Proses pembelajaran menghafal sifat-sifat wajib Allah berjalan kurang efekif. Salah satu penyebabnya yaitu banyaknya peserta didik yang masih kurang dalam kemampuan membaca aqidah akhlak dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid, kurangnya semangat peserta didik untuk belajar menghafal sifat-sifat Wajib Allah, kurangnya interaksi dan perhatian orang tua, ketidak tepatan dalam memilih metode pembelajaran serta ada jarak antara satu peserta didik dengan peserta didik lain. Kondisi seperti ini menyebabkan aktifitas belajar mengajar akan terasa menjenuhkan dan hanya menjadi rutinitas belaka. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan penelitian dengan menerapkan metode tutor sebaya dalam melaksanakan pembelajaran menghafal sifat-sifat Wajib Allah dengan harapan mampu meningkatkan kemampuan menghafal sifat-sifat Wajib Allah bagi siswa. Dengan demikian rumusan masalah yang dipaparkan yaitu adakah peningkatan hasil belajar dalam pengajaran aqidah akhlak melalui pelaksanaan tutor sebaya dalam menghafal sifat-sifat Wajib Allah pada mata pelajaran aqidah akhlak pada siswa kelas VII-A MTs Negeri 3 Paser? Metode yang dilakukan dalam penelitian ini ialah kualitatif berbasis penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas VII-A di MTs Negeri 3 Paser. Hasil yang di dapat oleh siswa melalui penelitian ini sangatlah meningkat, dalam hal ini dapat di buktikan dengan peningkatan ketuntasan klasikal dan rata-rata hasil belajar siswa dari 62,90% menjadi 87,90%.
记忆上帝的义务品质的学习过程没有那么有效率。仍然缺乏的原因之一就是许多学习者的阅读能力性aqidah tajwid准则,缺乏善良和真诚的学习者学习记住神强制性的品质精神,缺乏互动和父母的注意力,挑剔的选择和学习方法有一个与其他学习者学习者之间的距离。这种情况会让学习活动变得平淡无奇,变得平淡无奇。为了解决这个问题,研究采用同级家教方法进行记忆上帝的义务品质学习,希望提高学生的记忆能力。因此,所提出的问题的结论是,在三国三分之一的viqidah地区,通过导师在学习上帝的义务属性方面的教导,在aqidah learner的课程中,在viqidah learner的课程中,在vial - a - MTs地区的学生身上,学习aqidah的成绩是否增加了?本研究采用的方法是基于课堂行动研究的定性方法。该研究的对象是MTs country 3 Paser的via班的学生。学生通过这项研究获得的结果是空前的,在这方面,学生的平均学习成绩从62.90%提高到87.90%。
{"title":"Tutor Sebaya dalam Hafalan Sifat-Sifat Wajib Allah SWT","authors":"Asriannor Asriannor","doi":"10.54297/seduj.v3i1.463","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v3i1.463","url":null,"abstract":"Proses pembelajaran menghafal sifat-sifat wajib Allah berjalan kurang efekif. Salah satu penyebabnya yaitu banyaknya peserta didik yang masih kurang dalam kemampuan membaca aqidah akhlak dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid, kurangnya semangat peserta didik untuk belajar menghafal sifat-sifat Wajib Allah, kurangnya interaksi dan perhatian orang tua, ketidak tepatan dalam memilih metode pembelajaran serta ada jarak antara satu peserta didik dengan peserta didik lain. Kondisi seperti ini menyebabkan aktifitas belajar mengajar akan terasa menjenuhkan dan hanya menjadi rutinitas belaka. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan penelitian dengan menerapkan metode tutor sebaya dalam melaksanakan pembelajaran menghafal sifat-sifat Wajib Allah dengan harapan mampu meningkatkan kemampuan menghafal sifat-sifat Wajib Allah bagi siswa. Dengan demikian rumusan masalah yang dipaparkan yaitu adakah peningkatan hasil belajar dalam pengajaran aqidah akhlak melalui pelaksanaan tutor sebaya dalam menghafal sifat-sifat Wajib Allah pada mata pelajaran aqidah akhlak pada siswa kelas VII-A MTs Negeri 3 Paser? Metode yang dilakukan dalam penelitian ini ialah kualitatif berbasis penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas VII-A di MTs Negeri 3 Paser. Hasil yang di dapat oleh siswa melalui penelitian ini sangatlah meningkat, dalam hal ini dapat di buktikan dengan peningkatan ketuntasan klasikal dan rata-rata hasil belajar siswa dari 62,90% menjadi 87,90%.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"17 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128407404","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
This study aims to improve cadet learning outcomes through the application of cooperative learning model. The subject of this study is a cadet of the TPS study program batch 58 of the Jakarta Technical University of Fisheries for the 2022/2023 academic year. This class consists of 39 cadets with a cadet composition, namely 10 female cadets and 19 male cadets. This cadet was chosen as a research subject because this cadet has a low ability to understand listening before. The object of this study is the result of learning to listen to short English dialogues. The location of this research is in the class of cadets of the TPS study program batch 58 of the Jakarta Fisheries Polytechnic. The study was based on preliminary observations that indicated cadets had problems listening. In accordance with the purpose of this study, which is to improve learning outcomes in listening, this research was carried out in the form of classroom action research. This class action research is described in a cyclical or spiral process consisting of several steps, namely planning, action, observation, and reflection. This class action research is carried out in 2 cycles. Each cycle consists of three sessions of which two sessions are for action and one session for testing. The results of this study showed that the learning outcomes of listening to cadets increased by applying the Think Pair Share (TPS) type or cooperative learning model. This can be seen from the average score of cadets in the test. The average score of cadets in the pre-test was 48.27. Then it increased to 72.75 in cycle I (one). This result is not satisfactory because it has not met the completeness criteria that have been targeted by researchers. The results of cadet scores increased after researchers modified teaching and learning activities in cycle II. As a result, the average score of cadets has increased to 86.20 and 93% of cadets have achieved learning completion, which means that it has exceeded the target of 75%. It can be concluded that the application of the cooperative learning model can improve the listening ability of cadets from the results of the study.
{"title":"The Use of A Collaborative Learning Strategy of Think-Pair-Share by Listening to An English Dialogues to Improve Learning Outcomes","authors":"Dadan Zulkifli","doi":"10.54297/seduj.v3i1.481","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v3i1.481","url":null,"abstract":"This study aims to improve cadet learning outcomes through the application of cooperative learning model. The subject of this study is a cadet of the TPS study program batch 58 of the Jakarta Technical University of Fisheries for the 2022/2023 academic year. This class consists of 39 cadets with a cadet composition, namely 10 female cadets and 19 male cadets. This cadet was chosen as a research subject because this cadet has a low ability to understand listening before. The object of this study is the result of learning to listen to short English dialogues. The location of this research is in the class of cadets of the TPS study program batch 58 of the Jakarta Fisheries Polytechnic. The study was based on preliminary observations that indicated cadets had problems listening. In accordance with the purpose of this study, which is to improve learning outcomes in listening, this research was carried out in the form of classroom action research. This class action research is described in a cyclical or spiral process consisting of several steps, namely planning, action, observation, and reflection. This class action research is carried out in 2 cycles. Each cycle consists of three sessions of which two sessions are for action and one session for testing. The results of this study showed that the learning outcomes of listening to cadets increased by applying the Think Pair Share (TPS) type or cooperative learning model. This can be seen from the average score of cadets in the test. The average score of cadets in the pre-test was 48.27. Then it increased to 72.75 in cycle I (one). This result is not satisfactory because it has not met the completeness criteria that have been targeted by researchers. The results of cadet scores increased after researchers modified teaching and learning activities in cycle II. As a result, the average score of cadets has increased to 86.20 and 93% of cadets have achieved learning completion, which means that it has exceeded the target of 75%. It can be concluded that the application of the cooperative learning model can improve the listening ability of cadets from the results of the study.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"203 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122365214","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Proses pembelajaran menekankan pada proses yang aktif. Dimana komunikasi antara pengajar dan pebelajar terjadi. Namun kenyataannya di lapangan tidak serta merta demikian. Hal ini pula yang terjadi di kelas yang peneliti ajarkan. Hasil observasi awal didapatkan mahasiswa kurang aktif berdiskusi, kurang terampil berkomunikasi yang berdampak pada hasil belajar mereka. Menyikapi masalah tersebut, peneliti melakukan PTK ini sebanyak tiga (3) siklus, dengan subjek penelitian mahasiswa yang memprogram mata kuliah biologi dasar. Instrument penelitian ini ada 2 yaitu : lembar observasi dan tes hasil belajar. Teknik pengambilan data dengan observasi langsung saat proses pembelajaran. Sedangkan tes diberikan disetiap akhir siklus pembelajaran. Teknik analisis data untuk lembar observasi dilakukan dengan menjumlahkan skor item yang selanjutnya dipersentasekan sedangkan tes hasil belajar dengan menghitung jumlah jawaban yang benar. Indikator keberhasilan penelitian ini yaitu 70% mahasiswa tuntas / lulus secara klasikal. Hasil Penelitian menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I hingga siklus III. Keterampilan komunikasi mahasiswa pada siklus I hanya sebesar 56%, meningkat pada siklus II dan III dengan persentase masing-masing sebesar 69% dan 73%; aktifitas mahasiswa siklus I sebesar 61 %, pada siklus II 75% dan siklus III meningkat lagi menjadi 82%. Dan untuk hasil belajar siklus I tuntas sebesar 57,5%, siklus II sebesar 70%, dan siklus III meningkat 77,5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, aktifitas dan hasil belajar mahasiswa khusus pada materi tingkat organisasi kehidupan.
{"title":"Meningkatkan Keterampilan Komunikasi, Aktifitas, dan Hasil Belajar Mahasiswa melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair And Share pada Materi Tingkat Organisasi Kehidupan","authors":"Ruth Megawati","doi":"10.54297/seduj.v3i1.465","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v3i1.465","url":null,"abstract":"Proses pembelajaran menekankan pada proses yang aktif. Dimana komunikasi antara pengajar dan pebelajar terjadi. Namun kenyataannya di lapangan tidak serta merta demikian. Hal ini pula yang terjadi di kelas yang peneliti ajarkan. Hasil observasi awal didapatkan mahasiswa kurang aktif berdiskusi, kurang terampil berkomunikasi yang berdampak pada hasil belajar mereka. Menyikapi masalah tersebut, peneliti melakukan PTK ini sebanyak tiga (3) siklus, dengan subjek penelitian mahasiswa yang memprogram mata kuliah biologi dasar. Instrument penelitian ini ada 2 yaitu : lembar observasi dan tes hasil belajar. Teknik pengambilan data dengan observasi langsung saat proses pembelajaran. Sedangkan tes diberikan disetiap akhir siklus pembelajaran. Teknik analisis data untuk lembar observasi dilakukan dengan menjumlahkan skor item yang selanjutnya dipersentasekan sedangkan tes hasil belajar dengan menghitung jumlah jawaban yang benar. Indikator keberhasilan penelitian ini yaitu 70% mahasiswa tuntas / lulus secara klasikal. Hasil Penelitian menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I hingga siklus III. Keterampilan komunikasi mahasiswa pada siklus I hanya sebesar 56%, meningkat pada siklus II dan III dengan persentase masing-masing sebesar 69% dan 73%; aktifitas mahasiswa siklus I sebesar 61 %, pada siklus II 75% dan siklus III meningkat lagi menjadi 82%. Dan untuk hasil belajar siklus I tuntas sebesar 57,5%, siklus II sebesar 70%, dan siklus III meningkat 77,5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, aktifitas dan hasil belajar mahasiswa khusus pada materi tingkat organisasi kehidupan.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"403 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115317249","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pendidikan adalah upaya terus menerus dan tidak pernah berhenti yang harus dilaksanakan, baik itu oleh seorang individu maupun institusi. Setiap individu maupun institusi selalu menjadikan pendidikan ini sebagai suatu keharusan yang diterima oleh semua pihak. Pendekatan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen dan deskriptif. Penelitian ini disusun untuk memecahkan masalah apakah penggunaan pembelajaran model Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa di SD Negeri 008 Sungai Kunjang Samarinda pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa skor rata-rata aktivitas siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebelum penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sangat rendah yaitu 3.5%. Skor rata-rata aktivitas belajar siswa setelah dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mengalami peningkatan dari siklus pertama sampai kedua diperoleh rata-rata kenaikan 7.5% sedangkan dari siklus kedua setelah dilakukan tindakan ketiga memperoleh kenaikan menjadi 9.5%. Jadi Implementasi metode kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat efektif digunakan. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pelajaran.
{"title":"Peningkatan Aktivitas Belajar dengan Model Jigsaw","authors":"Baqi Nurul Hakkurahmy","doi":"10.54297/seduj.v3i1.469","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v3i1.469","url":null,"abstract":"Pendidikan adalah upaya terus menerus dan tidak pernah berhenti yang harus dilaksanakan, baik itu oleh seorang individu maupun institusi. Setiap individu maupun institusi selalu menjadikan pendidikan ini sebagai suatu keharusan yang diterima oleh semua pihak. Pendekatan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen dan deskriptif. Penelitian ini disusun untuk memecahkan masalah apakah penggunaan pembelajaran model Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa di SD Negeri 008 Sungai Kunjang Samarinda pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa skor rata-rata aktivitas siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebelum penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sangat rendah yaitu 3.5%. Skor rata-rata aktivitas belajar siswa setelah dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mengalami peningkatan dari siklus pertama sampai kedua diperoleh rata-rata kenaikan 7.5% sedangkan dari siklus kedua setelah dilakukan tindakan ketiga memperoleh kenaikan menjadi 9.5%. Jadi Implementasi metode kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat efektif digunakan. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pelajaran.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"423 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122954632","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Artikel ini mendeskripsikan mengenai peran budaya sekolah dalam meningkatkan karakter peduli lingkungan sekolah dasar. Adapun topik yang dibahas dalam artikel ini adalah mengenai karakter peduli lingkungan siswa yang masih kurang sehingga memerlukan peran budaya sekolah dalam meningkatkan karakter peduli lingkungan siswa. Hasil dari artikel ini berupa peran budaya sekolah dalam meningkatkan karakter peduli lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan pembiasaan yang positif pada siswa misalnya dengan memberikan program kegiatan seperti bersih lingkungan, sekolah memberikan sarana tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan, agar siswa rajin mencuci tangan setelah melakukan aktivitas, pembiasaan hemat energi, melakukan pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan anorganik.
{"title":"Peran Budaya Sekolah dalam Meningkatkan Karakter Peduli Lingkungan Siswa Sekolah Dasar","authors":"Rita Maharani, Sinta Mardikawati, I. Megawati","doi":"10.54297/seduj.v3i1.404","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v3i1.404","url":null,"abstract":"Artikel ini mendeskripsikan mengenai peran budaya sekolah dalam meningkatkan karakter peduli lingkungan sekolah dasar. Adapun topik yang dibahas dalam artikel ini adalah mengenai karakter peduli lingkungan siswa yang masih kurang sehingga memerlukan peran budaya sekolah dalam meningkatkan karakter peduli lingkungan siswa. Hasil dari artikel ini berupa peran budaya sekolah dalam meningkatkan karakter peduli lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan pembiasaan yang positif pada siswa misalnya dengan memberikan program kegiatan seperti bersih lingkungan, sekolah memberikan sarana tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan, agar siswa rajin mencuci tangan setelah melakukan aktivitas, pembiasaan hemat energi, melakukan pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan anorganik.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"13 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116728860","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pendidikan pada saat sekarang mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Sehingga ada sebutan abad 21 atau 4.0 serba teknologi. Begitu juga dengan kemampuan pendidik dituntut dalam pengembangan kompetensinya agar hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari strategi atau metode yang digunakan agar peserta didik lebih merasa merdeka belajar. Begitu juga dengan tahfiz Quran sekarang sangat digaungkan sebagai pedoman hidup bagi manusia. Sehingga peserta didik selain hafal al-quran juga hendaknya mampu membaca sesuai tajwid dan mengetahui hukum bacaan yang dibacanya. untuk mengatasi permasalahan yang ada, maka peneliti menggunakan pemanfaatan media audio visual dalam pembelajaran. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar tajwid peserta didik melalui media audio visual dan pemanfaatan media audio visual dalam pembelajaran. Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian tindakan kelas. Sedangkan sumber data yang saya ambil adalah sumber data utama atau primer yaitu peserta didik kelas XI IPS4 SMAN 1 Sungai Aur Pasaman Barat terdiri dari 4 laki laki 8 perempuan.. Sedangkan untuk data pelengkap atau skunder saya ambil dari guru sebagai observer ketika proses pembelajaran berlangsung selama 3 siklus yaitu siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Dalam penelitian ini terdapat empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi dan tes tertulis. Dari hasil yang peneliti peroleh hasil belajar tajwid peserta didik mengalami peningkatan dengan menggunakan media audio visual. Ini dibuktikan dengan persentase hasil belajar pada tahap 1 59 %, tahap 2 66% dan tahap 3 100%. Dari hasil inilah peneliti berasumsi bahwa hasil belajar mengalami peningkatan. Karena semua peserta didik sudah melebihi batas KKM yang ditentukan sekolah yaitu 70.
{"title":"Peningkatan Hasil Belajar Tajwid Peserta Didik melalui Media Audio Visual di SMA","authors":"Yulisna Yulisna, Hendri Ikhwansyah, Nur Asnah, Istimiranti Istimiranti, Nursinpelna Nursinpelna, Aprisal Aprisal","doi":"10.54297/seduj.v2i3.422","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v2i3.422","url":null,"abstract":"Pendidikan pada saat sekarang mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Sehingga ada sebutan abad 21 atau 4.0 serba teknologi. Begitu juga dengan kemampuan pendidik dituntut dalam pengembangan kompetensinya agar hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari strategi atau metode yang digunakan agar peserta didik lebih merasa merdeka belajar. Begitu juga dengan tahfiz Quran sekarang sangat digaungkan sebagai pedoman hidup bagi manusia. Sehingga peserta didik selain hafal al-quran juga hendaknya mampu membaca sesuai tajwid dan mengetahui hukum bacaan yang dibacanya. untuk mengatasi permasalahan yang ada, maka peneliti menggunakan pemanfaatan media audio visual dalam pembelajaran. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar tajwid peserta didik melalui media audio visual dan pemanfaatan media audio visual dalam pembelajaran. Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian tindakan kelas. Sedangkan sumber data yang saya ambil adalah sumber data utama atau primer yaitu peserta didik kelas XI IPS4 SMAN 1 Sungai Aur Pasaman Barat terdiri dari 4 laki laki 8 perempuan.. Sedangkan untuk data pelengkap atau skunder saya ambil dari guru sebagai observer ketika proses pembelajaran berlangsung selama 3 siklus yaitu siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Dalam penelitian ini terdapat empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi dan tes tertulis. Dari hasil yang peneliti peroleh hasil belajar tajwid peserta didik mengalami peningkatan dengan menggunakan media audio visual. Ini dibuktikan dengan persentase hasil belajar pada tahap 1 59 %, tahap 2 66% dan tahap 3 100%. Dari hasil inilah peneliti berasumsi bahwa hasil belajar mengalami peningkatan. Karena semua peserta didik sudah melebihi batas KKM yang ditentukan sekolah yaitu 70.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"243 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-01-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134307092","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Suharjo Suharjo, Tabrani Tabrani, Ahmad Shabri, Maspan Maspan
Kerja sama tim atau lebih dikenal dengan teamwork adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengontrolan anggota tim untuk bekerja sama, berkomunikasi secara efektif dan menginspirasi kepercayaan untuk menghasilkan tindakan kolektif yang terkoordinasi agar mencapai semua target secara efektif serta efisien. Di dalam lembaga pendidikan Islam teamwork menjadi sangat penting membangun efektivitas pendidikan Islam. Kerja sama dalam membangun visi dan misi yang sudah disepakati menjalin hubungan harmonis diantara anggota organisasi. Untuk itu teamwork di dalam lembaga pendidikan Islam sangat penting dan mempunyai kedudukan yang harus diperhatikan di dalam menjalankan sistem pendidikan Islam
{"title":"Teamwork Pelaksanaan Pendidikan Islam","authors":"Suharjo Suharjo, Tabrani Tabrani, Ahmad Shabri, Maspan Maspan","doi":"10.54297/seduj.v2i3.421","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v2i3.421","url":null,"abstract":"Kerja sama tim atau lebih dikenal dengan teamwork adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengontrolan anggota tim untuk bekerja sama, berkomunikasi secara efektif dan menginspirasi kepercayaan untuk menghasilkan tindakan kolektif yang terkoordinasi agar mencapai semua target secara efektif serta efisien. Di dalam lembaga pendidikan Islam teamwork menjadi sangat penting membangun efektivitas pendidikan Islam. Kerja sama dalam membangun visi dan misi yang sudah disepakati menjalin hubungan harmonis diantara anggota organisasi. Untuk itu teamwork di dalam lembaga pendidikan Islam sangat penting dan mempunyai kedudukan yang harus diperhatikan di dalam menjalankan sistem pendidikan Islam","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"36 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129326320","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMA Negeri 1 Lembah Melintang, masalah yang ditemukan yaitu belum optimalnya hasil belajar siswa yang ditunjukkan oleh banyaknya siswa yang nilainya belum mencapai Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) yaitu 75. Sekitar 50 % nilai pengetahuan siswa masih dibawah KKM dan untuk nilai keterampilan 56 % dibawah KKM dalam mata pelajaran PAI. Untuk mengatasi hal tersebut cara yang akan digunakan adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang menyenangkan melalui pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XII IPA 1 SMAN 1 Lembah Melintang setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning pada materi pernikahan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) proses pelaksanaan PTK mempunyai empat komponen pokok, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Lembah Melintang yang dilaksanakan pada 3 siklus. Metode pengumpulan data adalah observasi dan tes hasil belajar. Analisis data yang digunakan deskriptif kualitatif. Hasil analisis data yang diperoleh persentase hasil belajar siswa dalam pembelajaran PAI menggunakan media kahoot sebesar 44% untuk nilai pengetahuan dan 68% untuk nilai keterampilan pada siklus pertama. pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dalam pembelajaran PAI menyebabkan hasil belajar siswa meningkat pada siklus II sebesar 69% untuk nilai pengetahuan dan 83% untuk nilai keterampilan sedangkan 94% untuk nilai pengetahuan dan 100% untuk nilai keterampilan pada siklus III. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning pada pembelajaran PAI dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
根据《河谷1号公立高中》的一项观察,在没有达到最低毕业标准(km)的学生群体中,发现的问题还不是最优化的结果。大约50%的学生的知识价值仍低于公里,技能成绩低于PAI的学科56%。解决问题的方法是通过基于问题的学习方式使用有趣的学习模式。本研究的目的是了解十二年级IPA 1 SMAN 1年级学生学习成绩的提高。这种类型的研究是课堂行动研究(PTK) PTK执行过程的四个基本组成部分,即计划、行动、观察和反思。十二班理科生研究对象:SMA Negeri 1横向山谷,研究对象为3个周期。收集数据的方法是观察和测试学习结果。描述性质的数据分析。通过分析,PAI的学生在学习过程中使用kahoot媒介获得的数据结果为44%的知识价值,为第一个周期的技能价值增加了68%。基于问题的学习(基于问题的学习)PAI的学习导致学生在II周期的学习成绩增加了69%,技能价值增加了83%,而知识价值增加了94%,技能价值增加了100%。然后可以得出结论,以问题为基础的学习模式学习PAI的学习可以提高学生的学习成绩。
{"title":"Hasil Belajar Siswa ditinjau dari Penggunaan Model Problem Based Learning","authors":"Vilkhiyam Vilkhiyam, Yuliana Yuliana, Ritayani Ritayani, Zulfani Sesmiarni, Herlina Rasyid","doi":"10.54297/seduj.v2i3.419","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v2i3.419","url":null,"abstract":"Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMA Negeri 1 Lembah Melintang, masalah yang ditemukan yaitu belum optimalnya hasil belajar siswa yang ditunjukkan oleh banyaknya siswa yang nilainya belum mencapai Kriteria Kelulusan Minimal (KKM) yaitu 75. Sekitar 50 % nilai pengetahuan siswa masih dibawah KKM dan untuk nilai keterampilan 56 % dibawah KKM dalam mata pelajaran PAI. Untuk mengatasi hal tersebut cara yang akan digunakan adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang menyenangkan melalui pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XII IPA 1 SMAN 1 Lembah Melintang setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning pada materi pernikahan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) proses pelaksanaan PTK mempunyai empat komponen pokok, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Lembah Melintang yang dilaksanakan pada 3 siklus. Metode pengumpulan data adalah observasi dan tes hasil belajar. Analisis data yang digunakan deskriptif kualitatif. Hasil analisis data yang diperoleh persentase hasil belajar siswa dalam pembelajaran PAI menggunakan media kahoot sebesar 44% untuk nilai pengetahuan dan 68% untuk nilai keterampilan pada siklus pertama. pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dalam pembelajaran PAI menyebabkan hasil belajar siswa meningkat pada siklus II sebesar 69% untuk nilai pengetahuan dan 83% untuk nilai keterampilan sedangkan 94% untuk nilai pengetahuan dan 100% untuk nilai keterampilan pada siklus III. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning pada pembelajaran PAI dapat meningkatkan hasil belajar siswa.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"44 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115857887","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Sanita Rienda Hayuning Pramiandari, N. Oktaviarini
Siswa kelas 5 SD Negeri 01 Bukur mengalami permasalahan menyelesaikan soal matematika materi bangun ruang. Permasalahan timbul akibat kurangnya kemampuan analitis (Analytical thinking) dalam mengerjakan latihan soal. Penelitian ini merupakan kualitatif deskriptif. Instrumen penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Permasalahan yang ditemukan adalah kurangnya kemampuan siswa untuk meramalkan kesimpulan dari informasi yang sesuai. Data hasil penelitian menunjukkan: 1) memberikan alasan mengapa sebuah jawaban terhadap suatu masalah masuk akal dengan presentase 100%, 2) menganalisis pertanyaan dan memberikan contoh yang mendukung dengan presentase 85%, 3) menggunakan data yang mendukung untuk menjelaskan mengapa cara yang digunakan serta jawabannya benar dengan presentasse 100%, 4) membuat kesimpulan dan informasi yang sesuai dengan presentase 81%. 5) meramalkan kesimpulan dari informasi yang sesuai yaitu dengan presentase 74%. Kesimpulan penelitian ini adalah kesulitan yang memiliki tingkat prosentase paling tinggi yaitu pada indikator 1 memberikan alasan mengapa sebuah jawaban terhadap suatu masalah masuk akal dan indikator 3 menggunakan data yang mendukung untuk menjelaskan mengapa cara yang digunakan serta jawabannya adalah benar yaitu masing-masing mencapai presentase 100%.
{"title":"Analisis Kemampuan Analitycal Thinking Siswa Kelas 5 pada Mata Pelajaran Metamatika di SD Negeri 1 Bukur","authors":"Sanita Rienda Hayuning Pramiandari, N. Oktaviarini","doi":"10.54297/seduj.v2i3.418","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v2i3.418","url":null,"abstract":"Siswa kelas 5 SD Negeri 01 Bukur mengalami permasalahan menyelesaikan soal matematika materi bangun ruang. Permasalahan timbul akibat kurangnya kemampuan analitis (Analytical thinking) dalam mengerjakan latihan soal. Penelitian ini merupakan kualitatif deskriptif. Instrumen penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Permasalahan yang ditemukan adalah kurangnya kemampuan siswa untuk meramalkan kesimpulan dari informasi yang sesuai. Data hasil penelitian menunjukkan: 1) memberikan alasan mengapa sebuah jawaban terhadap suatu masalah masuk akal dengan presentase 100%, 2) menganalisis pertanyaan dan memberikan contoh yang mendukung dengan presentase 85%, 3) menggunakan data yang mendukung untuk menjelaskan mengapa cara yang digunakan serta jawabannya benar dengan presentasse 100%, 4) membuat kesimpulan dan informasi yang sesuai dengan presentase 81%. 5) meramalkan kesimpulan dari informasi yang sesuai yaitu dengan presentase 74%. Kesimpulan penelitian ini adalah kesulitan yang memiliki tingkat prosentase paling tinggi yaitu pada indikator 1 memberikan alasan mengapa sebuah jawaban terhadap suatu masalah masuk akal dan indikator 3 menggunakan data yang mendukung untuk menjelaskan mengapa cara yang digunakan serta jawabannya adalah benar yaitu masing-masing mencapai presentase 100%.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"152 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116912569","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Goesthy Ayu Mariana Devi Lestari, A. Setiawan, D. Juwita
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan model pembelajaran pada mata kuliah koreografi di Prodi Tari Universitas Lampung. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Prodi Pendidikan Tari Universitas Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata kuliah yang berjenis koreografi terdiri dari mata kuliah Koreografi Tradisi, Komposisi Koreografi Pendidikan dan Koreografi non Tradisi. Pada mata kuliah Koreografi Tradisi menghasilkan produk karya seni berupa koreografi tunggal dan kelompok yang diwujudkan pada ruang konvensional (stage prosenium). Pada mata kuliah Komposisi Koreografi Pendidikan menghasilkan karya video tari yang mengedepankan proses kreatif alih wahana (ruang konvensional menuju ruang digital). Produk mata kuliah Koreografi Non Tradisi berupa karya seni yang diwujudkan melalui proses kreatif mahasiswa dalam ruang sosial. Ketiga mata kuliah tersebut merupakan pembelajaran berbasis proyek dengan kinerja kelompok. Komponen model pembelajaran koreografi dapat dilihat berdasarkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered approach), strategi pembelajaran yang diterapkan pada membentuk beberapa kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (group learning), sementara metode pembelajaran yang digunakan terdiri dari ceramah, presentasi, diskusi, dan evaluasi langsung. Secara keseluruhan, model pembelajaran pada mata kuliah koregrafi yang digunakan adalah Project Based Learning, dengan dimulai dari fase menentukan gagasan konsep, merancang model koreografi, menyepakati jadwal, bimbingan kemajuan karya, pementasan ujian karya, hingga evaluasi karya.
{"title":"Model Pembelajaran pada Mata Kuliah Koreografi di Prodi Pendidikan Tari Universitas Lampung","authors":"Goesthy Ayu Mariana Devi Lestari, A. Setiawan, D. Juwita","doi":"10.54297/seduj.v2i3.416","DOIUrl":"https://doi.org/10.54297/seduj.v2i3.416","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan model pembelajaran pada mata kuliah koreografi di Prodi Tari Universitas Lampung. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Prodi Pendidikan Tari Universitas Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata kuliah yang berjenis koreografi terdiri dari mata kuliah Koreografi Tradisi, Komposisi Koreografi Pendidikan dan Koreografi non Tradisi. Pada mata kuliah Koreografi Tradisi menghasilkan produk karya seni berupa koreografi tunggal dan kelompok yang diwujudkan pada ruang konvensional (stage prosenium). Pada mata kuliah Komposisi Koreografi Pendidikan menghasilkan karya video tari yang mengedepankan proses kreatif alih wahana (ruang konvensional menuju ruang digital). Produk mata kuliah Koreografi Non Tradisi berupa karya seni yang diwujudkan melalui proses kreatif mahasiswa dalam ruang sosial. Ketiga mata kuliah tersebut merupakan pembelajaran berbasis proyek dengan kinerja kelompok. Komponen model pembelajaran koreografi dapat dilihat berdasarkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered approach), strategi pembelajaran yang diterapkan pada membentuk beberapa kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (group learning), sementara metode pembelajaran yang digunakan terdiri dari ceramah, presentasi, diskusi, dan evaluasi langsung. Secara keseluruhan, model pembelajaran pada mata kuliah koregrafi yang digunakan adalah Project Based Learning, dengan dimulai dari fase menentukan gagasan konsep, merancang model koreografi, menyepakati jadwal, bimbingan kemajuan karya, pementasan ujian karya, hingga evaluasi karya.","PeriodicalId":399859,"journal":{"name":"Sultra Educational Journal","volume":"22 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125074935","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}