Hemodialisis (HD) atau cuci darah sangat berperan penting bagi penderita gagal ginjal. Proses hemodialisis merupakan tindakan pengobatan yang mahal dan akan menjadi beban berat bagi pasien yang melakukan tindakan hemodialisis berulang kali selama seumur hidupnya. Tujuan penelitian adalah mengetahui total biaya penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) dan untuk mengetahui perbedaan faktor pasien, faktor penyakit, dan faktor jenis pembiayaan terhadap biaya medik langsung pada pasien CKD dengan tindakan hemodialisis rawat jalan dan rawat inap. Jenis penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif analitik menurut perspektif rumah sakit. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan melihat rekam medis pasien yang melakukan hemodialisis pada periode Januari sampai Juni 2014 di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Variabel terikat (dependent variable) adalah total biaya medik langsung pasien rawat inap dan rawat jalan yang melakukan tindakan hemodialisis di Rumah sakit Bethesda Yogyakarta, sedangkan variabel bebas (independent variable) adalah faktor pasien, faktor penyakit, dan faktor jenis pembiayaan. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif, distribusi varian, uji Mann-Whitney, dan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien CKD dengan tindakan hemodialisis yang masuk kriteria inklusi sebanyak 104 pasien dengan 1.861 episode rawat jalan dan 31 episode rawat inap. Cost of illness pasien CKD dengan tindakan hemodialisis sebesar Rp. 2.295.068.531,00. Pada pasien rawat jalan terdapat perbedaan total biaya medik langsung pada faktor jenis kelamin, usia, jenis komorbid, dan frekuensi hemodialisis. Pada pasien rawat inap, tidak ada perbedaan antara faktor tersebut terhadap total biaya medik langsung. Kata kunci: cost of illness, penyakit ginjal kronik, hemodialisis
{"title":"COST OF ILLNESS DARI CHRONIC KIDNEY DISEASE DENGAN TINDAKAN HEMODIALISIS","authors":"Fauziah Fauziah, D. Wahyono, L. Budiarti","doi":"10.22146/jmpf.226","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/jmpf.226","url":null,"abstract":"Hemodialisis (HD) atau cuci darah sangat berperan penting bagi penderita gagal ginjal. Proses hemodialisis merupakan tindakan pengobatan yang mahal dan akan menjadi beban berat bagi pasien yang melakukan tindakan hemodialisis berulang kali selama seumur hidupnya. Tujuan penelitian adalah mengetahui total biaya penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) dan untuk mengetahui perbedaan faktor pasien, faktor penyakit, dan faktor jenis pembiayaan terhadap biaya medik langsung pada pasien CKD dengan tindakan hemodialisis rawat jalan dan rawat inap. Jenis penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif analitik menurut perspektif rumah sakit. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan melihat rekam medis pasien yang melakukan hemodialisis pada periode Januari sampai Juni 2014 di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Variabel terikat (dependent variable) adalah total biaya medik langsung pasien rawat inap dan rawat jalan yang melakukan tindakan hemodialisis di Rumah sakit Bethesda Yogyakarta, sedangkan variabel bebas (independent variable) adalah faktor pasien, faktor penyakit, dan faktor jenis pembiayaan. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif, distribusi varian, uji Mann-Whitney, dan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien CKD dengan tindakan hemodialisis yang masuk kriteria inklusi sebanyak 104 pasien dengan 1.861 episode rawat jalan dan 31 episode rawat inap. Cost of illness pasien CKD dengan tindakan hemodialisis sebesar Rp. 2.295.068.531,00. Pada pasien rawat jalan terdapat perbedaan total biaya medik langsung pada faktor jenis kelamin, usia, jenis komorbid, dan frekuensi hemodialisis. Pada pasien rawat inap, tidak ada perbedaan antara faktor tersebut terhadap total biaya medik langsung. Kata kunci: cost of illness, penyakit ginjal kronik, hemodialisis","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"14 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-09-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128392160","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pengukuran kinerja perlu dilakukan di instalasi farmasi. Balanced scorecard menggunakan empat perspektif yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pertumbuhan dan pembelajaran. Tujuan penelitian ialah mengukur kinerja instalasi farmasi menggunakan balanced scorecard serta menyusun peta strategi yang paling sesuai untuk pengembangan instalasi farmasi. Penelitian termasuk penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dan prospektif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2014 sampai Februari 2015 menggunakan kuesioner, lembar pengamatan, dan pedoman wawancara. Kinerja pada balanced scorecard diukur melalui indikator dalam perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pertumbuhan dan pembelajaran. Hasil pengukuran kinerja dikombinasi dengan analisis strengths weaknesses opportunities threats (SWOT) digunakan dalam pembuatan peta strategi. Hasil penelitian menunjukkan kinerja yang baik pada indikator pertumbuhan pendapatan, kepuasan pelanggan, keterjaringan pelanggan, pertumbuhan pelanggan, ketersediaan obat, kepatuhan formularium, persentase stok mati, persentase perbekalan farmasi expired date (ED) dan rusak, analisis unit dose dispensing, produktivitas karyawan, turn over karyawan, kepemimpinan, dan kerja tim. Indikator yang memerlukan perbaikan kinerja antara lain inventory turn over ratio (ITOR), dispensing time, kepuasan kerja karyawan, pelatihan karyawan, budaya organisasi, keselarasan, dan kapabilitas sistem informasi. Posisi instalasi farmasi berada pada kuadran III matriks SWOT dengan strategi memperbaiki kelemahan untuk mengambil kesempatan. Peta strategi memprioritaskan penguatan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pelayanan farmasi sehingga terjadi peningkatan pertumbuhan pelanggan dan pertumbuhan pendapatan. Peningkatan profit dapat tercapai melalui pertumbuhan pendapatan yang meningkat dan efisiensi biaya pada perspektif keuangan. Kata kunci: kinerja, balanced scorecard, analisis SWOT, peta strategi
{"title":"ANALISIS KINERJA DAN PEMETAAN STRATEGI INSTALASI FARMASI MENGGUNAKAN BALANCED SCORECARD","authors":"Amanda Marselin, S. Satibi, P. E. Wardani","doi":"10.22146/JMPF.228","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.228","url":null,"abstract":"Pengukuran kinerja perlu dilakukan di instalasi farmasi. Balanced scorecard menggunakan empat perspektif yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pertumbuhan dan pembelajaran. Tujuan penelitian ialah mengukur kinerja instalasi farmasi menggunakan balanced scorecard serta menyusun peta strategi yang paling sesuai untuk pengembangan instalasi farmasi. Penelitian termasuk penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dan prospektif. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2014 sampai Februari 2015 menggunakan kuesioner, lembar pengamatan, dan pedoman wawancara. Kinerja pada balanced scorecard diukur melalui indikator dalam perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pertumbuhan dan pembelajaran. Hasil pengukuran kinerja dikombinasi dengan analisis strengths weaknesses opportunities threats (SWOT) digunakan dalam pembuatan peta strategi. Hasil penelitian menunjukkan kinerja yang baik pada indikator pertumbuhan pendapatan, kepuasan pelanggan, keterjaringan pelanggan, pertumbuhan pelanggan, ketersediaan obat, kepatuhan formularium, persentase stok mati, persentase perbekalan farmasi expired date (ED) dan rusak, analisis unit dose dispensing, produktivitas karyawan, turn over karyawan, kepemimpinan, dan kerja tim. Indikator yang memerlukan perbaikan kinerja antara lain inventory turn over ratio (ITOR), dispensing time, kepuasan kerja karyawan, pelatihan karyawan, budaya organisasi, keselarasan, dan kapabilitas sistem informasi. Posisi instalasi farmasi berada pada kuadran III matriks SWOT dengan strategi memperbaiki kelemahan untuk mengambil kesempatan. Peta strategi memprioritaskan penguatan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pelayanan farmasi sehingga terjadi peningkatan pertumbuhan pelanggan dan pertumbuhan pendapatan. Peningkatan profit dapat tercapai melalui pertumbuhan pendapatan yang meningkat dan efisiensi biaya pada perspektif keuangan. Kata kunci: kinerja, balanced scorecard, analisis SWOT, peta strategi","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"14 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-09-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"117011232","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Salah satu bentuk pelayanan komprehensif bagi pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 pada fasilitas kesehatan tingkat pertama adalah home care. Penelitian bertujuan melihat pengaruh pemberian home care oleh apoteker terhadap tingkat kepatuhan, kadar glukosa darah sewaktu (GDS), dan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Penelitian termasuk kuasi eksperimental yang dilakukan di Puskesmas Srandakan, Bantul pada Maret hingga Juni 2015 dengan metode pretest-posttest design with control group. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling. Sebanyak 58 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing sebanyak 29 pasien. Pemberian home care dilakukan dalam bentuk konseling di rumah pasien. Pengukuran kepatuhan menggunakan Morisky Modified Adherence Scale 8, kadar GDS didapat dari rekam medis pasien, dan kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life Clinical Trial Questionnaire. Data diolah menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa pemberian home careoleh apoteker dapat meningkatkan kepatuhan, kualitas hidup total, dan menurunkan kadar GDS pasien kelompok perlakuan secara signifikan. Namun demikian,kenaikan kepatuhan, kualitas hidup total, dan penurunan kadar GDS pasien tersebut belum berbeda secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hanya perbaikan domain efek pengobatan dan frekuensi gejala dari kualitas hidup pasien yang berbeda signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kata kunci: home care, apoteker, diabetes mellitus, kepatuhan, kualitas hidup
{"title":"PENGARUH PEMBERIAN HOME CARE OLEH APOTEKER PADA PASIEN DIABETES MELITUS","authors":"M. Rokhman, Chlara Nikke Darakay, R. Raditya","doi":"10.22146/JMPF.213","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.213","url":null,"abstract":"Salah satu bentuk pelayanan komprehensif bagi pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 pada fasilitas kesehatan tingkat pertama adalah home care. Penelitian bertujuan melihat pengaruh pemberian home care oleh apoteker terhadap tingkat kepatuhan, kadar glukosa darah sewaktu (GDS), dan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Penelitian termasuk kuasi eksperimental yang dilakukan di Puskesmas Srandakan, Bantul pada Maret hingga Juni 2015 dengan metode pretest-posttest design with control group. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling. Sebanyak 58 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing sebanyak 29 pasien. Pemberian home care dilakukan dalam bentuk konseling di rumah pasien. Pengukuran kepatuhan menggunakan Morisky Modified Adherence Scale 8, kadar GDS didapat dari rekam medis pasien, dan kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life Clinical Trial Questionnaire. Data diolah menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa pemberian home careoleh apoteker dapat meningkatkan kepatuhan, kualitas hidup total, dan menurunkan kadar GDS pasien kelompok perlakuan secara signifikan. Namun demikian,kenaikan kepatuhan, kualitas hidup total, dan penurunan kadar GDS pasien tersebut belum berbeda secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hanya perbaikan domain efek pengobatan dan frekuensi gejala dari kualitas hidup pasien yang berbeda signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kata kunci: home care, apoteker, diabetes mellitus, kepatuhan, kualitas hidup","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"191 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-09-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122967418","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Stroke hemoragik terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak. Pembuluh darah otak pecah disebabkan karena tekanan darah tinggi. Obat antihipertensi banyak digunakan pada pasien dengan tekanan darah tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tidak tercapainya target tekanan darah pada pasien stroke hemoragikakut yang diobati dengan antihipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian analitis dilakukan dengan menggunakan case control study. Subyek penelitian adalah pasien stroke hemoragik akut yang memenuhi kriteria inklusi dan diobati dengan antihipertensi. Pasien diklasifikasikan kedalam kelompok kasus jika hasil rekam medis dan stroke register menunjukkan tekanan darah >140/90 mmHg, sedangkan kelompok kontrol adalah pasien stroke hemoragik akut dengan tekanan darah ≤140/90 mgHg. Faktor prediktor yang diteliti berupa jenis kelamin, usia, komorbid, obat penyerta, jumlah komorbid, golongan antihipertensi, jumlah antihipertensi, sediaan antihipertensi, dan baseline tekanan darah. Data dianalisis menggunakan bivariat dan multivariat. Pada studi ini150 pasien stroke hemoragik akut memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien dengan jenis kelamin laki-laki (OR=2,279; 95% CI=1,137–4,571; p=0,020) dan pasien dengan komorbid gangguan ginjal (OR=2,733; 95% CI=1,047-7,135; p=0,040) memiliki pengaruh paling signifikan terhadap tidak tercapainya target tekanan darah. Usia, komorbid (hipertensi, dislipidemia, penyakit jantung, diabetes mellitus), obat penyerta, jumlah komorbid, antihipertensi (golongan, jumlah, sediaan), dan baseline tekanan darah tidak memiliki pengaruh terhadap tidak tercapainya target tekanan darah. Faktor prediktor yang signifikan berpengaruh terhadap tidak tercapainya target tekanan darah pada pasien stroke hemoragik akut adalah jenis kelamin laki-laki dan gangguan ginjal. Kata kunci: stroke hemoragik, antihipertensi, faktor prediktor
血性中风是由于大脑血管破裂引起的。高血压引起的脑血管破裂。高血压患者广泛服用抗高血压药物。本研究的目的是确定影响脑卒中患者血压目标用抗高血压药物治疗的因素。这项研究是通过案例控制研究进行的分析研究。研究对象是急性出血性中风患者,该患者符合包性中风标准,并接受抗高血压药物治疗。案件分类进组的病人如果病历和中风收银机的结果显示血压> 140/90 mmHg,而对照组则是急性出血性中风病人的血压≤140/90 mgHg。研究的预测因素包括性别、年龄、共生体、化学药物、共生体、高血压、抗高血压、降压量和血压基线。用双变量和多变量分析数据。在这项研究中,150名急性血性中风患者符合夹杂物标准。研究表明,男性患者(或=2,279;95% CI = 1,137——4,571;p= 020)和患有慢性肾病的患者(或=2,733;95% CI = 1,047-7,135;对血压目标的影响最为显著。年龄、致病、肝病、糖尿病、性状药物、共谋、抗高血压(血型、数量、意愿)和底线对降低血压目标没有影响。急性血性中风患者血压目标失灵的重要预测因素是男性和肾脏疾病。关键词:出血性中风、抗高血压药、预测因子
{"title":"FAKTOR PREDIKTOR TIDAK TERCAPAINYA TARGET TEKANAN DARAH PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK AKUT","authors":"Wisnu Amboro, Ika Puspitasari, Rizaldy T. Pinzon","doi":"10.22146/JMPF.210","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.210","url":null,"abstract":"Stroke hemoragik terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak. Pembuluh darah otak pecah disebabkan karena tekanan darah tinggi. Obat antihipertensi banyak digunakan pada pasien dengan tekanan darah tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tidak tercapainya target tekanan darah pada pasien stroke hemoragikakut yang diobati dengan antihipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian analitis dilakukan dengan menggunakan case control study. Subyek penelitian adalah pasien stroke hemoragik akut yang memenuhi kriteria inklusi dan diobati dengan antihipertensi. Pasien diklasifikasikan kedalam kelompok kasus jika hasil rekam medis dan stroke register menunjukkan tekanan darah >140/90 mmHg, sedangkan kelompok kontrol adalah pasien stroke hemoragik akut dengan tekanan darah ≤140/90 mgHg. Faktor prediktor yang diteliti berupa jenis kelamin, usia, komorbid, obat penyerta, jumlah komorbid, golongan antihipertensi, jumlah antihipertensi, sediaan antihipertensi, dan baseline tekanan darah. Data dianalisis menggunakan bivariat dan multivariat. Pada studi ini150 pasien stroke hemoragik akut memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien dengan jenis kelamin laki-laki (OR=2,279; 95% CI=1,137–4,571; p=0,020) dan pasien dengan komorbid gangguan ginjal (OR=2,733; 95% CI=1,047-7,135; p=0,040) memiliki pengaruh paling signifikan terhadap tidak tercapainya target tekanan darah. Usia, komorbid (hipertensi, dislipidemia, penyakit jantung, diabetes mellitus), obat penyerta, jumlah komorbid, antihipertensi (golongan, jumlah, sediaan), dan baseline tekanan darah tidak memiliki pengaruh terhadap tidak tercapainya target tekanan darah. Faktor prediktor yang signifikan berpengaruh terhadap tidak tercapainya target tekanan darah pada pasien stroke hemoragik akut adalah jenis kelamin laki-laki dan gangguan ginjal. Kata kunci: stroke hemoragik, antihipertensi, faktor prediktor","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"51 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-09-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127285465","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Central Steril Supply Departement (CSSD) merupakan salah satu unit pengelola alat kesehatan dan linen steril pada fase akhir di rumah sakit, sehingga CSSD merupakan ujung tombak terjaminnya sterilitas alat kesehatan. Oleh karena itu, dibutuhkan tenaga kesehatan yang mampu mengelola kinerja CSSD secara baik, serta dapat pula menjamin semua produk CSSD di rumah sakit agar dapat dikelola secara optimal sesuai kebutuhan medis. Penelitian bertujuan untuk melihat hubungan dan perbedaan karakteristik pimpinan dan karakteristik rumah sakit terhadap praktek sterilisasi yang baik di CSSD rumah sakit. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling. Alat yang digunakan adalah kuesioner. Lokasi penelitian yaitu 23 rumah sakit kelas A dan B di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jumlah responden yang digunakan sebanyak 38 responden, terdiri dari kepala dan sub divisi CSSD. Analisis penelitian ini menggunakan analisis deskriptif analitik, serta merupakan penelitian korelasi Spearman’s rank, uji T, dan anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dan perbedaan karakteristik pimpinan CSSD (tingkat pendidikan, jenis kelamin, pimpinan yang mengetahui CSSD dan memahami proses sterilisasi sebelum bekerja di CSSD) terhadap praktek sterilisasi yang baik di CSSD. Adanya hubungan signifikan karakteristik rumah sakit berdasarkan jumlah tempat tidur terhadap praktek sterilisasi yang baik di CSSD dengan nilai signifikasi 0,015. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara profesi tenaga kesehatan CSSD (apoteker, perawat, kesehatan masyarakat) terhadap praktek sterilisasi yang baik di CSSD rumah sakit. Kata kunci: karakteristik, pimpinan, rumah sakit, CSSD, sterilisasi
{"title":"ANALISIS KARAKTERISTIK PIMPINAN DAN RUMAH SAKIT DALAM PRAKTEK STERILISASI YANG BAIK","authors":"Achmad Kadri Ansyori, S. Satibi, R. Mulyaningsih","doi":"10.22146/JMPF.207","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.207","url":null,"abstract":"Central Steril Supply Departement (CSSD) merupakan salah satu unit pengelola alat kesehatan dan linen steril pada fase akhir di rumah sakit, sehingga CSSD merupakan ujung tombak terjaminnya sterilitas alat kesehatan. Oleh karena itu, dibutuhkan tenaga kesehatan yang mampu mengelola kinerja CSSD secara baik, serta dapat pula menjamin semua produk CSSD di rumah sakit agar dapat dikelola secara optimal sesuai kebutuhan medis. Penelitian bertujuan untuk melihat hubungan dan perbedaan karakteristik pimpinan dan karakteristik rumah sakit terhadap praktek sterilisasi yang baik di CSSD rumah sakit. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling. Alat yang digunakan adalah kuesioner. Lokasi penelitian yaitu 23 rumah sakit kelas A dan B di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jumlah responden yang digunakan sebanyak 38 responden, terdiri dari kepala dan sub divisi CSSD. Analisis penelitian ini menggunakan analisis deskriptif analitik, serta merupakan penelitian korelasi Spearman’s rank, uji T, dan anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dan perbedaan karakteristik pimpinan CSSD (tingkat pendidikan, jenis kelamin, pimpinan yang mengetahui CSSD dan memahami proses sterilisasi sebelum bekerja di CSSD) terhadap praktek sterilisasi yang baik di CSSD. Adanya hubungan signifikan karakteristik rumah sakit berdasarkan jumlah tempat tidur terhadap praktek sterilisasi yang baik di CSSD dengan nilai signifikasi 0,015. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara profesi tenaga kesehatan CSSD (apoteker, perawat, kesehatan masyarakat) terhadap praktek sterilisasi yang baik di CSSD rumah sakit. Kata kunci: karakteristik, pimpinan, rumah sakit, CSSD, sterilisasi","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"5 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-09-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126939066","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
The marketing concept nowadays is more focused on creating long-term relationships with consumers who could give a positive impact on increasing market share and profitability. One of them can be achieved by establishing strong branding that influence customer loyalty. This study aimed to determine the effect of brand personality and trust on Kiranti’s brand loyalty. This research was an observational analytic study using cross sectional survey method. Data were obtained by questionnaire tools using 1-4 Likert scale. Sampling was conducted using non-probability purposive sampling. The samples were 100 people. The data were analyzed by simple and multiple linear regression analysis with a 95% of confidence level. The result showed that brand excitement and brand emotionality had positive and significant effect on brand trust, whereas the brand sophistication and brand activity had positive effect but notsignificant on brand trust. Brand excitement, sophistication brand, brand activity, and brand emotionality (or called brand personality)simultaneously had a positive and significant effect on brand trust with strong relationship. Brand trust had a positive and significant effect on Kiranti’s brand loyalty. Keywords: brand personality, brand trust, brand loyalty, Kiranti
{"title":"The Effect of Brand Personality and Trust on Kiranti’s Brand Loyalty","authors":"Yessi Lusiana Dewi, Samsubar Saleh, S. Sampurno","doi":"10.22146/JMPF.22","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.22","url":null,"abstract":"The marketing concept nowadays is more focused on creating long-term relationships with consumers who could give a positive impact on increasing market share and profitability. One of them can be achieved by establishing strong branding that influence customer loyalty. This study aimed to determine the effect of brand personality and trust on Kiranti’s brand loyalty. This research was an observational analytic study using cross sectional survey method. Data were obtained by questionnaire tools using 1-4 Likert scale. Sampling was conducted using non-probability purposive sampling. The samples were 100 people. The data were analyzed by simple and multiple linear regression analysis with a 95% of confidence level. The result showed that brand excitement and brand emotionality had positive and significant effect on brand trust, whereas the brand sophistication and brand activity had positive effect but notsignificant on brand trust. Brand excitement, sophistication brand, brand activity, and brand emotionality (or called brand personality)simultaneously had a positive and significant effect on brand trust with strong relationship. Brand trust had a positive and significant effect on Kiranti’s brand loyalty. Keywords: brand personality, brand trust, brand loyalty, Kiranti","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"25 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128301737","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Administration of gentamicin in pediatric with severe pneumonia cases is a rational use of antibiotic. Gentamicin as a narrow therapeutic range agent (0.5 to 10 mg/L) should be followed by monitoring using TDM in order to know the levels of drug in the patient’s body so it does not cause toxicity or effects of drugs that are too small. This study aimed to estimate levels of gentamicin in serum after administration pediatric with pneumonia at Dr. Sardjito Hospital and assesed the improvement of clinical outcomes.The study was conducted retrospectively and data were obtained from medical record of pediatric inpatient, 1 month-16 years, whose recieved gentamicin in Dr. Sardjito Hospital in period between January 2009-April 2014. Clinical outcomes were namely body temperature, respiratory rate, chest retraction, and leucocyte number. The data were analyzed descriptively including the patient characteristics, estimated blood levels of gentamicin, estimated gentamicin for adjusment dose. In order to determine the effect of clinical outcome parameter on the success of therapy. Data were analyzed statistically using chi square on SPSS program. The results showed that the average of blood levels of gentamicin in all 31 patients were in therapeutic range (0.5 to 10 mg/L). However there were 20 patients (64,52%) had the level of gentamicin at > 10 mg/L and 10 patient (32,26%) had < 0,5 mg/L. The research also showed that 8 patient had improvement in the clinical outcome although 23 patient not yet had improvement in these parameters. Keywords: severe pneumonia, gentamicin, dose evaluation, estimate levels, clinical outcome
{"title":"EVALUATION OF GENTAMICIN DOSES FOR TREATING CHILDREN WITH SEVERE PNEUMONIA","authors":"N. E. Endriastuti, D. Wahyono, R. Sukarno","doi":"10.22146/JMPF.25","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.25","url":null,"abstract":"Administration of gentamicin in pediatric with severe pneumonia cases is a rational use of antibiotic. Gentamicin as a narrow therapeutic range agent (0.5 to 10 mg/L) should be followed by monitoring using TDM in order to know the levels of drug in the patient’s body so it does not cause toxicity or effects of drugs that are too small. This study aimed to estimate levels of gentamicin in serum after administration pediatric with pneumonia at Dr. Sardjito Hospital and assesed the improvement of clinical outcomes.The study was conducted retrospectively and data were obtained from medical record of pediatric inpatient, 1 month-16 years, whose recieved gentamicin in Dr. Sardjito Hospital in period between January 2009-April 2014. Clinical outcomes were namely body temperature, respiratory rate, chest retraction, and leucocyte number. The data were analyzed descriptively including the patient characteristics, estimated blood levels of gentamicin, estimated gentamicin for adjusment dose. In order to determine the effect of clinical outcome parameter on the success of therapy. Data were analyzed statistically using chi square on SPSS program. The results showed that the average of blood levels of gentamicin in all 31 patients were in therapeutic range (0.5 to 10 mg/L). However there were 20 patients (64,52%) had the level of gentamicin at > 10 mg/L and 10 patient (32,26%) had < 0,5 mg/L. The research also showed that 8 patient had improvement in the clinical outcome although 23 patient not yet had improvement in these parameters. Keywords: severe pneumonia, gentamicin, dose evaluation, estimate levels, clinical outcome","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"108 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122699095","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
The primary component for maintaining the long term sustainability of a company is customer loyalty. Many factorsaffect customer loyalty in the business-to-business relationship. This study aimed to determine the factors that affect the pharmacy loyalty to the pharmaceutical wholesaler.The study was obtained using questionnaire with 1-4 Likert scale. The sampling method was purposive sampling and the sample was 130 respondents. The questionnaire validaty was tested by factor analysis, while the reliability test was conducted usingCronbach’s Alpha. Data were analyzed using SEM-PLS (Structural Equation Modeling-Partial Least Square).The results showed that pharmaceutical wholesaler’s service quality had a positive effect on pharmacy satisfaction (p-value <0.001 and the path coefficient value = 0.566). Pharmacy satisfaction had a positive influence on pharmacy trust (p-value <0.001 andthe path coefficient value = 0.32), pharmacy commitment (p-value = 0.005 and the path coefficient value = 0.191), and pharmacyloyalty (p-value = 0.014 and the path coefficient value = 0.161). Pharmacy trust had a positiveinfluence on commitment pharmacy (p-value is 0.037 and the path coefficient value = 0.13) and a pharmacy loyalty toward the pharmaceutical wholesaler(p-value = 0.001 and the path coefficient value = 0.254). Commitment pharmacies had a positive effect on pharmacy loyalty (p-value= 0.034 and the path coefficient value = 0.134). To sum up, the most powerful factor among the three variables in influencingloyalty was pharmacy trust. Keywords: service quality, satisfaction, trust, commitment, loyalty
{"title":"FACTORS THAT AFFECTING THE PHARMACY LOYALTY ON THE PHARMACEUTICAL WHOLESALER","authors":"Dianita Rifqia Putri, S. P. Syahlani, D. Wahyono","doi":"10.22146/JMPF.27","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.27","url":null,"abstract":"The primary component for maintaining the long term sustainability of a company is customer loyalty. Many factorsaffect customer loyalty in the business-to-business relationship. This study aimed to determine the factors that affect the pharmacy loyalty to the pharmaceutical wholesaler.The study was obtained using questionnaire with 1-4 Likert scale. The sampling method was purposive sampling and the sample was 130 respondents. The questionnaire validaty was tested by factor analysis, while the reliability test was conducted usingCronbach’s Alpha. Data were analyzed using SEM-PLS (Structural Equation Modeling-Partial Least Square).The results showed that pharmaceutical wholesaler’s service quality had a positive effect on pharmacy satisfaction (p-value <0.001 and the path coefficient value = 0.566). Pharmacy satisfaction had a positive influence on pharmacy trust (p-value <0.001 andthe path coefficient value = 0.32), pharmacy commitment (p-value = 0.005 and the path coefficient value = 0.191), and pharmacyloyalty (p-value = 0.014 and the path coefficient value = 0.161). Pharmacy trust had a positiveinfluence on commitment pharmacy (p-value is 0.037 and the path coefficient value = 0.13) and a pharmacy loyalty toward the pharmaceutical wholesaler(p-value = 0.001 and the path coefficient value = 0.254). Commitment pharmacies had a positive effect on pharmacy loyalty (p-value= 0.034 and the path coefficient value = 0.134). To sum up, the most powerful factor among the three variables in influencingloyalty was pharmacy trust. Keywords: service quality, satisfaction, trust, commitment, loyalty","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"5 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130222438","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
One of the breast cancer management is done by hormone therapy. This study aimed to determine the main cost component of therapy, the cost of therapy both in outpatient and inpatient, and also the influence of patient characteristics, factor of therapy, and type of hormone therapy on breast cancer treatment costs at RSUP dr Wahidin Sudirohusodo. The research method was an analitic observational study from hospital perspective. The subjects were outpatient and inpatient with breast cancer in the period January-June 2014 at RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo who met the inclusion criteria. The data was collected retrospectively which extracted from medical records and the treatment costdata from breast cancer patients. The data was analyzed by calculating the prevalence of breast cancer patients given hormone therapy, major components of costs, and expenses for each component, both for therapy outpatient or inpatient. The results showed that breast cancer patient which included in inclusion criteria were 105 patient. The range cost for inpatient surgerywas Rp 5.436.756 - Rp 5.646.678 with the largest cost component was the medical substance after use (BHP) which included in the cost of medical action 28,6%. The cost range for inpatient chemotheraphy was Rp 2.546.166 - Rp. 6.823.821 with the largest cost component was the cost of drugs namely 83,5%. The cost range for outpatient was Rp 1.538.750 - Rp 4.202.935 with the largest cost component was the cost of drugs namely 63,57%. Patient characteristics that influenced the cost of breast cancer were stage (p = 0,001), medical action (p = 0.001), and cycles of therapy (p = 0,027). In addition, the type of hormone therapy also affects the cost of breast cancer (p = 0,047). Keywords: breast cancer, hormone therapy, cost of therapy
{"title":"COST ANALYSIS OF THERAPY FOR BREAST CANCER PATIENTS WITH HORMONE THERAPY","authors":"Vina Purnamasari, T. Andayani, A. Fudholi","doi":"10.22146/JMPF.31","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.31","url":null,"abstract":"One of the breast cancer management is done by hormone therapy. This study aimed to determine the main cost component of therapy, the cost of therapy both in outpatient and inpatient, and also the influence of patient characteristics, factor of therapy, and type of hormone therapy on breast cancer treatment costs at RSUP dr Wahidin Sudirohusodo. The research method was an analitic observational study from hospital perspective. The subjects were outpatient and inpatient with breast cancer in the period January-June 2014 at RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo who met the inclusion criteria. The data was collected retrospectively which extracted from medical records and the treatment costdata from breast cancer patients. The data was analyzed by calculating the prevalence of breast cancer patients given hormone therapy, major components of costs, and expenses for each component, both for therapy outpatient or inpatient. The results showed that breast cancer patient which included in inclusion criteria were 105 patient. The range cost for inpatient surgerywas Rp 5.436.756 - Rp 5.646.678 with the largest cost component was the medical substance after use (BHP) which included in the cost of medical action 28,6%. The cost range for inpatient chemotheraphy was Rp 2.546.166 - Rp. 6.823.821 with the largest cost component was the cost of drugs namely 83,5%. The cost range for outpatient was Rp 1.538.750 - Rp 4.202.935 with the largest cost component was the cost of drugs namely 63,57%. Patient characteristics that influenced the cost of breast cancer were stage (p = 0,001), medical action (p = 0.001), and cycles of therapy (p = 0,027). In addition, the type of hormone therapy also affects the cost of breast cancer (p = 0,047). Keywords: breast cancer, hormone therapy, cost of therapy","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"76 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131526032","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak. Salah satu penanganan skizofrenia adalah dengan memberikan antipsikotik untuk mencegah gejala yang timbul. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pola penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru. Penelitian ini merupakan penelitian observasional jenis studi deskriptif dengan menggunakan data rekam medik. Penelitian ini dilakukan pada 81 rekam medik pasien periode Januari 2015 – Juni 2015 yang menerima pengobatan antipsikotik dan dianalisis dengan analisis univariat. Data yang diperoleh menunjukkan terapi kombinasi lebih banyak digunakan (95,08%) dari pada terapi tunggal (4,96%). Pada terapi tunggal antipsikotik yang paling banyak digunakan adalah haloperidol dan risperidon dengan persentase yang sama (2,46%) dan pada terapi kombinasi antipsikotik yang paling banyak digunakan adalah haloperidol dan klorpromazin (37,03%). Kategori pengobatan yang paling banyak digunakan adalah pengobatan antipsikotik tipikal (56,79%), atipikal (3,7%) dan kombinasi tipikal dan atipikal (39,5%). Kata kunci: skizofrenia, antipsikotik, Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru
{"title":"GAMBARAN POLA PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASEN SKIZOFRENIA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA","authors":"Fina Aryani, O. Sari","doi":"10.22146/JMPF.236","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/JMPF.236","url":null,"abstract":"Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak. Salah satu penanganan skizofrenia adalah dengan memberikan antipsikotik untuk mencegah gejala yang timbul. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pola penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru. Penelitian ini merupakan penelitian observasional jenis studi deskriptif dengan menggunakan data rekam medik. Penelitian ini dilakukan pada 81 rekam medik pasien periode Januari 2015 – Juni 2015 yang menerima pengobatan antipsikotik dan dianalisis dengan analisis univariat. Data yang diperoleh menunjukkan terapi kombinasi lebih banyak digunakan (95,08%) dari pada terapi tunggal (4,96%). Pada terapi tunggal antipsikotik yang paling banyak digunakan adalah haloperidol dan risperidon dengan persentase yang sama (2,46%) dan pada terapi kombinasi antipsikotik yang paling banyak digunakan adalah haloperidol dan klorpromazin (37,03%). Kategori pengobatan yang paling banyak digunakan adalah pengobatan antipsikotik tipikal (56,79%), atipikal (3,7%) dan kombinasi tipikal dan atipikal (39,5%). Kata kunci: skizofrenia, antipsikotik, Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru","PeriodicalId":125871,"journal":{"name":"Journal of Management and Pharmacy Practice","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2015-03-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130034878","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}