Pub Date : 2022-03-21DOI: 10.22225/wicaksana.6.1.2022.39-46
Putu Nita Cahyawati
Indonesia adalah masyarakat multikultural. Indonesia memiliki tradisi dan kebudayaan yang beranekaragam Keanekaragaman budaya Indonesia merupakan kekayaan yang berkembang secara berkelanjutan dan menyatukan kemajemukan yang ada. Saat ini banyak penelitian dan wacana yang menilai serta membahas fenomena perubahan dan pergeseran budaya yang diakibatkan oleh pengaruh globalisasi. Tinjauan pustaka ini berfokus pada eksistesi dan quo vadis kebudayaan nusantara di tengah arus globalisasi. Globalisasi menimbulkan dampak positif dan negatif, secara tidak langsung mempengaruhi kebudayaan nusantara. Diperlukan upaya internal guna meminimalisir efek negative globalisasi agar kebudayaan nusantara tetap lestari. Menanamkan pendidikan karakter dan mengembangkan kearifan lokal merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan. Dengan mengedepankan filsafat nusantara dan pendalamam nilai-nilai kearifan lokal di setiap wilayah dalam bidang sosial, budaya, dan pendidikan, diharapkan menjadi pendukung yang kuat guna mencegah hilangnya kebudayaan nusantara.
{"title":"QUO VADIS KEBUDAYAAN NUSANTARA","authors":"Putu Nita Cahyawati","doi":"10.22225/wicaksana.6.1.2022.39-46","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.6.1.2022.39-46","url":null,"abstract":"Indonesia adalah masyarakat multikultural. Indonesia memiliki tradisi dan kebudayaan yang beranekaragam Keanekaragaman budaya Indonesia merupakan kekayaan yang berkembang secara berkelanjutan dan menyatukan kemajemukan yang ada. Saat ini banyak penelitian dan wacana yang menilai serta membahas fenomena perubahan dan pergeseran budaya yang diakibatkan oleh pengaruh globalisasi. Tinjauan pustaka ini berfokus pada eksistesi dan quo vadis kebudayaan nusantara di tengah arus globalisasi. Globalisasi menimbulkan dampak positif dan negatif, secara tidak langsung mempengaruhi kebudayaan nusantara. Diperlukan upaya internal guna meminimalisir efek negative globalisasi agar kebudayaan nusantara tetap lestari. Menanamkan pendidikan karakter dan mengembangkan kearifan lokal merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan. Dengan mengedepankan filsafat nusantara dan pendalamam nilai-nilai kearifan lokal di setiap wilayah dalam bidang sosial, budaya, dan pendidikan, diharapkan menjadi pendukung yang kuat guna mencegah hilangnya kebudayaan nusantara.","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-21","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126414284","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-03-21DOI: 10.22225/wicaksana.6.1.2022.32-38
I. W. S. Luxiana, I. W. Parwata, Agus Kurniawan
Bale Daja merupakan bangunan berbetuk bujur sangkar dan memakai kontruksi atap limasan. Jumlah tiang pada bangunan Bale Daja berjumlah 12 buah empat tiang berderet di depan dan delapan tiang berada di dalam bangunan. Seiring perkembangan jaman dan teknologi Bale Daja bertransformasi dari Bale saka roras menjadi saka epat dimana didalamnya diganti dengan struktur beton bertulang. Struktur beton bertulang memberikan dampak signifikan baik dari kecepatan produksi, kecepatan kinerja, dan efisiensi biaya. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat memberikan struktur beton bertulang yang diterapkan pada Bale Daja, baik secara dimensi, dan proses pembuatanya dan memberikan manfaat tanpa mengurangi nilai-nilai historis dari bale daja tersebut. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan membuat model struktur, model kolom dan balok dimana sistematika perencanaan diuraikan dengan diagram alur. Hasil atau kesimpulan dimensi balok B= 1/12 x O, lebar balok R = ½ x B, besar kolom J = R + (2x I), lebar Pondasi S = ½ t
贝尔·达亚是一个长方形建筑,使用五顶建筑。贝尔达雅的圆柱共有12个,4个,8个。随着时间的发展和贝尔达亚技术的发展,它从一个二重身贝尔变成了一个快速的二重身,在那里它被钢筋混凝土结构所取代。钢筋混凝土结构对生产速度、性能速度和成本效率都有显著的影响。这项研究的目的是,能够在不损害贝尔·达贾历史价值的情况下,为巴勒·达贾提供适用于其尺寸和精制过程的钢筋混凝土结构。方法是定量方法,创建结构模型、列模型和梁模型,用流程图来描述规划系统。结果或结论维度光束B = 12 / 1 x O型,宽梁x R =½B栏,大J = R (2x + I),宽基础t S =½
{"title":"STRUKTUR BETON BERTULANG PADA BALE DAJA","authors":"I. W. S. Luxiana, I. W. Parwata, Agus Kurniawan","doi":"10.22225/wicaksana.6.1.2022.32-38","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.6.1.2022.32-38","url":null,"abstract":"Bale Daja merupakan bangunan berbetuk bujur sangkar dan memakai kontruksi atap limasan. Jumlah tiang pada bangunan Bale Daja berjumlah 12 buah empat tiang berderet di depan dan delapan tiang berada di dalam bangunan. Seiring perkembangan jaman dan teknologi Bale Daja bertransformasi dari Bale saka roras menjadi saka epat dimana didalamnya diganti dengan struktur beton bertulang. Struktur beton bertulang memberikan dampak signifikan baik dari kecepatan produksi, kecepatan kinerja, dan efisiensi biaya. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat memberikan struktur beton bertulang yang diterapkan pada Bale Daja, baik secara dimensi, dan proses pembuatanya dan memberikan manfaat tanpa mengurangi nilai-nilai historis dari bale daja tersebut. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan membuat model struktur, model kolom dan balok dimana sistematika perencanaan diuraikan dengan diagram alur. Hasil atau kesimpulan dimensi balok B= 1/12 x O, lebar balok R = ½ x B, besar kolom J = R + (2x I), lebar Pondasi S = ½ t","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"52 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-21","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127107781","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-03-21DOI: 10.22225/wicaksana.6.1.2022.9-16
N. Wardani
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat global karena prevalensinya cendrung meningkat, prognosis yang buruk dan memerlukan biaya tinggi bila sudah memerlukan tindakan terapi pengganti ginjal. Peningkatan prevalensi PGK seiring dengan meningkatnya jumlah penyakit diabetes melitus dan hipertensi. Sekitar 1 dari 10 populasi global mengalami penyakit pada stadium tertentu. Data Indonesian Renal Registry tahun 2018 mendapatkan 132.000 pasien yang aktif menjalani dialisis dengan penyebab terbanyak adalah Diabetes Mellitus dan Hipertensi yaitu 64%. Perawatan penyakit ginjal memerlukan biaya yang tinggi. Di Indonesia, biaya perawatan penyakit ginjal menempati ranking kedua pembiayaan terbesar BPJS kesehatan setelah penyakit jantung. Dengan adanya peningkatan jumlah pasien Diabetes Melitus dan Hipertensi maka makin banyak pasien yang memerlukan tindakan dialisis, sehingga diperlukan upaya untuk melakukan pencegahan penyakit ginjal. Pencegahan penyakit ginjal dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengetahuan pasien Diabetes Mellitus dan hipertensi tentang pola hidup sehat dan deteksi dini penyakit ginjal dengan melakukan pemeriksaan urinalisis. Pencegahan dilakukan dengan melakukan tatap muka langsung dengan pasien dan diberikan penjelasan tentang bahaya penyakit ginjal dan cara pencegahannya, selanjutnya diberi leaflet untuk meningkatkan pemahaman pasien. Hasil kegiatan mendapatkan ada 60 orang pasien Diabetes dan Hipertensi yang berpartisipasi dalam program PKM ini dan didapatkan rerata peningkatan pengetauan pasien Diabetes dan Hipertensi tentang penyakit ginjal dan cara pencegahannya adalah 84.03 % dan terdeteksi adanya tanda penyakit ginjal kronik pada 50 persen pasien DM dan hipertensi yang berobat ke poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sanjiwani Gianyar yang perlu di lakukan tindak lanjut dalam penanganan pasien tersebut.
{"title":"PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT GINJAL PASIEN DIABETES DAN HIPERTENSI DI RSUD SANJIWANI GIANYAR","authors":"N. Wardani","doi":"10.22225/wicaksana.6.1.2022.9-16","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.6.1.2022.9-16","url":null,"abstract":"Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat global karena prevalensinya cendrung meningkat, prognosis yang buruk dan memerlukan biaya tinggi bila sudah memerlukan tindakan terapi pengganti ginjal. Peningkatan prevalensi PGK seiring dengan meningkatnya jumlah penyakit diabetes melitus dan hipertensi. Sekitar 1 dari 10 populasi global mengalami penyakit pada stadium tertentu. Data Indonesian Renal Registry tahun 2018 mendapatkan 132.000 pasien yang aktif menjalani dialisis dengan penyebab terbanyak adalah Diabetes Mellitus dan Hipertensi yaitu 64%. Perawatan penyakit ginjal memerlukan biaya yang tinggi. Di Indonesia, biaya perawatan penyakit ginjal menempati ranking kedua pembiayaan terbesar BPJS kesehatan setelah penyakit jantung. Dengan adanya peningkatan jumlah pasien Diabetes Melitus dan Hipertensi maka makin banyak pasien yang memerlukan tindakan dialisis, sehingga diperlukan upaya untuk melakukan pencegahan penyakit ginjal. Pencegahan penyakit ginjal dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengetahuan pasien Diabetes Mellitus dan hipertensi tentang pola hidup sehat dan deteksi dini penyakit ginjal dengan melakukan pemeriksaan urinalisis. Pencegahan dilakukan dengan melakukan tatap muka langsung dengan pasien dan diberikan penjelasan tentang bahaya penyakit ginjal dan cara pencegahannya, selanjutnya diberi leaflet untuk meningkatkan pemahaman pasien. Hasil kegiatan mendapatkan ada 60 orang pasien Diabetes dan Hipertensi yang berpartisipasi dalam program PKM ini dan didapatkan rerata peningkatan pengetauan pasien Diabetes dan Hipertensi tentang penyakit ginjal dan cara pencegahannya adalah 84.03 % dan terdeteksi adanya tanda penyakit ginjal kronik pada 50 persen pasien DM dan hipertensi yang berobat ke poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sanjiwani Gianyar yang perlu di lakukan tindak lanjut dalam penanganan pasien tersebut.","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"83 4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-21","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132834072","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-07DOI: 10.22225/wicaksana.5.2.2021.58-64
P. I. Apsari, N. W. Widhidewi
Sejak terjadinya pandemi Corona Virus Disease 19 di Indonesia, terjadi perubahan peraturan pembukaan tempat umum utamanya pasar. Aturan ini diterapkan untuk megurangi kontak pembeli dengan pedagang untuk memutus rantai penularan Covid-19 di pasar akibatnya adalah penurunan pendapatan pedagang. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah menyasar Pasar Yadnya sebagai sasaran pengabdian PKM penerapan protokol kesehatan. Metode yang digunakan adalah survey, observasi, melakukan pemetaan, menentukan dan menetapkan kelompok pedagang pasar Yadnya yang menjadi peserta. Untuk menambah kelengkapan data, kami melakukan wawancara dengan Kepala pasar yang mengetahui bagaimana aktivitas pedagang dan pembeli di pasar tersebut. Pelaksanaan kegiatan meliputi pembuatan sekat transparan yang akan membatasi transmisi droplet pembeli dan penjual, pengaturan jarak dengan memasang tanda silang pada tempat-tempat tertentu, penyediaan wastafel dan air untuk cuci tangan, penerapan aturan skrining dengan termogun di depan pasar, pembagian masker standar yang disarankan oleh WHO, penyuluhan dan pelatihan cara cuci tangan 6 langkah dengan teknik tanpa sentuh. Kesimpulan terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melaksanakan protokol kesehatan.
{"title":"PKM KELOMPOK PEDAGANG PASAR DALAM PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN","authors":"P. I. Apsari, N. W. Widhidewi","doi":"10.22225/wicaksana.5.2.2021.58-64","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.5.2.2021.58-64","url":null,"abstract":"Sejak terjadinya pandemi Corona Virus Disease 19 di Indonesia, terjadi perubahan peraturan pembukaan tempat umum utamanya pasar. Aturan ini diterapkan untuk megurangi kontak pembeli dengan pedagang untuk memutus rantai penularan Covid-19 di pasar akibatnya adalah penurunan pendapatan pedagang. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah menyasar Pasar Yadnya sebagai sasaran pengabdian PKM penerapan protokol kesehatan. Metode yang digunakan adalah survey, observasi, melakukan pemetaan, menentukan dan menetapkan kelompok pedagang pasar Yadnya yang menjadi peserta. Untuk menambah kelengkapan data, kami melakukan wawancara dengan Kepala pasar yang mengetahui bagaimana aktivitas pedagang dan pembeli di pasar tersebut. Pelaksanaan kegiatan meliputi pembuatan sekat transparan yang akan membatasi transmisi droplet pembeli dan penjual, pengaturan jarak dengan memasang tanda silang pada tempat-tempat tertentu, penyediaan wastafel dan air untuk cuci tangan, penerapan aturan skrining dengan termogun di depan pasar, pembagian masker standar yang disarankan oleh WHO, penyuluhan dan pelatihan cara cuci tangan 6 langkah dengan teknik tanpa sentuh. Kesimpulan terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melaksanakan protokol kesehatan.","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"367 ","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"120939892","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-07DOI: 10.22225/wicaksana.5.2.2021.81-86
Erminilda Alvionita Lehot, Luh Kade Datrini, I. P. Manuaba
Pada riset yang sedang saya buat ini menjelasakan tentang judul yang dibuat ini. Yang dimana meneruskan suatu masalah untuk bisa dikaji lebih dalam pada riset yang saya buat ini dimana apakah pemahaman good governance, ketidakjelasan peran, komitmen organisasi, kerahasiaan dan locus of control berpengaruh pada kinerja auditor. Serta pada saat melakukan sebuah riset sudah mencari data untuk bisa diteliti dan untuk dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner. Dengan menggunakan jenis data yang bisa digunakan pada saat meneliti dengan menggunakan data kuantitatif. Dan pada saat melakukan riset mendapatkan jumlah sampel sebanyak 88 responden yang bisa ditentukan dengan menggunakan jawaban sampel jenuh. Dimana pada saat melakukan penelitian sudah bisa menggunakan teknik analisis data serta data yang digunakan pada riset tersebut yaitu uji instrumen, lalu asumsi klasik, dan terakhir uji hipotesis. Dan dari semua hasil telah mendapatkan jawaban dan kesimpulan bahwa good governance berpengaruh terhadap kinerja auditor. Pada jawaban ketidakjelasan peran tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Sedangkan jawaban dari komitmen organisasi juga tidak berpengaruh terhadap kinerja. Dan pada kerahasiaan mendapatkan jawaban adanya pengaruh positif terhadap kinerja. Sedangkan pada locus of control mendapatkan jawaban adanya pengaruh positif terhadap kinerja.
{"title":"FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA AUDITOR INTERNAL PEMERINTAH DAERAH PADA BPKP RI PERWAKILAN PROVINSI BALI","authors":"Erminilda Alvionita Lehot, Luh Kade Datrini, I. P. Manuaba","doi":"10.22225/wicaksana.5.2.2021.81-86","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.5.2.2021.81-86","url":null,"abstract":"Pada riset yang sedang saya buat ini menjelasakan tentang judul yang dibuat ini. Yang dimana meneruskan suatu masalah untuk bisa dikaji lebih dalam pada riset yang saya buat ini dimana apakah pemahaman good governance, ketidakjelasan peran, komitmen organisasi, kerahasiaan dan locus of control berpengaruh pada kinerja auditor. Serta pada saat melakukan sebuah riset sudah mencari data untuk bisa diteliti dan untuk dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner. Dengan menggunakan jenis data yang bisa digunakan pada saat meneliti dengan menggunakan data kuantitatif. Dan pada saat melakukan riset mendapatkan jumlah sampel sebanyak 88 responden yang bisa ditentukan dengan menggunakan jawaban sampel jenuh. Dimana pada saat melakukan penelitian sudah bisa menggunakan teknik analisis data serta data yang digunakan pada riset tersebut yaitu uji instrumen, lalu asumsi klasik, dan terakhir uji hipotesis. Dan dari semua hasil telah mendapatkan jawaban dan kesimpulan bahwa good governance berpengaruh terhadap kinerja auditor. Pada jawaban ketidakjelasan peran tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Sedangkan jawaban dari komitmen organisasi juga tidak berpengaruh terhadap kinerja. Dan pada kerahasiaan mendapatkan jawaban adanya pengaruh positif terhadap kinerja. Sedangkan pada locus of control mendapatkan jawaban adanya pengaruh positif terhadap kinerja.","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"31 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123873357","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-07DOI: 10.22225/wicaksana.5.2.2021.87-91
Putu Nita Cahyawati, N. K. E. Saniathi
Petugas kebersihan merupakan salah satu tenaga yang sangat penting dalam pelayanan di klinik, puskesmas, maupun di rumah sakit. Hal ini dikarenakan tempat tersebut merupakan lokasi berkumpulnya orang sakit maupun sehat. Kondisi ini menyebabkan tingginya risiko penularan penyakit infeksi di tempat ini, termasuk terjadinya pencemaran lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku hidup bersih dan sehat khususnya bagi para petugas kebersihan di tempat pelayanan kesehatan. Instrumen yang digunakan pada kegiatan ini adalah kusioner. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner, temukan bahwa seluruh responden telah menggunakan masker saat melakukan aktivitas di luar rumah. Walaupun demikian, belum seluruh responden dapat mempertahankan untuk tidak membukan masker saat bekerja. Perilaku hidup dan sehat di lingkungan keluarga juga belum diterapkan sesuai protokol yang dianjurkan dan belum diterapkan secara konsisten. Dengan demikian, dapat dismpulkan bahwa penerapkan perilaku hidup bersih dan sehat baik di keluarga maupun di tempat kerja belum dilakukan secara konsisten, sehingga, dapat meningkatkan risiko penularan COVID-19.
{"title":"GAMBARAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA PETUGAS KEBERSIHAN DI ERA PANDEMI COVID-19","authors":"Putu Nita Cahyawati, N. K. E. Saniathi","doi":"10.22225/wicaksana.5.2.2021.87-91","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.5.2.2021.87-91","url":null,"abstract":"Petugas kebersihan merupakan salah satu tenaga yang sangat penting dalam pelayanan di klinik, puskesmas, maupun di rumah sakit. Hal ini dikarenakan tempat tersebut merupakan lokasi berkumpulnya orang sakit maupun sehat. Kondisi ini menyebabkan tingginya risiko penularan penyakit infeksi di tempat ini, termasuk terjadinya pencemaran lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku hidup bersih dan sehat khususnya bagi para petugas kebersihan di tempat pelayanan kesehatan. Instrumen yang digunakan pada kegiatan ini adalah kusioner. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner, temukan bahwa seluruh responden telah menggunakan masker saat melakukan aktivitas di luar rumah. Walaupun demikian, belum seluruh responden dapat mempertahankan untuk tidak membukan masker saat bekerja. Perilaku hidup dan sehat di lingkungan keluarga juga belum diterapkan sesuai protokol yang dianjurkan dan belum diterapkan secara konsisten. Dengan demikian, dapat dismpulkan bahwa penerapkan perilaku hidup bersih dan sehat baik di keluarga maupun di tempat kerja belum dilakukan secara konsisten, sehingga, dapat meningkatkan risiko penularan COVID-19.","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"58 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126196735","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-07DOI: 10.22225/wicaksana.5.2.2021.52-57
W. Saputra, Dewa Nyoman Sadguna, D. Widari
Diabetes Melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa di dalam darah (hiperglikemia) yang diakibatkan gangguan sekresi insulin, penurunan kerja insulin atau akibat dari keduanya. Target regulasi kadar gula darah pada pasien diabetes adalah kunci keberhasilan menenkan kesakitan serat mencegah munculnya komplikasi DM seperti gagal ginjal kronis, penyakit jantung ataupun stroke. Mencapai target gula darah yang terkendali baik merupakan hal yang sangat sulit bagi pasien akibat perilaku kurang disiplin dalam melakukan pengobatan maupun melaksanakan diit makanan yang merupakan standar pengobatan DM. Dukungan keluarga dekat sangat dibutuhkan dalam menegakkan disiplin pasien DM untuk mematuhi pengobatan dan pola makan yang sesuai instruksi dokter. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk membentuk kelompok pengawas minum obat dan pola makan pada mitra yang akan memantau pasien DM dalam mematuhi instruksi dokter. Kegiatan PKM dimulai dengan sosialisasi kegiatan, focus group discussion, pelaksanaan kegiatan serta evaluasi hasil kegiatan. Adapun outcome dari PKM ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan mitra mengenai penyakit DM, baik dari penyebab, gejala penyakit, pengobatan serta pola diit penderita DM. Dari hasil kegiatan PKM didapatkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan mitra mengenai penaykit DM, pengobatan serta pola diit DM sebesar 80%. Outcome kegiatan berupa regulasi kadar gula darah terkontrol baik dengan melakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa dan 2 jam PP menunjukkan perbaikan sebesar 80%.
{"title":"PENGUATAN PERAN KELUARGA DALAM PENCAPAIAN TARGET REGULASI GULA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS DI RS SANJIWANI","authors":"W. Saputra, Dewa Nyoman Sadguna, D. Widari","doi":"10.22225/wicaksana.5.2.2021.52-57","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.5.2.2021.52-57","url":null,"abstract":"Diabetes Melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa di dalam darah (hiperglikemia) yang diakibatkan gangguan sekresi insulin, penurunan kerja insulin atau akibat dari keduanya. Target regulasi kadar gula darah pada pasien diabetes adalah kunci keberhasilan menenkan kesakitan serat mencegah munculnya komplikasi DM seperti gagal ginjal kronis, penyakit jantung ataupun stroke. Mencapai target gula darah yang terkendali baik merupakan hal yang sangat sulit bagi pasien akibat perilaku kurang disiplin dalam melakukan pengobatan maupun melaksanakan diit makanan yang merupakan standar pengobatan DM. Dukungan keluarga dekat sangat dibutuhkan dalam menegakkan disiplin pasien DM untuk mematuhi pengobatan dan pola makan yang sesuai instruksi dokter. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk membentuk kelompok pengawas minum obat dan pola makan pada mitra yang akan memantau pasien DM dalam mematuhi instruksi dokter. Kegiatan PKM dimulai dengan sosialisasi kegiatan, focus group discussion, pelaksanaan kegiatan serta evaluasi hasil kegiatan. Adapun outcome dari PKM ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan mitra mengenai penyakit DM, baik dari penyebab, gejala penyakit, pengobatan serta pola diit penderita DM. Dari hasil kegiatan PKM didapatkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan mitra mengenai penaykit DM, pengobatan serta pola diit DM sebesar 80%. Outcome kegiatan berupa regulasi kadar gula darah terkontrol baik dengan melakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa dan 2 jam PP menunjukkan perbaikan sebesar 80%.","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"164 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114293644","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-07DOI: 10.22225/wicaksana.5.2.2021.70-80
Dewa Nyoman Tria Harry Shureshta, I. M. Suwitra, I. N. Subamia
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya dalam bidang penelitian serta untuk memperoleh gelar Sarjana dalam bidang ilmu hukum. Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimanakah eksistensi perjudian saat upacara adat di Desa Peninjoan, Tembuku, Bangli? dan bagaimanakah penanggulangan perjudian di Desa Adat Peninjoan, Tembuku, Bangli? Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian hukum empiris. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan terhadap masyarakat. Sedangkan teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah observasi. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sering terjadinya perjudian pada saat upacara adat yang dilakukan oleh beberapa warga di Desa Peninjoan, Tembuku, Bangli yang dilakukan terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi. Namun itu dilakukan pada saat hari raya besar agama Hindu. Adapun upaya penanggulangan tindak pidana perjudian oleh kepala desa peninjoan, Ada dua teori penanggulangan yang telah dilakukan termasuk kejahatan perjudian ini khususnya, yaitu pola Preventif (dilakukan pencegahan sebelum terjadinya kejahatan) dan pola Represif (pencegahan setelah terjadinya kejahatan, kejahatan ini biasanya disebut proses secara hukum).
{"title":"HUKUM PERJUDIAN PADA SAAT UPACARA ADAT DI DESA PENINJOAN TEMBUKU BANGLI","authors":"Dewa Nyoman Tria Harry Shureshta, I. M. Suwitra, I. N. Subamia","doi":"10.22225/wicaksana.5.2.2021.70-80","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.5.2.2021.70-80","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya dalam bidang penelitian serta untuk memperoleh gelar Sarjana dalam bidang ilmu hukum. Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimanakah eksistensi perjudian saat upacara adat di Desa Peninjoan, Tembuku, Bangli? dan bagaimanakah penanggulangan perjudian di Desa Adat Peninjoan, Tembuku, Bangli? Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian hukum empiris. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan terhadap masyarakat. Sedangkan teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah observasi. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sering terjadinya perjudian pada saat upacara adat yang dilakukan oleh beberapa warga di Desa Peninjoan, Tembuku, Bangli yang dilakukan terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi. Namun itu dilakukan pada saat hari raya besar agama Hindu. Adapun upaya penanggulangan tindak pidana perjudian oleh kepala desa peninjoan, Ada dua teori penanggulangan yang telah dilakukan termasuk kejahatan perjudian ini khususnya, yaitu pola Preventif (dilakukan pencegahan sebelum terjadinya kejahatan) dan pola Represif (pencegahan setelah terjadinya kejahatan, kejahatan ini biasanya disebut proses secara hukum).","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"179 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125821398","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-07DOI: 10.22225/wicaksana.5.2.2021.65-69
D. G. A. Budiyasa, Dewa Nyoman Sadguna, D. Widari, Sri Masyeni
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penyakit yang ditandai penurunan fungsi ginjal yang semakin progresif sehingga memerlukan bantuan berupa terapi pengganti mesin dialysis untuk menggantikan fungsi ginjal. Hemodialisis dengan mesin hemodialisis harus dilakukan secara rutin 2-3 kali seminggu dan berkesinambungan seumur hidup pasien. Selain hemodialisis atau cuci darah rutin, pasien PGK juga harus mengonsumsi obat dalam jumlah yang relatif banyak yang apabila tidak dikonsumsi secara rutin akan memicu kondisi akut yang mungkin akan memperburuk fungsi ginjal. Untuk mengantisipasi hal ini diperlukan bantuan keluarga terdekat untuk membantu mengawai pasien PGK untuk selalu mengonsumsi obat-obat sesuai dengan instruksi dokter. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk membentuk kelompok Kader Siaga Minum Obat pada mitra yang akan memantau pasien mematuhi instruksi dokter. Kegiatan PKM dimulai dengan sosialisasi kegiatan, focus group discussion, pelaksanaan kegiatan serta evaluasi hasil kegiatan. Adapun outcome dari PKM ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan mitra mengenai penyakit PGK, pencegahan perburukan serta peningkatan kualitas hidup pasien PGK sebesar 81% pada delapan mitra PKM. Output sementara, kegiatan dilakukan dengan observasi dan pengamatan frekuensi kejadian perburukan penyakit pada pasien sebagai hasil/peran dari fungsi kader Siaga Minum Obat.
{"title":"PEMBERDAYAAN KELOMPOK MASYARAKAT SEBAGAI PENGAWAS MINUM OBAT PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DI RS SANJIWANI","authors":"D. G. A. Budiyasa, Dewa Nyoman Sadguna, D. Widari, Sri Masyeni","doi":"10.22225/wicaksana.5.2.2021.65-69","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.5.2.2021.65-69","url":null,"abstract":"Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penyakit yang ditandai penurunan fungsi ginjal yang semakin progresif sehingga memerlukan bantuan berupa terapi pengganti mesin dialysis untuk menggantikan fungsi ginjal. Hemodialisis dengan mesin hemodialisis harus dilakukan secara rutin 2-3 kali seminggu dan berkesinambungan seumur hidup pasien. Selain hemodialisis atau cuci darah rutin, pasien PGK juga harus mengonsumsi obat dalam jumlah yang relatif banyak yang apabila tidak dikonsumsi secara rutin akan memicu kondisi akut yang mungkin akan memperburuk fungsi ginjal. Untuk mengantisipasi hal ini diperlukan bantuan keluarga terdekat untuk membantu mengawai pasien PGK untuk selalu mengonsumsi obat-obat sesuai dengan instruksi dokter. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk membentuk kelompok Kader Siaga Minum Obat pada mitra yang akan memantau pasien mematuhi instruksi dokter. Kegiatan PKM dimulai dengan sosialisasi kegiatan, focus group discussion, pelaksanaan kegiatan serta evaluasi hasil kegiatan. Adapun outcome dari PKM ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan mitra mengenai penyakit PGK, pencegahan perburukan serta peningkatan kualitas hidup pasien PGK sebesar 81% pada delapan mitra PKM. Output sementara, kegiatan dilakukan dengan observasi dan pengamatan frekuensi kejadian perburukan penyakit pada pasien sebagai hasil/peran dari fungsi kader Siaga Minum Obat.","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"23 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130563152","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-05-10DOI: 10.22225/wicaksana.5.1.2021.1-5
N. W. Widhidewi, P. A. Suryanditha
Infeksi virus corona strain baru atau yang sering disebut dengan corona virus disease-2019 (Covid-19) berawal dari penularan virus dari hewan yaitu kelelawar ke manusia (zoonosis) di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Penyakit yang menyebabkan gangguan sistem pernapasan ini dengan sangat cepat menyebar dan menjadi pandemi global dengan jumlah total kasus di seluruh dunia pada tanggal 19 April 2019 sebesar 2,34 juta jiwa dan kematian mencapai 160.896 orang. Di Indonesia sendiri kasus positif Covid-19 telah ditemukan di 250 kabupaten/kota yang terdapat di 34 provinsi, dengan jumlah total kasus positif 6.575 pasien dan menyebabkan 582 orang meninggal dunia. Selain memiliki dampak kesehatan yang sangat besar, adanya pandemik ini juga menimbulkan banyak permasalahan di berbagai sektor, utamanya sektor perekonomian. Para pedagang kecil terpaksa tetap keluar rumah untuk berjualan setiap hari di tengah pandemi demi menyambung hidup. Dari hasil wawancara didapatkan hampir 80% pedagang kaki lima di lingkungan Monumen Bajra Sandhi belum mengetahui cara pencegahan infeksi Covid-19 yang baik, sehingga perlu dilakukan kegiatan penyuluhan dan simulasi cara pencegahan infeksi Covid-19.
{"title":"PROMOSI KESEHATAN PENCEGAHAN PENULARAN INFEKSI COVID-19 PADA KELOMPOK PEDAGANG KAKI LIMA DI MONUMEN BAJRA SANDHI","authors":"N. W. Widhidewi, P. A. Suryanditha","doi":"10.22225/wicaksana.5.1.2021.1-5","DOIUrl":"https://doi.org/10.22225/wicaksana.5.1.2021.1-5","url":null,"abstract":"Infeksi virus corona strain baru atau yang sering disebut dengan corona virus disease-2019 (Covid-19) berawal dari penularan virus dari hewan yaitu kelelawar ke manusia (zoonosis) di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Penyakit yang menyebabkan gangguan sistem pernapasan ini dengan sangat cepat menyebar dan menjadi pandemi global dengan jumlah total kasus di seluruh dunia pada tanggal 19 April 2019 sebesar 2,34 juta jiwa dan kematian mencapai 160.896 orang. Di Indonesia sendiri kasus positif Covid-19 telah ditemukan di 250 kabupaten/kota yang terdapat di 34 provinsi, dengan jumlah total kasus positif 6.575 pasien dan menyebabkan 582 orang meninggal dunia. Selain memiliki dampak kesehatan yang sangat besar, adanya pandemik ini juga menimbulkan banyak permasalahan di berbagai sektor, utamanya sektor perekonomian. Para pedagang kecil terpaksa tetap keluar rumah untuk berjualan setiap hari di tengah pandemi demi menyambung hidup. Dari hasil wawancara didapatkan hampir 80% pedagang kaki lima di lingkungan Monumen Bajra Sandhi belum mengetahui cara pencegahan infeksi Covid-19 yang baik, sehingga perlu dilakukan kegiatan penyuluhan dan simulasi cara pencegahan infeksi Covid-19.","PeriodicalId":369858,"journal":{"name":"WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan","volume":"54 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-05-10","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127962720","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}