Elizabeth Handini, Popi Aprilianti, Sasanti Widiarsih
Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. merupakan salah satu jenis anggrek terrestrial yang banyak dijadikan sebagai tanaman hias karena memiliki bunga dengan bentuk dan warna yang menarik dan bervariasi, serta memiliki potensi sebagai tumbuhan obat. Mutasi dengan iradiasi sinar gamma dapat dilakukan untuk meningkatkan keragaman morfologi jenis ini, seperti tanaman yang berbatang lebih pendek dan masa berbunga yang lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan radiosensitivitas protokorm A. graminifolia terhadap sinar gamma dan mengevaluasi keragaman pertumbuhan planlet yang telah diinduksi dengan sinar gamma sampai tahap subkultur kedua setelah iradiasi (tahap M1V2). Protokorm yang berumur 3 bulan setelah semai diiradiasi dengan dosis 0, 15, 30, dan 45 Gy. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kemungkinan dosis yang mampu mematikan 20–50% populasi (LD20–50) berada pada kisaran 49,68–73,96 Gy. Dosis iradiasi 15–30 Gy telah mampu menurunkan rerata tinggi tanaman dan panjang daun, serta menekan pembentukan daun dan tunas pada tahap planlet. Planlet pada dosis iradiasi tersebut juga dapat bertahan hidup dan diharapkan memunculkan mutan baru untuk seleksi bibit unggul.
{"title":"STUDI AWAL PEMULIAAN Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. (ORCHIDACEAE) MENGGUNAKAN IRADIASI SINAR GAMMA","authors":"Elizabeth Handini, Popi Aprilianti, Sasanti Widiarsih","doi":"10.55981/bkr.2022.793","DOIUrl":"https://doi.org/10.55981/bkr.2022.793","url":null,"abstract":"Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. merupakan salah satu jenis anggrek terrestrial yang banyak dijadikan sebagai tanaman hias karena memiliki bunga dengan bentuk dan warna yang menarik dan bervariasi, serta memiliki potensi sebagai tumbuhan obat. Mutasi dengan iradiasi sinar gamma dapat dilakukan untuk meningkatkan keragaman morfologi jenis ini, seperti tanaman yang berbatang lebih pendek dan masa berbunga yang lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan radiosensitivitas protokorm A. graminifolia terhadap sinar gamma dan mengevaluasi keragaman pertumbuhan planlet yang telah diinduksi dengan sinar gamma sampai tahap subkultur kedua setelah iradiasi (tahap M1V2). Protokorm yang berumur 3 bulan setelah semai diiradiasi dengan dosis 0, 15, 30, dan 45 Gy. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kemungkinan dosis yang mampu mematikan 20–50% populasi (LD20–50) berada pada kisaran 49,68–73,96 Gy. Dosis iradiasi 15–30 Gy telah mampu menurunkan rerata tinggi tanaman dan panjang daun, serta menekan pembentukan daun dan tunas pada tahap planlet. Planlet pada dosis iradiasi tersebut juga dapat bertahan hidup dan diharapkan memunculkan mutan baru untuk seleksi bibit unggul.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121969086","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Arief Noor Rachmadiyanto, D. Setyanti, Lutfi Rahmaningtiyas, Saripudin, Usman, Zuhanto, Agus Suhatman
Eucalyptus alba Reinw. ex Blume merupakan pohon pusaka di Kebun Raya Bogor yang ditanam pada tahun 1892 (umur 130 tahun di tahun 2022), hanya ada satu spesimen, dan memiliki bentuk batang yang unik. Pohon dengan kategori pusaka ini perlu dilestarikan dengan memperhatikan kondisi kesehatannya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi kesehatan pohon secara visual dan teknologi tomografi serta rekomendasi penanganannya. Metode yang digunakan adalah pengamatan visual berdasarkan International Society of Arboriculture dan teknologi tomografi menggunakan PiCUS 3 Sonic Tomograph. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara visual E. alba memiliki potensi tumbang/patah yang rendah pada batang utama. Namun setelah dilakukan pengukuran pelapukan pada batang utama di berbagai level ketinggian dengan teknologi tomografi, hasilnya adalah di ketinggian 50 cm (95%), 140 cm (76%), 550 cm (18%), dan 810 cm (11%). Oleh karena itu, E. alba memiliki potensi tumbang yang besar pada batang bagian bawah karena persentase pelapukan yang melebihi 70% dengan diameter yang besar (275 cm). Rekomendasi penanganan pohon berisiko adalah mempertahankan proses fisiologis pohon dengan menjaga kesuburan tanah, pemasangan umpan rayap, pembuatan pagar melingkar ke arah utara, pengukuran pelapukan berkala (satu tahun sekali), dan pemberian papan informasi terkait kondisi terkini dan mitigasi bahayanya. Penebangan total atau sebagian tidak direkomendasikan mengingat status E. alba sebagai pohon pusaka.
{"title":"ASESMEN KESEHATAN POHON PUSAKA Eucalyptus alba Reinw. ex Blume DI KEBUN RAYA BOGOR SECARA VISUAL DAN TEKNOLOGI TOMOGRAFI","authors":"Arief Noor Rachmadiyanto, D. Setyanti, Lutfi Rahmaningtiyas, Saripudin, Usman, Zuhanto, Agus Suhatman","doi":"10.55981/bkr.2022.788","DOIUrl":"https://doi.org/10.55981/bkr.2022.788","url":null,"abstract":"Eucalyptus alba Reinw. ex Blume merupakan pohon pusaka di Kebun Raya Bogor yang ditanam pada tahun 1892 (umur 130 tahun di tahun 2022), hanya ada satu spesimen, dan memiliki bentuk batang yang unik. Pohon dengan kategori pusaka ini perlu dilestarikan dengan memperhatikan kondisi kesehatannya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi kesehatan pohon secara visual dan teknologi tomografi serta rekomendasi penanganannya. Metode yang digunakan adalah pengamatan visual berdasarkan International Society of Arboriculture dan teknologi tomografi menggunakan PiCUS 3 Sonic Tomograph. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara visual E. alba memiliki potensi tumbang/patah yang rendah pada batang utama. Namun setelah dilakukan pengukuran pelapukan pada batang utama di berbagai level ketinggian dengan teknologi tomografi, hasilnya adalah di ketinggian 50 cm (95%), 140 cm (76%), 550 cm (18%), dan 810 cm (11%). Oleh karena itu, E. alba memiliki potensi tumbang yang besar pada batang bagian bawah karena persentase pelapukan yang melebihi 70% dengan diameter yang besar (275 cm). Rekomendasi penanganan pohon berisiko adalah mempertahankan proses fisiologis pohon dengan menjaga kesuburan tanah, pemasangan umpan rayap, pembuatan pagar melingkar ke arah utara, pengukuran pelapukan berkala (satu tahun sekali), dan pemberian papan informasi terkait kondisi terkini dan mitigasi bahayanya. Penebangan total atau sebagian tidak direkomendasikan mengingat status E. alba sebagai pohon pusaka.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"64 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125895301","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Lakum plant (Causonis trifolia (L.) Mabb. & J.Wen) contains secondary metabolites with potential medicinal ingredients. It can treat various diseases, such as antidiabetic, antibacterial, antiprotozoal, antitumor, and anti-cancer. Propagation and production of secondary metabolites in plants can be carried out in vitro through callus culture and are influenced by the concentration of growth regulators. This study aimed to determine the effect of NAA (Naphthalene Acetic Acid) and BAP (6-Benzyl Amino Purin) on callus growth of hypocotyl lakum (C. trifolia) explants and to determine the concentration of addition of NAA and BAP that could produce the best callus growth. Completely randomized design (CRD) factorial with two factors adding NAA (0, 0.45, 0.9, and 1.4 µg/l) and BAP (0, 0.23, and 0.56 µg/l). The results showed that adding a single NAA and a combination of NAA and BAP significantly affected callus emergence. The fastest callus emergence was found in a combination of 0.45 µg/l NAA + 0.23 µg/l BAP, 13 days after planting. Both NAA and BAP alone significantly affect the weight of dry and wet callus. The administration of a single NAA and a single BAP had a significant effect on the wet weight and dry weight of callus, with the highest average wet callus weight at a concentration of BAP 0.56 µg/l, which was 4.431 g, and the highest dry weight callus concentration of BAP 0.56 µg/l was 0.192 g.
{"title":"PERTUMBUHAN KULTUR KALUS YANG DIINDUKSI DARI EKSPLAN HIPOKOTIL LAKUM (Causonis trifolia (L.) Mabb. & J.Wen) DENGAN PENAMBAHAN NAA (Naphthalene Acetic Acid) DAN BAP (6-Benzyl Amino Purin)","authors":"Fidella Putri Anjani, E. Rusmiyanto, Zulfa Zakiah","doi":"10.55981/bkr.2022.750","DOIUrl":"https://doi.org/10.55981/bkr.2022.750","url":null,"abstract":"Lakum plant (Causonis trifolia (L.) Mabb. & J.Wen) contains secondary metabolites with potential medicinal ingredients. It can treat various diseases, such as antidiabetic, antibacterial, antiprotozoal, antitumor, and anti-cancer. Propagation and production of secondary metabolites in plants can be carried out in vitro through callus culture and are influenced by the concentration of growth regulators. This study aimed to determine the effect of NAA (Naphthalene Acetic Acid) and BAP (6-Benzyl Amino Purin) on callus growth of hypocotyl lakum (C. trifolia) explants and to determine the concentration of addition of NAA and BAP that could produce the best callus growth. Completely randomized design (CRD) factorial with two factors adding NAA (0, 0.45, 0.9, and 1.4 µg/l) and BAP (0, 0.23, and 0.56 µg/l). The results showed that adding a single NAA and a combination of NAA and BAP significantly affected callus emergence. The fastest callus emergence was found in a combination of 0.45 µg/l NAA + 0.23 µg/l BAP, 13 days after planting. Both NAA and BAP alone significantly affect the weight of dry and wet callus. The administration of a single NAA and a single BAP had a significant effect on the wet weight and dry weight of callus, with the highest average wet callus weight at a concentration of BAP 0.56 µg/l, which was 4.431 g, and the highest dry weight callus concentration of BAP 0.56 µg/l was 0.192 g.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"22 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129795180","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Ikhsan Noviady, Ahmad Junaedi, Slamet Susanto, Muhammad Imam Surya
Kebun Raya Cibodas memiliki 13 jenis koleksi Rubus atau raspberry liar yang berasal dari hutan pegunungan Indonesia. R. rosifolius dan R. fraxinifolius merupakan dua jenis Rubus asli Indonesia yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai tanaman buah. Saat ini, upaya mendomestikasi dan membudidayakan jenis-jenis Rubus terus dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis dan waktu pemberian pupuk terhadap pertumbuhan dan perkembangan R. rosifolius dan R. fraxinifolius. Penelitian dilakukan di Kebun Raya Cibodas menggunakan empat kombinasi perlakukan yaitu K1 (pupuk NPK 4,74 g/pot dengan 1 kali waktu pemberian), K2 (pupuk NPK 9,48 g/pot dengan 2 kali waktu pemberian), K3 (pupuk NPK 14,22 g/pot dengan 3 kali waktu pemberian), K4 (pupuk NPK 18,96 g/pot dengan 4 kali waktu pemberian) dan disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis dan waktu pemberian pupuk tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan R. rosifolius dan R. fraxinifolius, sedangkan faktor jenis Rubus lebih berpengaruh terhadap parameter pertumbuhan R. rosifolius dan R. fraxinifolius. Kombinasi R. rosifolius + K3 dan R. fraxinifolius + K4 menghasilkan nilai rata-rata jumlah buah per tanaman, ukuran, dan bobot buah tertinggi.
西博达斯植物园收藏了 13 种来自印度尼西亚山林的茜草或野生覆盆子。R. rosifolius 和 R. fraxinifolius 是原产于印度尼西亚的两个茜草品种,具有很大的果树开发潜力。目前,驯化和栽培茜草品种的工作仍在继续。本研究旨在确定施肥剂量和时间对 R. rosifolius 和 R. fraxinifolius 生长发育的影响。研究在西博达斯植物园进行,采用四种处理组合,即 K1(氮磷钾肥料 4.74 克/盆,施用 1 次)、K2(氮磷钾肥料 9.48 克/盆,施用 2 次)、K3(氮磷钾肥料 14.22 克/盆,施用 3 次)、K4(氮磷钾肥料 18.96 克/盆,施用 4 次),并采用完全随机分组设计。结果表明,施肥剂量和时间对红花檵木和红花檵木的生长没有显著影响,而茜草品种因素对红花檵木和红花檵木的生长参数影响更大。R. rosifolius + K3 和 R. fraxinifolius + K4 组合产生的平均单株果实数、大小和重量最高。
{"title":"RESPONS PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN Rubus rosifolius Sm. DAN Rubus fraxinifolius Poir. TERHADAP KOMBINASI DOSIS DAN WAKTU PEMBERIAN PUPUK","authors":"Ikhsan Noviady, Ahmad Junaedi, Slamet Susanto, Muhammad Imam Surya","doi":"10.55981/bkr.2022.798","DOIUrl":"https://doi.org/10.55981/bkr.2022.798","url":null,"abstract":"Kebun Raya Cibodas memiliki 13 jenis koleksi Rubus atau raspberry liar yang berasal dari hutan pegunungan Indonesia. R. rosifolius dan R. fraxinifolius merupakan dua jenis Rubus asli Indonesia yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai tanaman buah. Saat ini, upaya mendomestikasi dan membudidayakan jenis-jenis Rubus terus dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis dan waktu pemberian pupuk terhadap pertumbuhan dan perkembangan R. rosifolius dan R. fraxinifolius. Penelitian dilakukan di Kebun Raya Cibodas menggunakan empat kombinasi perlakukan yaitu K1 (pupuk NPK 4,74 g/pot dengan 1 kali waktu pemberian), K2 (pupuk NPK 9,48 g/pot dengan 2 kali waktu pemberian), K3 (pupuk NPK 14,22 g/pot dengan 3 kali waktu pemberian), K4 (pupuk NPK 18,96 g/pot dengan 4 kali waktu pemberian) dan disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis dan waktu pemberian pupuk tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan R. rosifolius dan R. fraxinifolius, sedangkan faktor jenis Rubus lebih berpengaruh terhadap parameter pertumbuhan R. rosifolius dan R. fraxinifolius. Kombinasi R. rosifolius + K3 dan R. fraxinifolius + K4 menghasilkan nilai rata-rata jumlah buah per tanaman, ukuran, dan bobot buah tertinggi.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"18 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128576862","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pelagodoxa henryana Becc. (Arecaceae) berasal dari Pulau Marquesas (Polinesia Perancis). Menurut Daftar Merah IUCN, status konservasi jenis ini adalah kritis (Critically Endangered-CR). Pertumbuhan enam spesimen koleksi ini di Kebun Raya Bogor (KRB) mengalami kendala karena faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian habitat dan identifikasi hama penyakit yang menyerang P. henryana di KRB. Data lingkungan tumbuh diperoleh dari Unit Registrasi KRB dan observasi langsung. Data tanah diperoleh dari hasil analisis sembilan sampel tanah dari lokasi tumbuh palem ini di KRB. Data hama penyakit dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Seluruh data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di KRB menyerupai habitat alami palem ini, kecuali faktor naungan saja, sehingga perlu pemberian naungan agar paparan sinar matahari pada P. henryana dapat terjadi secara bertahap. Berdasarkan hasil analisis tanah, status kesuburan dan tekstur tanah di KRB kurang cocok untuk P. henryana, sehingga diperlukan pemberian pupuk dengan rasio N:P:K:Mg = 2:1:3:1, pemberian mulsa pada pangkal batang, dan pemberian kapur pertanian. Ada beberapa hama dan penyakit yang ditemukan pada palem ini, namun demikian kumbang janur dan kumbang nipah merupakan hama yang memberikan serangan yang paling signifikan. Kedua kumbang tersebut dapat dikendalikan dengan pemberian belerang dengan dosis satu sendok makan per liter air pada pucuk koleksi dengan gejala dan menginjeksikan pestisida dengan bahan aktif asefat 75% (AMCOTHENE 75 SP) dengan dosis 20 ml/pohon. Pemeliharaan rutin dapat dilakukan dengan memotong bagian-bagian tumbuhan yang sudah mati dan berwarna kecokelatan dengan hati-hati.
{"title":"KAJIAN KESESUAIAN HABITAT DAN IDENTIFIKASI SERANGAN HAMA PENYAKIT PADA Pelagodoxa henryana Becc.: STUDI KASUS DI KEBUN RAYA BOGOR","authors":"Fitriyana Wardani, Inggit Puji Astuti, J. Witono, Rizmoon Nurul Zulkarnaen, Nadzirum Mubin","doi":"10.55981/bkr.2022.787","DOIUrl":"https://doi.org/10.55981/bkr.2022.787","url":null,"abstract":"Pelagodoxa henryana Becc. (Arecaceae) berasal dari Pulau Marquesas (Polinesia Perancis). Menurut Daftar Merah IUCN, status konservasi jenis ini adalah kritis (Critically Endangered-CR). Pertumbuhan enam spesimen koleksi ini di Kebun Raya Bogor (KRB) mengalami kendala karena faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian habitat dan identifikasi hama penyakit yang menyerang P. henryana di KRB. Data lingkungan tumbuh diperoleh dari Unit Registrasi KRB dan observasi langsung. Data tanah diperoleh dari hasil analisis sembilan sampel tanah dari lokasi tumbuh palem ini di KRB. Data hama penyakit dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Seluruh data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di KRB menyerupai habitat alami palem ini, kecuali faktor naungan saja, sehingga perlu pemberian naungan agar paparan sinar matahari pada P. henryana dapat terjadi secara bertahap. Berdasarkan hasil analisis tanah, status kesuburan dan tekstur tanah di KRB kurang cocok untuk P. henryana, sehingga diperlukan pemberian pupuk dengan rasio N:P:K:Mg = 2:1:3:1, pemberian mulsa pada pangkal batang, dan pemberian kapur pertanian. Ada beberapa hama dan penyakit yang ditemukan pada palem ini, namun demikian kumbang janur dan kumbang nipah merupakan hama yang memberikan serangan yang paling signifikan. Kedua kumbang tersebut dapat dikendalikan dengan pemberian belerang dengan dosis satu sendok makan per liter air pada pucuk koleksi dengan gejala dan menginjeksikan pestisida dengan bahan aktif asefat 75% (AMCOTHENE 75 SP) dengan dosis 20 ml/pohon. Pemeliharaan rutin dapat dilakukan dengan memotong bagian-bagian tumbuhan yang sudah mati dan berwarna kecokelatan dengan hati-hati.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"31 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132186664","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Taman Buah Mekarsari mengembangkan beberapa kultivar nangka, antara lain kultivar Telanjang, Mini, Bubur, dan Dulang. Keempat kultivar tersebut dibedakan berdasarkan keunikan buahnya. Keragaman kultivar nangka sangat banyak, namun studi mengenai anatomi daun kultivar nangka yang berbeda belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter anatomi daun beberapa kultivar nangka koleksi Taman Buah Mekarsari, Bogor. Sampel diambil dari tiga pohon untuk tiap kultivar dengan tiga ulangan cabang untuk tiap pohon. Sediaan sayatan paradermal dan transversal dibuat dari daun keempat dari ujung cabang. Hasil pengamatan sayatan paradermal daun menunjukkan sel epidermis berbentuk tidak beraturan dengan dinding sel antiklinal rata hingga berlekuk. Stomata hanya terdapat pada sisi abaksial daun dengan tipe anomositik. Pada kultivar nangka dijumpai dua jenis trikoma, yaitu trikoma kelenjar dan trikoma non kelenjar. Tidak terdapat perbedaan karakter anatomi daun pada semua daun kultivar nangka yang diamati. Hal ini dikarenakan rentang nilai karakter anatomi yang diamati saling tumpang tindih pada keempat kultivar tersebut. Namun demikian, karakter anatomi daun dapat digunakan untuk membedakan kultivar nangka dengan hibrida nangkadak cv. Bola.
Mekarsari fruit park开发了一些库蒂瓦菠萝蜜,其中包括裸品种库蒂瓦、Mini、稀粥和Dulang。库尔蒂瓦的四个特点是它的果实的独特性。不同种类的库蒂瓦尔品种很多,但对不同品种的库蒂瓦叶解剖的研究从未进行过。该研究的目标是研究几种库蒂瓦植物的解剖特性,这些植物收集了茂物,茂物。每个kultivar有三棵树,每棵树有三棵树。树枝末端的第四叶会有样样切口和横向切口。从表面观察到的叶皮切口显示表皮细胞呈不规则的形状,有平的antiklinal细胞壁。Stomata只存在于亚焦叶的端端。在kultivar nnums中发现了两种类型的脑垂体三型和非腺体三型。观察到的所有树叶的解剖特性没有差异。这是因为观察到的解剖学特征在四种文化中相互重叠。然而,叶子的解剖特性可以用来区分树苗nnucs和nangkadak cv的杂交品种。球。
{"title":"PERBANDINGAN KARAKTER ANATOMI DAUN PADA EMPAT KULTIVAR NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lam.) KOLEKSI TAMAN BUAH MEKARSARI, BOGOR","authors":"Raudya Tuzzahra Ramadhani, Nina Ratna Djuita, Dorly","doi":"10.55981/bkr.2022.753","DOIUrl":"https://doi.org/10.55981/bkr.2022.753","url":null,"abstract":"Taman Buah Mekarsari mengembangkan beberapa kultivar nangka, antara lain kultivar Telanjang, Mini, Bubur, dan Dulang. Keempat kultivar tersebut dibedakan berdasarkan keunikan buahnya. Keragaman kultivar nangka sangat banyak, namun studi mengenai anatomi daun kultivar nangka yang berbeda belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter anatomi daun beberapa kultivar nangka koleksi Taman Buah Mekarsari, Bogor. Sampel diambil dari tiga pohon untuk tiap kultivar dengan tiga ulangan cabang untuk tiap pohon. Sediaan sayatan paradermal dan transversal dibuat dari daun keempat dari ujung cabang. Hasil pengamatan sayatan paradermal daun menunjukkan sel epidermis berbentuk tidak beraturan dengan dinding sel antiklinal rata hingga berlekuk. Stomata hanya terdapat pada sisi abaksial daun dengan tipe anomositik. Pada kultivar nangka dijumpai dua jenis trikoma, yaitu trikoma kelenjar dan trikoma non kelenjar. Tidak terdapat perbedaan karakter anatomi daun pada semua daun kultivar nangka yang diamati. Hal ini dikarenakan rentang nilai karakter anatomi yang diamati saling tumpang tindih pada keempat kultivar tersebut. Namun demikian, karakter anatomi daun dapat digunakan untuk membedakan kultivar nangka dengan hibrida nangkadak cv. Bola.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"47 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130655474","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Arief Noor Rachmadiyanto, Muhammad Rifqi Hariri, Enggal Primananda, Agus Suhatman, Ucu Kuswara
Konservasi ex situ merupakan salah satu upaya untuk mengatasi keterancaman dan kepunahan jenis tumbuhan di habitat alamnya. Kebun Raya Bogor merupakan lembaga konservasi ex situ yang memiliki koleksi pohon ikonis dan bernilai sejarah yang perlu dijaga kelestariannya. Penilaian kesehatan pohon merupakan teknik untuk mengidentifikasi kesehatannya, memberikan rekomendasi, dan mitigasi penanganannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kesehatan 12 pohon ikonis dan bernilai sejarah koleksi Kebun Raya Bogor. Survei lapangan menggunakan metode purposive sampling pada pohon yang dikategorikan sebagai pohon ikonis dan bernilai sejarah. Teknik Penilaian kesehatan pohon dilakukan menggunakan dua cara yaitu secara visual (Forest Health Monitoring) dan teknologi gelombang suara sonic tomograph untuk mendeteksi tingkat pelapukan batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kesehatan pohon ikonis dan bernilai sejarah termasuk kategori sehat (67%), kelas kerusakan ringan (25%), kelas kerusakan sedang (8%) dengan nilai rata-rata t/R ratio sebesar 0,82. Keseluruhan pohon dikategorikan aman, kecuali Koompassia excelsa dalam kondisi berbahaya (t/R ratio 0,28). Rekomendasi penanganan pohon ikonis dan bernilai sejarah adalah pengamatan rutin menggunakan metode visual (durasi 1–2 bulan) dan pengamatan menggunakan Sonic tomograph setiap tahunnya.
前物种保护是应对自然栖息地的植物受到威胁和灭绝的努力之一。茂物植物园是前机构,收藏了大量具有历史价值的标志性树木,需要保持保存。树的健康评估是确定其健康、提出建议和减轻其处理方法的一种技术。这项研究的目的是评估12棵标志性树木的健康状况,以及茂物植物园收集的历史价值。实地调查采用了一种被归类为标志性和有历史价值的树的采样方法。对树木健康的评估技术采用了两种视觉方法(森林健康监测)和声波断层技术来检测茎内腐烂的程度。研究结果表明,树龄和历史价值包括健康类别(67%)、小损害等级(25%)、中等损害等级(8%),平均t/R ratio为0.82。整棵树都是安全的,除非库帕西亚处于危险状态(t/R ratio 0.28)。图标和历史价值的处理方案包括经常使用视觉方法(持续时间1 - 2个月)和每年使用声波层图。
{"title":"PENILAIAN KESEHATAN 12 POHON IKONIS DAN BERNILAI SEJARAH DI KEBUN RAYA BOGOR","authors":"Arief Noor Rachmadiyanto, Muhammad Rifqi Hariri, Enggal Primananda, Agus Suhatman, Ucu Kuswara","doi":"10.14203/bkr.v24i3.745","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v24i3.745","url":null,"abstract":"Konservasi ex situ merupakan salah satu upaya untuk mengatasi keterancaman dan kepunahan jenis tumbuhan di habitat alamnya. Kebun Raya Bogor merupakan lembaga konservasi ex situ yang memiliki koleksi pohon ikonis dan bernilai sejarah yang perlu dijaga kelestariannya. Penilaian kesehatan pohon merupakan teknik untuk mengidentifikasi kesehatannya, memberikan rekomendasi, dan mitigasi penanganannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kesehatan 12 pohon ikonis dan bernilai sejarah koleksi Kebun Raya Bogor. Survei lapangan menggunakan metode purposive sampling pada pohon yang dikategorikan sebagai pohon ikonis dan bernilai sejarah. Teknik Penilaian kesehatan pohon dilakukan menggunakan dua cara yaitu secara visual (Forest Health Monitoring) dan teknologi gelombang suara sonic tomograph untuk mendeteksi tingkat pelapukan batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kesehatan pohon ikonis dan bernilai sejarah termasuk kategori sehat (67%), kelas kerusakan ringan (25%), kelas kerusakan sedang (8%) dengan nilai rata-rata t/R ratio sebesar 0,82. Keseluruhan pohon dikategorikan aman, kecuali Koompassia excelsa dalam kondisi berbahaya (t/R ratio 0,28). Rekomendasi penanganan pohon ikonis dan bernilai sejarah adalah pengamatan rutin menggunakan metode visual (durasi 1–2 bulan) dan pengamatan menggunakan Sonic tomograph setiap tahunnya.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129582681","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Grammatophyllum scriptum (L.) Blume atau dikenal sebagai anggrek macan merupakan salah satu anggrek koleksi Kebun Raya Bogor. Jenis ini memiliki perbungaan raksasa dengan ±27 kuntum bunga. Studi ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi stomata dan akar dari planlet G. scriptum hasil iradiasi sinar gamma. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 0, 15, dan 30 Gray (Gy). Hasil pengamatan menunjukkan iradiasi dengan dosis 15 dan 30 Gy memberikan pengaruh yang signifikan pada kerapatan dan lebar minimum bukaan stomata, namun tidak berpengaruh secara signifikan pada jaringan akar. Planlet dengan dosis 30 Gy memiliki jaringan velamen lebih tipis, stomata dengan kerapatan lebih rendah, celah stomata lebih sempit, dan jumlah stomata rusak lebih banyak, bila dibandingkan dengan planlet dosis iradiasi 15 Gy. Perubahan yang terjadi pada stomata dan akar pada dosis yang berbeda sebagai efek dari iradiasi akan memunculkan cara yang berbeda untuk dapat beradaptasi terhadap lingkungan.
{"title":"KARAKTERISASI STOMATA DAN AKAR PLANLET HASIL IRADIASI SINAR GAMMA PADA PROTOKORM Grammatophyllum scriptum (L.) Blume","authors":"Elizabeth Handini, P. Aprilianti, S. Widiarsih","doi":"10.14203/bkr.v24i3.736","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v24i3.736","url":null,"abstract":"Grammatophyllum scriptum (L.) Blume atau dikenal sebagai anggrek macan merupakan salah satu anggrek koleksi Kebun Raya Bogor. Jenis ini memiliki perbungaan raksasa dengan ±27 kuntum bunga. Studi ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi stomata dan akar dari planlet G. scriptum hasil iradiasi sinar gamma. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 0, 15, dan 30 Gray (Gy). Hasil pengamatan menunjukkan iradiasi dengan dosis 15 dan 30 Gy memberikan pengaruh yang signifikan pada kerapatan dan lebar minimum bukaan stomata, namun tidak berpengaruh secara signifikan pada jaringan akar. Planlet dengan dosis 30 Gy memiliki jaringan velamen lebih tipis, stomata dengan kerapatan lebih rendah, celah stomata lebih sempit, dan jumlah stomata rusak lebih banyak, bila dibandingkan dengan planlet dosis iradiasi 15 Gy. Perubahan yang terjadi pada stomata dan akar pada dosis yang berbeda sebagai efek dari iradiasi akan memunculkan cara yang berbeda untuk dapat beradaptasi terhadap lingkungan.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"29 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131803460","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Sarcotheca macrophylla Blume Yang dikenal dengan nama kerumbai merah merupakan tumbuhan endemik Borneo anggota suku Oxalidaceae. Buah dari tumbuhan ini dapat dimakan dan masyarakat Dayak Kenyah di Kutai Barat, Kalimantan Timur memanfaatkannya sebagai sampo. Kajian mengenai taksonomi jenis ini telah dilaporkan, namun kajian mengenai fenofase dan fenologi pembungaan belum pernah ditemukan dalam pustaka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembungaan dan faktor lingkungan yang memengaruhi perkembangan bunga S. macrophylla. Pengamatan deskriptif dari fase perkembangan bunga dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya dilakukan di Kebun Raya Bogor. S. macrophylla memiliki waktu inisiasi pembungaan selama 30 hari. Fase kuncup kecil bunga tunggal berlangsung selama 6 hari. Fase kuncup besar terjadi selama 12 hari. Fase antesis memerlukan waktu selama 1–2 hari. Perkembangan buah membutuhkan waktu selama 36–40 hari. Faktor biotik yang diduga berpengaruh pada proses pembungaan adalah suhu udara. Faktor biotik yang mempengaruhi pembuahan S. macrophylla adalah kunjungan serangga dari Hymenoptera, Curculionidae, Mitidae, dan Cicadellidae.
{"title":"FENOFASE BUNGA Sarcotheca macrophylla Blume (Oxalidaceae) DAN INTERAKSINYA DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN DI KEBUN RAYA BOGOR","authors":"Triadiati, A. Darmawan, Inggit Puji Astuti","doi":"10.14203/bkr.v24i3.739","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v24i3.739","url":null,"abstract":"Sarcotheca macrophylla Blume Yang dikenal dengan nama kerumbai merah merupakan tumbuhan endemik Borneo anggota suku Oxalidaceae. Buah dari tumbuhan ini dapat dimakan dan masyarakat Dayak Kenyah di Kutai Barat, Kalimantan Timur memanfaatkannya sebagai sampo. Kajian mengenai taksonomi jenis ini telah dilaporkan, namun kajian mengenai fenofase dan fenologi pembungaan belum pernah ditemukan dalam pustaka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembungaan dan faktor lingkungan yang memengaruhi perkembangan bunga S. macrophylla. Pengamatan deskriptif dari fase perkembangan bunga dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya dilakukan di Kebun Raya Bogor. S. macrophylla memiliki waktu inisiasi pembungaan selama 30 hari. Fase kuncup kecil bunga tunggal berlangsung selama 6 hari. Fase kuncup besar terjadi selama 12 hari. Fase antesis memerlukan waktu selama 1–2 hari. Perkembangan buah membutuhkan waktu selama 36–40 hari. Faktor biotik yang diduga berpengaruh pada proses pembungaan adalah suhu udara. Faktor biotik yang mempengaruhi pembuahan S. macrophylla adalah kunjungan serangga dari Hymenoptera, Curculionidae, Mitidae, dan Cicadellidae.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"39 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122425438","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jenis polong-polongan (suku Fabaceae) banyak digunakan dalam kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi sebagai tanaman pionir dan penyubur tanah. Kinerja hidrologi pohon jenis polong-polongan dalam kaitannya dengan konservasi tanah dan air belum banyak diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi besarnya lolosan tajuk, aliran batang dan intersepsi empat jenis polong-polongan terseleksi di Kebun Raya Purwodadi. Empat jenis pohon polong-polongan lokal yaitu Pterocarpus indicus, Cassia javanica, Senna siamea, dan Saraca indica diamati kinerja hidrologinya selama 20–30 hari hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat jenis polong-polongan yang memiliki model arsitektur tajuk yang sama yaitu troll dengan variasi karakteristik morfologi pohon dan daun menghasilkan variasi nilai pada intersepsi tajuk, lolosan tajuk dan aliran batang. Intersepsi dan lolosan tajuk keempat jenis pohon mempunyai nilai seimbang berkisar 30–70%, dengan aliran batang yang dihasilkan kecil berkisar 1–2%. Berdasarkan kinerja hidrologinya tersebut, penanaman keempat jenis polong-polongan untuk konservasi tanah dan air memerlukan upaya pengendalian lolosan tajuknya.
{"title":"INTERSEPSI, LOLOSAN TAJUK, DAN ALIRAN BATANG EMPAT JENIS POLONG-POLONGAN UNTUK KONSERVASI TANAH DAN AIR","authors":"Setyawan Agung Danarto, Titut Yulistyarini","doi":"10.14203/bkr.v24i3.759","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v24i3.759","url":null,"abstract":"Jenis polong-polongan (suku Fabaceae) banyak digunakan dalam kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi sebagai tanaman pionir dan penyubur tanah. Kinerja hidrologi pohon jenis polong-polongan dalam kaitannya dengan konservasi tanah dan air belum banyak diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi besarnya lolosan tajuk, aliran batang dan intersepsi empat jenis polong-polongan terseleksi di Kebun Raya Purwodadi. Empat jenis pohon polong-polongan lokal yaitu Pterocarpus indicus, Cassia javanica, Senna siamea, dan Saraca indica diamati kinerja hidrologinya selama 20–30 hari hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat jenis polong-polongan yang memiliki model arsitektur tajuk yang sama yaitu troll dengan variasi karakteristik morfologi pohon dan daun menghasilkan variasi nilai pada intersepsi tajuk, lolosan tajuk dan aliran batang. Intersepsi dan lolosan tajuk keempat jenis pohon mempunyai nilai seimbang berkisar 30–70%, dengan aliran batang yang dihasilkan kecil berkisar 1–2%. Berdasarkan kinerja hidrologinya tersebut, penanaman keempat jenis polong-polongan untuk konservasi tanah dan air memerlukan upaya pengendalian lolosan tajuknya.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"108 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115630505","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}