首页 > 最新文献

Buletin Kebun Raya最新文献

英文 中文
MUSIM BERBUNGA DAN BERBUAH JENIS-JENIS TANAMAN KOLEKSI SUKU ANNONACEAE DI KEBUN RAYA BOGOR 在茂物植物园,ANNONACEAE部落收集植物的季节开花结果
Pub Date : 2017-05-03 DOI: 10.14203/BKR.V19I2.137
Tri Handayani
Anggota suku Annonaceae mempunyai potensi sebagai tanaman hias, tanaman pinggir jalan, bahan kosmetik dan parfum, obat tradisional serta insektisida. Untuk mengetahui potensi dan karakter pembungaan dan pembuahannya, maka diperlukan informasi tentang waktu berbunga dan berbuah suku Annonaceae.  Sebanyak 40 jenis tanaman suku Annonaceae koleksi Kebun Raya Bogor telah diamati waktu berbunga dan berbuahnya selama tahun 2012-2014. Parameter yang diamati meliputi waktu berbunga dan berbuah, tipe pembungaan, pola pembungaan, pola pembuahan, kalender berbunga dan berbuah serta potensinya. Jumlah jenis yang berbunga dan berbuah setiap bulan mengalami fluktuasi, dimana jumlah jenis yang berbunga berkisar 29-35, sedangkan yang berbuah berkisar 21-28 jenis. Puncak pembungaan terjadi pada bulan Oktober-November, sebanyak 35 jenis berbunga. Puncak pembuahan terjadi pada bulan Desember, sebanyak 28 jenis berbuah. Tanaman yang berbunga melalui fase semi ada 16 jenis dan tanpa fase semi ada 24 jenis. Pola pembungaan ada yang 1 kali, 2 kali, 3 kali, 4 kali dan berbunga terus menerus. Pola pembuahan ada yang 2 kali, 3 kali, 4 kali, berbuah terus menerus dan tidak pernah berbuah. Terdapat 19 jenis yang berpotensi sebagai tanaman hias, 7 jenis untuk kosmetik dan parfum, 10 jenis untuk obat tradisional dan 1 jenis untuk insektisida.
Annonaceae部落的成员有可能是室内植物、路边植物、化妆品和香水、传统药物和杀虫剂。了解它们的开花和结果的潜力和特性,因此需要关于Annonaceae部落开花和开花时间的信息。2011 -2014年,在茂物植物园的花卉和水果收藏中,共有40种不同种类的Annonaceae植物被观察到。所观察到的参数包括开花和结果子的时间、开花类型、花序模式、受精模式、花期日历、结果子和潜力。开花和结果子的种类在每个月的波动中,开花的种类总数约为29-35,结果的种类约为21-28种。开花高峰发生在10月到11月之间,共有35种开花。受孕的最高时间是12月,有28种结果。在春天开花的植物有16种,没有春天就有24种。开花模式有1次,2次,3次,4次,持续开花。受精模式有2次、3次、4次,结果是连续的,从来没有结果。有19种潜在的室内植物,7种用于化妆品和香水,10种用于传统药物,1种用于杀虫剂。
{"title":"MUSIM BERBUNGA DAN BERBUAH JENIS-JENIS TANAMAN KOLEKSI SUKU ANNONACEAE DI KEBUN RAYA BOGOR","authors":"Tri Handayani","doi":"10.14203/BKR.V19I2.137","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V19I2.137","url":null,"abstract":"Anggota suku Annonaceae mempunyai potensi sebagai tanaman hias, tanaman pinggir jalan, bahan kosmetik dan parfum, obat tradisional serta insektisida. Untuk mengetahui potensi dan karakter pembungaan dan pembuahannya, maka diperlukan informasi tentang waktu berbunga dan berbuah suku Annonaceae.  Sebanyak 40 jenis tanaman suku Annonaceae koleksi Kebun Raya Bogor telah diamati waktu berbunga dan berbuahnya selama tahun 2012-2014. Parameter yang diamati meliputi waktu berbunga dan berbuah, tipe pembungaan, pola pembungaan, pola pembuahan, kalender berbunga dan berbuah serta potensinya. Jumlah jenis yang berbunga dan berbuah setiap bulan mengalami fluktuasi, dimana jumlah jenis yang berbunga berkisar 29-35, sedangkan yang berbuah berkisar 21-28 jenis. Puncak pembungaan terjadi pada bulan Oktober-November, sebanyak 35 jenis berbunga. Puncak pembuahan terjadi pada bulan Desember, sebanyak 28 jenis berbuah. Tanaman yang berbunga melalui fase semi ada 16 jenis dan tanpa fase semi ada 24 jenis. Pola pembungaan ada yang 1 kali, 2 kali, 3 kali, 4 kali dan berbunga terus menerus. Pola pembuahan ada yang 2 kali, 3 kali, 4 kali, berbuah terus menerus dan tidak pernah berbuah. Terdapat 19 jenis yang berpotensi sebagai tanaman hias, 7 jenis untuk kosmetik dan parfum, 10 jenis untuk obat tradisional dan 1 jenis untuk insektisida.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"24 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2017-05-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130707051","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Aklimatisasi Dini Massa Protalus Tumbuhan Paku Bahan Obat (Cibotium Barometz (L.) J. Sm.) Hasil Kultur Spora in Vitro 早期丙戊酸甲醛(巴洛克苏木)。公元前J。)体外培养培养物
Pub Date : 2017-05-03 DOI: 10.14203/BKR.V19I2.183
Yupi Isnaini, T. N. Praptosuwiryo
Pakis emas, Cibotium barometz (L.) J. Sm (Cibotiaceae), merupakan salah satu komoditi ekspor penting untuk bahan obat tradisional maupun modern. Populasi C. barometz di beberapa negara telah menurun secara cepat karena eksploitasi berlebihan. Oleh karena itu jenis ini telah dimasukkan dalam Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) sejak tahun 1976. Pusat Konservasi Tumbuhan–Kebun Raya berusaha keras untuk mengawetkannya secara situ dan telah memulai memperbanyak jenis ini melalui kultur spora secara i n vitro .  Di dalam kondisi in vitro , pembentukan sporofit C. barometz dari kultur spora  membutuhkan waktu cukup lama. Untuk mempercepat pembentukan sporofit maka kultur yang masih berupa massa protalus (gametofit) yang belum melahirkan sporofit dicoba untuk diaklimatisasi. Percobaan aklimatisasi dilakukan dalam 2 tahap.  Pada tahap pertama, massa protalus berumur 8 bulan setelah semai diaklimatisasi pada 14 jenis media aklimatisasi  dalam kotak plastik tembus cahaya.  Pada percobaan tahap kedua, massa protalus berumur 15 bulan setelah semai diaklimatisasi pada 4 jenis media yang terbaik dari percobaan pertama, yaitu: (1) cacahan akar pakis Cyathea contaminans (APC); (2) APC: arang sekam padi (ASP) (1:1); (3) APC : cocopeat (CP) (1:1) dan (4) APC : ASP : CP (1:1:1), dalam sungkup kotak plastik bertutup plastik tembus cahaya. Hasil percobaan kedua menunjukkan bahwa media terbaik untuk aklimatisasi adalah media campuran cacahan akar pakis Cyathea contaminans , arang sekam padi dan cocopeat (1:1:1).  Persentase massa protalus yang tumbuh dan berkembang pada media campuran ketiga bahan tersebut mencapai 80% dengan jumlah total sporofit yang terbentuk sebanyak 574.
金蕨,精金金。J. Sm (Cibotiaceae)是传统和现代药物的重要出口产品之一。由于过度开发,一些国家的巴拉梅茨人口迅速下降。因此,自1976年以来,这种类型已列入《国际贸易物种公约》。植物资源保护中心——植物园一直在努力将其储存起来,并开始通过体外培养培养培养培养。在体外,孢子培养需要相当长的时间来形成孢子。为了加快孢子的形成,一种尚未产生孢子的暴民主义文化试图使其合法化。化实验分两个阶段进行。在第一阶段,protalus质量为8个月,经过14种不同类型的甲基化,进入透明塑料盒。在第二阶段的实验中,protalus质量为15个月,经过4种最有效的媒体测试:(1)pakis Cyathea contaminans (APC);(2) APC:炭糠(ASP) (1:1);(3) APC: cocopeat (CP)(1:1)和(4)APC: ASP: CP(1:1:1),在一个透明塑料纸盒的支架下。第二次试验的结果表明,最好的试剂是巴基斯坦植物人、木炭糠和可可豆的混合物(1:1 - 1)。在这三种材料的混合介质中,protalus的增长和增长型质能占80%,孢子总数量为574。
{"title":"Aklimatisasi Dini Massa Protalus Tumbuhan Paku Bahan Obat (Cibotium Barometz (L.) J. Sm.) Hasil Kultur Spora in Vitro","authors":"Yupi Isnaini, T. N. Praptosuwiryo","doi":"10.14203/BKR.V19I2.183","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V19I2.183","url":null,"abstract":"Pakis emas, Cibotium barometz (L.) J. Sm (Cibotiaceae), merupakan salah satu komoditi ekspor penting untuk bahan obat tradisional maupun modern. Populasi C. barometz di beberapa negara telah menurun secara cepat karena eksploitasi berlebihan. Oleh karena itu jenis ini telah dimasukkan dalam Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) sejak tahun 1976. Pusat Konservasi Tumbuhan–Kebun Raya berusaha keras untuk mengawetkannya secara situ dan telah memulai memperbanyak jenis ini melalui kultur spora secara i n vitro .  Di dalam kondisi in vitro , pembentukan sporofit C. barometz dari kultur spora  membutuhkan waktu cukup lama. Untuk mempercepat pembentukan sporofit maka kultur yang masih berupa massa protalus (gametofit) yang belum melahirkan sporofit dicoba untuk diaklimatisasi. Percobaan aklimatisasi dilakukan dalam 2 tahap.  Pada tahap pertama, massa protalus berumur 8 bulan setelah semai diaklimatisasi pada 14 jenis media aklimatisasi  dalam kotak plastik tembus cahaya.  Pada percobaan tahap kedua, massa protalus berumur 15 bulan setelah semai diaklimatisasi pada 4 jenis media yang terbaik dari percobaan pertama, yaitu: (1) cacahan akar pakis Cyathea contaminans (APC); (2) APC: arang sekam padi (ASP) (1:1); (3) APC : cocopeat (CP) (1:1) dan (4) APC : ASP : CP (1:1:1), dalam sungkup kotak plastik bertutup plastik tembus cahaya. Hasil percobaan kedua menunjukkan bahwa media terbaik untuk aklimatisasi adalah media campuran cacahan akar pakis Cyathea contaminans , arang sekam padi dan cocopeat (1:1:1).  Persentase massa protalus yang tumbuh dan berkembang pada media campuran ketiga bahan tersebut mencapai 80% dengan jumlah total sporofit yang terbentuk sebanyak 574.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"63 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2017-05-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126649535","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
ANALISIS VEGETASI JENIS-JENIS DIPTEROCARPACEAE DI KAWASAN HUTAN SEKSI I WAY KANAN, TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS, LAMPUNG
Pub Date : 2017-01-03 DOI: 10.14203/bkr.v20i1.410
Marfu’ah Wardani, Inggit Puji Astuti, N. Heriyanto
The vegetation study Dipterocarpaceae trees in Way Kanan forest of Way Kambas National Park, Lampung conducted in September 2014. The aims of the study were to determine the structure, composition and vegetation of Dipterocarpaceae. The study was carried out using inventory by making 10 plots, with 20 x 20 m each plot. The results showed that trees diversity was found 31 species and covered by 18 families. Complete regeneration of the dominant species (present in each stratum) level of the tree is Eugenia sp. with IVI 24.91%, the level sapling and seedling Dipterocarpus gracilis with IVI respectively 35.95% and 15.65%. Association Shorea spp. with other tree species in the amount indicated by the index Ochiai, Koompassia malaccensis associated with Shorea spp. most strongly with Ochiai index 0.63, Eugenia sp. with Ochiai index 0.60 and Pterospermum diversifolium with Ochiai index 0.55. Keywords: Dipterocarpaceae,  regeneration , Section I Way Kanan, Way Kambas National Park
2014年9月对楠榜省威坎巴斯国家公园威坎南森林的双足科树木进行了植被研究。研究的目的是确定双龙心科植物的结构、组成和植被。研究采用盘存法,制作10个样地,每个样地20 × 20 m。结果表明,该地区共有树木31种,分布于18科。优势种(各层均有)水平的完全再生率为IVI为24.91%的Eugenia,水平苗和幼苗分别为IVI为35.95%和15.65%的Dipterocarpus gracilis。在Ochiai指数所指示的数量上,与Shorea的关联度最高,其中Koompassia malaccensis与Shorea的关联度最高,Ochiai指数为0.63,Eugenia的关联度为0.60,Pterospermum difolium的关联度为0.55。关键词:双足科,再生,一段路加南,路坎巴斯国家公园
{"title":"ANALISIS VEGETASI JENIS-JENIS DIPTEROCARPACEAE DI KAWASAN HUTAN SEKSI I WAY KANAN, TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS, LAMPUNG","authors":"Marfu’ah Wardani, Inggit Puji Astuti, N. Heriyanto","doi":"10.14203/bkr.v20i1.410","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v20i1.410","url":null,"abstract":"The vegetation study Dipterocarpaceae trees in Way Kanan forest of Way Kambas National Park, Lampung conducted in September 2014. The aims of the study were to determine the structure, composition and vegetation of Dipterocarpaceae. The study was carried out using inventory by making 10 plots, with 20 x 20 m each plot. The results showed that trees diversity was found 31 species and covered by 18 families. Complete regeneration of the dominant species (present in each stratum) level of the tree is Eugenia sp. with IVI 24.91%, the level sapling and seedling Dipterocarpus gracilis with IVI respectively 35.95% and 15.65%. Association Shorea spp. with other tree species in the amount indicated by the index Ochiai, Koompassia malaccensis associated with Shorea spp. most strongly with Ochiai index 0.63, Eugenia sp. with Ochiai index 0.60 and Pterospermum diversifolium with Ochiai index 0.55. Keywords: Dipterocarpaceae,  regeneration , Section I Way Kanan, Way Kambas National Park","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"85 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2017-01-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127029125","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 6
KOMPOSISI, POLA SEBARAN DAN FAKTOR HABITAT NUNU PISANG (Ficus magnoliifolia) DI HUTAN PANGALE DESA TORO SULAWESI TENGAH
Pub Date : 2016-08-12 DOI: 10.14203/BKR.V19I1.117
Hariany Siappa, A. Hikmat, A. Kartono
Nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) is an ecologically important species and also to meet community of Tribe Moma  needs in the village of Toro, Central Sulawesi. The existence of ecological benefits and utilization has become an important aspect to conserve nunu pisang by knowing ecoogical aspects. This study aims to determine the composition of the vegetation, the distribution pattern and habitat factors of nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) in forest Pangale, fallow garden of Moma tribe more than 25 years. The method used in this study is a terraced path, that is then analyzed by vegetation analysis, the distribution pattern, diversity index, similarity index of communities, associations interspesies and habitat factors. The study from January to March 2015 showed that the majority of nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) found in the growth stage of tree because ficus magnoliifolia is a strangler which has 4 stages of growth, namely: epiphytes, hemiepifit, strangler and trees. At this stage of the growth of trees, nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) has clumped distribution patterns. nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) association with the other species is very low and low. Habitat factors that are important in the growth of the banana nunu is soil temperature, soil moisture and density of trees Nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) merupakan spesies yang penting secara ekologi dan juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Suku Moma di Desa Toro, Sulawesi Tengah.  Adanya manfaat ekologi dan pemanfaatan ini menjadi aspek penting untuk melakukan konservasi nunu pisang dengan cara mengetahui aspek ekologi nunu pisang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi vegetasi,  pola sebaran dan faktor habitat nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) di hutan Pangale, yaitu kebun Suku Moma yang diberakan lebih dari 25 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jalur berpetak yang kemudian dianalisis dengan analisis vegetasi, pola sebaran, indeks keanekaragaman, indeks kesamaan komunitas, asosiasi interspesies dan faktor habitat. Hasil penelitian yang dilakukan selama bulan Januari sampai dengan Maret 2015 menunjukkan bahwa sebagian besar nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) ditemukan pada tahap pertumbuhan pohon karena merupakan jenis ficus strangler yang memiliki 4 tahapan pertumbuhan yaitu: epifit, hemiepifit, pencekik dan pohon. Pada tahap pertumbuhan pohon, nunu pisang memiliki pola sebaran mengelompok.  Asosiasi nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) dengan spesies lainnya adalah sangat rendah dan rendah.  Faktor habitat yang penting dalam pertumbuhan nunu pisang adalah suhu tanah, kelembaban tanah dan kerapatan pohon.
Nunu pisang (Ficus magnoliifolia)是一种重要的生态物种,也是满足苏拉威西中部托罗村Moma部落社区的需求。生态效益的存在和利用已成为认识生态方面保护农奴松林的重要方面。本研究旨在确定25年来Moma部落休耕区Pangale森林中nunu pisang (Ficus magnoliifolia)的植被组成、分布格局及生境因子。本研究采用梯田路径,通过植被分析、分布格局、多样性指数、群落相似性指数、种间连系和生境因子进行分析。2015年1 - 3月的研究表明,由于厚兰是一种绞杀植物,有4个生长阶段,即附生植物、半附生植物、绞杀植物和乔木,因此在树的生长期发现了大部分的nunu pisang (magnoliifolia)。在树木生长的这个阶段,榕树呈块状分布。magnoliifolia榕树与其他物种的关联性非常低。土壤温度、土壤湿度和树木密度是影响香蕉生长的重要生境因子,对香蕉生长具有重要影响。阿达尼亚人的生态学,但pmanfaatan ini menjadi说,花,花,花,花,花,花,花,花,花,花,花,花,花图juan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi vegetasi, pola sebaran dan faktor habitat nunu pisang (Ficus magnoliifolia) di hutan Pangale, yitu kebun Suku Moma yang diberakan lebih dari 25 tahun。Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jalur berpetak yang kemudian dianalis dengan analis vegetasi, pola sebaran, indeks keanekaragaman, indeks kesamaan komunitas, asosiasi种间种和生境因子。2015年1月3日,上海梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场,梧桐竹叶市场帕塔哈pertumbuhan pohon, nunu pisang memoriliki pola sebaran mengelompok。厚朴榕树属(Asosiasi nunu pisang)的一种。Faktor生境yang penting dalam pertumbuhan nunu pisang adalah suhu tanah, kelembaban tanah dan kerapatan pohon。
{"title":"KOMPOSISI, POLA SEBARAN DAN FAKTOR HABITAT NUNU PISANG (Ficus magnoliifolia) DI HUTAN PANGALE DESA TORO SULAWESI TENGAH","authors":"Hariany Siappa, A. Hikmat, A. Kartono","doi":"10.14203/BKR.V19I1.117","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V19I1.117","url":null,"abstract":"Nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) is an ecologically important species and also to meet community of Tribe Moma  needs in the village of Toro, Central Sulawesi. The existence of ecological benefits and utilization has become an important aspect to conserve nunu pisang by knowing ecoogical aspects. This study aims to determine the composition of the vegetation, the distribution pattern and habitat factors of nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) in forest Pangale, fallow garden of Moma tribe more than 25 years. The method used in this study is a terraced path, that is then analyzed by vegetation analysis, the distribution pattern, diversity index, similarity index of communities, associations interspesies and habitat factors. The study from January to March 2015 showed that the majority of nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) found in the growth stage of tree because ficus magnoliifolia is a strangler which has 4 stages of growth, namely: epiphytes, hemiepifit, strangler and trees. At this stage of the growth of trees, nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) has clumped distribution patterns. nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) association with the other species is very low and low. Habitat factors that are important in the growth of the banana nunu is soil temperature, soil moisture and density of trees Nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) merupakan spesies yang penting secara ekologi dan juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Suku Moma di Desa Toro, Sulawesi Tengah.  Adanya manfaat ekologi dan pemanfaatan ini menjadi aspek penting untuk melakukan konservasi nunu pisang dengan cara mengetahui aspek ekologi nunu pisang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi vegetasi,  pola sebaran dan faktor habitat nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) di hutan Pangale, yaitu kebun Suku Moma yang diberakan lebih dari 25 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jalur berpetak yang kemudian dianalisis dengan analisis vegetasi, pola sebaran, indeks keanekaragaman, indeks kesamaan komunitas, asosiasi interspesies dan faktor habitat. Hasil penelitian yang dilakukan selama bulan Januari sampai dengan Maret 2015 menunjukkan bahwa sebagian besar nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) ditemukan pada tahap pertumbuhan pohon karena merupakan jenis ficus strangler yang memiliki 4 tahapan pertumbuhan yaitu: epifit, hemiepifit, pencekik dan pohon. Pada tahap pertumbuhan pohon, nunu pisang memiliki pola sebaran mengelompok.  Asosiasi nunu pisang ( Ficus magnoliifolia ) dengan spesies lainnya adalah sangat rendah dan rendah.  Faktor habitat yang penting dalam pertumbuhan nunu pisang adalah suhu tanah, kelembaban tanah dan kerapatan pohon.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"93 3","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"120866635","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
PERSILANGAN INTERSPESIFIK Ipomoea batatas (L.) Lam. DENGAN Ipomoea trifida (H.B.K.) G. Don. BERUMBI ASAL CITATAH JAWA BARAT
Pub Date : 2016-08-12 DOI: 10.14203/BKR.V19I1.112
Tia Setiawati, A. Karuniawan, Titin Supriatun, Karyono Karyono
Ipomoea trifida merupakan kerabat liar ubi jalar ( I. batatas ) yang sangat berpotensi sebagai sumber gen dalam pemuliaan untuk memperbaiki karakter daya hasil, kadar bahan kering, pati, protein, ketahanan terhadap hama, dan penyakit tertentu. Persilangan interspesifik merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan keragaman genetik dalam program pemuliaan tanaman, sehingga kajian mengenai persilangan interspesifik antara I. batatas dengan I. trifida menjadi sangat penting dilakukan. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat kompatibilitas persilangan interspesifik Ipomoea batatas dengan kerabat liarnya I. trifida berumbi. Tetua betina yang digunakan adalah dua aksesi I. batatas yaitu aksesi 206 (cv. Cilembu) dan aksesi 217 (cv. eks-Jepang), sedangkan sebagai tetua jantan digunakan I. trifida berumbi aksesi  99 asal Citatah, Jawa Barat. Persilangan dilakukan pagi hari setelah dilakukan emaskulasi pada kuncup bunga sehari sebelumnya. Pengamatan dilakukan 25 hari setelah persilangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan interspesifik I. batatas tetraploid (2n=4x=60) aksesi 206  (cv. Cilembu) dan aksesi 217 (eks Jepang) dengan kerabat liar I. trifida diploid (2n=2x=30) aksesi 99, memiliki tingkat keberhasilan yang rendah dengan persentase daya silang berturut-turut 6,67 % dan 9,76 % untuk kombinasi persilangan 206 x 99 dan 217 x 99; tingkat keguguran buah mencapai 93,33% dan 90,24%; jumlah biji yang dihasilkan sebanyak 12 dan 35 butir dengan daya kecambah berturut-turut 25% dan 17,14%. Hasil analisis kromosom F 1 menunjukkan semua tanaman F 1 bersifat triploid dengan jumlah kromosom 45 (2n=3x=45).
Ipomoea trifida是山药(I. batatas)的野生亲属,具有高度的潜在基因来源,用于提高产量特性、干物质、淀粉、蛋白质水平、害虫耐药性和某些疾病。特异性异化是一种促进植物繁殖计划基因多样性的努力,因此对三线异化和三线异化的研究变得非常重要。研究的目的是确定ipod及其野生亲属I. trifida berumbi之间的交叉兼容性水平。女性长者使用的是两个部分,即206个部分。ci牛棚)和217次会议。(前日本)而男性长者使用的是西爪哇省的99个堡垒。杂交发生在前一天插入花苞后的清晨。交叉路口25天后进行观察。研究结果显示,特斯拉普莱id (2n=4x=60)的中间交叉引用是206次会话。第217次(前日本)和野生的I. trifida外交手腕(2n=2x=30)第99次,成功率低,交叉百分率为67%和9.76 %,为206 x 99和217 x 99;水果流产率为93.33%和90.24%;产量为12粒和35粒,产量为25%和17.14%。F - 1染色体分析结果显示,F - 1的植物都是三胞胎,共有45个染色体(2n=3x=45)。
{"title":"PERSILANGAN INTERSPESIFIK Ipomoea batatas (L.) Lam. DENGAN Ipomoea trifida (H.B.K.) G. Don. BERUMBI ASAL CITATAH JAWA BARAT","authors":"Tia Setiawati, A. Karuniawan, Titin Supriatun, Karyono Karyono","doi":"10.14203/BKR.V19I1.112","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V19I1.112","url":null,"abstract":"Ipomoea trifida merupakan kerabat liar ubi jalar ( I. batatas ) yang sangat berpotensi sebagai sumber gen dalam pemuliaan untuk memperbaiki karakter daya hasil, kadar bahan kering, pati, protein, ketahanan terhadap hama, dan penyakit tertentu. Persilangan interspesifik merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan keragaman genetik dalam program pemuliaan tanaman, sehingga kajian mengenai persilangan interspesifik antara I. batatas dengan I. trifida menjadi sangat penting dilakukan. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat kompatibilitas persilangan interspesifik Ipomoea batatas dengan kerabat liarnya I. trifida berumbi. Tetua betina yang digunakan adalah dua aksesi I. batatas yaitu aksesi 206 (cv. Cilembu) dan aksesi 217 (cv. eks-Jepang), sedangkan sebagai tetua jantan digunakan I. trifida berumbi aksesi  99 asal Citatah, Jawa Barat. Persilangan dilakukan pagi hari setelah dilakukan emaskulasi pada kuncup bunga sehari sebelumnya. Pengamatan dilakukan 25 hari setelah persilangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan interspesifik I. batatas tetraploid (2n=4x=60) aksesi 206  (cv. Cilembu) dan aksesi 217 (eks Jepang) dengan kerabat liar I. trifida diploid (2n=2x=30) aksesi 99, memiliki tingkat keberhasilan yang rendah dengan persentase daya silang berturut-turut 6,67 % dan 9,76 % untuk kombinasi persilangan 206 x 99 dan 217 x 99; tingkat keguguran buah mencapai 93,33% dan 90,24%; jumlah biji yang dihasilkan sebanyak 12 dan 35 butir dengan daya kecambah berturut-turut 25% dan 17,14%. Hasil analisis kromosom F 1 menunjukkan semua tanaman F 1 bersifat triploid dengan jumlah kromosom 45 (2n=3x=45).","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"366 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115472219","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
ORGANOGENESIS TUNAS SECARA LANGSUNG PADA PAMELO (Citrus maxima (Burm.) Merr.)
Pub Date : 2016-08-12 DOI: 10.14203/BKR.V19I1.176
Kartika Ning Tyas, Slamet Susanto, Iswari S. Dewi, Nurul Khumaida
Konservasi in vitro pamelo ( Citrus maxima (Burm.) Merr.) memerlukan tunas in vitro sebagai eksplan. Tunas in vitro diperlukan dalam konservasi untuk mempermudah pemulihan dan penggunaannya setelah konservasi. Dua percobaan dilakukan untuk mendapatkan eksplan dan media yang efektif untuk memperoleh tunas in vitro pamelo secara langsung. Eksplan daun, akar dan epikotil diperoleh dari kecambah in vitro pamelo ‘Adas Duku’. Percobaan pertama dilakukan untuk mendapatkan media mengandung sitokinin dan auksin yang efektif dalam menginduksi tunas adventif. Percobaan disusun dengan rancangan acak lengkap. Media MS mengandung kombinasi BAP (0; 1; 2 ppm) dan NAA (0; 0,5; 1 ppm) digunakan sebagai perlakuan. Percobaan kedua dilakukan pada eksplan epikotil pamelo untuk mengetahui pengaruh posisi kultur pada pembentukan tunas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tunas dapat terbentuk secara langsung pada eksplan daun, akar dan epikotil. Eksplan daun hanya berespon di ruang gelap, yaitu sebanyak 5,55% dapat membentuk 1 tunas/eksplan di media MS + BAP 1 ppm. Eksplan akar hanya berespon di ruang terang, yaitu sebanyak 60% dapat membentuk 1 tunas/eksplan di media MS0. Eksplan epikotil yang dikultur horisontal dapat membentuk tunas secara langsung di ruang terang pada media MS0, yaitu sebanyak 30% dapat membentuk 1–2 tunas/eksplan, sedangkan di ruang gelap tunas terbentuk secara langsung di media MS0 dan MS + BAP 1 ppm, namun dengan penampilan tunas yang lemah karena etiolasi. Epikotil yang dikultur secara vertikal di ruang terang sebanyak 100% dapat menghasilkan 1–3 tunas/eksplan.
玻璃体pamelo(最大柑橘)保护。Merr)需要在体外培养成为一种独家产品。在保护中需要体外芽,以促进恢复和在保护后使用。目前正在进行两项实验,以获得独家资金和有效的媒介,以获得直接从体外获得的芽。叶子、根和epic的特异性取自体外pamelo ' Adas的芽。第一个尝试是让媒体含有西冲绳蛋白和奥辛,有效地诱导冒险芽。实验是经过完全随机设计的。MS介质含有fir (0;1;2 ppm)和NAA (0;0.5米;1 ppm)用作治疗。第二项实验是在白皮球的表皮质地进行的,以了解在芽形成过程中培养姿势的影响。观察结果表明,芽可以直接形成在叶、根和主干的范围内。唯一的出路是在黑暗中,555%的叶子可以在MS +杉木中形成1芽/ explantion。根的总体只能在较轻的空间中重新填充,即60%可以在MS0中形成1芽/独家。横向处理的表皮分泌可以直接在MS0中形成一个芽,也就是30%可以在暗室中形成一个芽,而在暗室中,芽直接在MS0和MS + fir 1 ppm中形成,但由于发病率的原因,芽的外观较弱。垂直地膜在明亮的空间中显示100%,可以产生1 - 3个芽/独家芽。
{"title":"ORGANOGENESIS TUNAS SECARA LANGSUNG PADA PAMELO (Citrus maxima (Burm.) Merr.)","authors":"Kartika Ning Tyas, Slamet Susanto, Iswari S. Dewi, Nurul Khumaida","doi":"10.14203/BKR.V19I1.176","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V19I1.176","url":null,"abstract":"Konservasi in vitro pamelo ( Citrus maxima (Burm.) Merr.) memerlukan tunas in vitro sebagai eksplan. Tunas in vitro diperlukan dalam konservasi untuk mempermudah pemulihan dan penggunaannya setelah konservasi. Dua percobaan dilakukan untuk mendapatkan eksplan dan media yang efektif untuk memperoleh tunas in vitro pamelo secara langsung. Eksplan daun, akar dan epikotil diperoleh dari kecambah in vitro pamelo ‘Adas Duku’. Percobaan pertama dilakukan untuk mendapatkan media mengandung sitokinin dan auksin yang efektif dalam menginduksi tunas adventif. Percobaan disusun dengan rancangan acak lengkap. Media MS mengandung kombinasi BAP (0; 1; 2 ppm) dan NAA (0; 0,5; 1 ppm) digunakan sebagai perlakuan. Percobaan kedua dilakukan pada eksplan epikotil pamelo untuk mengetahui pengaruh posisi kultur pada pembentukan tunas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tunas dapat terbentuk secara langsung pada eksplan daun, akar dan epikotil. Eksplan daun hanya berespon di ruang gelap, yaitu sebanyak 5,55% dapat membentuk 1 tunas/eksplan di media MS + BAP 1 ppm. Eksplan akar hanya berespon di ruang terang, yaitu sebanyak 60% dapat membentuk 1 tunas/eksplan di media MS0. Eksplan epikotil yang dikultur horisontal dapat membentuk tunas secara langsung di ruang terang pada media MS0, yaitu sebanyak 30% dapat membentuk 1–2 tunas/eksplan, sedangkan di ruang gelap tunas terbentuk secara langsung di media MS0 dan MS + BAP 1 ppm, namun dengan penampilan tunas yang lemah karena etiolasi. Epikotil yang dikultur secara vertikal di ruang terang sebanyak 100% dapat menghasilkan 1–3 tunas/eksplan.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"317 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116164121","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 3
PERKEMBANGAN BUNGA DAN UJI VIABILITAS SERBUK SARI BUNGA LIPSTIK Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ DI KEBUN RAYA BOGOR Flower development and pollen viability of Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ at Bogor Botanical Garden
Pub Date : 2016-08-12 DOI: 10.14203/BKR.V19I1.104
Siti Maria Ulfah, Dorly Dorly, Sri Rahayu
Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ dikenal dengan nama bunga lipstik , yang merupakan marga epifit dari suku Gesneriaceae . Tanaman ini mengalami dikogami jenis protandri. Pengetahuan mengenai viabilitas serbuk sari dari tanaman dikogami sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan persilangan. Penelitian ini bertujuan untuk me nentukan tahap-tahap perkembangan morfologi bunga A . radicans var. ‘Monalisa’ , viabilitas serbuk sari dengan uji pengecambahan in vitro dan uji pewarnaan, serta mempelajari korelasi viabilitas serbuk sari antara uji pengecambahan in vitro dengan uji pewarnaan. Tahapan dari inisiasi tunas bunga hingga mencapai a ntesis adalah 34-35 hari dan rata-rata masa gugur pada stadia H+12 dan H+13. Hasil penelitian pendahuluan pada stadia bunga H0 (antesis) memperoleh waktu optimum pengecambahan serbuk sari yaitu 8 jam untuk serbuk sari dari tangkai sari panjang dan 9 jam untuk serbuk sari dari tangkai sari pendek. Viabilitas serbuk sari tertinggi dalam media BK dijumpai pada stadia H+2 dari tangkai sari panjang dan tangkai sari pendek masing-masing yaitu 55.7% dan 56.7%. Uji pewarnaan dengan viabilitas serbuk sari tertinggi dijumpai pada stadia H+1 dari tangkai benang sari panjang dan tangkai benang sari pendek masing-masing 41.8% dan 48.0% dengan anilin blue 1%; serta 29.4% dan 27.2% dengan I 2 KI 1%. Viabilitas serbuk sari pada media BK dengan pewarna anilin blue 1% dan I 2 KI 1% berkorelasi positif. Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ also known as lipstick flowers, are epiphytic genus of the Gesneriaceae family. These plants experienced the protandri types of dichogamy. Knowledge of pollen viability from dichogamy plants is needed to increase  the success rate of a crossover. This research aimed to determine the developmental stage of flower morphology A. radicans var. ‘Monalisa’, pollen viability with in vitro germination test and staining test, and the correlation of pollen viability between in vitro germination test and staining test. Length of the process from flower bud initiation until the formation of anthesis was 34-35 days and the average abscission period took place at stadia H+12 and H+13. The result of the preliminary study at the stadia H0 (anthesis) showed that pollen germination obtained its optimum time within 8 hours for the long filaments pollen and took 9 hours for the short filaments pollen. The highest pollen viability in BK media found at stadia H+2, which had the value for long filaments and short filamens 55.7% and 56.7% respectively. Staining test with the highest pollen viability found at the stadia H+1, with the value of long filaments and short filaments 41.8% and 48.0% respectively with 1% aniline blue; and 29.4% and 27.2% respectively with 1% I 2 KI. The pollen viability in BK media with 1% aniline blue and 1% I 2 KI were positively correlated.
“蒙娜丽莎”的名字叫唇膏花,是Gesneriaceae部落的epifit家族。这是一种二分植物。植物的花粉复合体的知识是促进交叉成功所必需的。本研究旨在挑战花形态发展的各个阶段。皮肤红斑,以及在体外染色和染色试验中花粉的活性,以及在体外染色和着色试验之间花粉的可行性。从花芽开始到新芽的顺序是34-35天,在产前H+12和H+13的平均下降时间是34-35天。对H0花属植物的初步研究得出的结论是,花粉花序从长茎中提取花粉的时间为8小时,从短茎中提取花粉为9小时。BK中花粉的最高活性是在H+2的长茎和短茎分别为55.7%和55.7%。在长茎H+1和短雄蕊分别分别为41.8%和48.0%,而苯胺蓝色1%;加上29.4%和27.2%的I 2 KI 1%。BK中花粉的活性与色蓝色苯胺色1%和I 2 KI 1%具有正相关。莫纳利萨被称为口红花,是gesnerceae家族的骨科属。这些植物试验了二甲二茂的特性。不同的本土植物知识需要增加交叉水平的成功比率。这一研究允许确定植物形态样本的发展阶段。距离炭疽热形成前34天35天,平均周期在H+12和H+13处举行。报时研究在车站H0 (anthesis)指出,报时最佳时间为长灯丝8小时,短灯丝9小时。BK媒体的高度聚酯活动性在BK +2 stadia找到,这是值为长细丝和短细丝55.7%和56.7%的回报。目前正在进行最严重的污染测试,发现在车站H+1,长细丝比41.8%和48.0%的参考蓝色1;29.4%和27.2%的保留率和1%的KI。在BK媒体中,只有1%的苯胺蓝色和1%的KI是积极相关的。
{"title":"PERKEMBANGAN BUNGA DAN UJI VIABILITAS SERBUK SARI BUNGA LIPSTIK Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ DI KEBUN RAYA BOGOR Flower development and pollen viability of Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ at Bogor Botanical Garden","authors":"Siti Maria Ulfah, Dorly Dorly, Sri Rahayu","doi":"10.14203/BKR.V19I1.104","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V19I1.104","url":null,"abstract":"Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ dikenal dengan nama bunga lipstik , yang merupakan marga epifit dari suku Gesneriaceae . Tanaman ini mengalami dikogami jenis protandri. Pengetahuan mengenai viabilitas serbuk sari dari tanaman dikogami sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan persilangan. Penelitian ini bertujuan untuk me nentukan tahap-tahap perkembangan morfologi bunga A . radicans var. ‘Monalisa’ , viabilitas serbuk sari dengan uji pengecambahan in vitro dan uji pewarnaan, serta mempelajari korelasi viabilitas serbuk sari antara uji pengecambahan in vitro dengan uji pewarnaan. Tahapan dari inisiasi tunas bunga hingga mencapai a ntesis adalah 34-35 hari dan rata-rata masa gugur pada stadia H+12 dan H+13. Hasil penelitian pendahuluan pada stadia bunga H0 (antesis) memperoleh waktu optimum pengecambahan serbuk sari yaitu 8 jam untuk serbuk sari dari tangkai sari panjang dan 9 jam untuk serbuk sari dari tangkai sari pendek. Viabilitas serbuk sari tertinggi dalam media BK dijumpai pada stadia H+2 dari tangkai sari panjang dan tangkai sari pendek masing-masing yaitu 55.7% dan 56.7%. Uji pewarnaan dengan viabilitas serbuk sari tertinggi dijumpai pada stadia H+1 dari tangkai benang sari panjang dan tangkai benang sari pendek masing-masing 41.8% dan 48.0% dengan anilin blue 1%; serta 29.4% dan 27.2% dengan I 2 KI 1%. Viabilitas serbuk sari pada media BK dengan pewarna anilin blue 1% dan I 2 KI 1% berkorelasi positif. Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ also known as lipstick flowers, are epiphytic genus of the Gesneriaceae family. These plants experienced the protandri types of dichogamy. Knowledge of pollen viability from dichogamy plants is needed to increase  the success rate of a crossover. This research aimed to determine the developmental stage of flower morphology A. radicans var. ‘Monalisa’, pollen viability with in vitro germination test and staining test, and the correlation of pollen viability between in vitro germination test and staining test. Length of the process from flower bud initiation until the formation of anthesis was 34-35 days and the average abscission period took place at stadia H+12 and H+13. The result of the preliminary study at the stadia H0 (anthesis) showed that pollen germination obtained its optimum time within 8 hours for the long filaments pollen and took 9 hours for the short filaments pollen. The highest pollen viability in BK media found at stadia H+2, which had the value for long filaments and short filamens 55.7% and 56.7% respectively. Staining test with the highest pollen viability found at the stadia H+1, with the value of long filaments and short filaments 41.8% and 48.0% respectively with 1% aniline blue; and 29.4% and 27.2% respectively with 1% I 2 KI. The pollen viability in BK media with 1% aniline blue and 1% I 2 KI were positively correlated.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"65 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124752739","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 3
UJI VIABILITAS POLEN PADA DUA SPESIES BELIMBING HUTAN ( Averrhoa dolichocarpa dan A. leucopetala )
Pub Date : 2016-07-01 DOI: 10.14203/BKR.V19I2.107
Kapsah Kapsah, Dorly Dorly, Inggit Puji Astuti
Wild starfruit Averrhoa dolichocarpa and A. leucopetala are new species reported. The aims of the research were to testing pollen viability at a day before anthesis (H -1 ) and at anthesis (H 0 ) stadia with germination in Brewbaker and Kwack (BK) and 10% sucrose media and staining test with 1% anilin blue  and 1% I 2 KI. The optimum time for germination was 16 hours. Pollen viability in staining test results were higher than in germination test ie. 64.80% in BK medium, 54.60% in sukrosa, 88.60% in aniline blue dye and 88.50% in I 2 KI. BK medium showed a better result for germination test than 10% sucrose. In vitro viability germination test obtained the result that pollen viability value of wild starfruit at H 0 stadia was higher than pollen viability at H -1 stadia. While the result of staining test obtained that H -1 stadia was higher than at H 0 stadia. Long filament of Averrhoa dolichocarpa located on the slope had higher pollen viability than short filament. Filament factor in staining test was not significant. Pollen viability both in 10% sucrose to 1% aniline dye and 10% sucrose to 1% I 2 KI were negatively correlated. The correlation of pollen viability was not found either in BK medium and aniline dye blue or in BK medium and I 2 KI.
野生杨桃Averrhoa dolichocarpa和A. leucopetala为新种。本研究的目的是在Brewbaker和Kwack (BK)和10%蔗糖培养基中测定开花前1天(H -1)和开花时(H - 0)花粉的萌发活力,并用1%动物素蓝和1% i2ki染色试验。最佳发芽时间为16 h。染色试验结果显示花粉活力高于萌发试验。BK培养基64.80%,苏罗莎54.60%,苯胺蓝88.60%,i2ki 88.50%。BK培养基的萌发试验结果优于10%蔗糖。体外活力萌发试验结果表明,野生杨桃在H 0培养基下花粉活力值高于H -1培养基下的花粉活力值。而染色试验结果显示,H -1视场高于H - 0视场。长花丝生长在坡上,花粉活力高于短花丝。染色试验中纤维因子无显著性差异。10%蔗糖对1%苯胺染料处理和10%蔗糖对1% i2ki处理的花粉活力呈负相关。花粉活力在BK培养基与苯胺染料蓝、BK培养基与i2ki均无相关性。
{"title":"UJI VIABILITAS POLEN PADA DUA SPESIES BELIMBING HUTAN ( Averrhoa dolichocarpa dan A. leucopetala )","authors":"Kapsah Kapsah, Dorly Dorly, Inggit Puji Astuti","doi":"10.14203/BKR.V19I2.107","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/BKR.V19I2.107","url":null,"abstract":"Wild starfruit Averrhoa dolichocarpa and A. leucopetala are new species reported. The aims of the research were to testing pollen viability at a day before anthesis (H -1 ) and at anthesis (H 0 ) stadia with germination in Brewbaker and Kwack (BK) and 10% sucrose media and staining test with 1% anilin blue  and 1% I 2 KI. The optimum time for germination was 16 hours. Pollen viability in staining test results were higher than in germination test ie. 64.80% in BK medium, 54.60% in sukrosa, 88.60% in aniline blue dye and 88.50% in I 2 KI. BK medium showed a better result for germination test than 10% sucrose. In vitro viability germination test obtained the result that pollen viability value of wild starfruit at H 0 stadia was higher than pollen viability at H -1 stadia. While the result of staining test obtained that H -1 stadia was higher than at H 0 stadia. Long filament of Averrhoa dolichocarpa located on the slope had higher pollen viability than short filament. Filament factor in staining test was not significant. Pollen viability both in 10% sucrose to 1% aniline dye and 10% sucrose to 1% I 2 KI were negatively correlated. The correlation of pollen viability was not found either in BK medium and aniline dye blue or in BK medium and I 2 KI.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"41 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115567719","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
A REVIEW OF THE BIOLOGY OF RAFFLESIA: WHAT DO WE KNOW AND WHAT’S NEXT? 莱佛士花的生物学回顾:我们知道什么,接下来会发生什么?
Pub Date : 2016-07-01 DOI: 10.14203/bkr.v19i2.166
S. N. Hidayati, J. Walck
A literature review was conducted to summarize information, particularly recently published, on the biology of Rafflesia .  By far most of the recent papers on Rafflesia have named new species.  Since 2002, ten species have been discovered in the Philippines compared to three species in Indonesia.  Recent work also has explored phylogenetics (e.g. evolutionary history of the genus and of floral gigantism, horizontal transfer of genes and loss of the chloroplast genome) and anatomy (e.g. endophyte, flower development); other studies have focused on biochemistry.  Unfortunately, we still know very little about the life cycle, biology and ecological relations of Rafflesia .  Population declines have been noted as related to habitat destruction or natural disturbances but other times the cause(s) are unknown. Questions remain unanswered on its reproductive biology and on its population genetic structure and diversity.  With changing climates, long-term population studies in relation to environmental parameters are needed for Rafflesia conservation.
本文进行了文献综述,以总结有关莱佛士的生物学信息,特别是最近发表的信息。到目前为止,大多数关于莱佛士花的最新论文都命名了新物种。自2002年以来,在菲律宾发现了10种,而在印度尼西亚发现了3种。最近的工作还探讨了系统发育(例如属和花的巨大性的进化史,基因的水平转移和叶绿体基因组的损失)和解剖学(例如内生菌,花的发育);其他研究则集中在生物化学方面。不幸的是,我们对莱佛士的生命周期、生物学和生态关系仍然知之甚少。人们注意到,人口下降与栖息地破坏或自然干扰有关,但其他时候,原因不明。关于其生殖生物学、种群遗传结构和多样性的问题仍未得到解答。随着气候的变化,需要进行与环境参数有关的长期种群研究来保护莱佛士。
{"title":"A REVIEW OF THE BIOLOGY OF RAFFLESIA: WHAT DO WE KNOW AND WHAT’S NEXT?","authors":"S. N. Hidayati, J. Walck","doi":"10.14203/bkr.v19i2.166","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v19i2.166","url":null,"abstract":"A literature review was conducted to summarize information, particularly recently published, on the biology of Rafflesia .  By far most of the recent papers on Rafflesia have named new species.  Since 2002, ten species have been discovered in the Philippines compared to three species in Indonesia.  Recent work also has explored phylogenetics (e.g. evolutionary history of the genus and of floral gigantism, horizontal transfer of genes and loss of the chloroplast genome) and anatomy (e.g. endophyte, flower development); other studies have focused on biochemistry.  Unfortunately, we still know very little about the life cycle, biology and ecological relations of Rafflesia .  Population declines have been noted as related to habitat destruction or natural disturbances but other times the cause(s) are unknown. Questions remain unanswered on its reproductive biology and on its population genetic structure and diversity.  With changing climates, long-term population studies in relation to environmental parameters are needed for Rafflesia conservation.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"174 3 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128987488","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 22
Population Size of Two Endangered Vireya Rhododendron Species and Their Surrounding Vegetation on The Summit of the Mt. Rantemario, Sulawesi 苏拉威西岛Rantemario山顶两种濒临灭绝的Vireya杜鹃种群大小及其周围植被
Pub Date : 2016-01-01 DOI: 10.14203/bkr.v19i1.122
W. Rahman, A. Rozak
Five of 29 species of Rhododendron of  Sulawesi are threatened and two of them have endangered status (EN D). Field work assessment conducted to measure the current population size of endangered R. eymae and R. nanophyton var. nanophyton . One hundred and forty plots (5x5 m 2 ) along seven transects were made around the summit of Mt. Rantemario (3,269-3,445 m asl.), South Sulawesi. The result found that there were 318 individuals of R. eymae and two individuals of R. nanophyton var. nanophyton within the plots. We also found that estimated population sizes of those two species have not meet with the criteria that previously stated (EN D). The proper status for both species were Vulnerable (VU D2). The reason behind were discussed. While, dominated shrubs and herbs on the summit area of Mt. Rantemario were Leptospermum javanicum Blume (IVI=37.08), Eriocaulon truncatum Buch.-Ham. ex Mart (IVI=34.83), and Styphelia suaveolens (Hook.f.) Warb. (IVI=24.63). The association of those three plants with the Rhododendrons were analysed.
苏拉威西岛29种杜鹃花中有5种受到威胁,其中2种处于濒危状态(EN D)。对濒危物种叶鹃(R. eymae)和纳叶鹃(R. nanophyton)的种群数量进行了实地评估。在南苏拉威西岛的Rantemario山(海拔3,269-3,445米)的顶峰周围,沿着七个横断面建造了140个地块(5x5平方米)。结果发现,样地内共发现毛蚶318个个体,纳米叶蕨2个个体。我们还发现,这两个物种的估计种群规模不符合先前提出的标准(EN D),两种物种的适当状态都是脆弱(VU D2)。讨论了背后的原因。Rantemario山山顶灌木和草本植物以细尾(Leptospermum javanicum Blume) (IVI=37.08)、短尾(Eriocaulon truncatum buchh .- ham)为主。exmart (IVI=34.83)和Styphelia suaveolens (Hook.f.);卑鄙的人。(20 = 24.63)。分析了这三种植物与杜鹃花的关系。
{"title":"Population Size of Two Endangered Vireya Rhododendron Species and Their Surrounding Vegetation on The Summit of the Mt. Rantemario, Sulawesi","authors":"W. Rahman, A. Rozak","doi":"10.14203/bkr.v19i1.122","DOIUrl":"https://doi.org/10.14203/bkr.v19i1.122","url":null,"abstract":"Five of 29 species of Rhododendron of  Sulawesi are threatened and two of them have endangered status (EN D). Field work assessment conducted to measure the current population size of endangered R. eymae and R. nanophyton var. nanophyton . One hundred and forty plots (5x5 m 2 ) along seven transects were made around the summit of Mt. Rantemario (3,269-3,445 m asl.), South Sulawesi. The result found that there were 318 individuals of R. eymae and two individuals of R. nanophyton var. nanophyton within the plots. We also found that estimated population sizes of those two species have not meet with the criteria that previously stated (EN D). The proper status for both species were Vulnerable (VU D2). The reason behind were discussed. While, dominated shrubs and herbs on the summit area of Mt. Rantemario were Leptospermum javanicum Blume (IVI=37.08), Eriocaulon truncatum Buch.-Ham. ex Mart (IVI=34.83), and Styphelia suaveolens (Hook.f.) Warb. (IVI=24.63). The association of those three plants with the Rhododendrons were analysed.","PeriodicalId":274763,"journal":{"name":"Buletin Kebun Raya","volume":"101 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-01-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130512640","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
期刊
Buletin Kebun Raya
全部 Acc. Chem. Res. ACS Applied Bio Materials ACS Appl. Electron. Mater. ACS Appl. Energy Mater. ACS Appl. Mater. Interfaces ACS Appl. Nano Mater. ACS Appl. Polym. Mater. ACS BIOMATER-SCI ENG ACS Catal. ACS Cent. Sci. ACS Chem. Biol. ACS Chemical Health & Safety ACS Chem. Neurosci. ACS Comb. Sci. ACS Earth Space Chem. ACS Energy Lett. ACS Infect. Dis. ACS Macro Lett. ACS Mater. Lett. ACS Med. Chem. Lett. ACS Nano ACS Omega ACS Photonics ACS Sens. ACS Sustainable Chem. Eng. ACS Synth. Biol. Anal. Chem. BIOCHEMISTRY-US Bioconjugate Chem. BIOMACROMOLECULES Chem. Res. Toxicol. Chem. Rev. Chem. Mater. CRYST GROWTH DES ENERG FUEL Environ. Sci. Technol. Environ. Sci. Technol. Lett. Eur. J. Inorg. Chem. IND ENG CHEM RES Inorg. Chem. J. Agric. Food. Chem. J. Chem. Eng. Data J. Chem. Educ. J. Chem. Inf. Model. J. Chem. Theory Comput. J. Med. Chem. J. Nat. Prod. J PROTEOME RES J. Am. Chem. Soc. LANGMUIR MACROMOLECULES Mol. Pharmaceutics Nano Lett. Org. Lett. ORG PROCESS RES DEV ORGANOMETALLICS J. Org. Chem. J. Phys. Chem. J. Phys. Chem. A J. Phys. Chem. B J. Phys. Chem. C J. Phys. Chem. Lett. Analyst Anal. Methods Biomater. Sci. Catal. Sci. Technol. Chem. Commun. Chem. Soc. Rev. CHEM EDUC RES PRACT CRYSTENGCOMM Dalton Trans. Energy Environ. Sci. ENVIRON SCI-NANO ENVIRON SCI-PROC IMP ENVIRON SCI-WAT RES Faraday Discuss. Food Funct. Green Chem. Inorg. Chem. Front. Integr. Biol. J. Anal. At. Spectrom. J. Mater. Chem. A J. Mater. Chem. B J. Mater. Chem. C Lab Chip Mater. Chem. Front. Mater. Horiz. MEDCHEMCOMM Metallomics Mol. Biosyst. Mol. Syst. Des. Eng. Nanoscale Nanoscale Horiz. Nat. Prod. Rep. New J. Chem. Org. Biomol. Chem. Org. Chem. Front. PHOTOCH PHOTOBIO SCI PCCP Polym. Chem.
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
0
微信
客服QQ
Book学术公众号 扫码关注我们
反馈
×
意见反馈
请填写您的意见或建议
请填写您的手机或邮箱
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
现在去查看 取消
×
提示
确定
Book学术官方微信
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:481959085
Book学术
文献互助 智能选刊 最新文献 互助须知 联系我们:info@booksci.cn
Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。
Copyright © 2023 Book学术 All rights reserved.
ghs 京公网安备 11010802042870号 京ICP备2023020795号-1