Yuli Anipah, Nani Kurnaeni, Dewi Nurhayati, Ani Riyani
Pemeriksaan kadar kolesterol total serum merupakan bagian dari pemeriksaan profil lipid yang harus memperhatikan waktu inkubasi agar hasil pemeriksaan yang didapatkan merupakan hasil yang akurat dan valid. Namun, dalam beberapa kasus waktu inkubasi tidak terlalu diperhatikan disebabkan banyaknya permintaan pemeriksaan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh waktu inkubasi 10, 30, 60, 90, 120, dan 150 menit terhadap kadar kolesterol total serum. Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan jumlah sampel 4 orang Mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Bandung. Desain penelitian yang digunakan yaitu quasy experimental dengan memberikan perbedaan perlakuan lama waktu inkubasi pada pemeriksaan kadar kolesterol total serum. Analisis data yang digunakan yaitu Uji General Linear Model (GLM) dan Uji F. Hasil rata-rata kadar kolesterol total serum mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu inkubasi. Uji GLM menunjukkan nilai Sig. waktu inkubasi 30 menit dan 60 menit yaitu 0,561 dan 0,091 dimana nilai Sig. > 0,05 yang artinya kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 30 dan 60 menit secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 10 menit. Nilai Sig. waktu inkubasi 90, 120, dan 150 yaitu 0,000 dimana nilai Sig. < 0,05 yang artinya kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 90, 120 dan 150 menit secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan dengan kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 10 menit. Uji F menunjukkan nilai Sig. 0,000 dimana nilai Sig. < 0,05 yang artinya waktu inkubasi memiliki pengaruh terhadap kadar kolesterol total serum. Terdapat pengaruh penurunan kadar kolesterol total serum seiring bertambahnya waktu inkubasi.
{"title":"PENGARUH VARIASI LAMA WAKTU INKUBASI TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL SERUM METODE Cholesterol Oxidase – Para aminoantypirin (CHOD-PAP)","authors":"Yuli Anipah, Nani Kurnaeni, Dewi Nurhayati, Ani Riyani","doi":"10.34011/jks.v4i1.1453","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1453","url":null,"abstract":"Pemeriksaan kadar kolesterol total serum merupakan bagian dari pemeriksaan profil lipid yang harus memperhatikan waktu inkubasi agar hasil pemeriksaan yang didapatkan merupakan hasil yang akurat dan valid. Namun, dalam beberapa kasus waktu inkubasi tidak terlalu diperhatikan disebabkan banyaknya permintaan pemeriksaan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh waktu inkubasi 10, 30, 60, 90, 120, dan 150 menit terhadap kadar kolesterol total serum. Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan jumlah sampel 4 orang Mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Bandung. Desain penelitian yang digunakan yaitu quasy experimental dengan memberikan perbedaan perlakuan lama waktu inkubasi pada pemeriksaan kadar kolesterol total serum. Analisis data yang digunakan yaitu Uji General Linear Model (GLM) dan Uji F. Hasil rata-rata kadar kolesterol total serum mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu inkubasi. Uji GLM menunjukkan nilai Sig. waktu inkubasi 30 menit dan 60 menit yaitu 0,561 dan 0,091 dimana nilai Sig. > 0,05 yang artinya kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 30 dan 60 menit secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 10 menit. Nilai Sig. waktu inkubasi 90, 120, dan 150 yaitu 0,000 dimana nilai Sig. < 0,05 yang artinya kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 90, 120 dan 150 menit secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan dengan kadar kolesterol total serum waktu inkubasi 10 menit. Uji F menunjukkan nilai Sig. 0,000 dimana nilai Sig. < 0,05 yang artinya waktu inkubasi memiliki pengaruh terhadap kadar kolesterol total serum. Terdapat pengaruh penurunan kadar kolesterol total serum seiring bertambahnya waktu inkubasi.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"105 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136036941","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Nur Azzahra Baiti Dewi, Ganjar Noviar, Adang Durachim, Nina Marliana
Pemeriksaan pra transfusi merupakan suatu rangkaian prosedur pemeriksaan mencocokkan darah resipien dan darah donor yang diperlukan sebelum darah diberikan kepada resipien dengan uji silang serasi atau crossmatch. Sampel yang baik untuk pemeriksaan crossmatch yaitu sampel darah yang baru saja diambil, namun kenyataan dilapangan berbeda, dalam keadaan tertentu sampel darah yang tersedia seringkali berada di suhu kamar dan suhu kulkas 1 sampai 3 hari. Salah satu kesalahan pada pengujian crossmatch yaitu pada proses pra analitik, dimana 60% disebabkan oleh darah hemolisis. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari tingkat hemolisis darah K2EDTA resipien dan pengaruh lama simpan terhadap hasil crossmatch metode gel. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Jumlah sampel yang digunakan adalah 3 sampel dan diambil sebanyak 12 mL. Data dianalisis menggunakan uji statistika Kruskal- Wallis. Hasil uji crossmatch pada darah K2EDTA dengan tingkat hemolisis tidak hemolisis, hemolisis ringan, hemolisis sedang, dan hemolisis berat menunjukkan hasil kompatibel. Dan hasil uji crossmatch pada darah K2EDTA dengan lama simpan selama 0 hari, 3 hari, 5 hari, 7 hari menunjukkan hasil kompatibel. Secara statistik didapatkan nilai signifikan(1.000) > α(0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil menunjukkan tidak terdapat pengaruh lama penyimpanan dan tingkat hemolisis darah K2EDTA terhadap hasil crossmatch metode gel.
{"title":"PENGARUH LAMA SIMPAN DAN TINGKAT HEMOLISIS DARAH K2EDTA RESIPIEN TERHADAP HASIL CROSSMATCH METODE GEL","authors":"Nur Azzahra Baiti Dewi, Ganjar Noviar, Adang Durachim, Nina Marliana","doi":"10.34011/jks.v4i1.1538","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1538","url":null,"abstract":"Pemeriksaan pra transfusi merupakan suatu rangkaian prosedur pemeriksaan mencocokkan darah resipien dan darah donor yang diperlukan sebelum darah diberikan kepada resipien dengan uji silang serasi atau crossmatch. Sampel yang baik untuk pemeriksaan crossmatch yaitu sampel darah yang baru saja diambil, namun kenyataan dilapangan berbeda, dalam keadaan tertentu sampel darah yang tersedia seringkali berada di suhu kamar dan suhu kulkas 1 sampai 3 hari. Salah satu kesalahan pada pengujian crossmatch yaitu pada proses pra analitik, dimana 60% disebabkan oleh darah hemolisis. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari tingkat hemolisis darah K2EDTA resipien dan pengaruh lama simpan terhadap hasil crossmatch metode gel. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Jumlah sampel yang digunakan adalah 3 sampel dan diambil sebanyak 12 mL. Data dianalisis menggunakan uji statistika Kruskal- Wallis. Hasil uji crossmatch pada darah K2EDTA dengan tingkat hemolisis tidak hemolisis, hemolisis ringan, hemolisis sedang, dan hemolisis berat menunjukkan hasil kompatibel. Dan hasil uji crossmatch pada darah K2EDTA dengan lama simpan selama 0 hari, 3 hari, 5 hari, 7 hari menunjukkan hasil kompatibel. Secara statistik didapatkan nilai signifikan(1.000) > α(0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil menunjukkan tidak terdapat pengaruh lama penyimpanan dan tingkat hemolisis darah K2EDTA terhadap hasil crossmatch metode gel.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136037082","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Mycobacterium tuberculosis masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan inflamasi. Sel makrofag merangsang inflamasi dengan melepaskan sitokin seperti IL-6, di mana IL-6 memicu hati untuk menghasilkan protein fase akut yang disebut CRP dan fibrinogen, yang bertindak sebagai protein ekstraseluler, merangsang fagosit untuk memfagosit bakteri. Monosit memainkan peran penting dalam respon imun terhadap infeksi tuberkulosis. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelatif. Jenis sampling adalah kuota sampling, dimana teknik harus mengalokasikan sampel dari populasi dengan karakteristik tertentu ke kuantitas (kuota) yang diinginkan. Terdapat 16 sampel (53%) yang memiliki persentase monosit dan CRP dalam kisaran normal, 3 sampel (10%) memiliki monosit dalam kisaran normal tetapi CRP meningkat, 5 sampel (17%) memiliki monosit meningkat, tetapi nilai CRP dalam kisaran normal dan 6 sampel (20%) menunjukkan peningkatan jumlah monosit dan kadar CRP. Pada penderita tuberkulosis paru, setelah tiga bulan pengobatan, terdapat hubungan antara proporsi monosit dengan kadar CRP. Secara statistik uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan nilai signifikansi 0,010 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,463 artinya hubungan kedua variabel searah dengan kategori hubungan cukup.
{"title":"HUBUNGAN KADAR CRP DENGAN PERSENTASE MONOSIT PADA PASIEN TB PARU SETELAH PENGOBATAN 3 BULAN","authors":"Febrias Irawati, Rohayati Rohayati, Nina Marliana, Yogi Khoirul Abror","doi":"10.34011/jks.v4i1.1451","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1451","url":null,"abstract":"Mycobacterium tuberculosis masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan inflamasi. Sel makrofag merangsang inflamasi dengan melepaskan sitokin seperti IL-6, di mana IL-6 memicu hati untuk menghasilkan protein fase akut yang disebut CRP dan fibrinogen, yang bertindak sebagai protein ekstraseluler, merangsang fagosit untuk memfagosit bakteri. Monosit memainkan peran penting dalam respon imun terhadap infeksi tuberkulosis. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelatif. Jenis sampling adalah kuota sampling, dimana teknik harus mengalokasikan sampel dari populasi dengan karakteristik tertentu ke kuantitas (kuota) yang diinginkan. Terdapat 16 sampel (53%) yang memiliki persentase monosit dan CRP dalam kisaran normal, 3 sampel (10%) memiliki monosit dalam kisaran normal tetapi CRP meningkat, 5 sampel (17%) memiliki monosit meningkat, tetapi nilai CRP dalam kisaran normal dan 6 sampel (20%) menunjukkan peningkatan jumlah monosit dan kadar CRP. Pada penderita tuberkulosis paru, setelah tiga bulan pengobatan, terdapat hubungan antara proporsi monosit dengan kadar CRP. Secara statistik uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan nilai signifikansi 0,010 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,463 artinya hubungan kedua variabel searah dengan kategori hubungan cukup.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"38 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136036943","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Stunting adalah kondisi dimana anak di bawah usia 5 tahun tidak berkembang akibat kekurangan gizi baik di dalam kandungan maupun di usia muda ketika anak masih terlalu muda untuk usianya. Anemia defisiensi besi dapat menjadi penyebab stunting yang disebabkan oleh defisiensi mikronutrien. Hitung darah lengkap penting karena dapat mendeteksi anemia, leukositosis, dan trombositosis, yang umum terjadi pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan hitung darah lengkap pada bayi dengan keterlambatan tumbuh kembang di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cibeber Banten. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis observasi deskriptif. Berdasarkan hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cibeber Banten dilakukan pemeriksaan darah lengkap bayi stunting akibat stunting sebesar 64 µlita saat anemia atau hemoglobin. berada di bawah. Nilai normal dengan rata-rata hemoglobin 10,9 g/dL dengan range nilai normal 11,5 - 13,0 g/dL, 60 % nya mengalami penurunan nilai hematokrit di bawah nilai normal dengan rata - rata nilai hematokritnya 32 % dengan range nilai normal 34 - 39 % dan 50 % nya memiliki nilai monosit yang di bawah nilai normal dengan rata - rata nilai monositnya 3 % dengan range nilai normal 3 - 6 %. Sedangkan untuk jenis anemia berdasarkan morfologinya anemia normokrom normositer sebanyak 31,25%, anemia normokrom mikrositer sebanyak 50% dan anemia hipokrom mikrositer sebanyak 18,75%.
{"title":"GAMBARAN DARAH LENGKAP PADA BALITA STUNTING di WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS CIBEBER BANTEN","authors":"Ika Legowati Ayuningsari, Betty Nurhayati, Adang Durachim, Nina Marliana","doi":"10.34011/jks.v4i1.1448","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1448","url":null,"abstract":"Stunting adalah kondisi dimana anak di bawah usia 5 tahun tidak berkembang akibat kekurangan gizi baik di dalam kandungan maupun di usia muda ketika anak masih terlalu muda untuk usianya. Anemia defisiensi besi dapat menjadi penyebab stunting yang disebabkan oleh defisiensi mikronutrien. Hitung darah lengkap penting karena dapat mendeteksi anemia, leukositosis, dan trombositosis, yang umum terjadi pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan hitung darah lengkap pada bayi dengan keterlambatan tumbuh kembang di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cibeber Banten. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis observasi deskriptif. Berdasarkan hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cibeber Banten dilakukan pemeriksaan darah lengkap bayi stunting akibat stunting sebesar 64 µlita saat anemia atau hemoglobin. berada di bawah. Nilai normal dengan rata-rata hemoglobin 10,9 g/dL dengan range nilai normal 11,5 - 13,0 g/dL, 60 % nya mengalami penurunan nilai hematokrit di bawah nilai normal dengan rata - rata nilai hematokritnya 32 % dengan range nilai normal 34 - 39 % dan 50 % nya memiliki nilai monosit yang di bawah nilai normal dengan rata - rata nilai monositnya 3 % dengan range nilai normal 3 - 6 %. Sedangkan untuk jenis anemia berdasarkan morfologinya anemia normokrom normositer sebanyak 31,25%, anemia normokrom mikrositer sebanyak 50% dan anemia hipokrom mikrositer sebanyak 18,75%.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"41 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136036939","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Fiksasi merupakan tahapan pertama yang dilakukan pada pembuatan preparat histologi yang tujuannya adalah untuk mengawetkan struktur dan unsur-unsur jaringan agar dalam keadaan yang sama dengan keadaan asli jaringan. Larutan untuk fiksasi yang biasa digunakan adalah Neutral Buffer Formalin 10%. Etanol 50% memiliki kandungan Formaldehide yang memiliki kemampuan untuk mengawetkan jaringan. Penelitian ini bertujuan ialah mengetahui apakah larutan fiksatif Etanol 50% dapat digunakan untuk memfiksasi jaringan ginjal. Sampel pada penelitian ini adalah ginjal mencit yang dibuat menjadi 20 sediaan preparat, yang berasal dari 10 jaringan ginjal difiksasi menggunakan Neutral Buffer Formalin 10% sebagai kontrol dan 10 jaringan ginjal yang difiksasi menggunakan Etanol 50% sebagai pembanding yang sama-sama difiksasi selama 24 jam. Parameter penelitian ini diantaranya pengukuran penyusutan pada jaringan sebelum dan sesudah difiksasi, artefak dan purification yang disebabkan oleh proses fiksasi jaringan. Uji stsatistik yang digunakan yaitu Kruskall Wallis jika data yang distribusinya normal dan uji Mann Whitney apabila data tidak terdistribusi secara normal. Distribusi data pada pengamatan penyusutan jaringan dan artefak tidak normal. Berdasarkan hasil nilai uji Mann Whitney, didapatkan nilai Asymp Sig. (2-tailed) yaitu 1.000 yang mana keduanya bernilai >0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara penggunaan Neutral Buffer Formalin 10% dan Etanol 50% sebagai larutan fiksasi jaringan ginjal.
{"title":"PERBANDINGAN KUALITAS HASIL PREPARAT HISTOLOGI JARINGAN GINJAL DENGAN FIKSASI MENGGUNAKAN NEUTRAL BUFFER FORMALIN 10% DAN ETANOL 50%","authors":"Qatrunnada Salsabila, Adang Durachim, Wiwin Wiryanti, Mamat Rahmat","doi":"10.34011/jks.v4i1.1489","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1489","url":null,"abstract":"Fiksasi merupakan tahapan pertama yang dilakukan pada pembuatan preparat histologi yang tujuannya adalah untuk mengawetkan struktur dan unsur-unsur jaringan agar dalam keadaan yang sama dengan keadaan asli jaringan. Larutan untuk fiksasi yang biasa digunakan adalah Neutral Buffer Formalin 10%. Etanol 50% memiliki kandungan Formaldehide yang memiliki kemampuan untuk mengawetkan jaringan. Penelitian ini bertujuan ialah mengetahui apakah larutan fiksatif Etanol 50% dapat digunakan untuk memfiksasi jaringan ginjal. Sampel pada penelitian ini adalah ginjal mencit yang dibuat menjadi 20 sediaan preparat, yang berasal dari 10 jaringan ginjal difiksasi menggunakan Neutral Buffer Formalin 10% sebagai kontrol dan 10 jaringan ginjal yang difiksasi menggunakan Etanol 50% sebagai pembanding yang sama-sama difiksasi selama 24 jam. Parameter penelitian ini diantaranya pengukuran penyusutan pada jaringan sebelum dan sesudah difiksasi, artefak dan purification yang disebabkan oleh proses fiksasi jaringan. Uji stsatistik yang digunakan yaitu Kruskall Wallis jika data yang distribusinya normal dan uji Mann Whitney apabila data tidak terdistribusi secara normal. Distribusi data pada pengamatan penyusutan jaringan dan artefak tidak normal. Berdasarkan hasil nilai uji Mann Whitney, didapatkan nilai Asymp Sig. (2-tailed) yaitu 1.000 yang mana keduanya bernilai >0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara penggunaan Neutral Buffer Formalin 10% dan Etanol 50% sebagai larutan fiksasi jaringan ginjal.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136037254","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Sarah Maulidia Amri, Iis Kurniati, Yuliansyah Mulya Sundara, Asep Dermawan
Dermatofitosis adalah penyakit kulit disebabkan oleh jamur dermatofita yang bersifat keratinofilik. Tepung biji nangka memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi tepung biji nangka yang optimal untuk pertumbuhan Trichophyton rubrum. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment dengan empat perlakuan dan tiga pengulangan, yaitu konsentrasi tepung biji nangka sebesar 6,5%, 8,5% dan 10,5%, serta kontrol menggunakan SDA. Trichophyton rubrum diinokulasikan secara single dot pada media SDA dan media tepung biji nangka, kemudian diamati selama 3, 5, 7, dan 10 hari. Pengamatan dilakukan secara makroskopis (ukuran diameter dan karakteristik jamur) serta mikroskopis (hifa, makrokonidia, dan mikrokonidia). Data hasil penelitian dianalisis secara parametrik menggunakan Two Away Anova. Hasil penelitian ini menunjukkan pertumbuhan Trichophyton rubrum pada media alternatif tepung biji nangka dengan konsentrasi 8,5% setara dengan pertumbuhan pada kontrol SDA.
{"title":"PENGGUNAAN TEPUNG BIJI NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lamk) SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA Sabouraud Dextrose Agar UNTUK PERTUMBUHAN Trichophyton rubrum","authors":"Sarah Maulidia Amri, Iis Kurniati, Yuliansyah Mulya Sundara, Asep Dermawan","doi":"10.34011/jks.v4i1.1481","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1481","url":null,"abstract":"Dermatofitosis adalah penyakit kulit disebabkan oleh jamur dermatofita yang bersifat keratinofilik. Tepung biji nangka memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi tepung biji nangka yang optimal untuk pertumbuhan Trichophyton rubrum. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment dengan empat perlakuan dan tiga pengulangan, yaitu konsentrasi tepung biji nangka sebesar 6,5%, 8,5% dan 10,5%, serta kontrol menggunakan SDA. Trichophyton rubrum diinokulasikan secara single dot pada media SDA dan media tepung biji nangka, kemudian diamati selama 3, 5, 7, dan 10 hari. Pengamatan dilakukan secara makroskopis (ukuran diameter dan karakteristik jamur) serta mikroskopis (hifa, makrokonidia, dan mikrokonidia). Data hasil penelitian dianalisis secara parametrik menggunakan Two Away Anova. Hasil penelitian ini menunjukkan pertumbuhan Trichophyton rubrum pada media alternatif tepung biji nangka dengan konsentrasi 8,5% setara dengan pertumbuhan pada kontrol SDA.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"42 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136037079","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Mutianingrum Kusumawati, Iis Kurniati, Asep Dermawan, Yeni Wahyuni, Irmawanty Setiaputri
Streptococcus pneumoniae (S. pneumoniae) secara mikroskopis Gram positif berbentuk kokus berpasangan, mempunyai kapsul polisakarida, bersifat patogen menyebabkan infeksi pneumonia, bakteriemia, meningitis, dan otitis media akut. Pemeriksaan S. pneumoniae tumbuh pada media yang diperkaya seperti agar darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi darah dan waktu inkubasi yang optimum untuk pertumbuhan S. pneumoniae. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan membandingkan konsentrasi darah 7%, 9% dan 12% dengan kelompok kontrol 5% yang diinkubasi pada 24 jam dan 48 jam. Diamati jumlah koloni, diameter koloni dan sifat alfa-hemolisis. Data yang diperoleh diuji statistik dengan ANOVA. Hasil penelitian: Uji homogenitas keseluruhan nilai p ≥ 0.050. Hasil analisis secara statistik perbedaan jumlah S. pneumoniae berdasarkan konsentrasi dan waktu inkubasi diperoleh nilai F hitung 0,194 dan nilai signifikansi 0,900 lebih besar dari taraf signifikansi 0,050, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan Jumlah S. pneumoniae. Perbedaan diameter koloni S. pneumoniae berdasarkan konsentrasi dan waktu inkubasi diperoleh nilai F hitung 5,916 dan nilai signifikansi 0,002 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,050, yang artinya dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan diameter koloni S. pneumoniae. Kesimpulan: Berdasarkan uji statistik, menunjukkan bahwa konsentrasi darah yang optimum untuk pertumbuhan S. pneumoniae adalah 12%, dan waktu inkubasi yang optimum adalah 48 jam.
{"title":"PENGARUH KONSENTRASI DARAH DOMBA DAN WAKTU INKUBASI TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus pneumoniae","authors":"Mutianingrum Kusumawati, Iis Kurniati, Asep Dermawan, Yeni Wahyuni, Irmawanty Setiaputri","doi":"10.34011/jks.v4i1.1525","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1525","url":null,"abstract":"Streptococcus pneumoniae (S. pneumoniae) secara mikroskopis Gram positif berbentuk kokus berpasangan, mempunyai kapsul polisakarida, bersifat patogen menyebabkan infeksi pneumonia, bakteriemia, meningitis, dan otitis media akut. Pemeriksaan S. pneumoniae tumbuh pada media yang diperkaya seperti agar darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi darah dan waktu inkubasi yang optimum untuk pertumbuhan S. pneumoniae. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan membandingkan konsentrasi darah 7%, 9% dan 12% dengan kelompok kontrol 5% yang diinkubasi pada 24 jam dan 48 jam. Diamati jumlah koloni, diameter koloni dan sifat alfa-hemolisis. Data yang diperoleh diuji statistik dengan ANOVA. Hasil penelitian: Uji homogenitas keseluruhan nilai p ≥ 0.050. Hasil analisis secara statistik perbedaan jumlah S. pneumoniae berdasarkan konsentrasi dan waktu inkubasi diperoleh nilai F hitung 0,194 dan nilai signifikansi 0,900 lebih besar dari taraf signifikansi 0,050, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan Jumlah S. pneumoniae. Perbedaan diameter koloni S. pneumoniae berdasarkan konsentrasi dan waktu inkubasi diperoleh nilai F hitung 5,916 dan nilai signifikansi 0,002 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,050, yang artinya dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan diameter koloni S. pneumoniae. Kesimpulan: Berdasarkan uji statistik, menunjukkan bahwa konsentrasi darah yang optimum untuk pertumbuhan S. pneumoniae adalah 12%, dan waktu inkubasi yang optimum adalah 48 jam.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"63 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136037085","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Asuhan kebidanan komprehensif yang menjiwai ruh filosofi kebidanan meyakini bahwa proses kehamilan dan persalinan merupakan hal yang fisiologis. Prinsip kenormalan ini dapat dijaga dengan memperhatikan kesejahteraan ibu serta janin. SEFT sebagai salah satu metode komplementer membantu mengurangi kecemasan dan rasa nyeri saat persalinan. Laporan ini menggunakan pendekatan studi kasus melalui asuhan komprehensif pada Ny. S dengan melakukan penerapan terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukakarya sejak bulan Januari sampai Maret 2023 dengan subyek kasus adalah perempuan dengan usia kehamilan 36 minggu. Pada asuhan kehamilan trimester tiga ditemukan perasaan cemas karena belum adanya tanda persalinan dapat teratasi dengan dukungan psikologis dan terdapat kenaikan berat badan yang kurang. Pada persalinan kecemasan dan rasa nyeri berkurang serta durasi menjadi lebih pendek karena penerapan SEFT. Pada masa nifas klien menjadi lebih tenang, percaya diri, siap menjadi ibu dan yakin berhasil menyusui dengan penerapan terapi komplementer SEFT sehingga pertumbuhan bayi menjadi lebih optimal. Terjadi kesenjangan berupa penjahitan tanpa anestesi lidokain, prosedur pemulangan pasien serta pemberian antibiotik tanpa adanya komplikasi. Seluruh masalah dapat teratasi kecuali belum terpantau kenaikan berat badan saat hamil disebabkan sebelum melakukan kunjungan berikutnya sudah memasuki tahap persalinan.
{"title":"ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. S DENGAN PENERAPAN TERAPI SEFT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKAKARYA KABUPATEN GARUT","authors":"Rina Nur Ajijah, Titi Legiati","doi":"10.34011/jks.v4i1.1547","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1547","url":null,"abstract":"Asuhan kebidanan komprehensif yang menjiwai ruh filosofi kebidanan meyakini bahwa proses kehamilan dan persalinan merupakan hal yang fisiologis. Prinsip kenormalan ini dapat dijaga dengan memperhatikan kesejahteraan ibu serta janin. SEFT sebagai salah satu metode komplementer membantu mengurangi kecemasan dan rasa nyeri saat persalinan. Laporan ini menggunakan pendekatan studi kasus melalui asuhan komprehensif pada Ny. S dengan melakukan penerapan terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukakarya sejak bulan Januari sampai Maret 2023 dengan subyek kasus adalah perempuan dengan usia kehamilan 36 minggu. Pada asuhan kehamilan trimester tiga ditemukan perasaan cemas karena belum adanya tanda persalinan dapat teratasi dengan dukungan psikologis dan terdapat kenaikan berat badan yang kurang. Pada persalinan kecemasan dan rasa nyeri berkurang serta durasi menjadi lebih pendek karena penerapan SEFT. Pada masa nifas klien menjadi lebih tenang, percaya diri, siap menjadi ibu dan yakin berhasil menyusui dengan penerapan terapi komplementer SEFT sehingga pertumbuhan bayi menjadi lebih optimal. Terjadi kesenjangan berupa penjahitan tanpa anestesi lidokain, prosedur pemulangan pasien serta pemberian antibiotik tanpa adanya komplikasi. Seluruh masalah dapat teratasi kecuali belum terpantau kenaikan berat badan saat hamil disebabkan sebelum melakukan kunjungan berikutnya sudah memasuki tahap persalinan.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"43 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136036235","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Avian Influenza H5N1 memiliki patogenisitas tinggi (HPAI H5N1) yang telah diketahui menginfeksi hewan dan manusia. Ciri utama Avian Influenza yaitu memiliki protein hemaglutinin. Protein hemaglutinin mempunyai kemampuan mengaglutinasi sel darah merah. Berdasarkan kemampuan protein tersebut, maka dapat dilakukan uji hemaglutinasi. Aktifitas protein hemaglutinin dapat dipengaruhi oleh suhu dan masa inkubasi. Pada uji hemaglutinasi dibutuhkan sel darah merah sebagai reseptor pengikatan protein hemaglutinin. Selain sel darah merah ayam sebagai reseptor, sel darah merah manusia golongan O juga dapat dijadikan sebagai reseptor bagi protein hemaglutinin. Avian influenza H5N1 mengenali asam sialat α-2,3-galaktosa pada unggas, sedangkan pada manusia mengenali asam sialat α-2,6-galaktosa yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan suhu dan masa inkubasi yang optimum untuk uji hemaglutinasi Avian Influenza H5N1 dengan sel darah merah manusia golongan O. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi ekperimen, sedangkan desain penelitian yang digunakan adalah Post-test Control Group Design. Sampel yang digunakan berupa virus inaktif Avian Influenza H5N1 untuk diuji hemaglutinasi dengan sel darah merah golongan O. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji two-way ANOVA pada SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan masa inkubasi yang optimum dengan sel darah merah golongan O adalah pada suhu 25oC dan masa inkubasi selama 60 menit.
{"title":"OPTIMASI SUHU DAN MASA INKUBASI PADA UJI HEMAGLUTINASI AVIAN INFLUENZA H5N1 DENGAN SEL DARAH MERAH MANUSIA GOLONGAN O","authors":"Ridwan Ilhamsyah, Iis Kurniati, Asep Dermawan, Eem Hayati","doi":"10.34011/jks.v4i1.1462","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1462","url":null,"abstract":"Avian Influenza H5N1 memiliki patogenisitas tinggi (HPAI H5N1) yang telah diketahui menginfeksi hewan dan manusia. Ciri utama Avian Influenza yaitu memiliki protein hemaglutinin. Protein hemaglutinin mempunyai kemampuan mengaglutinasi sel darah merah. Berdasarkan kemampuan protein tersebut, maka dapat dilakukan uji hemaglutinasi. Aktifitas protein hemaglutinin dapat dipengaruhi oleh suhu dan masa inkubasi. Pada uji hemaglutinasi dibutuhkan sel darah merah sebagai reseptor pengikatan protein hemaglutinin. Selain sel darah merah ayam sebagai reseptor, sel darah merah manusia golongan O juga dapat dijadikan sebagai reseptor bagi protein hemaglutinin. Avian influenza H5N1 mengenali asam sialat α-2,3-galaktosa pada unggas, sedangkan pada manusia mengenali asam sialat α-2,6-galaktosa yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan suhu dan masa inkubasi yang optimum untuk uji hemaglutinasi Avian Influenza H5N1 dengan sel darah merah manusia golongan O. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi ekperimen, sedangkan desain penelitian yang digunakan adalah Post-test Control Group Design. Sampel yang digunakan berupa virus inaktif Avian Influenza H5N1 untuk diuji hemaglutinasi dengan sel darah merah golongan O. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji two-way ANOVA pada SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan masa inkubasi yang optimum dengan sel darah merah golongan O adalah pada suhu 25oC dan masa inkubasi selama 60 menit.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"59 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136036947","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan yang berkesinambungan sejak masa kehamilan hingga masa nifas. Saat proses persalinan ibu mengalami rasa nyeri fisiologis, dikarenakan adanya kontraksi uterus. Agar rasa nyeri ini berkurang, bidan dapat memfasilitasi pemberian asuhan pain relief metode counter pressure. Asuhan ini dilakukan dengan penerapan evidence based melalui manajemen Varney, hingga dapat disusun menjadi laporan studi kasus. Asuhan ini di mulai sejak Maret hingga Mei 2023, yaitu ketika klien memiliki usia kehamilan 38 minggu hingga masa nifas. Asuhan ini dilakukan di Puskesmas Balubur Limbangan dan di rumah klien yaitu di Desa Dunguswiru. Ketika masa kehamilan, ibu mengalami ketidaknyamanan fisiologis trimester III yaitu pegal pada bagian pinggang dan kencang pada bagian perut. Lalu, pada masa persalinan penulis melakukan penerapan pain relief metode counter pressure yang dievaluasi menggunakan pengukuran skala nyeri numeric rating scale. Klien merespon baik, juga rasa nyeri yang dirasakannya berkurang dan merasa lebih nyaman. Selanjutnya, pada masa nifas tidak ditemukan masalah dan ibu memlih kontrasepsi suntik DMPA. Lalu pada asuhan bayi baru lahir, bayi mengalami penurunan berat badan sebanyak 200 gram pada minggu pertama, penurunan ini masih dalam batas normal karena bayi beradaptasi dengan dunia luar. Selama asuhan komprehensif dilakukan masih terdapat kesenjangan yang terjadi. Antara lain mengenai edukasi nutrisi yang kurang tepat, juga penulis kurang teliti dalam mengategorikan IMT hingga tidak mendeteksi adanya overweight. Setelah asuhan dilakukan, diharapkan bidan dapat menerapkan pain relief metode counter pressure dalam persalinan. Selain itu, bidan juga diharapkan memberikan edukasi sesuai dengan kebutuhan klien dan mendeteksi dini resiko yang dapat terjadi pada klien.
{"title":"ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. A DENGAN PENERAPAN PAIN RELIEF METODE COUNTER PRESSURE","authors":"Alifiya Salma, Yulinda Pulungan","doi":"10.34011/jks.v4i1.1608","DOIUrl":"https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1608","url":null,"abstract":"Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan yang berkesinambungan sejak masa kehamilan hingga masa nifas. Saat proses persalinan ibu mengalami rasa nyeri fisiologis, dikarenakan adanya kontraksi uterus. Agar rasa nyeri ini berkurang, bidan dapat memfasilitasi pemberian asuhan pain relief metode counter pressure. Asuhan ini dilakukan dengan penerapan evidence based melalui manajemen Varney, hingga dapat disusun menjadi laporan studi kasus. Asuhan ini di mulai sejak Maret hingga Mei 2023, yaitu ketika klien memiliki usia kehamilan 38 minggu hingga masa nifas. Asuhan ini dilakukan di Puskesmas Balubur Limbangan dan di rumah klien yaitu di Desa Dunguswiru. Ketika masa kehamilan, ibu mengalami ketidaknyamanan fisiologis trimester III yaitu pegal pada bagian pinggang dan kencang pada bagian perut. Lalu, pada masa persalinan penulis melakukan penerapan pain relief metode counter pressure yang dievaluasi menggunakan pengukuran skala nyeri numeric rating scale. Klien merespon baik, juga rasa nyeri yang dirasakannya berkurang dan merasa lebih nyaman. Selanjutnya, pada masa nifas tidak ditemukan masalah dan ibu memlih kontrasepsi suntik DMPA. Lalu pada asuhan bayi baru lahir, bayi mengalami penurunan berat badan sebanyak 200 gram pada minggu pertama, penurunan ini masih dalam batas normal karena bayi beradaptasi dengan dunia luar. Selama asuhan komprehensif dilakukan masih terdapat kesenjangan yang terjadi. Antara lain mengenai edukasi nutrisi yang kurang tepat, juga penulis kurang teliti dalam mengategorikan IMT hingga tidak mendeteksi adanya overweight. Setelah asuhan dilakukan, diharapkan bidan dapat menerapkan pain relief metode counter pressure dalam persalinan. Selain itu, bidan juga diharapkan memberikan edukasi sesuai dengan kebutuhan klien dan mendeteksi dini resiko yang dapat terjadi pada klien.","PeriodicalId":485404,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan Siliwangi","volume":"46 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136037080","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}