Pub Date : 2024-03-02DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.53066
Nadya Shavitri, Asyurati Asia, Dewi Priandini
{"title":"Korelasi jumlah kehilangan gigi terhadap fungsi kognitif lansia yang tidak menggunakan gigi tiruan: studi cross-sectional","authors":"Nadya Shavitri, Asyurati Asia, Dewi Priandini","doi":"10.24198/pjdrs.v8i1.53066","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v8i1.53066","url":null,"abstract":"","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"26 18","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140081930","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-03-02DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.49861
Subiana Hidayatul Safitri, W. Sari, Eka Desnita
ABSTRAKPendahuluan: Penggunaan E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) dalam prostesis gigi cekat semakin populer karena mendukung sifat mekanik yang diinginkan. Pencapaian kekerasan optimal sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang prostesis ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental pada gigi tiruan cekat. Metode: Jenis penelitian adalah studi eksperimen laboratorium dengan pendekatan penelitian kuantitatif digunakan untuk menyelidiki dampak agen penggandeng silane terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental. Sampel dipersiapkan dengan konsentrasi berbeda dari silane coupling agent, dan kekerasan diukur menggunakan metode pengujian standar. Kondisi laboratorium diatur untuk mensimulasikan kondisi yang dihadapi dalam prostesis gigi cekat. Hasil: Terdapat korelasi signifikan antara penambahan silane coupling agent dan kekerasan FRC E-Glass non-dental. Konsentrasi silane coupling agent yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan nilai kekerasan. Temuan ini memberikan wawasan berharga dalam mengoptimalkan komposisi FRC E-Glass fiber non dental untuk meningkatkan sifat mekanik pada prostesis gigi cekat. Simpulan: Penambahan silane coupling agent secara positif memengaruhi kekerasan FRC E-Glass non-dental yang digunakan dalam prostesis gigi cekat. Studi ini memberikan kontribusi pada upaya terus-menerus untuk meningkatkan kinerja mekanik material kedokteran gigi, dengan menekankan pentingnya mengoptimalkan konsentrasi silane coupling agent untuk kekerasan yang lebih baik.KATA KUNCI: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent.The effect of silane coupling agent addition on the hardness of non-dental e-glass fiber reinforced composite in removable partial dentures: experimental studyABSTRACT Introduction: The use of E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) in fixed dental prostheses has gained popularity due to its desirable mechanical properties. Achievement optimal hardness is crucial for the long-term success of these prostheses. This study aimed to analyze the effect of the addition of a silane coupling agent on the non-dental E-Glass FRC's hardness in fixed dental prostheses. Methods: This study is a laboratorium eksperimental with a quantitative research approach to investigate the impact of silane coupling agents on the hardness of non-dental E-Glass FRC. Specimens were prepared with varying concentrations of silane coupling agent, and the hardness was measured using standardized testing methods. The laboratory conditions were set up aimed to simulate the conditions encountered in fixed dental prostheses. Results: A significant correlation was revealed between the addition of silane coupling agent and the hardness of non-dental E-Glass FRC. Higher concentrations of silane coupling agent were associated with increased hardness values. The findings provide valuable insights into optimizing the composition of E-Glass fiber non dental FR
{"title":"Pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan e-glass fiber non dental reinforced composite pada gigi tiruan cekat: studi eksperimental","authors":"Subiana Hidayatul Safitri, W. Sari, Eka Desnita","doi":"10.24198/pjdrs.v8i1.49861","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v8i1.49861","url":null,"abstract":"ABSTRAKPendahuluan: Penggunaan E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) dalam prostesis gigi cekat semakin populer karena mendukung sifat mekanik yang diinginkan. Pencapaian kekerasan optimal sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang prostesis ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental pada gigi tiruan cekat. Metode: Jenis penelitian adalah studi eksperimen laboratorium dengan pendekatan penelitian kuantitatif digunakan untuk menyelidiki dampak agen penggandeng silane terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental. Sampel dipersiapkan dengan konsentrasi berbeda dari silane coupling agent, dan kekerasan diukur menggunakan metode pengujian standar. Kondisi laboratorium diatur untuk mensimulasikan kondisi yang dihadapi dalam prostesis gigi cekat. Hasil: Terdapat korelasi signifikan antara penambahan silane coupling agent dan kekerasan FRC E-Glass non-dental. Konsentrasi silane coupling agent yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan nilai kekerasan. Temuan ini memberikan wawasan berharga dalam mengoptimalkan komposisi FRC E-Glass fiber non dental untuk meningkatkan sifat mekanik pada prostesis gigi cekat. Simpulan: Penambahan silane coupling agent secara positif memengaruhi kekerasan FRC E-Glass non-dental yang digunakan dalam prostesis gigi cekat. Studi ini memberikan kontribusi pada upaya terus-menerus untuk meningkatkan kinerja mekanik material kedokteran gigi, dengan menekankan pentingnya mengoptimalkan konsentrasi silane coupling agent untuk kekerasan yang lebih baik.KATA KUNCI: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent.The effect of silane coupling agent addition on the hardness of non-dental e-glass fiber reinforced composite in removable partial dentures: experimental studyABSTRACT Introduction: The use of E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) in fixed dental prostheses has gained popularity due to its desirable mechanical properties. Achievement optimal hardness is crucial for the long-term success of these prostheses. This study aimed to analyze the effect of the addition of a silane coupling agent on the non-dental E-Glass FRC's hardness in fixed dental prostheses. Methods: This study is a laboratorium eksperimental with a quantitative research approach to investigate the impact of silane coupling agents on the hardness of non-dental E-Glass FRC. Specimens were prepared with varying concentrations of silane coupling agent, and the hardness was measured using standardized testing methods. The laboratory conditions were set up aimed to simulate the conditions encountered in fixed dental prostheses. Results: A significant correlation was revealed between the addition of silane coupling agent and the hardness of non-dental E-Glass FRC. Higher concentrations of silane coupling agent were associated with increased hardness values. The findings provide valuable insights into optimizing the composition of E-Glass fiber non dental FR","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"44 24","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140082432","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
ABSTRAKPendahuluan: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau sariawan merupakan ulser berbentuk oval atau bulat yang sakit dan terjadi secara berulang, serta dapat sembuh secara spontan dengan atau tanpa pengobatan. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) bentuk initial L forms banyak ditemukan pada penderita SAR dan dapat memperparah kondisi SAR. Salah satu hewan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan untuk pengobatan alternatif adalah teripang putih atau Holothuria scabra (H. scabra) yang berasal dari kepulauan Mentawai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis daya hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis yang banyak ditemukan pada penderita Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Sampel pada penelitian ini adalah ekstrak metanol teripang putih dari pulau Siberut, kepulauan Mentawai, yang diperoleh dalam keadaan sudah kering di kota Padang dan bakteri S. sanguinis ATCC 10556 yang diperoleh dari Laboratorium Penelitian Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Terdapat 5 kelompok perlakuan, yaitu pengujian dengan konsentrasi ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) 2, 4, dan 8%, serta kontrol positif (chlorhexidine 0,2%) dan kontrol negatif. Masing-masing kelompok perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga besar sampel menjadi total 25 pengulangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan uji Independent Sample (T-Test). Hasil: Terdapat zona hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis pada stomatitis aftosa rekuren yang diujikan secara in vitro pada konsentrasi 8% dengan sig 0,001 atau < 0,05, sebesar 0,81 mm, sedangkan pada konsentrasi 2 dan 4% tidak terdapat zona hambat. Simpulan: Ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) Mentawai memiliki zona hambat pada konsentrasi 8%, tetapi dalam kategori lemah (weak) dan kurang efektif jika dibandingkan dengan kontrol positif yaitu chlorhexidine 0,2%KATA KUNCI: stomatitis aftosa rekuren, s. sanguinis, h. scabra, zona hambat, ekstrak teripangInhibition zone test of methanol extract of mentawai white sea cucumber (holothuria scabra) against streptococcus sanguinis in recurrent aphthous stomatitis in vitro: experimental studyABSTRACTIntroduction: Recurrent aphthous stomatitis (SAR) or canker sores are painful oval or round ulcers that occur recurrently and can heal spontaneously with or without treatment. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) plays a role in aggravating SAR in patients and mostly found in the of initial L forms. One of the animals that is widely used as an ingredient for alternative medicine is white sea cucumber or Holothuria scabra (H. scabra) from the Mentawai islands. The purpose of this study was to analyze the inhibition zone of white sea cucumber (H. scabra) methanol extract against S. sanguinis in recurrent aphthous stomatitis (in vitro study). Methods: Laboratory experimental and posttes
摘要导言:复发性口腔炎(SAR)或口腔溃疡是一种椭圆形或圆形溃疡,具有疼痛和反复发作的特点,无论治疗与否均可自愈。血清链球菌(S. sanguinis)最初的 L 型常见于 SAR 患者,会加重 SAR 的病情。被广泛用作替代药物成分的动物之一是来自明打威群岛的白海参(Holothuria scabra)。本研究的目的是在体外分析白海参甲醇提取物对复发性阿弗他口腔炎患者中常见的嗜血杆菌的抑制能力。研究方法:实验室实验研究类型,采用后测对照组设计。本研究的样本是产自门塔威岛西比路岛的白色海参甲醇提取物(在巴东市获得的干燥状态)和来自日惹加札马达大学校际研究实验室(PAU)的S. sanguinis ATCC 10556细菌。试验共分为 5 个处理组,分别使用 2%、4% 和 8%浓度的白海参甲醇提取物,以及阳性对照组(0.2% 洗必泰)和阴性对照组。 每个处理组重复 5 次,因此样本量共计 25 次。 所得数据采用独立样本(T 检验)检验。结果在体外测试中,浓度为 8%(sig 值为 0.001 或小于 0.05)的白海参(H. scabra)甲醇提取物对复发性口蹄疫的抑制区为 0.81 毫米,而浓度为 2% 和 4% 的白海参甲醇提取物则没有抑制区。结论门塔威白海参(H. scabra)的甲醇提取物在浓度为 8% 时有抑制区,但属于弱抑制区,与阳性对照(即 0.2% 洗必泰)相比效果较差 关键词:复发性口腔炎、S. sanguinis、H. scabra。sanguinis,h. scabra,hibition zone,sea cucumberenceInhibition zone test of methanol extract of mentawai white sea cucumber (holothuria scabra) against streptococcus sanguinis in recurrent aphthous stomatitis in vitro: experimental studyABSTRACTIntroduction:复发性口腔炎(SAR)或口腔溃疡是一种疼痛的椭圆形或圆形溃疡,会反复发作,无论治疗与否均可自愈。血清链球菌(S. sanguinis)会加重患者的复发性口腔炎,并主要出现在最初的 L 型口腔溃疡中。被广泛用作替代药物成分的动物之一是来自明打威群岛的白海参(Holothuria scabra)。本研究的目的是分析白海参(H. scabra)甲醇提取物对复发性阿弗他口腔炎中血吸虫的抑制区(体外研究)。研究方法本研究采用实验室实验组和后测对照组设计。本研究的样本是在巴东市获得的来自明打威群岛西比路岛的白海参的甲醇干提取物。S. sanguinis ATCC 10556细菌来自日惹加札马达大学校际研究实验室(PAU)。试验共分为 5 个处理组,即 2%、4% 和 8%的白海参甲醇提取物处理组,以及阳性对照组(0.2% 洗必泰)和阴性对照组。每个处理组重复 5 次,因此样本量为 25 次。所得数据采用独立样本检验(T 检验)进行处理。结果白海参(H. scabra)8%甲醇提取物对嗜血杆菌的抑制区为 0.81 毫米,显著性为 0.001(<0.05),而浓度为 2% 和 4% 的提取物则没有抑制区。结论在最佳浓度为8%时,门头沟白海参(H. scabra)的甲醇提取物具有抑菌区,但对S. sanguinis细菌的抑制作用较弱,与0.2%的洗必泰相比效果较差。
{"title":"Uji zona hambat ekstrak metanol teripang putih (holothuria scabra) mentawai terhadap Streptococcus sanguinis pada Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro: studi eksperimental","authors":"Aisha Fatihatur Rahmah, Utmi Arma, Citra Lestari, Edrizal Edrizal, Hanim Khalida Zia","doi":"10.24198/pjdrs.v8i1.52551","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v8i1.52551","url":null,"abstract":"ABSTRAKPendahuluan: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau sariawan merupakan ulser berbentuk oval atau bulat yang sakit dan terjadi secara berulang, serta dapat sembuh secara spontan dengan atau tanpa pengobatan. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) bentuk initial L forms banyak ditemukan pada penderita SAR dan dapat memperparah kondisi SAR. Salah satu hewan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan untuk pengobatan alternatif adalah teripang putih atau Holothuria scabra (H. scabra) yang berasal dari kepulauan Mentawai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis daya hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis yang banyak ditemukan pada penderita Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Sampel pada penelitian ini adalah ekstrak metanol teripang putih dari pulau Siberut, kepulauan Mentawai, yang diperoleh dalam keadaan sudah kering di kota Padang dan bakteri S. sanguinis ATCC 10556 yang diperoleh dari Laboratorium Penelitian Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Terdapat 5 kelompok perlakuan, yaitu pengujian dengan konsentrasi ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) 2, 4, dan 8%, serta kontrol positif (chlorhexidine 0,2%) dan kontrol negatif. Masing-masing kelompok perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga besar sampel menjadi total 25 pengulangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan uji Independent Sample (T-Test). Hasil: Terdapat zona hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis pada stomatitis aftosa rekuren yang diujikan secara in vitro pada konsentrasi 8% dengan sig 0,001 atau < 0,05, sebesar 0,81 mm, sedangkan pada konsentrasi 2 dan 4% tidak terdapat zona hambat. Simpulan: Ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) Mentawai memiliki zona hambat pada konsentrasi 8%, tetapi dalam kategori lemah (weak) dan kurang efektif jika dibandingkan dengan kontrol positif yaitu chlorhexidine 0,2%KATA KUNCI: stomatitis aftosa rekuren, s. sanguinis, h. scabra, zona hambat, ekstrak teripangInhibition zone test of methanol extract of mentawai white sea cucumber (holothuria scabra) against streptococcus sanguinis in recurrent aphthous stomatitis in vitro: experimental studyABSTRACTIntroduction: Recurrent aphthous stomatitis (SAR) or canker sores are painful oval or round ulcers that occur recurrently and can heal spontaneously with or without treatment. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) plays a role in aggravating SAR in patients and mostly found in the of initial L forms. One of the animals that is widely used as an ingredient for alternative medicine is white sea cucumber or Holothuria scabra (H. scabra) from the Mentawai islands. The purpose of this study was to analyze the inhibition zone of white sea cucumber (H. scabra) methanol extract against S. sanguinis in recurrent aphthous stomatitis (in vitro study). Methods: Laboratory experimental and posttes","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"20 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140082228","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-03-02DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.35821
Ilham Mulkhairul, Endah Mardiati, Avi Laviana, Ida Ayu Evangelina
ABSTRAKPendahuluan: Estetika wajah menjadi perhatian dalam perawatan ortodonti karena berhubungan langsung dengan penampilan. Pasien maloklusi kelas II divisi 1 mempunyai wajah cembung dan sering kali mengganggu estetik wajah. Tujuan penelitian mengetahui perbedaan fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner pasien maloklusi skeletal kelas II divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi. Metode: Penelitian bersifat deskriptif analitis komparatif. Populasi sampel ditentukan secara purposive sampling terhadap pasien perawatan ortodonti kompromi maloklusi kelas II divisi 1 yang dirawat di klinik PPDGS Ortodonti RSGM Unpad tahun 2016-2021, sejumlah 11 pasien. Uji t-test berpasangan digunakan untuk menganalisis perbedaan fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner pasien maloklusi skeletal kelas II divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi. (p – value < 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah sepertiga bagian bawah (p-value 0,0023 < 0,05) dan posisi bibir atas terhadap S-line (p-value 0,0014 < 0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah sepertiga bagian atas, proporsi wajah dari helixsrt – exochantion (exrt), proporsi wajah dari exochantion (exrt) – endochantion (enrt), proporsi wajah dari endochantion (enrt) – endochantion (enlt), proporsi wajah dari endochantion (enlt) – exochantion (exlt), proporsi wajah dari exochantion (exlt) – helixslt, posisi bibir bawah terhadap S-line (p-value > 0,05). Simpulan: Perawatan ortodonti kompromi maloklusi kelas II divisi I dengan pencabutan dua premolar rahang atas menghasilkan perubahan profil jaringan lunak pada sepertiga wajah bagian bawah dan posisi bibir bawah terhadap S-line, berdasarkan analisis fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner.KATA KUNCI: maloklusi skeletal kelas II divisi 1, perawatan kompromi, analisis Proffit, dan Steiner.Differences of frontal photometries and face profiles of patients before and after other ontic Treatment of compromise skeletal malocclusion class ii division 1 (Using Profit and Steiner Analysis): Study descriptiveABSTRACT Introduction: Facial aesthetics is a concern in orthodontic treatment because it is directly related to appearance. Class II division 1 malocclusion patients have convex faces and often have facial disfigurement. Objective to determine the difference between Proffit method frontal photometry and Steiner method profile photometry in patients with class II division 1 skeletal malocclusion before and after compromised orthodontic treatment. Methods: The research is descriptive comparative analytical in nature. The sample population was determined by purposive sampling of patients with orthodontic treatment for compromised class II division 1 malocclusion who were treated at the PPDGS Orthodontic clinic at RSGM Unpad in 2016-2021. The paired t-test was used to analyze the differences between Proffit method fr
ABSTRAKPendahuluan:在国家或地区的教育中,教育是一项重要的工作,因为它能让学生在学习过程中得到发展。国家二级甲等教育学校的学生可以在校学习,也可以继续在校学习。我们可以通过普罗菲特(Proffit)额面摄影测量仪和斯坦纳(Steiner)轮廓摄影测量仪,对骨骼Ⅱ分度Ⅰ进行测量。方法:比较分析法。2016-2021年间,在PPDGS Ortodonti RSGM Unpad医院进行了有目的的抽样调查,共抽取了11名患者。通过t检验可以确定,Proffit和Steiner前额摄影测量仪的测量结果均表明,在每个儿童或儿童骨质疏松症患者中,前额第1分部第2骨骼发育不良的比例分别为0.5%和0.5%。(P值<0.05)。结果在颅骨和颅骨外侧(p-值 0.0023 < 0.05)和颅骨外侧与 S 线(p-值 0.0014 < 0.05)之间存在显著差异。在螺旋线-外旋线(exrt)比例、外旋线(exrt)-内旋线(enrt)比例中,每个比例都具有显著性、内切酶比例(enrt)-内切酶比例(enlt),内切酶比例(enlt)-外切酶比例(exlt),外切酶比例(exlt)-螺旋线比例,S-线的比值(p-value > 0,05)。简单:在前臼齿的前牙颊侧和颊侧位置与 S 线之间,前牙颊侧和颊侧位置与前牙颊侧位置与 S 线之间,前牙颊侧和颊侧位置与前牙颊侧位置之间,前牙颊侧和颊侧位置与前牙颊侧位置之间的关系是非常复杂的。KATA KUNCI: maloklusi skeletal kelas II divisi 1, perawatan kompromi, analisis Proffit, dan Steiner.Differences of frontal photometries and face profiles of patients before and after other ontic Treatment of compromise skeletal malocclusion class II division 1 (Using Profit and Steiner Analysis):研究描述ABSTRACT 引言:面部美学是正畸治疗中的一个关注点,因为它与外观直接相关。II 类 1 分区错颌畸形患者的脸部呈凸面,通常会有面部毁容的情况。目的:确定 Proffit 法正面测光和 Steiner 法侧面测光在 II 类 1 分区骨骼错颌畸形患者妥协性正畸治疗前后的差异。研究方法:研究为描述性比较分析性质。样本人群是通过有目的的抽样确定的,抽样对象是2016-2021年在RSGM Unpad的PPDGS正畸诊所接受正畸治疗的II类第1分区妥协性错颌畸形患者。采用配对t检验分析二类一区骨骼错颌患者在妥协性正畸治疗前后Proffit法正面光度法和Steiner法剖面光度法之间的差异。(P值<0.05)。结果:面部下三分之一的高度(p-值 0.0023 < 0.05)和上唇朝向 S 线的位置(p-值 0.0014 < 0.05)存在明显差异。在面部高度的上三分之一、从螺旋线(helixsrt)-外切线(exrt)的面部比例、从外切线(exrt)-内切线(enrt)的面部比例方面,结果均不明显、内切法(enrt)-内切法(enlt)的面部比例、内切法(enlt)-外切法(exlt)的面部比例、外切法(exlt)-螺旋线的面部比例、下唇相对于 S 线的位置(P 值 > 0.05).结论通过拔除两颗上颌前磨牙对妥协性 II 类 1 分区错颌畸形进行正畸治疗,可改变面部下三分之一处的软组织轮廓以及下唇相对于 S 线的位置 关键词:骨骼错颌畸形 II 类 1 分区、妥协性治疗、Proffit 和 Steiner 分析
{"title":"Analisis fotometri frontal dan profil wajah pasien maloklusi skeletal kelas II Divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi (Metode Proffit dan Steiner): Studi deskriptif","authors":"Ilham Mulkhairul, Endah Mardiati, Avi Laviana, Ida Ayu Evangelina","doi":"10.24198/pjdrs.v8i1.35821","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v8i1.35821","url":null,"abstract":"ABSTRAKPendahuluan: Estetika wajah menjadi perhatian dalam perawatan ortodonti karena berhubungan langsung dengan penampilan. Pasien maloklusi kelas II divisi 1 mempunyai wajah cembung dan sering kali mengganggu estetik wajah. Tujuan penelitian mengetahui perbedaan fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner pasien maloklusi skeletal kelas II divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi. Metode: Penelitian bersifat deskriptif analitis komparatif. Populasi sampel ditentukan secara purposive sampling terhadap pasien perawatan ortodonti kompromi maloklusi kelas II divisi 1 yang dirawat di klinik PPDGS Ortodonti RSGM Unpad tahun 2016-2021, sejumlah 11 pasien. Uji t-test berpasangan digunakan untuk menganalisis perbedaan fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner pasien maloklusi skeletal kelas II divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi. (p – value < 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah sepertiga bagian bawah (p-value 0,0023 < 0,05) dan posisi bibir atas terhadap S-line (p-value 0,0014 < 0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah sepertiga bagian atas, proporsi wajah dari helixsrt – exochantion (exrt), proporsi wajah dari exochantion (exrt) – endochantion (enrt), proporsi wajah dari endochantion (enrt) – endochantion (enlt), proporsi wajah dari endochantion (enlt) – exochantion (exlt), proporsi wajah dari exochantion (exlt) – helixslt, posisi bibir bawah terhadap S-line (p-value > 0,05). Simpulan: Perawatan ortodonti kompromi maloklusi kelas II divisi I dengan pencabutan dua premolar rahang atas menghasilkan perubahan profil jaringan lunak pada sepertiga wajah bagian bawah dan posisi bibir bawah terhadap S-line, berdasarkan analisis fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner.KATA KUNCI: maloklusi skeletal kelas II divisi 1, perawatan kompromi, analisis Proffit, dan Steiner.Differences of frontal photometries and face profiles of patients before and after other ontic Treatment of compromise skeletal malocclusion class ii division 1 (Using Profit and Steiner Analysis): Study descriptiveABSTRACT Introduction: Facial aesthetics is a concern in orthodontic treatment because it is directly related to appearance. Class II division 1 malocclusion patients have convex faces and often have facial disfigurement. Objective to determine the difference between Proffit method frontal photometry and Steiner method profile photometry in patients with class II division 1 skeletal malocclusion before and after compromised orthodontic treatment. Methods: The research is descriptive comparative analytical in nature. The sample population was determined by purposive sampling of patients with orthodontic treatment for compromised class II division 1 malocclusion who were treated at the PPDGS Orthodontic clinic at RSGM Unpad in 2016-2021. The paired t-test was used to analyze the differences between Proffit method fr","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"10 8","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140082048","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-03-02DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.53101
Aweni Tria Aprilita, Olivia Nauli Komala
ABSTRAKPendahuluan: Periodontitis adalah penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai 74,1%. Tanda klinis periodontitis berupa inflamasi gingiva, pembengkakan margin, kehilangan perlekatan, pembentukan poket periodontal, dan perdarahan gingiva saat probing. Papillary Bleeding Index (PBI) merupakan indeks periodontal yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan inflamasi gingiva. Nilai PBI dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya jenis kelamin. Fluktuasi hormon pada tubuh terutama pada perempuan, dapat mempengaruhi perubahan di dalam rongga mulut. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan nilai PBI pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel berupa lembar pemeriksaan status periodontal pasien yang dirawat di RSGM-P FKG Usakti periode 2019 - 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: Penderita periodontitis di RSGM-P FKG Usakti tahun 2019 - 2022 mayoritas memiliki skor PBI dengan rentang 1- 1,99, baik pada jenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,12) antara kelompok perempuan dengan laki-laki terhadap nilai PBI. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan antara nilai PBI dengan jenis kelamin pada pasien periodontitis.KATA KUNCI: Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelaminThe relationship between PBI values in periodontitis patients based on gender: observational studyABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease of the supporting teeth tissues. According to Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2018, the prevalence of periodontitis in Indonesia reached 74.1%. Clinical signs of periodontitis include gingival inflammation, margin swelling, loss of attachment, periodontal pocket formation, and gingival bleeding on probing. The Papillary Bleeding Index (PBI) is a periodontal index used to measure the severity of gingival inflammation. The PBI value can be influenced by several factors, one of which is gender. Hormonal fluctuations in the body, especially in women, can be seen in the mouth. The aim of the study was to analyse the difference between PBI values in periodontitis patients based on gender. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional research design. The sample is periodontal status examination sheets of patients treated at RSGM-P FKG Usakti for the period 2019 - 2022. Data analysis uses the Mann-Whitney statistical test. Results: The majority of periodontitis sufferers at RSGM-P FKG Usakti in 2019 -2022 had a PBI score in the range of 1 - 1.99 in both female and male genders. The results of the Mann-Whitney test showed that there was no significant difference (p = 0.12) between the female and male groups regarding the PBI value. Conclusion: There is no differenc
{"title":"Perbedaan nilai papillary bleeding index pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin: studi cross sectional","authors":"Aweni Tria Aprilita, Olivia Nauli Komala","doi":"10.24198/pjdrs.v8i1.53101","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v8i1.53101","url":null,"abstract":"ABSTRAKPendahuluan: Periodontitis adalah penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai 74,1%. Tanda klinis periodontitis berupa inflamasi gingiva, pembengkakan margin, kehilangan perlekatan, pembentukan poket periodontal, dan perdarahan gingiva saat probing. Papillary Bleeding Index (PBI) merupakan indeks periodontal yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan inflamasi gingiva. Nilai PBI dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya jenis kelamin. Fluktuasi hormon pada tubuh terutama pada perempuan, dapat mempengaruhi perubahan di dalam rongga mulut. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan nilai PBI pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel berupa lembar pemeriksaan status periodontal pasien yang dirawat di RSGM-P FKG Usakti periode 2019 - 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: Penderita periodontitis di RSGM-P FKG Usakti tahun 2019 - 2022 mayoritas memiliki skor PBI dengan rentang 1- 1,99, baik pada jenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,12) antara kelompok perempuan dengan laki-laki terhadap nilai PBI. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan antara nilai PBI dengan jenis kelamin pada pasien periodontitis.KATA KUNCI: Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelaminThe relationship between PBI values in periodontitis patients based on gender: observational studyABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease of the supporting teeth tissues. According to Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2018, the prevalence of periodontitis in Indonesia reached 74.1%. Clinical signs of periodontitis include gingival inflammation, margin swelling, loss of attachment, periodontal pocket formation, and gingival bleeding on probing. The Papillary Bleeding Index (PBI) is a periodontal index used to measure the severity of gingival inflammation. The PBI value can be influenced by several factors, one of which is gender. Hormonal fluctuations in the body, especially in women, can be seen in the mouth. The aim of the study was to analyse the difference between PBI values in periodontitis patients based on gender. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional research design. The sample is periodontal status examination sheets of patients treated at RSGM-P FKG Usakti for the period 2019 - 2022. Data analysis uses the Mann-Whitney statistical test. Results: The majority of periodontitis sufferers at RSGM-P FKG Usakti in 2019 -2022 had a PBI score in the range of 1 - 1.99 in both female and male genders. The results of the Mann-Whitney test showed that there was no significant difference (p = 0.12) between the female and male groups regarding the PBI value. Conclusion: There is no differenc","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"33 25","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140081767","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-03-02DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.50682
Rosihan Adhani, Muhammad Soni Fitrian, Tri Nurrahman, Galuh Dwinta Sari, I. Wardani
ABSTRAK Pendahuluan: Kasus kerusakan gigi di Kota Banjarmasin sebesar 37,62% dan angka ekstraksi gigi yaitu 9,42%. Ekstraksi gigi merupakan tindakan pencabutan gigi utuh atau akar gigi dari soketnya yang melibatkan jaringan keras dan jaringan lunak dalam rongga mulut. Salah satu faktor penting yang memengaruhi proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi yaitu kepatuhan pasien terhadap instruksi yang diberikan oleh dokter gigi. Tujuan penelitian ini menganalisis korelasi instruksi dokter gigi, pengetahuan pasien, dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi. Metode: Penelitian menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional dengan teknik non-probability sampling, purposive sampling dengan jumlah sampel 33 orang. Kriteria inklusi yaitu pasien pasca ekstraksi gigi di Poli Gigi Bedah Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Gusti Hasan Aman usia 18-60 tahun, maksimal ekstraksi gigi 3 bulan terakhir, pasien yang diekstraksi dengan metode intra alveolar, dan pasien tanpa penyakit sistemik. Alat penelitian adalah kuesioner dan hasil datanya dianalisis dengan menggunakan SPSS dengan metode analitik korelatif. Hasil: Instruksi yang diberikan dokter gigi sangat jelas diterima oleh 32 pasien (97%). Pengetahuan yang dimiliki pasien sangat baik sebanyak 31 pasien (93,9%), pasien mempunyai pengalaman yang sangat baik sebanyak 26 pasien (78,9%), dan tingkat kepatuhan pasien terhadap instruksi pasca ekstraksi sebanyak 33 orang (100%). Terdapat hubungan antara instruksi dokter gigi terhadap tingkat kepatuhan pasien dengan nilai korelasi 0,053 (tingkat hubungan yang kuat) dan terdapat hubungan antara pengetahuan pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien dengan nilai korelasi 0,514 (tingkat hubungan kuat). Simpulan: Instruksi dokter gigi dan pengetahuan pasien berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien sedangkan pengalaman tidak memiliki hubungan dengan tingkat kepatuhan pasien. Komplikasi dan gangguan penyembuhan luka dapat diminimalisir dengan meningkatkan efektifitas instruksi kepada pasien. KATA KUNCI: instruksi dokter gigi, pengetahuan, pengalaman, tingkat kepatuhan, komplikasi. he correlation of dentist instructions, patient’s knowledge and experience towardsthe level of compliance of patients after tooth extraction: a cross-sectional studyABSTRACTIntroduction: The incidence of tooth decay in Banjarmasin City is 37.62% and the rate of tooth extraction is 9.42%. Tooth extraction is removing the whole tooth or root from its socket which involves hard tissue and soft tissue in the oral cavity. One important factor that influences the wound healing process after tooth extraction is the patient's compliance with the instructions given by the dentist. This study aimed to analyze the correlation between dentist instructions, patient’s knowledge, and patient’s experience on the level of patient’s compliance after tooth extraction. Methods: The study used an analytical method with a cross sectional approach with a non-probabil
ABSTRAK Pendahuluan:班加罗尔马辛市的吉普赛人占 37.62%,吉普赛人占 9.42%。婴幼儿奶粉是指在当地生产的婴幼儿配方奶粉,它可以提供婴幼儿配方奶粉和婴幼儿奶粉添加剂。最有效的方法是让孩子们学会如何使用 "千兆网络",并通过 "千兆网络 "操作员的指导来提高他们的学习成绩。本报告将对全球指导员的指导方法、学生的学习方法和学生的学习方法进行分析,并将其与全球学生的学习方法结合起来。方法:通过非概率抽样、目的性抽样和 33 人抽样的横断面抽样分析方法。研究标准包括:年龄在18-60岁之间、年龄在3个月以内、采用肺泡内分析法的患者以及采用系统分析法的患者。通过使用 SPSS 软件和现代分析方法对数据进行分析。数据:有 32 人(97%)接受了培训。有 31 名儿童(93.9%)接受了培训,有 26 名儿童(78.9%)接受了培训,有 33 名儿童(100%)接受了培训。在对学生的教育指导中,有 0.053% 的学生接受了教育指导,而在对学生的教育指导中,有 0.514% 的学生接受了教育指导。简单:在国家和地方政府的支持下,国家和地方政府将在国家和地方政府的支持下,在国家和地方政府的支持下,在国家和地方政府的支持下,在国家和地方政府的支持下,在国家和地方政府的支持下,为国家和地方政府提供更多的资金和技术。通过对学生进行有效的指导,可以降低学生的学习兴趣和学习成绩。 KATA KUNCI: instruksi dokter gigi, pengetahuan, pengalaman, tingkat kepatuhan, komplikasi. He correlation of dentist instructions, patient's knowledge and experience towardsthe level of compliance of patients after tooth extraction: a cross-sectional studyABSTRACTIntroduction:班贾马辛市的蛀牙发病率为 37.62%,拔牙率为 9.42%。拔牙是将整颗牙齿或牙根从牙槽窝中拔出,涉及口腔中的硬组织和软组织。影响拔牙后伤口愈合过程的一个重要因素是患者是否遵守牙医的指示。本研究旨在分析牙医指导、患者知识和患者经验对拔牙后患者遵从程度的相关性。研究方法本研究采用横断面分析方法,采用非概率抽样技术、目的性抽样,样本总数为 33 人。纳入标准为:古斯提-哈桑-阿曼牙科和口腔医院口腔外科牙科诊所的拔牙后患者,年龄在 18-60 岁之间,最近 3 个月内最多拔牙一次,采用牙槽内法拔牙的患者,无全身性疾病的患者。采用问卷调查的方式,并使用 SPSS 和相关分析方法对数据结果进行分析。结果32名患者(97%)对牙医的指导非常清楚;31名患者(93.9%)对牙医的指导非常了解;26名患者(78.9%)对牙医的指导非常有经验;33名患者(100%)对拔牙后的指导非常遵从。牙医指导与患者依从性之间存在相关性,相关值为 0.053(强相关水平);患者知识与患者依从性之间存在相关性,相关值为 0.514(强相关水平)。结论牙医的指导和患者的知识与患者的依从性有关,而经验与患者的依从性无关。通过提高对患者指导的有效性,可以最大限度地减少并发症和伤口愈合障碍。关键字:牙医指导、知识、经验、依从性水平、并发症。
{"title":"Hubungan instruksi dokter gigi, pengetahuan dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi : cross-sectional study","authors":"Rosihan Adhani, Muhammad Soni Fitrian, Tri Nurrahman, Galuh Dwinta Sari, I. Wardani","doi":"10.24198/pjdrs.v8i1.50682","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v8i1.50682","url":null,"abstract":"ABSTRAK Pendahuluan: Kasus kerusakan gigi di Kota Banjarmasin sebesar 37,62% dan angka ekstraksi gigi yaitu 9,42%. Ekstraksi gigi merupakan tindakan pencabutan gigi utuh atau akar gigi dari soketnya yang melibatkan jaringan keras dan jaringan lunak dalam rongga mulut. Salah satu faktor penting yang memengaruhi proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi yaitu kepatuhan pasien terhadap instruksi yang diberikan oleh dokter gigi. Tujuan penelitian ini menganalisis korelasi instruksi dokter gigi, pengetahuan pasien, dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi. Metode: Penelitian menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional dengan teknik non-probability sampling, purposive sampling dengan jumlah sampel 33 orang. Kriteria inklusi yaitu pasien pasca ekstraksi gigi di Poli Gigi Bedah Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Gusti Hasan Aman usia 18-60 tahun, maksimal ekstraksi gigi 3 bulan terakhir, pasien yang diekstraksi dengan metode intra alveolar, dan pasien tanpa penyakit sistemik. Alat penelitian adalah kuesioner dan hasil datanya dianalisis dengan menggunakan SPSS dengan metode analitik korelatif. Hasil: Instruksi yang diberikan dokter gigi sangat jelas diterima oleh 32 pasien (97%). Pengetahuan yang dimiliki pasien sangat baik sebanyak 31 pasien (93,9%), pasien mempunyai pengalaman yang sangat baik sebanyak 26 pasien (78,9%), dan tingkat kepatuhan pasien terhadap instruksi pasca ekstraksi sebanyak 33 orang (100%). Terdapat hubungan antara instruksi dokter gigi terhadap tingkat kepatuhan pasien dengan nilai korelasi 0,053 (tingkat hubungan yang kuat) dan terdapat hubungan antara pengetahuan pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien dengan nilai korelasi 0,514 (tingkat hubungan kuat). Simpulan: Instruksi dokter gigi dan pengetahuan pasien berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien sedangkan pengalaman tidak memiliki hubungan dengan tingkat kepatuhan pasien. Komplikasi dan gangguan penyembuhan luka dapat diminimalisir dengan meningkatkan efektifitas instruksi kepada pasien. KATA KUNCI: instruksi dokter gigi, pengetahuan, pengalaman, tingkat kepatuhan, komplikasi. he correlation of dentist instructions, patient’s knowledge and experience towardsthe level of compliance of patients after tooth extraction: a cross-sectional studyABSTRACTIntroduction: The incidence of tooth decay in Banjarmasin City is 37.62% and the rate of tooth extraction is 9.42%. Tooth extraction is removing the whole tooth or root from its socket which involves hard tissue and soft tissue in the oral cavity. One important factor that influences the wound healing process after tooth extraction is the patient's compliance with the instructions given by the dentist. This study aimed to analyze the correlation between dentist instructions, patient’s knowledge, and patient’s experience on the level of patient’s compliance after tooth extraction. Methods: The study used an analytical method with a cross sectional approach with a non-probabil","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"49 23","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140082653","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-02DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.50334
Afifah Fitri Amalia, Harfindo Nismal, Desy Purnama Sari
{"title":"Pola sidik bibir suku Batak Mandailing dan Sunda di Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia berdasarkan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi: studi cross-sectional","authors":"Afifah Fitri Amalia, Harfindo Nismal, Desy Purnama Sari","doi":"10.24198/pjdrs.v7i3.50334","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v7i3.50334","url":null,"abstract":"","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"47 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139290302","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Perbandingan sudut antegonial dan kedalaman antegonial pada radiograf panoramik antara pria dan Wanita: Studi Observasional","authors":"Theresia Alfi Purba, Rini Widyaningrum, Munakhir Mudjosemedi, Ryna Dwi Yanuaryska","doi":"10.24198/pjdrs.v7i3.48028","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v7i3.48028","url":null,"abstract":"","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"12 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139291119","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-11-02DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.49745
Adam Eka Darmawan, Rini Widyaningrum, B. Priyono, Lisdrianto Hanindriyo
{"title":"Hubungan antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien: studi cross-sectional","authors":"Adam Eka Darmawan, Rini Widyaningrum, B. Priyono, Lisdrianto Hanindriyo","doi":"10.24198/pjdrs.v7i3.49745","DOIUrl":"https://doi.org/10.24198/pjdrs.v7i3.49745","url":null,"abstract":"","PeriodicalId":394272,"journal":{"name":"Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students","volume":"45 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-11-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139290681","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}