Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2842
Freddy Kurniawan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola-pola pedagang kaki lima di Jalan Mangga Besar. Jalan Mangga Besar yang identik dengan hiburan malam dan wisata kulinernya membuat pedagang kaki lima betah untuk berdagang di lokasi tersebut. Pedagang kaki lima tersebut memiliki pola-pola dalam berdagang. Terdapat pedagang yang berdagang secara menetap dan juga setengah menetap. Secara legalitas, terdapat pedagang kaki lima yang non binaan dan juga binaan. Keberadaan pedagang kaki lima binaan ini diatur waktu dan lokasi berdagangnya oleh pemerintah. Pedagang kaki lima non binaan biasanya hanya ijin atau sewa secara tidak sah kepada juru parkir sekitar. Peneliti langsung datang ke lapangan untuk melihat situasi lapangan dan melakukan sesi wawancara kepada beberapa pedagang kaki lima di Jalan Mangga Besar dan pihak kelurahan setempat. Pedagang kaki lima non binaan ini memanfaatkan trotoar dan bahu jalan untuk lokasi berdagang mereka, dan juga menimbulkan kemacetan. Sehingga dibutuhkan desain penempatan pedagang kaki lima non binaan. Sehingga keberadaan pedagang kaki lima non binaan di Jalan Mangga Besar tidak mengganggu akses pejalan kaki yang ingin menggunakan trotoar. This study aims to determine the patterns of street vendors on Jalan Mangga Besar. Jalan Mangga Besar, which is synonymous with nightlife and culinary tourism, makes street vendors feel comfortable to trade at this location. These street vendors have patterns in trading. There are traders who trade permanently and also half settled. Legally, there are non-fostered and non-assisted street vendors. The existence of these fostered street vendors is regulated by the government at the time and location of trading. Non-trained street vendors are usually only licensed or illegally rented to the parking attendants around. Researchers immediately came to the field to see the field situation and conducted interview sessions with several street vendors on Jalan Mangga Besar and the local kelurahans. These non-assisted street vendors utilize sidewalks and shoulders for their trading locations, and also cause congestion. So it takes the design of placement of non-fostered street vendors. So that the presence of non-fostered street vendors on Jalan Mangga Besar does not interfere with access of pedestrians who want to use the sidewalk.
这项研究的目标是了解大芒果街街头街头小贩的模式。大型芒果路与夜间娱乐和他的库特林之旅是一样的,使得街头商贩在这个地点有一个更喜欢的贸易场所。这些街头小贩有做生意的模式。有商人是经商的,也有半经商的。从法律上讲,是一个非盈利的街头小贩。这种街头小贩的存在是由政府安排的时间和地点。街头小贩通常只向附近的泊车人员发放未经授权的许可证或租金。研究人员迅速赶到现场,查看现场情况,采访了芒果大道和当地水道边的几名街头商贩。这些非宾的街头小贩利用人行道和道路肩来进行他们的贸易,也造成了交通堵塞。所以这需要设计一个非营利街头商贩的就业方案。因此,街头小贩在芒果大道上的非营利不影响想要使用人行道的行人通道。这项研究旨在确定芒果街vendors的街道模式。夜间生活和藏式旅游中普遍存在的芒果大道,让街头vendors感到舒适。这些街道的vendors有交易模式。有那些永久交易的交易员,他们也同样是半个国家。法律上,没有安置,没有援助街的vendors。这些分布在街道上的vendors的存在是政府在交易的时间和地点规定的。未经训练的街道供应商通常只允许或非法入场。Researchers马上前往现场查看现场情况并进行采访,采访是在大芒果街和当地铁路上的several street vendors进行的。这些非辅助街vendors设施设施设施用于贸易地点,这也是由于同样的原因。所以它采用了非化石街vendors的设计。所以那些在大街上不受fostered street vendors的人不关心那些想要使用人行道的人。
{"title":"POLA - POLA PEMANFAATAN TROTOAR OLEH PEDAGANG KAKI LIMA DI JALAN MANGGA BESAR – JAKARTA","authors":"Freddy Kurniawan","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.2842","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.2842","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola-pola pedagang kaki lima di Jalan Mangga Besar. Jalan Mangga Besar yang identik dengan hiburan malam dan wisata kulinernya membuat pedagang kaki lima betah untuk berdagang di lokasi tersebut. Pedagang kaki lima tersebut memiliki pola-pola dalam berdagang. Terdapat pedagang yang berdagang secara menetap dan juga setengah menetap. Secara legalitas, terdapat pedagang kaki lima yang non binaan dan juga binaan. Keberadaan pedagang kaki lima binaan ini diatur waktu dan lokasi berdagangnya oleh pemerintah. Pedagang kaki lima non binaan biasanya hanya ijin atau sewa secara tidak sah kepada juru parkir sekitar. Peneliti langsung datang ke lapangan untuk melihat situasi lapangan dan melakukan sesi wawancara kepada beberapa pedagang kaki lima di Jalan Mangga Besar dan pihak kelurahan setempat. Pedagang kaki lima non binaan ini memanfaatkan trotoar dan bahu jalan untuk lokasi berdagang mereka, dan juga menimbulkan kemacetan. Sehingga dibutuhkan desain penempatan pedagang kaki lima non binaan. Sehingga keberadaan pedagang kaki lima non binaan di Jalan Mangga Besar tidak mengganggu akses pejalan kaki yang ingin menggunakan trotoar. This study aims to determine the patterns of street vendors on Jalan Mangga Besar. Jalan Mangga Besar, which is synonymous with nightlife and culinary tourism, makes street vendors feel comfortable to trade at this location. These street vendors have patterns in trading. There are traders who trade permanently and also half settled. Legally, there are non-fostered and non-assisted street vendors. The existence of these fostered street vendors is regulated by the government at the time and location of trading. Non-trained street vendors are usually only licensed or illegally rented to the parking attendants around. Researchers immediately came to the field to see the field situation and conducted interview sessions with several street vendors on Jalan Mangga Besar and the local kelurahans. These non-assisted street vendors utilize sidewalks and shoulders for their trading locations, and also cause congestion. So it takes the design of placement of non-fostered street vendors. So that the presence of non-fostered street vendors on Jalan Mangga Besar does not interfere with access of pedestrians who want to use the sidewalk.","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121451829","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.3912
Dewi Linggasari
Tulisan ini mendiskusikan penggunaan gelombang ultrasonik untuk memperkirakan kedalaman retak terbuka. Teknik yang digunakan sangat berguna dalam pekerjaan di lapangan. Metode pengukuran menggunakan dua metode acuan yaitu standard BS 1881 bagian 203 sebagai metode 1 dan manual buku pada alat PUNDIT CNS Electronics sebagai metode ke 2, dengan gambaran persamaan matematika untuk menentukan kedalaman retak terbuka. Gelombang ultrasonik bekerja didasarkan pada pengukuran waktu tempuh gelombang ultrasonik yang menjalar dalam struktur beton. Gelombang ultrasonik disalurkan dari pengirim yang ditempatkan dipermukaan beton melalui material beton menuju penerima dan waktu tempuh gelombang tersebut diukur oleh Read-Out unit dalam mikro detik. Sejumlah balok uji disiapkan dengan penandaan arah keretakan untuk pengukuran. Hasil pengujian menunjukkan kedua metode yang digunakan untuk mengukur kedalaman keretakan memiliki kesesuain hasil antar satu terhadap yang lainnya. This paper discusses the use of ultrasonic waves to estimate the depth of open cracks. The technique used is very useful in work in the field. The measurement method uses two reference methods namely standard BS 1881 section 203 as method 1 and the book manual on the PUNDIT CNS Electronics tool as the second method, with an overview of mathematical equations to determine the depth of open cracks. Ultrasonic waves work based on measurements of the travel time of ultrasonic waves that propagate in concrete structures. Ultrasonic waves are transmitted from the sender placed on the concrete surface through concrete material to the receiver and the wave travel time is measured by the Read-Out unit in micro seconds. A number of test beams were prepared by marking the direction of the crack for measurement. The test results show that the two methods used to measure the depth of the crack have the suitability of the results between one another.
本文讨论了超声波的使用,以估计开裂的深度。使用的技术在实地工作中非常有用。采用两个参考系测量方法,即标准BS 1881 203一部分作为手动方法1和中枢神经系统专家电子工具的书作为第二阶段,形象与数学方程方法确定裂缝深度开放。超声波是基于对混凝土中传播的超声波传播时间的测量。超声波引导放置混凝土表面的发件人穿过混凝土材料和时间旅行成为波受益者Read-Out单位的测量微秒。用标记为裂纹的测试仪建立了一系列测试梁进行测量。测试结果表明,用于测量裂纹深度的两种方法相互配合。这篇论文讨论了用超声波波来估算开箱的深度。技巧以前很有用》《陆军工作。《测量方法利用两个参考方法namely标准BS 1881年美国第203方法1段和《手册》《中枢神经系统专家美国电子工具《概览》的第二个方法,用of mathematical equations到个重大开放裂缝的深度。超声波波的工作原理是根据混凝土结构中宣传的超声波波的作用。超声波waves是transmitted从《寄件人placed on the混凝土地面接收器通过混凝土材料》和《Read-Out单位时间是measured by韩美浪潮在微秒。A号偏梁在准备考试的评分为测量裂纹方向》。结果显示,两种不同的方法用来衡量彼此之间的差异。
{"title":"MEMPERKIRAKAN KEDALAM RETAK PADA BETON MENGGUNAKAN GELOMBANG ULTRASONIK","authors":"Dewi Linggasari","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.3912","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.3912","url":null,"abstract":"Tulisan ini mendiskusikan penggunaan gelombang ultrasonik untuk memperkirakan kedalaman retak terbuka. Teknik yang digunakan sangat berguna dalam pekerjaan di lapangan. Metode pengukuran menggunakan dua metode acuan yaitu standard BS 1881 bagian 203 sebagai metode 1 dan manual buku pada alat PUNDIT CNS Electronics sebagai metode ke 2, dengan gambaran persamaan matematika untuk menentukan kedalaman retak terbuka. Gelombang ultrasonik bekerja didasarkan pada pengukuran waktu tempuh gelombang ultrasonik yang menjalar dalam struktur beton. Gelombang ultrasonik disalurkan dari pengirim yang ditempatkan dipermukaan beton melalui material beton menuju penerima dan waktu tempuh gelombang tersebut diukur oleh Read-Out unit dalam mikro detik. Sejumlah balok uji disiapkan dengan penandaan arah keretakan untuk pengukuran. Hasil pengujian menunjukkan kedua metode yang digunakan untuk mengukur kedalaman keretakan memiliki kesesuain hasil antar satu terhadap yang lainnya. This paper discusses the use of ultrasonic waves to estimate the depth of open cracks. The technique used is very useful in work in the field. The measurement method uses two reference methods namely standard BS 1881 section 203 as method 1 and the book manual on the PUNDIT CNS Electronics tool as the second method, with an overview of mathematical equations to determine the depth of open cracks. Ultrasonic waves work based on measurements of the travel time of ultrasonic waves that propagate in concrete structures. Ultrasonic waves are transmitted from the sender placed on the concrete surface through concrete material to the receiver and the wave travel time is measured by the Read-Out unit in micro seconds. A number of test beams were prepared by marking the direction of the crack for measurement. The test results show that the two methods used to measure the depth of the crack have the suitability of the results between one another.","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128296576","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2730
Devlin Tedy, Wiryanto Dewobroto
Setiap struktur memiliki perilaku dinamik berupa frekuensi alami yang dapat dicari dengan uji vibrasi di lapangan secara empiris dan analisis numerik. Frekuensi alami terdiri dari massa, kekakuan, dan arah (mode shape). Parameter-parameter tersebut menghasilkan banyak variasi model struktur. Model yang paling tepat dengan kondisi lapangan dapat dicari dengan bantuan hasil uji vibrasi yang berfungsi sebagai kalibrator. Dalam mencari frekuensi alami melalui uji vibrasi sangat tergantung pada teknologi seperti tipe sensor dan cara penempatannya yang digunakan untuk merekam getaran yang diberikan. Tipe sensor terdiri dari berbagai macam seperti uniaxial, biaxial, dan triaxial. Pada kasus uji vibrasi struktur dermaga Donggala menggunakan 6 buah sensor accelerometer uniaxial. Sensor dipasang dalam 3 tempat berbeda masing-masing tempat dalam arah lateral dan vertikal. Hasil pengujian dari pihak surveyor didalam mengevaluasi hasilnya hanya rata-rata tanpa memperhitungkan pengaruh arah. Hal ini yang akan dievaluasi pada penelitian ini. Evaluasi yang akan dilakukan adalah membandingkan hasil pengujian vibrasi dengan analisis numerik. Dari berbagai model analisis numerik dapat diketahui bahwa meskipun nilai frekuensi alaminya bervariasi tetapi masih didalam batas nilai tertentu. Dengan melihat apakah arah penempatan sensor dan arah tumbukan kapal, maka dapat diprediksi perilaku dinamik dermaga apakah translasi atau rotasi yang terjadi. Dengan demikian evaluasi yang digunakan oleh surveyor dengan melakukan rata-rata tanpa melihat arah adalah tidak tepat. Oleh sebab itu akan dilakukan evaluasi ulang mempelajari arah pemberian gaya, arah pemasangan dan penempatan sensor accelerometer serta perlu melakukan pengelompokan hasil pengujian vibrasi berdasarkan arah sensor. Setelah mempelajari model numerik dari dermaga dapat diketahui bahwa model numerik yang bertranslasi mempunyai kesesuaian dengan data tumbukan pada salah satu titik sensor yang dipasang. Pemodelan numerik yang mendekati nilai ini adalah sesuai dengan data perencanaan sebelumnya. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pemahaman pengujian vibrasi perlu dilakukan pengelompokan sesuai arah penempatan sensor dan tidak dapat dilakukan rata-rata. Each structure has dynamic behavior in the form of natural frequencies that can be searched by vibration testing in the field empirically and numerical analysis. Natural frequency consists of mass, stiffness, and direction (shape mode). These parameters produce many variations of the structural model. The most appropriate model with field conditions can be sought with the help of vibration test results that function as a calibrator. In searching for natural frequencies through vibration testing it is very dependent on technology such as the type of sensor and the way it is used to record the vibrations given. Sensor types consist of various types such as uniaxial, biaxial, and triaxial. In the case of vibration test the Donggala pier structure uses 6 uniaxia
{"title":"EVALUASI PENGUJIAN VIBRASI STRUKTUR (STUDI KASUS : DERMAGA DONGGALA)","authors":"Devlin Tedy, Wiryanto Dewobroto","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.2730","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.2730","url":null,"abstract":"Setiap struktur memiliki perilaku dinamik berupa frekuensi alami yang dapat dicari dengan uji vibrasi di lapangan secara empiris dan analisis numerik. Frekuensi alami terdiri dari massa, kekakuan, dan arah (mode shape). Parameter-parameter tersebut menghasilkan banyak variasi model struktur. Model yang paling tepat dengan kondisi lapangan dapat dicari dengan bantuan hasil uji vibrasi yang berfungsi sebagai kalibrator. Dalam mencari frekuensi alami melalui uji vibrasi sangat tergantung pada teknologi seperti tipe sensor dan cara penempatannya yang digunakan untuk merekam getaran yang diberikan. Tipe sensor terdiri dari berbagai macam seperti uniaxial, biaxial, dan triaxial. Pada kasus uji vibrasi struktur dermaga Donggala menggunakan 6 buah sensor accelerometer uniaxial. Sensor dipasang dalam 3 tempat berbeda masing-masing tempat dalam arah lateral dan vertikal. Hasil pengujian dari pihak surveyor didalam mengevaluasi hasilnya hanya rata-rata tanpa memperhitungkan pengaruh arah. Hal ini yang akan dievaluasi pada penelitian ini. Evaluasi yang akan dilakukan adalah membandingkan hasil pengujian vibrasi dengan analisis numerik. Dari berbagai model analisis numerik dapat diketahui bahwa meskipun nilai frekuensi alaminya bervariasi tetapi masih didalam batas nilai tertentu. Dengan melihat apakah arah penempatan sensor dan arah tumbukan kapal, maka dapat diprediksi perilaku dinamik dermaga apakah translasi atau rotasi yang terjadi. Dengan demikian evaluasi yang digunakan oleh surveyor dengan melakukan rata-rata tanpa melihat arah adalah tidak tepat. Oleh sebab itu akan dilakukan evaluasi ulang mempelajari arah pemberian gaya, arah pemasangan dan penempatan sensor accelerometer serta perlu melakukan pengelompokan hasil pengujian vibrasi berdasarkan arah sensor. Setelah mempelajari model numerik dari dermaga dapat diketahui bahwa model numerik yang bertranslasi mempunyai kesesuaian dengan data tumbukan pada salah satu titik sensor yang dipasang. Pemodelan numerik yang mendekati nilai ini adalah sesuai dengan data perencanaan sebelumnya. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pemahaman pengujian vibrasi perlu dilakukan pengelompokan sesuai arah penempatan sensor dan tidak dapat dilakukan rata-rata. Each structure has dynamic behavior in the form of natural frequencies that can be searched by vibration testing in the field empirically and numerical analysis. Natural frequency consists of mass, stiffness, and direction (shape mode). These parameters produce many variations of the structural model. The most appropriate model with field conditions can be sought with the help of vibration test results that function as a calibrator. In searching for natural frequencies through vibration testing it is very dependent on technology such as the type of sensor and the way it is used to record the vibrations given. Sensor types consist of various types such as uniaxial, biaxial, and triaxial. In the case of vibration test the Donggala pier structure uses 6 uniaxia","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"26 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123398532","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.1793
Layla Fadhilah Rangkuti, Sri Rahayu Sanusi, Delfi Lutan
Abortus imminens adalah abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai dengan perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. Rata-rata terjadi 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian abortus antara 15-20 % dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh kejadian abortus sebenarnya bisa mendekati 50%. Komplikasi abortus imminens berupa perdarahan atau infeksi yang dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Hubungan Penyakit Ibu Dengan Kejadian Abortus Imminens di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan. Jenis penelitian ini bersifat studi analitik observasional dengan desain penelitian case control. Pengumpulan data dilakukan dengan melihat status rekam medik pasien yang mengalami abortus imminens. Sampel kasus dan kontrol dalam penelitian ini berjumlah 100 dengan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditetapkan. Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat dan analisis bivariat dengan chi-square. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh penyakit ibu (p = 0,0001) OR = 26,0 (95% CI 8,79 – 76,8) dengan kejadian abortus imminens. Disimpulkan bahwa ibu hamil yang memiliki penyakit mempunyai risiko 26 kali akan menderita abortus imminens dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak memiliki penyakit. Imminent abortion is an initial abortion and is a threat to abortion, characterized by vaginal bleeding, uterine ostium is still closed and the conception is still good in the womb. An average of 114 cases occur abortion per hour. Most studies state the incidence of abortion between 15-20% of all pregnancies. If examined further the actual incidence of abortion can be close to 50%. Complications of imminent abortion in the form of bleeding or infection that can cause death. The purpose of this study was to analyze the Relationship between Mother's Disease and the Imminent Abortion in the Regional General Hospital of Padangsidimpuan. This type of research is observational analytic study with case control research design. Data collection was carried out by looking at the medical record status of patients experiencing abortion imminens. Case and control samples in this study were 100 with inclusion and exclusion criteria that have been set. Data analysis methods used include univariate analysis and bivariate analysis with chi-square. Based on the results of the study showed there is an influence of maternal disease (p = 0.0001) OR = 26.0 (95% CI 8.79 - 76.8) with the incidence of imminent abortion. It was concluded that pregnant women who have the disease have a risk of 26 times will suffer from abortion imminens compared with pregnant women who do not have the disease.
{"title":"PENYAKIT IBU TERHADAP KEJADIAN ABORTUS IMMINENS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA PADANGSIDIMPUAN","authors":"Layla Fadhilah Rangkuti, Sri Rahayu Sanusi, Delfi Lutan","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.1793","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.1793","url":null,"abstract":"Abortus imminens adalah abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai dengan perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. Rata-rata terjadi 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian abortus antara 15-20 % dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh kejadian abortus sebenarnya bisa mendekati 50%. Komplikasi abortus imminens berupa perdarahan atau infeksi yang dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Hubungan Penyakit Ibu Dengan Kejadian Abortus Imminens di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan. Jenis penelitian ini bersifat studi analitik observasional dengan desain penelitian case control. Pengumpulan data dilakukan dengan melihat status rekam medik pasien yang mengalami abortus imminens. Sampel kasus dan kontrol dalam penelitian ini berjumlah 100 dengan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditetapkan. Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat dan analisis bivariat dengan chi-square. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh penyakit ibu (p = 0,0001) OR = 26,0 (95% CI 8,79 – 76,8) dengan kejadian abortus imminens. Disimpulkan bahwa ibu hamil yang memiliki penyakit mempunyai risiko 26 kali akan menderita abortus imminens dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak memiliki penyakit. Imminent abortion is an initial abortion and is a threat to abortion, characterized by vaginal bleeding, uterine ostium is still closed and the conception is still good in the womb. An average of 114 cases occur abortion per hour. Most studies state the incidence of abortion between 15-20% of all pregnancies. If examined further the actual incidence of abortion can be close to 50%. Complications of imminent abortion in the form of bleeding or infection that can cause death. The purpose of this study was to analyze the Relationship between Mother's Disease and the Imminent Abortion in the Regional General Hospital of Padangsidimpuan. This type of research is observational analytic study with case control research design. Data collection was carried out by looking at the medical record status of patients experiencing abortion imminens. Case and control samples in this study were 100 with inclusion and exclusion criteria that have been set. Data analysis methods used include univariate analysis and bivariate analysis with chi-square. Based on the results of the study showed there is an influence of maternal disease (p = 0.0001) OR = 26.0 (95% CI 8.79 - 76.8) with the incidence of imminent abortion. It was concluded that pregnant women who have the disease have a risk of 26 times will suffer from abortion imminens compared with pregnant women who do not have the disease.","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131354229","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2813
Mathawi Mathawi, Johny Johan
Industri konstruksi untuk bangunan industri khususnya industri MIGAS sangat rentan terhadap risiko ketidakpastian karena sifat bisnisnya dari penilaian investasi awal proyek sampai dengan penyelesaian fisik diakhir proyek. Dan juga sangat rentan terhadap bahaya jika tidak ada langkah langkah yang tepat dan tindakan pencegahan yang diambil, terutama dalam mengelola risiko dan ketidakpastian. Manajemen risiko memastikan bawah risiko dapat diidentifikasi, diperiksa dan dimitigasi dimana para stakeholder sebagai kunci dalam setiap pengambilan keputusan. Penerapan manajemen risiko dalam suatu proyek sangat diperlukan agar tingkat keberhasilannya tinggi dan menghasilkan keuntungan yang tinggi pada tim proyek. Pada penelitian ini dilakukan studi risiko dan biaya dengan mengidentifikasi, mengevaluasi terhadap laporan HAZOP studi terhadap dampak biaya. Analisis risiko dan biaya dievaluasi dengan menggunakan metode simulasi Monte Carlo dengan bantuan perangkat lunak Crystall Ball Versi 11.1.2.3 untuk menentukan konsekuensi risiko dan biaya apa saja yang paling signifikan dalam suatu sistim pada instalasi produksi dan kelayakan suatu proyek untuk dapat dilanjutkan pada tahap konstruksi. Studi Risiko dan biaya pada tahap FEED (perencanaan awal) dengan mengevaluasi laporan HAZOP dilakukan dengan teknik probabilitas menggunakan bantuan software crystal ball Ver.11.1. Dari hasil simulasi pada tingkat keyakinan 90% diperoleh nilai rentang risiko yang masuk dalam kategori Low (rendah) berdasarkan spesifikasi ring rangking dari pihak OWNER. Sedangkan estimasi biaya proyek berdasarkan standar AACE pada tingkat keyakinan 90% masih berada dalam pada rentang nilai biaya tersebut. The construction industry for industrial buildings, especially the Oil and Gas industry, is very vulnerable to the risk of uncertainty because of the nature of its business from the initial investment appraisal of the project to the physical completion at the end of the project. And it is also very vulnerable to danger if there are no appropriate steps and precautions taken, especially in managing risks and uncertainties. Risk management ensures that risks can be identified, examined and mitigated by which stakeholders are key in every decision making. The application of risk management in a project is very necessary so that the success rate is high and produces high profits on the project team. In this research, a risk and cost study is carried out by identifying, evaluating the HAZOP study report on the impact of costs. Risk and cost analysis is evaluated using the Monte Carlo simulation method with the help of the Crystall Ball software Version 11.1.2.3 to determine the consequences of the most significant risks and costs in a system at a production plant and the feasibility of a project to proceed at the construction stage. Risk and cost studies at the FEED (initial planning) stage by evaluating the HAZOP report were carried out using probability techniques using the help of crystal bal
工业建筑的建筑工业,尤其是天然气行业,非常容易受到不确定性的风险的影响,因为它的业务本质从项目的早期投资评估到项目结束的物理完成。如果不采取适当的措施和预防措施,特别是在管理风险和不确定性方面,也很容易受到伤害。风险管理确保在风险被确定、审查和减轻的情况下,利益相关者是每个决策的关键。在项目中实现风险管理是获得高成功率和高回报的必要条件。本研究通过确定、评估HAZOP研究对成本影响的报告进行风险研究和成本研究。风险分析和成本是通过使用蒙特卡洛的模拟方法在11.1.2.3版本的Crystall Ball软件的帮助下进行评估的,以确定一个项目在构建阶段继续进行的生产和可行性系统中最重要的风险和成本。在FEED阶段(预先计划)评估HAZOP报告的风险和成本研究是使用11.1水晶球软件帮助完成的概率技术。90%的定罪率模拟测试得出的风险范围符合OWNER戒指规范。而根据美国标准定罪率AACE的项目成本估计,90%仍然在成本范围内。工业建筑,特别是石油和天然气工业,很容易受到不确定风险的影响,因为这一项目在项目结束时实现了最初投资计划的本质。如果没有步骤和准备,这也很容易受到危险,尤其是在执行风险和不确定的方面。风险管理机构保证,风险管理可以通过利益相关者的任何决定都是关键。一个项目的风险管理应用是非常必要的,所以成功率很高,生产高利润在项目团队。在这个研究中,风险和成本研究是由鉴定、评估对同事影响的HAZOP研究报告提出的。风险和成本分析是evaluated用蒙特卡洛模拟方法和《帮助》Crystall球软件版本1。2。3到11个重大后果》最浓厚,风险和一次in a系统at a feasibility》制作工厂和使项目得以在舞台的建筑。测试HAZOP报告的风险与成本研究表明,他们使用了11点1分的水晶球软件,利用了可能的技术技术。从90%的定罪级别的模拟来看,在较低的类别下,基于权力阶层的风险预算被包括在内。虽然估计项目的费用以90%的可靠性为基础,但这些成本水平仍然存在。
{"title":"STUDI RISIKO DAN BIAYA PADA TAHAP PERENCANAAN PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN INDUSTRI MIGAS (STUDI KASUS: PROYEK X)","authors":"Mathawi Mathawi, Johny Johan","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.2813","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.2813","url":null,"abstract":"Industri konstruksi untuk bangunan industri khususnya industri MIGAS sangat rentan terhadap risiko ketidakpastian karena sifat bisnisnya dari penilaian investasi awal proyek sampai dengan penyelesaian fisik diakhir proyek. Dan juga sangat rentan terhadap bahaya jika tidak ada langkah langkah yang tepat dan tindakan pencegahan yang diambil, terutama dalam mengelola risiko dan ketidakpastian. Manajemen risiko memastikan bawah risiko dapat diidentifikasi, diperiksa dan dimitigasi dimana para stakeholder sebagai kunci dalam setiap pengambilan keputusan. Penerapan manajemen risiko dalam suatu proyek sangat diperlukan agar tingkat keberhasilannya tinggi dan menghasilkan keuntungan yang tinggi pada tim proyek. Pada penelitian ini dilakukan studi risiko dan biaya dengan mengidentifikasi, mengevaluasi terhadap laporan HAZOP studi terhadap dampak biaya. Analisis risiko dan biaya dievaluasi dengan menggunakan metode simulasi Monte Carlo dengan bantuan perangkat lunak Crystall Ball Versi 11.1.2.3 untuk menentukan konsekuensi risiko dan biaya apa saja yang paling signifikan dalam suatu sistim pada instalasi produksi dan kelayakan suatu proyek untuk dapat dilanjutkan pada tahap konstruksi. Studi Risiko dan biaya pada tahap FEED (perencanaan awal) dengan mengevaluasi laporan HAZOP dilakukan dengan teknik probabilitas menggunakan bantuan software crystal ball Ver.11.1. Dari hasil simulasi pada tingkat keyakinan 90% diperoleh nilai rentang risiko yang masuk dalam kategori Low (rendah) berdasarkan spesifikasi ring rangking dari pihak OWNER. Sedangkan estimasi biaya proyek berdasarkan standar AACE pada tingkat keyakinan 90% masih berada dalam pada rentang nilai biaya tersebut. The construction industry for industrial buildings, especially the Oil and Gas industry, is very vulnerable to the risk of uncertainty because of the nature of its business from the initial investment appraisal of the project to the physical completion at the end of the project. And it is also very vulnerable to danger if there are no appropriate steps and precautions taken, especially in managing risks and uncertainties. Risk management ensures that risks can be identified, examined and mitigated by which stakeholders are key in every decision making. The application of risk management in a project is very necessary so that the success rate is high and produces high profits on the project team. In this research, a risk and cost study is carried out by identifying, evaluating the HAZOP study report on the impact of costs. Risk and cost analysis is evaluated using the Monte Carlo simulation method with the help of the Crystall Ball software Version 11.1.2.3 to determine the consequences of the most significant risks and costs in a system at a production plant and the feasibility of a project to proceed at the construction stage. Risk and cost studies at the FEED (initial planning) stage by evaluating the HAZOP report were carried out using probability techniques using the help of crystal bal","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128948537","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pernikahan usia muda akan berlanjut dengan kehamilan usia muda. Akibat belum siapnya sistem reproduksi remaja untuk menerima kehamilan meningkatkan risiko untuk terjadinya komplikasi yang berpotensi meningkatkan angka kematian ibu dan bayi. Remaja dalam proses pertumbuhan dan perkembangan harus berbagi nutrisi dengan janin yang dikandungnya. Anemia kehamilan merupakan salah satu risiko yang akan dihadapi ibu hamil muda jika kebutuhan tubuh dan janinnya tidak tercukupi, selain itu keadaan psikologi remaja yang masih belum stabil dan siap dengan perubahan peran baru akan memicu terjadinya keguguran akibat stres. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh informasi hubungan pernikahan usia muda dengan keguguran dan anemia. Metode yang digunakan adalah Desain potong lintang, sampel 78 orang yang diambil secara simple random sampling. Pengambilan data dengan wawancara menggunakan kuesioner. Variabel terikat adalah pernikahan usia muda, variabel bebas adalah keguguran dan anemia. Analisis data dengan uji Chi Square. Hasil penelitian yaitu tidak terdapat hubungan menikah usia muda dengan keguguran tetapi terdapat hubungan yang bermakna antara pernikahan usia muda dengan anemia (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa ibu yang menikah muda berisiko mengalami anemia kehamilan dibandingkan dengan ibu yang menikah pada usia reproduksi sehat. Young marriages will continue with young pregnancies. As a result of not being ready for the adolescent reproductive system to accept pregnancy increases the risk for complications that could potentially increase maternal and infant mortality. Adolescents in the process of growth and development must share nutrients with the fetus they contain. Anemia of pregnancy is one of the risks faced by young pregnant women if the body and fetal needs are not fulfilled, besides the psychological state of adolescents who are still unstable and ready for a new role change will trigger a miscarriage due to stress. The purpose of this study was to obtain information on the relationship of young marriage with miscarriage and anemia. The method used is a cross-sectional design, a sample of 78 people taken by simple random sampling. Retrieval of data by interview using a questionnaire. The dependent variable is young marriage, the independent variable is miscarriage and anemia. Data analysis with Chi Square test. The results of the study are that there is no relationship between young marriage and miscarriage but there is a significant relationship between young marriage and anemia (p <0.05). It can be concluded that mothers who marry young are at risk of developing pregnancy anemia compared to mothers who marry at a healthy reproductive age.
{"title":"HUBUNGAN KEGUGURAN DAN ANEMIA DENGAN PERNIKAHAN USIA MUDA DI DESA HAPESONG LAMA","authors":"Melfi Suryaningsih, Asfriyati Asfriyati, Heru Santosa","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.1869","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.1869","url":null,"abstract":"Pernikahan usia muda akan berlanjut dengan kehamilan usia muda. Akibat belum siapnya sistem reproduksi remaja untuk menerima kehamilan meningkatkan risiko untuk terjadinya komplikasi yang berpotensi meningkatkan angka kematian ibu dan bayi. Remaja dalam proses pertumbuhan dan perkembangan harus berbagi nutrisi dengan janin yang dikandungnya. Anemia kehamilan merupakan salah satu risiko yang akan dihadapi ibu hamil muda jika kebutuhan tubuh dan janinnya tidak tercukupi, selain itu keadaan psikologi remaja yang masih belum stabil dan siap dengan perubahan peran baru akan memicu terjadinya keguguran akibat stres. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh informasi hubungan pernikahan usia muda dengan keguguran dan anemia. Metode yang digunakan adalah Desain potong lintang, sampel 78 orang yang diambil secara simple random sampling. Pengambilan data dengan wawancara menggunakan kuesioner. Variabel terikat adalah pernikahan usia muda, variabel bebas adalah keguguran dan anemia. Analisis data dengan uji Chi Square. Hasil penelitian yaitu tidak terdapat hubungan menikah usia muda dengan keguguran tetapi terdapat hubungan yang bermakna antara pernikahan usia muda dengan anemia (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa ibu yang menikah muda berisiko mengalami anemia kehamilan dibandingkan dengan ibu yang menikah pada usia reproduksi sehat. Young marriages will continue with young pregnancies. As a result of not being ready for the adolescent reproductive system to accept pregnancy increases the risk for complications that could potentially increase maternal and infant mortality. Adolescents in the process of growth and development must share nutrients with the fetus they contain. Anemia of pregnancy is one of the risks faced by young pregnant women if the body and fetal needs are not fulfilled, besides the psychological state of adolescents who are still unstable and ready for a new role change will trigger a miscarriage due to stress. The purpose of this study was to obtain information on the relationship of young marriage with miscarriage and anemia. The method used is a cross-sectional design, a sample of 78 people taken by simple random sampling. Retrieval of data by interview using a questionnaire. The dependent variable is young marriage, the independent variable is miscarriage and anemia. Data analysis with Chi Square test. The results of the study are that there is no relationship between young marriage and miscarriage but there is a significant relationship between young marriage and anemia (p <0.05). It can be concluded that mothers who marry young are at risk of developing pregnancy anemia compared to mothers who marry at a healthy reproductive age.","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"84 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125527786","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2856
Erick Sidarta, Sari Mariyati Dewi, Arlends Chris
Indonesia merupakan daerah dengan hiperendemisitas tinggi untuk infeksi virus dengue dan tempat bersirkulasinya keempat varian genotype virus dengue. Saat ini salah satu cara untuk pencegahan infeksi virus dengue adalah dengan vaksin dengue yang baru tersedia tahun 2016. Vaksin dengue ini menstimulasi terbentuknya antibodi yang akan mengenali membran dan selubung dari keempat genotipe virus dengue. Efektivitas dari vaksin ini tergantung dari kesesuaian antara antibodi yang terbentuk dengan varian yang beredar di Indonesia. Mengingat virus dengue merupakan virus RNA yang umumnya memiliki laju mutasi yang tinggi, mutasi yang terjadi dapat mengakibatkan terbentuknya escape mutant yang mampu menghindari antibodi yang terbentuk oleh vaksin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evolusi dan laju mutasi dari virus dengue yang beredar di Indonesia. Sebanyak 116 data genom lengkap dari virus dengue yang telah dilaporkan di Indonesia digunakan dalam penelitian ini. Genotipe virus dengue dianalisa dengan menggunakan software MEGA-X. Evolusi dan laju mutasi dari gen penyandi selubung (E) dan membran (M) virus dengue dianalisa dengan menggunakan software BEAST versi 1.8.3. Hasil dari penelitian ini menunjukkan gen E dan M virus dengue telah berevolusi semenjak pertama kali dilaporkan pada tahun 1975 dan memiliki laju mutasi yang tinggi. Gen E mencapai 9.26 x 10-4 subsitusi/basa/tahun (95% HPD 7.81 X 10 10-4 – 1.07 X 10-3) maupun gen M yang mencapai 8.5 x 10-4 subsitusi/basa/tahun (95% HPD 6.03 X 10 10-4 – 1.09 X 10-3). Tingginya laju mutasi ini membutuhkan perhatian bagi pengembang vaksin untuk pengawasan dan evaluasi yang berkesinambungan. Indonesia is an area with high hyperendemicity for dengue virus infection and the circulation of the four variants of dengue virus genotype. Currently, one way to prevent dengue virus infection is with a new dengue vaccine available in 2016. This dengue vaccine stimulates the formation of antibodies that will recognize the membrane and envelope of the four dengue virus genotypes. The effectiveness of this vaccine depends on the suitability of the antibodies formed with variants circulating in Indonesia. Since dengue virus is an RNA virus that generally has a high mutation rate, the mutations that occur can result in the formation of escape mutants that are able to avoid the antibodies formed by the vaccine. This study aims to determine the evolution and mutation rate of dengue viruses circulating in Indonesia. A total of 116 complete genome data from dengue viruses that have been reported in Indonesia were used in this study. Dengue virus genotypes were analyzed using MEGA-X software. The evolution and mutation rate of the envelope (E) and membrane (M) gene of the dengue virus were analyzed using BEAST software version 1.8.3. The results of this study indicate that the E and M genes of the dengue virus have evolved since they were first reported in 1975 and have a high mutation rate. Gen E reaches 9.26 x 10-4 substitu
{"title":"ANALISA EVOLUSI VIRUS DENGUE YANG ENDEMIK DI INDONESIA","authors":"Erick Sidarta, Sari Mariyati Dewi, Arlends Chris","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.2856","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.2856","url":null,"abstract":"Indonesia merupakan daerah dengan hiperendemisitas tinggi untuk infeksi virus dengue dan tempat bersirkulasinya keempat varian genotype virus dengue. Saat ini salah satu cara untuk pencegahan infeksi virus dengue adalah dengan vaksin dengue yang baru tersedia tahun 2016. Vaksin dengue ini menstimulasi terbentuknya antibodi yang akan mengenali membran dan selubung dari keempat genotipe virus dengue. Efektivitas dari vaksin ini tergantung dari kesesuaian antara antibodi yang terbentuk dengan varian yang beredar di Indonesia. Mengingat virus dengue merupakan virus RNA yang umumnya memiliki laju mutasi yang tinggi, mutasi yang terjadi dapat mengakibatkan terbentuknya escape mutant yang mampu menghindari antibodi yang terbentuk oleh vaksin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evolusi dan laju mutasi dari virus dengue yang beredar di Indonesia. Sebanyak 116 data genom lengkap dari virus dengue yang telah dilaporkan di Indonesia digunakan dalam penelitian ini. Genotipe virus dengue dianalisa dengan menggunakan software MEGA-X. Evolusi dan laju mutasi dari gen penyandi selubung (E) dan membran (M) virus dengue dianalisa dengan menggunakan software BEAST versi 1.8.3. Hasil dari penelitian ini menunjukkan gen E dan M virus dengue telah berevolusi semenjak pertama kali dilaporkan pada tahun 1975 dan memiliki laju mutasi yang tinggi. Gen E mencapai 9.26 x 10-4 subsitusi/basa/tahun (95% HPD 7.81 X 10 10-4 – 1.07 X 10-3) maupun gen M yang mencapai 8.5 x 10-4 subsitusi/basa/tahun (95% HPD 6.03 X 10 10-4 – 1.09 X 10-3). Tingginya laju mutasi ini membutuhkan perhatian bagi pengembang vaksin untuk pengawasan dan evaluasi yang berkesinambungan. Indonesia is an area with high hyperendemicity for dengue virus infection and the circulation of the four variants of dengue virus genotype. Currently, one way to prevent dengue virus infection is with a new dengue vaccine available in 2016. This dengue vaccine stimulates the formation of antibodies that will recognize the membrane and envelope of the four dengue virus genotypes. The effectiveness of this vaccine depends on the suitability of the antibodies formed with variants circulating in Indonesia. Since dengue virus is an RNA virus that generally has a high mutation rate, the mutations that occur can result in the formation of escape mutants that are able to avoid the antibodies formed by the vaccine. This study aims to determine the evolution and mutation rate of dengue viruses circulating in Indonesia. A total of 116 complete genome data from dengue viruses that have been reported in Indonesia were used in this study. Dengue virus genotypes were analyzed using MEGA-X software. The evolution and mutation rate of the envelope (E) and membrane (M) gene of the dengue virus were analyzed using BEAST software version 1.8.3. The results of this study indicate that the E and M genes of the dengue virus have evolved since they were first reported in 1975 and have a high mutation rate. Gen E reaches 9.26 x 10-4 substitu","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"21 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133353693","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2773
S. Steven, Johny Johan
Kesuksesan suatu proyek merupakan hal yang ingin dicapai oleh seluruh pihak yang terlibat di dalamnya. Inefisiensi struktur yang terdapat dalam suatu proyek dapat menghalangi pencapaian kesuksesan yang diharapkan dalam suatu proyek. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknik yang dapat menanggulangi permasalahan tersebut. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah value engineering. Dalam beberapa studi, telah dilakukan modifikasi pada analisis teknik value engineering. Salah satu modifikasi yang dimaksud adalah dengan menerapkan teknik TRIZ. Penerapan teknik TRIZ dalam analisis value engineering diyakini dapat memberikan kemudahan dalam menemukan solusi dalam permasalahan yang dihadapi. Struktur pondasi suatu proyek high rise building akan dijadikan objek studi. Studi ini bertujuan untuk menemukan sistem pondasi yang dapat diterapkan pada objek studi. Teknik TRIZ yang dilakukan dalam studi ini hanya diterapkan dalam fase kreatif yang terdapat di dalam analisis value engineering. Sistem awal pondasi yang diterapkan dalam objek studi adalah sistem bored pile foundation. Sistem bored pile foundation memiliki total biaya pelaksanaan sebesar Rp 18.719.136.609,24, penurunan rata-rata sebesar 48,24 cm, waktu pelaksanaan selama 92 hari, dan skor penilaian sebesar 122,92. Penerapan teknik TRIZ dalam analisis value engineering memberikan dua buah alternatif, yaitu sistem raft foundation dan raft-pile foundation. Evaluasi yang dilakukan terhadap ketiga sistem yang dianalisis memberikan hasil bahwa sistem raft-pile foundation memberikan hasil yang paling baik dengan total biaya pelaksanaan sebesar Rp 15.910.991.105,30, penurunan rata-rata sebesar 14,17 cm, waktu pelaksanaan selama 87 hari, dan skor penilaian sebesar 144,58. Sistem raft-pile foundation memberikan penghematan biaya sebesar 15% terhadap sistem bored pile foundation.The success of a project is something that all parties involved in it want to achieve. The structure inefficiency found in a project can hinder the achievement of expected success in a project. Therefore, we need a technique that can overcome these problems. One technique that can be used is value engineering. In several studies, modifications have been made to the analysis of value engineering techniques. One modification is meant by applying the TRIZ technique. The application of TRIZ techniques in value engineering analysis is believed to provide convenience in finding solutions to the problems encountered. The foundation structure of a high rise building project will be the object of study. This study aims to find a foundation system that can be applied to the object of study. The TRIZ technique used in this study is only applied in the creative phase contained in the value engineering analysis. The initial foundation system applied in the object of study is the bored pile foundation system. The bored pile foundation system has a total implementation cost of Rp. 18,719,136,609.24, an average reduction of 48.24 cm, an implementa
{"title":"PENERAPAN ANALISIS VALUE ENGINEERING DENGAN TEORI TRIZ PADA SUBSTRUCTURE PROYEK X","authors":"S. Steven, Johny Johan","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.2773","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.2773","url":null,"abstract":"Kesuksesan suatu proyek merupakan hal yang ingin dicapai oleh seluruh pihak yang terlibat di dalamnya. Inefisiensi struktur yang terdapat dalam suatu proyek dapat menghalangi pencapaian kesuksesan yang diharapkan dalam suatu proyek. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknik yang dapat menanggulangi permasalahan tersebut. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah value engineering. Dalam beberapa studi, telah dilakukan modifikasi pada analisis teknik value engineering. Salah satu modifikasi yang dimaksud adalah dengan menerapkan teknik TRIZ. Penerapan teknik TRIZ dalam analisis value engineering diyakini dapat memberikan kemudahan dalam menemukan solusi dalam permasalahan yang dihadapi. Struktur pondasi suatu proyek high rise building akan dijadikan objek studi. Studi ini bertujuan untuk menemukan sistem pondasi yang dapat diterapkan pada objek studi. Teknik TRIZ yang dilakukan dalam studi ini hanya diterapkan dalam fase kreatif yang terdapat di dalam analisis value engineering. Sistem awal pondasi yang diterapkan dalam objek studi adalah sistem bored pile foundation. Sistem bored pile foundation memiliki total biaya pelaksanaan sebesar Rp 18.719.136.609,24, penurunan rata-rata sebesar 48,24 cm, waktu pelaksanaan selama 92 hari, dan skor penilaian sebesar 122,92. Penerapan teknik TRIZ dalam analisis value engineering memberikan dua buah alternatif, yaitu sistem raft foundation dan raft-pile foundation. Evaluasi yang dilakukan terhadap ketiga sistem yang dianalisis memberikan hasil bahwa sistem raft-pile foundation memberikan hasil yang paling baik dengan total biaya pelaksanaan sebesar Rp 15.910.991.105,30, penurunan rata-rata sebesar 14,17 cm, waktu pelaksanaan selama 87 hari, dan skor penilaian sebesar 144,58. Sistem raft-pile foundation memberikan penghematan biaya sebesar 15% terhadap sistem bored pile foundation.The success of a project is something that all parties involved in it want to achieve. The structure inefficiency found in a project can hinder the achievement of expected success in a project. Therefore, we need a technique that can overcome these problems. One technique that can be used is value engineering. In several studies, modifications have been made to the analysis of value engineering techniques. One modification is meant by applying the TRIZ technique. The application of TRIZ techniques in value engineering analysis is believed to provide convenience in finding solutions to the problems encountered. The foundation structure of a high rise building project will be the object of study. This study aims to find a foundation system that can be applied to the object of study. The TRIZ technique used in this study is only applied in the creative phase contained in the value engineering analysis. The initial foundation system applied in the object of study is the bored pile foundation system. The bored pile foundation system has a total implementation cost of Rp. 18,719,136,609.24, an average reduction of 48.24 cm, an implementa","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"93 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125697479","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.2210
Muhammad Khilbran, Wahyu Indra Sakti
Penyebab utama kecelakaan kerja dalam proyek konstruksi adalah yang terkait dengan karakteristik proyek konstruksi yang unik, lokasi kerja yang berbeda, cuaca terbuka dan cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas, keamanan fisik tinggi yang dinamis dan menuntut, dan banyak penggunaan tenaga kerja tidak terampil. Ditambah dengan manajemen keselamatan yang sangat lemah, akibatnya pekerja bekerja dengan metode implementasi konstruksi berisiko tinggi. Penelitian ini merupakan faktor human error dalam proyek infrastruktur jembatan Paya Dapur - Kp. Tinggi di Kabupaten Aceh Selatan. Data dikumpulkan melalui angket survei responden dari pelaku konstruksi yang terlibat dalam proyek di jembatan Paya Dapur - Kp. Tinggi di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 10 faktor kesalahan manusia, termasuk peran dan tanggung jawab konsultan pengawas dan konsultan perencana belum maksimal, kegagalan untuk menggunakan alat pelindung diri / keselamatan diri dengan benar, prosedur kerja yang buruk, prosedur operasi standar yang buruk (Standard Operation Procedure /SOP), penerangan yang buruk, standar kerja sering fleksibel, tidak ada pemeriksaan awal, desain peralatan pengguna yang tidak sesuai atau tidak kompatibel, tingkat kebisingan yang berlebihan dan tata letak fasilitas kerja yang buruk.The main causes of work accidents in construction projects are those related to unique construction project characteristics, different working locations, weather-exposed and weathered, limited implementation time, dynamic and demanding high physical security, and many uses unskilled labor. Coupled with a very weak safety management, consequently the workers work with high-risk construction implementation methods. This research analyzes the human error factor in the bridge infrastructure project of Paya Dapur - Kp. High in the District of South Aceh. The data was collected through a questionnaire survey of respondents from construction actors involved in the project at Paya Dapur - Kp bridge. High in Aceh Selatan District, Aceh Province. The results showed that there were 10 human error factors, including the roles and responsibilities of the supervisor consultant and the planner consultant not yet maximal, the failure to use self-protective equipment / self-safety correctly, poor working procedures, poor Standard Operation Procedure (SOP), poor lighting, work standards often flexed, no initial checks, inappropriate or incompatible user equipment designs, excessive noise levels and poor layout of work facility layouts.
{"title":"INDENTIFIKASI FAKTOR RISIKO HUMAN ERRORS DALAM PENERAPAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DI PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI","authors":"Muhammad Khilbran, Wahyu Indra Sakti","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.2210","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.2210","url":null,"abstract":"Penyebab utama kecelakaan kerja dalam proyek konstruksi adalah yang terkait dengan karakteristik proyek konstruksi yang unik, lokasi kerja yang berbeda, cuaca terbuka dan cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas, keamanan fisik tinggi yang dinamis dan menuntut, dan banyak penggunaan tenaga kerja tidak terampil. Ditambah dengan manajemen keselamatan yang sangat lemah, akibatnya pekerja bekerja dengan metode implementasi konstruksi berisiko tinggi. Penelitian ini merupakan faktor human error dalam proyek infrastruktur jembatan Paya Dapur - Kp. Tinggi di Kabupaten Aceh Selatan. Data dikumpulkan melalui angket survei responden dari pelaku konstruksi yang terlibat dalam proyek di jembatan Paya Dapur - Kp. Tinggi di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 10 faktor kesalahan manusia, termasuk peran dan tanggung jawab konsultan pengawas dan konsultan perencana belum maksimal, kegagalan untuk menggunakan alat pelindung diri / keselamatan diri dengan benar, prosedur kerja yang buruk, prosedur operasi standar yang buruk (Standard Operation Procedure /SOP), penerangan yang buruk, standar kerja sering fleksibel, tidak ada pemeriksaan awal, desain peralatan pengguna yang tidak sesuai atau tidak kompatibel, tingkat kebisingan yang berlebihan dan tata letak fasilitas kerja yang buruk.The main causes of work accidents in construction projects are those related to unique construction project characteristics, different working locations, weather-exposed and weathered, limited implementation time, dynamic and demanding high physical security, and many uses unskilled labor. Coupled with a very weak safety management, consequently the workers work with high-risk construction implementation methods. This research analyzes the human error factor in the bridge infrastructure project of Paya Dapur - Kp. High in the District of South Aceh. The data was collected through a questionnaire survey of respondents from construction actors involved in the project at Paya Dapur - Kp bridge. High in Aceh Selatan District, Aceh Province. The results showed that there were 10 human error factors, including the roles and responsibilities of the supervisor consultant and the planner consultant not yet maximal, the failure to use self-protective equipment / self-safety correctly, poor working procedures, poor Standard Operation Procedure (SOP), poor lighting, work standards often flexed, no initial checks, inappropriate or incompatible user equipment designs, excessive noise levels and poor layout of work facility layouts.","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"2015 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127695748","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-10-02DOI: 10.24912/jmstkik.v3i1.1690
Yohanes Calvinus
Air minum kemasan telah menjadi kebutuhan untuk manusia. Banyak orang beranggapan bahwa air minum dalam kemasan menjadi sebuah jaminan kualitas kesehatan. Padahal tidak sedikit beberapa orang beranggapan juga berdasarkan ukuran Standar Nasional Indonesia dan BPOM yang tercantum pada kemasannya membuat orang meragukan kualitas dan kesehatannya. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari media online cnn Indonesia pada hari kamis tanggal 27 Juli 2017, ada 3 syarat yang menjadikan standard air minum berkualitas. 3 syarat tersebut adalah syarat fisik, syarat mikrobiologi, dan syarat kimia. Belum ada termasuk dalam standard air minum kemasan tersebut memiliki syarat secara elektronis. Untuk membangun suatu standard air minum kemasan dengan syarat elektronis maka dibutuhkan suatu pemodelan dalam bentuk rangkaian elektronik yang menggambarkan suatu nilai pengganti yang mewakili ketiga standard air minum yang berkualitas. Melakukan pemodelan dalam bentuk rangkaian listrik terdiri dari ketiga komponen elektronika yaitu resistansi, induktansi dan kapasitansi. Bentuk rangkaian model yang dikemukakan yaitu rangkaian RC yang dihubungkan seri dan L yang terhubung seri meskipun keluaran dari rangkaian ada pada sifat induktansi nya. Diharapkan dari pemodelan ini dapat menjadi suatu nilai ukuran atau standard nilai baru dalam menentukan kadar air minum yang lebih berkualitas. Dari nilai standard ukur elektronis ini tentunya akan sangat membantu menciptakan alat ukur elektronik yang lebih baik agar alat ukur ini dapat dipergunakan menjadi standard air minum berkualitas yang bisa dimiliki setiap manusia yang ingin meminum air minum kemasan. Bottled water has become a human need. Many people think bottled drinking water is a guarantee of health quality. Meanwhile, some people think that they are also drafting Indonesian national standards and BPOM that approves packaging makes people doubt their quality and health. Based on information obtained from online media in Indonesia on Thursday 27 July 2017, there are 3 conditions that make quality drinking water standards. These 3 requirements are physical requirements, microbiological requirements, and chemical requirements. Not yet in the standard of bottled water that has electronic requirements. To make standard drinking water with electronic requirements, we need a modeling in the form of plastic in accordance with an assessment that represents quality drinking water. Modeling in the form of an electrical circuit consists of three electronic components, namely resistance, inductance and capacitance. The form of the series of models proposed is that the RC circuit releases the series and the L connected series removed from the circuit is in its inductance. It is expected that this modeling can become a new standard or standard value in determining higher quality drinking water content. From the value of this electronic measuring standard will greatly help create a better electronic measuring device so that this measuri
{"title":"ELECTRONIC PROPERTIES MODELLING UNTUK BOTOL AIR MINUM KEMASAN","authors":"Yohanes Calvinus","doi":"10.24912/jmstkik.v3i1.1690","DOIUrl":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v3i1.1690","url":null,"abstract":"Air minum kemasan telah menjadi kebutuhan untuk manusia. Banyak orang beranggapan bahwa air minum dalam kemasan menjadi sebuah jaminan kualitas kesehatan. Padahal tidak sedikit beberapa orang beranggapan juga berdasarkan ukuran Standar Nasional Indonesia dan BPOM yang tercantum pada kemasannya membuat orang meragukan kualitas dan kesehatannya. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari media online cnn Indonesia pada hari kamis tanggal 27 Juli 2017, ada 3 syarat yang menjadikan standard air minum berkualitas. 3 syarat tersebut adalah syarat fisik, syarat mikrobiologi, dan syarat kimia. Belum ada termasuk dalam standard air minum kemasan tersebut memiliki syarat secara elektronis. Untuk membangun suatu standard air minum kemasan dengan syarat elektronis maka dibutuhkan suatu pemodelan dalam bentuk rangkaian elektronik yang menggambarkan suatu nilai pengganti yang mewakili ketiga standard air minum yang berkualitas. Melakukan pemodelan dalam bentuk rangkaian listrik terdiri dari ketiga komponen elektronika yaitu resistansi, induktansi dan kapasitansi. Bentuk rangkaian model yang dikemukakan yaitu rangkaian RC yang dihubungkan seri dan L yang terhubung seri meskipun keluaran dari rangkaian ada pada sifat induktansi nya. Diharapkan dari pemodelan ini dapat menjadi suatu nilai ukuran atau standard nilai baru dalam menentukan kadar air minum yang lebih berkualitas. Dari nilai standard ukur elektronis ini tentunya akan sangat membantu menciptakan alat ukur elektronik yang lebih baik agar alat ukur ini dapat dipergunakan menjadi standard air minum berkualitas yang bisa dimiliki setiap manusia yang ingin meminum air minum kemasan. Bottled water has become a human need. Many people think bottled drinking water is a guarantee of health quality. Meanwhile, some people think that they are also drafting Indonesian national standards and BPOM that approves packaging makes people doubt their quality and health. Based on information obtained from online media in Indonesia on Thursday 27 July 2017, there are 3 conditions that make quality drinking water standards. These 3 requirements are physical requirements, microbiological requirements, and chemical requirements. Not yet in the standard of bottled water that has electronic requirements. To make standard drinking water with electronic requirements, we need a modeling in the form of plastic in accordance with an assessment that represents quality drinking water. Modeling in the form of an electrical circuit consists of three electronic components, namely resistance, inductance and capacitance. The form of the series of models proposed is that the RC circuit releases the series and the L connected series removed from the circuit is in its inductance. It is expected that this modeling can become a new standard or standard value in determining higher quality drinking water content. From the value of this electronic measuring standard will greatly help create a better electronic measuring device so that this measuri","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"25 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-10-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126792867","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}