Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24280
Graciela Graciela, Nafiah Solikhah
One part of society that needs attention is an extraordinary child, especially in terms of spatial design and circulation. This can be combined with a design that uses the healing therapeutic concept, namely the extraordinary abilities possessed by each extraordinary child, starting from social interaction, psychology and mindset. Extraordinary children need an education center with adequate facilities so that they can develop the potential of extraordinary children so that they can increase their self-confidence and be able to produce works that are useful for society. The educational facilities accommodated must think about a design according to their needs and adequate circulation to make it easier for them to move. To realize this, it is necessary to conduct research on space requirements and then realize these space requirements as a design plan. With the help of programs that stimulate other senses by special children, they will be more confident and independent in the outside environment and may not always depend on others. In this study, the authors presented the concept of healing therapeutics at this special education center for the blind by using a qualitative descriptive method, which means collecting data through literature studies and field observations. Keywords: education; extraordinary children; facilities; healing therapeutic Abstrak Salah satu bagian dari masyarakat yang perlu diperhatikan adalah anak luar biasa terutama dalam rancangan keruangan dan sirkulasinya. Hal ini dapat dipadukan dengan desain yang menggunakan konsep healing therapeutic yaitu dengan keluarbiasaan yang dimiliki oleh masing-masing anak luar biasa mulai dari hal interaksi sosial, psikologis dan pola pikir. Anak luar biasa perlu adanya pusat pendidikan yang fasilitasnya memadai sehingga dapat mengembangkan potensi dari anak luar biasa agar mereka bisa meningkatkan kepercayaan diri yang dapat menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat. Fasilitas pendidikan yang diwadahi harus memikirkan rancangan desain sesuai dengan kebutuhan mereka dan sirkulasi yang memadai untuk memudahkan mereka dalam mobilitas. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya penelitian dalam kebutuhan ruang lalu mewujudkan kebutuhan ruang tersebut sebagai rancangan desain. Dengan dibantu oleh program-program yang merangsang indera-indera lain oleh anak-anak luar biasa, mereka akan lebih percaya diri dan mandiri di lingkungan luar dan mungkin tidak selalu bergantung kepada orang lain. Dalam penelitian ini, penulis membawakan konsep healing therapeutic pada pusat pendidikan khusus tunanetra ini dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berarti mengumpulkan data yang dilakukan dengan studi literatur dan juga observasi lapangan.
{"title":"PENDEKATAN ARSITEKTUR MELALUI PERABAAN PADA SEKOLAH DASAR KHUSUS TUNANETRA","authors":"Graciela Graciela, Nafiah Solikhah","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24280","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24280","url":null,"abstract":"One part of society that needs attention is an extraordinary child, especially in terms of spatial design and circulation. This can be combined with a design that uses the healing therapeutic concept, namely the extraordinary abilities possessed by each extraordinary child, starting from social interaction, psychology and mindset. Extraordinary children need an education center with adequate facilities so that they can develop the potential of extraordinary children so that they can increase their self-confidence and be able to produce works that are useful for society. The educational facilities accommodated must think about a design according to their needs and adequate circulation to make it easier for them to move. To realize this, it is necessary to conduct research on space requirements and then realize these space requirements as a design plan. With the help of programs that stimulate other senses by special children, they will be more confident and independent in the outside environment and may not always depend on others. In this study, the authors presented the concept of healing therapeutics at this special education center for the blind by using a qualitative descriptive method, which means collecting data through literature studies and field observations. Keywords: education; extraordinary children; facilities; healing therapeutic Abstrak Salah satu bagian dari masyarakat yang perlu diperhatikan adalah anak luar biasa terutama dalam rancangan keruangan dan sirkulasinya. Hal ini dapat dipadukan dengan desain yang menggunakan konsep healing therapeutic yaitu dengan keluarbiasaan yang dimiliki oleh masing-masing anak luar biasa mulai dari hal interaksi sosial, psikologis dan pola pikir. Anak luar biasa perlu adanya pusat pendidikan yang fasilitasnya memadai sehingga dapat mengembangkan potensi dari anak luar biasa agar mereka bisa meningkatkan kepercayaan diri yang dapat menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat. Fasilitas pendidikan yang diwadahi harus memikirkan rancangan desain sesuai dengan kebutuhan mereka dan sirkulasi yang memadai untuk memudahkan mereka dalam mobilitas. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya penelitian dalam kebutuhan ruang lalu mewujudkan kebutuhan ruang tersebut sebagai rancangan desain. Dengan dibantu oleh program-program yang merangsang indera-indera lain oleh anak-anak luar biasa, mereka akan lebih percaya diri dan mandiri di lingkungan luar dan mungkin tidak selalu bergantung kepada orang lain. Dalam penelitian ini, penulis membawakan konsep healing therapeutic pada pusat pendidikan khusus tunanetra ini dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berarti mengumpulkan data yang dilakukan dengan studi literatur dan juga observasi lapangan.","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"17 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139309425","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24244
Stephanie Aritonang Fernando, Alvin Hadiwono
All parents must really love and want to give the best for their children. In order to provide the best, parents have to work from morning to evening to support their children and provide financial support. However, as a parent, feelings of anxiety arise because you have to always be away from your child, you feel confused about what to do, you are afraid that your baby will be sad and lonely. While the cognitive and motor development of children at an early age is very important because it will determine how the child grows later. Not a few families leave their children with their grandmother or hire a babysitter because they think this is the best solution for their condition of having to work. Abroad, both parents who work usually leave their children at daycare. In Daycare children usually spend time According to a 2020 study that analyzed 25 states across the country, 8.4 million children under the age of five are in need of child care. However, only about 5.9 million childcare slots are available. Thus, around 2.7 million children, or 31.7%, cannot access quality child care due to the limited number of child care slots. This shows that when both parents have to work, they need help to raise or educate their children. In this study, a qualitative method was used by implementing the behavior in the case study taken in this study, namely Daycare. This aims to help design a daycare that supports their development, especially for children who have been abandoned by their parents. Keywords: children development; daycare; empathic architecture Abstrak Semua orang tua pasti sangat menyayangi dan ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Demi memberikan yang terbaik, orang tua harus bekerja dari pagi hingga sore untuk menghidupi sang anak dan memberikan dukungan finansial. Namun sebagai orang tua, perasaan cemas timbul karena harus selalu jauh dari anak, merasa bingung harus bagaimana, takut sang buah hati sedih dan kesepian. Sementara perkembangan kognitif dan motorik anak di usia dini sangat penting karena akan menentukan bagaimana tumbuhnya anak nantinya. Tidak sedikit keluarga yang menitipkan anak kepada nenek atau mempekerjakan seorang babysitter karena menurut mereka hal ini merupakan sebuah solusi yang paling baik untuk kondisi mereka yang harus bekerja. Di luar negeri kedua orang tua yang bekerja biasanya menitipkan anak pada daycare dan dalam daycare tersebut anak-anak biasanya menghabiskan waktu. Menurut sebuah studi tahun 2020 yang menganalisis 25 negara bagian di seluruh negeri, 8.4 juta anak di bawah usia lima tahun membutuhkan perawatan anak. Namun, hanya sekitar 5.9 juta slot penitipan anak yang tersedia. Dengan demikian, sekitar 2.7 juta anak, atau 31.7%, tidak dapat mengakses penitipan anak yang berkualitas karena terbatasnya jumlah slot penitipan anak. Hal ini menunjukkan bahwa ketika kedua orang tua harus bekerja, mereka membutuh bantuan untuk membesarkan atau mendidik anak mereka. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitati
{"title":"ARSITEKTUR SEBAGAI TEMPAT PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI","authors":"Stephanie Aritonang Fernando, Alvin Hadiwono","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24244","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24244","url":null,"abstract":"All parents must really love and want to give the best for their children. In order to provide the best, parents have to work from morning to evening to support their children and provide financial support. However, as a parent, feelings of anxiety arise because you have to always be away from your child, you feel confused about what to do, you are afraid that your baby will be sad and lonely. While the cognitive and motor development of children at an early age is very important because it will determine how the child grows later. Not a few families leave their children with their grandmother or hire a babysitter because they think this is the best solution for their condition of having to work. Abroad, both parents who work usually leave their children at daycare. In Daycare children usually spend time According to a 2020 study that analyzed 25 states across the country, 8.4 million children under the age of five are in need of child care. However, only about 5.9 million childcare slots are available. Thus, around 2.7 million children, or 31.7%, cannot access quality child care due to the limited number of child care slots. This shows that when both parents have to work, they need help to raise or educate their children. In this study, a qualitative method was used by implementing the behavior in the case study taken in this study, namely Daycare. This aims to help design a daycare that supports their development, especially for children who have been abandoned by their parents. Keywords: children development; daycare; empathic architecture Abstrak Semua orang tua pasti sangat menyayangi dan ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Demi memberikan yang terbaik, orang tua harus bekerja dari pagi hingga sore untuk menghidupi sang anak dan memberikan dukungan finansial. Namun sebagai orang tua, perasaan cemas timbul karena harus selalu jauh dari anak, merasa bingung harus bagaimana, takut sang buah hati sedih dan kesepian. Sementara perkembangan kognitif dan motorik anak di usia dini sangat penting karena akan menentukan bagaimana tumbuhnya anak nantinya. Tidak sedikit keluarga yang menitipkan anak kepada nenek atau mempekerjakan seorang babysitter karena menurut mereka hal ini merupakan sebuah solusi yang paling baik untuk kondisi mereka yang harus bekerja. Di luar negeri kedua orang tua yang bekerja biasanya menitipkan anak pada daycare dan dalam daycare tersebut anak-anak biasanya menghabiskan waktu. Menurut sebuah studi tahun 2020 yang menganalisis 25 negara bagian di seluruh negeri, 8.4 juta anak di bawah usia lima tahun membutuhkan perawatan anak. Namun, hanya sekitar 5.9 juta slot penitipan anak yang tersedia. Dengan demikian, sekitar 2.7 juta anak, atau 31.7%, tidak dapat mengakses penitipan anak yang berkualitas karena terbatasnya jumlah slot penitipan anak. Hal ini menunjukkan bahwa ketika kedua orang tua harus bekerja, mereka membutuh bantuan untuk membesarkan atau mendidik anak mereka. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitati","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"28 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139308506","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24338
Alivia Putri Winata, Regina Suryadjaja, S. Santoso, B. Wipranata
Tenjo Station is the main public transportation mode in Tenjo District which is one of the mobillity centers in the area. Tenjo Station is a stopping place for the Commuter Line which requires support from other modes of transportation to reach it hence a high quality transportation infrastructure is needed to be able to create interdependent integration. In addition, regional development can be a benchmark that requires integration between modes in forming an area. Therefore, to find out the conditions of integration and the availability of transportation facilities and infrastructure, it is carried out through network and movement analysis and analysis of transportation facilities and infrastructure using a descriptive-qualitative methods such as observational data, interviews and secondary data obtained from Google Maps and the Moovit application. Network and movement analysis is carried out by processing road network data that can be accessed to reach Tenjo Station. While the analysis of transportation facilities and infrastructure is carried out by processing data on stop points and routes from transportation modes with assessment tools standardization of bus stop making. In order to find out these conditions that are supported by the results of the two analyzes, development recommendations can be carried out by adding transportation infrastructure in the form of bus stop as a place to switch modes in order to create integration. As well as recommendations for the improvement of Tenjo Station as the main station so that it is more adequate in its use. Keywords: Tenjo Station; Integration of Transportation Mode; Availability of Transportation Facilities and Infrastructure Abstrak Stasiun Tenjo merupakan moda transportasi umum utama di Kecamatan Tenjo yang merupakan salah satu pusat mobilitas pada kawasan tersebut. Stasiun Tenjo adalah tempat pemberhentian Kereta Rel Listrik (KRL) yang memerlukan dukungan dari moda tranportasi lain untuk dapat mencapai Stasiun Tenjo sehingga dibutuhkan prasarana transportasi yang baik untuk dapat menciptakan integrasi yang saling bergantung. Selain itu, pengembangan kawasan dapat menjadi tolak ukur bahwa diperlukan integrasi antar moda dalam membentuk suatu kawasan. Dengan demikian, untuk mengetahui kondisi integrasi dan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi dilakukan melalui analisis jaringan dan pergerakan dan analisis sarana dan prasarana transportasi dengan metode deskriptif - kualitatif seperti data hasil observasi, wawancara serta data sekunder yang diperoleh dari Google Maps dan Aplikasi Moovit. Analisis jaringan dan pergerakan dilakukan dengan mengolah data jaringan jalan yang dapat diakses untuk mencapai Stasiun Tenjo. Sedangkan analisis sarana dan prasarana transportasi dilakukan dengan mengolah data titik pemberhentian dan rute dari moda transportasi dengan alat penilaian standarisasi pembuatan bus stop. Dalam rangka mengetahui kondisi tersebut yang didukung dari hasil kedua an
天城站是天城地区的主要公共交通方式,也是该地区的交通中心之一。天城站是通勤线的停靠站,需要其他交通方式的支持才能到达,因此需要高质量的交通基础设施,以实现相互依存的一体化。此外,区域发展也是一个基准,需要各种交通方式在形成一个区域时相互融合。因此,为了了解一体化的条件以及交通设施和基础设施的可用性,我们采用了描述性定量方法,如观察数据、访谈以及从谷歌地图和 Moovit 应用程序中获取的二手数据,对交通设施和基础设施进行网络和移动分析。网络和移动分析是通过处理可到达天城站的道路网络数据进行的。而交通设施和基础设施分析则是通过处理交通方式的停靠点和路线数据,并利用公交站点标准化评估工具来进行的。为了找出这两项分析结果所支持的这些条件,可以通过增加交通基础设施的形式,将公交站点作为转换交通方式的场所,以实现一体化。此外,还可对作为主要车站的天城站提出改进建议,使其在使用中更加得心应手。关键词 天城站;交通模式的整合;交通设施和基础设施的可用性 Abstrak Stasiun Tenjo merupakan moda transportasi umum utama di Kecamatan Tenjo yang merupakan salah satu pusat mobilitas pada kawasan tersebut.天城地区交通局是 Kereta Rel Listrik (KRL) 的一个临时机构,负责管理当地的交通方式,以确保天城地区交通局的正常运作,同时也负责管理当地的交通系统,以确保该地区的综合交通系统正常运作。在此基础上,通过整合前沿技术来实现对整个行业的控制。据统计,通过谷歌地图和 Moovit 应用程序的数据观测、数据分析和数据挖掘,可实现对城市交通和公共交通的综合分析。这些数据可用于天城观测站的观测和分析。通过分析公交车站的交通状况,可以获得有关交通方式的交通流量和交通规则的数据。通过分析得出的数据表明,公交车站的交通管理建议将成为公交车站综合管理模式的一部分。此外,我们还推荐您在天鹅湖(Stasiun Tenjo)附近的公共交通站点开始工作。
{"title":"STUDI INTEGRASI SERTA KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI UMUM DI KAWASAN STASIUN TENJO, KABUPATEN BOGOR","authors":"Alivia Putri Winata, Regina Suryadjaja, S. Santoso, B. Wipranata","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24338","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24338","url":null,"abstract":"Tenjo Station is the main public transportation mode in Tenjo District which is one of the mobillity centers in the area. Tenjo Station is a stopping place for the Commuter Line which requires support from other modes of transportation to reach it hence a high quality transportation infrastructure is needed to be able to create interdependent integration. In addition, regional development can be a benchmark that requires integration between modes in forming an area. Therefore, to find out the conditions of integration and the availability of transportation facilities and infrastructure, it is carried out through network and movement analysis and analysis of transportation facilities and infrastructure using a descriptive-qualitative methods such as observational data, interviews and secondary data obtained from Google Maps and the Moovit application. Network and movement analysis is carried out by processing road network data that can be accessed to reach Tenjo Station. While the analysis of transportation facilities and infrastructure is carried out by processing data on stop points and routes from transportation modes with assessment tools standardization of bus stop making. In order to find out these conditions that are supported by the results of the two analyzes, development recommendations can be carried out by adding transportation infrastructure in the form of bus stop as a place to switch modes in order to create integration. As well as recommendations for the improvement of Tenjo Station as the main station so that it is more adequate in its use. Keywords: Tenjo Station; Integration of Transportation Mode; Availability of Transportation Facilities and Infrastructure Abstrak Stasiun Tenjo merupakan moda transportasi umum utama di Kecamatan Tenjo yang merupakan salah satu pusat mobilitas pada kawasan tersebut. Stasiun Tenjo adalah tempat pemberhentian Kereta Rel Listrik (KRL) yang memerlukan dukungan dari moda tranportasi lain untuk dapat mencapai Stasiun Tenjo sehingga dibutuhkan prasarana transportasi yang baik untuk dapat menciptakan integrasi yang saling bergantung. Selain itu, pengembangan kawasan dapat menjadi tolak ukur bahwa diperlukan integrasi antar moda dalam membentuk suatu kawasan. Dengan demikian, untuk mengetahui kondisi integrasi dan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi dilakukan melalui analisis jaringan dan pergerakan dan analisis sarana dan prasarana transportasi dengan metode deskriptif - kualitatif seperti data hasil observasi, wawancara serta data sekunder yang diperoleh dari Google Maps dan Aplikasi Moovit. Analisis jaringan dan pergerakan dilakukan dengan mengolah data jaringan jalan yang dapat diakses untuk mencapai Stasiun Tenjo. Sedangkan analisis sarana dan prasarana transportasi dilakukan dengan mengolah data titik pemberhentian dan rute dari moda transportasi dengan alat penilaian standarisasi pembuatan bus stop. Dalam rangka mengetahui kondisi tersebut yang didukung dari hasil kedua an","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"56 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139307610","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24237
Amara Felica Salim, F. Tatang, Hendra Pangestu
Indonesia is a maritime country with 17,000 islands and a coastline of more than 99,000 km so it has potential in the fisheries sector. Therefore, many people work as fishermen. Unfortunately, this potential has not been utilized properly due to the lack of balance of attention in development and development in coastal areas. This affects the living conditions of fishermen. The Dadap Tangerang Fisherman's Village was chosen as the object of observation because it is compatible with the issues raised. The research was carried out using the case study method in which the researcher made observations on a case that occurred in a certain place in a certain period of time. Data collection was carried out through literature, interviews, and observation with the focus of the study being fishermen on the Dadap coast. From the analysis and empathy strategies that have been carried out, it is found that fishermen have limitations in accessing resources which results in a low quality of life and welfare. The results of the case studies show that each fishing village has its own locality value. Therefore, architecture must be able to see opportunities for coastal areas by maintaining locality values and the area's relationship with the surrounding area. The role of empathetic architecture in solving this problem is to provide space that can improve the quality of life of fishing communities through improving the quality of living space for fishing communities without leaving their habits. Keywords: dadap; fishermen; life Abstrak Indonesia merupakan negara maritim dengan 17.000 pulau dan garis pantai lebih dari 99.000 km sehingga memiliki potensi dalam bidang perikanan. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Sayangnya potensi tersebut kurang dimanfaatkan dengan baik karena kurang seimbangnya perhatian dalam pembangunan dan pengembangan pada wilayah pesisir. Hal ini mempengaruhi kondisi kehidupan nelayan. Kampung Nelayan Dadap Tangerang dipilih sebagai objek pengamatan karena memiliki kecocokan terhadap masalah yang diangkat. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus dimana peneliti melakukan pengamatan pada suatu kasus yang terjadi di tempat tertentu dalam suatu periode waktu. Perolehan data dilakukan melalui literatur, wawancara, dan observasi dengan fokus studi merupakan nelayan di pesisir Dadap. Dari analisis dan strategi empati yang sudah dilakukan diperoleh hasil bahwa para nelayan memiliki keterbatasan dalam mengakses sumber daya yang mengakibatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya rendah. Hasil stiudi kasus menunjukkan bahwa setiap kampung nelayan memiliki nilai lokalitasnya masing - masing. Oleh karena itu, Arsitektur harus bisa melihat peluang wilayah pesisir dengan mempertahankan nilai lokalitasnya dan hubungan kawasan dengan kawasan sekitarnya. Peran arsitektur empati dalam menyelesaikan masalah ini adalah dengan menyediakan ruang yang dapat meningkatkan kualitas hidup komunitas nelayan melalui peningkatan kualit
{"title":"PENERAPAN ARSITEKTUR EMPATI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP NELAYAN DADAP TANGERANG","authors":"Amara Felica Salim, F. Tatang, Hendra Pangestu","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24237","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24237","url":null,"abstract":"Indonesia is a maritime country with 17,000 islands and a coastline of more than 99,000 km so it has potential in the fisheries sector. Therefore, many people work as fishermen. Unfortunately, this potential has not been utilized properly due to the lack of balance of attention in development and development in coastal areas. This affects the living conditions of fishermen. The Dadap Tangerang Fisherman's Village was chosen as the object of observation because it is compatible with the issues raised. The research was carried out using the case study method in which the researcher made observations on a case that occurred in a certain place in a certain period of time. Data collection was carried out through literature, interviews, and observation with the focus of the study being fishermen on the Dadap coast. From the analysis and empathy strategies that have been carried out, it is found that fishermen have limitations in accessing resources which results in a low quality of life and welfare. The results of the case studies show that each fishing village has its own locality value. Therefore, architecture must be able to see opportunities for coastal areas by maintaining locality values and the area's relationship with the surrounding area. The role of empathetic architecture in solving this problem is to provide space that can improve the quality of life of fishing communities through improving the quality of living space for fishing communities without leaving their habits. Keywords: dadap; fishermen; life Abstrak Indonesia merupakan negara maritim dengan 17.000 pulau dan garis pantai lebih dari 99.000 km sehingga memiliki potensi dalam bidang perikanan. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Sayangnya potensi tersebut kurang dimanfaatkan dengan baik karena kurang seimbangnya perhatian dalam pembangunan dan pengembangan pada wilayah pesisir. Hal ini mempengaruhi kondisi kehidupan nelayan. Kampung Nelayan Dadap Tangerang dipilih sebagai objek pengamatan karena memiliki kecocokan terhadap masalah yang diangkat. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus dimana peneliti melakukan pengamatan pada suatu kasus yang terjadi di tempat tertentu dalam suatu periode waktu. Perolehan data dilakukan melalui literatur, wawancara, dan observasi dengan fokus studi merupakan nelayan di pesisir Dadap. Dari analisis dan strategi empati yang sudah dilakukan diperoleh hasil bahwa para nelayan memiliki keterbatasan dalam mengakses sumber daya yang mengakibatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya rendah. Hasil stiudi kasus menunjukkan bahwa setiap kampung nelayan memiliki nilai lokalitasnya masing - masing. Oleh karena itu, Arsitektur harus bisa melihat peluang wilayah pesisir dengan mempertahankan nilai lokalitasnya dan hubungan kawasan dengan kawasan sekitarnya. Peran arsitektur empati dalam menyelesaikan masalah ini adalah dengan menyediakan ruang yang dapat meningkatkan kualitas hidup komunitas nelayan melalui peningkatan kualit","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"66 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139307936","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24313
Winsen Setiawan
Nowadays, having a Bachelor's degree is the standard of education in big cities and in the regions because one of the demands is to work one of them, but in some areas they don't have campuses that are said to be quite good compared to big cities, which causes people to have to migrate to gain knowledge. When they migrate, they are confused about where to live, because they do not have relatives to be able to live in, one of which is in the city of Jakarta. The real conditions are especially on the Tarumanagara University campus. Apart from that security and safety are also feared by their parents, a special dormitory for Tarumanagara University students is needed. In a residence for students, of course, students have different needs where each faculty such as the faculty of medicine and engineering has different needs where architects need a large desk while medical students need a large blackboard to draw and study, they have different space requirements and Emphatic Architecture works by giving users the space they need. Therefore the required design will suit the needs of Tarumangara University students by providing supporting facilities and the application of active concepts contained inside and outside the building and from games on the exterior. Primary data was obtained through surveys and interviews while secondary data was obtained from books and literature on the internet. Keywords: active; architecture; dormitory; emphatic architecture; students. Abstrak Pada zaman sekarang memiliki gelar S1 merupakan standar pendidikan dikota besar maupun di daerah karena salah satu tuntutan untuk bekerja salah satunya, tetapi di beberapa daerah tidak memiliki kampus yang cukup dikatakan baik dibandingkan di kota besar, yang menyebabkan orang harus merantau untuk mendapatkan ilmu. Ketika mereka merantau, kebingungan akan tempat tinggal, karena mereka tidak mempunyai sanak saudara untuk dapat menumpang tinggal, salah satunya seperti di kota Jakarta. Kondisi nyata terutama pada kampus Universitas Tarumanagara. Selain itu keamanan dan keselamatan pun dikhawatirkan oleh orang tua mereka, maka diperlukan asrama khusus mahasiswa dan mahasiswi Universitas Tarumanagara. Dalam sebuah tempat tinggal untuk mahasiswa tentu mahasiswa itu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dimana setiap fakultas seperti fakultas kedokteran dan teknik memiliki kebutuhan yang berbeda dimana anak arsitek yang membutuhkan meja yang besar sedangkan anak kedokteran membutuhkan sebuah papan tulis besar untuk menggambar dan belajar, mereka memiliki kebutuhan ruang yang berbeda dan Emphatic Architecture bekerja dengan memberi ruang yang dibutuhkan untuk pengguna. Oleh karena itu desain yang dibutuhkan akan menyesuaikan dengan kebutuhan para mahasiswa Universitas Tarumangara dengan memberikan fasilitias penunjang serta penerapan konsep aktif yang terdapat didalam bangunan maupun diluar bangunan dan dari permainan pada eksteriornya. Data primer diperoleh melalui survei dan wawancara sedan
{"title":"PENDEKATAN EMPHATIC ARCHITECURE TERHADAP KONSEP AKTIF PADA ASRAMA MAHASISWA SEMESTER AWAL UNIVERSITAS TARUMANAGARA","authors":"Winsen Setiawan","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24313","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24313","url":null,"abstract":"Nowadays, having a Bachelor's degree is the standard of education in big cities and in the regions because one of the demands is to work one of them, but in some areas they don't have campuses that are said to be quite good compared to big cities, which causes people to have to migrate to gain knowledge. When they migrate, they are confused about where to live, because they do not have relatives to be able to live in, one of which is in the city of Jakarta. The real conditions are especially on the Tarumanagara University campus. Apart from that security and safety are also feared by their parents, a special dormitory for Tarumanagara University students is needed. In a residence for students, of course, students have different needs where each faculty such as the faculty of medicine and engineering has different needs where architects need a large desk while medical students need a large blackboard to draw and study, they have different space requirements and Emphatic Architecture works by giving users the space they need. Therefore the required design will suit the needs of Tarumangara University students by providing supporting facilities and the application of active concepts contained inside and outside the building and from games on the exterior. Primary data was obtained through surveys and interviews while secondary data was obtained from books and literature on the internet. Keywords: active; architecture; dormitory; emphatic architecture; students. Abstrak Pada zaman sekarang memiliki gelar S1 merupakan standar pendidikan dikota besar maupun di daerah karena salah satu tuntutan untuk bekerja salah satunya, tetapi di beberapa daerah tidak memiliki kampus yang cukup dikatakan baik dibandingkan di kota besar, yang menyebabkan orang harus merantau untuk mendapatkan ilmu. Ketika mereka merantau, kebingungan akan tempat tinggal, karena mereka tidak mempunyai sanak saudara untuk dapat menumpang tinggal, salah satunya seperti di kota Jakarta. Kondisi nyata terutama pada kampus Universitas Tarumanagara. Selain itu keamanan dan keselamatan pun dikhawatirkan oleh orang tua mereka, maka diperlukan asrama khusus mahasiswa dan mahasiswi Universitas Tarumanagara. Dalam sebuah tempat tinggal untuk mahasiswa tentu mahasiswa itu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dimana setiap fakultas seperti fakultas kedokteran dan teknik memiliki kebutuhan yang berbeda dimana anak arsitek yang membutuhkan meja yang besar sedangkan anak kedokteran membutuhkan sebuah papan tulis besar untuk menggambar dan belajar, mereka memiliki kebutuhan ruang yang berbeda dan Emphatic Architecture bekerja dengan memberi ruang yang dibutuhkan untuk pengguna. Oleh karena itu desain yang dibutuhkan akan menyesuaikan dengan kebutuhan para mahasiswa Universitas Tarumangara dengan memberikan fasilitias penunjang serta penerapan konsep aktif yang terdapat didalam bangunan maupun diluar bangunan dan dari permainan pada eksteriornya. Data primer diperoleh melalui survei dan wawancara sedan","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"14 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139309190","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24210
Sella Serina, Sutrisnowati Machdijar
The number of street children continues to increase due to the tendency of children who are easily influenced to become street children due to their surroundings. Street children are in a vulnerable phase and are easily influenced by their environment to become street children, so some of them have to drop out of school because the majority prefer to help their parents make a living. This causes street children to grow up with educational values instilled from an early age so they have a lack of interest in learning. The educational needs of street children require learning methods that are appropriate to their behavior and activities. The majority of street children's activities are in the form of working to earn money, causing them to be less able to channel their hobbies and express themselves. Activities to channel their hobbies, talents and interests related to the arts and sports by forming a community. The research method used is in the form of a third place as a community builder and behavioral architecture to determine learning adapted to the nature, character and behavior of street children. The learning method is in the form of learning while playing with learning phases based on the level of focus of children's learning through interactive and adaptive learning media with interactive wall media. Types of interactive learning include academic in the form of learning to read, count, and color; non-academic in the form of arts and skills, and physical activities to train children's sensory and motor development. The application of interactive walls through the use of materials and spatial concepts that are flexible so that they can change functions according to needs and form concepts that describe the character of street children. Keywords: Behaviour Architecture; Community; Education; Interactive Wall; Street Children Abstrak Jumlah anak jalanan terus meningkat akibat kecenderungan anak yang mudah terpengaruh menjadi anak jalanan akibat lingkungan sekitarnya. Anak jalanan berada di fase yang rentan dan mudah terpengaruh oleh lingkungannya untuk menjadi anak jalanan sehingga beberapa di antaranya harus putus sekolah karena mayoritas lebih memilih membantu orang tuanya mencari nafkah. Hal ini menyebabkan anak jalanan tumbuh dengan nilai pendidikan yang tertanam sejak dini sehingga memiliki kurangnya minat dalam belajar. Kebutuhan pendidikan anak jalanan ini membutuhkan metode pembelajaran yang sesuai dengan perilaku dan aktivitasnya. Mayoritas aktivitas anak jalanan berupa bekerja untuk mencari uang sehingga menyebabkan mereka kurang dapat menyalurkan hobi dan mengekspresikan diri mereka. Kegiatan untuk menyalurkan hobi, bakat, dan minatnya terkait bidang seni dan olahraga dengan suntuk membentuk komunitas. Metode penelitian yang digunakan berupa tempat ketiga sebagai pembentuk komunitas serta arsitektur perilaku untuk menentukan pembelajaran disesuaikan dengan sifat, karakter, serta perilaku anak jalanan. Metode pembelajaran berupa bel
由于儿童容易受周围环境的影响而成为街头儿童,因此街头儿童的数量不断增加。街头儿童处于脆弱阶段,很容易受环境影响而成为街头儿童,因此他们中的一些人不得不辍学,因为大多数人更愿意帮助父母谋生。这导致街头儿童从小就被灌输了教育价值观,从而对学习缺乏兴趣。要满足街头儿童的教育需求,就必须采用适合他们行为和活动的学习方法。大多数街头儿童的活动形式都是打工挣钱,这导致他们较少能够发挥自己的爱好和表现自己。通过组建社区,开展与艺术和体育有关的活动,以引导他们的爱好、才能和兴趣。采用的研究方法是以第三地作为社区建设者和行为架构的形式,确定适应街头儿童的天性、性格和行为的学习方法。学习方法采用边玩边学的形式,根据儿童学习的专注程度,通过互动和自适应学习媒体,利用互动墙媒体,分阶段进行学习。互动学习的类型包括以学习阅读、数数和涂色为形式的学术性学习;以艺术和技能为形式的非学术性学习;以及训练儿童感官和运动发展的体育活动。互动墙的应用通过使用灵活的材料和空间概念,使其可以根据需要改变功能,并形成描述街头儿童特征的概念。关键词 行为建筑;社区;教育;互动墙;街头儿童 Abstrak Jumlah anak jalanan terus meningkat akibat kecenderungan anak yang mudah terpengaruh menjadi anak jalanan akibat lingkungan sekitarnya.在租房阶段,有很多人都在租房,但租房的人中有很多人都是在学校里长大的,因为学校的管理者会把这些人的情况记录在案。在这里,孩子们可以在学校里学习到最先进的教育技术,同时还能在学校里学习到最基本的知识。对儿童的保护是一种针对危险和活动的保护模式。青少年的行动能力可以提高他们的工作效率,同时也可以帮助他们在短期内提高工作效率和工作效率。通过对老人和妇女的培训,以提高他们的生活、工作和社交能力,从而建立起一个团结的社会。在社区和危险环境中开展的社区活动模式,可帮助人们从社会、家庭和危险环境中认识到社区的重要性。通过与媒体间的互动和适应性,对儿童进行教育和培训的方式是以教育和培训阶段为基础的。交互式媒体包括学术媒体,用于教育、培训和宣传的媒体;非学术媒体,用于感知和控制的媒体;以及用于提高儿童感知和运动能力的渔业媒体。通过对材料和活动的分析,可以对儿童的感官和运动产生影响。
{"title":"PENERAPAN DINDING INTERAKTIF PADA SARANA EDUKASI BAGI KOMUNITAS ANAK JALANAN","authors":"Sella Serina, Sutrisnowati Machdijar","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24210","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24210","url":null,"abstract":"The number of street children continues to increase due to the tendency of children who are easily influenced to become street children due to their surroundings. Street children are in a vulnerable phase and are easily influenced by their environment to become street children, so some of them have to drop out of school because the majority prefer to help their parents make a living. This causes street children to grow up with educational values instilled from an early age so they have a lack of interest in learning. The educational needs of street children require learning methods that are appropriate to their behavior and activities. The majority of street children's activities are in the form of working to earn money, causing them to be less able to channel their hobbies and express themselves. Activities to channel their hobbies, talents and interests related to the arts and sports by forming a community. The research method used is in the form of a third place as a community builder and behavioral architecture to determine learning adapted to the nature, character and behavior of street children. The learning method is in the form of learning while playing with learning phases based on the level of focus of children's learning through interactive and adaptive learning media with interactive wall media. Types of interactive learning include academic in the form of learning to read, count, and color; non-academic in the form of arts and skills, and physical activities to train children's sensory and motor development. The application of interactive walls through the use of materials and spatial concepts that are flexible so that they can change functions according to needs and form concepts that describe the character of street children. Keywords: Behaviour Architecture; Community; Education; Interactive Wall; Street Children Abstrak Jumlah anak jalanan terus meningkat akibat kecenderungan anak yang mudah terpengaruh menjadi anak jalanan akibat lingkungan sekitarnya. Anak jalanan berada di fase yang rentan dan mudah terpengaruh oleh lingkungannya untuk menjadi anak jalanan sehingga beberapa di antaranya harus putus sekolah karena mayoritas lebih memilih membantu orang tuanya mencari nafkah. Hal ini menyebabkan anak jalanan tumbuh dengan nilai pendidikan yang tertanam sejak dini sehingga memiliki kurangnya minat dalam belajar. Kebutuhan pendidikan anak jalanan ini membutuhkan metode pembelajaran yang sesuai dengan perilaku dan aktivitasnya. Mayoritas aktivitas anak jalanan berupa bekerja untuk mencari uang sehingga menyebabkan mereka kurang dapat menyalurkan hobi dan mengekspresikan diri mereka. Kegiatan untuk menyalurkan hobi, bakat, dan minatnya terkait bidang seni dan olahraga dengan suntuk membentuk komunitas. Metode penelitian yang digunakan berupa tempat ketiga sebagai pembentuk komunitas serta arsitektur perilaku untuk menentukan pembelajaran disesuaikan dengan sifat, karakter, serta perilaku anak jalanan. Metode pembelajaran berupa bel","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"34 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139309200","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24354
Sonia Azmy, Regina Suryadjaja, B. Wipranata, S. Santoso
Cities continue to experience unavoidable developments, both from an economic, social and cultural perspective as reflected in an increase in population and activity in urban areas. One example of activities in urban areas is people who want to do mobility from one place to another in order to fulfill their activity objectives. It's the same with the people in Tangerang Regency who live in Cisauk District and Pagedangan District. To meet this need, an area called "Intermoda BSD City" was built, where in the area there are two modes of transportation that are integrated with each other, namely trains and shuttle buses. Based on the guidelines of the Institute for Transportation and Development, intermodal integration has connectivity aspects where each mode must be integrated efficiently with each other and be able to reach the surrounding area. In the Intermodal BSD City case, Cisauk Station is integrated with the BSD Link shuttle bus terminal mode of transportation which only serves the BSD City Area route, even in its existing conditions there are still very few users of the Shuttle Bus and people prefer to use private transportation as a secondary mode. This is certainly not in accordance with the concept of good intermodal integration. Therefore, this study aims to determine the condition of the regional transportation system, especially in the intermodal connectivity of public transportation served by Intermodal BSD City. The results of this study are to provide suggestions and recommendations regarding the problems that have been identified. Keywords: facilities and infrastructure; integration; intermodal; public transport Abstrak Kota terus mengalami perkembangan yang tidak dapat dihindari, baik dari segi ekonomi, sosial dan juga budaya yang tercermin dari peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pada perkotaan. Salah satu contoh kegiatan aktivitas pada perkotaan adalah masyarakat yang ingin melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya guna memenuhi tujuan aktivitasnya. Sama halnya dengan masyarakat pada Kabupaten Tangerang yang bertempat tinggal di Kecamatan Cisauk dan Kecamatan Pagedangan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibangunlah sebuah kawasan bernama “Intermoda BSD City”, dimana dalam kawasan tersebut terdapat dua moda transportasi yang saling terintegrasi, yaitu kereta api dan shuttle bus. Berdasarkan panduan Insitute for Transportation and Development, integrasi antar moda memiliki aspek konektivitas dimana setiap antar moda harus saling terintegrasi dengan efisien dan mampu menjangkau daerah sekitarnya. Pada kasus Intermoda BSD City, Stasiun Cisauk terintegrasi dengan moda transportasi terminal shuttle bus BSD Link yang hanya melayani rute Kawasan BSD City saja, pada kondisi eksistingnya pun pengguna dari shuttle bus tersebut masih sangat sedikit dan pengguna lebih memilih menggunakan transportasi pribadi sebagai moda lanjutan. Hal tersebut tentunya tidak sesuai dengan konsep dari integrasi antar moda yang baik. Ol
从经济、社会和文化的角度来看,城市仍在经历着不可避免的发展,这反映在城市地区人口和活动的增加上。城市地区活动的一个例子就是人们为了实现自己的活动目标而从一个地方到另一个地方进行流动。居住在 Cisauk 区和 Pagedangan 区的 Tangerang 居民也是如此。为了满足这一需求,该市建立了一个名为 "Intermoda BSD City "的区域,在该区域内有两种相互结合的交通方式,即火车和穿梭巴士。根据交通与发展研究所的指导方针,多式联运一体化具有连接性,每种交通方式都必须有效地相互结合,并能够到达周边地区。在 BSD 城多式联运案例中,Cisauk 站与 BSD Link 穿梭巴士终点站的交通方式相结合,而穿梭巴士终点站仅服务于 BSD 城区路线,即使在现有条件下,穿梭巴士的用户仍然很少,人们更愿意将私人交通作为次要交通方式。这当然不符合良好的多式联运一体化概念。因此,本研究旨在确定区域交通系统的状况,尤其是 BSD 多式联运城所服务的公共交通的多式联运连接性。研究结果将针对发现的问题提出意见和建议。关键词:设施与基础设施;一体化;多式联运;公共交通 Abstrak Kota terus mengalami perkembangan yang tidak dapat dihindari, baik dari segi ekonomi, sosial dan juga budaya yang tercermin dari peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pada perkotaan.在全球范围内,最重要的活动关键因素是,人们通过在固定时间和固定地点的移动,来了解自己的活动情况。目前,坦噶朗省的流动人口主要集中在西索克区(Kecamatan Cisauk)和帕坦甘区(Kecamatan Pagedangan)。为了方便居民出行,这里有一个名为 "Intermoda BSD City "的购物区,购物区内有两种不同的交通方式可供选择,即穿梭巴士。在交通与发展研究所的研究中,综合交通模式是一项重要的研究课题,它不仅能提高效率,还能改善当地的交通状况。在 BSD City Intermoda 项目中,Sstasiun Cisauk 与 BSD Link 穿梭巴士终点站的交通方式进行了整合,BSD Link 穿梭巴士终点站位于 Kawasan BSD City 附近。这辆公交车也是一种与时尚相结合的交通工具。因此,本研究旨在为 BSD 国际城的现代时尚交通系统提供支持。这项研究的目的是为确定运输系统的性能和建议提供依据。
{"title":"STUDI KONEKTIVITAS ANTAR MODA ANGKUTAN UMUM DI KAWASAN INTERMODA BSD CITY, KABUPATEN TANGERANG","authors":"Sonia Azmy, Regina Suryadjaja, B. Wipranata, S. Santoso","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24354","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24354","url":null,"abstract":"Cities continue to experience unavoidable developments, both from an economic, social and cultural perspective as reflected in an increase in population and activity in urban areas. One example of activities in urban areas is people who want to do mobility from one place to another in order to fulfill their activity objectives. It's the same with the people in Tangerang Regency who live in Cisauk District and Pagedangan District. To meet this need, an area called \"Intermoda BSD City\" was built, where in the area there are two modes of transportation that are integrated with each other, namely trains and shuttle buses. Based on the guidelines of the Institute for Transportation and Development, intermodal integration has connectivity aspects where each mode must be integrated efficiently with each other and be able to reach the surrounding area. In the Intermodal BSD City case, Cisauk Station is integrated with the BSD Link shuttle bus terminal mode of transportation which only serves the BSD City Area route, even in its existing conditions there are still very few users of the Shuttle Bus and people prefer to use private transportation as a secondary mode. This is certainly not in accordance with the concept of good intermodal integration. Therefore, this study aims to determine the condition of the regional transportation system, especially in the intermodal connectivity of public transportation served by Intermodal BSD City. The results of this study are to provide suggestions and recommendations regarding the problems that have been identified. Keywords: facilities and infrastructure; integration; intermodal; public transport Abstrak Kota terus mengalami perkembangan yang tidak dapat dihindari, baik dari segi ekonomi, sosial dan juga budaya yang tercermin dari peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pada perkotaan. Salah satu contoh kegiatan aktivitas pada perkotaan adalah masyarakat yang ingin melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya guna memenuhi tujuan aktivitasnya. Sama halnya dengan masyarakat pada Kabupaten Tangerang yang bertempat tinggal di Kecamatan Cisauk dan Kecamatan Pagedangan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibangunlah sebuah kawasan bernama “Intermoda BSD City”, dimana dalam kawasan tersebut terdapat dua moda transportasi yang saling terintegrasi, yaitu kereta api dan shuttle bus. Berdasarkan panduan Insitute for Transportation and Development, integrasi antar moda memiliki aspek konektivitas dimana setiap antar moda harus saling terintegrasi dengan efisien dan mampu menjangkau daerah sekitarnya. Pada kasus Intermoda BSD City, Stasiun Cisauk terintegrasi dengan moda transportasi terminal shuttle bus BSD Link yang hanya melayani rute Kawasan BSD City saja, pada kondisi eksistingnya pun pengguna dari shuttle bus tersebut masih sangat sedikit dan pengguna lebih memilih menggunakan transportasi pribadi sebagai moda lanjutan. Hal tersebut tentunya tidak sesuai dengan konsep dari integrasi antar moda yang baik. Ol","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"5 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139309362","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24341
Priska Stefani, B. Wipranata, Regina Suryadjaja, S. Santoso
Flooding in Periuk Sub-district has been a priority issue for the local government for a long time. Until now, flood control is still an annual work program of several related parties. Meanwhile, the population growth rate of Tangerang City is increasing, so the need for residential land is also increasing over time. As an area planned as an integrated residential area, Periuk Sub-district, which borders directly with Tangerang Regency (Pasarkemis Sub-district), has experienced good progress in the development of residential areas dominated by private developers. However, flood vulnerability is an important consideration in the development of new residential areas, as is the case with the vacant land of the study object between Situ Bulakan and Situ Gelam. With the land designation as housing based on spatial plan (RTRW) Tangerang City 2023, the vacant land has not been optimally utilized because it is included in the flood-prone area. By applying the concept of water sensitive urban design (WSUD), the spatial arrangement of the residential area will focus on water cycle management (Drainage) and public open space as water catchment areas. In addition, adjustments are also made to the requirements for residential development in flood-prone areas to produce recommendations for components that are most suitable for the characteristics of the study object. Keywords: housing planning; water sensitive urban design (WSUD); and flood-prone area Abstrak Kerawanan bencana banjir di Kecamatan Periuk sudah menjadi permasalahan prioritas pemerintah daerah dahulu. Hingga kini, pengendalian banjir masih menjadi program kerja tahunan dari beberapa instansi atau pihak terkait. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk Kota Tangerang semakin meningkat, sehingga kebutuhan akan lahan hunian juga semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Sebagai wilayah yang direncanakan sebagai kawasan permukiman terpadu, Kecamatan Periuk yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Tangerang (Kecamatan Pasarkemis) mengalami perkembangan dalam pengembangan kawasan hunian yang cukup baik dan didominasi oleh pengembang swasta. Namun kerawanan bencana banjir menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan kawasan perumahan baru, seperti yang terjadi pada lahan kosong objek studi di antara Situ Bulakan dan Situ Gelam. Dengan peruntukan lahan sebagai perumahan berdasarkan RTRW Kota Tangerang tahun 2030, lahan kosong belum dimanfaatkan dengan optimal karena termasuk ke dalam kawasan rawan banjir. Dengan menerapkan konsep water sensitive urban design (WSUD), penataan ruang kawasan perumahan akan difokuskan pada pengelolaan siklus air (Drainase) dan ruang terbuka publik sebagai daerah resapan air. Selain itu juga dilakukan penyesuaian terhadap syarat pengembangan hunian pada kawasan rawan banjir untuk menghasilkan rekomendasi komponen yang paling sesuai dengan karakteristik objek studi.
{"title":"PENERAPAN KONSEP WATER SENSITIVE URBAN DESIGN TERHADAP PERENCANAAN PERUMAHAN PADA KAWASAN RAWAN BANJIR KECAMATAN PERIUK","authors":"Priska Stefani, B. Wipranata, Regina Suryadjaja, S. Santoso","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24341","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24341","url":null,"abstract":"Flooding in Periuk Sub-district has been a priority issue for the local government for a long time. Until now, flood control is still an annual work program of several related parties. Meanwhile, the population growth rate of Tangerang City is increasing, so the need for residential land is also increasing over time. As an area planned as an integrated residential area, Periuk Sub-district, which borders directly with Tangerang Regency (Pasarkemis Sub-district), has experienced good progress in the development of residential areas dominated by private developers. However, flood vulnerability is an important consideration in the development of new residential areas, as is the case with the vacant land of the study object between Situ Bulakan and Situ Gelam. With the land designation as housing based on spatial plan (RTRW) Tangerang City 2023, the vacant land has not been optimally utilized because it is included in the flood-prone area. By applying the concept of water sensitive urban design (WSUD), the spatial arrangement of the residential area will focus on water cycle management (Drainage) and public open space as water catchment areas. In addition, adjustments are also made to the requirements for residential development in flood-prone areas to produce recommendations for components that are most suitable for the characteristics of the study object. Keywords: housing planning; water sensitive urban design (WSUD); and flood-prone area Abstrak Kerawanan bencana banjir di Kecamatan Periuk sudah menjadi permasalahan prioritas pemerintah daerah dahulu. Hingga kini, pengendalian banjir masih menjadi program kerja tahunan dari beberapa instansi atau pihak terkait. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk Kota Tangerang semakin meningkat, sehingga kebutuhan akan lahan hunian juga semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Sebagai wilayah yang direncanakan sebagai kawasan permukiman terpadu, Kecamatan Periuk yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Tangerang (Kecamatan Pasarkemis) mengalami perkembangan dalam pengembangan kawasan hunian yang cukup baik dan didominasi oleh pengembang swasta. Namun kerawanan bencana banjir menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan kawasan perumahan baru, seperti yang terjadi pada lahan kosong objek studi di antara Situ Bulakan dan Situ Gelam. Dengan peruntukan lahan sebagai perumahan berdasarkan RTRW Kota Tangerang tahun 2030, lahan kosong belum dimanfaatkan dengan optimal karena termasuk ke dalam kawasan rawan banjir. Dengan menerapkan konsep water sensitive urban design (WSUD), penataan ruang kawasan perumahan akan difokuskan pada pengelolaan siklus air (Drainase) dan ruang terbuka publik sebagai daerah resapan air. Selain itu juga dilakukan penyesuaian terhadap syarat pengembangan hunian pada kawasan rawan banjir untuk menghasilkan rekomendasi komponen yang paling sesuai dengan karakteristik objek studi.","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"75 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139306872","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24275
Jessica Jessica, Tony Winata
Cisolok is part of Pelabuhanratu Bay which is now part of UNESCO, where UNESCO wants to make Pelabuhanratu Bay a wonderful Indonesia-based tourism zone called Ciletuh-Geopark. Meanwhile, Tourism Development in the Pelabuhanratu Bay area is being designed in such a way that Pelabuhanratu has a tourist area development. This resulted in an idea for the development of marine tourism, especially in Cisolok. This marine tourism arises as a result of fishermen on the Cisolok coast who experience difficulties in carrying out their work and make their economic and social value decrease every year. Besides that, there are also several designs that failed, such as lobster cultivation to the construction of the cisolok dock. If this phenomenon is carried out further, it will make it more difficult for local fishermen to live their lives, especially in terms of social and economy. Even though the potential for fish and nature that they produce is quite a lot, with their beautiful geographical conditions, they can also be used as a place and identity for their region. So that one of the architectural solutions that can overcome this phenomenon is to change the development of the local area by providing advice and supporting infrastructure for fishermen, especially the Cisolok Pelabuhan Ratu fishermen so that local fishermen get supporting facilities both as a convenience for them to work and provide them with opportunities to attract the wider community to local fishermen through docks, tourist attractions, and fish markets. In this discussion, a marine tourism plan in the form of water and aquariums is designed to provide welfare for fishermen and the Cisolok Pelabuhan Ratu community without changing their living habits every day. Keywords: Cisolok; fisherman; life; Pelabuhanratu; tourism Abstrak Cisolok merupakan bagian dari Teluk Pelabuhanratu yang sekarang menjadi bagian dari UNESCO, dimana UNESCO ini ingin menjadikan Teluk Pelabuhanratu menjadi zona wisata berbasis wonderful Indonesia yang bernamakan Ciletuh-Geopark. Sementara itu, Pengembangan Pariwisata pada daerah Teluk Pelabuhanratu ini sedang dirancang sedemikan rupa agar Pelabuhanratu memiliki pengembangan daerah wisata. Hal ini mengakibatkan, adanya ide untuk pengembangan wisata bahari khususnya di Cisolok. Wisata bahari ini muncul akibat para nelayan di pesisir pantai Cisolok yang mengalami kesulitan dalam menjalankan pekerjaan mereka dan membuat nilai ekonomi dan sosial mereka menurun setiap tahunnya. Selain itu ada juga berapa perancangan yang gagal dilakukan seperti budidaya lobster hingga pembuatan dermaga cisolok. Fenomena ini jika dilaksanakan lebih lanjut akan membuat para nelayan setempat makin kesulitan dalam menjalani hidup terutama dalam segi sosial dan ekonomi. Padahal potensi ikan dan alam yang mereka hasilkan cukup banyak dengan kondisi geografis mereka yang indah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat dan identitas wilayah mereka. Sehingga salah satu solusi arsitektur yang dapat m
西索洛克是伯拉奔努汉拉图海湾的一部分,伯拉奔努汉拉图海湾现在是联合国教科文组织的一部分,联合国教科文组织希望将伯拉奔努汉拉图海湾打造成一个以印度尼西亚为基地的奇妙的旅游区,称为西勒图地质公园(Ciletuh-Geopark)。与此同时,佩拉布汉拉图海湾地区的旅游开发正在设计之中,以便使佩拉布汉拉图成为一个旅游区。这就产生了发展海洋旅游业的想法,尤其是在西索洛克。由于西索洛克海岸的渔民在工作中遇到困难,他们的经济和社会价值逐年下降,因此海洋旅游应运而生。除此之外,还有一些设计也失败了,如从龙虾养殖到建造西索洛克码头。如果这种现象继续发展下去,将使当地渔民的生活更加困难,尤其是在社会和经济方面。尽管他们生产的鱼类和大自然的潜力相当大,但凭借其优美的地理条件,他们也可以作为本地区的一个地方和身份。因此,能够克服这一现象的建筑解决方案之一就是通过为渔民,特别是 Cisolok Pelabuhan Ratu 渔民提供建议和配套基础设施来改变当地的发展,使当地渔民获得配套设施,既方便他们工作,又为他们提供机会,通过码头、旅游景点和鱼市吸引更多的社区居民来当地渔民。在本次讨论中,设计了以水域和水族馆为形式的海洋旅游计划,在不改变渔民每天生活习惯的情况下,为渔民和 Cisolok Pelabuhan Ratu 社区提供福利。关键词 Cisolok;渔民;生活;Pelabuhanratu;旅游 摘要 Cisolok 是 Pelabuhanratu 海湾的一部分,而 Pelabuhanratu 海湾现在是联合国教科文组织的一部分,联合国教科文组织希望将 Pelabuhanratu 海湾打造成以印尼为基地的奇妙旅游区,称为 Ciletuh-Geopark。与此同时,佩拉布汉拉图海湾地区的旅游开发正在设计之中,使佩拉布汉拉图成为一个旅游开发区。这就产生了发展海洋旅游的想法,尤其是在西索洛克。西索洛克海岸的渔民在工作中遇到困难,经济和社会价值逐年下降,因此产生了海洋旅游。此外,从龙虾养殖到建造西索洛克码头等一系列设计都未能实施。这种现象如果进一步实施,将使当地渔民的生活更加困难,尤其是在社会和经济方面。而他们在优美的地理条件下生产的大量鱼类和大自然的潜力,也可以作为他们地区的一个地方和特征加以利用。因此,能够克服这一现象的建筑解决方案之一是通过为渔民,特别是 Cisolok Pelabuhan ratu 渔民提供支持性建议和基础设施来改变当地的发展,从而使当地渔民获得支持性设施,既为他们的工作提供便利,又为他们提供机会,通过码头、旅游景点和鱼市吸引更广泛的社会对当地渔民的关注。在本次讨论中,设计了一个以水域和水族馆为形式的海洋旅游计划,在不改变渔民日常生活习惯的情况下,为渔民和 Cisolok Pelabuhan Ratu 社区带来繁荣。
{"title":"WISATA BAHARI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN CISOLOK- PELABUHANRATU","authors":"Jessica Jessica, Tony Winata","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24275","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24275","url":null,"abstract":"Cisolok is part of Pelabuhanratu Bay which is now part of UNESCO, where UNESCO wants to make Pelabuhanratu Bay a wonderful Indonesia-based tourism zone called Ciletuh-Geopark. Meanwhile, Tourism Development in the Pelabuhanratu Bay area is being designed in such a way that Pelabuhanratu has a tourist area development. This resulted in an idea for the development of marine tourism, especially in Cisolok. This marine tourism arises as a result of fishermen on the Cisolok coast who experience difficulties in carrying out their work and make their economic and social value decrease every year. Besides that, there are also several designs that failed, such as lobster cultivation to the construction of the cisolok dock. If this phenomenon is carried out further, it will make it more difficult for local fishermen to live their lives, especially in terms of social and economy. Even though the potential for fish and nature that they produce is quite a lot, with their beautiful geographical conditions, they can also be used as a place and identity for their region. So that one of the architectural solutions that can overcome this phenomenon is to change the development of the local area by providing advice and supporting infrastructure for fishermen, especially the Cisolok Pelabuhan Ratu fishermen so that local fishermen get supporting facilities both as a convenience for them to work and provide them with opportunities to attract the wider community to local fishermen through docks, tourist attractions, and fish markets. In this discussion, a marine tourism plan in the form of water and aquariums is designed to provide welfare for fishermen and the Cisolok Pelabuhan Ratu community without changing their living habits every day. Keywords: Cisolok; fisherman; life; Pelabuhanratu; tourism Abstrak Cisolok merupakan bagian dari Teluk Pelabuhanratu yang sekarang menjadi bagian dari UNESCO, dimana UNESCO ini ingin menjadikan Teluk Pelabuhanratu menjadi zona wisata berbasis wonderful Indonesia yang bernamakan Ciletuh-Geopark. Sementara itu, Pengembangan Pariwisata pada daerah Teluk Pelabuhanratu ini sedang dirancang sedemikan rupa agar Pelabuhanratu memiliki pengembangan daerah wisata. Hal ini mengakibatkan, adanya ide untuk pengembangan wisata bahari khususnya di Cisolok. Wisata bahari ini muncul akibat para nelayan di pesisir pantai Cisolok yang mengalami kesulitan dalam menjalankan pekerjaan mereka dan membuat nilai ekonomi dan sosial mereka menurun setiap tahunnya. Selain itu ada juga berapa perancangan yang gagal dilakukan seperti budidaya lobster hingga pembuatan dermaga cisolok. Fenomena ini jika dilaksanakan lebih lanjut akan membuat para nelayan setempat makin kesulitan dalam menjalani hidup terutama dalam segi sosial dan ekonomi. Padahal potensi ikan dan alam yang mereka hasilkan cukup banyak dengan kondisi geografis mereka yang indah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat dan identitas wilayah mereka. Sehingga salah satu solusi arsitektur yang dapat m","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"44 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139307042","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-10-31DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24221
Aditiawan Chandra, Stephanus Huwae
The phenomenon of children working on the streets is a global phenomenon. The number of working children as scavengers in Jakarta, according to BPS in 2022, recorded 289 children with an average age of 6 to 18 years. North Jakarta, Cilincing District, is the largest contributor, with 48 percent. The main factor in child development that is not fulfilled educationally, spiritually, physically, or socially is the economic condition of the family. Insufficient economic problems require that parents include their children to work and make children a medium to earn money for survival. Children living in poverty are often trapped in a situation full of suffering and a bleak future and think that education is no longer important to them. this will continue to happen, and will continue to experience social inequality. This study aims to provide the right solution to breaking the cycle of poverty through empathetic architecture and the Waldorf pedagogy approach that puts forward three aspects of the user that are interrelated between children, parents, and nature. Therefore a concept is produced that can accommodate and provide practical skills training with the abilities they have and are interested in and develop children to the stage of the world of work so they can earn a decent living with the talents they have in the future. Keywords: Child Labor, Scavengers, Skills, Waldorf Pedagogy Abstrak Fenomena anak-anak bekerja di jalanan merupakan suatu gejala global. Tercatat Jumlah anak pekerja sebagai pemulung di Jakarta menurut BPS pada tahun 2022 terdapat 289 anak dengan rata-rata usia 6 sampai 18 tahun. Jakarta Utara, Kecamatan Cilincing merupakan penyumbang terbesar dengan angka 48 persen. Faktor utama perkembangan anak yang tidak terpenuhi secara edukasi, rohani, jasmani maupun sosial yaitu kondisi ekonomi keluarga. Permasalahan ekonomi yang tidak mencukupi mengharuskan mereka para orang tua mengikutsertakan anak untuk bekerja dan menjadikan anak sebagai media untuk mencari uang demi keberlangsungan hidup. Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan sering kali terperangkap dalam situasi penuh penderitaan serta masa depan yang suram dan mengganggap pendidikan tidak lagi penting bagi mereka. hal tersebut akan terus terjadi dan akan terus mengalami ketimpangan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi tepat dalam memutuskan mata rantai lingkaran kemiskinan mereka melalui arsitektur yang berempati dan pendekatan metode waldorf pedagogy yang mengedepankan ketiga aspek user yang saling berkaitan antara anak, orang tua, dan alam. Maka dari itu dihasilkan konsep yang dapat mewadahi serta memberikan sebuah pelatihan keterampilan praktis dengan kemampuan yang mereka miliki dan minati serta mengembangkan para anak-anak ketahap dunia kerja dan agar dapat memperoleh penghidupan yang layak dengan kemampuan bakat yang mereka miliki dimasa mendatang.
{"title":"METODE WALDORF PEDAGOGY DALAM TAHAP PENDEKATAN DESAIN WADAH PENGEMBANGAN KETERAMPILAN ANAK PEMULUNG","authors":"Aditiawan Chandra, Stephanus Huwae","doi":"10.24912/stupa.v5i2.24221","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24221","url":null,"abstract":"The phenomenon of children working on the streets is a global phenomenon. The number of working children as scavengers in Jakarta, according to BPS in 2022, recorded 289 children with an average age of 6 to 18 years. North Jakarta, Cilincing District, is the largest contributor, with 48 percent. The main factor in child development that is not fulfilled educationally, spiritually, physically, or socially is the economic condition of the family. Insufficient economic problems require that parents include their children to work and make children a medium to earn money for survival. Children living in poverty are often trapped in a situation full of suffering and a bleak future and think that education is no longer important to them. this will continue to happen, and will continue to experience social inequality. This study aims to provide the right solution to breaking the cycle of poverty through empathetic architecture and the Waldorf pedagogy approach that puts forward three aspects of the user that are interrelated between children, parents, and nature. Therefore a concept is produced that can accommodate and provide practical skills training with the abilities they have and are interested in and develop children to the stage of the world of work so they can earn a decent living with the talents they have in the future. Keywords: Child Labor, Scavengers, Skills, Waldorf Pedagogy Abstrak Fenomena anak-anak bekerja di jalanan merupakan suatu gejala global. Tercatat Jumlah anak pekerja sebagai pemulung di Jakarta menurut BPS pada tahun 2022 terdapat 289 anak dengan rata-rata usia 6 sampai 18 tahun. Jakarta Utara, Kecamatan Cilincing merupakan penyumbang terbesar dengan angka 48 persen. Faktor utama perkembangan anak yang tidak terpenuhi secara edukasi, rohani, jasmani maupun sosial yaitu kondisi ekonomi keluarga. Permasalahan ekonomi yang tidak mencukupi mengharuskan mereka para orang tua mengikutsertakan anak untuk bekerja dan menjadikan anak sebagai media untuk mencari uang demi keberlangsungan hidup. Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan sering kali terperangkap dalam situasi penuh penderitaan serta masa depan yang suram dan mengganggap pendidikan tidak lagi penting bagi mereka. hal tersebut akan terus terjadi dan akan terus mengalami ketimpangan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi tepat dalam memutuskan mata rantai lingkaran kemiskinan mereka melalui arsitektur yang berempati dan pendekatan metode waldorf pedagogy yang mengedepankan ketiga aspek user yang saling berkaitan antara anak, orang tua, dan alam. Maka dari itu dihasilkan konsep yang dapat mewadahi serta memberikan sebuah pelatihan keterampilan praktis dengan kemampuan yang mereka miliki dan minati serta mengembangkan para anak-anak ketahap dunia kerja dan agar dapat memperoleh penghidupan yang layak dengan kemampuan bakat yang mereka miliki dimasa mendatang.","PeriodicalId":129877,"journal":{"name":"Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)","volume":"15 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139309181","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}