crude Palm Oil, Fishbone Chart, Free Fatty Acid","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"13 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139199143","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-30DOI: 10.37905/jirev.v3i2.23036
Windie Santika Masri, Stella Junus, Hendra Uloli
Mesin produksi merupakan salah satu faktor produksi yang harus dioptimalkan penggunaannya. Mesin Press pada crude coconut oil (minyak kelapa mentah) adalah perangkat mekanis yang digunakan untuk mengekstraksi minyak dari copra. Dalam penggunaan mesin ini umumnya terjadi beberapa masalah, hal tersebut tentunya mengganggu keseluruhan proses produksi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyebab dan akibat kerusakan pada komponen Mesin Press yang memiliki nilai RPN tertinggi serta langkah yang tepat untuk menanggulangi kerusakan yang terjadi pada komponen kritis Mesin Press. Metode yang digunakan untuk penelitian adalah menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Pressing Worm Shaft dengan total RPN sebesar 269 dan 232, Main Shaft 206, Electric Motor 213 dan Presscage sebesar 205. Nilai RPN risiko tersebut berada diatas 173.8 yang merupakan nilai kritis RPN. Kata Kunci: Crude Coconut Oil, FMEA, RPN, Preventive Maintenance
{"title":"ANALISIS PENYEBAB KERUSAKAN PADA MESIN PRESS (200A-3 OIL EXPELLER) MENGGUNAKAN METODE FMEA DI PT. XYZ","authors":"Windie Santika Masri, Stella Junus, Hendra Uloli","doi":"10.37905/jirev.v3i2.23036","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.v3i2.23036","url":null,"abstract":"Mesin produksi merupakan salah satu faktor produksi yang harus dioptimalkan penggunaannya. Mesin Press pada crude coconut oil (minyak kelapa mentah) adalah perangkat mekanis yang digunakan untuk mengekstraksi minyak dari copra. Dalam penggunaan mesin ini umumnya terjadi beberapa masalah, hal tersebut tentunya mengganggu keseluruhan proses produksi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyebab dan akibat kerusakan pada komponen Mesin Press yang memiliki nilai RPN tertinggi serta langkah yang tepat untuk menanggulangi kerusakan yang terjadi pada komponen kritis Mesin Press. Metode yang digunakan untuk penelitian adalah menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Pressing Worm Shaft dengan total RPN sebesar 269 dan 232, Main Shaft 206, Electric Motor 213 dan Presscage sebesar 205. Nilai RPN risiko tersebut berada diatas 173.8 yang merupakan nilai kritis RPN. Kata Kunci: Crude Coconut Oil, FMEA, RPN, Preventive Maintenance","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"12 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139208792","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Ribut Santoso, Idham Halid Lahay, Stella Junus, Yolanda Lapai
Sistem perawatan yang dilakukan selama ini adalah bersifat breakdown maintenance yaitu pemeliharaan yang dilakukan setelah mesin mengalami kerusakan. Sistem ini belum memberikan data akurat kapan suatu mesin atau komponen mengalami kerusakan, sehingga strategi yang tepat untuk menjaga mesin tetap beroperasi adalah menentukan interval waktu perawatan yang optimal.Hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) maka didapat komponen kritis pada Mesin Screw Press yaitu Komponen Worm Screw, Besi Shaft dan Press Cage diperoleh waktu penggantian Komponen Worm Screw 32 hari, Besi Shaft 68 hari, Press Cage 48 hari pada Mesin Screw Press 1 ; untuk Mesin Screw Press 2 Komponen Worm Screw 52 hari, Besi Shaft 128 hari, Press Cage 52 hari ; untuk Mesin Screw Press 3 Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 56 hari, Besi Shaft 104 hari, Press Cage 64 hari ; untuk Mesin Screw Press 4 pada Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 56 hari, Besi Shaft 72 hari, Press Cage 74 hari. Untuk Mesin Screw Press 5 pada Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 50 hari, Besi Shaft 80 hari, Press Cage 92 ; hari dan untuk Mesin Screw Press 6 pada Komponen Worm Screw dengan interval waktu penggantian selama 52 hari, Besi Shaft 72 hari dan Press Cage 58 hari. Kata Kunci: FMEA, MTTF, MTTR, Downtime, Age Replacement
{"title":"Optimalisasi Perawatan Mesin Press dengan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)","authors":"Ribut Santoso, Idham Halid Lahay, Stella Junus, Yolanda Lapai","doi":"10.37905/jirev.1.1.1-6","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.1.1.1-6","url":null,"abstract":"Sistem perawatan yang dilakukan selama ini adalah bersifat breakdown maintenance yaitu pemeliharaan yang dilakukan setelah mesin mengalami kerusakan. Sistem ini belum memberikan data akurat kapan suatu mesin atau komponen mengalami kerusakan, sehingga strategi yang tepat untuk menjaga mesin tetap beroperasi adalah menentukan interval waktu perawatan yang optimal.Hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) maka didapat komponen kritis pada Mesin Screw Press yaitu Komponen Worm Screw, Besi Shaft dan Press Cage diperoleh waktu penggantian Komponen Worm Screw 32 hari, Besi Shaft 68 hari, Press Cage 48 hari pada Mesin Screw Press 1 ; untuk Mesin Screw Press 2 Komponen Worm Screw 52 hari, Besi Shaft 128 hari, Press Cage 52 hari ; untuk Mesin Screw Press 3 Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 56 hari, Besi Shaft 104 hari, Press Cage 64 hari ; untuk Mesin Screw Press 4 pada Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 56 hari, Besi Shaft 72 hari, Press Cage 74 hari. Untuk Mesin Screw Press 5 pada Komponen Worm Screw dilakukan penggantian selama 50 hari, Besi Shaft 80 hari, Press Cage 92 ; hari dan untuk Mesin Screw Press 6 pada Komponen Worm Screw dengan interval waktu penggantian selama 52 hari, Besi Shaft 72 hari dan Press Cage 58 hari. Kata Kunci: FMEA, MTTF, MTTR, Downtime, Age Replacement","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-05-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124740434","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-05-01DOI: 10.37905/jirev.1.1.30-39
Moh. Alyafi Dg. Matiro, Raman S. Mau, Abdul Rasyid, Fentje Abdul Rauf
Kinerja karyawan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu organisasi maupun perusahaan. Dengan kinerja yang optimal dan sesuai prosedur maka akan diperoleh hasil yang optimal pula. Beban kerja yang terlalu berat atau terlalu ringan akan mengakibatkan terjadinya inefisiensi kerja. Beban kerja overload mengindikasikan bahwa jumlah pekerja yang dipekerjakan tidak sesuai dengan beban kerja yang diterima sehingga dapat menyebabkan kelelahan fisik maupun psikologis yang berakibat pada menurunnya produktivitas karena kelelahan bekerja. Tujuan penelitian ini adalah penentuan beban kerja menggunakan metode Full Time Equivalent (FTE) untuk dapat mengatasi penurunan produktivitas kerja. Untuk mendapatkan nilai FTE dari suatu proses kerja harus menggunakan perhitungan Work load Analisys dengan menggunakan persamaan total waktu aktivitas, Allowance, dan total waktu tersedia. Dari hasil penelitian ini di dapatkan hasil Work Load Analysis dalam menentukan beban kerja dan usulan jumlah karyawan yang ideal yakni ramp operator144% (usulan 2 orang), Operator Sterilizer 65% (usulan 1 orang), tippler operator 84% (usulan 1 orang) pressing operator 44% (usulan 1 orang), Clarification operator 86% (usulan 1 orang) dan karnel operator 69% (usulan 1 orang).
{"title":"Pengukuran Beban Kerja Menggunakan Metode Full Time Equivalent (FTE) Pada Divisi Proses PT. Delta Subur Permai","authors":"Moh. Alyafi Dg. Matiro, Raman S. Mau, Abdul Rasyid, Fentje Abdul Rauf","doi":"10.37905/jirev.1.1.30-39","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.1.1.30-39","url":null,"abstract":"Kinerja karyawan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu organisasi maupun perusahaan. Dengan kinerja yang optimal dan sesuai prosedur maka akan diperoleh hasil yang optimal pula. Beban kerja yang terlalu berat atau terlalu ringan akan mengakibatkan terjadinya inefisiensi kerja. Beban kerja overload mengindikasikan bahwa jumlah pekerja yang dipekerjakan tidak sesuai dengan beban kerja yang diterima sehingga dapat menyebabkan kelelahan fisik maupun psikologis yang berakibat pada menurunnya produktivitas karena kelelahan bekerja. Tujuan penelitian ini adalah penentuan beban kerja menggunakan metode Full Time Equivalent (FTE) untuk dapat mengatasi penurunan produktivitas kerja. Untuk mendapatkan nilai FTE dari suatu proses kerja harus menggunakan perhitungan Work load Analisys dengan menggunakan persamaan total waktu aktivitas, Allowance, dan total waktu tersedia. Dari hasil penelitian ini di dapatkan hasil Work Load Analysis dalam menentukan beban kerja dan usulan jumlah karyawan yang ideal yakni ramp operator144% (usulan 2 orang), Operator Sterilizer 65% (usulan 1 orang), tippler operator 84% (usulan 1 orang) pressing operator 44% (usulan 1 orang), Clarification operator 86% (usulan 1 orang) dan karnel operator 69% (usulan 1 orang).","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"47 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-05-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115775093","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pekerjaan yang dilakukan tenaga kerja pada salah satu bagian produksi perusahaan pengalengan ikan dalam keadaan berdiri dengan aktifitas yang bersifat monoton dan membutuhkan ketelitian serta konsentrasi, dapat memberikan rasa jenuh bosan dan cepat lelah pada pekerja yang dapat berujung pada timbulnya kelelahan serta dapat memberikan resiko keluhan otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelelahan kerja berdasarkan swedish occupational fatigue inventory (SOFI) serta mengetahui keluhan secara fisik yang dirasakan tenaga kerja pada salah satu bagian produksi industri pengalengan ikan menggunakan questionnaire nordic body map (QNBM) dan mengetahui korelasi keduanya. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa tenaga kerja memiliki resiko kelelahan sedang dengan adanya keluhan yang dirasakan tenaga kerja. Hasil perhitungan korelasi menunjukkan bahwa kelelahan dan keluhan secara fisik memiliki hubungan yang kuat, baik yang dirasakan oleh tenaga tenaga kerja laki-laki maupun tenaga kerja perempuan dengan nilai koefisien korelasi yang diperoleh sebesar 0,799 dan 0,982.
{"title":"Hubungan Antara Kelelahan dan Keluhan Fisik Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Pekerja Pengalengan Ikan","authors":"Eni Karyati Sm, Stella Junus, H. Hasanuddin","doi":"10.37905/jirev.1.1.7-14","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.1.1.7-14","url":null,"abstract":"Pekerjaan yang dilakukan tenaga kerja pada salah satu bagian produksi perusahaan pengalengan ikan dalam keadaan berdiri dengan aktifitas yang bersifat monoton dan membutuhkan ketelitian serta konsentrasi, dapat memberikan rasa jenuh bosan dan cepat lelah pada pekerja yang dapat berujung pada timbulnya kelelahan serta dapat memberikan resiko keluhan otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelelahan kerja berdasarkan swedish occupational fatigue inventory (SOFI) serta mengetahui keluhan secara fisik yang dirasakan tenaga kerja pada salah satu bagian produksi industri pengalengan ikan menggunakan questionnaire nordic body map (QNBM) dan mengetahui korelasi keduanya. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa tenaga kerja memiliki resiko kelelahan sedang dengan adanya keluhan yang dirasakan tenaga kerja. Hasil perhitungan korelasi menunjukkan bahwa kelelahan dan keluhan secara fisik memiliki hubungan yang kuat, baik yang dirasakan oleh tenaga tenaga kerja laki-laki maupun tenaga kerja perempuan dengan nilai koefisien korelasi yang diperoleh sebesar 0,799 dan 0,982.","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-05-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129229292","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-05-01DOI: 10.37905/jirev.1.1.22-29
Muh. Ridwan Malik, M. Alwi, Eduart Wolok, A. Rasyid
Joint Operating Body (JOB) merupakan kegiatan operasional yang dilakukan oleh badan operasi bersama JOB Pertamina - Medco EP Tomori Sulawesi adalah badan kerjasama operasi yang dibentuk berdasarkan Production Sharing Contract antara perusahaan PT. Pertamina Hulu Energi dengan PT. Medco EP Tomori Sulawesi. Salah satu indikasi adanya gangguan keselamatan dan kesehatan pada pekerja adalah adanya kelelahan atau keluhan musculoskeletal atau sistem otot rangka seperti adanya rasa nyeri pada tubuh baik saat bekerja maupun setelah bekerja dan rasa tidak nyaman pada otot. Salah satu penyebab adanya gangguan pada otot rangka yang ditimbulkan dari pekerjaan yang dilakukan secara statis yaitu posisi dan postur tubuh kerja yang tidak sesuai, seperti yang dialami staff atau karyawan bagian Production di JOB Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi, yang melakukan pekerjaan dengan posisi yang dilakukan secara statis dalam kurun waktu yang cukup lama yakni ± 12 jam sehari. Tujuannya yaitu untuk mengetahui level resiko pada posisi dan postur kerja karyawan Area Control Room di JOB Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi. Hasil perhitungan dengan metode RULA didapatkan 6 operator berada pada level action 3 dan 3 operator berada pada level action 2. Analisis postur kerja Operator JOB Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi dapat disimpulkan bahwa hasil analisis Rula 9 Operator yang merupakan karyawan JOB Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi, 6 dari 9 Operator berapa pada level resiko “Sedang” dengan nilai skor akhir diperolah 5-6 artinya yang menunjukan pemeriksaan dan perubahan posisi duduk perlu segera dilakukan. dan 3 dari 9 Operator berada pada level resiko “Kecil/Rendah” dengan Nilai sekor akhir diperoleh 3-4 artinya menunjukan bahwa resiko rendah dan perubahan diperlukan.
联合操作(JOB)是与工作关系的业务活动,Medco EP Tomori shumori shumori shumori是一个由PT. pertation分享契约组成的业务合作机构,该公司是根据PT. Pertamina uppotion与PT. Medco pratmori shusi之间的生产分享合同建立的。工人安全或健康问题的一个症状是疲劳或骨骼肌或骨骼肌系统疲劳或骨骼疼痛,以及肌肉不适。骨骼肌的骚乱造成原因之一进行静态的工作就是你的位置和姿势工作不合适,我们像约伯的经历的员工或员工制作部分Pertamina-Medco EP Tomori苏拉威西,做的工作和职位的静态的相当长的一段时间内即±12个小时。目的是确定任务控制室工作人员在工作场所的风险水平和姿势。用RULA方法进行计算,得到6名操作员在动作3级,3名操作员在动作2级。接线员的工作姿势分析工作Pertamina-Medco EP Tomori可以推断Rula分析9苏拉威西的操作员是员工工作Pertamina-Medco EP, 9比6的接线员苏拉威西Tomori多少风险,这在一定程度上“正”的最终比分diperolah五六意味着价值展示和坐姿的变化需要立即进行检查。9个运营商中有3个处于“小/低”的风险水平,而小米的最终得分为3-4,这意味着低风险和变革是必要的。
{"title":"Analisis Postur Kerja Pada Karyawan Menggunakan Metode RULA (Studi kasus Area Control Room, Joint Operating Body Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi)","authors":"Muh. Ridwan Malik, M. Alwi, Eduart Wolok, A. Rasyid","doi":"10.37905/jirev.1.1.22-29","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.1.1.22-29","url":null,"abstract":"Joint Operating Body (JOB) merupakan kegiatan operasional yang dilakukan oleh badan operasi bersama JOB Pertamina - Medco EP Tomori Sulawesi adalah badan kerjasama operasi yang dibentuk berdasarkan Production Sharing Contract antara perusahaan PT. Pertamina Hulu Energi dengan PT. Medco EP Tomori Sulawesi. Salah satu indikasi adanya gangguan keselamatan dan kesehatan pada pekerja adalah adanya kelelahan atau keluhan musculoskeletal atau sistem otot rangka seperti adanya rasa nyeri pada tubuh baik saat bekerja maupun setelah bekerja dan rasa tidak nyaman pada otot. Salah satu penyebab adanya gangguan pada otot rangka yang ditimbulkan dari pekerjaan yang dilakukan secara statis yaitu posisi dan postur tubuh kerja yang tidak sesuai, seperti yang dialami staff atau karyawan bagian Production di JOB Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi, yang melakukan pekerjaan dengan posisi yang dilakukan secara statis dalam kurun waktu yang cukup lama yakni ± 12 jam sehari. Tujuannya yaitu untuk mengetahui level resiko pada posisi dan postur kerja karyawan Area Control Room di JOB Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi. Hasil perhitungan dengan metode RULA didapatkan 6 operator berada pada level action 3 dan 3 operator berada pada level action 2. Analisis postur kerja Operator JOB Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi dapat disimpulkan bahwa hasil analisis Rula 9 Operator yang merupakan karyawan JOB Pertamina-Medco EP Tomori Sulawesi, 6 dari 9 Operator berapa pada level resiko “Sedang” dengan nilai skor akhir diperolah 5-6 artinya yang menunjukan pemeriksaan dan perubahan posisi duduk perlu segera dilakukan. dan 3 dari 9 Operator berada pada level resiko “Kecil/Rendah” dengan Nilai sekor akhir diperoleh 3-4 artinya menunjukan bahwa resiko rendah dan perubahan diperlukan.","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"65 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-05-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124599026","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-05-01DOI: 10.37905/jirev.1.1.40-47
Hindun Effendy, B. Machmoed, A. Rasyid
Pertumbuhan penduduk di Indonesia bertambah seiring berjalannya waktu, hal ini membuat kebutuhan akan sumber daya menjadi bertambah besar, salah satunya kebutuhan air bersih. Pengukuran produktivitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kinerja perusahaan dan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan perbaikan yang akan datang. Perusahaan daerah air minum (PDAM) Kabupaten Gorontalo merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa penyediaan air bersih melalui saluran pipa. Berdasarkan laporan posisi sambungan di PDAM Kabupaten Gorontalo diketahui sejauh ini pelayanan PDAM Kabupaten Gorontalo hanya melayani 11,6% jumlah total kepala keluarga yang terlayani. Pengukuran produktivitas yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode Objective Matrix (OMAX). Tujuan penelitian ini yaitu mengukur tingkat produktivitas di PDAM Kab. Gorontalo dan melakukan evaluasi terhadap pengukuran produktivitas. Tingkat produktivitas PDAM Kabupaten Gorontalo tahun 2018 dan 2019 berdasarkan metode OMAX terjadi penurunan sebesar 76,67% hal ini dipengaruhi oleh bobot yang ditetapkan perusahaan dengan pencapaian produktivitas perusahaan hanya sebesar 23,33%. Evaluasi pengukuran produktivitas dilakukan pada input yang berkontribusi dalam penurunan produktivitas yaitu pada input energi dan tenaga.
{"title":"Pengukuran dan Analisis Produktivitas Menggunakan Metode Objective Matrix (OMAX) (Studi Kasus: di PDAM Kabupaten Gorontalo)","authors":"Hindun Effendy, B. Machmoed, A. Rasyid","doi":"10.37905/jirev.1.1.40-47","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.1.1.40-47","url":null,"abstract":"Pertumbuhan penduduk di Indonesia bertambah seiring berjalannya waktu, hal ini membuat kebutuhan akan sumber daya menjadi bertambah besar, salah satunya kebutuhan air bersih. Pengukuran produktivitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kinerja perusahaan dan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan perbaikan yang akan datang. Perusahaan daerah air minum (PDAM) Kabupaten Gorontalo merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa penyediaan air bersih melalui saluran pipa. Berdasarkan laporan posisi sambungan di PDAM Kabupaten Gorontalo diketahui sejauh ini pelayanan PDAM Kabupaten Gorontalo hanya melayani 11,6% jumlah total kepala keluarga yang terlayani. Pengukuran produktivitas yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode Objective Matrix (OMAX). Tujuan penelitian ini yaitu mengukur tingkat produktivitas di PDAM Kab. Gorontalo dan melakukan evaluasi terhadap pengukuran produktivitas. Tingkat produktivitas PDAM Kabupaten Gorontalo tahun 2018 dan 2019 berdasarkan metode OMAX terjadi penurunan sebesar 76,67% hal ini dipengaruhi oleh bobot yang ditetapkan perusahaan dengan pencapaian produktivitas perusahaan hanya sebesar 23,33%. Evaluasi pengukuran produktivitas dilakukan pada input yang berkontribusi dalam penurunan produktivitas yaitu pada input energi dan tenaga.","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-05-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122293903","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-05-01DOI: 10.37905/jirev.1.1.15-21
Muhammad Irsyad Monoarfa, Yudi Hariyanto, A. Rasyid
Saraswati Coconut Product (PT.SCP) ini merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang memproduksi briket arang (charcoal). Kegiatan produksi briket arang berada di Briquettes Department Production. Produksi briket dilakukan secara Continue Process, digunakannya Continue Process karena proses produksi dilakukan tanpa henti (24 jam) dan sistem produksi yang diterapkan Briquettes Department di PT. SCP adalah Make To Order. Produksi briket tidak terlepas dari masalah yang berkaitan dengan tidak seimbangnya aliran produksi. Pada aliran produksi briket PT. Saraswati Coconut Product terdapat antrian material yang menghambat aliran produksi hingga terjadi bottleneck. Akibatnya proses produksi briket arang menjadi lebih lama dari waktu normal produksi. Untuk mengetahui penyebab permasalahan bottleneck secara detail, maka perlu dilakukannya identifikasi penyebab masalah dari sistem produksi briket dengan menggunakan metode diagram fishbone (tulang ikan). Diagram fishbone (Diagram Tulang Ikan) adalah diagram sebab akibat yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi masalah kinerja. Diagram tulang ikan menyediakan struktur untuk diskusi kelompok sekitar potensi penyebab masalah tersebut. Tujuan dari analisa ini mengetahui penyebab bottleneck dan tindakan perbaikannya. Hasil observasi lapangan dapat diketahui bahwa penumpukkan material (bottleneck) terjadi pada jalur aliran bahan stasiun pretel dan stasiun drying. Penumpukkan material terjadi karena hasil cetakan briket dari stasiun pretel harus menunggu terlebih dahulu sebelum melalui proses pengeringan pada oven. Adapun rata-rata waktu proses oven untuk mengeringkan briket dari tujuh (7) oven yang ada di stasiun drying adalah 66 jam. Waktu proses ini melebihi dari waktu proses stasiun kerja lain yang hanya membutuhkan waktu proses kurang dari 24 jam.Kata Kunci : aliran produksi, bottleneck, diagram fishbone,
{"title":"Analisis Penyebab bottleneck pada Aliran Produksi briquette charcoal dengan Menggunakan Diagram fishbone di PT. Saraswati Coconut Product","authors":"Muhammad Irsyad Monoarfa, Yudi Hariyanto, A. Rasyid","doi":"10.37905/jirev.1.1.15-21","DOIUrl":"https://doi.org/10.37905/jirev.1.1.15-21","url":null,"abstract":"Saraswati Coconut Product (PT.SCP) ini merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang memproduksi briket arang (charcoal). Kegiatan produksi briket arang berada di Briquettes Department Production. Produksi briket dilakukan secara Continue Process, digunakannya Continue Process karena proses produksi dilakukan tanpa henti (24 jam) dan sistem produksi yang diterapkan Briquettes Department di PT. SCP adalah Make To Order. Produksi briket tidak terlepas dari masalah yang berkaitan dengan tidak seimbangnya aliran produksi. Pada aliran produksi briket PT. Saraswati Coconut Product terdapat antrian material yang menghambat aliran produksi hingga terjadi bottleneck. Akibatnya proses produksi briket arang menjadi lebih lama dari waktu normal produksi. Untuk mengetahui penyebab permasalahan bottleneck secara detail, maka perlu dilakukannya identifikasi penyebab masalah dari sistem produksi briket dengan menggunakan metode diagram fishbone (tulang ikan). Diagram fishbone (Diagram Tulang Ikan) adalah diagram sebab akibat yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi masalah kinerja. Diagram tulang ikan menyediakan struktur untuk diskusi kelompok sekitar potensi penyebab masalah tersebut. Tujuan dari analisa ini mengetahui penyebab bottleneck dan tindakan perbaikannya. Hasil observasi lapangan dapat diketahui bahwa penumpukkan material (bottleneck) terjadi pada jalur aliran bahan stasiun pretel dan stasiun drying. Penumpukkan material terjadi karena hasil cetakan briket dari stasiun pretel harus menunggu terlebih dahulu sebelum melalui proses pengeringan pada oven. Adapun rata-rata waktu proses oven untuk mengeringkan briket dari tujuh (7) oven yang ada di stasiun drying adalah 66 jam. Waktu proses ini melebihi dari waktu proses stasiun kerja lain yang hanya membutuhkan waktu proses kurang dari 24 jam.Kata Kunci : aliran produksi, bottleneck, diagram fishbone,","PeriodicalId":198187,"journal":{"name":"Jambura Industrial Review (JIREV)","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-05-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133954513","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}