Pub Date : 2021-07-16DOI: 10.14710/genres.v1i2.10953
W. Sasikirana, Eva Annisaa', Nuraini Ekawati
Along with the rapid development of herbal medicine formulas, an appropriate drug delivery system is needed to increase its bioavailability. One of them was used the phytosome. As a delivery system, it was known to be able to increase the bioavailability of phytomedicine by increasing the permeability of herbal compounds on cell membranes so the absorption of the compound will be increased. In its development, the phytosome formula was effective for delivering cytotoxic agent compounds, such as quercetin, diosgenin, icariin, tocopherol, and others. Besides, some of these formulas have also been commercialized and patented. The effectiveness and ease of manufacture have made phytosomes a promising drug delivery system in the development of cytotoxic drugs.
{"title":"Phytosome as Cytotoxic agent delivering system : A Review","authors":"W. Sasikirana, Eva Annisaa', Nuraini Ekawati","doi":"10.14710/genres.v1i2.10953","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i2.10953","url":null,"abstract":"Along with the rapid development of herbal medicine formulas, an appropriate drug delivery system is needed to increase its bioavailability. One of them was used the phytosome. As a delivery system, it was known to be able to increase the bioavailability of phytomedicine by increasing the permeability of herbal compounds on cell membranes so the absorption of the compound will be increased. In its development, the phytosome formula was effective for delivering cytotoxic agent compounds, such as quercetin, diosgenin, icariin, tocopherol, and others. Besides, some of these formulas have also been commercialized and patented. The effectiveness and ease of manufacture have made phytosomes a promising drug delivery system in the development of cytotoxic drugs.","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-07-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123633566","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-07-16DOI: 10.14710/genres.v1i2.11100
Sarah Melinda, Eva Annisaa', Widyandani Sasikirana
Kanker terus menjadi masalah kesehatan utama, salah satu jenis penyakit kanker yang banyak diidap oleh wanita di Indonesia ialah kanker serviks. Herbal telah banyak digunakan dalam pengobatan kanker oleh masyarakat, namun penelitian lebih lanjut mengenai khasiat farmakologinya masih belum banyak dilakukan, salah satunya buah parijoto (Medinilla speciosa). Salah satu senyawa dalam tanaman herbal yang diduga bersifat antioksidan dan berpotensi sitotoksik ialah alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak buah parijoto terpurifikasi secara in vitro pada sel kanker serviks HeLa. Buah parijoto diekstraksi dengan melakukan maserasi menggunakan etanol 70%. Rendemen dihitung dan difraksinasi dengan pelarut bertingkat sesuai kepolaran. Tiap fraksi rendemen dihitung dan dianalisis secara semi-kuantitatif menggunakan KLT. Tiap fraksi ekstrak buah parijoto diukur kadar total alkaloid dan didapatkan kadar total alkaloid tertinggi pada fraksi etil asetat sebesar 62,15%. Analisis sitotoksik dilakukan pada sel line HeLa menggunakan MTT assay dan didapatkan hasil IC50 terendah pada fraksi etil asetat sebesar 95,48 µg/mL. Analisis data dilakukan melalui analisis korelasi antara variabel kadar total alkaloid dan nilai IC50 menggunakan analisis korelasi Pearson dan didapatkan hasil bahwa kadar total alkaloid dan nilai IC50 berkorelasi sangat kuat dan signifikan (r = -0,98).
{"title":"Potensi Sitotoksik Ekstrak Buah Parijoto (Medinilla speciosa) Terpurifikasi pada Sel Kanker Serviks HeLa","authors":"Sarah Melinda, Eva Annisaa', Widyandani Sasikirana","doi":"10.14710/genres.v1i2.11100","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i2.11100","url":null,"abstract":"Kanker terus menjadi masalah kesehatan utama, salah satu jenis penyakit kanker yang banyak diidap oleh wanita di Indonesia ialah kanker serviks. Herbal telah banyak digunakan dalam pengobatan kanker oleh masyarakat, namun penelitian lebih lanjut mengenai khasiat farmakologinya masih belum banyak dilakukan, salah satunya buah parijoto (Medinilla speciosa). Salah satu senyawa dalam tanaman herbal yang diduga bersifat antioksidan dan berpotensi sitotoksik ialah alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak buah parijoto terpurifikasi secara in vitro pada sel kanker serviks HeLa. Buah parijoto diekstraksi dengan melakukan maserasi menggunakan etanol 70%. Rendemen dihitung dan difraksinasi dengan pelarut bertingkat sesuai kepolaran. Tiap fraksi rendemen dihitung dan dianalisis secara semi-kuantitatif menggunakan KLT. Tiap fraksi ekstrak buah parijoto diukur kadar total alkaloid dan didapatkan kadar total alkaloid tertinggi pada fraksi etil asetat sebesar 62,15%. Analisis sitotoksik dilakukan pada sel line HeLa menggunakan MTT assay dan didapatkan hasil IC50 terendah pada fraksi etil asetat sebesar 95,48 µg/mL. Analisis data dilakukan melalui analisis korelasi antara variabel kadar total alkaloid dan nilai IC50 menggunakan analisis korelasi Pearson dan didapatkan hasil bahwa kadar total alkaloid dan nilai IC50 berkorelasi sangat kuat dan signifikan (r = -0,98).","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"134 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-07-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124155469","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-07-16DOI: 10.14710/genres.v1i2.9836
Supiani Rahayu, R. Vifta, J. Susilo
Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman khas dari kabupaten Lombok Utara dan Wonosobo yang mengandung senyawa metabolit sekunder flavonoid, senyawa flavonoid pada bunga telang memiliki aktivitas antioksidan. Kandungan flavonoid salah satunya dipengaruhi oleh kondisi geografis dan ketinggian tempat. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan flavonoid serta aktivitas antioksidan dari kabupaten Lombok Utara dan Wonosobo. Rendemen ekstrak etanol bunga telang dari kabupaten Lombok Utara sebesar 19,44% dan Wonosobo sebesar 27,7%. Kadar flavonoid total dari kabupaten Lombok Utara sebesar 59,37 mgQE/g dan Wonosobo sebesar 63,09 mgEQ/g. Aktivitas antioksidan dari kabupaten Lombok Utara dan Wonosobo masing-masing nilai IC50 sebesar 4,19 ppm dan 3,08 ppm
{"title":"Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.) dari Kabupaten Lombok Utara dan Wonosobo Menggunakan Metode FRAP","authors":"Supiani Rahayu, R. Vifta, J. Susilo","doi":"10.14710/genres.v1i2.9836","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i2.9836","url":null,"abstract":"Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman khas dari kabupaten Lombok Utara dan Wonosobo yang mengandung senyawa metabolit sekunder flavonoid, senyawa flavonoid pada bunga telang memiliki aktivitas antioksidan. Kandungan flavonoid salah satunya dipengaruhi oleh kondisi geografis dan ketinggian tempat. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan flavonoid serta aktivitas antioksidan dari kabupaten Lombok Utara dan Wonosobo. Rendemen ekstrak etanol bunga telang dari kabupaten Lombok Utara sebesar 19,44% dan Wonosobo sebesar 27,7%. Kadar flavonoid total dari kabupaten Lombok Utara sebesar 59,37 mgQE/g dan Wonosobo sebesar 63,09 mgEQ/g. Aktivitas antioksidan dari kabupaten Lombok Utara dan Wonosobo masing-masing nilai IC50 sebesar 4,19 ppm dan 3,08 ppm","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"98 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-07-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126619476","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-07-15DOI: 10.14710/genres.v1i2.11077
M. Ramadhani, Anita Kumalahati, Armin Hari Jusman, N. L
Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang berhubungan dengan gangguan metabolic, ditandai dengan kenaikan kadar gula darah. Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar gula darah adalah daun insulin (Tithonia diversifolia). Pada penelitian ini dilakukan modifikasi sediaan yaitu nanopartikel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi ekstrak dan nanoekstrak daun insulin terhadap penurunan kadar glukosa secara in vitro.Metode Penelitian ini adalah eksperimental dengan melakukan analisis uji aktivitas penurun kadar glukosa ekstrak dan nanoekstrak daun insulin secara in vitro dengan metode Nelson Somogyi.Hasil karakteristik sediaan nanoekstrak daun insulin yaitu ukuran partikel sebesar 286 nm, nilai PDI yaitu 0,211 dan % Transmitan adalah 99,95. Aktivitas penurunan glukosa ekstrak dan nanoekstrak daun insulin yaitu ekstrak daun insulin dapat menurunkan kadar glukosa secara optimal pada konsentrasi 90 ppm dengan % penurunan sebesar 54,54%, serta nilai EC50 sebesar 87,30 ppm, sedangkan pada nanoekstrak daun insulin dapat menurunkan kadar glukosa secara optimal pada konsentrasi 90 ppm dengan % penurunan sebesar 69,18% serta nilai EC50 sebesar 72,30 ppm. Aktivitas penurunan glukosa ekstrak dan nanoekstrak daun insulin berbeda nyata (p = 0,000 <0,05), dengan aktivitas penurunan glukosa pada nanoekstrak daun insulin yang lebih baik.Kata kunci : Ekstrak Daun Insulin, Nanoekstrak Daun Insulin, Penurun Glukosa, In Vitro
{"title":"Perbandingan Aktivitas Penurunan Glukosa pada Ekstrak dan Nanoekstrak Daun Insulin (Tithonia diversifolia) dengan Metode In Vitro","authors":"M. Ramadhani, Anita Kumalahati, Armin Hari Jusman, N. L","doi":"10.14710/genres.v1i2.11077","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i2.11077","url":null,"abstract":"Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang berhubungan dengan gangguan metabolic, ditandai dengan kenaikan kadar gula darah. Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar gula darah adalah daun insulin (Tithonia diversifolia). Pada penelitian ini dilakukan modifikasi sediaan yaitu nanopartikel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi ekstrak dan nanoekstrak daun insulin terhadap penurunan kadar glukosa secara in vitro.Metode Penelitian ini adalah eksperimental dengan melakukan analisis uji aktivitas penurun kadar glukosa ekstrak dan nanoekstrak daun insulin secara in vitro dengan metode Nelson Somogyi.Hasil karakteristik sediaan nanoekstrak daun insulin yaitu ukuran partikel sebesar 286 nm, nilai PDI yaitu 0,211 dan % Transmitan adalah 99,95. Aktivitas penurunan glukosa ekstrak dan nanoekstrak daun insulin yaitu ekstrak daun insulin dapat menurunkan kadar glukosa secara optimal pada konsentrasi 90 ppm dengan % penurunan sebesar 54,54%, serta nilai EC50 sebesar 87,30 ppm, sedangkan pada nanoekstrak daun insulin dapat menurunkan kadar glukosa secara optimal pada konsentrasi 90 ppm dengan % penurunan sebesar 69,18% serta nilai EC50 sebesar 72,30 ppm. Aktivitas penurunan glukosa ekstrak dan nanoekstrak daun insulin berbeda nyata (p = 0,000 <0,05), dengan aktivitas penurunan glukosa pada nanoekstrak daun insulin yang lebih baik.Kata kunci : Ekstrak Daun Insulin, Nanoekstrak Daun Insulin, Penurun Glukosa, In Vitro","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"60 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-07-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115761249","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Diabetes melitus (DM) merupakan sekumpulan gangguan metabolisme yang ditandai oleh kondisi hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. DM disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, sensitivitas reseptor insulin, atau keduanya. Dalam pengobatan diabetes melitus tipe 2 telah disusun dalam pedoman pengobatan secara internasional seperti American Diabetes Association (ADA) sebagai petunjuk dan rekomendasi dalam pemilihan terapi kepada pasien. Ada berbagai golongan obat yang digunakan dalam pengobatan diabetes melitus tipe 2, salah satunya adalah Metformin.Mengetahui profil pasien yang mendapat terapi metformin dan mengetahui gambaran peresepan metformin pada pasien diabetes melitus tipe 2 sesuai pedoman pengobatan diabetes melitus tipe 2 pada ADA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kategorik. Data penelitian berupa rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang mendapat terapi metformin di Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang pada bulan Januari-. Pada penelitian ini indikasi pemberian metformin mengikuti pedoman tata laksana pengobatan diabetes melitus yang diterbitkan oleh ADA. Penelitian didapatkan pada 97 jumlah subjek pasien DM Tipe 2 yang mendapatkan terapi metformin tunggal dan kombinasi tahun 2019 di Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang, lebih banyak ditemukan jenis kelamin perempuan dengan usia 56-65 tahun, pasien juga memiliki diagnosis DM Tipe 2 dengan komplikasi. Ketepatan peresepan berdasarkan penelitian didapatkan tepat indikasi berdasarkan BMI pasien bebesar 76,3%, berdasarkan diagnosa dokter sebesar 100%. Tepat obat berdasarkan dosis pemberian sebesar 100%. Tepat kondisi pasien sebesar 97,94%. Evaluasi secara keseluruhan peresepan metformin telah mencapai angka 75,26%.Kata Kunci : Diabetes melitus; Metformin; American Diabetes Association
{"title":"Gambaran Peresepan Metformin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang","authors":"Octavia Indah Cahyaningsih, Intan Rahmania Eka Dini, Hardian Hardian","doi":"10.14710/genres.v1i2.11124","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i2.11124","url":null,"abstract":"Diabetes melitus (DM) merupakan sekumpulan gangguan metabolisme yang ditandai oleh kondisi hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. DM disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, sensitivitas reseptor insulin, atau keduanya. Dalam pengobatan diabetes melitus tipe 2 telah disusun dalam pedoman pengobatan secara internasional seperti American Diabetes Association (ADA) sebagai petunjuk dan rekomendasi dalam pemilihan terapi kepada pasien. Ada berbagai golongan obat yang digunakan dalam pengobatan diabetes melitus tipe 2, salah satunya adalah Metformin.Mengetahui profil pasien yang mendapat terapi metformin dan mengetahui gambaran peresepan metformin pada pasien diabetes melitus tipe 2 sesuai pedoman pengobatan diabetes melitus tipe 2 pada ADA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kategorik. Data penelitian berupa rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang mendapat terapi metformin di Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang pada bulan Januari-. Pada penelitian ini indikasi pemberian metformin mengikuti pedoman tata laksana pengobatan diabetes melitus yang diterbitkan oleh ADA. Penelitian didapatkan pada 97 jumlah subjek pasien DM Tipe 2 yang mendapatkan terapi metformin tunggal dan kombinasi tahun 2019 di Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang, lebih banyak ditemukan jenis kelamin perempuan dengan usia 56-65 tahun, pasien juga memiliki diagnosis DM Tipe 2 dengan komplikasi. Ketepatan peresepan berdasarkan penelitian didapatkan tepat indikasi berdasarkan BMI pasien bebesar 76,3%, berdasarkan diagnosa dokter sebesar 100%. Tepat obat berdasarkan dosis pemberian sebesar 100%. Tepat kondisi pasien sebesar 97,94%. Evaluasi secara keseluruhan peresepan metformin telah mencapai angka 75,26%.Kata Kunci : Diabetes melitus; Metformin; American Diabetes Association","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"51 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-07-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133734114","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-01-20DOI: 10.14710/genres.v1i1.9870
F. Wulandari, Widyaningrum Utami, Evieta Rohana, Wimzy Rizqy Prabhata
Adanya identifikasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) sebagai target molekular mempengaruhi model terapi kanker paru jenis Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) stadium lanjut dari standar kemoterapi, individual terapi hingga terapi molekuler tertarget. EGFR tyrosine kinase inhibitors (TKIs) saat ini menjadi terapi yang telah diaplikasikan secara klinis khususnya pada penderita NSCLC dengan mutasi EGFR positif. Ulasan ini akan membahas mengenai efikasi dari agen EGFR-TKIs yaitu gefitinib, erlotinib dan afatinib berdasarkan gambaran Overall Survival (OS) atau Progression Free Survival (PFS) pada penderita kanker paru NSCLC. Hasil efikasi dari berbagai sumber penelitian yang dimuat dalam ulasan ini sangat bervariasi. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan perbedaan karakteristik agen terapi dan subjek dalam penelitian. Namun secara umum, terapi EGFR-TKIs menunjukkan efikasi yang lebih baik bila digunakan pada pasien NSCLC dengan EGFR mutasi positif dan efek samping yang minimal dari terapi EGFR-TKIs menunjukkan toleransi penggunaan yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan kemoterapi. Studi lebih lanjut dan ulasan yang lebih rinci dengan memuat kemungkinan adanya resistensi terapi diperlukan agar didapatkan informasi mengenai efikasi EGFR-TKIs secara utuh.
{"title":"EFIKASI TERAPI EPIDERMAL GROWTH FACTOR RECEPTOR-TYROSINE KINASE INHIBITOR (EGFR-TKIs) PADA KANKER PARU","authors":"F. Wulandari, Widyaningrum Utami, Evieta Rohana, Wimzy Rizqy Prabhata","doi":"10.14710/genres.v1i1.9870","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i1.9870","url":null,"abstract":"Adanya identifikasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) sebagai target molekular mempengaruhi model terapi kanker paru jenis Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) stadium lanjut dari standar kemoterapi, individual terapi hingga terapi molekuler tertarget. EGFR tyrosine kinase inhibitors (TKIs) saat ini menjadi terapi yang telah diaplikasikan secara klinis khususnya pada penderita NSCLC dengan mutasi EGFR positif. Ulasan ini akan membahas mengenai efikasi dari agen EGFR-TKIs yaitu gefitinib, erlotinib dan afatinib berdasarkan gambaran Overall Survival (OS) atau Progression Free Survival (PFS) pada penderita kanker paru NSCLC. Hasil efikasi dari berbagai sumber penelitian yang dimuat dalam ulasan ini sangat bervariasi. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan perbedaan karakteristik agen terapi dan subjek dalam penelitian. Namun secara umum, terapi EGFR-TKIs menunjukkan efikasi yang lebih baik bila digunakan pada pasien NSCLC dengan EGFR mutasi positif dan efek samping yang minimal dari terapi EGFR-TKIs menunjukkan toleransi penggunaan yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan kemoterapi. Studi lebih lanjut dan ulasan yang lebih rinci dengan memuat kemungkinan adanya resistensi terapi diperlukan agar didapatkan informasi mengenai efikasi EGFR-TKIs secara utuh.","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"69 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-01-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121052761","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak yang besar bagi Indonesia. Salah satu dampak yang dapat dirasakan yaitu menumpuknya limbah alat pelindung diri. Menumpuknya limbah APD dapat menyebabkan penyebaran virus Covid-19 atau mikroorganisme patogen lainnya menjadi tinggi. Tingginya risiko penularan virus Covid-19 dapat mengakibatkan timbulnya beberapa komplikasi penyakit penyerta yang mengancam Sustainable Development Goals (SDGs). Limbah APD yang infeksius ini perlu diolah dengan cara yang berbeda seperti limbah lainnya. Perlu adanya inovasi dalam mengolah limbah APD infeksius, seperti dengan menggunakan teknologi yang menggunakan metode pirolisis untuk mengolah limbah yang akan menghasilkan bahan bakar alternatif. upaya untuk memanfaatkan teknologi ini dalam pengolahan limbah APD perlu dipertimbangkan sebagai salah satu langkah efektif untuk mengurangi penumpukan limbah APD akibat pandemi dan dapat menjadi inovasi baru untuk masyarakat apabila teknologi ini diterapkan dalam skala yang lebih kecil dan mudah dijangkau.
{"title":"LITERATURE REVIEW : POTENSI TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH BERBASIS PIROLISIS DALAM PENANGANAN LIMBAH ALAT PELINDUNG DIRI YANG MENUMPUK DI MASA PANDEMI COVID-19","authors":"Syauki Isykapurnama, Darsih Sarastri, Hega 'Aisyah Mahardika","doi":"10.14710/genres.v1i1.9797","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i1.9797","url":null,"abstract":"Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak yang besar bagi Indonesia. Salah satu dampak yang dapat dirasakan yaitu menumpuknya limbah alat pelindung diri. Menumpuknya limbah APD dapat menyebabkan penyebaran virus Covid-19 atau mikroorganisme patogen lainnya menjadi tinggi. Tingginya risiko penularan virus Covid-19 dapat mengakibatkan timbulnya beberapa komplikasi penyakit penyerta yang mengancam Sustainable Development Goals (SDGs). Limbah APD yang infeksius ini perlu diolah dengan cara yang berbeda seperti limbah lainnya. Perlu adanya inovasi dalam mengolah limbah APD infeksius, seperti dengan menggunakan teknologi yang menggunakan metode pirolisis untuk mengolah limbah yang akan menghasilkan bahan bakar alternatif. upaya untuk memanfaatkan teknologi ini dalam pengolahan limbah APD perlu dipertimbangkan sebagai salah satu langkah efektif untuk mengurangi penumpukan limbah APD akibat pandemi dan dapat menjadi inovasi baru untuk masyarakat apabila teknologi ini diterapkan dalam skala yang lebih kecil dan mudah dijangkau.","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"21 4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-01-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131164000","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-01-13DOI: 10.14710/genres.v1i1.9850
Anggi Gayatri
ABSTRAKDosis terapi yang tepat dalam pemberian obat akan memberikan efek terapi yang optimal dengan efek samping terendah. Namun, seringkali ketika obat pertama kali dipasarkan belum dapat ditentukan dosis optimal untuk populasi khusus seperti pasien anak, ibu hamil dan menyusui. Salah satu solusi permasalahan ini adalah dengan menerapkan metode farmakometriks, yaitu metode analisis farmakokinetik yang menerapkan konsep matematika, statistic, dan farmakologi untuk menjelaskan hubungan dosis, konsentrasi obat dalam plasma, dan pengaruh faktor kovariat terhadap respons obat. Metode ini dapat diaplikasikan pada seluruh aspek pengembangan dan penggunaan obat. Pendekatan populasi dalam studi farmakokinetik yang banyak digunakan adalah pendekatan nonlinear mixed effect model (NONMEM). Langkah awal dalam metode ini adalah dengan pembuatan model farmakokinetik yang dilanjutkan dengan evaluasi ketepatan model dengan metode visual menggunakan grafik ataupun secara numerik berdasarkan parameter statistik. Jika sudah didapatkan model terbaik, maka dapat dilakukan simulasi dengan memasukkan berbagai kemungkinan perubahan dosis ataupun perubahan cara penggunaan obat yang lain sehingga dapat diperoleh kadar terapeutik yang sesuai. Salah satu keuntungan menggunakan metode ini adalah relatif murah, tidak dibutuhkan alat laboratorium yang mahal, namun perlu keahlian khusus dalam pengolahan data. Dengan keuntungan tersebut, diharapkan metode ini dapat mulai dikembangkan dan diterapkan di negara-negara berkembang untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kesehatan. Kata kunci : dosis terapi, farmakokinetik, farmakometriks, populasi khususABSTRACTThe correct therapeutic dose in drug administration will provide optimal therapeutic effects with the lowest side effects. However, it is often when the drugs are marketed for the first time, the optimal dose cannot be determined for special populations such as pediatric patients, pregnant women, and breastfeeding mothers. The solution to this problem is to apply the pharmacometric method, whis is a pharmacokinetic analysis method that applies mathematical, statistical, and pharmacological concepts to explain the relationship between dose, drug concentration in plasma, and the effect of covariate factors on drug response. This method can be applied to all aspects of drug usage and development. The population approach in pharmacokinetic studies that is widely used is the nonlinear mixed effect model (NONMEM) approach. The first step in this method is to create a pharmacokinetic model followed by evaluation of the accuracy of the model using visual methods using graphs or numerically based on statistical parameters. If the best model has been obtained, a simulation can be carried out by including various possible changes in dosage or changes in the way of using other drugs so that the appropriate therapeutic level can be obtained. One of the advantages of using this method is that it is relatively inexpensive, does not require
{"title":"POPULATION PHARMACOKINETICS : PENDEKATAN ALTERNATIF PADA STUDI PENGGUNAAN OBAT DI INDONESIA","authors":"Anggi Gayatri","doi":"10.14710/genres.v1i1.9850","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i1.9850","url":null,"abstract":"ABSTRAKDosis terapi yang tepat dalam pemberian obat akan memberikan efek terapi yang optimal dengan efek samping terendah. Namun, seringkali ketika obat pertama kali dipasarkan belum dapat ditentukan dosis optimal untuk populasi khusus seperti pasien anak, ibu hamil dan menyusui. Salah satu solusi permasalahan ini adalah dengan menerapkan metode farmakometriks, yaitu metode analisis farmakokinetik yang menerapkan konsep matematika, statistic, dan farmakologi untuk menjelaskan hubungan dosis, konsentrasi obat dalam plasma, dan pengaruh faktor kovariat terhadap respons obat. Metode ini dapat diaplikasikan pada seluruh aspek pengembangan dan penggunaan obat. Pendekatan populasi dalam studi farmakokinetik yang banyak digunakan adalah pendekatan nonlinear mixed effect model (NONMEM). Langkah awal dalam metode ini adalah dengan pembuatan model farmakokinetik yang dilanjutkan dengan evaluasi ketepatan model dengan metode visual menggunakan grafik ataupun secara numerik berdasarkan parameter statistik. Jika sudah didapatkan model terbaik, maka dapat dilakukan simulasi dengan memasukkan berbagai kemungkinan perubahan dosis ataupun perubahan cara penggunaan obat yang lain sehingga dapat diperoleh kadar terapeutik yang sesuai. Salah satu keuntungan menggunakan metode ini adalah relatif murah, tidak dibutuhkan alat laboratorium yang mahal, namun perlu keahlian khusus dalam pengolahan data. Dengan keuntungan tersebut, diharapkan metode ini dapat mulai dikembangkan dan diterapkan di negara-negara berkembang untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kesehatan. Kata kunci : dosis terapi, farmakokinetik, farmakometriks, populasi khususABSTRACTThe correct therapeutic dose in drug administration will provide optimal therapeutic effects with the lowest side effects. However, it is often when the drugs are marketed for the first time, the optimal dose cannot be determined for special populations such as pediatric patients, pregnant women, and breastfeeding mothers. The solution to this problem is to apply the pharmacometric method, whis is a pharmacokinetic analysis method that applies mathematical, statistical, and pharmacological concepts to explain the relationship between dose, drug concentration in plasma, and the effect of covariate factors on drug response. This method can be applied to all aspects of drug usage and development. The population approach in pharmacokinetic studies that is widely used is the nonlinear mixed effect model (NONMEM) approach. The first step in this method is to create a pharmacokinetic model followed by evaluation of the accuracy of the model using visual methods using graphs or numerically based on statistical parameters. If the best model has been obtained, a simulation can be carried out by including various possible changes in dosage or changes in the way of using other drugs so that the appropriate therapeutic level can be obtained. One of the advantages of using this method is that it is relatively inexpensive, does not require","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-01-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124406036","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Latar belakang :Pelarut merupakan komponen yang sangat berpengaruh terhadap parameter spesifik maupun non spesifik dalam ekstrak. Sesuai prinsip like disolve like, akan diperoleh hasil kandungan senyawa metabolit tergantung pada tingkat kepolaran. Kitolod ( Isotoma longiflora) merupakan salah satu tanaman berkhasiat yang belum banyak diketahui kandungan senyawa metabolit di dalamnya. Adanya optimasi pelarut berdasarkan tingkat kepolaran, akan mudah diperoleh jenis senyawa metabolit. Tujuan :Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pelarut yang cocok dalam menyari kandungan senyawa metabolit pada tanaman kitolod.Metode : Proses ekstraksi dilakukan dengan maserasi sejumlah simplisia dengan menggunakan 3 jenis pelarut yang berbeda tingkat kepolarannya yaitu etanol 96% ( polar), etil asetat ( semi polar), n-heksan ( kurang polar). Optimasi maserasi dilakukan dengan membandingkan parameter spesifik ekstrak meliputi organoleptik, rendemen, hasil uji kualitatif dan kuantitatif ketiga ekstrak. Maserasi dilakukan selama 5 hari, kemudian dilakukan identifikasi senyawa secara kualitatif dan penentuan kadar flavonoid total secara kuantitatif.Hasil : Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% memiliki rendemen lebih tinggi ( 5,092 %), ekstrak etil asetat 3,304% dan ekstrak n-heksan 2,316%. Secara organoleptis, terdapat perbedaan warna pada ekstrak etanol 96% dengan ekstrak etil asetat dan n heksan. Ekstrak etanol 96% memiliki warna hijau sedangkan kedua ekstrak lainnya berwarna coklat kehitaman. Ketiga ekstrak tersebut memiliki kandungan senyawa metabolit flavonoid, saponin dan tanin dengan kandungan flavonoid total sebesar 0,78 mg QE/mL ( ekstrak etanol 96%), 46 mgE/mL ( ekstrak n-heksan) dan 30,33 mgQE/mL ( ekstrak etil asetat)Kesimpulan : Ekstrak etanol kitolod memiliki rendemen paling banyak dibandingkan dengan ekstrak n-heksan dan ekstrak etil asetat karena etanol merupakan pelarut paling polar di antara ketiganya. Namun memiliki kandungan flavonoid total lebih rendah karena flavonoid yang tersari bukan jenis polar.
背景:溶剂是一种对提取的特定和非特定参数都有很大影响的成分。根据二甲像溶剂这样的原理,根据杂质的水平将获得代谢化合物的含量。Kitolod (longiflora Isotoma)是一种药用植物,其代谢化合物含量鲜为人知。溶剂优化的基础上,很容易获得各种代谢化合物。目的:本研究的目的是获取适用于kitolod植物代谢化合物的溶剂的信息。方法:提取过程是通过三种不同程度的合成溶剂进行的,即乙醇96%(极化)、醋酸乙酯(半极化)、n-heksan(极少量)。优化是通过比较提取的特定参数,包括有机的、表皮的、定性的和第三种提取物的结果来实现的。人工合成持续5天,然后对化合物进行定性鉴定和定量测定总黄酮水平。结果:结果表明,乙醇提取物96%具有更高的可降解性(5.09%),乙基乙醇提取物3.304%和n-heksan提取物3.316%。有机部分地,乙醇提取物96%与乙酰乙基和丙烯酸提取物有变色。乙醇提取物96%是绿色的,而另外两种提取物是深棕色的。这些提取物代谢类黄酮化合物,saponin和单宁含量完全类黄酮含量高达0.78 mg QE / mL(96%)乙醇提取物,46 mgE / mL (n-heksan)提取物,30,33 mgQE / mL(醋酸纤维素乙醇提取物)结论:乙醇提取物kitolod相比,最多有rendemen n-heksan和醋酸纤维素乙醇提取物,因为乙醇提取物在三者之间是最极性溶剂。但它的正离子含量总较低,因为它被探测到的类黄酮不是一种极地类型。
{"title":"OPTIMASI PELARUT TERHADAP PARAMETER SPESIFIK EKSTRAK KITOLOD ( Isotoma longiflora)","authors":"Istianatus Sunnah, Ragil Setia Dianingati, Aprilia Rizki Wulandari","doi":"10.14710/genres.v1i1.9847","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/genres.v1i1.9847","url":null,"abstract":"Latar belakang :Pelarut merupakan komponen yang sangat berpengaruh terhadap parameter spesifik maupun non spesifik dalam ekstrak. Sesuai prinsip like disolve like, akan diperoleh hasil kandungan senyawa metabolit tergantung pada tingkat kepolaran. Kitolod ( Isotoma longiflora) merupakan salah satu tanaman berkhasiat yang belum banyak diketahui kandungan senyawa metabolit di dalamnya. Adanya optimasi pelarut berdasarkan tingkat kepolaran, akan mudah diperoleh jenis senyawa metabolit. Tujuan :Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pelarut yang cocok dalam menyari kandungan senyawa metabolit pada tanaman kitolod.Metode : Proses ekstraksi dilakukan dengan maserasi sejumlah simplisia dengan menggunakan 3 jenis pelarut yang berbeda tingkat kepolarannya yaitu etanol 96% ( polar), etil asetat ( semi polar), n-heksan ( kurang polar). Optimasi maserasi dilakukan dengan membandingkan parameter spesifik ekstrak meliputi organoleptik, rendemen, hasil uji kualitatif dan kuantitatif ketiga ekstrak. Maserasi dilakukan selama 5 hari, kemudian dilakukan identifikasi senyawa secara kualitatif dan penentuan kadar flavonoid total secara kuantitatif.Hasil : Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% memiliki rendemen lebih tinggi ( 5,092 %), ekstrak etil asetat 3,304% dan ekstrak n-heksan 2,316%. Secara organoleptis, terdapat perbedaan warna pada ekstrak etanol 96% dengan ekstrak etil asetat dan n heksan. Ekstrak etanol 96% memiliki warna hijau sedangkan kedua ekstrak lainnya berwarna coklat kehitaman. Ketiga ekstrak tersebut memiliki kandungan senyawa metabolit flavonoid, saponin dan tanin dengan kandungan flavonoid total sebesar 0,78 mg QE/mL ( ekstrak etanol 96%), 46 mgE/mL ( ekstrak n-heksan) dan 30,33 mgQE/mL ( ekstrak etil asetat)Kesimpulan : Ekstrak etanol kitolod memiliki rendemen paling banyak dibandingkan dengan ekstrak n-heksan dan ekstrak etil asetat karena etanol merupakan pelarut paling polar di antara ketiganya. Namun memiliki kandungan flavonoid total lebih rendah karena flavonoid yang tersari bukan jenis polar.","PeriodicalId":362285,"journal":{"name":"Generics: Journal of Research in Pharmacy","volume":"10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-01-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116525308","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}