Pub Date : 2019-02-06DOI: 10.23969/JCBEEM.V1I1.1365
Lili Mulyatna, Hary Pradiko, Diki Abdurahman
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja Program SANIMAS di Kabupaten Seluma dengan meninjau aspek teknis, pemanfaatan, keuangan, dan pengelolaan. Evaluasi dilakukan dengan cara pembobotan dan skoring. Pembobotan dan skoring dilakukan dengan menetapkan parameter evaluasi. Kemudian dinilai untuk masing-masing aspek sehingga didapat angka yang mewakili fasilitas sanitasi pada tiap lokasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa untuk aspek teknis: sumber air tidak kontinu, kran air, bak air, lantai, dan pintu kamar mandi rusak; aspek pemanfaatan: 8 bangunan MCK+ dalam keadaan tidak terawat dan rusak, jumlah pengguna tidak mencapai target yang telah direncanakan, limbah yang dihasilkan belum termanfaatkan; aspek kelembagaan: pengelolaan tidak dilakukan dengan baik oleh KSM dan masyarakat setempat, KSM tidak aktif, tidak ada monitoring dari tenaga fasilitator terhadap KSM yang sudah terbentuk sehingga informasi yang didapatkan dari hasil pelatihan tidak diaplikasikan; aspek keuangan :tidak ada pembukuan dan laporan keuangan, penarikan iuran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dari hasil penilaian untuk Desa Kuti Agung, Desa Pasar Seluma, Desa Tanjungan dan Desa Talangsali mendapatkan nilai terkecil yaitu 1 dengan kategori E (sangat buruk). Untuk Desa Taba Lubuk Puding mendapatkan nilai tertinggi yaitu 3,2 termasuk dalam kategori B (baik). Sedangkan untuk desa yang lain dengan total nilai antara 1,92-2,64 termasuk dalam kategori C dan D. Untuk memperbaiki kinerja.
本研究旨在通过技术、利用、财务和管理方面来评估赛马区桑蒂姆斯项目的表现。评估是通过逃课和分数进行的。逃课和分数是通过建立评估参数来进行的。然后对每个方面进行评估,这样就可以获得代表每个地方卫生设施的数据。评估结果表明,技术方面:不是连续的水源、自来水、浴缸、地板和浴室门都被损坏了;利用方面:8构建MCK+建筑未维护和损坏,用户数量未达到计划目标,产生的废物未被利用;管理体制方面:由KSM和当地社区不做得好,KSM的监测不活跃,没有精力,使主持人的KSM已经形成的训练结果不申请信息;财务方面:没有簿记和财务报表,欠款没有正常运行。通过对大Kuti村、市场村庄sama、tanyat村和Talangsali村的评估,E级最高可达1级。对于Taba village puddin获得最高分数为3.2属于B (ok)类别。至于其他村庄的总成绩在1,92-2,64之间属于C和D的类别,用于提高性能。
{"title":"EVALUASI KINERJA PROGRAM SANITASI BERBASIS MASYARAKAT (SANIMAS) DALAM SEKTOR AIR LIMBAH","authors":"Lili Mulyatna, Hary Pradiko, Diki Abdurahman","doi":"10.23969/JCBEEM.V1I1.1365","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V1I1.1365","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja Program SANIMAS di Kabupaten Seluma dengan meninjau aspek teknis, pemanfaatan, keuangan, dan pengelolaan. Evaluasi dilakukan dengan cara pembobotan dan skoring. Pembobotan dan skoring dilakukan dengan menetapkan parameter evaluasi. Kemudian dinilai untuk masing-masing aspek sehingga didapat angka yang mewakili fasilitas sanitasi pada tiap lokasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa untuk aspek teknis: sumber air tidak kontinu, kran air, bak air, lantai, dan pintu kamar mandi rusak; aspek pemanfaatan: 8 bangunan MCK+ dalam keadaan tidak terawat dan rusak, jumlah pengguna tidak mencapai target yang telah direncanakan, limbah yang dihasilkan belum termanfaatkan; aspek kelembagaan: pengelolaan tidak dilakukan dengan baik oleh KSM dan masyarakat setempat, KSM tidak aktif, tidak ada monitoring dari tenaga fasilitator terhadap KSM yang sudah terbentuk sehingga informasi yang didapatkan dari hasil pelatihan tidak diaplikasikan; aspek keuangan :tidak ada pembukuan dan laporan keuangan, penarikan iuran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dari hasil penilaian untuk Desa Kuti Agung, Desa Pasar Seluma, Desa Tanjungan dan Desa Talangsali mendapatkan nilai terkecil yaitu 1 dengan kategori E (sangat buruk). Untuk Desa Taba Lubuk Puding mendapatkan nilai tertinggi yaitu 3,2 termasuk dalam kategori B (baik). Sedangkan untuk desa yang lain dengan total nilai antara 1,92-2,64 termasuk dalam kategori C dan D. Untuk memperbaiki kinerja.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"47 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122661696","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-06DOI: 10.23969/jcbeem.v1i1.1366
Y. Yustiani, E. Emilia, A. Permana
Kajian ini bertujuan untuk menilai secara ekonomi karakteristik Taman Hutan Gunung Tangkuban Perahu sebagai objek wisata. Metode yang digunakan pada studi ini adalah menggunakan pendekatan Travel Cost Method atau yang dikenal dengan Metode Biaya Perjalanan, yang prinsipnya menggunakan biaya perjalanan untuk menghitung nilai permintaan rekreasi suatu sumber daya alam yang tidak memiliki harga pasar. Kajian ini menghasilkan suatu persamaan yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi pendapatan rata-rata per kapita, maka permintaan rekreasi juga akan semakin besar serta semakin tinggi biaya perjalanan akan menyebabkan berkurangnya jumlah pemintaan. Berdasarkan analisis kurva permintaan diperoleh indikasi bahwa pada tingkat harga tiket sebesar Rp 5000 maka diperoleh penerimaan sebesar Rp 59.511.050,00. Penerimaan akan mencapai optimum pada harga tiket sebesar Rp 8.000 yakni sebesar Rp 69.416.080,00 dengan tidak mengabaikan fungsi sosial dan pendidikan harga tiket yang masuk sebenarnya bisa di tetapkan tidak setinggi dimana penerimaan mencapai optimum sehingga kawasan hutan wisata dapat berjalan dengan selaras dengan berbagai golongan masyarakat.
{"title":"KAJIAN VALUASI EKONOMI WANA WISATA TAMAN HUTAN BERDASARKAN PENDAPAT MASYARAKAT PENGUNJUNG","authors":"Y. Yustiani, E. Emilia, A. Permana","doi":"10.23969/jcbeem.v1i1.1366","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/jcbeem.v1i1.1366","url":null,"abstract":"Kajian ini bertujuan untuk menilai secara ekonomi karakteristik Taman Hutan Gunung Tangkuban Perahu sebagai objek wisata. Metode yang digunakan pada studi ini adalah menggunakan pendekatan Travel Cost Method atau yang dikenal dengan Metode Biaya Perjalanan, yang prinsipnya menggunakan biaya perjalanan untuk menghitung nilai permintaan rekreasi suatu sumber daya alam yang tidak memiliki harga pasar. Kajian ini menghasilkan suatu persamaan yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi pendapatan rata-rata per kapita, maka permintaan rekreasi juga akan semakin besar serta semakin tinggi biaya perjalanan akan menyebabkan berkurangnya jumlah pemintaan. Berdasarkan analisis kurva permintaan diperoleh indikasi bahwa pada tingkat harga tiket sebesar Rp 5000 maka diperoleh penerimaan sebesar Rp 59.511.050,00. Penerimaan akan mencapai optimum pada harga tiket sebesar Rp 8.000 yakni sebesar Rp 69.416.080,00 dengan tidak mengabaikan fungsi sosial dan pendidikan harga tiket yang masuk sebenarnya bisa di tetapkan tidak setinggi dimana penerimaan mencapai optimum sehingga kawasan hutan wisata dapat berjalan dengan selaras dengan berbagai golongan masyarakat.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"22 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130528774","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-02-06DOI: 10.23969/JCBEEM.V1I1.1364
Lili Mulyatna, Anni Rochaeni, Eldiansyah Thariq
Sampah merupakan hasil sampingan dari berbagai aktifitas dalam kehidupan manusia ataupun sebagai hasil dari suatu proses alamiah yang dapat menimbulkan berbagai pencemaran terhadap lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran air tanah disekitar wilayah TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Sarimukti dan melihat indikasi pencemaran di TPA Sarimukti dan pengaruhnya bagi lingkungan di sekitarnya. Pengujian dilakukan terhadap mata air yang lokasinya berdekatan dengan TPA. Tindakan ini diambil untuk melihat kemungkinan adanya pencemaran air oleh lindi. Pengelola TPA berupaya untuk mengencerkan lindi melalui sungai. Pada TPA Sarimukti limbah lindi dibuang ke anak sungai dan dilakukan 2 kali pengenceran yaitu dari Sungai Cipanauwan dan Sungai Cilimus Hasil uji laboratorium dapat terlihat bahwa pengenceran yang dilakukan efektif, karena hasil pemeriksaan sampel dimana pada saat pencampuran Sungai Cipanauwan dan lindi mengalami peningkatan yang sangat tinggi tetapi dengan 2 kali pengenceran terjadi penurunan yang drastis, hal ini dimungkinkan akibat dari proses pemulihan alami. Telah terkontaminasinya sungai di dekat wilayah TPA akibat dari proses pengenceran air lindi. Pencemaran yang terjadi di Sungai Cipanauwan akibat terjadinya pengenceran dan penyaluran air lindi ke anak sungai disekitar TPA. Belum terjadi pencemaran air tanah terhadap sumber air tanah yang digunakan warga akibat aktifitas TPA Sarimukti. Aktifitas warga juga mempengaruhi tingkat coliform yang berada diatas standar dan hal ini dapat dimaklumi karena Kep Men Kes RI No. 907/Menkes/SK/VII/2002 adalah untuk kualitas air minum, tingkat coliform dapat dikurangi dengan memasak air terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
{"title":"PERSEPSI DAN PENDAPAT MASYARAKAT MENGENAI DAMPAK OPERASIONAL TPA SARIMUKI TERHADAP LINGKUNGAN PERAIRAN SEKITAR","authors":"Lili Mulyatna, Anni Rochaeni, Eldiansyah Thariq","doi":"10.23969/JCBEEM.V1I1.1364","DOIUrl":"https://doi.org/10.23969/JCBEEM.V1I1.1364","url":null,"abstract":"Sampah merupakan hasil sampingan dari berbagai aktifitas dalam kehidupan manusia ataupun sebagai hasil dari suatu proses alamiah yang dapat menimbulkan berbagai pencemaran terhadap lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran air tanah disekitar wilayah TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Sarimukti dan melihat indikasi pencemaran di TPA Sarimukti dan pengaruhnya bagi lingkungan di sekitarnya. Pengujian dilakukan terhadap mata air yang lokasinya berdekatan dengan TPA. Tindakan ini diambil untuk melihat kemungkinan adanya pencemaran air oleh lindi. Pengelola TPA berupaya untuk mengencerkan lindi melalui sungai. Pada TPA Sarimukti limbah lindi dibuang ke anak sungai dan dilakukan 2 kali pengenceran yaitu dari Sungai Cipanauwan dan Sungai Cilimus Hasil uji laboratorium dapat terlihat bahwa pengenceran yang dilakukan efektif, karena hasil pemeriksaan sampel dimana pada saat pencampuran Sungai Cipanauwan dan lindi mengalami peningkatan yang sangat tinggi tetapi dengan 2 kali pengenceran terjadi penurunan yang drastis, hal ini dimungkinkan akibat dari proses pemulihan alami. Telah terkontaminasinya sungai di dekat wilayah TPA akibat dari proses pengenceran air lindi. Pencemaran yang terjadi di Sungai Cipanauwan akibat terjadinya pengenceran dan penyaluran air lindi ke anak sungai disekitar TPA. Belum terjadi pencemaran air tanah terhadap sumber air tanah yang digunakan warga akibat aktifitas TPA Sarimukti. Aktifitas warga juga mempengaruhi tingkat coliform yang berada diatas standar dan hal ini dapat dimaklumi karena Kep Men Kes RI No. 907/Menkes/SK/VII/2002 adalah untuk kualitas air minum, tingkat coliform dapat dikurangi dengan memasak air terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.","PeriodicalId":236852,"journal":{"name":"Journal of Community Based Environmental Engineering and Management","volume":"20 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-02-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127161517","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}