Pub Date : 2023-04-04DOI: 10.58466/lipida.v3i1.793
Z. Zainuddin
Provinsi Kalimantan Utara menyatakan bahwa rata-rata produktivitas rumput laut dari tahun 2015-2019 mencapai 256.900,5 ton/hektar/tahun. Provinsi Kalimantan Utara merupakan salah satu lokasi penghasil rumput laut dengan karakteristik wilayah kepulauan kepulauan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi pengolahan budidaya rumput laut di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, Metode yang digunakan untuk pengambilan data dalam penelitian ini adalah metode survei, data yang digunakan dalam penelitian berupa data sekunder dimana data tersebut berupa data yang diperoleh dari studi kepustakaan, hasil penelitian, lembaga-lembaga dan instansi terkait yang mendukung penelitian, analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis deskriptif. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut menunjukan bahwa produktivitas budidaya rumput laut di Kalimantan Utara masih sangat rendah yaitu hanya 311.037 ton/tahun. budi daya rumput laut di Provinsi Kalimantan Utara disebabkan oleh terbatasnya aksesibilitas dan sarana produksi adanya permasalahan-permasalahan tesebut, pengembangan budi daya rumput menjadi tidak optimal baik secara kuantitas maupun rendah, hal ini merupakan sarana pendukung produksi yang tidak optimal sehingga mengurangi kapasitas produksi , maupun pemasaran produk yang tidak luas sehingga potensi penjualan kurang optimal
{"title":"POTENSI PENGOLAHAN DAN PENGELOLAAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) DI WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN UTARA","authors":"Z. Zainuddin","doi":"10.58466/lipida.v3i1.793","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v3i1.793","url":null,"abstract":"Provinsi Kalimantan Utara menyatakan bahwa rata-rata produktivitas rumput laut dari tahun 2015-2019 mencapai 256.900,5 ton/hektar/tahun. Provinsi Kalimantan Utara merupakan salah satu lokasi penghasil rumput laut dengan karakteristik wilayah kepulauan kepulauan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi pengolahan budidaya rumput laut di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, Metode yang digunakan untuk pengambilan data dalam penelitian ini adalah metode survei, data yang digunakan dalam penelitian berupa data sekunder dimana data tersebut berupa data yang diperoleh dari studi kepustakaan, hasil penelitian, lembaga-lembaga dan instansi terkait yang mendukung penelitian, analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis deskriptif. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut menunjukan bahwa produktivitas budidaya rumput laut di Kalimantan Utara masih sangat rendah yaitu hanya 311.037 ton/tahun. budi daya rumput laut di Provinsi Kalimantan Utara disebabkan oleh terbatasnya aksesibilitas dan sarana produksi adanya permasalahan-permasalahan tesebut, pengembangan budi daya rumput menjadi tidak optimal baik secara kuantitas maupun rendah, hal ini merupakan sarana pendukung produksi yang tidak optimal sehingga mengurangi kapasitas produksi , maupun pemasaran produk yang tidak luas sehingga potensi penjualan kurang optimal","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"100 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127606994","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-04-01DOI: 10.58466/lipida.v3i1.1022
Marisa Nopriyanti, Trian Adimarta, Lisa Sapitri
Penelitian ini bertujuan mengetahui proses perebusan dalam pembuatan sirup buah pedada dengan metode tanpa diblender, mengetahui proses pemanasan dalam pembuatan sirup buah pedada dengan metode diblender dan mengetahui berapa APM/ml cemaran Coliform dan E.coli di dalam sirup buah pedada. Proses pembuatan sirup buah pedada (Sonneratia caseolaris) meliputi dua metode, yaitu tanpa diblender dan diblender. Buah pedada dengan metode tanpa diblender yaitu buah pedada yang sudah dibersihkan dan dipotong-potong, kemudian ditambahkan gula 65% dan air 1000 ml kemudian direbus, sedangkan metode diblender buah pedada dihaluskan dan ditambahkan air 1000 ml kemudian disaring untuk diambil sarinya, setelah itu ditambahkan 65% gula. Pemanasan sirup dilakukan ± 30 menit dengan suhu kompor ± 100°C yaitu cara diaduk sampai agak mengental kemudian didinginkan dan dimasukkan ke dalam botol. Metode penelitian ini menggunakan metode MPN dengan menggunakan media lactose broth. Hasil analisis cemaran bakteri Coliform dan E.coli sirup buah pedada (Sonneratia caseolaris) yang dilakukan yaitu dengan dua proses dan metode buah pedada dengan proses perebusan dan metode tanpa diblender dan proses pemanasan metode diblender. Analisis cemaran Coliform menggunakan seri 3 yaitu menggunakan 3 tabung setiap pengencerannya, setelah diinkubasi selama 24 jam setiap serinya dinyatakan negatif tidak terdapat gelembung dan gas. Analisis cemaran E.coli menggunakan 6 tabung, setelah diinkubasi selama 24 jam setiap tabung dinyatakan negatif tidak terdapat gelembung dan gas.
{"title":"ANALISIS MIKROBIOLOGI SIRUP BUAH PEDADA (sonneratia caseolaris) DIKABUPATEN KETAPANG","authors":"Marisa Nopriyanti, Trian Adimarta, Lisa Sapitri","doi":"10.58466/lipida.v3i1.1022","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v3i1.1022","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan mengetahui proses perebusan dalam pembuatan sirup buah pedada dengan metode tanpa diblender, mengetahui proses pemanasan dalam pembuatan sirup buah pedada dengan metode diblender dan mengetahui berapa APM/ml cemaran Coliform dan E.coli di dalam sirup buah pedada. \u0000Proses pembuatan sirup buah pedada (Sonneratia caseolaris) meliputi dua metode, yaitu tanpa diblender dan diblender. Buah pedada dengan metode tanpa diblender yaitu buah pedada yang sudah dibersihkan dan dipotong-potong, kemudian ditambahkan gula 65% dan air 1000 ml kemudian direbus, sedangkan metode diblender buah pedada dihaluskan dan ditambahkan air 1000 ml kemudian disaring untuk diambil sarinya, setelah itu ditambahkan 65% gula. Pemanasan sirup dilakukan ± 30 menit dengan suhu kompor ± 100°C yaitu cara diaduk sampai agak mengental kemudian didinginkan dan dimasukkan ke dalam botol. Metode penelitian ini menggunakan metode MPN dengan menggunakan media lactose broth. \u0000Hasil analisis cemaran bakteri Coliform dan E.coli sirup buah pedada (Sonneratia caseolaris) yang dilakukan yaitu dengan dua proses dan metode buah pedada dengan proses perebusan dan metode tanpa diblender dan proses pemanasan metode diblender. Analisis cemaran Coliform menggunakan seri 3 yaitu menggunakan 3 tabung setiap pengencerannya, setelah diinkubasi selama 24 jam setiap serinya dinyatakan negatif tidak terdapat gelembung dan gas. Analisis cemaran E.coli menggunakan 6 tabung, setelah diinkubasi selama 24 jam setiap tabung dinyatakan negatif tidak terdapat gelembung dan gas.","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"26 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132154601","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-04-01DOI: 10.58466/lipida.v3i1.659
D. Paramitha, Muhammad Mar'ie Sirajuddin
Sanitasi dan higiene merupakan salah satu syarat penting dalam menjaga mutu dan keamanan pangan agar dapat menghasilkan suatu produk yang aman, sehat dan bersih. Oleh karena itu, untuk menjaga mutu dan keamanan produk susu pasteurisasi perlu dilakukan observasi penerapan sanitasi dan higiene karyawan pada pengolahan produk susu pasteurisasi di UMKM X. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk menganalisis masalah yaitu menggunakan metode teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Metodologi pemecahan masalah menggunakan CPPB-IRT Tahun 2012 dan diagram fishbone. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan prinsip sanitasi dan higiene karyawan produksi susu pasteurisasi di UMKM X sudah cukup baik. Kemudian setelah diobservasi lebih lanjut maka didapatkan kesimpulan bahwa hal yang menjadi perhatian khusus adalah pada bagian pakaian kerja dan juga pemeliharaan lingkungan. Untuk sanitasi bangunan dan fasilitas hal yang menjadi perhatian adalah dalam hal sampah dan juga konstruksi bangunan seperti lantai, dinding dan ventilasi. Untuk sanitasi peralatan hal yang perhatian adalah pada urutan penempatan alat produksi. Oleh sebab itu diperlukan perbaikan dan penerapan sanitasi dan higiene lebih baik lagi pada karyawan proses produksi susu pasteurisasi di UMKM X.
卫生和卫生是确保粮食质量和安全生产安全、健康和清洁产品的重要条件之一。因此,为了维护巴氏杀菌产品的质量和安全,需要对UMKM X的巴氏杀菌产品的卫生和卫生措施进行评估。用2012年的CPPB-IRT和鱼骨图解决问题的方法论。分析表明,在UMKM X X生产巴氏杀菌乳员工的卫生和卫生原则的应用就足够了。然后,在进一步观察之后,人们得出这样的结论:最值得关注的是工作服和环境维护。对建筑和设施的卫生和关心是垃圾以及建筑,如地板、墙壁和通风。对设备的卫生问题在于放置生产工具的顺序。因此,在UMKM X公司的巴氏杀菌生产过程中,需要更好地改善和实施卫生和卫生。
{"title":"Observasi Penerapan Sanitasi dan Higiene Karyawan pada Produksi Susu Pasteurisasi di UMKM X di Kota XX","authors":"D. Paramitha, Muhammad Mar'ie Sirajuddin","doi":"10.58466/lipida.v3i1.659","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v3i1.659","url":null,"abstract":"Sanitasi dan higiene merupakan salah satu syarat penting dalam menjaga mutu dan keamanan pangan agar dapat menghasilkan suatu produk yang aman, sehat dan bersih. Oleh karena itu, untuk menjaga mutu dan keamanan produk susu pasteurisasi perlu dilakukan observasi penerapan sanitasi dan higiene karyawan pada pengolahan produk susu pasteurisasi di UMKM X. Metode pengumpulan data yang digunakan untuk menganalisis masalah yaitu menggunakan metode teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Metodologi pemecahan masalah menggunakan CPPB-IRT Tahun 2012 dan diagram fishbone. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan prinsip sanitasi dan higiene karyawan produksi susu pasteurisasi di UMKM X sudah cukup baik. Kemudian setelah diobservasi lebih lanjut maka didapatkan kesimpulan bahwa hal yang menjadi perhatian khusus adalah pada bagian pakaian kerja dan juga pemeliharaan lingkungan. Untuk sanitasi bangunan dan fasilitas hal yang menjadi perhatian adalah dalam hal sampah dan juga konstruksi bangunan seperti lantai, dinding dan ventilasi. Untuk sanitasi peralatan hal yang perhatian adalah pada urutan penempatan alat produksi. Oleh sebab itu diperlukan perbaikan dan penerapan sanitasi dan higiene lebih baik lagi pada karyawan proses produksi susu pasteurisasi di UMKM X.","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"16 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122581227","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-04-01DOI: 10.58466/lipida.v3i1.663
Denna Rianda Toni, Muhammad Mar'ie Sirajuddin
Susu pateurisasi dapat menjadi media tumbuhnya mikroorganisme ataupun kontaminasi lainnya, apabila proses penanganan, pengolahan, serta penyimpanan kurang baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT) pada produksi susu pasteurisasi di UMKM X guna mengetahui system jaminan mutu serta kemanan pangan untuk industri pengolahan pangan yang telah ditetapkan oleh peraturam pemerintah. Tujuan dari kerja praktik ini adalah untuk mengetahui penerapan CPPBIRT di UMKM X pada produksi susu pasteurisasi. Data diperoleh dengan metode wawancara, observasi, dokumentasi, studi literatur, dan check sheet. Kemudian data yang diperoleh dikategorikan kesesuaiannya dan dilakukan analisis aspek ketidaksesuaian menggunakan diagram pareto. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diketahui pada proses produksi susu pasteurisasi di UMKM X terjadi penyimpangan penerapan aspek CPPB-IRT pada 11 aspek dari 14 aspek. Dari 11 aspek tersebut terdiri atas 53 ketidaksesuaian. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan diagram pareto diketahui penyebab masalah ketidaksesuaian CPPB-IRT di UMKM X pada produksi susu pasteurisasi berasal dari aspek bangunan dan fasilitas; fasilitas dan kegiatan higiene; dan pengendalian proses. UMKM X pada produksi susu pasteurisasi berada pada IRTP level IV (empat).
{"title":"EVALUASI PENERAPAN CARA PRODUKSI PANGAN YANG BAIK UNTUK INDUSTRI RUMAH TANGGA (CPPB-IRT) PADA PRODUKSI SUSU PASTEURISASI DI UMKM X, MAGETAN","authors":"Denna Rianda Toni, Muhammad Mar'ie Sirajuddin","doi":"10.58466/lipida.v3i1.663","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v3i1.663","url":null,"abstract":"Susu pateurisasi dapat menjadi media tumbuhnya mikroorganisme ataupun kontaminasi lainnya, apabila proses penanganan, pengolahan, serta penyimpanan kurang baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT) pada produksi susu pasteurisasi di UMKM X guna mengetahui system jaminan mutu serta kemanan pangan untuk industri pengolahan pangan yang telah ditetapkan oleh peraturam pemerintah. Tujuan dari kerja praktik ini adalah untuk mengetahui penerapan CPPBIRT di UMKM X pada produksi susu pasteurisasi. Data diperoleh dengan metode wawancara, observasi, dokumentasi, studi literatur, dan check sheet. Kemudian data yang diperoleh dikategorikan kesesuaiannya dan dilakukan analisis aspek ketidaksesuaian menggunakan diagram pareto. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diketahui pada proses produksi susu pasteurisasi di UMKM X terjadi penyimpangan penerapan aspek CPPB-IRT pada 11 aspek dari 14 aspek. Dari 11 aspek tersebut terdiri atas 53 ketidaksesuaian. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan diagram pareto diketahui penyebab masalah ketidaksesuaian CPPB-IRT di UMKM X pada produksi susu pasteurisasi berasal dari aspek bangunan dan fasilitas; fasilitas dan kegiatan higiene; dan pengendalian proses. UMKM X pada produksi susu pasteurisasi berada pada IRTP level IV (empat). ","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"38 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116469433","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-04-01DOI: 10.58466/lipida.v3i1.1021
Erick Radwitya, Marisa Nopriyanti, Nica Septiani
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TTKS) atau janjang kosong merupakan salah satu limbah padat yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit. Dilihat dari kandungan minyaknya, TTKS mempunyai potensi untuk dilakukan pengutipan minyaknya kembali Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertambahan hasil minyak Oil Extraction Rendemen (OER) pabrik minyak kelapa sawit, maka dilakukan analisa perhitungan pada Tandan Buah Segar (TBS) yang diolah dengan efesiensi pengutipan menggunakan mesin Empty Bunch Press, sehingga menghasilkan minyak sebelum di press (oil before press) dan minyak sesudah di press (oil after press) yang dihasilkan menggunakan mesin tersebut dan mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan OER atau rendemen minyak rendah. Analisa perhitungan tersebut dapat hasil % OER empty bunch press rata-rata 0,16% dan total % OER dari pertambahan mesin empty bunch press 21,91% dimana dalam hal ini ada penambahan OER menggunakan mesin empty bunch press. Tanpa penggunaan mesin empty bunch press, %OER 21,17%. Hasil analisa menunjukan bahwa pengutipan minyak yang diperoleh dari TTKS dengan menggunakan mesin empty bunch press dapat menambah OER pabrik sekitar 0,16% terhadap TBS olah. Hasil analisa tanggal 14 Juni sampai dengan tanggal 27 Juni 2022 OER minyak kelapa sawit mengalami penurunan atau rendah yang disebabkan oleh faktor tingkat kematangan buah, proses pengolahan di pabrik, dan mutu buah yang buruk.
空的棕榈油或空的椰子串是油棕生产的固体废物之一。从石油含油量来看,TTKS有可能重新开采该研究的目的是确定油油厂石油运运计划的增长,然后对使用空群压榨机进行的新鲜水果收获(TBS)的计算结果进行分析。因此,在印刷机上生产石油之前(石油之后),然后在印刷机上生产石油(油后),然后使用这台机器生产石油,并了解导致石油油或低油性概述的因素。计算结果显示,平均为0.16%的空点压压机,总为% 91%的空点压机增量,其中使用了空点压机。没有empty group press的使用,%OER是21.17。分析表明,通过使用一堆空压机从TTKS中提取的石油提取可以在TBS运动中增加0.16%的工厂添加剂。2011年6月14日至2022年6月27日,油棕油的含量有所下降,原因是水果的成熟度、工厂的加工和质量较差。
{"title":"ANALISIS PRODUKTIFITAS PADA MESIN EMPTY BUNCH PRESS UNTUK MENAIKKAN JUMLAH OIL EXTRACTION RENDEMEN (OER) MINYAK KELAPA SAWIT","authors":"Erick Radwitya, Marisa Nopriyanti, Nica Septiani","doi":"10.58466/lipida.v3i1.1021","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v3i1.1021","url":null,"abstract":"Tandan Kosong Kelapa Sawit (TTKS) atau janjang kosong merupakan salah satu limbah padat yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit. Dilihat dari kandungan minyaknya, TTKS mempunyai potensi untuk dilakukan pengutipan minyaknya kembali Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertambahan hasil minyak Oil Extraction Rendemen (OER) pabrik minyak kelapa sawit, maka dilakukan analisa perhitungan pada Tandan Buah Segar (TBS) yang diolah dengan efesiensi pengutipan menggunakan mesin Empty Bunch Press, sehingga menghasilkan minyak sebelum di press (oil before press) dan minyak sesudah di press (oil after press) yang dihasilkan menggunakan mesin tersebut dan mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan OER atau rendemen minyak rendah. Analisa perhitungan tersebut dapat hasil % OER empty bunch press rata-rata 0,16% dan total % OER dari pertambahan mesin empty bunch press 21,91% dimana dalam hal ini ada penambahan OER menggunakan mesin empty bunch press. Tanpa penggunaan mesin empty bunch press, %OER 21,17%. Hasil analisa menunjukan bahwa pengutipan minyak yang diperoleh dari TTKS dengan menggunakan mesin empty bunch press dapat menambah OER pabrik sekitar 0,16% terhadap TBS olah. Hasil analisa tanggal 14 Juni sampai dengan tanggal 27 Juni 2022 OER minyak kelapa sawit mengalami penurunan atau rendah yang disebabkan oleh faktor tingkat kematangan buah, proses pengolahan di pabrik, dan mutu buah yang buruk.","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123884135","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-04-01DOI: 10.58466/lipida.v3i1.661
Hanindya Luthfi Khairunnisa, Muhammad Mar'ie Sirajuddin
Susu pasteurisasi adalah proses mematikan bakteri patogen yang mungkin masih terdapat di dalam air susu dan sebagian bakteri lain masih bisa bertahan hidup. Pendinginan susu bertujuan untuk menahan agar mikroba perusak susu jangan sampai berkembang, sehingga susu tidak mengalami kecacatan dalam waktu yang relatif singkat. Mikroba pembusuk tidak dapat tumbuh dan berkembang pada suhu 3-100°C. Cacat kemasan produk susu pasteurisasi di UMKM X merupakan salah satu masalah yang perlu dilakukan pengamatan untuk selanjutnya di analisis lebih lanjut terkait penyebab dari masalah yang terjadi sehingga dapat dilakukan perbaikan proses untuk meminimalisir kerugian yang dialami oleh UMKM X akibat dari masalah cacat kemasan. Penulisan laporan kerja praktik dengan judul Evaluasi Pengemasan Produk Susu Pasteurisasi di UMKM X ini bertujuan untuk menganalisis jumlah kecacatan kemasan pada produk susu pasteurisasi, menganalisis faktor penyebab kecacatan kemasan yang terjadi dan memberikan solusi atau saran evaluasi untuk meminimalisir tingkat kecacatan dan meningkatkan mutu kualitas kemasan produk susu pasteurisasi di UMKM X. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu observasi langsung, wawancara, dan studi literatur. Pemecahan masalah dalam kerja praktik ini menggunakan Diagram Pareto dan Fishbone Diagram. Hasil pengamatan cacat kemasan produk susu pasteurisasi dengan metode analisis Diagram Pareto menunjukkan bahwa Hasil rata-rata analisis kecacatan kemasan susu pasteurisasi di UMKM X tertinggi terjadi pada botol penyok dengan nilai 52%. Analisis fishbone diagram menunjukkan faktor-faktor penyebab terjadinya cacat kemasan produk susu pasteurisasi yang dipengaruhi oleh faktor manusia, bahan, metode, dan lingkungan.
{"title":"Evaluasi Pengemasan Produk Susu Pasteurisasi di UMKM X di Kota XX","authors":"Hanindya Luthfi Khairunnisa, Muhammad Mar'ie Sirajuddin","doi":"10.58466/lipida.v3i1.661","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v3i1.661","url":null,"abstract":"Susu pasteurisasi adalah proses mematikan bakteri patogen yang mungkin masih terdapat di dalam air susu dan sebagian bakteri lain masih bisa bertahan hidup. Pendinginan susu bertujuan untuk menahan agar mikroba perusak susu jangan sampai berkembang, sehingga susu tidak mengalami kecacatan dalam waktu yang relatif singkat. Mikroba pembusuk tidak dapat tumbuh dan berkembang pada suhu 3-100°C. Cacat kemasan produk susu pasteurisasi di UMKM X merupakan salah satu masalah yang perlu dilakukan pengamatan untuk selanjutnya di analisis lebih lanjut terkait penyebab dari masalah yang terjadi sehingga dapat dilakukan perbaikan proses untuk meminimalisir kerugian yang dialami oleh UMKM X akibat dari masalah cacat kemasan. Penulisan laporan kerja praktik dengan judul Evaluasi Pengemasan Produk Susu Pasteurisasi di UMKM X ini bertujuan untuk menganalisis jumlah kecacatan kemasan pada produk susu pasteurisasi, menganalisis faktor penyebab kecacatan kemasan yang terjadi dan memberikan solusi atau saran evaluasi untuk meminimalisir tingkat kecacatan dan meningkatkan mutu kualitas kemasan produk susu pasteurisasi di UMKM X. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu observasi langsung, wawancara, dan studi literatur. Pemecahan masalah dalam kerja praktik ini menggunakan Diagram Pareto dan Fishbone Diagram. Hasil pengamatan cacat kemasan produk susu pasteurisasi dengan metode analisis Diagram Pareto menunjukkan bahwa Hasil rata-rata analisis kecacatan kemasan susu pasteurisasi di UMKM X tertinggi terjadi pada botol penyok dengan nilai 52%. Analisis fishbone diagram menunjukkan faktor-faktor penyebab terjadinya cacat kemasan produk susu pasteurisasi yang dipengaruhi oleh faktor manusia, bahan, metode, dan lingkungan.","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"2013 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130619792","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-10-29DOI: 10.58466/lipida.v2i1.785
Zainuddin Zainuddin
Penyakit Vibriosis disebabkan oleh serangan bakteri Vibrio harveyii. Penggunaan antibiotik dilarang karna memberikan dampak negatif pada larva udang karna akan meninggalkan residu dalam tubuh dan menyebabkan resistensi terhadap V.harveyii. Daun pegagan (Centella asiatica) mengandung zat aktif antibakteria yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri V.harveyii secara In Vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak C.asiatica dapat menghambat pertumbuhan bakteri V.harveyii secara In Vitro. Uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi kertas cakram, yang terdiri dari 5 perlakuan, yaitu konsentrasi 5%, 8% dan 10% dan 2 kontrol yaitu kontrol positif (Tetrasiklin 0,01%) dan kontrol negatif (akuades). Hasil senyawa metabolit sekunder ekstrak C.asiatica dianalisis secara kualitatif. Pada ekstrak C.asiatica mengandung senyawa bioaktif antara lain alkaloid, fenol hidrokuinon, flavonoid, saponin, dantanin. Pada uji antibakteri ekstrak C.asiatica mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan rata-rata diameter zona hambat yang terbentuk dari masing-masing konsentrasi ekstrak yaitu 5% = 14,16 mm, konsentrasi 8% = 16,63 mm dan konsentrasi 10% = 21,44. Dari hasil yang diperoleh ekstrak C.asiatica menunjukkan kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri V.harveyii mendekati daya hambat pada kontrol positif (Tetrasiklin).
{"title":"DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica) TERHADAP BAKTERI (Vibrio harveyii) SECARA IN VITRO","authors":"Zainuddin Zainuddin","doi":"10.58466/lipida.v2i1.785","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v2i1.785","url":null,"abstract":"Penyakit Vibriosis disebabkan oleh serangan bakteri Vibrio harveyii. Penggunaan antibiotik dilarang karna memberikan dampak negatif pada larva udang karna akan meninggalkan residu dalam tubuh dan menyebabkan resistensi terhadap V.harveyii. Daun pegagan (Centella asiatica) mengandung zat aktif antibakteria yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri V.harveyii secara In Vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak C.asiatica dapat menghambat pertumbuhan bakteri V.harveyii secara In Vitro. Uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi kertas cakram, yang terdiri dari 5 perlakuan, yaitu konsentrasi 5%, 8% dan 10% dan 2 kontrol yaitu kontrol positif (Tetrasiklin 0,01%) dan kontrol negatif (akuades). Hasil senyawa metabolit sekunder ekstrak C.asiatica dianalisis secara kualitatif. Pada ekstrak C.asiatica mengandung senyawa bioaktif antara lain alkaloid, fenol hidrokuinon, flavonoid, saponin, dantanin. Pada uji antibakteri ekstrak C.asiatica mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan rata-rata diameter zona hambat yang terbentuk dari masing-masing konsentrasi ekstrak yaitu 5% = 14,16 mm, konsentrasi 8% = 16,63 mm dan konsentrasi 10% = 21,44. Dari hasil yang diperoleh ekstrak C.asiatica menunjukkan kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri V.harveyii mendekati daya hambat pada kontrol positif (Tetrasiklin).","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-10-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129112416","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-10-28DOI: 10.58466/lipida.v2i2.780
Ira Arianti, Ningrum Dwi Hastuti, Irfan Cholid, Jovan Mamel Lahagu
Penambahan labu kuning pada proses pembuatan roti merupakan salah satu bentuk inovasi produk yang bertujuan mengurangi penggunaan terigu dan meningkatkan pemanfaatan labu serta menambah nilai gizi produk. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mengetahui kelayakan usaha pada aspek finansial pada usaha roti labu kuning. Hasil perhitungan analisa finansial menunjukan hasil Break Even Point sebesar 4155 kemasan, nilai hasil perhitungan NPV bernilai positif yaitu sebesar Rp104.917.412, IRR sebesar 39% lebih besar dari MARR. Net B/C Ratio yaitu 1,46 dan Payback period 2,2 tahun. Maka dapat disimpulkan bahwa usaha roti labu kuning dapat dikatakan menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan.
{"title":"ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA ROTI LABU KUNING DI KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT","authors":"Ira Arianti, Ningrum Dwi Hastuti, Irfan Cholid, Jovan Mamel Lahagu","doi":"10.58466/lipida.v2i2.780","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v2i2.780","url":null,"abstract":"Penambahan labu kuning pada proses pembuatan roti merupakan salah satu bentuk inovasi produk yang bertujuan mengurangi penggunaan terigu dan meningkatkan pemanfaatan labu serta menambah nilai gizi produk. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mengetahui kelayakan usaha pada aspek finansial pada usaha roti labu kuning. Hasil perhitungan analisa finansial menunjukan hasil Break Even Point sebesar 4155 kemasan, nilai hasil perhitungan NPV bernilai positif yaitu sebesar Rp104.917.412, IRR sebesar 39% lebih besar dari MARR. Net B/C Ratio yaitu 1,46 dan Payback period 2,2 tahun. Maka dapat disimpulkan bahwa usaha roti labu kuning dapat dikatakan menguntungkan dan layak untuk dilaksanakan.","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-10-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128797955","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pumpkin (Cucurbita moschata Duch) is a type of vegetable plant and can be used for various types of food, Pumpkin that has been cut has a lower shelf life than in its whole state so it needs to be processed so it is not easily damaged so it needs to be processed into flour so that it can be processed into flour. durable. The purpose of this study was to determine how to make pumpkin flour and to find out the best treatment variations in making pumpkin flour. The research method in making flour uses variations in temperature and different drying times. Parameters to determine the difference from flour include water content, yield, and color. The results showed that the production of pumpkin flour started from cleaning the skin and seeds, washing, weighing, cutting into thin slices, drying, and sifting. The results of the analysis of the water content of 40oC treatment for 48 hours is 19.92%, 50oC treatment for 36 hours is 11.63%, and 60oC treatment for 24 hours is 10.36%, pumpkin flour yield is 51.56%, 17, 71%, and 14.63%, while the color analysis of the 40oC treatment was significantly different from the 50oC and 60oC treatment. Of the three treatments, 60oC was the best treatment.
{"title":"Pembuatan Tepung Labu Kuning (Kajian Penggunaan Suhu dan Lama Pengeringan)","authors":"Trian Adimarta, Marisa Nopriyanti, Irianto Sp, Defi Defi","doi":"10.58466/lipida.v2i2.372","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v2i2.372","url":null,"abstract":"Pumpkin (Cucurbita moschata Duch) is a type of vegetable plant and can be used for various types of food, Pumpkin that has been cut has a lower shelf life than in its whole state so it needs to be processed so it is not easily damaged so it needs to be processed into flour so that it can be processed into flour. durable. The purpose of this study was to determine how to make pumpkin flour and to find out the best treatment variations in making pumpkin flour. \u0000The research method in making flour uses variations in temperature and different drying times. Parameters to determine the difference from flour include water content, yield, and color. \u0000The results showed that the production of pumpkin flour started from cleaning the skin and seeds, washing, weighing, cutting into thin slices, drying, and sifting. The results of the analysis of the water content of 40oC treatment for 48 hours is 19.92%, 50oC treatment for 36 hours is 11.63%, and 60oC treatment for 24 hours is 10.36%, pumpkin flour yield is 51.56%, 17, 71%, and 14.63%, while the color analysis of the 40oC treatment was significantly different from the 50oC and 60oC treatment. Of the three treatments, 60oC was the best treatment.","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-10-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124037079","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-10-26DOI: 10.58466/lipida.v2i2.456
L. Damayanti, Triadinda Yudha Wardani, C. A. Putra
Jamu tradisional merupakan salah satu minuman kesehatan yang eksis dan berasal dari banyak peminat. Minuman jamu merupakan resep leluhur peninggalan bagi masyarakat Indonesia yang masih dilestarikan dan dikembangkan hingga saat ini. Komposisi yang digunakan dalam pembuatan jamu adalah tanaman herbal yang dapat dijumpai di lingkungan sekitar. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode quasi experimental design. Hasil uji organoleptik jamu tradisional dengan penambahan gula jawa sebanyak 30gr memiliki hasil dengan rata – rata jawaban responden yaitu memiliki aroma menyengat kunyit gula jawa, rasa yang manis, warna kuning gelap, dan memiliki tekstur yang cair. Gula Stevia Hasil uji organoleptik jamu tradisional dengan penambahan gula stevia sebanyak 30gr memiliki hasil dengan rata – rata jawaban responden yaitu memiliki aroma menyengat seperti daun teh, rasa yang manis cenderung pahit, warna coklat gelap, dan memiliki tekstur yang kental. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan gula stevia pada jamu tradisional kunyit asam ini dinilai tidak efektif. Penambahan gula jawa pada jamu tradisional kunyit asam dinilai lebih efektif.
{"title":"Penerimaan Gula Stevia Sebagai Pengganti Gula Tebu dan Gula Jawa Pada Proses Pengolahan Jamu Tradisional Kunyit Asam","authors":"L. Damayanti, Triadinda Yudha Wardani, C. A. Putra","doi":"10.58466/lipida.v2i2.456","DOIUrl":"https://doi.org/10.58466/lipida.v2i2.456","url":null,"abstract":"Jamu tradisional merupakan salah satu minuman kesehatan yang eksis dan berasal dari banyak peminat. Minuman jamu merupakan resep leluhur peninggalan bagi masyarakat Indonesia yang masih dilestarikan dan dikembangkan hingga saat ini. Komposisi yang digunakan dalam pembuatan jamu adalah tanaman herbal yang dapat dijumpai di lingkungan sekitar. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode quasi experimental design. Hasil uji organoleptik jamu tradisional dengan penambahan gula jawa sebanyak 30gr memiliki hasil dengan rata – rata jawaban responden yaitu memiliki aroma menyengat kunyit gula jawa, rasa yang manis, warna kuning gelap, dan memiliki tekstur yang cair. Gula Stevia Hasil uji organoleptik jamu tradisional dengan penambahan gula stevia sebanyak 30gr memiliki hasil dengan rata – rata jawaban responden yaitu memiliki aroma menyengat seperti daun teh, rasa yang manis cenderung pahit, warna coklat gelap, dan memiliki tekstur yang kental. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan gula stevia pada jamu tradisional kunyit asam ini dinilai tidak efektif. Penambahan gula jawa pada jamu tradisional kunyit asam dinilai lebih efektif.","PeriodicalId":359021,"journal":{"name":"Jurnal Teknologi Pangan dan Industri Perkebunan (LIPIDA)","volume":"22 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-10-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127641025","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}