This article analyzes how Padungku, an indigenous tradition of the Pamona tribe, became a concept of ecclesiology after the Poso conflict through the perspective of interfaith ecclesiology. The main problem in the Poso conflict is the clash between two different religious groups from each other so that all kinds of relationships of any kind between the two seem to be tightly closed, and there is no hope of opening up again. This paper uses a literature method to explore how Padungku became a new ecclesiological concept in the Poso community. The results found that through Padungku and the perspective of interfaith ecclesiology as aids, it will be seen that long-entrenched indigenous traditions played a role in unlocking all sorts of things that were not originally possible post-conflict. This openness is also inseparable from how its values are in line and accordance with ecclesial principles.
{"title":"Padungku as a Post-Conflict Ecclesiological Concept in Poso in Relation to Interfaith Communities","authors":"Marsekal Gimbo, Imanuel Teguh Harisantoso","doi":"10.59361/tevunah.v1i1.1","DOIUrl":"https://doi.org/10.59361/tevunah.v1i1.1","url":null,"abstract":"This article analyzes how Padungku, an indigenous tradition of the Pamona tribe, became a concept of ecclesiology after the Poso conflict through the perspective of interfaith ecclesiology. The main problem in the Poso conflict is the clash between two different religious groups from each other so that all kinds of relationships of any kind between the two seem to be tightly closed, and there is no hope of opening up again. This paper uses a literature method to explore how Padungku became a new ecclesiological concept in the Poso community. The results found that through Padungku and the perspective of interfaith ecclesiology as aids, it will be seen that long-entrenched indigenous traditions played a role in unlocking all sorts of things that were not originally possible post-conflict. This openness is also inseparable from how its values are in line and accordance with ecclesial principles.","PeriodicalId":354633,"journal":{"name":"TEVUNAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen","volume":"33 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-05-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124291257","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Anak muda adalah tulang punggung serta masa depan gereja. Kaum muda tidak dapat bergerak secara aktif tanpa ada yang mengatur dari pihak pengurus kaum muda dan pihak gereja yang harus memotivasi kaum muda supaya mereka bisa berkembang ke arah positif. Oleh sebab itu, pentingnya manajemen yang baik untuk mengatur dan mendukung kaum muda agar lebih aktif dalam mengikuti pelayanan yang yang ada. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui penyebab sehingga tingkat kehadiran pemuda dalam ibadah memiliki ketidakstabilan. Untuk mengetahui apa manfaat manajemen kepemimpinan Gereja terhadap tingkat kehadiran pemuda dalam ibadah. Metode penelitian yang dipakai Kualitatif dengan jenis peneitian Studi Kasus untuk mengungkapkan Manfaat Manajemen Kepemimpinan Gereja terhadap tingkat kehadiran pemuda dalam ibadah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa penyebab dari ketidak aktifan pemuda dalam ibadah seperti, kurangnya pendekatan, kurang percaya diri. Struktur manajemen sudah dilaksanakan di jemaat GPIBK Pniel Boloy seperti pembagian tugas serta pelaksanaan kepada majelis jemaat yang ada. Di dalam pelayanan kompelka pemuda tingkat kehadiran dari anggota mengalami ketidakstabilan.
{"title":"Manfaat Manajemen Kepemimpinan Gereja Terhadap Tingkat Kehadiran Pemuda Dalam Ibadah Di Jemaat Pniel Boloy","authors":"Julitte Hasna Liance Buek, Lefran Lefran, Alce Mariani Labito","doi":"10.59361/tevunah.v1i1.8","DOIUrl":"https://doi.org/10.59361/tevunah.v1i1.8","url":null,"abstract":"Anak muda adalah tulang punggung serta masa depan gereja. Kaum muda tidak dapat bergerak secara aktif tanpa ada yang mengatur dari pihak pengurus kaum muda dan pihak gereja yang harus memotivasi kaum muda supaya mereka bisa berkembang ke arah positif. Oleh sebab itu, pentingnya manajemen yang baik untuk mengatur dan mendukung kaum muda agar lebih aktif dalam mengikuti pelayanan yang yang ada. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui penyebab sehingga tingkat kehadiran pemuda dalam ibadah memiliki ketidakstabilan. Untuk mengetahui apa manfaat manajemen kepemimpinan Gereja terhadap tingkat kehadiran pemuda dalam ibadah. Metode penelitian yang dipakai Kualitatif dengan jenis peneitian Studi Kasus untuk mengungkapkan Manfaat Manajemen Kepemimpinan Gereja terhadap tingkat kehadiran pemuda dalam ibadah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa penyebab dari ketidak aktifan pemuda dalam ibadah seperti, kurangnya pendekatan, kurang percaya diri. Struktur manajemen sudah dilaksanakan di jemaat GPIBK Pniel Boloy seperti pembagian tugas serta pelaksanaan kepada majelis jemaat yang ada. Di dalam pelayanan kompelka pemuda tingkat kehadiran dari anggota mengalami ketidakstabilan.","PeriodicalId":354633,"journal":{"name":"TEVUNAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen","volume":"23 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-05-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125661050","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}