Pub Date : 2013-07-11DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1776
Amrin Thahir, Cek Dara Manja
Pierre Robin Syndrome adalah kelainan kraniofasial yang ditemui pada bayi sejak lahir. Gambaran klinis sindrom ini yaitu mikrognasia, glosoptosis, celah langit-langit dan kelainan pada beberapa sistem organ seperti telinga, mata dan jantung. Secara radiografi terlihat hipoplasia mandibula, posisi lidah lebih ke posterior, celah bibir bilateral, kelainan sebagian tulang zigoma dan auditory canal external yang tidak sempurna secara bilateral. Umumnya prognosis penderita Pierre Robin Syndrome baik, yang akan berlanjut secara normal sampai mencapai perkembangan yang sempurna. Tujuan makalah ini adalah agar dokter gigi dapat mengetahui gambaran radiografi dentomaxillofacial pada penderita Pierre Robin Syndrome sehingga dapat menegakkan diagnosa dan membuat rencana perawatan yang tepat terhadap pasien. Sebagai kesimpulan, radiografi dentomaxillofacial yaitu radiografi ekstra oral sefalometri lateral dan frontal serta tiga dimensi dapat dilakukan untuk mendukung diagnosa dan menentukan rencana perawatan yang tepat pada penderita Pierre Robin Syndrom.
{"title":"GAMBARAN RADIOGRAFI DENTOMAXILLOFASIAL PADA PENDERITA PIERRE ROBIN SYNDROME","authors":"Amrin Thahir, Cek Dara Manja","doi":"10.32734/dentika.v17i3.1776","DOIUrl":"https://doi.org/10.32734/dentika.v17i3.1776","url":null,"abstract":"Pierre Robin Syndrome adalah kelainan kraniofasial yang ditemui pada bayi sejak lahir. Gambaran klinis sindrom ini yaitu mikrognasia, glosoptosis, celah langit-langit dan kelainan pada beberapa sistem organ seperti telinga, mata dan jantung. Secara radiografi terlihat hipoplasia mandibula, posisi lidah lebih ke posterior, celah bibir bilateral, kelainan sebagian tulang zigoma dan auditory canal external yang tidak sempurna secara bilateral. Umumnya prognosis penderita Pierre Robin Syndrome baik, yang akan berlanjut secara normal sampai mencapai perkembangan yang sempurna. Tujuan makalah ini adalah agar dokter gigi dapat mengetahui gambaran radiografi dentomaxillofacial pada penderita Pierre Robin Syndrome sehingga dapat menegakkan diagnosa dan membuat rencana perawatan yang tepat terhadap pasien. Sebagai kesimpulan, radiografi dentomaxillofacial yaitu radiografi ekstra oral sefalometri lateral dan frontal serta tiga dimensi dapat dilakukan untuk mendukung diagnosa dan menentukan rencana perawatan yang tepat pada penderita Pierre Robin Syndrom.","PeriodicalId":250739,"journal":{"name":"Dentika: Dental Journal","volume":"32 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2013-07-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121121385","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2013-07-11DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1774
Rahmi Amtha, Harum Sasanti
Reaksi hipersensitivitas obat adalah kondisi patologis yang sering terjadi pada manusia dengan insidensi yang meningkat setiap tahunnya. Stevens Johnson Syndrome (SSJ) adalah salah satu istilah penyakit yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tubuh terhadap obat, bakteri, virus, dan bahan kimia. Salah satu obat yang secara luas dilaporkan memicu terjadinya SSJ adalah karbamazepin, obat sintetis yang umumnya digunakan oleh pasien gangguan saraf dan kejiwaan. Dua kasus SSJ karena penggunaan karbamazepin dilaporkan dengan manifestasi klinis yang hampir sama, hanya berbeda dalam derajat keparahan dan patogenesis munculnya manifestasi akibat reaksi hipersensitivitas obat yang dikonsumsi. Perawatan komprehensif bersifat multi-disiplin melibatkan Bagian Kulit Kelamin, Saraf, Penyakit Dalam, Penyakit Mulut dan Ahli Jiwa memberikan kemajuan penyembuhan pada penderita. Menjaga kebersihan mulut, penggunaan obat kumur prednison dan krim topikal acetonid floucinolon untuk bibir memberikan kemajuan pesat penyembuhan intra-oral dari pasien, mendampingi obat sistemik dari disiplin ilmu yang relevan. Sebagai kesimpulan, SSJ dapat disebabkan oleh penggunaan karbamazepin dan menunjukkan manifestasi yang parah. SSJ perlu dikelola secara akurat dengan pendekatan multidisiplin terapi.
{"title":"SINDROMA STEVEN JOHNSON AKIBAT CARBAMAZEPIN PADA PENDERITA GANGGUAN KEJIWAAN","authors":"Rahmi Amtha, Harum Sasanti","doi":"10.32734/dentika.v17i3.1774","DOIUrl":"https://doi.org/10.32734/dentika.v17i3.1774","url":null,"abstract":"Reaksi hipersensitivitas obat adalah kondisi patologis yang sering terjadi pada manusia dengan insidensi yang meningkat setiap tahunnya. Stevens Johnson Syndrome (SSJ) adalah salah satu istilah penyakit yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tubuh terhadap obat, bakteri, virus, dan bahan kimia. Salah satu obat yang secara luas dilaporkan memicu terjadinya SSJ adalah karbamazepin, obat sintetis yang umumnya digunakan oleh pasien gangguan saraf dan kejiwaan. Dua kasus SSJ karena penggunaan karbamazepin dilaporkan dengan manifestasi klinis yang hampir sama, hanya berbeda dalam derajat keparahan dan patogenesis munculnya manifestasi akibat reaksi hipersensitivitas obat yang dikonsumsi. Perawatan komprehensif bersifat multi-disiplin melibatkan Bagian Kulit Kelamin, Saraf, Penyakit Dalam, Penyakit Mulut dan Ahli Jiwa memberikan kemajuan penyembuhan pada penderita. Menjaga kebersihan mulut, penggunaan obat kumur prednison dan krim topikal acetonid floucinolon untuk bibir memberikan kemajuan pesat penyembuhan intra-oral dari pasien, mendampingi obat sistemik dari disiplin ilmu yang relevan. Sebagai kesimpulan, SSJ dapat disebabkan oleh penggunaan karbamazepin dan menunjukkan manifestasi yang parah. SSJ perlu dikelola secara akurat dengan pendekatan multidisiplin terapi.","PeriodicalId":250739,"journal":{"name":"Dentika: Dental Journal","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2013-07-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124376906","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2013-07-11DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1775
Janti Sudiono, Hanny Japarto
Squamous cell carcinoma (SCC) is the most common malignant tumour in oral cavity. This cancer arises from oral mucosal epithel and also it often causes high rate of morbidity and mortality. Metastasis is one of the major causes of mortality in patient with cancer. This is because metastasis has often occurred before the primary tumor it self is detected. Lymphogenous metastasis is specific for carcinoma. In the late stage, cancer cells from the lymphatic system may enter blood circulation. In brief, steps of the metastatic process may be outlined as follows: genetic alteration, modulation of extracellular matrix and proteolysis, damage cell adhesion, damage tumour cell migration, and also angiogenesis. The involved process factors are genetic factors such as nm23, p16, Lin-7C; proteolitic enzyme such as MMP-1, MMP-2, MMP-3, MMP-8 MMP-9, MMP-14, MMP-15, MMP-17, cathepsin B, D, and O; adhesion between adhesive proteins for example integrin, laminin, cadherin, maspin. In conclusion, the whole process from genetic alterations until the occurence of independent cell is a complex process that involves interactions among the related factors.
{"title":"METASTATIC PROCESS OF ORAL SQUAMOUS CELL CARCINOMA","authors":"Janti Sudiono, Hanny Japarto","doi":"10.32734/dentika.v17i3.1775","DOIUrl":"https://doi.org/10.32734/dentika.v17i3.1775","url":null,"abstract":"Squamous cell carcinoma (SCC) is the most common malignant tumour in oral cavity. This cancer arises from oral mucosal epithel and also it often causes high rate of morbidity and mortality. Metastasis is one of the major causes of mortality in patient with cancer. This is because metastasis has often occurred before the primary tumor it self is detected. Lymphogenous metastasis is specific for carcinoma. In the late stage, cancer cells from the lymphatic system may enter blood circulation. In brief, steps of the metastatic process may be outlined as follows: genetic alteration, modulation of extracellular matrix and proteolysis, damage cell adhesion, damage tumour cell migration, and also angiogenesis. The involved process factors are genetic factors such as nm23, p16, Lin-7C; proteolitic enzyme such as MMP-1, MMP-2, MMP-3, MMP-8 MMP-9, MMP-14, MMP-15, MMP-17, cathepsin B, D, and O; adhesion between adhesive proteins for example integrin, laminin, cadherin, maspin. In conclusion, the whole process from genetic alterations until the occurence of independent cell is a complex process that involves interactions among the related factors.","PeriodicalId":250739,"journal":{"name":"Dentika: Dental Journal","volume":"25 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2013-07-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125305334","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2013-07-11DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1773
Wandania Farahanny
Restorasi akhir pada gigi setelah perawatan endodonti sering menggunakan pasak dan inti sebagai fondasi penahan mahkota penuh. Saat ini penggunaan pita fiber resin reinforced yang terbuat dari bahan ultra high polyethylene fiber sebagai pasak menjadi popular. Resiko terjadinya fraktur akar dapat berkurang karena sistem pasak ini tidak memerlukan perluasan saluran akar lebih banyak. Retensi pasak ini didapat dari sistem adhesif sehingga dapat menambah kekuatan struktural dari gigi yang akan direstorasi. Laporan kasus ini membahas perawatan yang dilakukan pada dua orang pasien yang mengalami fraktur mahkota pada gigi insisivus maksila dan membutuhkan segera restorasi estetis. Laki-laki berusia 28 dan 19 tahun. Setelah perawatan endodonti dilakukan, bahan polyethylene fiber digunakan sebagai pasak-inti dengan menggunakan semen luting resin untuk mempertahankan struktur gigi tersisa. Komposit resin micro hybrid diaplikasikan sebagai restorasi veneer untuk membentuk restorasi akhir. Sebagai kesimpulan, bahan polyethylene fiber reinforced dapat membuat restorasi estetis dan memperkuat pasak dan inti secara struktural dalam satu kali kunjungan tanpa harus melalui proses laboratorium.
{"title":"RESTORATION OF POST ENDODONTIC TREATMENT WITH FIBER-RESIN REINFORCED POST CORE SYSTEM","authors":"Wandania Farahanny","doi":"10.32734/dentika.v17i3.1773","DOIUrl":"https://doi.org/10.32734/dentika.v17i3.1773","url":null,"abstract":"Restorasi akhir pada gigi setelah perawatan endodonti sering menggunakan pasak dan inti sebagai fondasi penahan mahkota penuh. Saat ini penggunaan pita fiber resin reinforced yang terbuat dari bahan ultra high polyethylene fiber sebagai pasak menjadi popular. Resiko terjadinya fraktur akar dapat berkurang karena sistem pasak ini tidak memerlukan perluasan saluran akar lebih banyak. Retensi pasak ini didapat dari sistem adhesif sehingga dapat menambah kekuatan struktural dari gigi yang akan direstorasi. Laporan kasus ini membahas perawatan yang dilakukan pada dua orang pasien yang mengalami fraktur mahkota pada gigi insisivus maksila dan membutuhkan segera restorasi estetis. Laki-laki berusia 28 dan 19 tahun. Setelah perawatan endodonti dilakukan, bahan polyethylene fiber digunakan sebagai pasak-inti dengan menggunakan semen luting resin untuk mempertahankan struktur gigi tersisa. Komposit resin micro hybrid diaplikasikan sebagai restorasi veneer untuk membentuk restorasi akhir. Sebagai kesimpulan, bahan polyethylene fiber reinforced dapat membuat restorasi estetis dan memperkuat pasak dan inti secara struktural dalam satu kali kunjungan tanpa harus melalui proses laboratorium.","PeriodicalId":250739,"journal":{"name":"Dentika: Dental Journal","volume":"26 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2013-07-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122672308","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2013-07-11DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1740
Sumadhi Sastrodihardjo, Dahliana Purba
Generally impression materials including elastomer impression materials show dimensional changes after impression taking. There are many investigations that show these dimensional changes with several causal factor possibilities proposed by the authors. The actual causal factor has not been elucidated yet. The aim of this study was to find out the behaviour and dimensional changes occured in two types of elastomeric impression consistency materials by using perforated tray. Light and medium body types of polyvinyl siloxane impression materials were used in this study. Impression consistency materials were tested with the method noted at the ANSI/ ADA specification no.19-2000. Design of study post-test only. Impression was taken by using perforated metal tray on frustum conical metal master die (n= 10 impressions/material). The dimensions of samples were measured by using digital calliper (Mitutoyo, Japan) at base, top area and height. The dimensional changes were calculated from master and stone die measurement. The results showed that there were dimensional changes occured in all of observed areas. Light body type showed dimensional changes at base, top area and height as many as (+) 0.032 ± 0.016 mm, (-) 0.136 ± 0.045 mm and (+) 0.112 ± 0.022 mm, respectively. Medium body type showed dimensional changes at base, top area and height as many as (+) 0.009 ± 0.013 mm, (-) 0.090 ± 0.016 mm and (+) 0.085 ± 0.010mm, respectively. In conclusion, there were significant differences between light and medium body types of polyvinyl siloxane impression materials caused the quantity of dimensional changes on impression (p< 0.05). Stress releasing passes through the holes on perforated tray may take a possible role to cause different direction of dimensional changes on impression.
{"title":"IMPRESSION DIMENSIONAL CHANGE OF POLYVINYL SILOXANE LIGHT AND MEDIUM BODY MATERIAL BY USING PERFORATED TRAY","authors":"Sumadhi Sastrodihardjo, Dahliana Purba","doi":"10.32734/dentika.v17i3.1740","DOIUrl":"https://doi.org/10.32734/dentika.v17i3.1740","url":null,"abstract":"Generally impression materials including elastomer impression materials show dimensional changes after impression taking. There are many investigations that show these dimensional changes with several causal factor possibilities proposed by the authors. The actual causal factor has not been elucidated yet. The aim of this study was to find out the behaviour and dimensional changes occured in two types of elastomeric impression consistency materials by using perforated tray. Light and medium body types of polyvinyl siloxane impression materials were used in this study. Impression consistency materials were tested with the method noted at the ANSI/ ADA specification no.19-2000. Design of study post-test only. Impression was taken by using perforated metal tray on frustum conical metal master die (n= 10 impressions/material). The dimensions of samples were measured by using digital calliper (Mitutoyo, Japan) at base, top area and height. The dimensional changes were calculated from master and stone die measurement. The results showed that there were dimensional changes occured in all of observed areas. Light body type showed dimensional changes at base, top area and height as many as (+) 0.032 ± 0.016 mm, (-) 0.136 ± 0.045 mm and (+) 0.112 ± 0.022 mm, respectively. Medium body type showed dimensional changes at base, top area and height as many as (+) 0.009 ± 0.013 mm, (-) 0.090 ± 0.016 mm and (+) 0.085 ± 0.010mm, respectively. In conclusion, there were significant differences between light and medium body types of polyvinyl siloxane impression materials caused the quantity of dimensional changes on impression (p< 0.05). Stress releasing passes through the holes on perforated tray may take a possible role to cause different direction of dimensional changes on impression.","PeriodicalId":250739,"journal":{"name":"Dentika: Dental Journal","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2013-07-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129646181","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2013-07-11DOI: 10.32734/dentika.v17i3.1744
Siti Bahirrah, Dea Philia Swastika
Pertumbuhan tulang vertebra servikalis mempengaruhi tipe wajah individu. Penelitian menunjukkan pada individu dengan leher yang panjang memiliki tipe wajah yang panjang dan individu dengan leher yang pendek ditemukan tipe wajah yang pendek. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara dimensi tulang vertebra servikalis dan wajah pada mahasiswa FKG USU Ras Deutro-Melayu. Penelitian ini menggunakan 50 foto sefalometri lateral yang diperoleh dari mahasiswa FKG USU ras Deutro-Melayu. Metode yang digunakan dalam pengukuran adalah metode Karlsen. Hasil penelitian menunjukkan rerata dimensi vertikal tulang vertebra servikalis adalah 81,99 mm dan dimensi vertical wajah 33,22o. Sebagai kesimpulan, individu dengan leher yang panjang memiliki tipe wajah yang panjang dan individu dengan leher pendek memiliki tipe wajah yang pendek.
{"title":"HUBUNGAN DIMENSI VERTIKAL TULANG VERTEBRA SERVIKALIS DAN WAJAH PADA MAHASISWA KEDOKTERAN GIGI RAS DEUTRO-MELAYU","authors":"Siti Bahirrah, Dea Philia Swastika","doi":"10.32734/dentika.v17i3.1744","DOIUrl":"https://doi.org/10.32734/dentika.v17i3.1744","url":null,"abstract":"Pertumbuhan tulang vertebra servikalis mempengaruhi tipe wajah individu. Penelitian menunjukkan pada individu dengan leher yang panjang memiliki tipe wajah yang panjang dan individu dengan leher yang pendek ditemukan tipe wajah yang pendek. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara dimensi tulang vertebra servikalis dan wajah pada mahasiswa FKG USU Ras Deutro-Melayu. Penelitian ini menggunakan 50 foto sefalometri lateral yang diperoleh dari mahasiswa FKG USU ras Deutro-Melayu. Metode yang digunakan dalam pengukuran adalah metode Karlsen. Hasil penelitian menunjukkan rerata dimensi vertikal tulang vertebra servikalis adalah 81,99 mm dan dimensi vertical wajah 33,22o. Sebagai kesimpulan, individu dengan leher yang panjang memiliki tipe wajah yang panjang dan individu dengan leher pendek memiliki tipe wajah yang pendek.","PeriodicalId":250739,"journal":{"name":"Dentika: Dental Journal","volume":"25 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2013-07-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122504668","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kerusakan pada gigi atau karies merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada anak-anak. Karies gigi yang tidak dirawat dapat mengakibatkan pulpitis, ulserasi, fistula dan abses (pufa) yang dapat berdampak terhadap kualitas hidup anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan skor pufa dengan kualitas hidup pada siswa usia 6-8 tahun di 2 SD Negeri kota Medan. Jenis penelitian adalah cross sectional study dengan populasi siswa usia 6-8 tahun di SD Negeri 060889 dan 060894 kota Medan. Seluruh populasi dijadikan sampel berjumlah 206 orang. Pengumpulan data akibat karies yang tidak dirawat menggunakan indeks pufa dan skor kualitas hidup menggunakan indeks Child Perceptions Questionnaire (CPQ). Hubungan skor pufa dengan kualitas hidup dianalisis menggunakan chi square test. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor pufa 0,85 ± 0,93 dan sebagian besar responden memiliki kualitas hidup baik yaitu 62,8%, cukup 30,8% dan buruk 6,6%. Ada hubungan yang signifikan antara skor pufa dengan kualitas hidup pada anak SD Negeri di kota Medan (p= 0,000). Semakin meningkat skor pufa, persentase kualitas hidup baik semakin menurun, sebaliknya persentase kualitas hidup sedang dan buruk semakin meningkat. Sebagai kesimpulan, ada hubungan yang signifikan antara skor pufa dan kualitas hidup pada siswa SD.
{"title":"HUBUNGAN pufa DENGAN KUALITAS HIDUP PADA SISWA USIA 6-8 TAHUN DI SD NEGERI DI MEDAN","authors":"Gema Nazri Yanti, Rika Mayasari Alamsyah, Karsa Rajagukguk","doi":"10.32734/dentika.v17i3.1735","DOIUrl":"https://doi.org/10.32734/dentika.v17i3.1735","url":null,"abstract":"Kerusakan pada gigi atau karies merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada anak-anak. Karies gigi yang tidak dirawat dapat mengakibatkan pulpitis, ulserasi, fistula dan abses (pufa) yang dapat berdampak terhadap kualitas hidup anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan skor pufa dengan kualitas hidup pada siswa usia 6-8 tahun di 2 SD Negeri kota Medan. Jenis penelitian adalah cross sectional study dengan populasi siswa usia 6-8 tahun di SD Negeri 060889 dan 060894 kota Medan. Seluruh populasi dijadikan sampel berjumlah 206 orang. Pengumpulan data akibat karies yang tidak dirawat menggunakan indeks pufa dan skor kualitas hidup menggunakan indeks Child Perceptions Questionnaire (CPQ). Hubungan skor pufa dengan kualitas hidup dianalisis menggunakan chi square test. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor pufa 0,85 ± 0,93 dan sebagian besar responden memiliki kualitas hidup baik yaitu 62,8%, cukup 30,8% dan buruk 6,6%. Ada hubungan yang signifikan antara skor pufa dengan kualitas hidup pada anak SD Negeri di kota Medan (p= 0,000). Semakin meningkat skor pufa, persentase kualitas hidup baik semakin menurun, sebaliknya persentase kualitas hidup sedang dan buruk semakin meningkat. Sebagai kesimpulan, ada hubungan yang signifikan antara skor pufa dan kualitas hidup pada siswa SD.","PeriodicalId":250739,"journal":{"name":"Dentika: Dental Journal","volume":"39 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2013-07-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123306300","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 1900-01-01DOI: 10.32734/dentika.v24i1.5327
O. A. Hanafiah, D. Satria, Avi Syafitri
Tooth extraction is a process of removing teeth from the alveolar bone. In wound healing, fibroblast are very important cells. The main purpose of this study was to determine the effect of mobe leaf 1% and 3% extract gel (Artocarpus lakoocha) on fibroblast proliferation in post extraction tooth socket wound healing. This research used 16 samples of wistar rats, divided into 4 groups, a positive control group, a negative control group and a 1% and 3% mobe leaf extract gel group. The left mandibular incisors were extracted, then 1% and 3% gels of mobe leaf extract were applied on day 1 to day 7. Data analysis was calculated using the Kruskal-Wallis test on clinical data and one way ANOVA test for microscopic. The result of the socket wound healing activity test for a good concentration of mobe leaf extract gel was 3%. This research shows significant resultith p-value of 0.018 (< 0.05) on the closure of the socket wound clinically which means the closure of the wound accelerates because of the mobe leaf 3% extract gel treatment. The distance of fibroblast on microscopically shows significant resultith a p-value of 0.002 (< 0.05), which means that there was an enlargement of the distance fibroblast at the socket wound closure with application of mobe leaf 3% extract gel. From the results of the study it can be concluded that mobe leaf 3% extract gel has the best ability to show acceleration the closure of the socket wound either clinically or microscopically.
{"title":"Effects of 1% and 3% Mobe Leaf Extract Gel on Socket Wound Healing after Tooth Extraction","authors":"O. A. Hanafiah, D. Satria, Avi Syafitri","doi":"10.32734/dentika.v24i1.5327","DOIUrl":"https://doi.org/10.32734/dentika.v24i1.5327","url":null,"abstract":"Tooth extraction is a process of removing teeth from the alveolar bone. In wound healing, fibroblast are very important cells. The main purpose of this study was to determine the effect of mobe leaf 1% and 3% extract gel (Artocarpus lakoocha) on fibroblast proliferation in post extraction tooth socket wound healing. This research used 16 samples of wistar rats, divided into 4 groups, a positive control group, a negative control group and a 1% and 3% mobe leaf extract gel group. The left mandibular incisors were extracted, then 1% and 3% gels of mobe leaf extract were applied on day 1 to day 7. Data analysis was calculated using the Kruskal-Wallis test on clinical data and one way ANOVA test for microscopic. The result of the socket wound healing activity test for a good concentration of mobe leaf extract gel was 3%. This research shows significant resultith p-value of 0.018 (< 0.05) on the closure of the socket wound clinically which means the closure of the wound accelerates because of the mobe leaf 3% extract gel treatment. The distance of fibroblast on microscopically shows significant resultith a p-value of 0.002 (< 0.05), which means that there was an enlargement of the distance fibroblast at the socket wound closure with application of mobe leaf 3% extract gel. From the results of the study it can be concluded that mobe leaf 3% extract gel has the best ability to show acceleration the closure of the socket wound either clinically or microscopically.","PeriodicalId":250739,"journal":{"name":"Dentika: Dental Journal","volume":"18 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"1900-01-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123187386","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}