Pub Date : 2019-04-30DOI: 10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1577
Ariesta Amanda
Penelitian ini bertujuan untuk mengkritisi fenomena foto prewedding sebagai salah satu tren yang kini mempunyai massa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan dengan didukung kajian literatur yang berlokasi di Yogyakarta. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan pelaku industri foto prewedding, pelaku prewedding, dan masyarakat. Analisis data yang dilakukan meliputi pengumpulan data, triangulasi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran tren foto prewedding tidak terlepas dari pelebaran bisnis foto pernikahan. Para pelaku industry foto menawarkan media representasi yang mampu membentuk wujud kesempurnaan diri serta mampu memfasilitasi ruang privat dalam wujud foto prewedding dengan menggunakan strategi komunikasi bisnis untuk menarik massa. Mix strategi yang dilakukan yaitu dengan menggunakan media sosial sebagai pendukung dalam pemasaran foto prewedding. Perspektif ekonomi industri foto melihat pasangan calon pengantin sebagai komoditas. Foto prewedding mampu meleburkan kelas sosial dalam masyarakat dan merubah sistem nilai tradisional masyarakat dengan jalan memanipulasi perspektif dalam melihat dirinya dalam sebuah bingkai foto.
{"title":"KONSUMERISME PREWEDDING (Strategi Komunikasi Bisnis Industri Foto Prewedding)","authors":"Ariesta Amanda","doi":"10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1577","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1577","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengkritisi fenomena foto prewedding sebagai salah satu tren yang kini mempunyai massa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan dengan didukung kajian literatur yang berlokasi di Yogyakarta. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan pelaku industri foto prewedding, pelaku prewedding, dan masyarakat. Analisis data yang dilakukan meliputi pengumpulan data, triangulasi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran tren foto prewedding tidak terlepas dari pelebaran bisnis foto pernikahan. Para pelaku industry foto menawarkan media representasi yang mampu membentuk wujud kesempurnaan diri serta mampu memfasilitasi ruang privat dalam wujud foto prewedding dengan menggunakan strategi komunikasi bisnis untuk menarik massa. Mix strategi yang dilakukan yaitu dengan menggunakan media sosial sebagai pendukung dalam pemasaran foto prewedding. Perspektif ekonomi industri foto melihat pasangan calon pengantin sebagai komoditas. Foto prewedding mampu meleburkan kelas sosial dalam masyarakat dan merubah sistem nilai tradisional masyarakat dengan jalan memanipulasi perspektif dalam melihat dirinya dalam sebuah bingkai foto.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"8 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-04-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121039135","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-04-30DOI: 10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1574
Roro Retno Wulan
Ilmu Komunikasi sebagai cabang ilmu pengetahuan adalah ilmu yang dinamis. Perkembangan peradaban manusia menjadi titik tolak perkembangan keilmuannya. Manusia tidak dapat menafikkan adanya komunikasi dalam relasi di kehidupannya. Maraknya kajian atas kondisi perempuan mendorong geliat Ilmu Komunikasi untuk membongkar epistemologi keilmuannya. Tulisan ini adalah sebuah penggalian atas teoriteori Komunikasi yang didedikasikan kepada riset atas perempuan. Riset yang berkaitan dengan posisi perempuan erat dengan dominasi patriarki secara ekonomi, politik dan sosial. Perempuan menjadi subjek atas dirinya dan bukan menjadi objek seperti yang terjadi selama ini. Di mulai dari kajian filsafati pemikiran feminis hingga epistemologi feminisme. Keunikan dari tulisan ini adalah ibarat sebuah rangkuman beberapa teori femnisme yang lahir dari ranah komunikasi. Kesimpulan yang diraih adalah ragam pengetahuan terrsebut menjadi bekal bagi para periset dan pemerhati kajian perempuan di ranah Ilmu Komunikasi. Ke depannya teori mengenai feminisme ini akan membantu perkembangan Ilmu Komunikasi dalam mendekonstruksi metode dalam melakukan risetriset tentang perempuan di Indonesia.
{"title":"KAJIAN GENDER DALAM ILMU KOMUNIKASI","authors":"Roro Retno Wulan","doi":"10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1574","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1574","url":null,"abstract":"Ilmu Komunikasi sebagai cabang ilmu pengetahuan adalah ilmu yang dinamis. Perkembangan peradaban manusia menjadi titik tolak perkembangan keilmuannya. Manusia tidak dapat menafikkan adanya komunikasi dalam relasi di kehidupannya. Maraknya kajian atas kondisi perempuan mendorong geliat Ilmu Komunikasi untuk membongkar epistemologi keilmuannya. Tulisan ini adalah sebuah penggalian atas teoriteori Komunikasi yang didedikasikan kepada riset atas perempuan. Riset yang berkaitan dengan posisi perempuan erat dengan dominasi patriarki secara ekonomi, politik dan sosial. Perempuan menjadi subjek atas dirinya dan bukan menjadi objek seperti yang terjadi selama ini. Di mulai dari kajian filsafati pemikiran feminis hingga epistemologi feminisme. Keunikan dari tulisan ini adalah ibarat sebuah rangkuman beberapa teori femnisme yang lahir dari ranah komunikasi. Kesimpulan yang diraih adalah ragam pengetahuan terrsebut menjadi bekal bagi para periset dan pemerhati kajian perempuan di ranah Ilmu Komunikasi. Ke depannya teori mengenai feminisme ini akan membantu perkembangan Ilmu Komunikasi dalam mendekonstruksi metode dalam melakukan risetriset tentang perempuan di Indonesia.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"244 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-04-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114574114","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-04-30DOI: 10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1576
R. Kusumastuti, Antar Venus
Pada tahun 1990-an Desa Pentingsari mendapat predikat Desa Wisata dengan pendapatan yang relative rendah. Padahal potensi desa cukup besar dengan luas 105 hektar dengan komposisi lahan pekarangan, perkebunan, sawah, lading dan daerah aliran sungai, kendalanya kondisi desa cukup terpencil karena belum baiknya akses. Masyarakat bertekad keluar dari kondisi kemiskinan itu, alam dan lingkungan dirawat, sehingga hasil bumi dari kekayaan alam meningkat. Pendekatan Desa Wisata dipilih oleh penduduk karena merasa pariwisata bisa menjadi cara untuk melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penelitian ini ingin mengetahui jaringan komunikasi penduduk local di Desa Wisata Pentingsari yang telah berhasil keluar dari kondisi kemiskinan dengan mengubah desanya menjadi desa wisata yang berhasil.
{"title":"JARINGAN KOMUNIKASI PENDUDUK LOKAL DI DESA WISATA PETINGSARI, KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA","authors":"R. Kusumastuti, Antar Venus","doi":"10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1576","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1576","url":null,"abstract":"Pada tahun 1990-an Desa Pentingsari mendapat predikat Desa Wisata dengan pendapatan yang relative rendah. Padahal potensi desa cukup besar dengan luas 105 hektar dengan komposisi lahan pekarangan, perkebunan, sawah, lading dan daerah aliran sungai, kendalanya kondisi desa cukup terpencil karena belum baiknya akses. Masyarakat bertekad keluar dari kondisi kemiskinan itu, alam dan lingkungan dirawat, sehingga hasil bumi dari kekayaan alam meningkat. Pendekatan Desa Wisata dipilih oleh penduduk karena merasa pariwisata bisa menjadi cara untuk melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penelitian ini ingin mengetahui jaringan komunikasi penduduk local di Desa Wisata Pentingsari yang telah berhasil keluar dari kondisi kemiskinan dengan mengubah desanya menjadi desa wisata yang berhasil.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"81 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-04-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"117133459","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-04-16DOI: 10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1578
Farahma Ayu Almaida
Institut Fran�ais Indonesia Bandung merupakan pusat kebudayaan dan lembaga pendidikan bahasa Prancis di bawah Kedutaan Besar Perancis. Media sosial Instagram sebagai pemasaran digital yang digunakan untuk memberikan informasi tentang kursus bahasa Prancis dan berbagai informasi tentang acara budaya yang akan diadakan. Melalui Instagram, Institut Fran�ais Indonesia Bandung memiliki jumlah pengikut dan posting tertinggi dibandingkan dengan lembaga bahasa asing lainnya di Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pemasaran digital di media sosial Instagram Institut Fran�ais Indonesia Bandung berdasarkan empat pilar strategi media sosial Lon Safko dan David K. Brake: komunikasi, kolaborasi, pendidikan, dan hiburan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi pada instagram media sosial Institut Fran�ais Indonesia Bandung dan wawancara mendalam dengan informan kunci dan informan pendukung untuk mendapatkan data tentang penggunaan strategi media sosial. Hasil dari penelitian ini menjelaskan penggunaan strategi pemasaran digital untuk konten media sosial yang sesuai dan berguna untuk kelangsungan lembaga dalam menyebarkan pesan dan informasi.
{"title":"ANALISIS PENGELOLAAN KONTEN DIGITAL MARKETING MEDIA SOSIAL INSTITUT FRAN�AIS INDONESIA BANDUNG","authors":"Farahma Ayu Almaida","doi":"10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1578","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.ACTADIURNA.2019.15.1.1578","url":null,"abstract":"Institut Fran�ais Indonesia Bandung merupakan pusat kebudayaan dan lembaga pendidikan bahasa Prancis di bawah Kedutaan Besar Perancis. Media sosial Instagram sebagai pemasaran digital yang digunakan untuk memberikan informasi tentang kursus bahasa Prancis dan berbagai informasi tentang acara budaya yang akan diadakan. Melalui Instagram, Institut Fran�ais Indonesia Bandung memiliki jumlah pengikut dan posting tertinggi dibandingkan dengan lembaga bahasa asing lainnya di Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pemasaran digital di media sosial Instagram Institut Fran�ais Indonesia Bandung berdasarkan empat pilar strategi media sosial Lon Safko dan David K. Brake: komunikasi, kolaborasi, pendidikan, dan hiburan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi pada instagram media sosial Institut Fran�ais Indonesia Bandung dan wawancara mendalam dengan informan kunci dan informan pendukung untuk mendapatkan data tentang penggunaan strategi media sosial. Hasil dari penelitian ini menjelaskan penggunaan strategi pemasaran digital untuk konten media sosial yang sesuai dan berguna untuk kelangsungan lembaga dalam menyebarkan pesan dan informasi.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"21 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-04-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130864564","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-30DOI: 10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1343
Diana Anggraeni
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan Radio Komunitas Dapur Remaja (RKDR) sebagai media informasi untuk mengembangkan potensi bagi kalangan anak muda di kawasan Cinangka, Sawangan Depok. Radio komunitas hingga saat ini masih dianggap menjadi media alternatif, untuk menjembatani minimnya informasi kepada masyarakat. radio komunitas disini menjadi sangat penting karena dianggap lebih mengetahui dan memahami persoalan dan isu-isu lokal di sekitarnya. Untuk menjawab rumusan masalah, riset ini menggunakan konsep radio komunitas dan pengembangan masyarakat,. Penelitian ini akan dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan melakukan observasi dan wawancara kepada pengelola Radio Komunitas. Hasil penelitian menyatakan bahwa Radio Komunitas Dapur Remaja (RKDR) telah menjalankan fungsinya sebagai media informasi bagi kepentingan warga komunitasnya. Namun informasi tersebut masih terbatas, dikarenakan program-program terkait pengembangan skill yang menjadi fokus pada usaha pengembangan potensi anak muda masih sangat minim. Minimnya kualitas SDM yang memahami persoalan anak muda juga menjadi kendala dalam menyiarkan informasi terkait materi pemberdayaan. Program siaran lebih banyak kepada pemutaran lagu-lagu dan informasi pembangunan yang bersifat umum sehingga tujuan komunitas belum berjalan secara maksimal.
{"title":"RADIO KOMUNITAS ANAK MUDA","authors":"Diana Anggraeni","doi":"10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1343","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1343","url":null,"abstract":"Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan Radio Komunitas Dapur Remaja (RKDR) sebagai media informasi untuk mengembangkan potensi bagi kalangan anak muda di kawasan Cinangka, Sawangan Depok. Radio komunitas hingga saat ini masih dianggap menjadi media alternatif, untuk menjembatani minimnya informasi kepada masyarakat. radio komunitas disini menjadi sangat penting karena dianggap lebih mengetahui dan memahami persoalan dan isu-isu lokal di sekitarnya. Untuk menjawab rumusan masalah, riset ini menggunakan konsep radio komunitas dan pengembangan masyarakat,. Penelitian ini akan dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan melakukan observasi dan wawancara kepada pengelola Radio Komunitas. Hasil penelitian menyatakan bahwa Radio Komunitas Dapur Remaja (RKDR) telah menjalankan fungsinya sebagai media informasi bagi kepentingan warga komunitasnya. Namun informasi tersebut masih terbatas, dikarenakan program-program terkait pengembangan skill yang menjadi fokus pada usaha pengembangan potensi anak muda masih sangat minim. Minimnya kualitas SDM yang memahami persoalan anak muda juga menjadi kendala dalam menyiarkan informasi terkait materi pemberdayaan. Program siaran lebih banyak kepada pemutaran lagu-lagu dan informasi pembangunan yang bersifat umum sehingga tujuan komunitas belum berjalan secara maksimal.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"109 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116174300","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-30DOI: 10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1363
Sutriono Sutriono, Haryatmoko Haryatmoko
Media sosial sebagai bentuk platform web 2.0 mengalihkan penekanan konsumsi layanan internet menjadi berbasis interaktif dan kolaboratif, menciptakan bentuk interaksi antar individu, kelompok masyarakat, organisasi dan publik. Tidak hanya tokoh dan politisi dunia, selebriti juga ambil bagian dalam interaktifitas dalam media sosial. Media sosial telah menjadi arena sosial global yang menjadi tempat reproduksi budaya yang dilakukan terus menerus yang melibatkan individu dalam kelas-kelas sosial. Sebagai wahana kontestasi dibutuhkan keahlian, dan modal tertentu yang disebut oleh Bourdieu dengan istilah kapital. Makalah dengan metode studi pustaka ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mobilisasi kapital yang dimiliki selebriti dalam media sosial sebagai ruang sosial yang dikenal dengan arena. Pentingnya kapital dalam sebuah arena menunjukkan bahwa media sosial bukanlah sekedar bentuk platform yang partisapatif, melainkan sebuah arena kontestasi sosial bagi individu didalamnya. Selebriti hadir ditengah publik lewat sosial media dengan kekuatan kapitalnya khususnya kapital simbolis yang didapatkan akibat akumulasi visibilitas media yang dihasilkan dari representasi media berulang kerap dikonversi menjadi kapital yang lain dalam banyak hal seperti marketing dan periklanan. Media sosial sebagai arena yang muncul dalam bentuk digital sebenarnya tidak berbeda dengan arena dalam bentuk fisik. Dalam arena terdapat usaha melakukan dominasi kelas sosial tertentu dengan memanfaatkan kapital yang dimiliki, termasuk oleh selebriti melalui distinction untuk memperlihatkan perbedaan kelas. Selain selebriti yang mendapatkan visibilitas dari media, di media sosial juga muncul fenomena micro celebrity. Komodifikasi selebriti menjadi produk pemasaran telah meningkatkan kemampuan kapital lainnya, khususnya kapital ekonomi melalui kehadiran follower. Dominasi kelas sosial selebriti terkadang tidak disadari oleh follower, dan hanya menguntungkan pada selebriti. Ketidaksadaran follower yang dibuktikan dengan tindakan mengkonsumsi produk milik selebriti agar merasa sejajar. Penciptaan selera yang sama hanyalah bentuk distinction lain yang dilakukan untuk melanggengkan kelas dominan selebriti melalui akumulasi kapital ekonomi.
{"title":"Selebriti dan Komodifikasi Kapital di Media Sosial","authors":"Sutriono Sutriono, Haryatmoko Haryatmoko","doi":"10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1363","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1363","url":null,"abstract":"Media sosial sebagai bentuk platform web 2.0 mengalihkan penekanan konsumsi layanan internet menjadi berbasis interaktif dan kolaboratif, menciptakan bentuk interaksi antar individu, kelompok masyarakat, organisasi dan publik. Tidak hanya tokoh dan politisi dunia, selebriti juga ambil bagian dalam interaktifitas dalam media sosial. Media sosial telah menjadi arena sosial global yang menjadi tempat reproduksi budaya yang dilakukan terus menerus yang melibatkan individu dalam kelas-kelas sosial. Sebagai wahana kontestasi dibutuhkan keahlian, dan modal tertentu yang disebut oleh Bourdieu dengan istilah kapital. Makalah dengan metode studi pustaka ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mobilisasi kapital yang dimiliki selebriti dalam media sosial sebagai ruang sosial yang dikenal dengan arena. Pentingnya kapital dalam sebuah arena menunjukkan bahwa media sosial bukanlah sekedar bentuk platform yang partisapatif, melainkan sebuah arena kontestasi sosial bagi individu didalamnya. Selebriti hadir ditengah publik lewat sosial media dengan kekuatan kapitalnya khususnya kapital simbolis yang didapatkan akibat akumulasi visibilitas media yang dihasilkan dari representasi media berulang kerap dikonversi menjadi kapital yang lain dalam banyak hal seperti marketing dan periklanan. Media sosial sebagai arena yang muncul dalam bentuk digital sebenarnya tidak berbeda dengan arena dalam bentuk fisik. Dalam arena terdapat usaha melakukan dominasi kelas sosial tertentu dengan memanfaatkan kapital yang dimiliki, termasuk oleh selebriti melalui distinction untuk memperlihatkan perbedaan kelas. Selain selebriti yang mendapatkan visibilitas dari media, di media sosial juga muncul fenomena micro celebrity. Komodifikasi selebriti menjadi produk pemasaran telah meningkatkan kemampuan kapital lainnya, khususnya kapital ekonomi melalui kehadiran follower. Dominasi kelas sosial selebriti terkadang tidak disadari oleh follower, dan hanya menguntungkan pada selebriti. Ketidaksadaran follower yang dibuktikan dengan tindakan mengkonsumsi produk milik selebriti agar merasa sejajar. Penciptaan selera yang sama hanyalah bentuk distinction lain yang dilakukan untuk melanggengkan kelas dominan selebriti melalui akumulasi kapital ekonomi.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"7 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125226026","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-30DOI: 10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1344
Leila Mona
Kualitas karakter dan kompetensi dari generasi muda merupakan fondasi penting suatu negara. Sebagai generasi muda, mahasiswa diharapkan berperan sebagai manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia, agen perubahan, penjaga nilai-nilai di masyarakat, memiliki kekuatan moral dan menjadi kontrol sosial. Bonus demografi di Indonesia meneguhkan pentingnya pendidikan karakter pada generasi muda. Dalam upaya menempatkan kembali peran perguruan tinggi sebagai wadah dalam membangun karakter sesuai UU no. 12 Tahun 2012 dan Konferensi Unesco tentang Perguruan Tinggi tahun 2009, maka kajian ini menawarkan pendekatan pembentukan karakter mahasiswa dengan dilandasi sifat altruisme, yaitu Personal Social Responsibility (PSR) bagi mahasiswa dan mengoptimalkan pengabdian masyarakat sebagai salah satu dari Tridarma perguruan tinggi. Kajian ini mengelaborasi pengimplementasian sinergi PSR dengan Pengabdian Masyarakat, serta peluang pengembangan nilai-nilai karakter bangsa melalui kegiatan PSR tersebut. Implementasi dari program PSR dilakukan minimal dua kali selama masa kuliahnya. Pemilihan program PSR disesuaikan dengan minat probadi dan minat yang disesuaikan dengan bidang studi yang diambil. Nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan adalah toleransi, bersahabat/komunikatif, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan kreatif.
{"title":"MENGEMBANGKAN ‘PERSONAL SOCIAL RESPOSIBILITY (PSR)’ DALAM MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA","authors":"Leila Mona","doi":"10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1344","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1344","url":null,"abstract":"Kualitas karakter dan kompetensi dari generasi muda merupakan fondasi penting suatu negara. Sebagai generasi muda, mahasiswa diharapkan berperan sebagai manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia, agen perubahan, penjaga nilai-nilai di masyarakat, memiliki kekuatan moral dan menjadi kontrol sosial. Bonus demografi di Indonesia meneguhkan pentingnya pendidikan karakter pada generasi muda. Dalam upaya menempatkan kembali peran perguruan tinggi sebagai wadah dalam membangun karakter sesuai UU no. 12 Tahun 2012 dan Konferensi Unesco tentang Perguruan Tinggi tahun 2009, maka kajian ini menawarkan pendekatan pembentukan karakter mahasiswa dengan dilandasi sifat altruisme, yaitu Personal Social Responsibility (PSR) bagi mahasiswa dan mengoptimalkan pengabdian masyarakat sebagai salah satu dari Tridarma perguruan tinggi. Kajian ini mengelaborasi pengimplementasian sinergi PSR dengan Pengabdian Masyarakat, serta peluang pengembangan nilai-nilai karakter bangsa melalui kegiatan PSR tersebut. Implementasi dari program PSR dilakukan minimal dua kali selama masa kuliahnya. Pemilihan program PSR disesuaikan dengan minat probadi dan minat yang disesuaikan dengan bidang studi yang diambil. Nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan adalah toleransi, bersahabat/komunikatif, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan kreatif.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"47 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115570241","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-30DOI: 10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1346
Arief Hidayatullah
Sambori merupakan sebuah desa yang ada di wilayah Kecamatam Lambitu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Desa Sambori merupakan sebuah desa yang berada didataran tinggi pengunungan Lambitu Kabupaten Bima. Kehidupan masyarakat di Desa Sambori masih tergolong sangat tradisional, dimana masyarakat masih mempertahankan nilai-nilai, norma dan aturan yang sudah sejak lama tertanam secara turun-temurun. Masyarakat Sambori memiliki adat-istiadat yang berbeda dengan orang Bima pada umumnya. Seperti bahasa, sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, tradisi kesenian dan norma sosial. Masyarakat Sambori, sebagainnya masih tinggal dalam rumah adat yang di sebut “Uma Lengge”. Kehidupan sosial masyarakat suku Sambori masih sangat kental dengan “nuntu ra mufaka” yang lebih di kenal dengan musyawarah. Biasanya Suku Sambori menyelesaikan setiap masalahnya dengan melakukan musyawarah untuk mendapatkan kesepatakan bersama. Tokoh adat masyarakat Sambori memiliki peran yang sangat penting dalam mewarisi serta melestarsikan berbagai budaya suku Sambori tersebut. Pola komunikasi merupakan aktivitas komunikasi yang dilakukan secara berluang (terus-menerus) hingga menjadi tanda yang melekat pada proses komunikasi tersebut. Menurut Onong Uchjana Effendy (2010) bahwa pola komunikasi dikelompokan menajadi tiga, yakni pola komunikasi primer, sekunder dan linear. Sedangkan menurut Deddy Mulyana (2003) pola komunikasi meliputi; pola komunikasi satu arah, pola komunikasi dua arah dan pola komunikasi banyak arah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dekskriptif kualitatif. Subyek penelitian ditentukan dengan purposive sampling, yakni tokoh adat masyarakat Sambori. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obsevasi, wawancara dan dokumentasi. Proses analisa data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data, yakni mereduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data yang digunakan adalah dengan triangulasi data. Data disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif tentang pola komunikasi tokoh ada dalam melestarikan budaya tradisional di Sambori. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola komunikasi tokoh adat Sambori dalam melestarikan budaya tradisional suku Sambori lebih dominan menggunakan pola komunikasi linear atau pola komunikasi dua arah. Hal tersebut terjadi karena masyarakat Sambori mempercayai tokoh adat sebagai sumber informasi sekaligus komunikator dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat Sambori.
{"title":"POLA KOMUNIKASI TOKOH ADAT DALAM MELESTARIKAN BUDAYA TRADISIONAL SUKU SAMBORI","authors":"Arief Hidayatullah","doi":"10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1346","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1346","url":null,"abstract":"Sambori merupakan sebuah desa yang ada di wilayah Kecamatam Lambitu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Desa Sambori merupakan sebuah desa yang berada didataran tinggi pengunungan Lambitu Kabupaten Bima. Kehidupan masyarakat di Desa Sambori masih tergolong sangat tradisional, dimana masyarakat masih mempertahankan nilai-nilai, norma dan aturan yang sudah sejak lama tertanam secara turun-temurun. \u0000Masyarakat Sambori memiliki adat-istiadat yang berbeda dengan orang Bima pada umumnya. Seperti bahasa, sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, tradisi kesenian dan norma sosial. Masyarakat Sambori, sebagainnya masih tinggal dalam rumah adat yang di sebut “Uma Lengge”. Kehidupan sosial masyarakat suku Sambori masih sangat kental dengan “nuntu ra mufaka” yang lebih di kenal dengan musyawarah. Biasanya Suku Sambori menyelesaikan setiap masalahnya dengan melakukan musyawarah untuk mendapatkan kesepatakan bersama. Tokoh adat masyarakat Sambori memiliki peran yang sangat penting dalam mewarisi serta melestarsikan berbagai budaya suku Sambori tersebut. \u0000Pola komunikasi merupakan aktivitas komunikasi yang dilakukan secara berluang (terus-menerus) hingga menjadi tanda yang melekat pada proses komunikasi tersebut. Menurut Onong Uchjana Effendy (2010) bahwa pola komunikasi dikelompokan menajadi tiga, yakni pola komunikasi primer, sekunder dan linear. Sedangkan menurut Deddy Mulyana (2003) pola komunikasi meliputi; pola komunikasi satu arah, pola komunikasi dua arah dan pola komunikasi banyak arah. \u0000Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dekskriptif kualitatif. Subyek penelitian ditentukan dengan purposive sampling, yakni tokoh adat masyarakat Sambori. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obsevasi, wawancara dan dokumentasi. Proses analisa data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data, yakni mereduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data yang digunakan adalah dengan triangulasi data. Data disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif tentang pola komunikasi tokoh ada dalam melestarikan budaya tradisional di Sambori. \u0000Hasil penelitian menunjukan bahwa pola komunikasi tokoh adat Sambori dalam melestarikan budaya tradisional suku Sambori lebih dominan menggunakan pola komunikasi linear atau pola komunikasi dua arah. Hal tersebut terjadi karena masyarakat Sambori mempercayai tokoh adat sebagai sumber informasi sekaligus komunikator dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat Sambori.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125310980","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-30DOI: 10.20884/1.ACTADIURNA.2018.14.2.1345
S. Oktarina
Tesis ini membahas tentang peran dan tantangan yang di hadapi Organisasi Bundo Kanduang Dalam Mendorong Representasi Perempuandi Lembaga Legislatif Sumatera Barat. Penelitian ini adalah penilitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian memaparkan bahwa adanya Undang-undang No.22 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan Undang-undang No.32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah berdampak terhadap berlakunya sistem demokrasi lokal di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya Sumatera Barat. Provinsi Sumatera Barat merupakan daerah yang corak kebudayaanya khas, menganut asas matrilineal, perempuan menempati posisi sentral. Peran perempuan Sumatera Barat atau yang dikenal dengan istilah bundo kanduang kemudian diperkuat melalui Peraturan daerah tentang Pemerintahan Nagari. Bundo kanduang tidak hanya sebagai pelestari adat, namun juga memiliki peran politis sebagai penentu kebijakan. Organisasi Bundo Kanduang, sebagai salah satu kelompok perempuan Minangkabau berupaya mendorong kehadiran perempuan di dalam lembaga kebijakan melalui peningkatan kapasitas perempuan, mulaidaritingkatnagarihingga provinsi. Realitanya, tak sedikit hambatan yang harus dihadapi dalam menghadirkan perempuan di dalam pengambil kebijakan. Kentalnya akulturasi budaya patriarkhi, doktrin Agama, hingga adanya dualisme sistem pemerintahan yang berjalan di Sumatera Barat menjadi isu utama. Tak hayal, peran organisasi bundo kanduang pun hanya mampu berjalan di tataran subtantif seremonial.
{"title":"TANTANGAN ORGANISASI BUNDO KANDUANG DALAM MENDORONG REPRESENTASI PEREMPUAN DI LEMBAGA LEGISLATIF SUMATERA BARAT","authors":"S. Oktarina","doi":"10.20884/1.ACTADIURNA.2018.14.2.1345","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.ACTADIURNA.2018.14.2.1345","url":null,"abstract":"Tesis ini membahas tentang peran dan tantangan yang di hadapi Organisasi Bundo Kanduang Dalam Mendorong Representasi Perempuandi Lembaga Legislatif Sumatera Barat. Penelitian ini adalah penilitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian memaparkan bahwa adanya Undang-undang No.22 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan Undang-undang No.32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah berdampak terhadap berlakunya sistem demokrasi lokal di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya Sumatera Barat. Provinsi Sumatera Barat merupakan daerah yang corak kebudayaanya khas, menganut asas matrilineal, perempuan menempati posisi sentral. Peran perempuan Sumatera Barat atau yang dikenal dengan istilah bundo kanduang kemudian diperkuat melalui Peraturan daerah tentang Pemerintahan Nagari. Bundo kanduang tidak hanya sebagai pelestari adat, namun juga memiliki peran politis sebagai penentu kebijakan. Organisasi Bundo Kanduang, sebagai salah satu kelompok perempuan Minangkabau berupaya mendorong kehadiran perempuan di dalam lembaga kebijakan melalui peningkatan kapasitas perempuan, mulaidaritingkatnagarihingga provinsi. Realitanya, tak sedikit hambatan yang harus dihadapi dalam menghadirkan perempuan di dalam pengambil kebijakan. Kentalnya akulturasi budaya patriarkhi, doktrin Agama, hingga adanya dualisme sistem pemerintahan yang berjalan di Sumatera Barat menjadi isu utama. Tak hayal, peran organisasi bundo kanduang pun hanya mampu berjalan di tataran subtantif seremonial.","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"62 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128757142","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2018-10-30DOI: 10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1357
Ruvira Arindita, Harza Putra Hartanto
Partisipasi perempuan Indonesia dalam kancah politik semakin meningkat. Salah satu sosok politisi perempuan yang mencuri perhatian adalah Puti Guntur Soekarno Sebelumnya sudah cukup banyak keturunan presiden RI pertama yang aktif dalam politik praktis bahkan Megawati Soekarno Putri berhasil terpilih menjadi presiden perempuan pertama di negeri ini. Kemunculan Puti sebagai Calon Wakil Gubernur Jawa Timur mengukuhkan regenerasi politisi perempuan dalam trah Soekarno. Namun tidak cukup dengan mengandalkan nama besar keluarga, untuk memperkenalkan diri ke hadapan konstituen Puti harus memiliki strategi tertentu. Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana Political Marketing yang dilakukan oleh Puti melalui Retorika Publik di akun Media Sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi dengan pendekatan kualitatif. Unit analisis adalah foto-foto dari akun Instagram @puti_soekarno yang diunggah selama periode Pilkada yaitu Februari – Juni 2018. Kemudian foto, keterangan foto dan tanda pagar (hashtags) yang dipakai akan dianalisis berdasarkan teori Retorika Publik Aristoteles (Ethos, Pathos, Logos) dan dikaitkan dengan kategori Political Marketing Peter Montoya (Kebijakan, Figur, Partai dan Pencitraan). Berdasarkan temuan peneliti, kategori Political Marketing yang paling dominan digunakan oleh Puti adalah Figur dan Partai. Upaya political marketing tersebut didukung oleh gaya Retorika Publik yang mengedepankan Pathos (membangkitkan emosi positif) dan Ethos (menunjukkan kredibilitas komunikator) dibandingkan Logos (logika).
印尼妇女在政治领域的参与正在增加。这位年轻的女政治家首先是苏加诺(Soekarno),她的政治活跃,甚至是苏加诺(Megawati Soekarno)的女儿,她成功地当选了美国第一位女总统。普提是东爪哇省副州长,他的出现证实了苏加诺集团内女性政治家的再生。然而,仅仅依靠家族的大名,向我们的选民普提必须有一定的策略,这是不够的。研究员想知道通讯员如何通过社交媒体上的公共言辞进行政治营销。本研究采用的方法是对内容的定性方法的分析。分析单位是在2018年2月至6月的皮尔卡达期间上传的Instagram账号@ white _soekarno的照片。然后,照片、照片说明和标签(hashtags)将根据亚里士多德的公共修辞理论(Ethos、哀哀声、道)和政治营销类别彼得蒙托亚(政策、人物、政党和成像)进行分析。根据研究人员的发现,党派和人物是主要的政治营销类别。这种政治营销的努力得到了公众舆论对逻辑学(逻辑学)的强调(激发积极情绪)和埃托斯(表现出可信的沟通者)的支持。
{"title":"POLITICAL MARKETING POLITISI PEREMPUAN DI MEDIA SOSIAL (ANALISIS RETORIKA PUBLIK PADA AKUN INSTAGRAM @puti_soekarno)","authors":"Ruvira Arindita, Harza Putra Hartanto","doi":"10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1357","DOIUrl":"https://doi.org/10.20884/1.actadiurna.2018.14.2.1357","url":null,"abstract":"Partisipasi perempuan Indonesia dalam kancah politik semakin meningkat. Salah satu sosok politisi perempuan yang mencuri perhatian adalah Puti Guntur Soekarno Sebelumnya sudah cukup banyak keturunan presiden RI pertama yang aktif dalam politik praktis bahkan Megawati Soekarno Putri berhasil terpilih menjadi presiden perempuan pertama di negeri ini. Kemunculan Puti sebagai Calon Wakil Gubernur Jawa Timur mengukuhkan regenerasi politisi perempuan dalam trah Soekarno. Namun tidak cukup dengan mengandalkan nama besar keluarga, untuk memperkenalkan diri ke hadapan konstituen Puti harus memiliki strategi tertentu. Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana Political Marketing yang dilakukan oleh Puti melalui Retorika Publik di akun Media Sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi dengan pendekatan kualitatif. Unit analisis adalah foto-foto dari akun Instagram @puti_soekarno yang diunggah selama periode Pilkada yaitu Februari – Juni 2018. Kemudian foto, keterangan foto dan tanda pagar (hashtags) yang dipakai akan dianalisis berdasarkan teori Retorika Publik Aristoteles (Ethos, Pathos, Logos) dan dikaitkan dengan kategori Political Marketing Peter Montoya (Kebijakan, Figur, Partai dan Pencitraan). Berdasarkan temuan peneliti, kategori Political Marketing yang paling dominan digunakan oleh Puti adalah Figur dan Partai. Upaya political marketing tersebut didukung oleh gaya Retorika Publik yang mengedepankan Pathos (membangkitkan emosi positif) dan Ethos (menunjukkan kredibilitas komunikator) dibandingkan Logos (logika).","PeriodicalId":415699,"journal":{"name":"Journal Acta Diurna","volume":"96 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-10-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124669231","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}