Karya musik ini merupakan penciptaan musik modern dengan genre musik Jazz Fusion yang berbasis kepada pola musik traditional Bali. Pola ritmik musik pada iringan tarian kecak merupakan ide dasar dalam pembuatan suatu karya musik yang berjudul Karusakang yang diambil dari bahasa Bali dengan memiliki arti yaitu “Kerusakan”. Karya musik ini merupakan hasil dari mengimplementasikan suatu fenomena kondisi alam Indonesia yang mengalami kerusakan, dan kemudian diekspresikan ke dalam suatu media musik modern yang didalamnya memiliki suatu unsur traditional Bali yang dijadikan sebagai identitas, dengan tujuan dapat memberikan kesan atau suasana yang akan menggiring imajinasi pendengarnya terhadap suatu komunitas, daerah atau wilayah. Dari hasil menggabungkan kedua unsur musik modern dan traditional tersebut dapat menghasilkan suatu karya musik modern yang memiliki identitas sebagai salah satu cara agar pesan atau makna dari suatu komposisi musik dapat sampai kepada orang yang mendengarkannya, dengan tujuan dapat meningkatkan kesadaran akan pelestarian keindahan alam khususnya di Indonesia.
{"title":"KARUSAKANG: PENCIPTAAN KARYA MUSIK JAZZ FUSION","authors":"Aris Ardiansyah","doi":"10.22437/jcs.v2i2.26725","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i2.26725","url":null,"abstract":"Karya musik ini merupakan penciptaan musik modern dengan genre musik Jazz Fusion yang berbasis kepada pola musik traditional Bali. Pola ritmik musik pada iringan tarian kecak merupakan ide dasar dalam pembuatan suatu karya musik yang berjudul Karusakang yang diambil dari bahasa Bali dengan memiliki arti yaitu “Kerusakan”. Karya musik ini merupakan hasil dari mengimplementasikan suatu fenomena kondisi alam Indonesia yang mengalami kerusakan, dan kemudian diekspresikan ke dalam suatu media musik modern yang didalamnya memiliki suatu unsur traditional Bali yang dijadikan sebagai identitas, dengan tujuan dapat memberikan kesan atau suasana yang akan menggiring imajinasi pendengarnya terhadap suatu komunitas, daerah atau wilayah. Dari hasil menggabungkan kedua unsur musik modern dan traditional tersebut dapat menghasilkan suatu karya musik modern yang memiliki identitas sebagai salah satu cara agar pesan atau makna dari suatu komposisi musik dapat sampai kepada orang yang mendengarkannya, dengan tujuan dapat meningkatkan kesadaran akan pelestarian keindahan alam khususnya di Indonesia.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"19 3","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139183379","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Artikel ini membahas peran penting gondang uning-ningan dalam ibadah gereja di HKBP Ressort Deli Tua. Gondang uning-uningan memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, dan sudah menjadi identitas masyarakatnya. Penggunaan gondang uning-uningan dalam ibadah di gereja HKBP Ressort Deli Tua, merupakan salah satu bentuk usaha yang dilakukan oleh masyarakat Batak Toba dalam merawat budaya mereka, dan mewariskannya pada generasi muda. Gondang Uning-Uningan merupakan salah satu bentuk seni musik dan nyanyian tradisional Batak yang memiliki nilai-nilai keagamaan dan kultural yang dalam. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui tahap observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa Gondang Uning-Uningan bukan hanya sebagai bentuk hiburan atau ekspresi seni semata, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat dan mempertahankan identitas dalam konteks kehidupan beragama di komunitas tersebut. Peran penting pemimpin rohani dan tokoh masyarakat dalam mempertahankan tradisi ini dengan menjadikan Gondang Uning-Uningan menjadi bagian penting dalam kegiatan ritual keagamaan dan kegiatan sosial di HKBP Ressort Deli Tua. Penelitian ini juga menyoroti tantangan dalam menjaga keberlanjutan Gondang Uning-Uningan di tengah modernisasi dan globalisasi. Pengaruh budaya luar dan perubahan sosial eksternal dapat mempengaruhi praktik dan pemahaman atas Gondang Uning-Uningan. Oleh karena itu, artikel ini mengajukan beberapa rekomendasi untuk memastikan kelangsungan Gondang Uning-Uningan sebagai bagian integral dari identitas rohani di HKBP Ressort Deli Tua, termasuk upaya pendidikan dan promosi budaya serta keterlibatan generasi muda dalam memelihara warisan budaya ini.
{"title":"GONDANG UNING-UNINGAN SEBAGAI IDENTITAS ROHANI DI HKBP RESSORT DELI TUA","authors":"Binsar Sahat Martua Lumban Gaol, Nurwani Nurwani","doi":"10.22437/jcs.v2i2.30068","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i2.30068","url":null,"abstract":"Artikel ini membahas peran penting gondang uning-ningan dalam ibadah gereja di HKBP Ressort Deli Tua. Gondang uning-uningan memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, dan sudah menjadi identitas masyarakatnya. Penggunaan gondang uning-uningan dalam ibadah di gereja HKBP Ressort Deli Tua, merupakan salah satu bentuk usaha yang dilakukan oleh masyarakat Batak Toba dalam merawat budaya mereka, dan mewariskannya pada generasi muda. Gondang Uning-Uningan merupakan salah satu bentuk seni musik dan nyanyian tradisional Batak yang memiliki nilai-nilai keagamaan dan kultural yang dalam. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui tahap observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa Gondang Uning-Uningan bukan hanya sebagai bentuk hiburan atau ekspresi seni semata, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat dan mempertahankan identitas dalam konteks kehidupan beragama di komunitas tersebut. Peran penting pemimpin rohani dan tokoh masyarakat dalam mempertahankan tradisi ini dengan menjadikan Gondang Uning-Uningan menjadi bagian penting dalam kegiatan ritual keagamaan dan kegiatan sosial di HKBP Ressort Deli Tua. Penelitian ini juga menyoroti tantangan dalam menjaga keberlanjutan Gondang Uning-Uningan di tengah modernisasi dan globalisasi. Pengaruh budaya luar dan perubahan sosial eksternal dapat mempengaruhi praktik dan pemahaman atas Gondang Uning-Uningan. Oleh karena itu, artikel ini mengajukan beberapa rekomendasi untuk memastikan kelangsungan Gondang Uning-Uningan sebagai bagian integral dari identitas rohani di HKBP Ressort Deli Tua, termasuk upaya pendidikan dan promosi budaya serta keterlibatan generasi muda dalam memelihara warisan budaya ini.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"79 23","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139183778","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Konflik batas tanah ulayat adalah fenomena perang saudara yang terjadi akibat adanya kesalahpahaman dan pelanggaran kesepakatan adat. Penciptaan karya tari Ranah Bakatumuk mencoba mengekspresikan konflik tanah ulayat yang terjadi di Desa Muaro Pingai dan Desa Saniang Baka. Metode penciptaan dalam karya tari ini adalah Observasi, Eksplorasi, Improvisasi, Pembentukan dan Evaluasi. Dasar gerak yang menjadi pijakan dalam karya ini adalah gerak silek dan gerak adok dengan pengembangan gerak melalui eksplorasi ruang, waktu dan tenaga. Beberapa motif silek yang dimanfaatkan yaitu pitunggua, gelek dan simpia. Sedangkan gerak yang dimanfaatkan dari tradisi adok adalah motif sambah, cabiak kainsekabung, rantak, titih batang, alang mangirai bulu, cigak baruak. Karya tari yang digarap dalam tiga bagian ini menggunakan tipe dramatik dan tema literer.
{"title":"PENCIPTAAN TARI RANAH BAKATUMUK SEBAGAI EKPRESI DARI KONFLIK BATAS TANAH ULAYAT","authors":"Kurniadi Ilham","doi":"10.22437/jcs.v2i2.30065","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i2.30065","url":null,"abstract":"Konflik batas tanah ulayat adalah fenomena perang saudara yang terjadi akibat adanya kesalahpahaman dan pelanggaran kesepakatan adat. Penciptaan karya tari Ranah Bakatumuk mencoba mengekspresikan konflik tanah ulayat yang terjadi di Desa Muaro Pingai dan Desa Saniang Baka. Metode penciptaan dalam karya tari ini adalah Observasi, Eksplorasi, Improvisasi, Pembentukan dan Evaluasi. Dasar gerak yang menjadi pijakan dalam karya ini adalah gerak silek dan gerak adok dengan pengembangan gerak melalui eksplorasi ruang, waktu dan tenaga. Beberapa motif silek yang dimanfaatkan yaitu pitunggua, gelek dan simpia. Sedangkan gerak yang dimanfaatkan dari tradisi adok adalah motif sambah, cabiak kainsekabung, rantak, titih batang, alang mangirai bulu, cigak baruak. Karya tari yang digarap dalam tiga bagian ini menggunakan tipe dramatik dan tema literer.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"234 2","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139183275","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Analisis naskah Aborsi karya Eugene O’Neill terjemahan Dian Ardiansyah bertujuan untuk mengetahui bahan dramatik dari naskah drama. Langkah dasar yang dilakukan penulis yaitu analisis menggunakan teori David Letwin. Metode yang dilakukan penulis dalam menganalisis naskah meliputi (1) Pemilihan naskah, (2) Studi kepustakaan, (3) Arsitektur naskah Aborsi. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Rancangan adegan terdiri dari 15 adegan dalam satu babak. Puncak klimaks terdapat pada adegan ke 12 dan 13. (2) Plot dalam adegan digerakkan oleh tokoh utama yaitu Jack Townsend. (3) Naskah ini menggunakan gaya realisme dan genre tragedi.
{"title":"ARSITEKTUR NASKAH ABORSI KARYA EUGENE O’NEILL DENGAN GAYA REALISME DAN GENRE TRAGEDI","authors":"Listiani Kiki, Pandu Birowo, Dharminta Soeryana","doi":"10.22437/jcs.v2i2.27799","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i2.27799","url":null,"abstract":"Analisis naskah Aborsi karya Eugene O’Neill terjemahan Dian Ardiansyah bertujuan untuk mengetahui bahan dramatik dari naskah drama. Langkah dasar yang dilakukan penulis yaitu analisis menggunakan teori David Letwin. Metode yang dilakukan penulis dalam menganalisis naskah meliputi (1) Pemilihan naskah, (2) Studi kepustakaan, (3) Arsitektur naskah Aborsi. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Rancangan adegan terdiri dari 15 adegan dalam satu babak. Puncak klimaks terdapat pada adegan ke 12 dan 13. (2) Plot dalam adegan digerakkan oleh tokoh utama yaitu Jack Townsend. (3) Naskah ini menggunakan gaya realisme dan genre tragedi.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"149 6","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139183488","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Ady Santoso, Galuh Tulus Utama, Prety Kumala Sari, M. A. Habillah
Permainan tradisional adalah permainan yang sudah ada sejak zaman dahulu, dan dimainkan dari generasi ke genarasi dengan penggunaan alat bantu permainan tradisional yang dapat terbuat dari kayu, bambu, tali, dan benda-benda sekitarnya. Provinsi Jambi sebagai daerah yang memiliki kekayaan akan keanekaragaman kebudayaan, dimana salah satunya adalah kekayaan akan permainan tradisional, menjadi sangat perlu untuk dilakukan pelestarian dan pengembangan dari kekayaan kebudayaan tersebut. Penelitian ini bertujuan menjadikan koleksi permainan tradisional yang terdapat di Museum Siginjei Jambi sebagai sumber penciptaan naskah drama pendek anak. Hal itu merupakan upaya dari bagian pemajuan objek kebudayaan dengan melakukan inovasi yang bersumber koleksi permainan tradisional Jambi di Museum Siginjei Jambi. Langkah-langkah metode yang diterapkan dimulai dari: (1) memulai riset; (2) mencipta unsur-unsur instrinsik berupa tema, alur, tokoh-tokoh, latar, konflik, gaya bahasa, dan amanat; (3) membuat sinopsis; (4) menulis naskah drama. Berdasarkan sembilan koleksi permainan tradisional Jambi yang terdapat di ruang pameran Museum Siginjei, kesembilan koleksi tersebut kemudian dijadikan sebagai sumber penciptaan naskah drama pendek anak. Setiap koleksi dijadikan sumber penciptaan naskah drama anak, dimana hasilnya adalah terciptalah sembilan naskah drama pendek anak yang terhimpun menjadi kumpulan naskah drama pendek anak berjudul Gawe Rame. Terciptanya sembilan naskah drama pendek anak sebagai wujud upaya nyata dalam pemajuan kebudayaan dengan melakukan langkah inovasi dari koleksi benda-benda bernilai sejarah, budaya, hingga teknologi warisan sosial Jambi di Museum Siginjei Jambi sebagai sumber pendidikan, pengajaran, dan pelatihan.
{"title":"PENCIPTAAN NASKAH DRAMA PENDEK ANAK BERSUMBERKAN KOLEKSI PERMAINAN TRADISIONAL ANAK JAMBI DI MUSEUM SIGINJEI JAMBI","authors":"Ady Santoso, Galuh Tulus Utama, Prety Kumala Sari, M. A. Habillah","doi":"10.22437/jcs.v2i2.29811","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i2.29811","url":null,"abstract":"Permainan tradisional adalah permainan yang sudah ada sejak zaman dahulu, dan dimainkan dari generasi ke genarasi dengan penggunaan alat bantu permainan tradisional yang dapat terbuat dari kayu, bambu, tali, dan benda-benda sekitarnya. Provinsi Jambi sebagai daerah yang memiliki kekayaan akan keanekaragaman kebudayaan, dimana salah satunya adalah kekayaan akan permainan tradisional, menjadi sangat perlu untuk dilakukan pelestarian dan pengembangan dari kekayaan kebudayaan tersebut. Penelitian ini bertujuan menjadikan koleksi permainan tradisional yang terdapat di Museum Siginjei Jambi sebagai sumber penciptaan naskah drama pendek anak. Hal itu merupakan upaya dari bagian pemajuan objek kebudayaan dengan melakukan inovasi yang bersumber koleksi permainan tradisional Jambi di Museum Siginjei Jambi. Langkah-langkah metode yang diterapkan dimulai dari: (1) memulai riset; (2) mencipta unsur-unsur instrinsik berupa tema, alur, tokoh-tokoh, latar, konflik, gaya bahasa, dan amanat; (3) membuat sinopsis; (4) menulis naskah drama. Berdasarkan sembilan koleksi permainan tradisional Jambi yang terdapat di ruang pameran Museum Siginjei, kesembilan koleksi tersebut kemudian dijadikan sebagai sumber penciptaan naskah drama pendek anak. Setiap koleksi dijadikan sumber penciptaan naskah drama anak, dimana hasilnya adalah terciptalah sembilan naskah drama pendek anak yang terhimpun menjadi kumpulan naskah drama pendek anak berjudul Gawe Rame. Terciptanya sembilan naskah drama pendek anak sebagai wujud upaya nyata dalam pemajuan kebudayaan dengan melakukan langkah inovasi dari koleksi benda-benda bernilai sejarah, budaya, hingga teknologi warisan sosial Jambi di Museum Siginjei Jambi sebagai sumber pendidikan, pengajaran, dan pelatihan.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"20 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139183996","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan, dalam hal ini budaya ritual perumah begu, sebagai ritual pemanggilan roh-roh terdahulu. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami ritual perumah begu pada masyarakat Karo, yang merupakan sebuah ritual pemanggilan roh leluhur untuk menyelesaikan permasalahan yang belum tuntas pada masa hidupnya, selanjutnya dari hasil pemahaman dilakukan penciptaan koreografi baru berjudul Basnipi Kami. Guna mendukung penelitian penciptaan ini digunakan teori ritual, teori interpretasi, teori koreografi, dan teori kepribadian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana data didapatkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang dianalisis dan dideskripsikan menjadi sebuah laporan. Koreografi disajikan secara simbolis representasional oleh lima orang penari laki-laki yang menceritakan tentang konflik batin dalam keluarga. Salah satu alasan terlaksananya ritual perumah begu yakni karena penyelesaian silang sengketa perebutan harta warisan, sehingga terbentuk koreografi baru dari pengembangan gerak-gerak dasar dan idiom pada etnis Karo yang berjudul Basnipi Kami.
{"title":"KOREOGRAFI BASNIPI KAMI BERBASIS LITERASI BUDAYA RITUAL PERUMAH BEGU","authors":"Jodi Dafa Jauhara, N. Nurwani","doi":"10.22437/jcs.v2i2.30069","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i2.30069","url":null,"abstract":"Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan, dalam hal ini budaya ritual perumah begu, sebagai ritual pemanggilan roh-roh terdahulu. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami ritual perumah begu pada masyarakat Karo, yang merupakan sebuah ritual pemanggilan roh leluhur untuk menyelesaikan permasalahan yang belum tuntas pada masa hidupnya, selanjutnya dari hasil pemahaman dilakukan penciptaan koreografi baru berjudul Basnipi Kami. Guna mendukung penelitian penciptaan ini digunakan teori ritual, teori interpretasi, teori koreografi, dan teori kepribadian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana data didapatkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang dianalisis dan dideskripsikan menjadi sebuah laporan. Koreografi disajikan secara simbolis representasional oleh lima orang penari laki-laki yang menceritakan tentang konflik batin dalam keluarga. Salah satu alasan terlaksananya ritual perumah begu yakni karena penyelesaian silang sengketa perebutan harta warisan, sehingga terbentuk koreografi baru dari pengembangan gerak-gerak dasar dan idiom pada etnis Karo yang berjudul Basnipi Kami.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"94 2","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139183511","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri perkembangan seni pertunjukan lais yang masih eksis di Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara dan dilanjutkan dengan analisis pemahaman secara interaktif. Subjek penelitian yang dijadikan narasumber adalah pelaku seni pertunjukan yakni seniman Padepokan Jati Diri Nurcahya Putra Galunggung Kabupaten Tasikmalaya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa seni pertunjukan lais masih benar nyata keberadaannya dan mengalami perkembangan secara kontekstual pertunjukan. Simpulan hasil penelitian ini menunjukan bahwa seni pertunjukan lais harus dipahami dan dilestarikan guna melindungi ekosistem seni pertunjukan dan menjaga warisan budaya bangsa.
本研究旨在追溯目前仍存在于塔西克马拉亚地区加隆贡山(Galunggung Mountain)的莱斯表演艺术的发展历程。本研究采用的是定性研究方法。研究数据通过访谈技术收集,并继续进行互动式理解分析。研究对象是表演艺术的表演者,即塔西克马拉亚地区加隆贡山 Padepokan Jati Diri Nurcahya Putra 的艺术家。研究结果表明,莱斯的表演艺术仍然真实存在,并在表演中经历着背景发展。这项研究的结论表明,为了保护表演艺术生态系统和维护国家文化遗产,必须了解和保护莱斯表演艺术。
{"title":"PERKEMBANGAN SENI PERTUNJUKAN LAIS DI GUNUNG GALUNGGUNG KABUPATEN TASIKMALAYA","authors":"Ladya Belga, Monita Precilli","doi":"10.22437/jcs.v2i1.26480","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i1.26480","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri perkembangan seni pertunjukan lais yang masih eksis di Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara dan dilanjutkan dengan analisis pemahaman secara interaktif. Subjek penelitian yang dijadikan narasumber adalah pelaku seni pertunjukan yakni seniman Padepokan Jati Diri Nurcahya Putra Galunggung Kabupaten Tasikmalaya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa seni pertunjukan lais masih benar nyata keberadaannya dan mengalami perkembangan secara kontekstual pertunjukan. Simpulan hasil penelitian ini menunjukan bahwa seni pertunjukan lais harus dipahami dan dilestarikan guna melindungi ekosistem seni pertunjukan dan menjaga warisan budaya bangsa.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-22","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139369035","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Fitri Nurmayanti Kusumo Wibowo, Sahrul N, Afrizal Harun
Artikel dengan judul Konsep Dramaturgi dalam Pertunjukan Tari Negeri Budaya Latah Koreografer Deslenda secara eksplisit merupakan usaha peneliti di dalam menjawab berbagai pertanyaan terkait bentuk karya tari yang digarap oleh Deslenda. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang konsep galuik dalam pertunjukan Tari Negeri Budaya Latah karya Deslenda dan menganalisis tentang kencendrungan Deslenda sebagai koreografer, dalam mencipta karya tari dengan menggunakan unsur teaterikal pada tari Negeri Budaya Latah. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif yang berpusat pada data wawancara dan dokumentasi. Temuan dari penelitian ini adalah galuik sebagai konsep dramaturgi dalam proses kreatif yang dilakukan oleh Deslenda dalam penggarapan karya tari kontemporer Negeri Budaya Latah.
这篇题为《Negeri Budaya Latah 舞蹈编导 Deslenda 舞蹈表演中的戏剧概念》的文章明确地表明,研究者试图回答与 Deslenda 创作的舞蹈作品形式有关的各种问题。本文旨在解释德斯伦达的《Negeri Budaya Latah》舞蹈表演中的 "galuik "概念,并分析德斯伦达作为编舞家,在《Negeri Budaya Latah》舞蹈中运用戏剧元素创作舞蹈作品的倾向。采用的研究方法是以访谈数据和文献为中心的定性方法。本研究的结果将作为 Deslenda 在创作现代舞蹈作品《Negeri Budaya Latah》的创作过程中的戏剧概念。
{"title":"DRAMATURGI TARI DALAM NEGERI BUDAYA LATAH KOREOGRAFER DESLENDA","authors":"Fitri Nurmayanti Kusumo Wibowo, Sahrul N, Afrizal Harun","doi":"10.22437/jcs.v2i1.26476","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i1.26476","url":null,"abstract":"Artikel dengan judul Konsep Dramaturgi dalam Pertunjukan Tari Negeri Budaya Latah Koreografer Deslenda secara eksplisit merupakan usaha peneliti di dalam menjawab berbagai pertanyaan terkait bentuk karya tari yang digarap oleh Deslenda. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang konsep galuik dalam pertunjukan Tari Negeri Budaya Latah karya Deslenda dan menganalisis tentang kencendrungan Deslenda sebagai koreografer, dalam mencipta karya tari dengan menggunakan unsur teaterikal pada tari Negeri Budaya Latah. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif yang berpusat pada data wawancara dan dokumentasi. Temuan dari penelitian ini adalah galuik sebagai konsep dramaturgi dalam proses kreatif yang dilakukan oleh Deslenda dalam penggarapan karya tari kontemporer Negeri Budaya Latah.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"8 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-22","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139369043","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Komposisi musik Rentak Nandung adalah karya yang berangkat dari kegelisahan atas penebangan hutan secara ilegal. Masalah ini berdampak pada seluruh aspek kehidupan, salah satunya kesenian. Salah satu kesenian yang terdampak dari penebangan ilegal adalah punahnya pohon marelang yang menjadi material dari alat musik tradisional Senandung Jolo. Karya tari ini menggunakan nada alas pentatonik. Metode penciptaan terdiri dari, pengamatan, penuangan, eksplorasi, pembentukan dan realisasi. Hasil dari proses penciptaan ini adalah karya musik Rentak Nandung yang terbagi menjadi empat bagian, yaitu Nandung Tanah Tanjung, Satang Rimbo, Membentang Jolo dan Tabuh Tutup.
{"title":"KRITIK ATAS EKSPLOITASI HUTAN DALAM PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK RENTAK NANDUNG","authors":"Uswan Hasan","doi":"10.22437/jcs.v2i1.26485","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i1.26485","url":null,"abstract":"Komposisi musik Rentak Nandung adalah karya yang berangkat dari kegelisahan atas penebangan hutan secara ilegal. Masalah ini berdampak pada seluruh aspek kehidupan, salah satunya kesenian. Salah satu kesenian yang terdampak dari penebangan ilegal adalah punahnya pohon marelang yang menjadi material dari alat musik tradisional Senandung Jolo. Karya tari ini menggunakan nada alas pentatonik. Metode penciptaan terdiri dari, pengamatan, penuangan, eksplorasi, pembentukan dan realisasi. Hasil dari proses penciptaan ini adalah karya musik Rentak Nandung yang terbagi menjadi empat bagian, yaitu Nandung Tanah Tanjung, Satang Rimbo, Membentang Jolo dan Tabuh Tutup.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"118 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-22","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139369045","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Karya tari yang berjudul “Ritual Menumbai” terinspirasi dari sebuah prosesi pengambilan madu hutan yang berada di Indonesia lebih tepatnya di Kampar, Riau. Prosesi yang dilakukan untuk pengambilan madu hutan ini meliputi dua lokasi, yakni dirumah dan dialam. Untuk menggarap konsep yang lahir dalam sebuah karya tari, menghadirkan interpretasi pengkarya terhadap prosesi menumbai tersebut. Kemudian pengkarya menggunakan properti kain putih untuk menampilkan siluet , obor, jerigen dan tali. Eksplorasi gerak terkait dengan pengembangan dari gerak dasar para juagan saat prosesi menumbai yang disesuaika dengan karakter pengkarya. Metode yang digunakan dalam pelahiran karya ini diantarnya, observasi, pengolahan data, studi pustaka, pemilihan pendukung karya, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, dan evaluasi. Dalam karya ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama menggambarkan interpretasi tentang prosesi sebelum menumbai dirumah, dibagian kedua menggambarkan prosesi di ruang alam diawali panggilan adat serta gotong-royong., dan dibagian ketiga menggambarkan mala petaka yang dialami jika tidak melakukan prosesi yang seharusnya.
{"title":"PELESTARIAN BUDAYA MENUMBAI MADU SIALANG MELALUI KARYA TARI RITUAL MENUMBAI","authors":"Desvita Sary, Susas Rita Loravianti","doi":"10.22437/jcs.v2i1.23569","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/jcs.v2i1.23569","url":null,"abstract":"Karya tari yang berjudul “Ritual Menumbai” terinspirasi dari sebuah prosesi pengambilan madu hutan yang berada di Indonesia lebih tepatnya di Kampar, Riau. Prosesi yang dilakukan untuk pengambilan madu hutan ini meliputi dua lokasi, yakni dirumah dan dialam. Untuk menggarap konsep yang lahir dalam sebuah karya tari, menghadirkan interpretasi pengkarya terhadap prosesi menumbai tersebut. Kemudian pengkarya menggunakan properti kain putih untuk menampilkan siluet , obor, jerigen dan tali. Eksplorasi gerak terkait dengan pengembangan dari gerak dasar para juagan saat prosesi menumbai yang disesuaika dengan karakter pengkarya. Metode yang digunakan dalam pelahiran karya ini diantarnya, observasi, pengolahan data, studi pustaka, pemilihan pendukung karya, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, dan evaluasi. Dalam karya ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama menggambarkan interpretasi tentang prosesi sebelum menumbai dirumah, dibagian kedua menggambarkan prosesi di ruang alam diawali panggilan adat serta gotong-royong., dan dibagian ketiga menggambarkan mala petaka yang dialami jika tidak melakukan prosesi yang seharusnya.","PeriodicalId":506070,"journal":{"name":"Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan","volume":"20 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139369284","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}