Pub Date : 2019-03-04DOI: 10.23969/JCBEEM.V2I1.1450
Ds Deni Rusmaya, Anni Rochaeni, Hendra Mulyana
Sampah merupakan sisa kegiatan manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa di ketiga daerah rencana (Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok) sudah tidak memiliki TPA yang layak. Oleh karena itu pihak provinsi menyediakan TPA terpadu yang dapat melayani ketiga daerah tersebut. maka diperlukannya perencanaan jalur operasional menuju TPA terpadu tersebut. Perencanaan jalur dibuat menuju Stasiun Pengumpul Antara (SPA) terlebih dahulu sebelum menuju TPA. Perencanaan ini dilakukan dengan cara menghitung terlebih dahulu jumlah timbulan sampah sampai akhir tahun perencanaan kemudian menganalisa jalur existing yang ada dan membuat jalur yang baru. Dari hasil penelitian didapat timbulan sampah yang terlayani sampai akhir tahun perencanaan yaitu Kabupaten Bogor mencapai 12.845,30 m3/hari dengan persentase pelayanan 58 % untuk daerah domestik. Sedangkan timbulan sampah non domestik akan mencapai 3.537,51 m3/hari dengan persen pelayanan 100 %. Kota Bogor mencapai 6.824,86 m3/hari dengan persentase pelayanan 100 % untuk daerah domestik. Sedangkan timbulan sampah non domestik akan mencapai 219,47 m3/hari dengan persen pelayanan 100 %. Dan Kota Depok mencapai 11.179,43 m3/hari dengan persentase pelayanan 87 % untuk daerah domestik. Sedangkan timbulan sampah non domestik akan mencapai 395,32 m3/hari dengan persen pelayanan 100 %. Dari hasil pengamatan di lapangan, maka dibuat jalur terbaik menurut waktu dan jarak tempuh pengumpulan dan pengangkutan. Dalam perencanaan ini dilakukan juga analisa terhadap data dan perhitungan yang mengacu pada literatur dan dengan rumus-rumus yang ada dapat pula dihitung proyeksi kebutuhan armada sampai akhir tahun perencanaan.
{"title":"PERENCANAAN JALUR PENGANGKUTAN SAMPAH DI KABUPATEN BOGOR, KOTA BOGOR, DAN KOTA DEPOK MENUJU STASIUN PENGUMPUL ANTARA (SPA)","authors":"Ds Deni Rusmaya, Anni Rochaeni, Hendra Mulyana","doi":"10.23969/JCBEEM.V2I1.1450","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V2I1.1450","url":null,"abstract":"Sampah merupakan sisa kegiatan manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa di ketiga daerah rencana (Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok) sudah tidak memiliki TPA yang layak. Oleh karena itu pihak provinsi menyediakan TPA terpadu yang dapat melayani ketiga daerah tersebut. maka diperlukannya perencanaan jalur operasional menuju TPA terpadu tersebut. Perencanaan jalur dibuat menuju Stasiun Pengumpul Antara (SPA) terlebih dahulu sebelum menuju TPA. Perencanaan ini dilakukan dengan cara menghitung terlebih dahulu jumlah timbulan sampah sampai akhir tahun perencanaan kemudian menganalisa jalur existing yang ada dan membuat jalur yang baru. Dari hasil penelitian didapat timbulan sampah yang terlayani sampai akhir tahun perencanaan yaitu Kabupaten Bogor mencapai 12.845,30 m3/hari dengan persentase pelayanan 58 % untuk daerah domestik. Sedangkan timbulan sampah non domestik akan mencapai 3.537,51 m3/hari dengan persen pelayanan 100 %. Kota Bogor mencapai 6.824,86 m3/hari dengan persentase pelayanan 100 % untuk daerah domestik. Sedangkan timbulan sampah non domestik akan mencapai 219,47 m3/hari dengan persen pelayanan 100 %. Dan Kota Depok mencapai 11.179,43 m3/hari dengan persentase pelayanan 87 % untuk daerah domestik. Sedangkan timbulan sampah non domestik akan mencapai 395,32 m3/hari dengan persen pelayanan 100 %. Dari hasil pengamatan di lapangan, maka dibuat jalur terbaik menurut waktu dan jarak tempuh pengumpulan dan pengangkutan. Dalam perencanaan ini dilakukan juga analisa terhadap data dan perhitungan yang mengacu pada literatur dan dengan rumus-rumus yang ada dapat pula dihitung proyeksi kebutuhan armada sampai akhir tahun perencanaan.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"5 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121618275","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-03-04DOI: 10.23969/JCBEEM.V2I1.1453
Evi Afiatun, Sri Wahyuni, Faizal Hamdan
Jenis koagulan bisa dikategorikan menjadi koagulan anorganik dan organik, koagulan anorganik yang sering digunakan dalam pengolahan air baku menjadi air bersih adalah aluminium sulfat (Al2(SO4)3). Koagulan organik merupakan koagulan yang dapat dihasilkan dari ekstrak tumbuhan, binatang dan mikrooganisme. Biji kelor (Moringan Oleifera) dan biji asam jawa (Tamarindus Indica L) merupakan koagulan organik yang sudah banyak dilakukan studi menurunkan parameter kekeruhan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan dosis optimum koagulan biji kelor (Moringan Oleifera), biji asam jawa (Tamarindus Indica L), dan aluminium sulfat (Al2(SO4)3) untuk menurunkan parameter kekeruhan buatan dan air sungai Citarum Atas Ciparay Kabupaten Bandung. Pengujian dilakukan menggunakan Jartest sampel menggunakan kekeruhan buatan dan air sungai. Variasi kekeruhan buatan 100 NTU, 500 NTU, 600 NTU dan 1000 NTU, sedangkan variasi koagulan terdiri dari koagulan biji kelor, koagulan biji asam jawa, koagulan aluminium sulfat, campuran dari biji kelor dengan aluminium sulfat, dan campuran dari biji asam jawa dengan aluminium sulfat. Hasil penelitian dosis optimum biji kelor secara berurut berdasarkan variasi kekeruhan 85 mg/500ml, 220 mg/500ml, 235 mg/500ml, dan 430 mg/500ml, biji asam jawa 85 mg/500ml, 230 mg/500ml, 235 mg/500ml dan 435 mg/500ml, dan aluminium sulfat 70 mg/500ml, 80 mg/500ml, 105 mg/500ml dan 135 mg/500ml. Percobaan dengan air sungai menggunakan koagulan campuran biji kelor dengan aluminium sulfat yakni 85 mg/500ml biji kelor dan 35 mg/500ml aluminium sulfat dapat menurunkan hingga 90,25 %, campuran biji asam jawa dengan aluminium sulfat yakni 85 mg/500ml biji asam dan 35 mg/500ml aluminium sulfat dapat menurunkan hingga 93,61 %, dan menggunakan aluminium sulfat yakni 70 mg/500ml dapat menurunkan 92,76 %.
{"title":"PERBANDINGAN KOMPOSISI KOAGULAN BIJI KELOR (MoringanOleifera), BIJI ASAM JAWA (TamarindusIndica L) DAN ALUMINIUM SULFAT (AL2(SO4)3) UNTUK MENURUNKAN KEKERUHAN AIR SUNGAI CITARUM ATAS CIPARAY KABUPATEN BANDUNG","authors":"Evi Afiatun, Sri Wahyuni, Faizal Hamdan","doi":"10.23969/JCBEEM.V2I1.1453","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V2I1.1453","url":null,"abstract":"Jenis koagulan bisa dikategorikan menjadi koagulan anorganik dan organik, koagulan anorganik yang sering digunakan dalam pengolahan air baku menjadi air bersih adalah aluminium sulfat (Al2(SO4)3). Koagulan organik merupakan koagulan yang dapat dihasilkan dari ekstrak tumbuhan, binatang dan mikrooganisme. Biji kelor (Moringan Oleifera) dan biji asam jawa (Tamarindus Indica L) merupakan koagulan organik yang sudah banyak dilakukan studi menurunkan parameter kekeruhan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan dosis optimum koagulan biji kelor (Moringan Oleifera), biji asam jawa (Tamarindus Indica L), dan aluminium sulfat (Al2(SO4)3) untuk menurunkan parameter kekeruhan buatan dan air sungai Citarum Atas Ciparay Kabupaten Bandung. Pengujian dilakukan menggunakan Jartest sampel menggunakan kekeruhan buatan dan air sungai. Variasi kekeruhan buatan 100 NTU, 500 NTU, 600 NTU dan 1000 NTU, sedangkan variasi koagulan terdiri dari koagulan biji kelor, koagulan biji asam jawa, koagulan aluminium sulfat, campuran dari biji kelor dengan aluminium sulfat, dan campuran dari biji asam jawa dengan aluminium sulfat. Hasil penelitian dosis optimum biji kelor secara berurut berdasarkan variasi kekeruhan 85 mg/500ml, 220 mg/500ml, 235 mg/500ml, dan 430 mg/500ml, biji asam jawa 85 mg/500ml, 230 mg/500ml, 235 mg/500ml dan 435 mg/500ml, dan aluminium sulfat 70 mg/500ml, 80 mg/500ml, 105 mg/500ml dan 135 mg/500ml. Percobaan dengan air sungai menggunakan koagulan campuran biji kelor dengan aluminium sulfat yakni 85 mg/500ml biji kelor dan 35 mg/500ml aluminium sulfat dapat menurunkan hingga 90,25 %, campuran biji asam jawa dengan aluminium sulfat yakni 85 mg/500ml biji asam dan 35 mg/500ml aluminium sulfat dapat menurunkan hingga 93,61 %, dan menggunakan aluminium sulfat yakni 70 mg/500ml dapat menurunkan 92,76 %.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"59 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133981290","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-03-04DOI: 10.23969/JCBEEM.V2I1.1451
Sri Wahyuni, Y. Yustiani, Andika Juliandahri
Kebisingan dapat diartikan sebagai suara yang tidak diinginkan atau suara keras yang tidak menyenangkan atau tidak terduga. Kebisingan bersumber dari kegiatan manusia seperti penggunaan alat transportasi dan aktifitas industri. Dampak dari kebisingan ini bukan hanya pada kota-kota besar. Pengukuran tingkat kebisingan diatur dalam KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengukur tingkat kebisingan, yaitu: cara sederhana dan cara langsung. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sound level meter, seperangkat alat hitung dan stopwatch. Penentuan tingkat kebisingan lingkungan menggunakan sound level meter dilakukan di 2 (dua) lokasi yang merupakan daerah komersial di Kota Bandung, yaitu Jalan Cihampelas (Ciwalk) dan Jalan Sukajadi (PVJ). Berdasarkan data yang diperoleh tingkat kebisingan paling tinggi terjadi di PVJ pada saat akhir pekan yaitu sebesar 69,8 dBA. Tingkat kebisingan terendah terjadi di Ciwalk pada saat hari kerja, yaitu sebesar 68,4 dBA. Nilai ini tidak melebihi baku kebisingan berdasarkan KEPMENLH No. 48 Tahun 1996 untuk daerah perdagangan dan jasa yaitu sebesar 70 dBA.
{"title":"ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN LALU LINTAS DI JALAN CIHAMPELAS DAN JALAN SUKAJADI KOTA BANDUNG","authors":"Sri Wahyuni, Y. Yustiani, Andika Juliandahri","doi":"10.23969/JCBEEM.V2I1.1451","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V2I1.1451","url":null,"abstract":"Kebisingan dapat diartikan sebagai suara yang tidak diinginkan atau suara keras yang tidak menyenangkan atau tidak terduga. Kebisingan bersumber dari kegiatan manusia seperti penggunaan alat transportasi dan aktifitas industri. Dampak dari kebisingan ini bukan hanya pada kota-kota besar. Pengukuran tingkat kebisingan diatur dalam KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengukur tingkat kebisingan, yaitu: cara sederhana dan cara langsung. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sound level meter, seperangkat alat hitung dan stopwatch. Penentuan tingkat kebisingan lingkungan menggunakan sound level meter dilakukan di 2 (dua) lokasi yang merupakan daerah komersial di Kota Bandung, yaitu Jalan Cihampelas (Ciwalk) dan Jalan Sukajadi (PVJ). Berdasarkan data yang diperoleh tingkat kebisingan paling tinggi terjadi di PVJ pada saat akhir pekan yaitu sebesar 69,8 dBA. Tingkat kebisingan terendah terjadi di Ciwalk pada saat hari kerja, yaitu sebesar 68,4 dBA. Nilai ini tidak melebihi baku kebisingan berdasarkan KEPMENLH No. 48 Tahun 1996 untuk daerah perdagangan dan jasa yaitu sebesar 70 dBA.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"NS28 10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134448623","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-03-04DOI: 10.23969/JCBEEM.V2I2.1457
Evi Afiatun, Sri Wahyuni, Styvani Merinda
Cikapundung merupakan salah satu sungai yang digunakan oleh PDAM Kota Bandung sebagai sumber air baku. Penurunan kualitas air yang terjadi di Sungai Cikapundung merupakan salah satu alasan mengapa perlu untuk mengevaluasi kinerja Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Dago Pakar . Tingginya tingkat pencemaran pada sumber air baku ini disebabkan oleh masih banyaknya warga masyarakat yang membuang sampah dan kotoran hewan ternak ke sungai juga erosi. Dengan kondisi tersebut IPAM Dago Pakar mencoba untuk mengolah air baku ini agar dapat menghasilkan air bersih yang layak dikonsumsi oleh masyarakat dan sesuai dengan standar yang berlaku yaitu Peraturan Menteri 492/MENKES/PER/IV/2010. Metoda penelitian dilakukan dengan cara menghitung rata-rata debit dari BBWS dan IPAM Dago Pakar, mengevaluasi kinerja IPAM berdasarkan evaluasi pada air hasil olahan yang dihasilkan serta evaluasi terhadap kriteria desain bangunan unit pengolahan. Berdasarkan observasi dan studi pustaka, dapat disimpulkan antara lain IPAM Dago Pakar memiliki satu (1) seri pengolahan air lengkap, yang terdiri dari intake, pra-sedimentasi, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksidan reservoir, (2) total kapasitas IPAM Dago Pakar adalah sebesar 600 L/detik, (3) pada musim penghujan, proses backwash bisa dilakukan hingga 3-5× 1 hari/unit untuk itu disarankan pihak PDAM membangun sebuah bak penampungan air hasil backwash agar dapat dipompakan kembali ke unit koagulasi untuk diolah kembali, (4) berdasarkan pengamatan dan data yang diperoleh, sumber air baku (sungai Cikapundung, Bantar Awi) masih memenuhi standar kualitas air baku untuk air minum, Peraturan Pemerintah No. 82, 2001 meskipun terdapat beberapa parameter yang terkadang tidak memenuhi baku mutu salah satunya adalah residu tersuspensi, namun setelah melewati proses pengolahan air yang diproduksi sudah memenuhi baku mutu, (5) berdasarkan kesesuaian pada criteria desain, maka bak prasedimentasi membutuhkan penambahan waktu detensi dan pelebaran agar kinerja unit prasedimentasi ini bisa lebih dioptimalkan dalam mengatasi fluktuasi ke keruhan air baku pada saat musim penghujan.
{"title":"STRATEGI OPTIMASI PEMANFAATAN SUMBER AIR BANTAR AWI SUNGAI CIKAPUNDUNG TERHADAP INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM DAGO PAKAR","authors":"Evi Afiatun, Sri Wahyuni, Styvani Merinda","doi":"10.23969/JCBEEM.V2I2.1457","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V2I2.1457","url":null,"abstract":"Cikapundung merupakan salah satu sungai yang digunakan oleh PDAM Kota Bandung sebagai sumber air baku. Penurunan kualitas air yang terjadi di Sungai Cikapundung merupakan salah satu alasan mengapa perlu untuk mengevaluasi kinerja Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Dago Pakar . Tingginya tingkat pencemaran pada sumber air baku ini disebabkan oleh masih banyaknya warga masyarakat yang membuang sampah dan kotoran hewan ternak ke sungai juga erosi. Dengan kondisi tersebut IPAM Dago Pakar mencoba untuk mengolah air baku ini agar dapat menghasilkan air bersih yang layak dikonsumsi oleh masyarakat dan sesuai dengan standar yang berlaku yaitu Peraturan Menteri 492/MENKES/PER/IV/2010. Metoda penelitian dilakukan dengan cara menghitung rata-rata debit dari BBWS dan IPAM Dago Pakar, mengevaluasi kinerja IPAM berdasarkan evaluasi pada air hasil olahan yang dihasilkan serta evaluasi terhadap kriteria desain bangunan unit pengolahan. Berdasarkan observasi dan studi pustaka, dapat disimpulkan antara lain IPAM Dago Pakar memiliki satu (1) seri pengolahan air lengkap, yang terdiri dari intake, pra-sedimentasi, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksidan reservoir, (2) total kapasitas IPAM Dago Pakar adalah sebesar 600 L/detik, (3) pada musim penghujan, proses backwash bisa dilakukan hingga 3-5× 1 hari/unit untuk itu disarankan pihak PDAM membangun sebuah bak penampungan air hasil backwash agar dapat dipompakan kembali ke unit koagulasi untuk diolah kembali, (4) berdasarkan pengamatan dan data yang diperoleh, sumber air baku (sungai Cikapundung, Bantar Awi) masih memenuhi standar kualitas air baku untuk air minum, Peraturan Pemerintah No. 82, 2001 meskipun terdapat beberapa parameter yang terkadang tidak memenuhi baku mutu salah satunya adalah residu tersuspensi, namun setelah melewati proses pengolahan air yang diproduksi sudah memenuhi baku mutu, (5) berdasarkan kesesuaian pada criteria desain, maka bak prasedimentasi membutuhkan penambahan waktu detensi dan pelebaran agar kinerja unit prasedimentasi ini bisa lebih dioptimalkan dalam mengatasi fluktuasi ke keruhan air baku pada saat musim penghujan.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"101 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123193178","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-03-04DOI: 10.23969/JCBEEM.V2I2.1455
Lili Mulyatna, Y. Yustiani, Happy Dhamayantris
Fungsi paru-paru manusia dapat menurun karena terpapar debu. Gangguan fungsi paru-paru umumnya terjadi karena adanya faktor individu dan faktor lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi paru-paru anak di daerah sekitar pabrik batu kapur. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peak Flow Meter sebagai pengukur uji fungsi paru. Selain itu dilakukan pulan pengukuran tinggi badan dan usia anak. Sebagai responden adalah murid-murid Sekolah Dasar Garawangi II, yang bertujuan mengetahui kondisi dan mengetahui faktor-faktor yang terkait dengan fungsi paru di sekitar pabrik batu kapur. Jumlah responden adalah 226 siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dari 226 responden, 14 anak tidak sesuai sebagai responden, 100 (47%) anak yang memiliki kondisi paru-paru normal dan 112 (53%) anak didiagnosis dengan gangguan fungsi paru. Faktor yang terkait dengan hasil ini adalah usia, tinggi dan jenis kelamin. Terdapat faktor lain yang juga diteliti namun secara statistik tidak terhubung yaitu menjadi perokok pasif dan jarak rumah di dekat pabrik.
{"title":"UJI FUNGSI PARU PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI WILAYAH PABRIK BATU KAPUR DI DESA GARAWANGI KABUPATEN MAJALENGKA","authors":"Lili Mulyatna, Y. Yustiani, Happy Dhamayantris","doi":"10.23969/JCBEEM.V2I2.1455","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V2I2.1455","url":null,"abstract":"Fungsi paru-paru manusia dapat menurun karena terpapar debu. Gangguan fungsi paru-paru umumnya terjadi karena adanya faktor individu dan faktor lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi paru-paru anak di daerah sekitar pabrik batu kapur. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peak Flow Meter sebagai pengukur uji fungsi paru. Selain itu dilakukan pulan pengukuran tinggi badan dan usia anak. Sebagai responden adalah murid-murid Sekolah Dasar Garawangi II, yang bertujuan mengetahui kondisi dan mengetahui faktor-faktor yang terkait dengan fungsi paru di sekitar pabrik batu kapur. Jumlah responden adalah 226 siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dari 226 responden, 14 anak tidak sesuai sebagai responden, 100 (47%) anak yang memiliki kondisi paru-paru normal dan 112 (53%) anak didiagnosis dengan gangguan fungsi paru. Faktor yang terkait dengan hasil ini adalah usia, tinggi dan jenis kelamin. Terdapat faktor lain yang juga diteliti namun secara statistik tidak terhubung yaitu menjadi perokok pasif dan jarak rumah di dekat pabrik.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"71 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127165495","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-03-04DOI: 10.23969/JCBEEM.V2I2.1458
Y. Yustiani, Lili Mulyatna, Suwirkas Suwirkas
Sampai saat ini di Indramayu belum memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menerapkan sistem sanitasi yang higienis. Penerapan sistem fasilitas sanitasi yang higienis mutlak diperlukan untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna dan lingkungan sekitarnya.Tempat Pelelangan Ikan Karangsong di Kabupaten Indramayu menempati lahan seluas 4000 m2 dilengkapi dengan beberapa fasilitas pendukung, dilengkapi dengan dermaga yang berfungsi sebagai tempat bersandarnya kapal atau perahu ketika membongkar muatan. Tujuan penelitian in adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan air bersih dan timbulan air buangan di Tempat Pelelangan Ikan Karangsong Kabupaten Indramayu. Identifikasi ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar penentuan konsep penyediaan prasarana agar dapat berjalan secara efisien dan efektif sesuai dengan tingkat pelayanan yang direncanakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif, mengamati dan mengambil data kondisi eksisting serta menentukan alternatif penyediaan fasilitas sanitasi untuk TPI higienis sesuai dengan literatur yang tersedia. Perhitungan menunjukkan bahwa kebutuhan air minum adalah 0,025 liter/detik, dengan fluktuasi 0,04375 liter/detik. Secara total, kebutuhan air bersih untuk TPI ini adalah 1,862 liter/detik. Jumlah air buangan yang ditimbulkan adalah 1,494 liter/detik. Hasil identifikasi karakteristik air buangan menunjukkan bahwa nilai BOD mencapai nilai 836 mg/L, COD sebesar 128 mg/L dan nitrat sebesar 150mg/L. Nilai konsentrasi yang ditunjukkan dari karakteristik limbah TPI menunjukkan perlunya disediakan instalasi pengolahan air limbah dengan efisiensi yang tinggi. Unit utama dalam pengolahan air limbah TPI ini adalah septic tank termodifikasi.
{"title":"IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AIR BERSIH DAN TIMBULAN AIR LIMBAH TEMPAT PELELANGAN IKAN DESA KARANGSONG, KECAMATAN INDRAMAYU, KABUPATEN INDRAMAYU","authors":"Y. Yustiani, Lili Mulyatna, Suwirkas Suwirkas","doi":"10.23969/JCBEEM.V2I2.1458","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V2I2.1458","url":null,"abstract":"Sampai saat ini di Indramayu belum memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menerapkan sistem sanitasi yang higienis. Penerapan sistem fasilitas sanitasi yang higienis mutlak diperlukan untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna dan lingkungan sekitarnya.Tempat Pelelangan Ikan Karangsong di Kabupaten Indramayu menempati lahan seluas 4000 m2 dilengkapi dengan beberapa fasilitas pendukung, dilengkapi dengan dermaga yang berfungsi sebagai tempat bersandarnya kapal atau perahu ketika membongkar muatan. Tujuan penelitian in adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan air bersih dan timbulan air buangan di Tempat Pelelangan Ikan Karangsong Kabupaten Indramayu. Identifikasi ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar penentuan konsep penyediaan prasarana agar dapat berjalan secara efisien dan efektif sesuai dengan tingkat pelayanan yang direncanakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif, mengamati dan mengambil data kondisi eksisting serta menentukan alternatif penyediaan fasilitas sanitasi untuk TPI higienis sesuai dengan literatur yang tersedia. Perhitungan menunjukkan bahwa kebutuhan air minum adalah 0,025 liter/detik, dengan fluktuasi 0,04375 liter/detik. Secara total, kebutuhan air bersih untuk TPI ini adalah 1,862 liter/detik. Jumlah air buangan yang ditimbulkan adalah 1,494 liter/detik. Hasil identifikasi karakteristik air buangan menunjukkan bahwa nilai BOD mencapai nilai 836 mg/L, COD sebesar 128 mg/L dan nitrat sebesar 150mg/L. Nilai konsentrasi yang ditunjukkan dari karakteristik limbah TPI menunjukkan perlunya disediakan instalasi pengolahan air limbah dengan efisiensi yang tinggi. Unit utama dalam pengolahan air limbah TPI ini adalah septic tank termodifikasi.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"15 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127049727","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-03-04DOI: 10.23969/JCBEEM.V2I2.1456
S. Wahyuni, Lili Mulyatna, Linda Qomariyah
Desa Purworejo sebagai desa nelayan yang memiliki sarana pengolahan air limbah domestik minim. Permasalahan ini diperparah dengan kebiasaan sebagian besar penduduknya melakukan kegiatan buang air besar sembarangan. Hal ini, menunjukkan rendahnya pola hidup sehat dan bersih pada masyarakat.Perencanaan ini berguna untuk meningkatkan akses dan memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap sarana pengolahan air limbah domestik di wilayah pesisir. Data primer yang dikumpulkan dengan survey dan penyebaran kuisioner digunakan untuk bahan pertimbangan pemilihan teknologi yang akan diterapkan.Teknologi yang dipilih untuk pengolahan air limbah adalah Tripikon-S diterapkan pada masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan bibir pantai sebanyak 224 unit, tangki septik komunal untuk daerah yang berjauhan dari bibir pantai dan sebagian besar memiliki jamban sendiri sebanyak 147 unit, sedangkan untuk Mandi Cuci Kakus (MCK) ++ (ruang mandi 4 unit, ruang cuci 2 unit, ruang kakus 4 unit) dengan 2 unit Anaerobic Baffled Reactor untuk daerah yang tidak memiliki prasarana MCK, jarak tempat tinggal masyarakat yang berdekatan, dan luas lahan rumah yang relatif sangat kecil.
{"title":"PERENCANAAN SARANA PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK BERBASIS MASYARAKAT DI DAERAH PESISIR (STUDI KASUS : DESA PURWOREJO, KECAMATAN BONANG, KABUPATEN DEMAK)","authors":"S. Wahyuni, Lili Mulyatna, Linda Qomariyah","doi":"10.23969/JCBEEM.V2I2.1456","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V2I2.1456","url":null,"abstract":"Desa Purworejo sebagai desa nelayan yang memiliki sarana pengolahan air limbah domestik minim. Permasalahan ini diperparah dengan kebiasaan sebagian besar penduduknya melakukan kegiatan buang air besar sembarangan. Hal ini, menunjukkan rendahnya pola hidup sehat dan bersih pada masyarakat.Perencanaan ini berguna untuk meningkatkan akses dan memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap sarana pengolahan air limbah domestik di wilayah pesisir. Data primer yang dikumpulkan dengan survey dan penyebaran kuisioner digunakan untuk bahan pertimbangan pemilihan teknologi yang akan diterapkan.Teknologi yang dipilih untuk pengolahan air limbah adalah Tripikon-S diterapkan pada masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan bibir pantai sebanyak 224 unit, tangki septik komunal untuk daerah yang berjauhan dari bibir pantai dan sebagian besar memiliki jamban sendiri sebanyak 147 unit, sedangkan untuk Mandi Cuci Kakus (MCK) ++ (ruang mandi 4 unit, ruang cuci 2 unit, ruang kakus 4 unit) dengan 2 unit Anaerobic Baffled Reactor untuk daerah yang tidak memiliki prasarana MCK, jarak tempat tinggal masyarakat yang berdekatan, dan luas lahan rumah yang relatif sangat kecil.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128135848","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-03-04DOI: 10.23969/JCBEEM.V2I2.1459
Hary Pradiko, Y. Yustiani, Santika Santika
Sungai Citepus merupakan sungai yang mengalir melalui daerah Barat kota Bandung dengan berbagai kegiatan masyarakatnya, antara lain permukiman padat/ kegiatan penduduk sehari-hari seperti MCK, home industri atau industri kecil, sehingga sungai Citepus juga merupakan tempat yang potensi untuk pembuangan air limbah dari kegiatan tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kualitas air sungai, berdasarkan kualitas indikator pencemaran di Sungai Citepus yang telah dilakukan pada musim hujan. Pengambilan sampel air dilakukan secara sesaat/grab, pengambilan sampel dilakukan di 5 titik pengamatan dimulai di daerah hulu (jl.Dr.Setiabudhi) sampai hilir (Jl.Caringin).Tingkat pencemaran air sungai ditentukan berdasarkan parameter kualitas air BOD dan DO. Persamaan yang digunakan adalah Teori Streeter – Phelps. Dari hasil perhitungan diperoleh bagian hulu sungai kadar BOD-nya antara 6,8 – 7,2 mg/l dan kadar DO 8,4 mg/l. dan dibagian hilir sungai kadar BOD-nya antara 7,0 – 7,5 mg/l dan kadar DO 0,5 – 0,9 mg/l. Berdasarkan hasil diatas maka kondisi sungai dibadian hulu kadar BOD di daerah ini telah melebihi ambang batas (tercemar), tetapi nilai DO sesuai dengan ambang batas, begitu juga dengan bagian hilir sungai nilai BOD telah melewati ambang batas (tercemar) dan kadar DO dibawah ambang batas, menurut SK Gubernur Jawa Barat N0.39 Tahun 2001 yaitu nilai BOD sebesar 6 mg/l dan DO sebesar >3 mg/l.
{"title":"KAJIAN BEBAN PENCEMARAN LIMBAH CAIR DENGAN PARAMETER BOD DAN DO DARI AREA PERMUKIMAN DI SUNGAI CITEPUS","authors":"Hary Pradiko, Y. Yustiani, Santika Santika","doi":"10.23969/JCBEEM.V2I2.1459","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V2I2.1459","url":null,"abstract":"Sungai Citepus merupakan sungai yang mengalir melalui daerah Barat kota Bandung dengan berbagai kegiatan masyarakatnya, antara lain permukiman padat/ kegiatan penduduk sehari-hari seperti MCK, home industri atau industri kecil, sehingga sungai Citepus juga merupakan tempat yang potensi untuk pembuangan air limbah dari kegiatan tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kualitas air sungai, berdasarkan kualitas indikator pencemaran di Sungai Citepus yang telah dilakukan pada musim hujan. Pengambilan sampel air dilakukan secara sesaat/grab, pengambilan sampel dilakukan di 5 titik pengamatan dimulai di daerah hulu (jl.Dr.Setiabudhi) sampai hilir (Jl.Caringin).Tingkat pencemaran air sungai ditentukan berdasarkan parameter kualitas air BOD dan DO. Persamaan yang digunakan adalah Teori Streeter – Phelps. Dari hasil perhitungan diperoleh bagian hulu sungai kadar BOD-nya antara 6,8 – 7,2 mg/l dan kadar DO 8,4 mg/l. dan dibagian hilir sungai kadar BOD-nya antara 7,0 – 7,5 mg/l dan kadar DO 0,5 – 0,9 mg/l. Berdasarkan hasil diatas maka kondisi sungai dibadian hulu kadar BOD di daerah ini telah melebihi ambang batas (tercemar), tetapi nilai DO sesuai dengan ambang batas, begitu juga dengan bagian hilir sungai nilai BOD telah melewati ambang batas (tercemar) dan kadar DO dibawah ambang batas, menurut SK Gubernur Jawa Barat N0.39 Tahun 2001 yaitu nilai BOD sebesar 6 mg/l dan DO sebesar >3 mg/l.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"76 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126174524","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-06DOI: 10.23969/JCBEEM.V1I1.1367
Y. Yustiani, Astri Widiastuti Hasbiah, Rusli Fuad
Sebagian penduduk Desa Sukajaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat menggunakan sumur gali sebagai sarana sumber air bersih yaitu sumur gali. Lokasi sumur tersebut yang berdekatan dengan sumber pencemaran yaitu peternakan sapi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi poteni pencemaran air sumur akibat kegiatan peternakan sapi tersebut dilihat dari parameter Coliform. Variabel yang diteliti pengaruhnya adalah kondisi fisik sumur dan jarak peternakan sapi terhadap sumur. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain cross sectional. Populasi 41 sumur gali dan sampel 24 sumur gali. Hypotesis ada hubungan jarak peternakan sapi dengan keadaan fisik sarana sumur gali (dinding, bibir, lantai dan penutup sumur terhadap kandungan bakteri coliform air sumur gali). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling pada suatu pertimbangan dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 24 sumur gali diobservasi jarak terhadap sumber pencemar (peternakan sapi) ≥ 15 m yang tidak memenuhi syarat 100 % dan terhadap parameter keadaan fisik yaitu dinding sumur kedap air 3 m tidak memenuhi syarat100 %, ketinggian bibir sumur ≥ 70 - 75 cm tidak memenuhi syarat 70,83%, lantai sumur gali kedap air radius ≥ 1 m tidak memenuhi syarat 74,17% dan penutup sumur gali kedap air yang tidak memenuhi syarat 54,17% serta kandungan coliform air sumur gali tidak memenuhi syarat 100% (Standar non perpipaan dan perpipaan 0 MPN/100 ml). Berdasarkan analisis pengukuran dan observasi di lapangan secara signifikan ada hubungan jarak sumur gali dengan peternakan sapi, keadaan fisik dinding sumur gali, keadan fisik bibir sumur gali, keadaan fisik lantai, dan keadaan fisik penutup yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan kontaminasi bakteri coliform pada air sumur gali.
万隆西部Sukajaya地区的一些村民使用挖井作为挖井的清洁水源。水井的位置靠近养牛场。本研究的目的是从相关参数来确定水井污染的可能性。研究其影响的变量是水井的物理状况和养牛场与水井的距离。这项研究是通过交叉设计观察性的。41个挖井井和24个挖井样本。消化道与养牛场的距离与挖井设备的身体状况有关(墙体、嘴唇、地板和井盖对开井水的结合性结合性)。采用的抽样技术是考虑包容性和风险的抽样技术。24挖井的研究结果显示,观察距离对污染物的源头(养牛场)≥15 m 100%不合格和参数的身体状况就是3米深水井防水墙不符合syarat100 %,井口高度≥70 - 75厘米(不合格70,83%,井挖一层防水≥半径1米(3英尺)不合格74,17%和防水盖挖井的coliform含量不合格54,17%和井水挖100%不合格标准(非管道和管道0 MPN / 100毫升)。根据实地测量和观察,从挖井到养牛,挖井壁的物理状态、挖井的嘴唇的物理状态、地板的物理状态和盖井不合格的身体状况会导致挖井水的细菌污染。
{"title":"PENGARUH KONDISI FISIK DAN JARAK SUMUR GALI DENGAN PETERNAKAN SAPI TERHADAP KANDUNGAN BAKTERI COLIFORM AIR SUMUR GALI DI DESA SUKAJAYA KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT","authors":"Y. Yustiani, Astri Widiastuti Hasbiah, Rusli Fuad","doi":"10.23969/JCBEEM.V1I1.1367","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V1I1.1367","url":null,"abstract":"Sebagian penduduk Desa Sukajaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat menggunakan sumur gali sebagai sarana sumber air bersih yaitu sumur gali. Lokasi sumur tersebut yang berdekatan dengan sumber pencemaran yaitu peternakan sapi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi poteni pencemaran air sumur akibat kegiatan peternakan sapi tersebut dilihat dari parameter Coliform. Variabel yang diteliti pengaruhnya adalah kondisi fisik sumur dan jarak peternakan sapi terhadap sumur. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain cross sectional. Populasi 41 sumur gali dan sampel 24 sumur gali. Hypotesis ada hubungan jarak peternakan sapi dengan keadaan fisik sarana sumur gali (dinding, bibir, lantai dan penutup sumur terhadap kandungan bakteri coliform air sumur gali). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling pada suatu pertimbangan dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 24 sumur gali diobservasi jarak terhadap sumber pencemar (peternakan sapi) ≥ 15 m yang tidak memenuhi syarat 100 % dan terhadap parameter keadaan fisik yaitu dinding sumur kedap air 3 m tidak memenuhi syarat100 %, ketinggian bibir sumur ≥ 70 - 75 cm tidak memenuhi syarat 70,83%, lantai sumur gali kedap air radius ≥ 1 m tidak memenuhi syarat 74,17% dan penutup sumur gali kedap air yang tidak memenuhi syarat 54,17% serta kandungan coliform air sumur gali tidak memenuhi syarat 100% (Standar non perpipaan dan perpipaan 0 MPN/100 ml). Berdasarkan analisis pengukuran dan observasi di lapangan secara signifikan ada hubungan jarak sumur gali dengan peternakan sapi, keadaan fisik dinding sumur gali, keadan fisik bibir sumur gali, keadaan fisik lantai, dan keadaan fisik penutup yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan kontaminasi bakteri coliform pada air sumur gali.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"35 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130480688","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-06DOI: 10.23969/JCBEEM.V1I1.1363
Lili Mulyatna, Ds Deni Rusmaya, Deri Baehakhi
Kebisingan di lingkungan rumah sakit merupakan suatu permasalahan yang cukup serius dan harus diperhatikan. Sesuai dengan fungsinya rumah sakit merupakan tempat untuk merawat orang yang sakit, maka lingkungan rumah sakit sangat membutuhkan suasana yang tenang, nyaman dan terbebas dari kebisingan. Usaha untuk menanggulangi kebisingan di rumah sakit dapat dilakukan dengan cara penanggulangan kebisingan pada sumbernya, jejak perambatannya serta pada penerimanya. Untuk mengetahui unsur-unsur tersebut maka dilakukan penelitian ini agar dapat mengetahui tingkat kenyamanan para pekerja maupun pasien berdasarkan kualitas tingkat kebisingan rumah sakit. Salah satu upaya untuk mengetahui tingkat kenyamanannya yang dilakukan adalah membuat kuisioner yang ditujukan kepada pasien, dokter, perawat serta karyawan. Dipilih tiga rumah sakit yaitu RSUP Hasan Sadikin, Rumah Sakit Advent Bandung dan Rumah Sakit Santo Yusup karena ketiga rumah sakit tersebut berdekatan dengan jalan raya, pasar dan pusat perbelanjaan lainnya. Hasil kuisioner menunjukan bahwa 53,84% responden di Rumah Sakit Hasan Sadikin, 46,15% responden di RumahSakit Advent Bandung dan 66,67% responden di Rumah Sakit Santo Yusup merasakan kebisingan. Sumber bising yang paling besar dari RSHS dan RS Santo Yusup yaitu percakapan, sedangkan di RSAB sumber bising yang paling besar itu dari kendaraan bermotor karena dekat sekali dengan jalan raya. Di setiap Rumah Sakit didapat data berdasarkan responden bahwa kebisingan yang berlangsung tidak terjadi secara terus menerus dan ada pada saat-saat tertentu terutama pada jam besuk pasien. Dari persepsi para responden di ketiga rumah sakit tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang berada di rumah sakit baik itu dokter, perawat, karyawan maupun pasien mereka masih merasakan kebisingan, namun kebisingan tersebut terjadi pada saat-saat tertentu seperti pada saat jam besuk jadi intensitas kebisingannya tidak terus-menerus
医院里的噪音是一个需要注意的严重问题。医院在功能上是照顾病人的地方,所以医院的环境迫切需要一个安静、舒适、没有噪音的环境。处理医院噪音的努力可以通过处理噪音的源头、侵蚀的足迹和接收者的方式来实现。为了了解这些元素,本研究将根据医院噪音的质量来了解工人和病人的舒适程度。确定舒适程度的一种尝试是对病人、医生、护士和员工做调查问卷。选择了三家医院,分别是RSUP Hasan Sadikin, crist wilt万隆医院和st Yusup医院,因为这三家医院靠近高速公路、市场和其他购物中心。调查结果显示,哈桑萨德金医院的53.84%的受访者、46.15%的受访者和圣尤苏特医院的66.67%的受访者感到噪音。RSHS和圣优素汤医院最大的噪音来源是对话,而RSAB最大的噪音来自机动车,因为它离高速公路很近。根据调查人员的数据,每家医院的噪音不是连续发生的,而是在探视时间的特定时间发生的。从这三家医院的受访者的看法来看,医院里的每一个人,无论是医生、护士、雇员还是病人,都能感受到噪音,但这种噪音发生在探视时间这样的特定时刻,所以噪音的强度不会持续
{"title":"HUBUNGAN KEBISINGAN DENGAN PERSEPSI MASYARAKAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT KELAS A, KELAS B DAN KELAS C KOTA BANDUNG","authors":"Lili Mulyatna, Ds Deni Rusmaya, Deri Baehakhi","doi":"10.23969/JCBEEM.V1I1.1363","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V1I1.1363","url":null,"abstract":"Kebisingan di lingkungan rumah sakit merupakan suatu permasalahan yang cukup serius dan harus diperhatikan. Sesuai dengan fungsinya rumah sakit merupakan tempat untuk merawat orang yang sakit, maka lingkungan rumah sakit sangat membutuhkan suasana yang tenang, nyaman dan terbebas dari kebisingan. Usaha untuk menanggulangi kebisingan di rumah sakit dapat dilakukan dengan cara penanggulangan kebisingan pada sumbernya, jejak perambatannya serta pada penerimanya. Untuk mengetahui unsur-unsur tersebut maka dilakukan penelitian ini agar dapat mengetahui tingkat kenyamanan para pekerja maupun pasien berdasarkan kualitas tingkat kebisingan rumah sakit. Salah satu upaya untuk mengetahui tingkat kenyamanannya yang dilakukan adalah membuat kuisioner yang ditujukan kepada pasien, dokter, perawat serta karyawan. Dipilih tiga rumah sakit yaitu RSUP Hasan Sadikin, Rumah Sakit Advent Bandung dan Rumah Sakit Santo Yusup karena ketiga rumah sakit tersebut berdekatan dengan jalan raya, pasar dan pusat perbelanjaan lainnya. Hasil kuisioner menunjukan bahwa 53,84% responden di Rumah Sakit Hasan Sadikin, 46,15% responden di RumahSakit Advent Bandung dan 66,67% responden di Rumah Sakit Santo Yusup merasakan kebisingan. Sumber bising yang paling besar dari RSHS dan RS Santo Yusup yaitu percakapan, sedangkan di RSAB sumber bising yang paling besar itu dari kendaraan bermotor karena dekat sekali dengan jalan raya. Di setiap Rumah Sakit didapat data berdasarkan responden bahwa kebisingan yang berlangsung tidak terjadi secara terus menerus dan ada pada saat-saat tertentu terutama pada jam besuk pasien. Dari persepsi para responden di ketiga rumah sakit tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang berada di rumah sakit baik itu dokter, perawat, karyawan maupun pasien mereka masih merasakan kebisingan, namun kebisingan tersebut terjadi pada saat-saat tertentu seperti pada saat jam besuk jadi intensitas kebisingannya tidak terus-menerus","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"101 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123127321","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}