Pub Date : 2020-03-02DOI: 10.14710/IJFST.16.1.8-14
Asriyana Asriyana, La Asrin, Halili Halili, Nur Irawati
Pengetahuan tentang makanan dan tingkat pemanfaatan makanan ikan kakatua penting untuk memahami peranan ekologi ikan kakatua dalam menjaga kelangsungan dan keseimbangan kondisi terumbu karang agar tetap baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makanan ikan kakatua di perairan Tanjung Tiram, Sulawesi Tenggara. Pengambilan contoh dilakukan sekali sebulan selama empat bulan dari bulan Januari sampai April 2018, dengan bottom experimental gillnets berukuran mata jaring 1¼, 1½, dan 2 inci. Makanan dianalisis menggunakan indeks kepenuhan lambung, indeks bagian terbesar, luas relung, dan tumpang tindih relung. Jumlah ikan yang terkumpul sebanyak 358 ekor, dengan kisaran panjang total sekitar 69,0-195mm dan bobot 4,96-159,86 g. Ditemukan 6 macam organisme makanan dalam saluran pencernaan ikan kakatua. Menu makanan didominasi oleh kelompok alga hijau spesies Ulva lactuca dan Caulerpa racemosa . Tidak terdapat perbedaan komposisi jenis makanan ikan kakatua baik antar jenis kelamin maupun waktu pengamatan. Dalam memanfaatkan sumber daya makanan di perairan, ikan kakatua tidak selektif yang terindikasi dari nilai luas relung yang rendah. Peluang kompetisi intraspesifik terhadap makanan tertinggi saat bulan Januari hingga April. Knowledge of food habit and the level of utilization of rivulated parrotfish are important to understanding the role of parrotfish ecology in maintaining the continuity and balance of coral reef conditions to remain good. This study aims to analyze the food habit of rivulated parrotfish in the waters of Tanjung Tiram, Southeast Sulawesi.Sampling was done monthly from January to April 2018, with bottom experimental gillnets with mesh size 1 ¼, and 1 ½ inches. The food habits was analyzed using index of fullness, index of preponderance,niche breadth, and niche overlapping. There were 358 fish with total length and weight ranged from 69.0-195.0 mm and 4.96-159.86 g respectively. There were six grouped of food organisms in the digestive tract of rivulated parrotfish. Important diet of rivulated parrotfish is green algae, Ulva lactuca and Caulerpa racemosa species.This study concludes that sex and temporal variations of food composition do not differ significantly.In utilizing food resources in the waters, rivulated parrotfishis not selective which is indicated by a low value of niche breadth. The highest intraspecific competition for food is from January to April.
{"title":"MAKANAN IKAN KAKATUA (Scarus rivulatus Valenciennes, 1840) DI PERAIRAN TANJUNG TIRAM, KECAMATAN MORAMO UTARA, KABUPATEN KONAWE SELATAN SULAWESI TENGGARA","authors":"Asriyana Asriyana, La Asrin, Halili Halili, Nur Irawati","doi":"10.14710/IJFST.16.1.8-14","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.16.1.8-14","url":null,"abstract":"Pengetahuan tentang makanan dan tingkat pemanfaatan makanan ikan kakatua penting untuk memahami peranan ekologi ikan kakatua dalam menjaga kelangsungan dan keseimbangan kondisi terumbu karang agar tetap baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makanan ikan kakatua di perairan Tanjung Tiram, Sulawesi Tenggara. Pengambilan contoh dilakukan sekali sebulan selama empat bulan dari bulan Januari sampai April 2018, dengan bottom experimental gillnets berukuran mata jaring 1¼, 1½, dan 2 inci. Makanan dianalisis menggunakan indeks kepenuhan lambung, indeks bagian terbesar, luas relung, dan tumpang tindih relung. Jumlah ikan yang terkumpul sebanyak 358 ekor, dengan kisaran panjang total sekitar 69,0-195mm dan bobot 4,96-159,86 g. Ditemukan 6 macam organisme makanan dalam saluran pencernaan ikan kakatua. Menu makanan didominasi oleh kelompok alga hijau spesies Ulva lactuca dan Caulerpa racemosa . Tidak terdapat perbedaan komposisi jenis makanan ikan kakatua baik antar jenis kelamin maupun waktu pengamatan. Dalam memanfaatkan sumber daya makanan di perairan, ikan kakatua tidak selektif yang terindikasi dari nilai luas relung yang rendah. Peluang kompetisi intraspesifik terhadap makanan tertinggi saat bulan Januari hingga April. Knowledge of food habit and the level of utilization of rivulated parrotfish are important to understanding the role of parrotfish ecology in maintaining the continuity and balance of coral reef conditions to remain good. This study aims to analyze the food habit of rivulated parrotfish in the waters of Tanjung Tiram, Southeast Sulawesi.Sampling was done monthly from January to April 2018, with bottom experimental gillnets with mesh size 1 ¼, and 1 ½ inches. The food habits was analyzed using index of fullness, index of preponderance,niche breadth, and niche overlapping. There were 358 fish with total length and weight ranged from 69.0-195.0 mm and 4.96-159.86 g respectively. There were six grouped of food organisms in the digestive tract of rivulated parrotfish. Important diet of rivulated parrotfish is green algae, Ulva lactuca and Caulerpa racemosa species.This study concludes that sex and temporal variations of food composition do not differ significantly.In utilizing food resources in the waters, rivulated parrotfishis not selective which is indicated by a low value of niche breadth. The highest intraspecific competition for food is from January to April.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128519583","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-03-02DOI: 10.14710/ijfst.16.1.15-21
Heny Budi Setyorini, Ernastin Maria
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia pada berbagai jenis makroalga di Pantai Jungwok, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan di Pantai Jungwok, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Materi penelitian ini adalah makroalga ( Ulva sp., Gracillaria sp., dan Boergesenia sp). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel makroalga menggunakan purposive sampling . Lokasi pengambilan sampel makroalga berada di bagian timur, tengah dan barat Pantai Jungwok. Analisis skrining fitokimia dilakukan dengan uji kualitatif. Analisis skrining alkaloid menggunakan metode Culvenor Fitzgerald , sedangkan untuk steroid dan terpenoid menggunakan metode Liebermann - Buchard Test , pada fraksi air yang terbentuk dilanjutkan dengan uji flavonoid, fenolik dan safonin. Hasil penelitian menunjukan bahwa sampel segar makroalga jenis Gracilaria sp., yang berada di bagian tengah Pantai Jungwok paling banyak mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid dan flavonoid. The objective of this research was to identify the content of phytochemical in various types of macroalgae at Jungwok Beach, Gunungkidul District, Yogyakarta. This research was conducted at Jungwok Beach, Gunungkidul District, Yogyakarta. The material of this research were macroalgae (Ulva sp., Gracillaria sp., and Boergesenia sp.). This method of research used survey with a qualitative approach. The technique of collecting data was done through purposive sampling. The macroalgae samples were collected from the eastern, central and western part of Jungwok Beach. The phytochemical tests were carried out using qualitative test. Alkaloid screening analysis using the Culvenor Fitzgerald method, while for steroids and terpenoids using the Liberman Buchard Test method, the formed water fraction is followed by flavonoid, phenolic and safonin tests. The results showed that fresh sample of the macroalgae type Gracilaria sp., which is located in the middle of Jungwok Beach, contains the most bioactive compounds such as alkaloids, terpenoids and flavonoids.
{"title":"ANALISIS KANDUNGAN FITOKIMIA PADA BERBAGAI JENIS MAKROALGA DI PANTAI JUNGWOK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA (Analysis of Phytochemical Contents in Various Types of Macroalgae at Jungwok Beach, Gunungkidul District, Yogyakarta)","authors":"Heny Budi Setyorini, Ernastin Maria","doi":"10.14710/ijfst.16.1.15-21","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/ijfst.16.1.15-21","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia pada berbagai jenis makroalga di Pantai Jungwok, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan di Pantai Jungwok, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Materi penelitian ini adalah makroalga ( Ulva sp., Gracillaria sp., dan Boergesenia sp). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel makroalga menggunakan purposive sampling . Lokasi pengambilan sampel makroalga berada di bagian timur, tengah dan barat Pantai Jungwok. Analisis skrining fitokimia dilakukan dengan uji kualitatif. Analisis skrining alkaloid menggunakan metode Culvenor Fitzgerald , sedangkan untuk steroid dan terpenoid menggunakan metode Liebermann - Buchard Test , pada fraksi air yang terbentuk dilanjutkan dengan uji flavonoid, fenolik dan safonin. Hasil penelitian menunjukan bahwa sampel segar makroalga jenis Gracilaria sp., yang berada di bagian tengah Pantai Jungwok paling banyak mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid dan flavonoid. The objective of this research was to identify the content of phytochemical in various types of macroalgae at Jungwok Beach, Gunungkidul District, Yogyakarta. This research was conducted at Jungwok Beach, Gunungkidul District, Yogyakarta. The material of this research were macroalgae (Ulva sp., Gracillaria sp., and Boergesenia sp.). This method of research used survey with a qualitative approach. The technique of collecting data was done through purposive sampling. The macroalgae samples were collected from the eastern, central and western part of Jungwok Beach. The phytochemical tests were carried out using qualitative test. Alkaloid screening analysis using the Culvenor Fitzgerald method, while for steroids and terpenoids using the Liberman Buchard Test method, the formed water fraction is followed by flavonoid, phenolic and safonin tests. The results showed that fresh sample of the macroalgae type Gracilaria sp., which is located in the middle of Jungwok Beach, contains the most bioactive compounds such as alkaloids, terpenoids and flavonoids.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"27 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123043463","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-03-02DOI: 10.14710/IJFST.16.1.22-30
M. Iqbal, M. Imron, F. Purwangka
Transformasi alat tangkap jaring insang ke pancing tonda adalah upaya untuk meningkatkan hasil tangkapan. Pergeseran alat tangkap ikan telah menyebabkan perubahan dalam metode penangkapan ikan, dan mempengaruhi pergerakan kapal. Saat ini nelayan memodifikasi bagian badan kapal, pemasangan mesin yang belum memasukkan standar perhitungan dalam pembangunannya. Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengidentifikasi kemampuan mesin kapal saat beroperasi, dilihat dari hambatan gesek dan tenaga mesin kapal. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Data diambil menggunakan metode observasi langsung, pengukuran dimensi utama kapal, wawancara ke Nahkoda “KM Untukmu" dan studi pustaka. Data-data tersebut dianalisa dengan menggunakan metode Holtrop untuk mencari nilai hambatan gesekan kapal, metode Telfer untuk mengubah nilai resistensi menjadi nilai gaya propulsi dan metode Nomura dan Yamazaki untuk mencari nilai Brake Horse Power (BHP). Dimensi utama kapal yang diukur adalah tinggi (D), lebar (B), panjang garis air (lwl) dan draft (d). Hasil studi menyimpulkan bahwa, mesin utama “KM Untukmu” memenuhi persyaratan kecepatan yang dibutuhkan untuk melakukan operasi penangkapan ikan, yaitu 4-8 knot dan tinggi draft 1 meter dengan nilai hambatan gesek 257,96-920,64 Newton (N m/s) dan dengan nilai HP yang dibutuhkan berkisar 2,155-23,48 HP. Mesin utama “KM Untukmu" telah memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk melakukan operasi pancing tonda dan mampu bergerak hingga kecepatan 11,12-12,92 knot. Transforming gill nets into troll line rods is an attempt to increase the number of catches. The shift of fishing gear has caused changes in fishing methods, this has affected the ship movements. Now fishermen are modifying ship’s body parts, machinery installation, and its main engine even though they didn’t include shipping calculation standard in its construction. This study objectives are identifying ship's engine performance during fishing operation, which seen from friction resistance and ship’s engine thrust. Data collection method used is direct sampling. Data taken using direct observation method, i.e. of the ship’s main dimensions measurements, Chief of “KM Untukmu” interviews and literature studies. Data analyzed using Holtrop method in order to find ship friction resistance value, and Nomura and Yamazaki method to calculate Brake Horse Power (BHP) value. Ship main dimensions measured are depth (D), breadth (B), length of water line (lwl) and draft (d). Study shows that KM Untukmu’s main engine meets speed requirements needed to carry out fishing operations, namely 4-8 knots and one meters draft height with friction resistance value of 257.96 – 920.64 Newton (N m/s) with HP value needed around 2.15 – 23.48 HP. “KM Untukmu” main engine has fulfilled troll line operation requirements and is capable in moving up the speeds up to 11.12 – 12.92 knots.
{"title":"ANALISIS HAMBATAN GESEK KAPAL MODIFIKASI DARI KAPAL JARING INSANG MENJADI KAPAL PANCING TONDA DI PALABUHANRATU (Evaluation of Ship Resistance from the Modification of Gillnets Vessel Into Troll Lines Vessel in Palabuhanratu)","authors":"M. Iqbal, M. Imron, F. Purwangka","doi":"10.14710/IJFST.16.1.22-30","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.16.1.22-30","url":null,"abstract":"Transformasi alat tangkap jaring insang ke pancing tonda adalah upaya untuk meningkatkan hasil tangkapan. Pergeseran alat tangkap ikan telah menyebabkan perubahan dalam metode penangkapan ikan, dan mempengaruhi pergerakan kapal. Saat ini nelayan memodifikasi bagian badan kapal, pemasangan mesin yang belum memasukkan standar perhitungan dalam pembangunannya. Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengidentifikasi kemampuan mesin kapal saat beroperasi, dilihat dari hambatan gesek dan tenaga mesin kapal. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Data diambil menggunakan metode observasi langsung, pengukuran dimensi utama kapal, wawancara ke Nahkoda “KM Untukmu\" dan studi pustaka. Data-data tersebut dianalisa dengan menggunakan metode Holtrop untuk mencari nilai hambatan gesekan kapal, metode Telfer untuk mengubah nilai resistensi menjadi nilai gaya propulsi dan metode Nomura dan Yamazaki untuk mencari nilai Brake Horse Power (BHP). Dimensi utama kapal yang diukur adalah tinggi (D), lebar (B), panjang garis air (lwl) dan draft (d). Hasil studi menyimpulkan bahwa, mesin utama “KM Untukmu” memenuhi persyaratan kecepatan yang dibutuhkan untuk melakukan operasi penangkapan ikan, yaitu 4-8 knot dan tinggi draft 1 meter dengan nilai hambatan gesek 257,96-920,64 Newton (N m/s) dan dengan nilai HP yang dibutuhkan berkisar 2,155-23,48 HP. Mesin utama “KM Untukmu\" telah memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk melakukan operasi pancing tonda dan mampu bergerak hingga kecepatan 11,12-12,92 knot. Transforming gill nets into troll line rods is an attempt to increase the number of catches. The shift of fishing gear has caused changes in fishing methods, this has affected the ship movements. Now fishermen are modifying ship’s body parts, machinery installation, and its main engine even though they didn’t include shipping calculation standard in its construction. This study objectives are identifying ship's engine performance during fishing operation, which seen from friction resistance and ship’s engine thrust. Data collection method used is direct sampling. Data taken using direct observation method, i.e. of the ship’s main dimensions measurements, Chief of “KM Untukmu” interviews and literature studies. Data analyzed using Holtrop method in order to find ship friction resistance value, and Nomura and Yamazaki method to calculate Brake Horse Power (BHP) value. Ship main dimensions measured are depth (D), breadth (B), length of water line (lwl) and draft (d). Study shows that KM Untukmu’s main engine meets speed requirements needed to carry out fishing operations, namely 4-8 knots and one meters draft height with friction resistance value of 257.96 – 920.64 Newton (N m/s) with HP value needed around 2.15 – 23.48 HP. “KM Untukmu” main engine has fulfilled troll line operation requirements and is capable in moving up the speeds up to 11.12 – 12.92 knots.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"8 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125343783","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pelarangan cantrang menyebabkan kapal-kapal yang selama ini mengoperasikan cantrang harus melakukan penggantian alat penangkapan ikan. Alat penangkapan ikan pengganti yang dominan dipilih oleh para pemilik eks-kapal cantrang adalah jaring insang oseanik. Penggantian cantrang dengan jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang dikhawatirkan akan berdampak terhadap keselamatan kerja nelayan di laut. Salah satu faktor yang mempengaruhi keselamatan kerja nelayan di laut adalah ketersediaan area kerja di atas dek. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada kapal jaring insang oseanik dan menilai kesesuaian area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang. Analisis data menggunakan metode deskriptif komparatif dan numerik komparatif antara area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang dan kapal jaring insang oseanik. Parameter yang dibandingkan adalah ketersediaan area kerja di atas dek dan area kerja bagi setiap ABK saat mengoperasikan jaring insang oseanik, baik pada tahapan setting , hauling , maupun handling . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada kapal jaring insang oseanik sebesar 33,27 – 35,77 m 2 saat setting , 43,20 – 45,55 m 2 saat hauling , dan 14,93 – 15,70 m 2 saat handling . Ketersediaan area kerja bagi ABK untuk mengoperasikan jaring insang oseanik pada pada kapal jaring insang oseanik untuk tahapan setting sebesar 1,79 – 1,89 m 2 /orang, untuk tahapan hauling sebesar 1,18 – 1,23 m 2 /orang, dan untuk tahapan handling sebesar 1,44 – 1,51 m 2 /orang. Ketersediaan area kerja pada eks-kapal cantrang mencukupi untuk mengoperasikan jaring insang oseanik, kecuali eks-kapal cantrang yang memiliki bangunan tambahan pada area dek kerja utama. Prohibition of cantrang causes the vessels operate cantrang should do a replacement fishing gear. Replacement fishing gear chosen by the owners of the vessels is oceanic gill nets. The replacement of cantrang to the oceanic gill nets on ex-cantrang vessels feared would affect the safety of fishermen at sea. One of the factors that affect the safety of fishermen at sea is the availability of working areas on deck. This research aimed to identify the availability of working areas to operate oceanic gill nets on the oceanic gill nets vessels and assess the suitability of working areas on ex-cantrang vessels to operate oceanic gill nets. Data analysis used the comparative descriptive and numerical comparisons methods between the working areas of ex-cantrang vessels and oceanic gill nets vessels. Parameters compared was the availability of a working areas on deck and working areas for crews when operating oceanic gill nets, both when setting, hauling, and handling catches. The results showed that the the availability of a working areas to operate an oceanic gill nets on the oceanic gill nets vessels is 33.27 - 35.77 m 2 during settin
{"title":"KETERSEDIAAN AREA KERJA PADA EKS-KAPAL CANTRANG UNTUK MENGOPERASIKAN JARING INSANG OSEANIK (The Availability of working areas on the Ex-Cantrang Vessels to operate the Oceanic Gills Net)","authors":"M. Islam, Y. Novita, B. Iskandar","doi":"10.14710/IJFST.16.1.1-7","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.16.1.1-7","url":null,"abstract":"Pelarangan cantrang menyebabkan kapal-kapal yang selama ini mengoperasikan cantrang harus melakukan penggantian alat penangkapan ikan. Alat penangkapan ikan pengganti yang dominan dipilih oleh para pemilik eks-kapal cantrang adalah jaring insang oseanik. Penggantian cantrang dengan jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang dikhawatirkan akan berdampak terhadap keselamatan kerja nelayan di laut. Salah satu faktor yang mempengaruhi keselamatan kerja nelayan di laut adalah ketersediaan area kerja di atas dek. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada kapal jaring insang oseanik dan menilai kesesuaian area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang. Analisis data menggunakan metode deskriptif komparatif dan numerik komparatif antara area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada eks-kapal cantrang dan kapal jaring insang oseanik. Parameter yang dibandingkan adalah ketersediaan area kerja di atas dek dan area kerja bagi setiap ABK saat mengoperasikan jaring insang oseanik, baik pada tahapan setting , hauling , maupun handling . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan area kerja pengoperasian jaring insang oseanik pada kapal jaring insang oseanik sebesar 33,27 – 35,77 m 2 saat setting , 43,20 – 45,55 m 2 saat hauling , dan 14,93 – 15,70 m 2 saat handling . Ketersediaan area kerja bagi ABK untuk mengoperasikan jaring insang oseanik pada pada kapal jaring insang oseanik untuk tahapan setting sebesar 1,79 – 1,89 m 2 /orang, untuk tahapan hauling sebesar 1,18 – 1,23 m 2 /orang, dan untuk tahapan handling sebesar 1,44 – 1,51 m 2 /orang. Ketersediaan area kerja pada eks-kapal cantrang mencukupi untuk mengoperasikan jaring insang oseanik, kecuali eks-kapal cantrang yang memiliki bangunan tambahan pada area dek kerja utama. Prohibition of cantrang causes the vessels operate cantrang should do a replacement fishing gear. Replacement fishing gear chosen by the owners of the vessels is oceanic gill nets. The replacement of cantrang to the oceanic gill nets on ex-cantrang vessels feared would affect the safety of fishermen at sea. One of the factors that affect the safety of fishermen at sea is the availability of working areas on deck. This research aimed to identify the availability of working areas to operate oceanic gill nets on the oceanic gill nets vessels and assess the suitability of working areas on ex-cantrang vessels to operate oceanic gill nets. Data analysis used the comparative descriptive and numerical comparisons methods between the working areas of ex-cantrang vessels and oceanic gill nets vessels. Parameters compared was the availability of a working areas on deck and working areas for crews when operating oceanic gill nets, both when setting, hauling, and handling catches. The results showed that the the availability of a working areas to operate an oceanic gill nets on the oceanic gill nets vessels is 33.27 - 35.77 m 2 during settin","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123780120","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-12-31DOI: 10.14710/IJFST.15.2.154-157
H. Boesono, K. Prihantoko, Rifky Pramadya
Pukat cincin yang beroperasi di samudera memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan jenis alat tangkap lainnya. Ukuran purse seine disesuaikan dengan wilayah pengoperasian dan target tangkapan alat tangkap ini. Bahan dan konstruksi sangat mempengaruhi keberhasilan alat tangkap ini dalam melakukan operasi penangkapan. Perhitungan teknis konstruksi diperlukan untuk mendapatkan konstruksi alat tangkap yang efektif dan efisien dalam melakukan operasi penangkapan. Penelitian ini menggunakan alat tangkap purse seine cakalang. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus Fridman. Tipe purse seine pada alat tangkap ini merupakan tipe purse seine persegi empat dengan panjang purse seine cakalang sebesar 806,4 meter, kedalaman purse seine sebesar 142,8 meter, dan berat purse seine di udara sebesar 9818,68 kg. Nilai gaya apung didapatkan sebesar 4608,69 kgf, nilai gaya tenggelam didapatkan besar 2562,63 kgf dan nilai rasio antara gaya apung dan gaya tenggelam sebesar 1,80. Rasio gaya apung dan gaya tenggelam ideal adalah 1,5-2,0. Nilai rata-rata kecepatan tenggelam di kedalaman 50 meter sebesar 0,27 m/s. Nilai rata-rata kecepatan tenggelam di kedalaman 100 meter sebesar 0,13 m/s. Kecepatan tenggelam bagian purse seine mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kedalaman perairan. Waktu tenggelam penuh yang dibutuhkan bagian pada purse seine cakalang sebesar 14 menit 07 detik. Kecepatan kapal yang baik untuk melakukan setting alat tangkap ini adalah 3,5-6,0 knot. Purse seine which operated in the ocean had a large size compared to another types of fishing gear. The size of the purse seine is adjusted to the fishing ground and fish target of the catch. Material and construction greatly affect the success of this fishing gear in fishing operations. Technical calculation of construction is needed to get effective and efficient fishing gear construction when conducting fishing operations. This study uses skipjack tuna purse seine. This research method uses quantitative descriptive analysis method using purse seine physics equation approach by Fridman (1985). The length of skipjack tuna purse seine is 806.4 meters with the depth of purse seine is 9142,8 meters, and the weight of purse seine in the air is 9818.68 kg. The value of buoyancy force was obtained at 4608.69 kgf, the value of sinking force was 2562.63 kgf and the value of the ratio between buoyancy force and sinking force was 1.80. The best ratio of buoyancy force and sinking force is 1.5-2.0. The value of average sinking speed at a depth of 50 meters is 0,27 m/s, and at a depth of 100 is 0.13 m/s. Singkings speed of purse seine has decreasing value following by increasing water depth. The full sinking time required for the skipjack purse seine is 14 minutes 07 seconds. The best speed for setting this fishing gear is 3.5-6.0 knots.
{"title":"ANALISA PERFORMA GAYA APUNG, GAYA TENGGELAM, DAN KECEPATAN TENGGELAM PURSE SEINE CAKALANG KM BINTANG SURYA (Analysis of Buoyancy, Sinking Force and Sinking Speed of the Skipjack Purse Seines Bintang Surya)","authors":"H. Boesono, K. Prihantoko, Rifky Pramadya","doi":"10.14710/IJFST.15.2.154-157","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.2.154-157","url":null,"abstract":"Pukat cincin yang beroperasi di samudera memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan jenis alat tangkap lainnya. Ukuran purse seine disesuaikan dengan wilayah pengoperasian dan target tangkapan alat tangkap ini. Bahan dan konstruksi sangat mempengaruhi keberhasilan alat tangkap ini dalam melakukan operasi penangkapan. Perhitungan teknis konstruksi diperlukan untuk mendapatkan konstruksi alat tangkap yang efektif dan efisien dalam melakukan operasi penangkapan. Penelitian ini menggunakan alat tangkap purse seine cakalang. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rumus Fridman. Tipe purse seine pada alat tangkap ini merupakan tipe purse seine persegi empat dengan panjang purse seine cakalang sebesar 806,4 meter, kedalaman purse seine sebesar 142,8 meter, dan berat purse seine di udara sebesar 9818,68 kg. Nilai gaya apung didapatkan sebesar 4608,69 kgf, nilai gaya tenggelam didapatkan besar 2562,63 kgf dan nilai rasio antara gaya apung dan gaya tenggelam sebesar 1,80. Rasio gaya apung dan gaya tenggelam ideal adalah 1,5-2,0. Nilai rata-rata kecepatan tenggelam di kedalaman 50 meter sebesar 0,27 m/s. Nilai rata-rata kecepatan tenggelam di kedalaman 100 meter sebesar 0,13 m/s. Kecepatan tenggelam bagian purse seine mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kedalaman perairan. Waktu tenggelam penuh yang dibutuhkan bagian pada purse seine cakalang sebesar 14 menit 07 detik. Kecepatan kapal yang baik untuk melakukan setting alat tangkap ini adalah 3,5-6,0 knot. Purse seine which operated in the ocean had a large size compared to another types of fishing gear. The size of the purse seine is adjusted to the fishing ground and fish target of the catch. Material and construction greatly affect the success of this fishing gear in fishing operations. Technical calculation of construction is needed to get effective and efficient fishing gear construction when conducting fishing operations. This study uses skipjack tuna purse seine. This research method uses quantitative descriptive analysis method using purse seine physics equation approach by Fridman (1985). The length of skipjack tuna purse seine is 806.4 meters with the depth of purse seine is 9142,8 meters, and the weight of purse seine in the air is 9818.68 kg. The value of buoyancy force was obtained at 4608.69 kgf, the value of sinking force was 2562.63 kgf and the value of the ratio between buoyancy force and sinking force was 1.80. The best ratio of buoyancy force and sinking force is 1.5-2.0. The value of average sinking speed at a depth of 50 meters is 0,27 m/s, and at a depth of 100 is 0.13 m/s. Singkings speed of purse seine has decreasing value following by increasing water depth. The full sinking time required for the skipjack purse seine is 14 minutes 07 seconds. The best speed for setting this fishing gear is 3.5-6.0 knots.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"19 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127051853","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
S. Febrianto, N. Latifah, Hadi Endarwati, M. Zainuri, S. Suryanti
Teluk Awur Beach Jepara is one of the waters in Central Java that has a seagrass ecosystem. Seagrass role is the ability to support the life of another biota closely related to the fertility of the waters indicated by the content of chlorophyll-a, nitrate, and phosphate. The purpose of this study is to know the relationship between chlorophyll-a, nitrate, and phosphate to seagrass land cover as well as the variables which have major contributions. The method of study used is descriptive with four station sampling and seagrass with a line transect of 50 m, and a 1x1 m² transect Quadrant divided into 16 sub plots measuring 25 x 25 cm² a spatial approach and multiple regression statistics. The results showed that there was a positive correlation between seagrass land cover to the concentration of chlorophyll-a and nitrate but less correlated phosphate. The highest chlorophyll-a concentrations of 0.381 mg/m 3 , seagrass land cover 40-60%, seagrass density 314 individual/m 2 , nitrate 1.141 mg/l and phosphate 0.54 mg/l. The lowest chlorophyll-a concentration ranges from 0.32-0.35 mg/m 3 , seagrass cover of 0-10%, seagrass density 3-12 individual/m 2 , nitrate 0.96 mg/l and phosphate 0, 21mg/L. This research shows that there is a strong link between seagrass land cover Concentrations of chlorophyll-a, nitrates and less influential to phosphates.
{"title":"MAPPING OF SEAGRASS COVER ON CHLOROPHYLL-A, NITRATES AND PHOSPHATE IN THE TELUK AWUR, JEPARA","authors":"S. Febrianto, N. Latifah, Hadi Endarwati, M. Zainuri, S. Suryanti","doi":"10.14710/IJFST.15.2.%P","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.2.%P","url":null,"abstract":"Teluk Awur Beach Jepara is one of the waters in Central Java that has a seagrass ecosystem. Seagrass role is the ability to support the life of another biota closely related to the fertility of the waters indicated by the content of chlorophyll-a, nitrate, and phosphate. The purpose of this study is to know the relationship between chlorophyll-a, nitrate, and phosphate to seagrass land cover as well as the variables which have major contributions. The method of study used is descriptive with four station sampling and seagrass with a line transect of 50 m, and a 1x1 m² transect Quadrant divided into 16 sub plots measuring 25 x 25 cm² a spatial approach and multiple regression statistics. The results showed that there was a positive correlation between seagrass land cover to the concentration of chlorophyll-a and nitrate but less correlated phosphate. The highest chlorophyll-a concentrations of 0.381 mg/m 3 , seagrass land cover 40-60%, seagrass density 314 individual/m 2 , nitrate 1.141 mg/l and phosphate 0.54 mg/l. The lowest chlorophyll-a concentration ranges from 0.32-0.35 mg/m 3 , seagrass cover of 0-10%, seagrass density 3-12 individual/m 2 , nitrate 0.96 mg/l and phosphate 0, 21mg/L. This research shows that there is a strong link between seagrass land cover Concentrations of chlorophyll-a, nitrates and less influential to phosphates.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126126888","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-12-30DOI: 10.14710/IJFST.15.2.139-148
H. L. Nainggolan, Jongkers Tampubolon, Albina Ginting
Sektor perikanan berperan strategis dalam pembangunan, karena berperan menyerap tenaga kerja, penghasil bahan pangan, bahan baku industri dan sumber devisa bagi negera. Hal ini akan tercapai jika sumber daya perikanan dikelola dengan baik sehingga menghasilkan produk yang bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan sektor perikanan menuju hilirisasi industri untuk mendukung pembangunan ekonomi wilayah di Serdang Bedagai. Penelitian dilakukan di Kecamatan Tanjung Beringin, Teluk Mengkudu dan Pantai Cermin dengan jumlah sampel 30 responden. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang dianalisis dengan Location Quotient (LQ), metode deskriptif dan analisis SWOT. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan; a) Kecamatan Bandar Khalifah, Teluk Mengkudu, Pantai Cermin dan Kecamatan Tanjung Beringin merupakan wilayah pengembangan sektor perikanan dan hilirisasi industri dalam rangka pengembangan ekonomi wilayah, b) Teknologi budidaya dan penangkapan ikan, dukungan sarana dan prasarana serta modal usaha merupakan kendala utama pengembangan sektor perikanan menuju proses hilirisasi industri, c) Potensi sumber daya perikanan, kebijakan pemerintah merupakan faktor pendukung pengembangan sektor perikanan dan hilirisisasi industri, d) Strategi industrialisasi sektor perikanan dapat dilakukan dengan cara; i) meningkatkan populasi UMKM, ii) peningkatan nilai tambah, iii) insentif fiskal bagi UMKM, iv) meningkatkan daya saing produk dan penguatan rantai pasok, v) pembangunan infrastruktur. Berdasarkan kesimpulan disarankan agar pemerintah; a) memberikan pelatihan/ penyuluhan kepada nelayan tentang peningkatan nilai tambah hasil perikanan, b) melakukan diseminasi teknologi budidaya dan penangkapan ikan, serta menyediakan sarana dan prasarana serta bantuan modal usaha bagi nelayan, c) memberikan penyuluhan dan sosialisasi bagi nelayan tentang pemanfaatan sumber daya perikanan berkelanjutan, d) mempermudah akses permodalan dan pasar produk hasil perikanan serta membantu meningkatkan daya saing dan penguatan rantai pasok sektor perikanan. The fisheries sector plays a strategic role in development, because it has the role of absorbing labor, producing food, industrial raw materials and sources of foreign exchange for the country. This will be achieved if the fisheries resources are well managed so as to produce products that produce added value and are competitive. This study aims analyzed the development of the fisheries sector towards the downstream industry to support the economic development of the region in Serdang Bedagai. The study was conducted in Tanjung Beringin Sub-district, Teluk Mengkudu and Pantai Cermin with a sample of 30 respondents. This study uses primary data and secondary data analyzed by Location Quotient (LQ), descriptive methods and SWOT analysis. Based on the results of the study concluded; a) Bandar Khalifah Sub-district, Teluk Mengkudu, Pantai Cermin and Tanjung Be
渔业在发展中起着战略作用,因为它吸收了劳动力、粮食生产、工业原材料和国家的外汇资源。如果渔业资源得到充分管理,生产高竞争力、高竞争力的产品,这一目标就会实现。本研究旨在分析渔业部门的发展,前往工业制冷,以支持该地区的经济发展。这项研究是在丹戎贝望湾海滩和镜子海滩进行的,该地区的样本人数为30人。本研究采用采用民调定位、描述性方法和SWOT分析分析的主要和次要数据。根据研究结果推断;a)街道哈里发经销商,Mengkudu,镜子和街道丹戎海滩榕树湾是地区经济发展框架内发展渔业和工业hilirisasi区,b区)养殖和捕捞技术,支持基础设施和资本手段是通往hilirisasi工业过程的渔业部门的发展主要障碍,c)渔业资源的潜力,政府政策是渔业部门发展和工业气候变化的一个因素,d)渔业产业的实用性战略可以通过以下方式实现;改善UMKM人口,ii)增值,iii)财政激励,iv)增加产品竞争力和加强供应链,v)基础设施建设。建议建议政府;a)为渔民提供关于提高渔业收益价值的培训/教育,b)传播养殖和渔业技术,为渔民提供工具、基础设施和资本援助,c)为渔民提供可持续利用渔业资源的教育和社会化,d)更容易获得渔业产品和市场,并有助于提高渔业供应链的竞争力和加强供应链。fisheries区扮演了一种策略的发展角色,因为它有吸收实验室、生产食品、工业材料和为国家而交换的外国资源的角色。如果渔业资源管理得很好,生产增值产品,并强制生产,这将会实现。这项研究分析了下游渔业的发展,以支持该地区的经济发展。这项研究是在好望角山麓、海湾和海滩的镜子中进行的,镜子上有30名急救人员的样本。这一研究的主要数据和二线分析(LQ),解析方法和SWOT分析。基于研究结果的结果;a)哈里发Sub-district经销商,Mengkudu,镜子和丹戎海滩榕树湾Sub-district是正确的地区for the development of fisheries and downstream区工业》之《区域经济发展,b) (Technology for钓鱼,钓鱼,supporting facilities商业基础设施和资本是玩obstacle to the development》fisheries downstream的过程》向区工业c) fisheries之潜在的资源,政府政策是发展渔业和工业的因素,d)渔业的战略;我增加了微小企业人口的微企业价值,二)增加为微小企业和企业企业提供的费用,四)增加了基础设施发展。
{"title":"PENGEMBANGAN SEKTOR PERIKANAN MENUJU HILIRISASI INDUSTRI UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN EKONOMI WILAYAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI PROPINSI SUMATERA UTARA","authors":"H. L. Nainggolan, Jongkers Tampubolon, Albina Ginting","doi":"10.14710/IJFST.15.2.139-148","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.2.139-148","url":null,"abstract":"Sektor perikanan berperan strategis dalam pembangunan, karena berperan menyerap tenaga kerja, penghasil bahan pangan, bahan baku industri dan sumber devisa bagi negera. Hal ini akan tercapai jika sumber daya perikanan dikelola dengan baik sehingga menghasilkan produk yang bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan sektor perikanan menuju hilirisasi industri untuk mendukung pembangunan ekonomi wilayah di Serdang Bedagai. Penelitian dilakukan di Kecamatan Tanjung Beringin, Teluk Mengkudu dan Pantai Cermin dengan jumlah sampel 30 responden. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang dianalisis dengan Location Quotient (LQ), metode deskriptif dan analisis SWOT. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan; a) Kecamatan Bandar Khalifah, Teluk Mengkudu, Pantai Cermin dan Kecamatan Tanjung Beringin merupakan wilayah pengembangan sektor perikanan dan hilirisasi industri dalam rangka pengembangan ekonomi wilayah, b) Teknologi budidaya dan penangkapan ikan, dukungan sarana dan prasarana serta modal usaha merupakan kendala utama pengembangan sektor perikanan menuju proses hilirisasi industri, c) Potensi sumber daya perikanan, kebijakan pemerintah merupakan faktor pendukung pengembangan sektor perikanan dan hilirisisasi industri, d) Strategi industrialisasi sektor perikanan dapat dilakukan dengan cara; i) meningkatkan populasi UMKM, ii) peningkatan nilai tambah, iii) insentif fiskal bagi UMKM, iv) meningkatkan daya saing produk dan penguatan rantai pasok, v) pembangunan infrastruktur. Berdasarkan kesimpulan disarankan agar pemerintah; a) memberikan pelatihan/ penyuluhan kepada nelayan tentang peningkatan nilai tambah hasil perikanan, b) melakukan diseminasi teknologi budidaya dan penangkapan ikan, serta menyediakan sarana dan prasarana serta bantuan modal usaha bagi nelayan, c) memberikan penyuluhan dan sosialisasi bagi nelayan tentang pemanfaatan sumber daya perikanan berkelanjutan, d) mempermudah akses permodalan dan pasar produk hasil perikanan serta membantu meningkatkan daya saing dan penguatan rantai pasok sektor perikanan. The fisheries sector plays a strategic role in development, because it has the role of absorbing labor, producing food, industrial raw materials and sources of foreign exchange for the country. This will be achieved if the fisheries resources are well managed so as to produce products that produce added value and are competitive. This study aims analyzed the development of the fisheries sector towards the downstream industry to support the economic development of the region in Serdang Bedagai. The study was conducted in Tanjung Beringin Sub-district, Teluk Mengkudu and Pantai Cermin with a sample of 30 respondents. This study uses primary data and secondary data analyzed by Location Quotient (LQ), descriptive methods and SWOT analysis. Based on the results of the study concluded; a) Bandar Khalifah Sub-district, Teluk Mengkudu, Pantai Cermin and Tanjung Be","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"84 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122090652","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-12-17DOI: 10.14710/IJFST.15.2.112-118
H. Haeruddin, S. Supriharyono, N. Widyorini
Budidaya ikan nila ( Oreochromis niloticus ) merupakan industri budidaya yang cukup penting saat ini. Ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya. Penerapan cleaner production dalam budidaya ikan dilakukan untuk mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan dari limbah budidaya ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pertumbuhan ikan nila (panjang dan berat) pada metode budidaya ikan c leaner production dengan mengaplikasikan enzim EZplus ke dalam pakan untuk menekan limbah padat dan cair yang dihasilkan ikan . Peubah yang diamati meliputi laju pertambahan panjang harian ikan, laju pertumbuhan berat harian ikan nila atau Specific Growth Rate (SGR), dan rasio konversi pakan atau Food Conversion Ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode budidaya c leaner production pada ikan nila mampu meningkatkan laju pertumbuhan panjang dan bobot ikan serta memperbaiki rasio konversi pakan dan memperbaiki mutu media pemeliharaan ikan. Nowadays the tilapia (Oreochromis niloticus) culture is one of the important aquaculture industry. Tilapia is one of the best commodity in fish culture. Implementation of cleaner production in fish farming is carried out to overcome the problem of environmental pollution from fish farming waste. This research was conducted to examine the growth of tilapia (length and weight) in the Cleaner Production cultivation method by applying the EZplus enzyme to the feed to suppress the solid and liquid waste produced by fish. The variables observed included the daily growth rate of fish length, Specific Growth Rate (SGR), and feed conversion ratio (FCR). The results showed that the application of the Cleaner Production cultivation method in tilapia was able to increase the daily growth rate of fish length and weight as well as improve feed conversion ratio and improve the quality of fish culture media.
{"title":"PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN METODE BUDIDAYA CLEANER PRODUCTION (The Growth of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) in Cleaner Production Culture Method)","authors":"H. Haeruddin, S. Supriharyono, N. Widyorini","doi":"10.14710/IJFST.15.2.112-118","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.2.112-118","url":null,"abstract":"Budidaya ikan nila ( Oreochromis niloticus ) merupakan industri budidaya yang cukup penting saat ini. Ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya. Penerapan cleaner production dalam budidaya ikan dilakukan untuk mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan dari limbah budidaya ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pertumbuhan ikan nila (panjang dan berat) pada metode budidaya ikan c leaner production dengan mengaplikasikan enzim EZplus ke dalam pakan untuk menekan limbah padat dan cair yang dihasilkan ikan . Peubah yang diamati meliputi laju pertambahan panjang harian ikan, laju pertumbuhan berat harian ikan nila atau Specific Growth Rate (SGR), dan rasio konversi pakan atau Food Conversion Ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode budidaya c leaner production pada ikan nila mampu meningkatkan laju pertumbuhan panjang dan bobot ikan serta memperbaiki rasio konversi pakan dan memperbaiki mutu media pemeliharaan ikan. Nowadays the tilapia (Oreochromis niloticus) culture is one of the important aquaculture industry. Tilapia is one of the best commodity in fish culture. Implementation of cleaner production in fish farming is carried out to overcome the problem of environmental pollution from fish farming waste. This research was conducted to examine the growth of tilapia (length and weight) in the Cleaner Production cultivation method by applying the EZplus enzyme to the feed to suppress the solid and liquid waste produced by fish. The variables observed included the daily growth rate of fish length, Specific Growth Rate (SGR), and feed conversion ratio (FCR). The results showed that the application of the Cleaner Production cultivation method in tilapia was able to increase the daily growth rate of fish length and weight as well as improve feed conversion ratio and improve the quality of fish culture media.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"71 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133712418","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-12-17DOI: 10.14710/IJFST.15.2.94-98
Muhammad Sumsanto, U. Yanuhar, A. Hertika
Parasit yang sering menyerang ikan koi adalah Myxobolus sp. Ikan yang terinfeksi Myxobolus sp. akan mengalami gejala klinis berupa nodul kemerahan dan pembengkakan pada organ insang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian deltamethrin terhadap ekspresi CD4 pada ikan koi ( Cyprinus carpio ) yang terinfeksi Myxobolus sp. Pada penelitian ini dibagi menjadi 4 perlakuan (A) Kontrol, perlakuan (B) ikan koi terinfeksi Myxobolus sp., perlakuan (C) ikan koi terinfeksi Myxobolus sp. dengan pemberian deltamethrin dosis 0,5 µl/g dan perlakuan (D) ikan koi terinfeksi Myxobolus sp. dengan pemberian deltamethrin dosis 1 µl/g. Kemudian dilakukan pengamatan eritrosit, leukosit dan immunohistokimia untuk mengetahui ekspresi CD4 pada usus. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan eritrosit pada perlakuan (A) sebesar 500.000 sel/mm 3 , (B) sebesar 1.850.000 sel/mm 3 , (C) sebesar 1.110.000 sel/mm 3 dan (D) sebesar 1.670.000 sel/mm 3 . Hasil pengamatan leukosit perlakuan (A) didapatkan sebesar 121.600 sel/mm 3 , (B) sebesar 333.550 sel/mm 3 , (C) sebesar 265.770 sel/mm 3 dan (D) sebesar 145.620 sel/mm 3 . Berdasarkan hasil Imunohistokimia didapatkan hasil pada perlakuan (A) nilai DAB sebesar 15,0%, (B) DAB sebesar 30,2%, (C) DAB sebesar 24,3% dan (D) DAB sebesar 19,2 %. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian deltamethrin berpengaruh terhadap eritrosit dan leukosit serta dapat menurunkan ekspresi CD4 sebagai respon imun pada ikan koi ( Cyprinus carpio ) yang terinfeksi Myxobolus sp. Parasites that often attack koi are Myxobolus sp. Fish infected with Myxobolus sp. will experience clinical symptoms of red nodules and swelling in the gill organs. The study aimed to determine the effect of deltamethrin administration on CD4 expression in koi fish (Cyprinus carpio) infected with Myxobolus sp. In this study divided into 4 treatments (A) Control, treatment (B) koi fish infected with Myxobolus sp., Treatment (C) koi fish infected with Myxobolus sp. by treatment a dose of 0.5 µl / g deltamethrin and treatment (D) koi fish infected with Myxobolus sp. with the treatment of 1 µl / g of deltamethrin. Then erythrocytes, leukocytes and immunohistochemistry were observed to determine CD4 expression in the intestine. Based on the results of the study obtained erythrocytes in treatment (A) of 500,000 cells / mm 3 , (B) of 1,850,000 cells / mm 3 , (C) of 1,110,000 cells / mm 3 and (D) of 1,670,000 cells / mm 3 . Observation of leukocyte treatment (A) was obtained at 121,600 cells / mm 3 , (B) of 333,550 cells / mm 3 , (C) of 265,770 cells / mm 3 and (D) of 145,620 cells / mm 3 . Based on the results of immunohistochemistry the results obtained in treatment (A) DAB value of 15.0%, (B) DAB of 30.2%, (C) DAB of 24.3% and (D) DAB of 19.2%. From this study it can be concluded that the administration of deltamethrin affects erythrocytes and leukocytes and can reduce CD4 expression as an immune response in koi fish (Cyprinus carpio) infected with Myxobolus sp.
常攻击鲤鱼的寄生虫是Myxobolus警司,感染了Myxobolus sp的鱼类会出现红斑和鳃器官肿胀的临床症状。deltamethrin礼物研究旨在探讨影响CD4的表情跟鲤鱼(Cyprinus carpio)感染者Myxobolus sp。在这项研究分成四控制(A), (B)待遇待遇锦鲤感染Myxobolus sp。,(C)感染Myxobolus sp锦鲤待遇。deltamethrin 0.5µl / g和剂量的礼物(D)感染Myxobolus sp锦鲤待遇。deltamethrin 1µl - g剂量的礼物。然后对促红细胞、白细胞介素和免疫石化进行观察,以了解肠道中CD4的表现。研究发现,红细胞产生的治疗方法有50万个细胞/mm 3, (B)有135万个细胞/mm 3, (C)有1100万个细胞/mm 3, (D)有11万个细胞/mm 3。白细胞检测结果(A)为121600个细胞/mm 3, (B)为333,550个细胞/mm 3, (C)为265,770个细胞/mm 3, (D)为145620个细胞/mm 3。根据免疫毒性的结果,DAB的DAB为15.0%,(B) DAB为302%,(C) DAB为24.3%,(D) DAB为19.2%。从这项研究可以推断deltamethrin礼物可以影响红细胞和白细胞降低CD4作为免疫反应的表情跟鲤鱼(Cyprinus carpio)感染者Myxobolus sp Parasites那经常攻击锦鲤是Myxobolus sp。鱼Myxobolus sp。威尔一起体验临床感染symptoms of红nodules和《吉尔已经接上。效应》The study aimed到个重大CD4 deltamethrin管理局在表达式中锦鲤鱼(Cyprinus carpio)感染与Myxobolus sp。in this study divided)进入4 treatments (A)控制,治疗(B)和Myxobolus sp。锦鲤鱼感染,治疗和Myxobolus sp (C)锦鲤鱼感染。A:治疗剂量的0。5µl / g deltamethrin和治疗(D)锦鲤鱼感染治疗》with Myxobolus sp。with deltamethrin之1µl / g。然后,红细胞、白血病和免疫细胞被观察到确定CD4表达式的强度。基于50万个病例/ mm 3, (B) 1.85万个细胞/ mm 3, (C) 110万个细胞/ mm 3和(D) 1.7万个细胞/ mm 3。leukocyte treatment观察(A)确定于121.600个细胞/ mm 3, (B)固定于333.550细胞/ mm 3, (C) 265,770细胞/ mm 3, (D) 145.620细胞/ mm 3。基于免疫密凝的结果(A)分数为150%,(B)分数为30,2%,(C)分数为24.3%和(D)分数为19.2%。从这项研究中可以得出结论,deltamethrin对红斑和白血病的影响,以及美国对鲤鱼的免疫反应,与sp Myxobolus感染有关。
{"title":"EFEK PEMBERIAN DELTAMETHRIN TERHADAP EKSPRESI CD4 PADA IKAN KOI (Cyprinus carpio) YANG TERINFEKSI Myxobolus sp. (Effect of Deltamethrin on CD4 Expression in Koi Fish (Cyprinus Carpio) Infected by Myxobolus Sp.)","authors":"Muhammad Sumsanto, U. Yanuhar, A. Hertika","doi":"10.14710/IJFST.15.2.94-98","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.2.94-98","url":null,"abstract":"Parasit yang sering menyerang ikan koi adalah Myxobolus sp. Ikan yang terinfeksi Myxobolus sp. akan mengalami gejala klinis berupa nodul kemerahan dan pembengkakan pada organ insang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian deltamethrin terhadap ekspresi CD4 pada ikan koi ( Cyprinus carpio ) yang terinfeksi Myxobolus sp. Pada penelitian ini dibagi menjadi 4 perlakuan (A) Kontrol, perlakuan (B) ikan koi terinfeksi Myxobolus sp., perlakuan (C) ikan koi terinfeksi Myxobolus sp. dengan pemberian deltamethrin dosis 0,5 µl/g dan perlakuan (D) ikan koi terinfeksi Myxobolus sp. dengan pemberian deltamethrin dosis 1 µl/g. Kemudian dilakukan pengamatan eritrosit, leukosit dan immunohistokimia untuk mengetahui ekspresi CD4 pada usus. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan eritrosit pada perlakuan (A) sebesar 500.000 sel/mm 3 , (B) sebesar 1.850.000 sel/mm 3 , (C) sebesar 1.110.000 sel/mm 3 dan (D) sebesar 1.670.000 sel/mm 3 . Hasil pengamatan leukosit perlakuan (A) didapatkan sebesar 121.600 sel/mm 3 , (B) sebesar 333.550 sel/mm 3 , (C) sebesar 265.770 sel/mm 3 dan (D) sebesar 145.620 sel/mm 3 . Berdasarkan hasil Imunohistokimia didapatkan hasil pada perlakuan (A) nilai DAB sebesar 15,0%, (B) DAB sebesar 30,2%, (C) DAB sebesar 24,3% dan (D) DAB sebesar 19,2 %. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian deltamethrin berpengaruh terhadap eritrosit dan leukosit serta dapat menurunkan ekspresi CD4 sebagai respon imun pada ikan koi ( Cyprinus carpio ) yang terinfeksi Myxobolus sp. Parasites that often attack koi are Myxobolus sp. Fish infected with Myxobolus sp. will experience clinical symptoms of red nodules and swelling in the gill organs. The study aimed to determine the effect of deltamethrin administration on CD4 expression in koi fish (Cyprinus carpio) infected with Myxobolus sp. In this study divided into 4 treatments (A) Control, treatment (B) koi fish infected with Myxobolus sp., Treatment (C) koi fish infected with Myxobolus sp. by treatment a dose of 0.5 µl / g deltamethrin and treatment (D) koi fish infected with Myxobolus sp. with the treatment of 1 µl / g of deltamethrin. Then erythrocytes, leukocytes and immunohistochemistry were observed to determine CD4 expression in the intestine. Based on the results of the study obtained erythrocytes in treatment (A) of 500,000 cells / mm 3 , (B) of 1,850,000 cells / mm 3 , (C) of 1,110,000 cells / mm 3 and (D) of 1,670,000 cells / mm 3 . Observation of leukocyte treatment (A) was obtained at 121,600 cells / mm 3 , (B) of 333,550 cells / mm 3 , (C) of 265,770 cells / mm 3 and (D) of 145,620 cells / mm 3 . Based on the results of immunohistochemistry the results obtained in treatment (A) DAB value of 15.0%, (B) DAB of 30.2%, (C) DAB of 24.3% and (D) DAB of 19.2%. From this study it can be concluded that the administration of deltamethrin affects erythrocytes and leukocytes and can reduce CD4 expression as an immune response in koi fish (Cyprinus carpio) infected with Myxobolus sp.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"41 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125033954","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-12-17DOI: 10.14710/IJFST.15.2.105-111
Cucun Herlina, U. Yanuhar, Maftuch Maftuch
Protein ekstraseluler (ECP) bakteri memiliki kemampuan imunogenik dan dapat meningkatkan sistem imun tubuh inang. Komponen ECP diantaranya flagellin, protease dan metalloprotease mampu berdifusi pada sel inang untuk mengaktifkan respon imun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi protein ekstraseluler E. tarda dengan presipitasi ethanol pada konsentrasi berbeda sebagai potensi protein imunogenik secara in vitro . Metode penelitian yaitu kultur bakteri E. tarda , preparasi protein ekstraseluler, presipitasi protein, konsentrasi protein ditentukan denganspektrofotometer dan SDS-PAGE, uji in vitro protein ECP E. tarda , dan uji nilai RPS. Hasil protein ekstraseluler yang diperoleh dengan presipitasi ethanol tertinggi pada konsentrasi 90% sebanyak 5,69 mg/ml dan terendah pada konsentrasi 80% sebanyak 4,81 mg/ml. Hasil karakterisasi protein dengan SDS-SDSPAGE antara 30-60 kDa. Hasil uji in vitro vaksin E. tarda (presipitasi ethanol 100%) baik dari uji viabilitas maupun sterilitas menunjukkan tidak terdapat koloni yang tumbuh. Hasil nilai RPS pada ikan nila ( Oreochromis niloticus ) mencapai 100% dengan masa pemelihaaraan 9 hari pasca imunisasi. ECP bacteria have immunogenic abilities and can increase the host's immune system. ECP components which are flagellin, protease, metalloprotease can diffuse to host cell for the activation immune response. The study aimed to determine the production of extracellular protein E. tarda with ethanol precipitation at different concentrations as a potential immunogenic protein by in vitro test. The research methods were E. tarda bacterial culture, extracellular protein preparation, protein precipitation, protein concentration determined by spectrophotometer and SDS-PAGE, in vitro ECP E. tarda protein test, and RPS value test. The results of extracellular protein obtained by the highest ethanol precipitation at a concentration of 90% as much as 5.69 mg/ml and the lowest at 80% concentration as much as 4.81 mg/ml. The results of the characterization of proteins with SDS-SDS-PAGE between 30-60 kDa. The results of the in vitro test of E. tarda vaccine (100% ethanol precipitation) from both the viability and sterility tests showed that there were no growing colonies. The results of the RPS in tilapia (Oreochromis niloticus) reach 100% with a maintenance period of 9 days after immunization.
{"title":"UJI IN VITRO DAN KARAKTER PROTEIN EKSTRASELULER (ECP) Edwardsiella tarda DENGAN KONSENTRASI ETHANOL BERBEDA (In Vitro Test and Character of Extracellular Protein (ECP) Edwardsiella tarda with Different Ethanol Concentration)","authors":"Cucun Herlina, U. Yanuhar, Maftuch Maftuch","doi":"10.14710/IJFST.15.2.105-111","DOIUrl":"https://doi.org/10.14710/IJFST.15.2.105-111","url":null,"abstract":"Protein ekstraseluler (ECP) bakteri memiliki kemampuan imunogenik dan dapat meningkatkan sistem imun tubuh inang. Komponen ECP diantaranya flagellin, protease dan metalloprotease mampu berdifusi pada sel inang untuk mengaktifkan respon imun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi protein ekstraseluler E. tarda dengan presipitasi ethanol pada konsentrasi berbeda sebagai potensi protein imunogenik secara in vitro . Metode penelitian yaitu kultur bakteri E. tarda , preparasi protein ekstraseluler, presipitasi protein, konsentrasi protein ditentukan denganspektrofotometer dan SDS-PAGE, uji in vitro protein ECP E. tarda , dan uji nilai RPS. Hasil protein ekstraseluler yang diperoleh dengan presipitasi ethanol tertinggi pada konsentrasi 90% sebanyak 5,69 mg/ml dan terendah pada konsentrasi 80% sebanyak 4,81 mg/ml. Hasil karakterisasi protein dengan SDS-SDSPAGE antara 30-60 kDa. Hasil uji in vitro vaksin E. tarda (presipitasi ethanol 100%) baik dari uji viabilitas maupun sterilitas menunjukkan tidak terdapat koloni yang tumbuh. Hasil nilai RPS pada ikan nila ( Oreochromis niloticus ) mencapai 100% dengan masa pemelihaaraan 9 hari pasca imunisasi. ECP bacteria have immunogenic abilities and can increase the host's immune system. ECP components which are flagellin, protease, metalloprotease can diffuse to host cell for the activation immune response. The study aimed to determine the production of extracellular protein E. tarda with ethanol precipitation at different concentrations as a potential immunogenic protein by in vitro test. The research methods were E. tarda bacterial culture, extracellular protein preparation, protein precipitation, protein concentration determined by spectrophotometer and SDS-PAGE, in vitro ECP E. tarda protein test, and RPS value test. The results of extracellular protein obtained by the highest ethanol precipitation at a concentration of 90% as much as 5.69 mg/ml and the lowest at 80% concentration as much as 4.81 mg/ml. The results of the characterization of proteins with SDS-SDS-PAGE between 30-60 kDa. The results of the in vitro test of E. tarda vaccine (100% ethanol precipitation) from both the viability and sterility tests showed that there were no growing colonies. The results of the RPS in tilapia (Oreochromis niloticus) reach 100% with a maintenance period of 9 days after immunization.","PeriodicalId":193095,"journal":{"name":"SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology","volume":"2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121204176","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}