Fadia Anggraini Prayudistian, Sofia Nur Isma, M. Syahri, Moh. Fikri Zulfikar
This article aims to (1) provide detention and explanation related to Article 6 of the Indonesian journalism code of ethics that it is not allowed for Indonesian journalists both to abuse their professions and to accept bribes; (2) to provide explanations thatit is not permitted for professional journalists to receive gratuity, (3) to describe examples of violation cases of the Article 6 that the Indonesian journalists should not abuse their professionsas well as accept any bribes in the form of the online news writing discourses portal Kupastuntas.co. and Liputan6.com; and (4) to describe examples of cases related to the extra payment to journalists in the form of written discourses on the online news portal AyoBandung.com. This article uses a qualitative research method, in which data on cases of violations of the Article 6 on the online news portal Kupastuntas.co., Liputan6.com. and AyoBandung.com written descriptively.The data collected were secondary which were obtained by using observation techniques in the form of notes. Based on the presentation in this article, there are shown: (1) both the interpretation and the explanation of the Article 6; (2) the explanation of gratification; (3) examples of cases regarding Article 6; and (4) examples of cases of gratification. From the discussion and case examples presented, it was found that there was compatibility between the theory used and the case examples used.
{"title":"Wartawan Profesional dan Gratifikasi: Antara Hukum dan Realitas Sosial","authors":"Fadia Anggraini Prayudistian, Sofia Nur Isma, M. Syahri, Moh. Fikri Zulfikar","doi":"10.15408/jsj.v5i1.31477","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v5i1.31477","url":null,"abstract":"This article aims to (1) provide detention and explanation related to Article 6 of the Indonesian journalism code of ethics that it is not allowed for Indonesian journalists both to abuse their professions and to accept bribes; (2) to provide explanations thatit is not permitted for professional journalists to receive gratuity, (3) to describe examples of violation cases of the Article 6 that the Indonesian journalists should not abuse their professionsas well as accept any bribes in the form of the online news writing discourses portal Kupastuntas.co. and Liputan6.com; and (4) to describe examples of cases related to the extra payment to journalists in the form of written discourses on the online news portal AyoBandung.com. This article uses a qualitative research method, in which data on cases of violations of the Article 6 on the online news portal Kupastuntas.co., Liputan6.com. and AyoBandung.com written descriptively.The data collected were secondary which were obtained by using observation techniques in the form of notes. Based on the presentation in this article, there are shown: (1) both the interpretation and the explanation of the Article 6; (2) the explanation of gratification; (3) examples of cases regarding Article 6; and (4) examples of cases of gratification. From the discussion and case examples presented, it was found that there was compatibility between the theory used and the case examples used.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130105244","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Di masa pandemi berbagai organisasi kemanusiaan berperan serta mengedukasi masyarakat melalui beragam media, salah satunya adalah Palang Merah Indonesia dengan akun PMI TV (@pmitv17945). Terdapat 11 konten video PMI TV terkait edukasi kesehatan di masa pandemi COVID -19. Konten edukasi tersebut mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Kredibilitas PMI TV dalam memproduksi konten edukasi kesehatan terlihat melalui beberapa konten mereka yang kemudian digunakan sebagai materi edukasi oleh stasiun televisi nasional. Karena itu, tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan strategi tim produksi PMI TV dalam mengembangkan pesan edukasi kesehatan di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang di dalamnya semua informan ditentukan secara purposive. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, serta studi literatur. Sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan coding tematik. Hasil penelitian memperlihatkan ada tiga strategi yang dilakukan oleh tim produksi PMI TV dalam mengembangkan pesan edukasi di masa pandemi Covid-19, yaitu diseminasi pesan edukasi kesehatan melalui saluran media yang dapat diakses oleh target khalayak yang dituju dalam hal ini Youtube; adanya proses kolaborasi tim produksi PMI TV dengan berbagai pihak terkait produksi pesan edukasi kesehatan; serta upaya mempertahankan kredibilitas PMI TV sebagai komunikator yang berpengalaman di bidang kemanusiaan dan kesehatan sehingga pesan yang disampaikannya dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
{"title":"Strategi Produksi Televisi Palang Merah Indonesia Tentang Edukasi Kesehatan Pada Masa Pandemi COVID-19 melalui Media Sosial Youtube","authors":"Ayuga Kencono Putri, Nuria Astagini, M. Ramli","doi":"10.15408/jsj.v5i1.31707","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v5i1.31707","url":null,"abstract":"Di masa pandemi berbagai organisasi kemanusiaan berperan serta mengedukasi masyarakat melalui beragam media, salah satunya adalah Palang Merah Indonesia dengan akun PMI TV (@pmitv17945). Terdapat 11 konten video PMI TV terkait edukasi kesehatan di masa pandemi COVID -19. Konten edukasi tersebut mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Kredibilitas PMI TV dalam memproduksi konten edukasi kesehatan terlihat melalui beberapa konten mereka yang kemudian digunakan sebagai materi edukasi oleh stasiun televisi nasional. Karena itu, tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan strategi tim produksi PMI TV dalam mengembangkan pesan edukasi kesehatan di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang di dalamnya semua informan ditentukan secara purposive. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, serta studi literatur. Sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan coding tematik. Hasil penelitian memperlihatkan ada tiga strategi yang dilakukan oleh tim produksi PMI TV dalam mengembangkan pesan edukasi di masa pandemi Covid-19, yaitu diseminasi pesan edukasi kesehatan melalui saluran media yang dapat diakses oleh target khalayak yang dituju dalam hal ini Youtube; adanya proses kolaborasi tim produksi PMI TV dengan berbagai pihak terkait produksi pesan edukasi kesehatan; serta upaya mempertahankan kredibilitas PMI TV sebagai komunikator yang berpengalaman di bidang kemanusiaan dan kesehatan sehingga pesan yang disampaikannya dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"33 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124853704","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penulisan ini berangkat dari adanya sentimen agama dalam isu konflik Palestina-Israel di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana media nu.or.id atau yang biasa dikenal dengan sebutan NU Online sebagai media organisasi masyarakat Islam Indonesia mengkonstruksi pemberitaan konflik Palestina-Israel tersebut. Dengan menggunakan paradigma konstruksivis, pendekatan kualitatif dan model analisis framing Zhongdang Pan dan Kosicki, artikel ini menganalisis teks berita dengan empat struktur besar framing Zhongdang dan Kosicki, meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Adapun teori yang digunakan adalah teori konstruksi sosial atas realitas yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Artikel ini berargumen bahwa NU Online memiliki kecenderungan memposisikan pemberitaannya pada posisi dengan sikap dan definisi bahwa konflik Palestina-Israel bukan konflik yang berdasar pada sentimen agama. NU Online mendudukkan dan mendefinisikan konflik tersebut sebagai konflik penjajahan, konflik politik, dan aneksasi wilayah Palestina oleh Israel.
这篇文章是关于印度尼西亚社会中巴勒斯坦-以色列冲突的宗教感情。这篇文章的目的是了解新闻媒体nu.or,通常被称为印度尼西亚伊斯兰社会组织的在线媒体是如何构建巴勒斯坦冲突的报道的。利用构建模式、定性方法和框架分析模型的潘中中和基座分析,这篇文章分析新闻文本,其中包含句法、脚本、主题和修辞结构。至于所使用的理论,则是彼得•伯杰(Peter L. Berger)和托马斯•勒克曼(Thomas Luckman)提出的现实的社会结构理论。这篇文章认为,网上的NU倾向于将其声明摆出一种态度和定义,即巴勒斯坦-以色列冲突不是基于宗教感情的冲突。努在网上将这些冲突定义为以色列占领、政治冲突和巴勒斯坦领土吞并的冲突。
{"title":"Memahami Konflik Palestina-Israel dalam Bingkai Berita NU Online","authors":"Widya Islamiati, S. Rijal","doi":"10.15408/jsj.v4i2.28963","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v4i2.28963","url":null,"abstract":"Penulisan ini berangkat dari adanya sentimen agama dalam isu konflik Palestina-Israel di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana media nu.or.id atau yang biasa dikenal dengan sebutan NU Online sebagai media organisasi masyarakat Islam Indonesia mengkonstruksi pemberitaan konflik Palestina-Israel tersebut. Dengan menggunakan paradigma konstruksivis, pendekatan kualitatif dan model analisis framing Zhongdang Pan dan Kosicki, artikel ini menganalisis teks berita dengan empat struktur besar framing Zhongdang dan Kosicki, meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Adapun teori yang digunakan adalah teori konstruksi sosial atas realitas yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Artikel ini berargumen bahwa NU Online memiliki kecenderungan memposisikan pemberitaannya pada posisi dengan sikap dan definisi bahwa konflik Palestina-Israel bukan konflik yang berdasar pada sentimen agama. NU Online mendudukkan dan mendefinisikan konflik tersebut sebagai konflik penjajahan, konflik politik, dan aneksasi wilayah Palestina oleh Israel.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129402609","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Journalism is currently growing and developing with digital media. Digitization of journalism has penetrated into social media. Social media platforms on news can be used as news providers. Tiktok, Twitter, Facebook and Instagram are social media used in digital news. This study aims to determine the extent to which the role of social media Tiktok, Twitter, Facebook and Instagram is more accepted than conventional media in the news portals Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id. The online portals that are the object of research are Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id. This study uses a qualitative knife to dissect. The data collection technique in this study was the researcher observing the social media accounts of Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id. Furthermore, the researchers dig up information by interviewing the editors of Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id. The findings in this study conclude that Tiktok, Twitter, Facebook and Instagram are more accepted than conventional print media. The comment column is the most favorite thing for readers of the Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id portals on their respective social media. By using social media, it has the impact that the news is getting closer to the community, not at the exclusive level, but the news can be enjoyed egalitarianly.
{"title":"Media Sosial Sebagai Sumber Berita Altenatif","authors":"S. Rahmatullah, Retna Eni Dwi Yuliati","doi":"10.15408/jsj.v4i2.28966","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v4i2.28966","url":null,"abstract":"Journalism is currently growing and developing with digital media. Digitization of journalism has penetrated into social media. Social media platforms on news can be used as news providers. Tiktok, Twitter, Facebook and Instagram are social media used in digital news. This study aims to determine the extent to which the role of social media Tiktok, Twitter, Facebook and Instagram is more accepted than conventional media in the news portals Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id. The online portals that are the object of research are Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id. This study uses a qualitative knife to dissect. The data collection technique in this study was the researcher observing the social media accounts of Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id. Furthermore, the researchers dig up information by interviewing the editors of Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id. The findings in this study conclude that Tiktok, Twitter, Facebook and Instagram are more accepted than conventional print media. The comment column is the most favorite thing for readers of the Kompas.com, Tempo.co and Republika.co.id portals on their respective social media. By using social media, it has the impact that the news is getting closer to the community, not at the exclusive level, but the news can be enjoyed egalitarianly.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"398 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127519763","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Feby Sopyanti Nurhasanah, Ratu Arti Wulan Sari, Rizkita Kurnia Sari
Youtube hadir sebagai platform online yang berfungsi bukan hanya sebagai penyebar informasi dan hiburan namun juga sebagai tempat memperoleh keuntungan. Youtuber menjadi profesi yang menggiurkan dan berbagai konten dengan ide baru muncul setiap harinya. Salah satunya Kimbab Family, Keluarga Indonesia-Korea yang membuat konten tentang aktivitas sehari-hari dengan sentuhan budaya Korea. Menariknya, mereka juga sering membuat konten budaya Sunda. Konten ini paling banyak ditonton oleh pengguna youtube. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis konten tiga vlog Kimbab Family betemakan budaya Sunda. Teori yang digunakan adalah teori ekonomi politik yang menekankan pada konsep komodifikasi. Tujuan riset ini untuk mengetahui bagaimana komodifikasi konten, khalayak dan pekerja. Hasilnya menunjukkan terdapat komodifikasi konten baik disadari atau tidak oleh Kimbab Family, dengan cara mengemas budaya Sunda lewat makanan, dan kebiasaan yang disuguhkan ke keluarga Korea. Terdapat juga komodifikasi khalayak dengan cara mengikuti keinginan audiens sebagai dasar pembuatan konten sehingga konten disukai dan mendatangkan profit karena digital traffic meningkat. Terakhir, terdapat komodifikasi pekerja, yang melibatkan anggota Kimbab Family sendiri sebagai pekerja mandiri yang dengan tekanan tertentu harus harus menyediakan tontonan yang sesuai dengan selera penonton dan menghasilkan keuntungan. Namun demikian, pekerja memandang keuntungan yang akan mereka dapat sebanding dengan tekanan dalam produksi konten.
Youtube是一个在线平台,不仅可以作为信息和娱乐的传播,还可以作为一个盈利的网站。Youtuber已经成为一个诱人的职业,每天都充斥着新的想法。一个是韩国的韩国家庭金巴家庭,他们通过韩国文化的接触创造了日常活动的内容。有趣的是,他们也经常制作巽他文化内容。这是youtube用户观看次数最多的视频。这篇文章采用了一种定性方法,分析了三种vlog Kimbab Family betemdah文化的内容。使用的理论是强调强制修改概念的政治经济理论。本研究的目的是确定内容、观众和工作人员是如何协调的。结果表明,Kimbab Family是否意识到这些内容,通过在食物中包装Sunda文化,以及给韩国家庭带来的习惯。随着数字流量的增加,观众对内容的偏爱和利润的追求也有影响。最后,有一种合作,包括金巴家族成员作为一名自给自足的个体,他们必须提供符合观众口味和盈利的观看材料。然而,工人们认为他们的利润可以与内容生产的压力成正比。
{"title":"The Commodification of Sundanese Cultural Content on the Indonesian-Korean Kimbab Family Youtube","authors":"Feby Sopyanti Nurhasanah, Ratu Arti Wulan Sari, Rizkita Kurnia Sari","doi":"10.15408/jsj.v4i2.28965","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v4i2.28965","url":null,"abstract":"Youtube hadir sebagai platform online yang berfungsi bukan hanya sebagai penyebar informasi dan hiburan namun juga sebagai tempat memperoleh keuntungan. Youtuber menjadi profesi yang menggiurkan dan berbagai konten dengan ide baru muncul setiap harinya. Salah satunya Kimbab Family, Keluarga Indonesia-Korea yang membuat konten tentang aktivitas sehari-hari dengan sentuhan budaya Korea. Menariknya, mereka juga sering membuat konten budaya Sunda. Konten ini paling banyak ditonton oleh pengguna youtube. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis konten tiga vlog Kimbab Family betemakan budaya Sunda. Teori yang digunakan adalah teori ekonomi politik yang menekankan pada konsep komodifikasi. Tujuan riset ini untuk mengetahui bagaimana komodifikasi konten, khalayak dan pekerja. Hasilnya menunjukkan terdapat komodifikasi konten baik disadari atau tidak oleh Kimbab Family, dengan cara mengemas budaya Sunda lewat makanan, dan kebiasaan yang disuguhkan ke keluarga Korea. Terdapat juga komodifikasi khalayak dengan cara mengikuti keinginan audiens sebagai dasar pembuatan konten sehingga konten disukai dan mendatangkan profit karena digital traffic meningkat. Terakhir, terdapat komodifikasi pekerja, yang melibatkan anggota Kimbab Family sendiri sebagai pekerja mandiri yang dengan tekanan tertentu harus harus menyediakan tontonan yang sesuai dengan selera penonton dan menghasilkan keuntungan. Namun demikian, pekerja memandang keuntungan yang akan mereka dapat sebanding dengan tekanan dalam produksi konten.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"51 1-2","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132845465","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kehadiran vaksin AstraZeneca di Indonesia menuai kontroversi. Kontroversi tersebut dimulai dari dikeluarkannya fatwa haram MUI karena ada kandungan tripsin babi dalam proses produksi. Hal ini menimbulkan respon beragam dari masyarakat, termasuk keragaman pandangan pada pemberitaan di media massa tentang isu tersebut. Untuk itu, riset ini ingin melihat bagaimana kontruksi isu tentang kontroversi fatwa haram MUI untuk vaksin AstraZeneca pada media Islami.co dan Kompas.com.Metode yang digunakan adalah analisis framing model Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki.Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan framing pada kedua media. Islami.co membingkai pemberitaan dengan mengajak pembaca untuk diskusi ilmu. Islami.co ingin menyampaikan bahwa vaksin AstraZeneca boleh untuk digunakan karena adanya fatwa halal dari pihak lain sehingga fatwa haram MUI bukanlah satu-satunya acuan masyarakat untuk menentukan keputusan. Sebaliknya Kompas.com membingkai pemberitaan dengan menekankan pada himbauan bahwa adanya fatwa haram MUI tidak seharusnya menjadikan masyarakat ragu untuk vaksinasi. Temuan lain menunjukkan bahwa perbedaan kedua media dalam konstruksi fatwa haram vaksin sekaligus menjelaskan adanya strategi pengemasan isu yang khas dan berbeda sesuai dengan kepentingan masing-masing media.
印度尼西亚的星体射疫苗的出现引起了争议。争议始于发令令上的“haram”,因为其生产中含有三硝基苯。这引起了不同社区的反应,包括媒体对这一问题的不同看法。为此,这项研究想看看伊斯兰媒体上阿斯特拉泽内卡疫苗的争议问题有多复杂。使用的方法是Zhondang Pan和Gerald M. Kosicki框架分析。研究表明,这两种媒体的框架存在差异。伊斯兰。通过邀请读者进行科学讨论来构建新闻发布会。伊斯兰。co希望传达的是,AstraZeneca疫苗之所以可以使用,是因为另一方有清真教令,因此,梅氏教令并不是唯一的公共决策参考。相反,指南针网以强调伊斯兰教法令的要求为其辩护,而不是让人们对接种疫苗犹豫不决。另一项研究表明,媒体在疫苗教令结构上的差异,并解释了根据各自媒体的利益而独特和不同问题的包装策略。
{"title":"Konstruksi Kontroversi Fatwa Haram Vaksin Astra Zeneca oleh MUI di Media Daring","authors":"Husnun Nadiya Sholihatunnisa, Musfiroh Nurlaili","doi":"10.15408/jsj.v4i2.28967","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v4i2.28967","url":null,"abstract":"Kehadiran vaksin AstraZeneca di Indonesia menuai kontroversi. Kontroversi tersebut dimulai dari dikeluarkannya fatwa haram MUI karena ada kandungan tripsin babi dalam proses produksi. Hal ini menimbulkan respon beragam dari masyarakat, termasuk keragaman pandangan pada pemberitaan di media massa tentang isu tersebut. Untuk itu, riset ini ingin melihat bagaimana kontruksi isu tentang kontroversi fatwa haram MUI untuk vaksin AstraZeneca pada media Islami.co dan Kompas.com.Metode yang digunakan adalah analisis framing model Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki.Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan framing pada kedua media. Islami.co membingkai pemberitaan dengan mengajak pembaca untuk diskusi ilmu. Islami.co ingin menyampaikan bahwa vaksin AstraZeneca boleh untuk digunakan karena adanya fatwa halal dari pihak lain sehingga fatwa haram MUI bukanlah satu-satunya acuan masyarakat untuk menentukan keputusan. Sebaliknya Kompas.com membingkai pemberitaan dengan menekankan pada himbauan bahwa adanya fatwa haram MUI tidak seharusnya menjadikan masyarakat ragu untuk vaksinasi. Temuan lain menunjukkan bahwa perbedaan kedua media dalam konstruksi fatwa haram vaksin sekaligus menjelaskan adanya strategi pengemasan isu yang khas dan berbeda sesuai dengan kepentingan masing-masing media.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"80 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126335694","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
This article aims to examine the use of social media by television journalists in Indonesia (Kompas TV) in the broadcast production process and the implications for changing the influence of the media on the public agenda. This research uses an agenda-setting perspective in the internet era and an in-depth interview method with senior journalists and broadcast producers. The results show that using social by journalists includes pre-production to post-production activities. From the type of information source, journalists often use four social media accounts: social media accounts belonging to influencers, community leaders (politicians, observers, or academics), institutions, and communities. This study also shows that conversations on social media are a means for the press to find issues of public concern and ultimately affect news content. Furthermore, this study supports the concept of a reversed-agenda setting in that the media is no longer dominant in determining the public agenda. On the other hand, the public has the power to decide on their agenda, not depending on the media. Public opinion often influences media coverage. Moreover, the logic of the digital space that emphasizes user engagement as a measure of popularity makes taking sides with the public important to increase digital traffic and has the potential to provide economic benefits. In addition, this research also finds that journalists often access social media accounts belonging to mainstream media as a source of information rather than visiting news sites owned by the media. It shows that social media allows for a more significant intermedia agenda-setting effect.
{"title":"The Uses of Social Media in Journalism Practices: The Reversed-Agenda Setting on Television News Production","authors":"Bintan Humeira, Andika Ramadhan","doi":"10.15408/jsj.v4i2.28964","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v4i2.28964","url":null,"abstract":"This article aims to examine the use of social media by television journalists in Indonesia (Kompas TV) in the broadcast production process and the implications for changing the influence of the media on the public agenda. This research uses an agenda-setting perspective in the internet era and an in-depth interview method with senior journalists and broadcast producers. The results show that using social by journalists includes pre-production to post-production activities. From the type of information source, journalists often use four social media accounts: social media accounts belonging to influencers, community leaders (politicians, observers, or academics), institutions, and communities. This study also shows that conversations on social media are a means for the press to find issues of public concern and ultimately affect news content. Furthermore, this study supports the concept of a reversed-agenda setting in that the media is no longer dominant in determining the public agenda. On the other hand, the public has the power to decide on their agenda, not depending on the media. Public opinion often influences media coverage. Moreover, the logic of the digital space that emphasizes user engagement as a measure of popularity makes taking sides with the public important to increase digital traffic and has the potential to provide economic benefits. In addition, this research also finds that journalists often access social media accounts belonging to mainstream media as a source of information rather than visiting news sites owned by the media. It shows that social media allows for a more significant intermedia agenda-setting effect.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131313112","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi salah satu stasiun televisi swasta yaitu BeritaSatu Tv dimasa pandemik. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif sedangkan metode pengumpulan datanya dengan wawancara mendalam dan sumber kepustakaan. Teori yang digunakan dalam peneltian ini adalah teori ekonomi media milik Robert G. Picard. Robert G. Picard menggaris bawahi bahwa studi ekonomi media mempelajari bagaimana tekanan ekonomi dan keuangan membawa dampak yang beragam kepada aktivitas, sistem, organisasi, dan perusahaan media serta telekomunikasi. Picard membagi tradisi yang berkembang didalam kajian ekonomi media menjadi tiga,yaitu; tradisi teoritis (theoretical), tradisi terpaan(applied), dan tradisi kritis (critical). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa pandemik ini sangat berpengaruh terhadap industri media yang salah satunya adalah media televisi, khususnya BeritaSatu TV. Yang dimana perusahaan melakukan beberapa hal untuk bisa mempertahankan eksistensinya, diantaranya melakukan koevolusi yaitu merambah kepada new media, lalu melakukan rasionalisasi yaitu pengurangan karyawan dan menekan angka pengeluaran pada produksi program yang membutuhkan biaya yang besar.
这项研究的目的是分析某一家私人电视台在大流行期间播出的故事。所使用的方法是描述性质的研究,而数据收集方法具有深入的采访和文献来源。这项研究使用的理论是罗伯特·G·皮卡德的媒体经济理论。Robert G. Picard指出,媒体经济研究研究了经济和金融压力是如何对活动、系统、组织、媒体和电信产生多种影响的。皮卡德将媒体经济研究中的发展传统分为三部分:理论传统,应用传统和批判性传统。研究结果表明,这一大萧条对媒体行业产生了巨大的影响,其中之一就是电视媒体,尤其是电视新闻。这是一家公司在维持其存在方面所做的一些事情,其中包括与新媒体进行联合进化,然后是一种合理化的做法,即削减劳动力,抑制成本高昂的项目生产成本的成本。
{"title":"Media Economics During The Pandemic: Study Case of Beritasatu TV","authors":"Pia Khoirotun Nisa, Iis Iswatunnisa","doi":"10.15408/jsj.v4i2.28968","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v4i2.28968","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi salah satu stasiun televisi swasta yaitu BeritaSatu Tv dimasa pandemik. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif sedangkan metode pengumpulan datanya dengan wawancara mendalam dan sumber kepustakaan. Teori yang digunakan dalam peneltian ini adalah teori ekonomi media milik Robert G. Picard. Robert G. Picard menggaris bawahi bahwa studi ekonomi media mempelajari bagaimana tekanan ekonomi dan keuangan membawa dampak yang beragam kepada aktivitas, sistem, organisasi, dan perusahaan media serta telekomunikasi. Picard membagi tradisi yang berkembang didalam kajian ekonomi media menjadi tiga,yaitu; tradisi teoritis (theoretical), tradisi terpaan(applied), dan tradisi kritis (critical). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa pandemik ini sangat berpengaruh terhadap industri media yang salah satunya adalah media televisi, khususnya BeritaSatu TV. Yang dimana perusahaan melakukan beberapa hal untuk bisa mempertahankan eksistensinya, diantaranya melakukan koevolusi yaitu merambah kepada new media, lalu melakukan rasionalisasi yaitu pengurangan karyawan dan menekan angka pengeluaran pada produksi program yang membutuhkan biaya yang besar.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134049913","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
The presence of podcasts is a form of development of radio journalism practice in the era of convergence. This article discusses three podcast programs on Tempo media: Berita Utama Koran Tempo, Apa Kabar Tempo, and Celetuk Bahasa Tempo. This article uses a qualitative approach to examine how the play on-demand aspect as one of a podcast's characteristics works in radio journalism practices. The results show that three Tempo podcast content applies content production practices that cannot be separated from the character of radio media, such as auditive, emphasizing conversation, at a glance, and global. The article also shows that although podcasts come with the concept of play on-demand that allows listeners to re-listen to old episodes, podcasts have not succeeded in building interaction between the mass media and their listeners. Thus, interactivity as one of the characteristics of radio journalism has not been fully present in this podcast.
播客的出现是融合时代广播新闻实践的一种发展形式。本文讨论Tempo媒体上的三个播客节目:Berita Utama Koran Tempo, Apa Kabar Tempo和Celetuk Bahasa Tempo。本文使用定性方法来研究作为播客特征之一的播放点播方面如何在广播新闻实践中发挥作用。结果表明,Tempo播客的三种内容都采用了与广播媒体的特征不可分割的内容生产实践,如倾听性、强调对话性、一目了然性和全球性。这篇文章还表明,尽管播客有按需播放的概念,允许听众重新收听旧剧集,但播客并没有成功地在大众媒体和听众之间建立互动。因此,互动性作为广播新闻的特征之一,并没有在本播客中得到充分体现。
{"title":"Podcast Sebagai Media Alternatif Praktik Jurnalistik Radio oleh Tempo","authors":"Fauziah Muslimah","doi":"10.15408/jsj.v4i1.25847","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v4i1.25847","url":null,"abstract":"The presence of podcasts is a form of development of radio journalism practice in the era of convergence. This article discusses three podcast programs on Tempo media: Berita Utama Koran Tempo, Apa Kabar Tempo, and Celetuk Bahasa Tempo. This article uses a qualitative approach to examine how the play on-demand aspect as one of a podcast's characteristics works in radio journalism practices. The results show that three Tempo podcast content applies content production practices that cannot be separated from the character of radio media, such as auditive, emphasizing conversation, at a glance, and global. The article also shows that although podcasts come with the concept of play on-demand that allows listeners to re-listen to old episodes, podcasts have not succeeded in building interaction between the mass media and their listeners. Thus, interactivity as one of the characteristics of radio journalism has not been fully present in this podcast.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"38 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-04-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114424313","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Law No. 19 of 2016 electronic information and transactions has caused an overlapping issue in journalism. However, there is Law No. 40 of 1999, which regulates and guarantees press freedom. Unfortunately, many journalists have become a victim of the Law itself. Such a condition will distort Indonesia’s public sphere, where journalism is a supportive instrument. As per Foucault’s panopticon theory, the researcher sees this Law as a supervision instrument to monitor the activity of Indonesia’s press so that they do not produce such a critical news point of view and eventually threaten the authorities. This article uses a narrative approach to break down the relationship between Indonesian Electronic Information and Transactions. The result shows that this Law can either be a supervision instrument. Nevertheless, on the other hand, for journalists, this will potentially limit their freedom since the authorities see their activity as a threat to the government.
{"title":"Dilema Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam Praktik Jurnalisme: Tinjauan dari Teori Panoptikon","authors":"Indi Hikami","doi":"10.15408/jsj.v4i1.25846","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/jsj.v4i1.25846","url":null,"abstract":"Law No. 19 of 2016 electronic information and transactions has caused an overlapping issue in journalism. However, there is Law No. 40 of 1999, which regulates and guarantees press freedom. Unfortunately, many journalists have become a victim of the Law itself. Such a condition will distort Indonesia’s public sphere, where journalism is a supportive instrument. As per Foucault’s panopticon theory, the researcher sees this Law as a supervision instrument to monitor the activity of Indonesia’s press so that they do not produce such a critical news point of view and eventually threaten the authorities. This article uses a narrative approach to break down the relationship between Indonesian Electronic Information and Transactions. The result shows that this Law can either be a supervision instrument. Nevertheless, on the other hand, for journalists, this will potentially limit their freedom since the authorities see their activity as a threat to the government.","PeriodicalId":338967,"journal":{"name":"Jurnal Studi Jurnalistik","volume":"327 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-04-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124616755","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}