Nurmala Sari, Afifah Maryam, Lydia Febri Kurniatin, W. Astuti
Latar Belakang: Kehamilan merupakan masa paling penting dalam kehidupan manusia dan harus dipersiapkan sejak dini agar lahir generasi unggul di masa depan. Sejak di dalam kandungan, janin harus selalu dipantau pertumbuhan dan perkembangannya. Bayi dikatakan sehat jika memiliki berat badan lahir normal. Tujuan: Menganalisis prediktor berat badan lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Gang Sehat Kota Pontianak Tahun 2020. Metode: Studi observasional analitik dengan 200 sampel. Data sekunder terdiri dari paritas, kenaikan berat badan ibu selama hamil, kadar Hb, LILA, BB lahir pada rekam medik atau kohort ibu di wilayah kerja Puskesmas Gang Sehat Januari-Desember 2020. Hasil: Analisis Spearman didapatkan hasil paritas (p-value=0,034), LILA (p-value=0,0012), kenaikan berat badan ibu selama hamil (p-value=0,000), kadar Hb (p-value=0,548). Analisis multivariat menunjukkan kenaikan berat badan ibu selama hamil dan LILA merupakan prediktor dari berat badan lahir bayi. Simpulan: Paritas, LILA dan kenaikan berat badan selama hamil menunjukkan adanya korelasi bermakna. Kadar Hb menunjukkan korelasi tidak bermakna. Kenaikan berat badan selama hamil dan LILA merupakan prediktor berat badan lahir bayi
{"title":"PREDIKTOR BERAT BADAN LAHIR BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GANG SEHAT","authors":"Nurmala Sari, Afifah Maryam, Lydia Febri Kurniatin, W. Astuti","doi":"10.30602/jkk.v8i2.984","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i2.984","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Kehamilan merupakan masa paling penting dalam kehidupan manusia dan harus dipersiapkan sejak dini agar lahir generasi unggul di masa depan. Sejak di dalam kandungan, janin harus selalu dipantau pertumbuhan dan perkembangannya. Bayi dikatakan sehat jika memiliki berat badan lahir normal. Tujuan: Menganalisis prediktor berat badan lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Gang Sehat Kota Pontianak Tahun 2020. Metode: Studi observasional analitik dengan 200 sampel. Data sekunder terdiri dari paritas, kenaikan berat badan ibu selama hamil, kadar Hb, LILA, BB lahir pada rekam medik atau kohort ibu di wilayah kerja Puskesmas Gang Sehat Januari-Desember 2020. Hasil: Analisis Spearman didapatkan hasil paritas (p-value=0,034), LILA (p-value=0,0012), kenaikan berat badan ibu selama hamil (p-value=0,000), kadar Hb (p-value=0,548). Analisis multivariat menunjukkan kenaikan berat badan ibu selama hamil dan LILA merupakan prediktor dari berat badan lahir bayi. Simpulan: Paritas, LILA dan kenaikan berat badan selama hamil menunjukkan adanya korelasi bermakna. Kadar Hb menunjukkan korelasi tidak bermakna. Kenaikan berat badan selama hamil dan LILA merupakan prediktor berat badan lahir bayi","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"49 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133224208","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Wanda Okta Savira, R. Amalia, Nur Ainy Fardhana, A. .
Latar Belakang : Perilaku seksual merupakan bagian dari perilaku yang normal, namun dapat menjadi hal negatif apabila perilaku seksual tersebut dilakukan terlalu dini atau tanpa memperhatikan risikonya. Sebagian besar remaja di Asia hidup dalam keterikatan norma yang kental dan pandangan mengenai perilaku seksual yang masih terus tabu. Konstruksi sosial berupa menjaga keperawanan perempuan hingga mereka menikah masih memiliki nilai tinggi di beberapa negara Asia. Meskipun negara Asia memiliki konstruksi sosial terhadap nilai keperawanan yang harus dijaga, namun induced abortions di Asia masih cukup tinggi. Metode : Penelitian ini merupakan systematic literature review. Pertanyaan penelitian disusun dengan ketentuan PICO. Sebanyak 1.468 literatur dalam 10 tahun terakhir didapat dari database Scopus, ProQuest, Springer, PubMed, dan Google Schoolar. Penyaringan literatur dilakukan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan. Hasil : 5 literatur yang telah direview memiliki total partisipan sebanyak 16.798 dengan persebaran 8.093 laki-laki dan 8.701 partisipan perempuan. Sebaran wilayah lokasi penelitian berada di Asia Tenggara dan Asia Barat. 5 literatur menunjukkan bahwa Sebagian besar partisipan memiliki sikap positif terhadap nilai keperawanan. Kesimpulan : Terdapat 14.082 remaja yang memiliki sikap positif terhadap nilai keperawanan. Gambaran perilaku seksual remaja dari 5 literatur meliputi perilaku seksual tidak berisiko dan berisiko. Remaja yang memiliki sikap negatif terhadap keperawanan 3,6 kali lebih tinggi untuk memiliki perilaku seksual berisiko
{"title":"GAMBARAN NILAI KEPERAWANAN DAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA : SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW","authors":"Wanda Okta Savira, R. Amalia, Nur Ainy Fardhana, A. .","doi":"10.30602/jkk.v8i2.893","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i2.893","url":null,"abstract":"Latar Belakang : Perilaku seksual merupakan bagian dari perilaku yang normal, namun dapat menjadi hal negatif apabila perilaku seksual tersebut dilakukan terlalu dini atau tanpa memperhatikan risikonya. Sebagian besar remaja di Asia hidup dalam keterikatan norma yang kental dan pandangan mengenai perilaku seksual yang masih terus tabu. Konstruksi sosial berupa menjaga keperawanan perempuan hingga mereka menikah masih memiliki nilai tinggi di beberapa negara Asia. Meskipun negara Asia memiliki konstruksi sosial terhadap nilai keperawanan yang harus dijaga, namun induced abortions di Asia masih cukup tinggi. Metode : Penelitian ini merupakan systematic literature review. Pertanyaan penelitian disusun dengan ketentuan PICO. Sebanyak 1.468 literatur dalam 10 tahun terakhir didapat dari database Scopus, ProQuest, Springer, PubMed, dan Google Schoolar. Penyaringan literatur dilakukan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan. Hasil : 5 literatur yang telah direview memiliki total partisipan sebanyak 16.798 dengan persebaran 8.093 laki-laki dan 8.701 partisipan perempuan. Sebaran wilayah lokasi penelitian berada di Asia Tenggara dan Asia Barat. 5 literatur menunjukkan bahwa Sebagian besar partisipan memiliki sikap positif terhadap nilai keperawanan. Kesimpulan : Terdapat 14.082 remaja yang memiliki sikap positif terhadap nilai keperawanan. Gambaran perilaku seksual remaja dari 5 literatur meliputi perilaku seksual tidak berisiko dan berisiko. Remaja yang memiliki sikap negatif terhadap keperawanan 3,6 kali lebih tinggi untuk memiliki perilaku seksual berisiko","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"17 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122181095","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Latar Belakang: Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara berpendapatan menengah lainnya. Balita yang mengalami stunting memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Tujuan: Mengetahui Pengetahuan Ibu tentang Stunting dan Pola Tindakan Asuh terhadap pemberian makan pada Balita. Metode: Penelitian korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ibu yang mempunyai anak balita. Teknik pengambilan sampel menggunakaan total sampling yaitu keseluruhan dari semua jumlah populasi yaitu 35 orang yang mempunyai balita. Analisis data dengan uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan (0,05) dan confidence interval (CI=95%). Hasil : Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-square didapatkan p = 0,431 (p >0,05) tidak ada hubungan antara pengetahuan responden tentang stunting terhadap pola asuh pemberian makan pada balita. Kesimpulan: Pengetahuan tentang stunting pada balita Sebagian besar dikategorikan kurang dengan jumlah 21 (60%) dibandingkan yang mempunyai pengetahuan baik yang berjumlah 14 (40%).Tindakan tentang pola asuh pemberian makan pada balita Sebagian besar mendukung dengan jumlah 27 responden (77,1%) dibandingkan dengan yang mempunyai Tindakan tidak mendukung yang berjumlah 8 (22,9%) Tidak adanya hubungan pengetahuan responden tentang stunting dengan Tindakan pola asuh pemberian makan balita dengan p Value 0,431 ( p > 0,05)
{"title":"HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG STUNTING DENGAN POLA ASUH PEMBERIAN MAKAN PADA BALITA DI DESA SUI BEMBAN","authors":"N. Nurhasanah, K. -","doi":"10.30602/jkk.v8i2.971","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i2.971","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara berpendapatan menengah lainnya. Balita yang mengalami stunting memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Tujuan: Mengetahui Pengetahuan Ibu tentang Stunting dan Pola Tindakan Asuh terhadap pemberian makan pada Balita. Metode: Penelitian korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ibu yang mempunyai anak balita. Teknik pengambilan sampel menggunakaan total sampling yaitu keseluruhan dari semua jumlah populasi yaitu 35 orang yang mempunyai balita. Analisis data dengan uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan (0,05) dan confidence interval (CI=95%). Hasil : Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-square didapatkan p = 0,431 (p >0,05) tidak ada hubungan antara pengetahuan responden tentang stunting terhadap pola asuh pemberian makan pada balita. Kesimpulan: Pengetahuan tentang stunting pada balita Sebagian besar dikategorikan kurang dengan jumlah 21 (60%) dibandingkan yang mempunyai pengetahuan baik yang berjumlah 14 (40%).Tindakan tentang pola asuh pemberian makan pada balita Sebagian besar mendukung dengan jumlah 27 responden (77,1%) dibandingkan dengan yang mempunyai Tindakan tidak mendukung yang berjumlah 8 (22,9%) Tidak adanya hubungan pengetahuan responden tentang stunting dengan Tindakan pola asuh pemberian makan balita dengan p Value 0,431 ( p > 0,05)","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"368 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115904256","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Latar belakang: Kejadian dismenorea di Indonesia saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Dismenorea primer tanpa adanya patologis pelvis yang dialami oleh sekitar 50% wanita serta mengalami nyeri hebat sehingga menyebabkan ketidakmampuan wanita untuk beraktivitas selama 1 sampai 3 hari setiap bulannya. Faktor resiko dari dismenorea pada remaja sering berhubungan dengan menarche usia dini, riwayat keluarga dengan keluhan dismenore, dan indeks masa tubuh (IMT) yang tidak normal. Wanita dengan IMT kurang dari berat normal dapat menjadi salah satu faktor konstitusi yang dapat disebabkan oleh kurangnya daya tahan tubuh terhadap rasa nyeri sehingga dapat terjadi dismenorea. Tujuan: untuk mengetahui hubungan Indeks Masa Tubuh Massa Tubuh (IMT) Remaja dengan Dismenorea. Metode: penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan Total Sampling dengan jumlah 55 responden. Intrumen penelitian kuantitatif dengan kuesioner. Analisis data kuantitatif menggunakan chi-square. Hasil: didapatkan sebagian besar responden mengalami intensitas nyeri dengan kategori ringan yaitu sebesar 29 (52,7%). sebagian besar responden memiliki indeks massa tubuh yang normal yaitu sebesar 38 (69,1%). Kesimpulan: tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kejadian dismenorea pada remaja. Penelitian selanjutnya disarankan mengkombinasikan variabel-variabel lainnya yang dapat dinilai dan berhubungan dengan faktor penyebab terjadinya dismimore dengan responden yang lebih luas agar dapat menilai secara keseluruhan.
{"title":"HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) REMAJA DENGAN DISMENOREA","authors":"Dwi Khalisa Putri, Eliyana Lulianthy","doi":"10.30602/jkk.v8i2.970","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i2.970","url":null,"abstract":"Latar belakang: Kejadian dismenorea di Indonesia saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Dismenorea primer tanpa adanya patologis pelvis yang dialami oleh sekitar 50% wanita serta mengalami nyeri hebat sehingga menyebabkan ketidakmampuan wanita untuk beraktivitas selama 1 sampai 3 hari setiap bulannya. Faktor resiko dari dismenorea pada remaja sering berhubungan dengan menarche usia dini, riwayat keluarga dengan keluhan dismenore, dan indeks masa tubuh (IMT) yang tidak normal. Wanita dengan IMT kurang dari berat normal dapat menjadi salah satu faktor konstitusi yang dapat disebabkan oleh kurangnya daya tahan tubuh terhadap rasa nyeri sehingga dapat terjadi dismenorea. Tujuan: untuk mengetahui hubungan Indeks Masa Tubuh Massa Tubuh (IMT) Remaja dengan Dismenorea. Metode: penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan Total Sampling dengan jumlah 55 responden. Intrumen penelitian kuantitatif dengan kuesioner. Analisis data kuantitatif menggunakan chi-square. Hasil: didapatkan sebagian besar responden mengalami intensitas nyeri dengan kategori ringan yaitu sebesar 29 (52,7%). sebagian besar responden memiliki indeks massa tubuh yang normal yaitu sebesar 38 (69,1%). Kesimpulan: tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kejadian dismenorea pada remaja. Penelitian selanjutnya disarankan mengkombinasikan variabel-variabel lainnya yang dapat dinilai dan berhubungan dengan faktor penyebab terjadinya dismimore dengan responden yang lebih luas agar dapat menilai secara keseluruhan.","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"100 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127640051","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Stunting merupakan masalah yang umum terjadi di Indonesia, termasuk juga di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Pravalensi stunting di Aceh yang berusia di bawah 2 Tahun (baduta) sebanyak 37,9%. prevalensi stunting bayi berusia dibawah lima tahun di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 30,8%, yang mana berada di atas standar WHO 20%. Pada penelitian ini dicari hubungan antara berat badan lahir terhadap stunting. Berat badan lahir dikategorikan menjadi beresiko dan tidak, dengan batasan 2500 gram, dimana terdapat berat badan lahir beresiko sebesar 42%. Jenis penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 38 orang balita,dari Puskesmas Syamtalira Aron dan dilakukan analisis data secara univariat dan bivariat. Dari penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara berat badan lahir dengan stunting, dimana 23,7% stunting terjadi pada berat badan lahir beresiko, dibanding dengan 7,9 % pada berat badan lahir tidak beresiko
{"title":"HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR TERHADAP STUNTING DI PUSKESMAS SYAMTALIRA ARON KABUPATEN ACEH UTARA","authors":"L. ., E. ., Rayana Iswani","doi":"10.30602/jkk.v8i1.910","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i1.910","url":null,"abstract":"Stunting merupakan masalah yang umum terjadi di Indonesia, termasuk juga di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Pravalensi stunting di Aceh yang berusia di bawah 2 Tahun (baduta) sebanyak 37,9%. prevalensi stunting bayi berusia dibawah lima tahun di Indonesia pada tahun 2018 sebesar 30,8%, yang mana berada di atas standar WHO 20%. Pada penelitian ini dicari hubungan antara berat badan lahir terhadap stunting. Berat badan lahir dikategorikan menjadi beresiko dan tidak, dengan batasan 2500 gram, dimana terdapat berat badan lahir beresiko sebesar 42%. Jenis penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 38 orang balita,dari Puskesmas Syamtalira Aron dan dilakukan analisis data secara univariat dan bivariat. Dari penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara berat badan lahir dengan stunting, dimana 23,7% stunting terjadi pada berat badan lahir beresiko, dibanding dengan 7,9 % pada berat badan lahir tidak beresiko","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"36 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134521979","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Latar belakang: Rendahnya status gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Di negara berkembang anak-anak umur 0-5 tahun merupakan golongan yang paling rawan terhadap gizi. Anak-anak biasanya menderita bermacam-macam infeksi serta berada dalam status gizi rendah. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh ASI eksklusif dan morbiditas dengan status gizi bayi di Dusun Pajalau Desa, Sulawesi Selatan Tahun 2020. Metode: Jenis penelitian ini adalah Survey analytic dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dan sampel adalah semua bayi usia 7 -12 bulan yang datang ke Posyandu pada bulan Maret s/d Agustus tahun 2020 dengan teknik accidental sampling yang kemudian dianalisa dengan menggunakan chi-square. Hasil: tidak ada pengaruh yang signifikan antara ASI eksklusif (ρ = 0.102 dengan OR: 4.5) dan ada pengaruh yang signifikan antara morbiditas bayi (ρ = 0,00 dengan OR: 20.0) terhadap status gizi bayi. Sehingga perlu pemahaman pada ibu yang memiliki bayi agar tetap menjaga pola hidup sehat, menjaga sanitasi lingkungan agar terhindar dari penyakit infeksi serta tidak lupa untuk tetap memberikan ASI eksklusif pada bayi untuk menjamin asupan zat gizinya
{"title":"PENGARUH ASI EKSKLUSIF DAN MORBIDITAS BAYI TERHADAP STATUS GIZI BAYI DI DUSUN PAJALAU, KABUPATEN GOWA SULAWESI SELATAN","authors":"Irfan Arifin","doi":"10.30602/jkk.v8i1.839","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i1.839","url":null,"abstract":"Latar belakang: Rendahnya status gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Di negara berkembang anak-anak umur 0-5 tahun merupakan golongan yang paling rawan terhadap gizi. Anak-anak biasanya menderita bermacam-macam infeksi serta berada dalam status gizi rendah. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh ASI eksklusif dan morbiditas dengan status gizi bayi di Dusun Pajalau Desa, Sulawesi Selatan Tahun 2020. Metode: Jenis penelitian ini adalah Survey analytic dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dan sampel adalah semua bayi usia 7 -12 bulan yang datang ke Posyandu pada bulan Maret s/d Agustus tahun 2020 dengan teknik accidental sampling yang kemudian dianalisa dengan menggunakan chi-square. Hasil: tidak ada pengaruh yang signifikan antara ASI eksklusif (ρ = 0.102 dengan OR: 4.5) dan ada pengaruh yang signifikan antara morbiditas bayi (ρ = 0,00 dengan OR: 20.0) terhadap status gizi bayi. Sehingga perlu pemahaman pada ibu yang memiliki bayi agar tetap menjaga pola hidup sehat, menjaga sanitasi lingkungan agar terhindar dari penyakit infeksi serta tidak lupa untuk tetap memberikan ASI eksklusif pada bayi untuk menjamin asupan zat gizinya","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"5 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124580125","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Latar Belakang: Gangguan menstruasi yang sering terjadi pada remaja adalah nyeri menstruasi atau disminore. Remaja yang mengalami nyeri menstruasi akan merasakan kram pada abdomen bawah dan biasanya disertai gejala tambahan yang mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari- hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menguranginya adalah memberikan terapi nonfarmakologis yaitu yoga. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh yoga terhadap nyeri menstruasi pada remaja. Metode: Desain studi dalam penelitian ini adalah literature review. Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan keyword (yoga AND menstrual cramp OR adolescent, teenager). Selanjutnya, dilakukan seleksi terhadap 403.128 artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah artikel yang terseleksi sebanyak 13 artikel. Artikel diambil dari data base bereputasi maupun terakreditasi. Artikel diambil dari database PubMed, DOAJ Research Gate, dan Google Schoolar. Penyeleksian diambil dengan memerhatikan PICOS dan selanjutnya dianalisis. Teknik analisis yang digunakan oleh peneliti adalah Compare, Contrast, dan Synthesize. Hasil: Terdapat 14 jurnal yang menyebutkan adanya pengaruh pemberian yoga terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja. Skala nyeri menstruasi yang paling banyak dialami remaja adalah skala nyeri sedang. Kesimpulan: Pemberian yoga bisa diberikan sebagai terapi nonfarmakologi yang efektif untuk menurunkan nyeri menstruasi terhadap remaja. Hal ini dikarenakan yoga dapat memberikan efek relaksasi, sehingga tubuh dapat memproduksi hormon endorfin yang berguna sebagai obat analgesik alami.
{"title":"PENGARUH YOGA TERHADAP NYERI MENSTRUASI PADA REMAJA : STUDI LITERATUR","authors":"Nisa Shabrinafi Amalia, Erni Dwi Widyana, Susanti Pratamaningtyas","doi":"10.30602/jkk.v8i1.1003","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i1.1003","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Gangguan menstruasi yang sering terjadi pada remaja adalah nyeri menstruasi atau disminore. Remaja yang mengalami nyeri menstruasi akan merasakan kram pada abdomen bawah dan biasanya disertai gejala tambahan yang mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari- hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menguranginya adalah memberikan terapi nonfarmakologis yaitu yoga. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh yoga terhadap nyeri menstruasi pada remaja. Metode: Desain studi dalam penelitian ini adalah literature review. Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan keyword (yoga AND menstrual cramp OR adolescent, teenager). Selanjutnya, dilakukan seleksi terhadap 403.128 artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah artikel yang terseleksi sebanyak 13 artikel. Artikel diambil dari data base bereputasi maupun terakreditasi. Artikel diambil dari database PubMed, DOAJ Research Gate, dan Google Schoolar. Penyeleksian diambil dengan memerhatikan PICOS dan selanjutnya dianalisis. Teknik analisis yang digunakan oleh peneliti adalah Compare, Contrast, dan Synthesize. Hasil: Terdapat 14 jurnal yang menyebutkan adanya pengaruh pemberian yoga terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja. Skala nyeri menstruasi yang paling banyak dialami remaja adalah skala nyeri sedang. Kesimpulan: Pemberian yoga bisa diberikan sebagai terapi nonfarmakologi yang efektif untuk menurunkan nyeri menstruasi terhadap remaja. Hal ini dikarenakan yoga dapat memberikan efek relaksasi, sehingga tubuh dapat memproduksi hormon endorfin yang berguna sebagai obat analgesik alami.","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"39 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123221251","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
D. Damayanti, Eny Aprianti, Oon Fatonah, Rini Sulistiawati
Latar Belakang : Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Kader posyandu merupakan penggerak utama seluruh kegiatan yang dilakukan di posyandu. Kader diharapkan berperan aktif dalam kegiatan promotif dan preventif serta mampu menjadi pendorong, motivator dan penyuluh masyarakat terutama tentang stunting, dalam hal ini pengetahuan, lama bekerja, pelatihan/penyegaran dan keterampilan merupakan beberapa faktor yang sangat penting bagi seorang kader dalam upaya pencegahan stunting. Tujuan : Penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi peran kader posyandu dalam upaya pencegahan stunting di wilayah puskesmas Sungai Melayu Kabupaten Ketapang. Metode : survey analitik observasional dengan desain penelitian menggunakan cross-sectional. Hasil : Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p= 0.013), pelatihan kader (p= 0.004), lama bekerja (p= 0.000) dan keterampilan (p= 0.031) terhadap upaya pencegahan stunting di wilayah Puskesmas Sungai Melayu Kabupaten Ketapang. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara faktor pengetahuan, lama bekerja, keterampilan dan pelatihan terhadap peran kader posyandu dalam upaya pencegahan stunting di wilayah Puskesmas Sungai Melayu Kabupaten Ketapang
{"title":"FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN KADER POSYANDU DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI WILAYAH PUSKESMAS SUNGAI MELAYU KABUPATEN KETAPANG","authors":"D. Damayanti, Eny Aprianti, Oon Fatonah, Rini Sulistiawati","doi":"10.30602/jkk.v8i1.894","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i1.894","url":null,"abstract":"Latar Belakang : Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Kader posyandu merupakan penggerak utama seluruh kegiatan yang dilakukan di posyandu. Kader diharapkan berperan aktif dalam kegiatan promotif dan preventif serta mampu menjadi pendorong, motivator dan penyuluh masyarakat terutama tentang stunting, dalam hal ini pengetahuan, lama bekerja, pelatihan/penyegaran dan keterampilan merupakan beberapa faktor yang sangat penting bagi seorang kader dalam upaya pencegahan stunting. Tujuan : Penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi peran kader posyandu dalam upaya pencegahan stunting di wilayah puskesmas Sungai Melayu Kabupaten Ketapang. Metode : survey analitik observasional dengan desain penelitian menggunakan cross-sectional. Hasil : Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p= 0.013), pelatihan kader (p= 0.004), lama bekerja (p= 0.000) dan keterampilan (p= 0.031) terhadap upaya pencegahan stunting di wilayah Puskesmas Sungai Melayu Kabupaten Ketapang. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara faktor pengetahuan, lama bekerja, keterampilan dan pelatihan terhadap peran kader posyandu dalam upaya pencegahan stunting di wilayah Puskesmas Sungai Melayu Kabupaten Ketapang","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"207 ","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"113987227","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Latar Belakang : Salah satu hal yang dikhawatirkan oleh seorang ibu yang akan mengalami persalinan adalah rasa nyeri. Nyeri persalinan merupakan suatu kondisi fisiologi yang secara umum akan dialami semua ibu bersalin yang disebabkan oleh ketegangan, emosional, tekanan pada ujung saraf, regangan pada jaringan dan persendian, serta hipoksia otot uterus. Nyeri menyebabkan penderitaan dan stress yang jika tidak mereda dapat mengakibatkan respons terhadap nyeri berikutnya. Penanganan rasa nyeri dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan teknik relaksasi dan massage. Tujuan : Menganalisis efektivitas aromaterapi mawar, massage effleurage dan kombinasi terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif ibu bersalin di Puskesmas Sebangkau Kabupaten Sambas Tahun 2021. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy experiment dengan rancangan Non equivalen pretest-posttest comparison group design. Hasil: Ada perubahan intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase aktif sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi mawar didapatkan p-value = 0.004, ada perubahan intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase aktif sebelum dan sesudah diberikan Massage Effleurage didapatkan p-value = 0.003, ada perubahan intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase aktif sebelum dan sesudah diberikan kombinasi di Puskesmas Sebangkau Kabupaten Sambas Tahun 2021 didapatkan p-value = 0.000, Kesimpulan : Terapi kombinasi aromaterapi mawar dan massage effleurage merupakan intervensi yang paling efektif terhadap perubahan skala nyeri ibu bersalin kala I fase aktif
{"title":"EFEKTIVITAS AROMATERAPI MAWAR, MASSAGE EFFLEURAGE DAN KOMBINASI AROMATERAPI MAWAR DAN MASSAGE EFFLEURAGE TERHADAP NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF PADA IBU BERSALIN DI PUSKESMAS SEBANGKAU KABUPATEN SAMBAS","authors":"Rohuna Husin, Elma Marsita, N. Sitorus","doi":"10.30602/jkk.v8i1.917","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i1.917","url":null,"abstract":"Latar Belakang : Salah satu hal yang dikhawatirkan oleh seorang ibu yang akan mengalami persalinan adalah rasa nyeri. Nyeri persalinan merupakan suatu kondisi fisiologi yang secara umum akan dialami semua ibu bersalin yang disebabkan oleh ketegangan, emosional, tekanan pada ujung saraf, regangan pada jaringan dan persendian, serta hipoksia otot uterus. Nyeri menyebabkan penderitaan dan stress yang jika tidak mereda dapat mengakibatkan respons terhadap nyeri berikutnya. Penanganan rasa nyeri dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan teknik relaksasi dan massage. Tujuan : Menganalisis efektivitas aromaterapi mawar, massage effleurage dan kombinasi terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif ibu bersalin di Puskesmas Sebangkau Kabupaten Sambas Tahun 2021. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy experiment dengan rancangan Non equivalen pretest-posttest comparison group design. Hasil: Ada perubahan intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase aktif sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi mawar didapatkan p-value = 0.004, ada perubahan intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase aktif sebelum dan sesudah diberikan Massage Effleurage didapatkan p-value = 0.003, ada perubahan intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase aktif sebelum dan sesudah diberikan kombinasi di Puskesmas Sebangkau Kabupaten Sambas Tahun 2021 didapatkan p-value = 0.000, Kesimpulan : Terapi kombinasi aromaterapi mawar dan massage effleurage merupakan intervensi yang paling efektif terhadap perubahan skala nyeri ibu bersalin kala I fase aktif","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"7 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121766633","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Latar Belakang: Provinsi Kalimantan Barat menduduki peringkat 8 terendah dalam cakupan ASI eksklusif yakni 22,9%. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada Efektifitas Pijat Oksitosin dan ayah ASI pada Gizi Spesifik Bayi Usia 0 – 6 Bulan Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Saigon Kota Pontianak Metode: Metode penelitian adalah quasy eksperimental dengan rancangan two group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu dengan pijat Oksitosin dan Ayah ASI. Sampel dalam penelitian ini adalah 40 responden yang dipilih secara proposive sampling. Hasil: Perbandingan Kejadian Stunting Bayi Baru Lahir dan Kejadian sesudah Pijat Oxitoksin, terdapat 1 responden dengan Kejadian Stunting Bayi Baru Lahir dengan hasil kejadian setelah perlakuan Pijat Oksitosin lebih tinggi dari pada setelah perlakuan, 5 responden tetap, dan 14 responden mengalami Kejadian Stunting dari sebelum dilakukan perlakuan Pijat Oksitosin, Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai significancy 0.001 (p < 0,05). Sedangkan 6 responden tetap dan 14 responden mengalami stunting dari sebelum dilakukan perlakuan Ayah ASI, Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai significancy 0.000 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna kejadian stunting bayi baru lahir dengan kejadian stunting sesudah diberi perlakuan pijat oksitosin dan ayah asi gizi spesifik pemberian asi pada usia 0 – 6 bulan di wilayah kerja puskesmas saigon kota pontianak dengan nilai significancy 0.000 (p < 0,05)
{"title":"EFEKTIFITAS PIJAT OKSITOSIN DAN AYAH ASI PADA GIZI SPESIFIK BAYI USIA 0–6 BULAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEIGON","authors":"Utin Siti Candra Sari, Emy Yulianti, M. Salim","doi":"10.30602/jkk.v8i1.711","DOIUrl":"https://doi.org/10.30602/jkk.v8i1.711","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Provinsi Kalimantan Barat menduduki peringkat 8 terendah dalam cakupan ASI eksklusif yakni 22,9%. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada Efektifitas Pijat Oksitosin dan ayah ASI pada Gizi Spesifik Bayi Usia 0 – 6 Bulan Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Saigon Kota Pontianak Metode: Metode penelitian adalah quasy eksperimental dengan rancangan two group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu dengan pijat Oksitosin dan Ayah ASI. Sampel dalam penelitian ini adalah 40 responden yang dipilih secara proposive sampling. Hasil: Perbandingan Kejadian Stunting Bayi Baru Lahir dan Kejadian sesudah Pijat Oxitoksin, terdapat 1 responden dengan Kejadian Stunting Bayi Baru Lahir dengan hasil kejadian setelah perlakuan Pijat Oksitosin lebih tinggi dari pada setelah perlakuan, 5 responden tetap, dan 14 responden mengalami Kejadian Stunting dari sebelum dilakukan perlakuan Pijat Oksitosin, Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai significancy 0.001 (p < 0,05). Sedangkan 6 responden tetap dan 14 responden mengalami stunting dari sebelum dilakukan perlakuan Ayah ASI, Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai significancy 0.000 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna kejadian stunting bayi baru lahir dengan kejadian stunting sesudah diberi perlakuan pijat oksitosin dan ayah asi gizi spesifik pemberian asi pada usia 0 – 6 bulan di wilayah kerja puskesmas saigon kota pontianak dengan nilai significancy 0.000 (p < 0,05)","PeriodicalId":316231,"journal":{"name":"Jurnal Kebidanan Khatulistiwa","volume":"28 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129512412","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}