Tengkawang is referred to a group of approximately 16 species of Shorea producing illipe butter from their kernels. The name Tengkawang mostly referred to the Bornean Illipe Nut, even though they are not restrictly distributed in Borneo. Nine of the 16 species belonging to Shorea Section Pachycarpae , two species of Section Brachypterae , three species of Section Mutica and two species of Section Shorea . Recent phylogenetic studies based on molecular markers considered Section Pachycarpae tend to form a monophyletic group. This present study was aimed to investigate the nature of groupings within Tengkawang and their relatedness based on phenotypic traits. Thirteen species of Shorea and one species of Hopea as an outgroup were selected to perform a phenetic analysis. An UPGMA dendrogram of Tengkawang was obtained using average taxonomic distance. Cluster analysis indicated that genetic distance (Dist coefficient) varied from 0.92 to 0.24. Two main groups were formed, first group contained exclusively Shorea Section Pachycarpae and second group consisted of the remaining species from various Sections The principal Component Analysis (PCA) was also performed and showed the relative position of 13 of Tengkawang in two-dimension. The PCA has also identified 27 morphological traits having important roles in the grouping of Shorea section Pachycarpae . A comparative phylogenetic analysis using several chloroplast genes was also in accordance to the results of phenetic analysis, and that the Bornean endemic Shorea section Pachycarpae was a monophyletic group.
{"title":"PHENETIC ANALYSES OF TENGKAWANG (SHOREA SPP., DIPTEROCARPACEAE)","authors":"K. Yulita","doi":"10.14203/bkr.v19i1.120","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v19i1.120","url":null,"abstract":"Tengkawang is referred to a group of approximately 16 species of Shorea producing illipe butter from their kernels. The name Tengkawang mostly referred to the Bornean Illipe Nut, even though they are not restrictly distributed in Borneo. Nine of the 16 species belonging to Shorea Section Pachycarpae , two species of Section Brachypterae , three species of Section Mutica and two species of Section Shorea . Recent phylogenetic studies based on molecular markers considered Section Pachycarpae tend to form a monophyletic group. This present study was aimed to investigate the nature of groupings within Tengkawang and their relatedness based on phenotypic traits. Thirteen species of Shorea and one species of Hopea as an outgroup were selected to perform a phenetic analysis. An UPGMA dendrogram of Tengkawang was obtained using average taxonomic distance. Cluster analysis indicated that genetic distance (Dist coefficient) varied from 0.92 to 0.24. Two main groups were formed, first group contained exclusively Shorea Section Pachycarpae and second group consisted of the remaining species from various Sections The principal Component Analysis (PCA) was also performed and showed the relative position of 13 of Tengkawang in two-dimension. The PCA has also identified 27 morphological traits having important roles in the grouping of Shorea section Pachycarpae . A comparative phylogenetic analysis using several chloroplast genes was also in accordance to the results of phenetic analysis, and that the Bornean endemic Shorea section Pachycarpae was a monophyletic group.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-01-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131224275","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
E. M. D. Rahayu, D. Sukma, M. Syukur, S. A. Aziz, I. Irawati
Induksi poliploidi pada bibit Phalaenopsis amabilis telah dilakukan menggunakan kolkisin secara in vivo . Induksi poliploidi dilakukan dengan meneteskan kolkisin pada pucuk bibit P. amabilis . Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi kolkisin yang efektif untuk induksi poliploidi bibit P. amabilis dan menghasilkan bibit P. amabilis poliploid. Percobaan disusun dalam rancangan kelompok lengkap teracak dengan satu faktor, yaitu konsentrasi kolkisin. Pucuk bibit P. amabilis ditetesi 0,01 ml kolkisin (0, 1000, 2000, 3000, 4000, dan 5000 mg L -1 ). Hasil percobaan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi kolkisin dari 1000 sampai 5000 mg L -1 tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup dan pertumbuhan bibit pada 24 minggu setelah perlakuan (24 MSP). Bibit P. amabilis poliploid dapat dihasilkan pada penetesan kolkisin 1000, 3000, 4000, dan 5000 mg L -1 dengan konsentrasi kolkisin paling efektif adalah 5000 mg L -1 . Bibit poliploid memiliki ukuran stomata lebih besar dari bibit diploid sebaliknya kerapatan stomatanya lebih rendah.
amabilis的芽孢杆菌的诱导波利普术已经在体内使用了kolkisin。诱导poliploidi的方法是在amabilis的树冠上滴上kolkisin。本研究的目的是获得有效的kolkisin浓度,用于诱导P. amabilis的种子和生产P. amabilis poliploid种子。实验是由一个单一的因素——kolkisin浓度——的一个完整的随机组设计而成的。amabilis测试了0.01毫升的kolkisin(0、1000、2000、3000、4000和5000 mg L -1)。试验结果显示,kolkisin浓度的增加从1000到5000毫克L -1,对治疗后24周的生活水平和种子生长没有真正影响。肌球菌种子可在kolkisin 1000、3000、4000和5000毫克的kolkisin浓度最有效的是5000毫克L -1。聚碳酸酯种子的结节比外交种子的结节更大,而结节种子的密度更低。
{"title":"INDUKSI POLIPLOIDI MENGGUNAKAN KOLKISIN SECARA IN VIVO PADA BIBIT ANGGREK BULAN (Phalaenopsis amabilis (L.) BLUME)","authors":"E. M. D. Rahayu, D. Sukma, M. Syukur, S. A. Aziz, I. Irawati","doi":"10.14203/BKR.V18I1.156","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V18I1.156","url":null,"abstract":"Induksi poliploidi pada bibit Phalaenopsis amabilis telah dilakukan menggunakan kolkisin secara in vivo . Induksi poliploidi dilakukan dengan meneteskan kolkisin pada pucuk bibit P. amabilis . Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi kolkisin yang efektif untuk induksi poliploidi bibit P. amabilis dan menghasilkan bibit P. amabilis poliploid. Percobaan disusun dalam rancangan kelompok lengkap teracak dengan satu faktor, yaitu konsentrasi kolkisin. Pucuk bibit P. amabilis ditetesi 0,01 ml kolkisin (0, 1000, 2000, 3000, 4000, dan 5000 mg L -1 ). Hasil percobaan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi kolkisin dari 1000 sampai 5000 mg L -1 tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup dan pertumbuhan bibit pada 24 minggu setelah perlakuan (24 MSP). Bibit P. amabilis poliploid dapat dihasilkan pada penetesan kolkisin 1000, 3000, 4000, dan 5000 mg L -1 dengan konsentrasi kolkisin paling efektif adalah 5000 mg L -1 . Bibit poliploid memiliki ukuran stomata lebih besar dari bibit diploid sebaliknya kerapatan stomatanya lebih rendah.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"28 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114134744","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Proses pencapaian tujuan konservasi selalu dibatasi oleh berbagai hal, seperti waktu, dana, SDM, maupun kebijakan. Hal ini terjadi juga pada usaha konservasi tumbuhan secara ex situ . Proses menentukan jenis tumbuhan dan lokasi pengoleksian yang tepat selalu menjadi permasalahan yang dihadapi sebelum kegiatan pengoleksian dilaksanakan. Hal ini karena penentuan keputusan perlu mempertimbangkan berbagai hal seperti status konservasi, ketersediaan dana, ketersediaan informasi, waktu, dan resiko keberhasilan tumbuh. Dalam tulisan ini akan dijelaskan kerangka pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas spesies tumbuhan yang akan dijadikan koleksi ex situ . Tiga puluh spesies Rhododendron asli Indonesia yang terancam punah digunakan sebagai contoh. Metode yang digunakan adalah skoring terhadap 11 kriteria. Kriteria tersebut mencakup status spesies (meliputi: status konservasi, status keberhasilan introduksi ex situ , representasi kelompok taksa unik); status lokasi (status dalam area Biodiversity Hotspot dan Global 200 ecoregion, serta perlindungan legal habitat); kemudahan propagasi (meliputi: bentuk hidup, ketinggian habitat, dan jarak antara lokasi dan lembaga ex situ ); efektivitas (jumlah spesies kongenerik simpatrik yang terancam kepunahan); dan biaya pengoleksian. Interpretasi hasil skoring dilakukan dengan sistem peringkat. Berdasarkan hasil penilaian terhada jenis Rhododendron Indonesia, maka yang menempati peringkat teratas untuk diprioritaskan dikoleksi di Kebun Raya Cibodas adalah R. longiflorum var . bancanum, R. wilhelminae, dan R. album.
{"title":"KRITERIA PENENTUAN SPESIES PRIORITAS Rhododendron spp. TERANCAM KEPUNAHAN UNTUK DIKONSERVASI SECARA EX SITU DI INDONESIA","authors":"W. Rahman","doi":"10.14203/BKR.V18I1.155","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V18I1.155","url":null,"abstract":"Proses pencapaian tujuan konservasi selalu dibatasi oleh berbagai hal, seperti waktu, dana, SDM, maupun kebijakan. Hal ini terjadi juga pada usaha konservasi tumbuhan secara ex situ . Proses menentukan jenis tumbuhan dan lokasi pengoleksian yang tepat selalu menjadi permasalahan yang dihadapi sebelum kegiatan pengoleksian dilaksanakan. Hal ini karena penentuan keputusan perlu mempertimbangkan berbagai hal seperti status konservasi, ketersediaan dana, ketersediaan informasi, waktu, dan resiko keberhasilan tumbuh. Dalam tulisan ini akan dijelaskan kerangka pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas spesies tumbuhan yang akan dijadikan koleksi ex situ . Tiga puluh spesies Rhododendron asli Indonesia yang terancam punah digunakan sebagai contoh. Metode yang digunakan adalah skoring terhadap 11 kriteria. Kriteria tersebut mencakup status spesies (meliputi: status konservasi, status keberhasilan introduksi ex situ , representasi kelompok taksa unik); status lokasi (status dalam area Biodiversity Hotspot dan Global 200 ecoregion, serta perlindungan legal habitat); kemudahan propagasi (meliputi: bentuk hidup, ketinggian habitat, dan jarak antara lokasi dan lembaga ex situ ); efektivitas (jumlah spesies kongenerik simpatrik yang terancam kepunahan); dan biaya pengoleksian. Interpretasi hasil skoring dilakukan dengan sistem peringkat. Berdasarkan hasil penilaian terhada jenis Rhododendron Indonesia, maka yang menempati peringkat teratas untuk diprioritaskan dikoleksi di Kebun Raya Cibodas adalah R. longiflorum var . bancanum, R. wilhelminae, dan R. album.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"74 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116422022","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Siti Suraehah Tul Azhari, Sulistijorini Sulistijorini, I. Fijridiyanto
Fenologi adalah telaah penampakan periodisitas pada tumbuhan dalam hubungannya dengan iklim, seperti waktu pembungaan dan f lushing. Flushing yaitu pertumbuhan tunas/ flush secara serempak. Tujuan penelitian ini adalah mengamati pertumbuhan tunas daun dalam merespon intensitas cahaya dengan posisi tumbuh berbeda dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pengambilan purposive sampling, flush dibedakan posisi tumbuhnya yaitu terminal dan aksilar dalam kondisi terpapar dan ternaungi. Laju tumbuh Amherstia nobilis Wall. dan Brownea capitella Jacq. di daerah terpapar cahaya lebih cepat dibandingkan daerah ternaungi. Laju pertumbuhan diiringi dengan perubahan warna. Perubahan warna pada daun A. nobilis berlangsung selama dua bulan lebih cepat dari B. capitella . Intensitas cahaya dan posisi tumbuh (terminal dan aksilar) berpengaruh pada pertumbuhan kedua spesies.
{"title":"FLUSHING PADA Amherstia nobilis Wall. DAN Brownea capitella Jacq. DI KEBUN RAYA BOGOR","authors":"Siti Suraehah Tul Azhari, Sulistijorini Sulistijorini, I. Fijridiyanto","doi":"10.14203/BKR.V18I2.163","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V18I2.163","url":null,"abstract":"Fenologi adalah telaah penampakan periodisitas pada tumbuhan dalam hubungannya dengan iklim, seperti waktu pembungaan dan f lushing. Flushing yaitu pertumbuhan tunas/ flush secara serempak. Tujuan penelitian ini adalah mengamati pertumbuhan tunas daun dalam merespon intensitas cahaya dengan posisi tumbuh berbeda dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pengambilan purposive sampling, flush dibedakan posisi tumbuhnya yaitu terminal dan aksilar dalam kondisi terpapar dan ternaungi. Laju tumbuh Amherstia nobilis Wall. dan Brownea capitella Jacq. di daerah terpapar cahaya lebih cepat dibandingkan daerah ternaungi. Laju pertumbuhan diiringi dengan perubahan warna. Perubahan warna pada daun A. nobilis berlangsung selama dua bulan lebih cepat dari B. capitella . Intensitas cahaya dan posisi tumbuh (terminal dan aksilar) berpengaruh pada pertumbuhan kedua spesies.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"130 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115249693","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
D. W. Purnomo, Mahat Magandhi, Farid Kuswantoro, Rosniati Apriani Risna, J. Witono
Sebagai bagian dari kebun raya dunia, Kebun Raya Indonesia (KRI) memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan upaya konservasi tumbuhan yang ada di Indonesia. Hingga tahun 2010, empat kebun raya yang dikelola oleh LIPI hanya mampu mengkonservasi sekitar 21% dari seluruh tumbuhan terancam Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan Kebun Raya Daerah (KRD) untuk mengkonservasi tumbuhan pada tiap daerah di Indonesia. Makalah ini bertujuan untuk untuk mengetahui capaian KRD dalam konservasi tumbuhan dan menentukan strategi pengelolaan koleksi tumbuhan tiap daerah. Pada akhir 2012, KRI yang didukung KRD telah berhasil mengoleksi 24% dari tumbuhan terancam Indonesia versi IUCN Red List 2013 , dan berhasil membudidayakan 25% termasuk koleksi pembibitan. Beberapa strategi untuk pengembangan koleksi KRD antara lain: penguatan sistem data base koleksi; pengembangan koleksi tumbuhan di setiap KRD dengan mengacu pada IUCN Red List ; dan penentuan spesies prioritas untuk konservasi terkait dengan kebijakan dan kondisi alam di Indonesia. Kata kunci: koleksi, kebun raya daerah, IUCN Red List
{"title":"PENGEMBANGAN KOLEKSI TUMBUHAN KEBUN RAYA DAERAH DALAM KERANGKA STRATEGI KONSERVASI TUMBUHAN DI INDONESIA","authors":"D. W. Purnomo, Mahat Magandhi, Farid Kuswantoro, Rosniati Apriani Risna, J. Witono","doi":"10.14203/BKR.V18I2.99","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V18I2.99","url":null,"abstract":"Sebagai bagian dari kebun raya dunia, Kebun Raya Indonesia (KRI) memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan upaya konservasi tumbuhan yang ada di Indonesia. Hingga tahun 2010, empat kebun raya yang dikelola oleh LIPI hanya mampu mengkonservasi sekitar 21% dari seluruh tumbuhan terancam Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan Kebun Raya Daerah (KRD) untuk mengkonservasi tumbuhan pada tiap daerah di Indonesia. Makalah ini bertujuan untuk untuk mengetahui capaian KRD dalam konservasi tumbuhan dan menentukan strategi pengelolaan koleksi tumbuhan tiap daerah. Pada akhir 2012, KRI yang didukung KRD telah berhasil mengoleksi 24% dari tumbuhan terancam Indonesia versi IUCN Red List 2013 , dan berhasil membudidayakan 25% termasuk koleksi pembibitan. Beberapa strategi untuk pengembangan koleksi KRD antara lain: penguatan sistem data base koleksi; pengembangan koleksi tumbuhan di setiap KRD dengan mengacu pada IUCN Red List ; dan penentuan spesies prioritas untuk konservasi terkait dengan kebijakan dan kondisi alam di Indonesia. Kata kunci: koleksi, kebun raya daerah, IUCN Red List","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"39 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129669991","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Dringo (Acorus calamus L.) used as medicinal plant in Indonesian ethnic groups. Those information based on Ristoja 2012 research. The objective of Ristoja was to provide a database of local ethnomedicine knowledge, herbal formula and medicinal plant in Indonesia. Inter Simple Sequence Repeats (ISSR) markers were used to assess the genetic diversity of Dringo from 20 selected ethnic groups in Indonesia. Ten selected ISSR primers generated 82 amplified fragments with 51,2% were polymorphic. Dice coefficient was used to calculate similarity index and UPGMA was used to construct a dendogram. The genetic similarity index among accessions ranged from 76,7-100 % thus indicating that low level of genetic diversity in dringo. Genetic diversity database can be useful for medicinal plant mapping and conservation especially for in situ conservation .
{"title":"KERAGAMAN GENETIK DRINGO (Acorus calamus L.) YANG DIGUNAKAN SEBAGAI TUMBUHAN OBAT PADA BEBERAPA ETNIS DI INDONESIA BERDASARKAN INTER-SIMPLE SEQUENCE REPEATS (ISSR)","authors":"Dyah Subositi, R. Mujahid, Y. Widiyastuti","doi":"10.14203/BKR.V18I2.101","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V18I2.101","url":null,"abstract":"Dringo (Acorus calamus L.) used as medicinal plant in Indonesian ethnic groups. Those information based on Ristoja 2012 research. The objective of Ristoja was to provide a database of local ethnomedicine knowledge, herbal formula and medicinal plant in Indonesia. Inter Simple Sequence Repeats (ISSR) markers were used to assess the genetic diversity of Dringo from 20 selected ethnic groups in Indonesia. Ten selected ISSR primers generated 82 amplified fragments with 51,2% were polymorphic. Dice coefficient was used to calculate similarity index and UPGMA was used to construct a dendogram. The genetic similarity index among accessions ranged from 76,7-100 % thus indicating that low level of genetic diversity in dringo. Genetic diversity database can be useful for medicinal plant mapping and conservation especially for in situ conservation .","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-12-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122631560","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penurunan peranan suatu spesies dalam budaya masyarakat dapat menyebabkan kelangkaan bahkan kepunahan spesies tersebut. Seiring dengan program pemerintah untuk melakukan diversifikasi pangan, tanaman minor yang potensial sebagai sumber karbohidrat dapat dipopulerkan kembali dengan tujuan sebagai upaya konservasi tanaman tersebut. Terkait hal tersebut, kentang hitam ( Plectranthus rotundifolius ) dapat menjadi sumber pangan alternatif bagi masyarakat yang menempati daerah kering. Kentang hitam tidak hanya berperan sebagai sumber karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, tetapi juga kaya vitamin dan sejumlah mineral penting. Informasi mengenai teknik budidaya menjadi hal penting yang perlu dipersiapkan dalam rangka pengembangannya. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan mengenai teknik budidaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil panen kentang hitam di pasaran. Penelitian dirancang berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor, yaitu aksesi dan teknik budidaya. Empat aksesi kentang hitam yang digunakan: Nganjuk, Sangian, klon 6G dan O3; dan empat jenis teknik budidaya: bumbun, pangkas, jerami, and pengangkatan tajuk) Setiap perlakuan terdiri dari empat ulangan, dengan tiga tanaman/ulangan. Pengamatan dilakukan pada parameter pertumbuhan dan hasil. Hasil penelitian menunjukkan aksesi kentang hitam yang berbeda memerlukan teknik budidaya berbeda untuk meningkatkan hasil dan ukuran umbi. Penggunaan mulsa jerami padi pada budidaya kentang hitam dapat meningkatkan ukuran umbi kentang hitam di musim hujan.
{"title":"PENINGKATAN PRODUKSI DAN PERBAIKAN UKURAN UMBI KENTANG HITAM (Plectranthus rotundifolius (Poir.) Spreng) MELALUI TEKNIK BUDIDAYA SEBAGAI UPAYA KONSERVASI","authors":"Peni Lestari, N. W. Utami, Ninik Setyowati","doi":"10.14203/BKR.V18I2.160","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V18I2.160","url":null,"abstract":"Penurunan peranan suatu spesies dalam budaya masyarakat dapat menyebabkan kelangkaan bahkan kepunahan spesies tersebut. Seiring dengan program pemerintah untuk melakukan diversifikasi pangan, tanaman minor yang potensial sebagai sumber karbohidrat dapat dipopulerkan kembali dengan tujuan sebagai upaya konservasi tanaman tersebut. Terkait hal tersebut, kentang hitam ( Plectranthus rotundifolius ) dapat menjadi sumber pangan alternatif bagi masyarakat yang menempati daerah kering. Kentang hitam tidak hanya berperan sebagai sumber karbohidrat dengan indeks glikemik rendah, tetapi juga kaya vitamin dan sejumlah mineral penting. Informasi mengenai teknik budidaya menjadi hal penting yang perlu dipersiapkan dalam rangka pengembangannya. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan mengenai teknik budidaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil panen kentang hitam di pasaran. Penelitian dirancang berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor, yaitu aksesi dan teknik budidaya. Empat aksesi kentang hitam yang digunakan: Nganjuk, Sangian, klon 6G dan O3; dan empat jenis teknik budidaya: bumbun, pangkas, jerami, and pengangkatan tajuk) Setiap perlakuan terdiri dari empat ulangan, dengan tiga tanaman/ulangan. Pengamatan dilakukan pada parameter pertumbuhan dan hasil. Hasil penelitian menunjukkan aksesi kentang hitam yang berbeda memerlukan teknik budidaya berbeda untuk meningkatkan hasil dan ukuran umbi. Penggunaan mulsa jerami padi pada budidaya kentang hitam dapat meningkatkan ukuran umbi kentang hitam di musim hujan.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"16 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-07-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125241126","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pada kegiatan inventarisasi palem di Hutan Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) telah menemukan sebanyak 19 jenis palem yang terdiri atas sembilan marga. Kesembilan belas jenis tersebut adalah dua jenis Arenga , tiga jenis Calamus , dua jenis Caryota , lima jenis Daemonorops , satu jenis Korthalsia , satu jenis Nenga , dua jenis Pinanga , satu jenis Plectocomia dan dua jenis Salacca , dimana satu jenis salak masih belum dapat diidentifikasi. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui status taksonominya. Kunci identifikasi, sinopsis tiap jenis dan peta persebarannya di Hutan Bodogol disajikan dalam naskah ini. Adapun status konservasi disertakan dalam tiap jenis.
{"title":"INVENTARISASI PALEM DI HUTAN BODOGOL, TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO","authors":"Imay M Alandana, Himmah Rustiami, P. Widodo","doi":"10.14203/BKR.V18I2.164","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V18I2.164","url":null,"abstract":"Pada kegiatan inventarisasi palem di Hutan Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) telah menemukan sebanyak 19 jenis palem yang terdiri atas sembilan marga. Kesembilan belas jenis tersebut adalah dua jenis Arenga , tiga jenis Calamus , dua jenis Caryota , lima jenis Daemonorops , satu jenis Korthalsia , satu jenis Nenga , dua jenis Pinanga , satu jenis Plectocomia dan dua jenis Salacca , dimana satu jenis salak masih belum dapat diidentifikasi. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui status taksonominya. Kunci identifikasi, sinopsis tiap jenis dan peta persebarannya di Hutan Bodogol disajikan dalam naskah ini. Adapun status konservasi disertakan dalam tiap jenis.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132527941","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
I. Robiansyah, A. Ramadan, M. A. Al-kordy, Ahmad S. Ghushash, A. Hajar
Moringa peregrina and M. oleifera are the only Moringa species found in Saudi Arabia. Both species are drought resistant and have very high nutritional and medicinal properties. Detection of genetic diversity is of great value for the improvement of nutritional and medicinal value of these plants. The aim of the present study was to characterize a new biotype Moringa observed in Al Bahah Region, Saudi Arabia. We used 11 RAPD and 15 ISSR primers to characterize and compare the new biotype with M. peregrina and M. oleifera . Level of polymorphism generated by each marker was calculated. We also calculate Nei and Li’s coefficient to measure the genetic distance between the studied species. Level of polymorphism generated by RAPD and ISSR was 46% and 57%, respectively. RAPD and ISSR primers revealed that the new biotype shared 55 amplicons (45.08%) with both M. peregrina and M. oleifera , 28 amplicons with M. peregrina (22.95%), 21 amplicons (17.21%) with M. oleifera , and displayed 18 unshared amplicons (14.75%). Based on RAPD data, genetic distance between M. oleifera and M. peregrina was 0.32, whereas genetic distance between the new biotype and M. oleifera and M. peregrina was 0.21 and 0.29, respectively. For ISSR data, genetic distance between M. oleifera and M. peregrina was 0.5, whereas genetic distance between the new biotype and M. oleifera and M. peregrina was 0.36 and 0.34, respectively. Based on these results we suggested that the new biotype is a hybrid crossbred between M. peregrina and M. oleifera.
{"title":"CHARACTERIZATION OF A NEW BIOTYPE Moringa OF SAUDI ARABIA USING RAPD AND ISSR MARKERS","authors":"I. Robiansyah, A. Ramadan, M. A. Al-kordy, Ahmad S. Ghushash, A. Hajar","doi":"10.14203/bkr.v18i2.100","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v18i2.100","url":null,"abstract":"Moringa peregrina and M. oleifera are the only Moringa species found in Saudi Arabia. Both species are drought resistant and have very high nutritional and medicinal properties. Detection of genetic diversity is of great value for the improvement of nutritional and medicinal value of these plants. The aim of the present study was to characterize a new biotype Moringa observed in Al Bahah Region, Saudi Arabia. We used 11 RAPD and 15 ISSR primers to characterize and compare the new biotype with M. peregrina and M. oleifera . Level of polymorphism generated by each marker was calculated. We also calculate Nei and Li’s coefficient to measure the genetic distance between the studied species. Level of polymorphism generated by RAPD and ISSR was 46% and 57%, respectively. RAPD and ISSR primers revealed that the new biotype shared 55 amplicons (45.08%) with both M. peregrina and M. oleifera , 28 amplicons with M. peregrina (22.95%), 21 amplicons (17.21%) with M. oleifera , and displayed 18 unshared amplicons (14.75%). Based on RAPD data, genetic distance between M. oleifera and M. peregrina was 0.32, whereas genetic distance between the new biotype and M. oleifera and M. peregrina was 0.21 and 0.29, respectively. For ISSR data, genetic distance between M. oleifera and M. peregrina was 0.5, whereas genetic distance between the new biotype and M. oleifera and M. peregrina was 0.36 and 0.34, respectively. Based on these results we suggested that the new biotype is a hybrid crossbred between M. peregrina and M. oleifera.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126905771","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}