Pub Date : 2020-08-25DOI: 10.47080/intent.v3i2.954
Sri Mukti Wirawati, A. Juniarti
PT. Budi Texindo adalah perusahaan yang bergerak dibidang textile dan menghasilkan produk benang yang setiap bulannya memproduksi seribu-dua ribu bale benang carded. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah suatu prosedur terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin mode kegagalan (failure mode). Dari hasil hasil perhitungan diagram pareto didapat presentase jenis cacat tidak rapih sebesar 65,87%, cacat rapuh sebesar 14,95% dan cacat ukuran berbeda sebesar 19,18%. Cacat gulungan tidak rapi menjadi prioritas utama untuk dilakukan perbaikan karena memiliki persentase tertinggi. Selanjutnya diolah dengan menggunakan diagram fishbone untuk mengetahui penyebab dari cacat tersebut, dan didapat 5 faktor yang menyebabkan cacat yaitu faktor manusia, metode, mesin, material dan lingkungan. Selanjutnya dilakukan pengolahan data menggunakan tabel FMEA dan mengitung nilai Risk Priority Number (RPN) yang didapat dari perkalian tingkat severity, occurance dan detection (S x O x D). Dari tabel FMEA dan perhitungan RPN didapat nilai RPN tertinggi sebesar 252 dan nilai RPN terendah sebesar 100. RPN tertinggi diprioritaskan untuk segera dilakukan perbaikan.
PT. Budi Texindo是一家纺织公司,每个月生产2000捆车轴。模式和效果分析(FMEA)是一种结构化的程序,目的是识别和防止尽可能多的失败模式。帕拉托图的计算得出的比例为65.87%,脆性为14.95%,不同尺寸为19.18%。不规则的卷轴缺陷成为修复的首要任务,因为它的百分比是最高的。然后用鱼骨图来确定缺陷的原因,并获得5个导致缺陷的因素,即人、方法、机器、物质和环境。接下来,通过FMEA表进行数据处理,并对从FMEA和测量表中获得的风险最高、occurance and detection (S x O x D)值进行计算,FMEA表和计算时的RPN最高分数为252,RPN值为100。最高的RPN将优先进行修复。
{"title":"PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BENANG CARDED UNTUK MENGURANGI CACAT DENGAN MENGGUNAKAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)","authors":"Sri Mukti Wirawati, A. Juniarti","doi":"10.47080/intent.v3i2.954","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/intent.v3i2.954","url":null,"abstract":"PT. Budi Texindo adalah perusahaan yang bergerak dibidang textile dan menghasilkan produk benang yang setiap bulannya memproduksi seribu-dua ribu bale benang carded. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah suatu prosedur terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin mode kegagalan (failure mode). Dari hasil hasil perhitungan diagram pareto didapat presentase jenis cacat tidak rapih sebesar 65,87%, cacat rapuh sebesar 14,95% dan cacat ukuran berbeda sebesar 19,18%. Cacat gulungan tidak rapi menjadi prioritas utama untuk dilakukan perbaikan karena memiliki persentase tertinggi. Selanjutnya diolah dengan menggunakan diagram fishbone untuk mengetahui penyebab dari cacat tersebut, dan didapat 5 faktor yang menyebabkan cacat yaitu faktor manusia, metode, mesin, material dan lingkungan. Selanjutnya dilakukan pengolahan data menggunakan tabel FMEA dan mengitung nilai Risk Priority Number (RPN) yang didapat dari perkalian tingkat severity, occurance dan detection (S x O x D). Dari tabel FMEA dan perhitungan RPN didapat nilai RPN tertinggi sebesar 252 dan nilai RPN terendah sebesar 100. RPN tertinggi diprioritaskan untuk segera dilakukan perbaikan.","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"37 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126068575","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-08-25DOI: 10.47080/intent.v3i2.953
F. S. Handika, Eka Indah Yuslistyari, M. Hidayatullah
PD. Mitra Sari merupakan perusahaan dagang yang terletak di kecamatan Cibeber, Cilegon dengan salah satu produknya yaitu paving block. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah adanya lembur sehingga menimbulkan keluhan beban kerja pada operator produksi. Beban kerja yang diukur adalah beban kerja fisik dan mental. Beban kerja fisik diukur berdasarkan Cardiovascular Load (%CVL) dan beban kerja mental diukur dengan metode National Aeronautics and Space Administration Task Load Index (NASA-TLX). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur beban kerja fisik dan mental operator produksi sebelum dan sesudah diberikan usulan perbaikan. Berdasarkan hasil pengukuran beban kerja fisik dengan %CVL diketahui bahwa 6 dari 10 operator produksi memiliki nilai rata-rata sebesar 32,07% (diperlukan perbaikan) dan sesudah diberikan usulan perbaikan nilai rata-rata keenam operator tersebut turun menjadi 28,05% (tidak terjadi kelelahan). Selanjutnya, berdasarkan hasil pengukuran beban kerja mental dengan NASA-TLX diperoleh nilai rata-rata 10 operator produksi sebesar 60,73 (tinggi) dan sesudah diberikan usulan perbaikan nilai rata-ratanya turun menjadi 46,93 (agak tinggi).
{"title":"ANALISIS BEBAN KERJA FISIK DAN MENTAL OPERATOR PRODUKSI DI PD. MITRA SARI","authors":"F. S. Handika, Eka Indah Yuslistyari, M. Hidayatullah","doi":"10.47080/intent.v3i2.953","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/intent.v3i2.953","url":null,"abstract":"PD. Mitra Sari merupakan perusahaan dagang yang terletak di kecamatan Cibeber, Cilegon dengan salah satu produknya yaitu paving block. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah adanya lembur sehingga menimbulkan keluhan beban kerja pada operator produksi. Beban kerja yang diukur adalah beban kerja fisik dan mental. Beban kerja fisik diukur berdasarkan Cardiovascular Load (%CVL) dan beban kerja mental diukur dengan metode National Aeronautics and Space Administration Task Load Index (NASA-TLX). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur beban kerja fisik dan mental operator produksi sebelum dan sesudah diberikan usulan perbaikan. Berdasarkan hasil pengukuran beban kerja fisik dengan %CVL diketahui bahwa 6 dari 10 operator produksi memiliki nilai rata-rata sebesar 32,07% (diperlukan perbaikan) dan sesudah diberikan usulan perbaikan nilai rata-rata keenam operator tersebut turun menjadi 28,05% (tidak terjadi kelelahan). Selanjutnya, berdasarkan hasil pengukuran beban kerja mental dengan NASA-TLX diperoleh nilai rata-rata 10 operator produksi sebesar 60,73 (tinggi) dan sesudah diberikan usulan perbaikan nilai rata-ratanya turun menjadi 46,93 (agak tinggi).","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"48 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121597721","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-08-25DOI: 10.47080/INTENT.V3I2.952
Erni Krisnaningsih, Saleh Dwiyatno, R. Sasongko
Pengukuran kerja merupakan metode untuk menentukan waktu yang dibutuhkan oleh karyawan yang mempunyai kualifikasi yang baik dalam melaksanakan pekerjaannya untuk bekerja pada keadaan normal dan wajar. Pengukuran waktu kerja menggunakan jam henti (Stopwatch ) diperkenalkan Frederick W. Taylor pada abad ke-19. Metode ini baik untuk diaplikasikan pada pekerjaan yang singkat dan berulang (repetitive) [10], [1]. Tujuan dari penentuan waktu baku antara lain sebagai usulan bagi perusahaan bagi penentuan rencana dan jadwal kerja, Standar biaya dan penentuan kebutuhan budget, estimasi biaya produk, rencana kebutuhan mesin dan penentuan upah standar operator dan lain-lain. Penentuan waktu baku dengan metode stopwatch efektif diterapkan pada industri skala [1].Pengukuran waktu baku pada PT. Cipta Lestari Ideanusa dilaksanakan secara langsung dengan jam henti (stopwatch) dari hasil perhitungan terhadap waktu baku pada operator Packing Folding kain Tetoron dengan mempertimbangkan tingkat keyakinan (k) sebesar 95% = 2, tingkat ketelitian sebesar 0,05 serta faktor penyesuaian dengan metode westinghouse system rating dan pertimbangan objektif serta faktor kelonggaran sebesar 40%, maka diperoleh waktu baku 152,98 detik atau 153 detik per unit produk. Dari hasil pengukuran waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan akan dipergunakan sebagai waktu standar penyelesaian suatu pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan yang sama dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam penentuan sikap kerja 5S [6].
{"title":"USULAN PENENTUAN WAKTU BAKU PADA OPERATOR PACKING FOLDING KAIN TETORON RAYON DENGAN METODE STOPWATCH","authors":"Erni Krisnaningsih, Saleh Dwiyatno, R. Sasongko","doi":"10.47080/INTENT.V3I2.952","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/INTENT.V3I2.952","url":null,"abstract":"Pengukuran kerja merupakan metode untuk menentukan waktu yang dibutuhkan oleh karyawan yang mempunyai kualifikasi yang baik dalam melaksanakan pekerjaannya untuk bekerja pada keadaan normal dan wajar. Pengukuran waktu kerja menggunakan jam henti (Stopwatch ) diperkenalkan Frederick W. Taylor pada abad ke-19. Metode ini baik untuk diaplikasikan pada pekerjaan yang singkat dan berulang (repetitive) [10], [1]. Tujuan dari penentuan waktu baku antara lain sebagai usulan bagi perusahaan bagi penentuan rencana dan jadwal kerja, Standar biaya dan penentuan kebutuhan budget, estimasi biaya produk, rencana kebutuhan mesin dan penentuan upah standar operator dan lain-lain. Penentuan waktu baku dengan metode stopwatch efektif diterapkan pada industri skala [1].Pengukuran waktu baku pada PT. Cipta Lestari Ideanusa dilaksanakan secara langsung dengan jam henti (stopwatch) dari hasil perhitungan terhadap waktu baku pada operator Packing Folding kain Tetoron dengan mempertimbangkan tingkat keyakinan (k) sebesar 95% = 2, tingkat ketelitian sebesar 0,05 serta faktor penyesuaian dengan metode westinghouse system rating dan pertimbangan objektif serta faktor kelonggaran sebesar 40%, maka diperoleh waktu baku 152,98 detik atau 153 detik per unit produk. Dari hasil pengukuran waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan akan dipergunakan sebagai waktu standar penyelesaian suatu pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan yang sama dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam penentuan sikap kerja 5S [6].","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"405 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122899362","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-08-25DOI: 10.47080/INTENT.V3I2.951
Arif Budi Sulistyo, Aldi Rinaldi
PT. Vinysea adalah perusahaan terkemuka di Indonesia yang bergerak pada industri baja. Salah satu bahan baku utama adalah batubara, yang diolah dengan pemanasan tinggi menjadi kokas. Selanjutnya kokas menjadi bahan baku proses pembuatan baja dalam blast furnace. Kualitas batubara sangat menentukan mutu dari kokas yang dihasilkan. Meskipun Indonesia memiliki sumber daya batubara yang berlimpah, dengan jumlah cadangan lima terbesar di dunia, namun memiliki kualitas yang rendah. Untuk mendapatkan kualitas yang bagus diperlukan pengembangan percampuran jenis batubara sebagai bahan baku pembuatan kokas, antara batubara lokal dan import, yang dikenal dengan metode coal blending. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kualitas kokas yang baik berdasarkan komposisi coal blending dari dua jenis batubara sehingga menghasilkan kokas dengan kandungan kimia yang sesuai dengan standar kualitas secara komersial. Setiap variasi komposisi dilakukan analisa proksimat (kadar air, kadar zat terbang dan kadar abu) untuk memverivikasi Certificate Of Analysis dari supplier, kemudian menghitung besarnya biaya yang dibutuhkan dalam pembelian setiap batubara tersebut. Dari tujuh variasi komposisi didapatkan komposisi SMM dan GC-8 sebesar 40/60 yang memenuhi spesifikasi dengan biaya yang paling rendah, yaitu $155.090/ton.
PT. Vinysea是印尼领先的钢铁工业公司。主要的原料之一是煤炭,它能将高温加工成焦炭。然后,可口可乐成为了blast炉内炼钢工艺的原料。煤炭的质量与生产焦炭的质量有很大关系。尽管印尼拥有丰富的煤炭资源,全球第五大储备,但质量较差。为了获得良好的质量,需要开发当地煤炭和进口煤炭之间的煤炭类型混合材料。本研究的目的是根据两种煤炭的混合成分获得良好的焦炭质量,从而生产符合商业质量标准的化学成分的焦炭。对供应人员进行的每一种成分的变化分析,以验证分析分析结果,然后计算每个煤炭购买所需的成本。在7种不同的成分中,SMM和gc8的组成以40/60的比例达到最低成本,即每吨155090美元。
{"title":"PEMILIHAN KOMPOSISI BATUBARA GC-8 ATAU SMM UNTUK MENDAPATKAN KUALITAS DAN BIAYA PRODUKSI YANG OPTIMUM DI PT. VINYSEA","authors":"Arif Budi Sulistyo, Aldi Rinaldi","doi":"10.47080/INTENT.V3I2.951","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/INTENT.V3I2.951","url":null,"abstract":"PT. Vinysea adalah perusahaan terkemuka di Indonesia yang bergerak pada industri baja. Salah satu bahan baku utama adalah batubara, yang diolah dengan pemanasan tinggi menjadi kokas. Selanjutnya kokas menjadi bahan baku proses pembuatan baja dalam blast furnace. Kualitas batubara sangat menentukan mutu dari kokas yang dihasilkan. Meskipun Indonesia memiliki sumber daya batubara yang berlimpah, dengan jumlah cadangan lima terbesar di dunia, namun memiliki kualitas yang rendah. Untuk mendapatkan kualitas yang bagus diperlukan pengembangan percampuran jenis batubara sebagai bahan baku pembuatan kokas, antara batubara lokal dan import, yang dikenal dengan metode coal blending. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kualitas kokas yang baik berdasarkan komposisi coal blending dari dua jenis batubara sehingga menghasilkan kokas dengan kandungan kimia yang sesuai dengan standar kualitas secara komersial. Setiap variasi komposisi dilakukan analisa proksimat (kadar air, kadar zat terbang dan kadar abu) untuk memverivikasi Certificate Of Analysis dari supplier, kemudian menghitung besarnya biaya yang dibutuhkan dalam pembelian setiap batubara tersebut. Dari tujuh variasi komposisi didapatkan komposisi SMM dan GC-8 sebesar 40/60 yang memenuhi spesifikasi dengan biaya yang paling rendah, yaitu $155.090/ton.","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"25 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134506942","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-02-19DOI: 10.47080/INTENT.V3I1.800
W. Gunawan, Fadhlurahman Soleh
Penerapan total productive maintenance adalah hal yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan suatu mesin atau peralatan produksi di perusahaan. Salah satu cara untuk mengetahui seberapa efektif impelementasi TPM pada suatu mesin atau peralatan disebuah perusahaan adalah dengan mengukur nilai keandalan dan laju kerusakan menggunakan distribusi weibull. Distribusi weibull adalah distribusi yang memiliki peranan yang penting terutama pada persoalan keandalan (reliability) dan analisis rawatan (mantainability). Distribusi ini adalah distribusi serbaguna yang dapat mengambil karakteristik dari jenis lain dari distribusi, berdasarkan nilai dari bentuk parameter. Oleh karenanya, weibull menjadi sangat berguna terutama karena fleksibilitasnya mulai dari data yang sangat tidak simetris sampai data yang mendekati distribusi normal (simetris). Penelitian ini terfokuskan pada mesin rolling mill yang berada pada Divisi Hot Strip Mill (HSM) PT. Krakatau Steel Persero menggunakan distibusi weibull melalui penggunaan aplikasi software easy fit untuk mengetahui seberapa besar nilai parameter serta keandalan pada peralatan produksi utama rolling mill dan apa yang menjadi kendala terbesar pada sistem produksinya. Diperoleh nilai keandalan mesin rolling mill sebesar 0.4308 atau 43.08% skala croanch alpha dengan laju kegagalan 0.000163 kegagalan per menit dan MTTF 4,2 Jam. Rekomendasi penerapan pilar TPM digunakan untuk meningkatkan keandalan mesin rolling mill.
{"title":"ANALISIS PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE MENGGUNAKAN DISTRIBUSI WEIBULL PADA MESIN ROLLING MILL","authors":"W. Gunawan, Fadhlurahman Soleh","doi":"10.47080/INTENT.V3I1.800","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/INTENT.V3I1.800","url":null,"abstract":"Penerapan total productive maintenance adalah hal yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan suatu mesin atau peralatan produksi di perusahaan. Salah satu cara untuk mengetahui seberapa efektif impelementasi TPM pada suatu mesin atau peralatan disebuah perusahaan adalah dengan mengukur nilai keandalan dan laju kerusakan menggunakan distribusi weibull. Distribusi weibull adalah distribusi yang memiliki peranan yang penting terutama pada persoalan keandalan (reliability) dan analisis rawatan (mantainability). Distribusi ini adalah distribusi serbaguna yang dapat mengambil karakteristik dari jenis lain dari distribusi, berdasarkan nilai dari bentuk parameter. Oleh karenanya, weibull menjadi sangat berguna terutama karena fleksibilitasnya mulai dari data yang sangat tidak simetris sampai data yang mendekati distribusi normal (simetris). Penelitian ini terfokuskan pada mesin rolling mill yang berada pada Divisi Hot Strip Mill (HSM) PT. Krakatau Steel Persero menggunakan distibusi weibull melalui penggunaan aplikasi software easy fit untuk mengetahui seberapa besar nilai parameter serta keandalan pada peralatan produksi utama rolling mill dan apa yang menjadi kendala terbesar pada sistem produksinya. Diperoleh nilai keandalan mesin rolling mill sebesar 0.4308 atau 43.08% skala croanch alpha dengan laju kegagalan 0.000163 kegagalan per menit dan MTTF 4,2 Jam. Rekomendasi penerapan pilar TPM digunakan untuk meningkatkan keandalan mesin rolling mill.","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"116 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-02-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114636412","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-02-19DOI: 10.47080/INTENT.V3I1.797
Sri Mukti Wirawati
Indonesia merupakan negera yang berkembang, sehingga banyak dari produsen baja mancanegara mengincar pasar baja di Indonesia. Indonesia memiliki Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang peleburan besi baja yaitu PT. Krakatau Steel (persero) Tbk PT. Krakatau Steel (persero) Tbk bekerja sama dengan investor untuk menambah kapasitas produksi baja nasional sehingga bisa mencukupi kebutuhan baja nasional. Dalam hal kualitas dan kepercayaan konsumen, peralatan (7 tools) pengendalian kualitas ; Histogram, Diagram Pareto, Diagram SIPOC dan Diagram Tulang Ikan merupakan salah satu yang digunakan untuk menunjukan faktor, tingkat dan kuantitas secara umum dari suatu penyimpangan. Untuk mengetahui terjadinya coke yang kurang matang atau kurang baik digunakan cara mengecek flue combustion pada pembakaran yang mengalami blocking saat proses pembakaran itu berlangsung,sehingga flow gas tidak dapat masuk kedalam ruang pembakaran,
印尼是一个发展中国家,因此许多外国钢铁制造商都把目标对准印尼的钢铁市场。印度尼西亚拥有一个国有企业(国有企业),其业务涉及PT. krakor Steel (persero) Tbk PT. krakor Steel (persero),与投资者合作,增加国家钢铁生产能力,以满足国家钢铁的需求。就消费者的质量和信仰而言,工具(7工具)质量控制;直方图、帕雷托图、SIPOC图和鱼骨图是用来表示异常因素、速率和数量的图表之一。为了确定可口可乐的作用是否较差或较差,我们将对燃烧过程中发生的燃烧过程中发生的燃烧过程中发生的通路燃烧过程进行检查,从而防止气体流动进入燃烧室,
{"title":"ANALISA PENGENDALIAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI COKE DI PT. KRAKATAU STEEL Tbk","authors":"Sri Mukti Wirawati","doi":"10.47080/INTENT.V3I1.797","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/INTENT.V3I1.797","url":null,"abstract":"Indonesia merupakan negera yang berkembang, sehingga banyak dari produsen baja mancanegara mengincar pasar baja di Indonesia. Indonesia memiliki Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang peleburan besi baja yaitu PT. Krakatau Steel (persero) Tbk PT. Krakatau Steel (persero) Tbk bekerja sama dengan investor untuk menambah kapasitas produksi baja nasional sehingga bisa mencukupi kebutuhan baja nasional. Dalam hal kualitas dan kepercayaan konsumen, peralatan (7 tools) pengendalian kualitas ; Histogram, Diagram Pareto, Diagram SIPOC dan Diagram Tulang Ikan merupakan salah satu yang digunakan untuk menunjukan faktor, tingkat dan kuantitas secara umum dari suatu penyimpangan. Untuk mengetahui terjadinya coke yang kurang matang atau kurang baik digunakan cara mengecek flue combustion pada pembakaran yang mengalami blocking saat proses pembakaran itu berlangsung,sehingga flow gas tidak dapat masuk kedalam ruang pembakaran,","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"30 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-02-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133143036","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-02-19DOI: 10.47080/INTENT.V3I1.796
Erni Krisnaningsih, Fadli Hadi
Pengendalian kualitas merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mengurangi ataupun meminimalisasi produk yang cacat. Perusahaan dapat menganalisis cacat pada suatu produk dengan menggunakan salah satu metode pengendalian kualitas yaitu Six Sigma sebagai salah satu metode untuk meningkatkan kualitas dengan mengedepankan konsep bahwa hanya akan ada 3,4 cacat produk untuk setiap 1 (satu) juta produk yang di produksi. Tahap konsep yang akan dirumuskan dengan konsep DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve dan Control). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pada PT. Cigading Habeam Center, terutama dalam proses hasil akhir pengecatan produk Boiler Steel Structure (Finish Coat) yang sering terjadi cacat pengecatan. Hasil penelitian ini ditemukan 7 (tujuh) cacat pengecatan pada Boiler Steel Structure selama periode Februari 2018 sampai dengan Maret 2019 yaitu Sagging, Orange Peel, Low DFT, Cracking, Dust Spray, Not Uniform dan Pinhole. Berdasarkan hasil dari identifikasi sumber terjadinya dari cacat yang terjadi dikarenakan faktor manusia, metode, material dan tools. Dari perhitungan tingkat sigma dan DPMO didapatkan hasil rata-rata level sigma yaitu 3,92 dengan nilai DPMO 13166,43. Berdasarkan Pareto Diagram, perbaikan difokuskan pada 3 jenis cacat yang terjadi dengan persentase masalah yang harus dituntaskan 80% sesuai hukum pareto yaitu Sagging dengan persentase (38,16%), Orange Peel dengan persentase (25,65%) dan Low DFT dengan persentase (19,06%). Ketiga cacat tersebut di analisis menggunakan Fishbone Diagram untuk menggambarkan penyebab terjadinya cacat. Pada tahap Improve (perbaikan) dilakukan usulan perbaikan dengan metode 5W+1H sebagai metode untuk pertimbangan perusahaan dalam menerapkan kualitas yang lebih baik dengan dibantu alat statistik untuk mempermudah dalam tahap pengontrolan. Diusahakan perusahaan dapat melakukan penerapan Six Sigma dengan tahap DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve dan Control) kedepannya untuk meningkatkan kualitas dengan harapan yaitu tidak terjadinya cacat atau zero defect yang bermanfaat bagi kondisi ideal perusahaan.
{"title":"STRATEGI MENGURANGI PRODUK CACAT PADA PENGECATAN BOILER STEEL STRUCTURE DENGAN METODE SIX SIGMA DI PT. CIGADING HABEAM CENTER","authors":"Erni Krisnaningsih, Fadli Hadi","doi":"10.47080/INTENT.V3I1.796","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/INTENT.V3I1.796","url":null,"abstract":"Pengendalian kualitas merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mengurangi ataupun meminimalisasi produk yang cacat. Perusahaan dapat menganalisis cacat pada suatu produk dengan menggunakan salah satu metode pengendalian kualitas yaitu Six Sigma sebagai salah satu metode untuk meningkatkan kualitas dengan mengedepankan konsep bahwa hanya akan ada 3,4 cacat produk untuk setiap 1 (satu) juta produk yang di produksi. Tahap konsep yang akan dirumuskan dengan konsep DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve dan Control). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pada PT. Cigading Habeam Center, terutama dalam proses hasil akhir pengecatan produk Boiler Steel Structure (Finish Coat) yang sering terjadi cacat pengecatan. Hasil penelitian ini ditemukan 7 (tujuh) cacat pengecatan pada Boiler Steel Structure selama periode Februari 2018 sampai dengan Maret 2019 yaitu Sagging, Orange Peel, Low DFT, Cracking, Dust Spray, Not Uniform dan Pinhole. Berdasarkan hasil dari identifikasi sumber terjadinya dari cacat yang terjadi dikarenakan faktor manusia, metode, material dan tools. Dari perhitungan tingkat sigma dan DPMO didapatkan hasil rata-rata level sigma yaitu 3,92 dengan nilai DPMO 13166,43. Berdasarkan Pareto Diagram, perbaikan difokuskan pada 3 jenis cacat yang terjadi dengan persentase masalah yang harus dituntaskan 80% sesuai hukum pareto yaitu Sagging dengan persentase (38,16%), Orange Peel dengan persentase (25,65%) dan Low DFT dengan persentase (19,06%). Ketiga cacat tersebut di analisis menggunakan Fishbone Diagram untuk menggambarkan penyebab terjadinya cacat. Pada tahap Improve (perbaikan) dilakukan usulan perbaikan dengan metode 5W+1H sebagai metode untuk pertimbangan perusahaan dalam menerapkan kualitas yang lebih baik dengan dibantu alat statistik untuk mempermudah dalam tahap pengontrolan. Diusahakan perusahaan dapat melakukan penerapan Six Sigma dengan tahap DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve dan Control) kedepannya untuk meningkatkan kualitas dengan harapan yaitu tidak terjadinya cacat atau zero defect yang bermanfaat bagi kondisi ideal perusahaan.","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"96 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-02-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116297949","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-02-19DOI: 10.47080/INTENT.V3I1.802
A. Syarifudin, Koid Irfansyah
PT. N adalah perusahaan baja di Indonesia yang berupaya menghasilkan produk-produk berkualitas. Di bagian CTCM ada 5 mesin penipis (pengurangan penebalan) yang memiliki kekuatan tekanan penipisan yang berbeda. Mesin las di lokasi CTCM yang paling sering mengalami kerusakan. Berdasarkan data kerusakan lokasi mesin las CTCM yang dimiliki oleh PT. N, perusahaan membutuhkan jadwal perawatan dan pemeliharaan mesin yang lebih baik dimana jadwal pemeliharaan dan perawatan diprioritaskan untuk jenis mesin yang paling banyak mengalami kerusakan, perusahaan menggunakan metode FTA untuk membantu memecahkan masalah perawatan mesin. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan metode FTA diketahui bahwa base event berjumlah 119 jenis kerusakan. Hasil pengolahan keseluruhan diketahui bahwa komponen B9 memiliki probabilitas kerusakan 0,0578, nilai probabilitas kerusakan komponen ini adalah probabilitas kerusakan komponen tertinggi pada tingkat dasar tingkat menengah pertama. Level kedua dari acara tingkat menengah dengan nilai probabilitas kerusakan terbesar adalah komponen (tukang las lokasi) dengan nilai probabilitas kerusakan 0.4690. Nilai probabilitas mesin CTCM dari 0,4690, jika dihitung dalam persen menjadi 53,09%. Berdasarkan perbedaan antara waktu perawatan yang diusulkan dan laporan kerusakan yang diperoleh perusahaan, perbedaannya adalah 9 hari, dan ada perbedaan dalam jumlah perawatan 8 kali.
PT. N是印尼一家试图生产高质量产品的钢铁公司。CTCM节中有5个抑制因子,其强度不同。CTCM现场的焊机经常损坏。根据PT. N所拥有的焊机现场损坏数据,该公司需要一个更好的引擎的维修时间表和维修时间表,在这些机器中,对受损伤最严重的类型的机器进行优先的维修和维护,该公司使用自由贸易协定方法来帮助解决机械维修问题。根据使用自由贸易协定法进行的数据处理,已知事件基线共有119种类型的损害。整体处理结果表明,B9组件有0.0578个损伤的概率,这些部件受损的概率是中级最低的基础上最高的。第二级中等损伤概率最大的事件是组件(现场焊工),其概率值为0.4690。机器的概率从0.4690减去CTCM,如果按百分比计算为53.09%。根据提议的治疗时间和公司的损坏报告之间的差异,差异是9天,治疗次数是8次。
{"title":"USULAN PERAWATAN MESIN CTCM LOCATION WELDING DENGAN METODE FTA (FAULT TREE ANALYSIS)","authors":"A. Syarifudin, Koid Irfansyah","doi":"10.47080/INTENT.V3I1.802","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/INTENT.V3I1.802","url":null,"abstract":"PT. N adalah perusahaan baja di Indonesia yang berupaya menghasilkan produk-produk berkualitas. Di bagian CTCM ada 5 mesin penipis (pengurangan penebalan) yang memiliki kekuatan tekanan penipisan yang berbeda. Mesin las di lokasi CTCM yang paling sering mengalami kerusakan. Berdasarkan data kerusakan lokasi mesin las CTCM yang dimiliki oleh PT. N, perusahaan membutuhkan jadwal perawatan dan pemeliharaan mesin yang lebih baik dimana jadwal pemeliharaan dan perawatan diprioritaskan untuk jenis mesin yang paling banyak mengalami kerusakan, perusahaan menggunakan metode FTA untuk membantu memecahkan masalah perawatan mesin. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan metode FTA diketahui bahwa base event berjumlah 119 jenis kerusakan. Hasil pengolahan keseluruhan diketahui bahwa komponen B9 memiliki probabilitas kerusakan 0,0578, nilai probabilitas kerusakan komponen ini adalah probabilitas kerusakan komponen tertinggi pada tingkat dasar tingkat menengah pertama. Level kedua dari acara tingkat menengah dengan nilai probabilitas kerusakan terbesar adalah komponen (tukang las lokasi) dengan nilai probabilitas kerusakan 0.4690. Nilai probabilitas mesin CTCM dari 0,4690, jika dihitung dalam persen menjadi 53,09%. Berdasarkan perbedaan antara waktu perawatan yang diusulkan dan laporan kerusakan yang diperoleh perusahaan, perbedaannya adalah 9 hari, dan ada perbedaan dalam jumlah perawatan 8 kali.","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"116 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-02-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114347223","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-02-19DOI: 10.47080/intent.v3i1.798
Tatan Zakaria, A. Juniarti
Ketel Uap adalah salah satu dari sekian banyak mesin konversi energi yang sangat diperlukan industri dan perusahaan. Baik sebagai mesin pembangkit listrik ataupun sebagai penghasil uap proses produksi. Untuk menghasilkan produksi uap air (steam), proses pembakaran dalam ruang bakar suatu ketel uap memerlukan bahan bakar. Bahan bakar ketel uap terdiri dari 3 karegori : Padat, Cair dan Gas. Bubling Fluidized Bed Boiler (BFBB) adalah salah satu dari sekian banyak tipe ketel uap, dimana untuk proses pembakaran di ruang bakar (furnace) memerlukan media pasir silika (Silica Sand). Kestabilan temperatur, spesifiksi pasir silika, keseimbangan udara pembakaran serta jenis batubara adalah persyaratan utama untuk beroperasinya ketel uap jenis ini. Salah satu bermasalah maka mengakibatkan ketel uap gagal beroperasi. Salah satu penyebab gagal beroperasinya ketel uap ini adalah diakibatkan pasir silika leleh (Silica Sand Melting). Data didapatkan sebelum perbaikan ada 16 kali kerusakan akibat pasir silika leleh. Dengan menganalisa akar penyebab masalah, melakukan perencanaan perbaikan, dan mengimplementasikan perbaikan dari tools pada metoda Total Quality Control, didapatkan hasil selama 7 bulan setelah perbaikan, ketel uap tidak terjadi gagal operasi karena pasir silika leleh (silica sand melting).
锅炉是工业和企业最需要的许多转换能源机器之一。无论是发电机,还是蒸汽生产过程。为了产生蒸汽,锅炉在燃烧室中燃烧需要燃料。锅炉燃料由3个等级:固体、液体和气体。Bubling fluidied Bed (BFBB)是众多锅炉之一,在燃烧过程中需要硅胶介质。温度的稳定性,spesifiksi硅砂、平衡空气燃烧煤炭是首要的条件为类型的这种类型的蒸汽锅炉。其中一个问题导致锅炉失败。这个锅炉运行失败的原因之一是硅砂融化。造成的数据得到改善之前,有16次硅砂消失了。通过分析问题的根源,进行的修复,并实施改进规划工具总质量控制方法,得到的结果7月修复后,锅炉操作失败,因为没有发生熔化硅砂(硅沙融化)。
{"title":"MENGATASI MASALAH SILICA SAND MELTING PADA KETEL UAP TEKANAN RENDAH (BUBLING FLUIDIZER BED) DENGAN MENGGUNAKAN TQM DI PT. DDD TANGERANG","authors":"Tatan Zakaria, A. Juniarti","doi":"10.47080/intent.v3i1.798","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/intent.v3i1.798","url":null,"abstract":"Ketel Uap adalah salah satu dari sekian banyak mesin konversi energi yang sangat diperlukan industri dan perusahaan. Baik sebagai mesin pembangkit listrik ataupun sebagai penghasil uap proses produksi. Untuk menghasilkan produksi uap air (steam), proses pembakaran dalam ruang bakar suatu ketel uap memerlukan bahan bakar. Bahan bakar ketel uap terdiri dari 3 karegori : Padat, Cair dan Gas. Bubling Fluidized Bed Boiler (BFBB) adalah salah satu dari sekian banyak tipe ketel uap, dimana untuk proses pembakaran di ruang bakar (furnace) memerlukan media pasir silika (Silica Sand). Kestabilan temperatur, spesifiksi pasir silika, keseimbangan udara pembakaran serta jenis batubara adalah persyaratan utama untuk beroperasinya ketel uap jenis ini. Salah satu bermasalah maka mengakibatkan ketel uap gagal beroperasi. Salah satu penyebab gagal beroperasinya ketel uap ini adalah diakibatkan pasir silika leleh (Silica Sand Melting). Data didapatkan sebelum perbaikan ada 16 kali kerusakan akibat pasir silika leleh. Dengan menganalisa akar penyebab masalah, melakukan perencanaan perbaikan, dan mengimplementasikan perbaikan dari tools pada metoda Total Quality Control, didapatkan hasil selama 7 bulan setelah perbaikan, ketel uap tidak terjadi gagal operasi karena pasir silika leleh (silica sand melting).","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"136 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-02-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115882273","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-11-21DOI: 10.47080/intent.v2i2.744
W. Gunawan
PT. KS merupakan produsen baja terbesar di indonesia memiliki beberapa fasilitas produksi baja dari hulu hingga hilir yang saling berkesinambungan. Untuk menunjang kelacaran produksi baja dari hulu hingga hilir, maka tata letak fasilitas harus diperhatikan agar terciptanya kegiatan produksi yang efektif dan efisien sehingga dapat bersaing dengan para kompetitor. Untuk menggapai harga produk yang murah dan berkualitas, maka pada suatu kegiatan produksi tidak dapat dipungkiri akan adanya kemunculan permasalahan (error) pada kegiatan produksi akibat kesalahan dalam perancangan tata letak fasilitas salah satu penyebab tingginya biaya operasional perusahaan. Penelitian ini difokuskan pada Hot Metal Treatment Plant yang memiliki 2 stasiun pengoperasian dan memiliki fungsi yang sama. penempatan tata letak fasilitas menggunakan konsep vertikal agar dapat memanfaatkan gaya grafitasi yg timbul. Dari lantai 7.5 hingga lantai 4 yang saling berkesinambungan namun terpisah antara stasiun1 dan stasiun 2. Untuk dapat mewujudkan terciptanya proses pekerjaan yang berkesinambungan, maka kedua stasiun harus memiliki ritme waktu kerja yang sama agar tidak terjadi delay produksi yang dapat memperhambat pada proses yang akan dilakukan selanjutnya sehingga dapat terwujudnya keseimbangan lintasan (Line Balancing) kerja pada semua lini produksi. Berdasarkan hasil analisa dan usulan perubahan standard operasional kerja maka di dapat nilai kesimbangan lintasan sebagai berikut; nilai balance delay terbaik sebesar turun menjadi 6,05% , Line Efisiensy naik menjadi 93,95%, Smootness Index turun enjadi 41,42 dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan berkurang menjadi 1 orang.
PT. KS是印尼最大的钢生产商,从上游到下游有几个连续的钢生产设施。为了促进从上到下的钢铁生产,必须对设备的布局进行协调,以创造有效和有效的生产活动,以便与竞争对手竞争。为了达到低质量、低成本的产品价格,不可否认的是,由于该设施的设计设计失误导致了生产过程中的“错误”。这项研究的重点是热金属Treatment Plant,它有两个站点在运行,功能相同。设备的布局采用垂直概念来利用产生的重力。从7楼5楼到4楼,第一站和2号站之间是连续但分开的。为了实现一个持续的就业过程,两个站点必须有相同的工作时间节奏,以防止生产延误,这可能会阻碍未来的生产进程,从而实现所有生产线上的工作轨迹平衡。根据分析结果和工作运行标准变化建议,我们可以在轨道上得到前后平衡值如下:它的平均延时率下降到6.05%,效率上升到93.95%,烟雾指数下降到41.42,所需的劳动力减少到一个人。
{"title":"USULAN PERBAIKAN KINERJA PROSES PRODUKSI HOT METAL TREATMENT PLANT DENGAN MENGGUNAKAN METODE KESEIMBANGAN LINTASAN (LINE BALANCING) DI PT.KS CILEGON","authors":"W. Gunawan","doi":"10.47080/intent.v2i2.744","DOIUrl":"https://doi.org/10.47080/intent.v2i2.744","url":null,"abstract":"PT. KS merupakan produsen baja terbesar di indonesia memiliki beberapa fasilitas produksi baja dari hulu hingga hilir yang saling berkesinambungan. Untuk menunjang kelacaran produksi baja dari hulu hingga hilir, maka tata letak fasilitas harus diperhatikan agar terciptanya kegiatan produksi yang efektif dan efisien sehingga dapat bersaing dengan para kompetitor. Untuk menggapai harga produk yang murah dan berkualitas, maka pada suatu kegiatan produksi tidak dapat dipungkiri akan adanya kemunculan permasalahan (error) pada kegiatan produksi akibat kesalahan dalam perancangan tata letak fasilitas salah satu penyebab tingginya biaya operasional perusahaan. Penelitian ini difokuskan pada Hot Metal Treatment Plant yang memiliki 2 stasiun pengoperasian dan memiliki fungsi yang sama. penempatan tata letak fasilitas menggunakan konsep vertikal agar dapat memanfaatkan gaya grafitasi yg timbul. Dari lantai 7.5 hingga lantai 4 yang saling berkesinambungan namun terpisah antara stasiun1 dan stasiun 2. Untuk dapat mewujudkan terciptanya proses pekerjaan yang berkesinambungan, maka kedua stasiun harus memiliki ritme waktu kerja yang sama agar tidak terjadi delay produksi yang dapat memperhambat pada proses yang akan dilakukan selanjutnya sehingga dapat terwujudnya keseimbangan lintasan (Line Balancing) kerja pada semua lini produksi. Berdasarkan hasil analisa dan usulan perubahan standard operasional kerja maka di dapat nilai kesimbangan lintasan sebagai berikut; nilai balance delay terbaik sebesar turun menjadi 6,05% , Line Efisiensy naik menjadi 93,95%, Smootness Index turun enjadi 41,42 dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan berkurang menjadi 1 orang.","PeriodicalId":276998,"journal":{"name":"Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-11-21","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134084053","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}