Pub Date : 2023-03-20DOI: 10.26887/cartj.v5i1.2561
Novia Mustika, Wendy Hs, Dede Pramayoza
The Minangkabau Opera Malin Nan Kondang combines drama, dance, music, and visual arts performances, departing from the kaba Malin Kundang, a folklore from West Sumatra about a boy named Malin who is disobedient to his mother and is cursed to turn to stone. Contrary to the kaba version, Opera Minangkabau Malin Nan Kondang tells about Malin's loyalty and sacrifice to his mother and lover, Nilam. This research treats the reception of novice audiences as a formal object intended to see responses to the structure or texture of the performance, which is witnessed through documentation. Data was collected through questionnaires, direct observation, and interview techniques. Research data analysis is directed to see three things from the novice audience, namely: (1) the horizon of expectations; (2) body reaction; and (3) the segmentation effect. Based on these three things, a general conclusion is formulated, namely the reception of the novice audience. Research shows that structural aspects (plot, characters, and themes) attract more beginner audiences than the performance's texture (atmosphere, dialogue, and spectacle, be it music, dance, costumes, make-up, or lighting). The tendency to respond more to the structure than the texture of this performance through documentation shows that for novice audiences, the story aspect is more interesting than the spectacle aspect. But at the same time, it has also been proven that this performance style, called 'Minangkabau Opera,' tends to be effective in conveying stories to novice audiencesReception Of The Documentation Of Malin Nan Kondang Minangkabau Opera : A Studies Of Beginning Theater AudienceAbstrakOpera Minangkabau Malin Nan Kondang merupakan perpaduan antara pertunjukan drama, tari, musik serta seni visual, yang berangkat dari kaba Malin Kundang, sebuah cerita rakyat dari Sumatera Barat tentang seorang anak bernama Malin yang durhaka kepada ibunya, hingga dikutuk menjadi batu. Berkebalikan dengan versi kaba itu, Opera Minangkabau Malin Nan Kondang mengisahkan tentang kesetian dan pengorbanan Malin, baik kepada Ibunya, maupun kepada kekasihnya, Nilam. Penelitian ini menjadikan resepsi penonton pemula sebagai objek formal, yang ditujukan untuk melihat tanggapan atas struktur atau tekstur pertunjukan, yang disaksikan melalui dokumentasi. Data dikumpulkan melalui teknik kuisioner, pengamatan langsung, yang diteruskan dengan teknik wawancara. Analisis data penelitian diarahkan untuk melihat tiga hal dari penonton pemula, yakni: (1) horizon harapan; (2) reaksi tubuh; dan (3) pengaruh segmentasi. Berdasarkan ketiga hal tersebut, diformulasikan suatu kesimpulan umum, yakni resepsi penonton pemula. Penelitian menunjukkan bahwa aspek struktur (alur, karakter dan tema) lebih menarik perhatian penonton pemula ketimbang tektur pertunjukan (suasana, dialog dan spektakel, baik itu musik, tarian, kostum, rias, maupun pencahayaan). Kecenderungan untuk lebih menanggapi stuktur ketimbangan tekstur pertunjukan ini melalui
米南卡堡歌剧Malin Nan Kondang结合了戏剧、舞蹈、音乐和视觉艺术表演,源自西苏门答腊的民间传说kaba Malin Kundang,讲述了一个名叫Malin的男孩不听话,被诅咒变成石头的故事。与卡巴版本相反,歌剧《米南卡堡马林南康当》讲述了马林对他的母亲和爱人尼拉姆的忠诚和牺牲。本研究将新手观众的接受视为一种形式对象,旨在观察他们对表演的结构或质感的反应,并通过文献来见证。通过问卷调查、直接观察和访谈技术收集数据。研究数据分析的目的是从新手观众那里看到三件事,即:(1)期望的视界;(2)机体反应;(3)分割效果。基于这三点,得出一个总的结论,即新手观众的接受情况。研究表明,结构方面(情节、人物和主题)比表演的结构(氛围、对话和场面,无论是音乐、舞蹈、服装、化妆还是灯光)更能吸引新手观众。通过记录,对结构的反应比对结构的反应更大,这表明对于新手观众来说,故事方面比场面方面更有趣。但与此同时,也有证据表明,这种被称为“米南卡堡歌剧”的表演风格,往往能有效地向新手观众传达故事。摘要:歌剧Minangkabau Malin Nan Kondang merupakan perpaduan antara pertunjukan戏剧,tari,音乐serik seri视觉,yang berangkat dari kaba Malin Kundang, sebuah cerita rakyat dari sumata Barat tenang seorang anak bernama Malin yang durhaka kepada ibunya, hinga dikutuk menjadi batu。Berkebalikan dengan versi kaba itu, Opera Minangkabau Malin Nan Kondang mengisahkan tentang kesetian dan pengorbanan Malin, baik kepada Ibunya, maupun kepada kekasihnya, Nilam。Penelitian ini menjadikan resepsi penonton pemula sebagai object formal, yang ditujukan untuk melihat tanggapan atas structur atau tekstur pertunjukan, yang disaksikan melalui dokumentasi。数据分析,数据分析,数据分析,数据分析,数据分析。分析资料penelitian diarahkan untuk melihat tiga hal dari penonton pemula; (1) horizon harapan;(2)泄漏管;Dan (3) pengaruh segmentasi。Berdasarkan ketiga hal tersebut, diformulasikan suatu kesimpan umum, yakni ressepsi penonton pemula。Penelitian menunjukkan bahwa ask struktur (alur, karakter dan tema), lebih menarik perhaktakel, penonton pemula ketimbang tektur pertunjukan (suasana, dialog dan spektakel, baik itu musik, ian, kostum, rias, maupun pencahayaan)。Kecenderungan untuk lebih menanggapi stuktur ketimbang and tekstur pertunjukan ini melali dockentasi menunjukkan bahwa bagi penonton pemula asme cerbih menarik perhme asme asme atme tontonan。Namun pada saat yang sama, terbukti pula bahwa pihan gaya pertunjukan yang dinamakan ' Opera Minangkabau ' ' i cenderung effektif untuk menyampaikan cerita kepada penonton pemula
{"title":"Resepsi Atas Dokumentasi Opera Minangkabau Malin Nan Kondang: Suatu Kajian Penonton Teater Pemula","authors":"Novia Mustika, Wendy Hs, Dede Pramayoza","doi":"10.26887/cartj.v5i1.2561","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v5i1.2561","url":null,"abstract":"The Minangkabau Opera Malin Nan Kondang combines drama, dance, music, and visual arts performances, departing from the kaba Malin Kundang, a folklore from West Sumatra about a boy named Malin who is disobedient to his mother and is cursed to turn to stone. Contrary to the kaba version, Opera Minangkabau Malin Nan Kondang tells about Malin's loyalty and sacrifice to his mother and lover, Nilam. This research treats the reception of novice audiences as a formal object intended to see responses to the structure or texture of the performance, which is witnessed through documentation. Data was collected through questionnaires, direct observation, and interview techniques. Research data analysis is directed to see three things from the novice audience, namely: (1) the horizon of expectations; (2) body reaction; and (3) the segmentation effect. Based on these three things, a general conclusion is formulated, namely the reception of the novice audience. Research shows that structural aspects (plot, characters, and themes) attract more beginner audiences than the performance's texture (atmosphere, dialogue, and spectacle, be it music, dance, costumes, make-up, or lighting). The tendency to respond more to the structure than the texture of this performance through documentation shows that for novice audiences, the story aspect is more interesting than the spectacle aspect. But at the same time, it has also been proven that this performance style, called 'Minangkabau Opera,' tends to be effective in conveying stories to novice audiencesReception Of The Documentation Of Malin Nan Kondang Minangkabau Opera : A Studies Of Beginning Theater AudienceAbstrakOpera Minangkabau Malin Nan Kondang merupakan perpaduan antara pertunjukan drama, tari, musik serta seni visual, yang berangkat dari kaba Malin Kundang, sebuah cerita rakyat dari Sumatera Barat tentang seorang anak bernama Malin yang durhaka kepada ibunya, hingga dikutuk menjadi batu. Berkebalikan dengan versi kaba itu, Opera Minangkabau Malin Nan Kondang mengisahkan tentang kesetian dan pengorbanan Malin, baik kepada Ibunya, maupun kepada kekasihnya, Nilam. Penelitian ini menjadikan resepsi penonton pemula sebagai objek formal, yang ditujukan untuk melihat tanggapan atas struktur atau tekstur pertunjukan, yang disaksikan melalui dokumentasi. Data dikumpulkan melalui teknik kuisioner, pengamatan langsung, yang diteruskan dengan teknik wawancara. Analisis data penelitian diarahkan untuk melihat tiga hal dari penonton pemula, yakni: (1) horizon harapan; (2) reaksi tubuh; dan (3) pengaruh segmentasi. Berdasarkan ketiga hal tersebut, diformulasikan suatu kesimpulan umum, yakni resepsi penonton pemula. Penelitian menunjukkan bahwa aspek struktur (alur, karakter dan tema) lebih menarik perhatian penonton pemula ketimbang tektur pertunjukan (suasana, dialog dan spektakel, baik itu musik, tarian, kostum, rias, maupun pencahayaan). Kecenderungan untuk lebih menanggapi stuktur ketimbangan tekstur pertunjukan ini melalui","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"32 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-03-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129747680","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-03-18DOI: 10.26887/cartj.v5i1.3631
Syahrizal Fadhli, Yusril Yusril, Afrizal H Afrizal H
This article describes the process of creating contemporary theater based on research on the local wisdom of Rokan Hulu, namely an oral tradition called Onduo. Onduo is one of the cultural assets of the Rokan Hulu community, old folklore, so it has a nobility that is passed down. The form of Onduo is a song-like poem with a distinctive Rokan tone and language with swinging tones. Onduo itself contains advice and teachings about life, a hum that is usually conveyed by a mother when she puts her child to sleep. This article explains the research journey and the creative process in transforming Onduo's oral tradition into contemporary theatrical forms based on the power of narrative text, actors' bodily expressions, and artistic elements, including sets, props, lighting, make-up, costumes, as well as music. The theatrical work entitled Potatah Petitih Potang is an attempt to bring back a form of a collective memory of the Rokan Hulu community about Ondua, whose existence today has begun to fade. The hope is that the younger generation can understand values, and messages, which are implemented through narrative texts sung or spoken by actors in the show. TRANSFORMATION OF ONDUO'S ORAL TRADITION INTO CONTEMPORARY THEATER POTATAH PETITIH POTANGAbstrakArtikel ini menguraikan tentang proses penciptaan teater kontemporer yang didasari atas riset tentang kearifan lokal Rokan Hulu, yakni satu tradisi lisan bernama Onduo. Onduo merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Rokan Hulu, yakni folklore yang sudah berumur, sehingga memiliki keluhuran yang diturunkan. Bentuk Onduo sendiri berupa nyanyian seperti syair dengan nada dan Bahasa Rokan yang khas dangan nada yang mengayun-ayun. Onduo sendiri berisi nasehat dan ajaran-ajaran tentang kehidupan, senandung yang biasa disampaikan oleh seorang ibu dalam menidurkan anak. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang perjalanan riset, dan proses kreatif di dalam mentransfromasikan tradisi lisan Onduo ke bentuk teater kontemporer, bertolak pada kekuatan teks narasi, ekspresi tubuh aktor, dan elemen artistik meliputi set, propeti, pencayaan, rias, kostum, sekalgus musik. Karya teater yang diberi judul Potatah Petitih Potang merupakan usaha untuk menghadirkan kembali bentuk memori kolektif masyakarat Rokan Hulu tentang Onduo, yang eksistensinya pada hari ini sudah mulai pudar. Harapannya, generasi muda mampu memahami nilai-nilai, pesan moral, yang diimplementasikan melalui teks narasi yang didendangkan atau diucapkan aktor di dalam pertunjukan.
本文通过对芦坎葫芦的本土智慧,即一种被称为Onduo的口头传统的研究,描述了创作当代戏剧的过程。Onduo是芦坎Hulu社区的文化资产之一,是古老的民间传说,因此它具有一种传承下来的贵族气质。《Onduo》的形式是具有独特的罗坎调的歌式诗,语言是摇摆的。Onduo本身包含了对生活的建议和教导,通常是母亲在哄孩子睡觉时发出的嗡嗡声。本文从叙事文本的力量、演员的肢体表达、布景、道具、灯光、化妆、服装、音乐等艺术元素出发,阐述了昂朵口述传统转化为当代戏剧形式的研究历程和创作过程。这部名为Potatah Petitih Potang的戏剧作品试图恢复罗坎Hulu社区对Ondua的集体记忆,Ondua的存在今天已经开始消失。希望年轻一代能够理解通过演员唱歌或说话的叙事文本实现的价值观和信息。文都口述传统向当代戏剧的转变文都口述传统向当代戏剧的转变文都口述传统向当代戏剧的转变文都口述传统向当代戏剧的转变文都口述传统向当代戏剧的转变文都口述传统向当代戏剧的转变Onduo merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Rokan Hulu, yakni民间传说yang sudah berumur, sehinga memiliki keluhuran yang diturunkan。本图克Onduo sendiri berupa nyanyian seperti syair dengan nada dan Bahasa Rokan yang khas dangan nada yang mengayun-ayun。我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说。Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang perjalanan riset, dan proprotif di dalam mentransfromasikan tradisi lisan Onduo ke bentuk teater kontemporer, bertolak pata kekuatan teks narasi, ekpresi tubuh aktor, dan element artistik meliputi set, propeti, pencayaan, rias, kostum, sekalgus musik。这句话的意思是:“我爱你,我爱你,我爱你,我爱你。”我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是我的意思。
{"title":"TRANSFORMASI TRADISI LISAN ONDUO KE BENTUK TEATER KONTEMPORER POTATAH PETITIH POTANG","authors":"Syahrizal Fadhli, Yusril Yusril, Afrizal H Afrizal H","doi":"10.26887/cartj.v5i1.3631","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v5i1.3631","url":null,"abstract":"This article describes the process of creating contemporary theater based on research on the local wisdom of Rokan Hulu, namely an oral tradition called Onduo. Onduo is one of the cultural assets of the Rokan Hulu community, old folklore, so it has a nobility that is passed down. The form of Onduo is a song-like poem with a distinctive Rokan tone and language with swinging tones. Onduo itself contains advice and teachings about life, a hum that is usually conveyed by a mother when she puts her child to sleep. This article explains the research journey and the creative process in transforming Onduo's oral tradition into contemporary theatrical forms based on the power of narrative text, actors' bodily expressions, and artistic elements, including sets, props, lighting, make-up, costumes, as well as music. The theatrical work entitled Potatah Petitih Potang is an attempt to bring back a form of a collective memory of the Rokan Hulu community about Ondua, whose existence today has begun to fade. The hope is that the younger generation can understand values, and messages, which are implemented through narrative texts sung or spoken by actors in the show. TRANSFORMATION OF ONDUO'S ORAL TRADITION INTO CONTEMPORARY THEATER POTATAH PETITIH POTANGAbstrakArtikel ini menguraikan tentang proses penciptaan teater kontemporer yang didasari atas riset tentang kearifan lokal Rokan Hulu, yakni satu tradisi lisan bernama Onduo. Onduo merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Rokan Hulu, yakni folklore yang sudah berumur, sehingga memiliki keluhuran yang diturunkan. Bentuk Onduo sendiri berupa nyanyian seperti syair dengan nada dan Bahasa Rokan yang khas dangan nada yang mengayun-ayun. Onduo sendiri berisi nasehat dan ajaran-ajaran tentang kehidupan, senandung yang biasa disampaikan oleh seorang ibu dalam menidurkan anak. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang perjalanan riset, dan proses kreatif di dalam mentransfromasikan tradisi lisan Onduo ke bentuk teater kontemporer, bertolak pada kekuatan teks narasi, ekspresi tubuh aktor, dan elemen artistik meliputi set, propeti, pencayaan, rias, kostum, sekalgus musik. Karya teater yang diberi judul Potatah Petitih Potang merupakan usaha untuk menghadirkan kembali bentuk memori kolektif masyakarat Rokan Hulu tentang Onduo, yang eksistensinya pada hari ini sudah mulai pudar. Harapannya, generasi muda mampu memahami nilai-nilai, pesan moral, yang diimplementasikan melalui teks narasi yang didendangkan atau diucapkan aktor di dalam pertunjukan.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"2015 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-03-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128974338","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-26DOI: 10.26887/cartj.v4i2.3234
Ilham Rifandi, Lusia Handayani
Tulisan ini merupakan sebuah studi kreativitas Teater Rumah Mata (TRM), sebuah kelompok teater di Kota Medan yang masih berupaya eksis di tengah stagnasi kelompok-kelompok teater di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk merekam perjalanan kreatif TRM dalam perspektif teori kreativitas Mihaly Csikszenmihalyi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjelaskan kondisi yang terdapat di lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah perjalanan kreatif TRM yang sering terbentur karena kurangnya dukungan sarana dan prasarana, sikap dari penghuni domainnya yang kerap mengalami fluktuasi sehingga memengaruhi proses kreatif dan individu-individu yang bergabung dalam kelompok TRM. Dalam menghadapi permasalahan tersebut TRM melakukan penampilan di tengah keramaian, di taman-taman kota, dan menggagas strategi saweran, raon teater dan donasi rumah mata agar TRM tetap hidup.
{"title":"Kreativitas Teater Rumah Mata di Bentara Kota Medan; Studi Kreativitas dalam Perspektif Czikszenmihalyi","authors":"Ilham Rifandi, Lusia Handayani","doi":"10.26887/cartj.v4i2.3234","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v4i2.3234","url":null,"abstract":"Tulisan ini merupakan sebuah studi kreativitas Teater Rumah Mata (TRM), sebuah kelompok teater di Kota Medan yang masih berupaya eksis di tengah stagnasi kelompok-kelompok teater di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk merekam perjalanan kreatif TRM dalam perspektif teori kreativitas Mihaly Csikszenmihalyi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjelaskan kondisi yang terdapat di lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah perjalanan kreatif TRM yang sering terbentur karena kurangnya dukungan sarana dan prasarana, sikap dari penghuni domainnya yang kerap mengalami fluktuasi sehingga memengaruhi proses kreatif dan individu-individu yang bergabung dalam kelompok TRM. Dalam menghadapi permasalahan tersebut TRM melakukan penampilan di tengah keramaian, di taman-taman kota, dan menggagas strategi saweran, raon teater dan donasi rumah mata agar TRM tetap hidup.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"850 ","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114059070","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-14DOI: 10.26887/cartj.v4i2.3219
R. Julianto, Jaeni Jaeni, Monita Precillia, Husin Husin
Alienasi adalah usaha untuk menggambarkan sebuah peristiwa ke dalam bentuk baru yang bertujuan untuk mencegah penonton menjadi katarsis. Alienasi merupakan salah satu teknik atau metode dalam mazhab teater yang diusung oleh Bertolt Brecht. Alienasi sendiri merupakan transisi dari menjadi ke tidak menjadi. Hal ini dilakukan oleh aktor-aktor yang memainkan naskah “setan dalam bahaya” dalam pertunjukan Tugas Akhir ISBI Bandung tahun 2022. Alienasi sangat terlihat oleh aktor yang memainkan peran sebagai Setan dan Alienasi sangat terlihat ketika tokoh dalam naskah “Setan Dalam Bahaya” interaksi dengan penonton dan antar tokoh itu berbeda. Efek keterasingan bekerja untuk menciptakan ruang kosong di antara penonton dengan tontonannya. Efek keterasingan tidak hanya ditunjukkan dalam keaktoran saja, tetapi keseluruhan pertunjukan, setting, ruang dan lighting menggambarkan keterasingan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses alienasi antar tokoh dan interaksi antara tokoh dengan penonton itu terjadi. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode observasi dan wawancarara kepada aktor dan sutradara
{"title":"Teknik Alienasi dalam Pertunjukan “Setan Dalam Bahaya” di ISBI Bandung","authors":"R. Julianto, Jaeni Jaeni, Monita Precillia, Husin Husin","doi":"10.26887/cartj.v4i2.3219","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v4i2.3219","url":null,"abstract":"Alienasi adalah usaha untuk menggambarkan sebuah peristiwa ke dalam bentuk baru yang bertujuan untuk mencegah penonton menjadi katarsis. Alienasi merupakan salah satu teknik atau metode dalam mazhab teater yang diusung oleh Bertolt Brecht. Alienasi sendiri merupakan transisi dari menjadi ke tidak menjadi. Hal ini dilakukan oleh aktor-aktor yang memainkan naskah “setan dalam bahaya” dalam pertunjukan Tugas Akhir ISBI Bandung tahun 2022. Alienasi sangat terlihat oleh aktor yang memainkan peran sebagai Setan dan Alienasi sangat terlihat ketika tokoh dalam naskah “Setan Dalam Bahaya” interaksi dengan penonton dan antar tokoh itu berbeda. Efek keterasingan bekerja untuk menciptakan ruang kosong di antara penonton dengan tontonannya. Efek keterasingan tidak hanya ditunjukkan dalam keaktoran saja, tetapi keseluruhan pertunjukan, setting, ruang dan lighting menggambarkan keterasingan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses alienasi antar tokoh dan interaksi antara tokoh dengan penonton itu terjadi. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode observasi dan wawancarara kepada aktor dan sutradara","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115865822","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-07DOI: 10.26887/cartj.v4i2.2514
T. Larasati
Proses penciptaan lakon Citra karya Usmar Ismail dilakukan dengan menggunakan konsep Realisme, yakni aliran seni yang berusaha mencapai ilusi atas penggambaran kenyataan. Melalui pertunjukan realisme seorang sutradara mencoba untuk mengangkat realita kehidupan yang sebenarnya.Pertunjukan lakon Citra mengusung genre tragedi untuk menyempurnakan klimaks dalam garapan. Tragedi dikategorikan dalam drama serius dengan topik yang bermakna kemanusiaan sebagai temanya, dimana tokoh utama selalu melawan penderitaan, dan melibatkan keruntuhan atau kehancuran tokoh yang statusnya tinggi. Untuk menghadirkan tragedi lakon di atas panggung, maka seluruh tokoh harus bermain secara kolektif agar suasana kesedihan tersebut dapat dibangun secara utuh sehingga membuat penonton merasakan kesedihan dan duka yang nyata.Adapun metode penciptaan yang digunakan untuk mewujudkan garapan ke atas pangggung, melalui beberapa tahapan seperti; (1) Tahap pencarian, (2) Reading, (3) Tahap pemberian isi, (4) Tahap pengembangan, (5) Blocking,dan (6) Tahap pemantapan. Lakon Citra memiliki pesan moral yang tinggi, yang mengajarkan untuk berhati-hati dalam menaruh kepercayaan terhadap orang lain dan jangan pernah mau dibutakan oleh cinta. Apalagi sampai memberikan kehormatan kepada lelaki, dan hanya akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari.
{"title":"Penyutradaraan Lakon Citra Karya Usmar Ismail Saduran Edy Suisno","authors":"T. Larasati","doi":"10.26887/cartj.v4i2.2514","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v4i2.2514","url":null,"abstract":"Proses penciptaan lakon Citra karya Usmar Ismail dilakukan dengan menggunakan konsep Realisme, yakni aliran seni yang berusaha mencapai ilusi atas penggambaran kenyataan. Melalui pertunjukan realisme seorang sutradara mencoba untuk mengangkat realita kehidupan yang sebenarnya.Pertunjukan lakon Citra mengusung genre tragedi untuk menyempurnakan klimaks dalam garapan. Tragedi dikategorikan dalam drama serius dengan topik yang bermakna kemanusiaan sebagai temanya, dimana tokoh utama selalu melawan penderitaan, dan melibatkan keruntuhan atau kehancuran tokoh yang statusnya tinggi. Untuk menghadirkan tragedi lakon di atas panggung, maka seluruh tokoh harus bermain secara kolektif agar suasana kesedihan tersebut dapat dibangun secara utuh sehingga membuat penonton merasakan kesedihan dan duka yang nyata.Adapun metode penciptaan yang digunakan untuk mewujudkan garapan ke atas pangggung, melalui beberapa tahapan seperti; (1) Tahap pencarian, (2) Reading, (3) Tahap pemberian isi, (4) Tahap pengembangan, (5) Blocking,dan (6) Tahap pemantapan. Lakon Citra memiliki pesan moral yang tinggi, yang mengajarkan untuk berhati-hati dalam menaruh kepercayaan terhadap orang lain dan jangan pernah mau dibutakan oleh cinta. Apalagi sampai memberikan kehormatan kepada lelaki, dan hanya akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"53 1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133813164","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-07DOI: 10.26887/cartj.v4i2.2965
Andre Irwantoni
Pemeranan tokoh Baitul Bilal dalam pertunjukan Orang Kasar karya Anton Chekhov saduran WS. Rendra merupakan penciptaan seni peran yang dilakukan untuk mewujudkan tokoh Baitul Bilal sebagai sebuah pertunjukan teater. Rumusan masalah dari penciptaan tokoh Baitul Bilal ini adalah seperti apa deskripsi tokoh Baitul Bilal dan bagaimana mewujudkan tokoh Baitul Bilal ke dalam pertunjukkan teater. Adapun tujuan pemeranan tokoh Baitul Bilal dalam naskah Orang Kasar, untuk mendapatkan deskripsi tokoh Baitul Bilal dan mewujudkan tokoh Baitul Bilal dalam naskah Orang Kasar dengan gaya realisme. Proses penciptaan tokoh Baitul Bilal menggunakan metode magic if dalam proses mewujudkan tokoh. Metode ini berpusat pada pertanyaan “Jika pemeran adalah tokoh Baitul Bilal, apa yang akan pemeran lakukan?”. Sehingga saat memerankan tokoh Baitul Bilal, pemeran akan memposisikan dirinya sebagai tokoh yang pemeran perankan. Bagaimana pemeran akan bersikap pada situasi yang dihadapi tokoh Baitul Bilal dan pemeran akan bertanya kepada dirinya sendiri apa yang harus ia lakukan, pada saat mengalami situasi yang dialami tokoh Baitul Bilal. Untuk memerankan tokoh tersebut pemeran harus jujur, logis dan masuk akal sesuai dengan tokoh yang pemeran perankan. Dalam memerankan tokoh, pemeran menggunakan realisme sebagai landasan untuk menciptakan tokoh. Proses penciptaan tokoh diawali dengan mengetahui deskripsi tokoh Baitul Bilal. Dalam proses mewujudkan tokoh Baitul Bilal, pemeran harus mempunyai rancangan pertunjukan kemudian memberitahukan kepada semua tim yang terlibat agar semua rancangan pemeran dapat diwujudkan di atas panggung. Akhirnya di pertunjukan ke hadapan penonton. Hingga pada akhirnya penonton dapat menikmati semua peristiwa yang ada di dalam naskah Orang Kasar.
{"title":"Pemeranan Tokoh Baitul Bilal pada Pertunjukan Orang Kasar Karya Anton Chekhov dengan Gaya Realisme","authors":"Andre Irwantoni","doi":"10.26887/cartj.v4i2.2965","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v4i2.2965","url":null,"abstract":"Pemeranan tokoh Baitul Bilal dalam pertunjukan Orang Kasar karya Anton Chekhov saduran WS. Rendra merupakan penciptaan seni peran yang dilakukan untuk mewujudkan tokoh Baitul Bilal sebagai sebuah pertunjukan teater. Rumusan masalah dari penciptaan tokoh Baitul Bilal ini adalah seperti apa deskripsi tokoh Baitul Bilal dan bagaimana mewujudkan tokoh Baitul Bilal ke dalam pertunjukkan teater. Adapun tujuan pemeranan tokoh Baitul Bilal dalam naskah Orang Kasar, untuk mendapatkan deskripsi tokoh Baitul Bilal dan mewujudkan tokoh Baitul Bilal dalam naskah Orang Kasar dengan gaya realisme. Proses penciptaan tokoh Baitul Bilal menggunakan metode magic if dalam proses mewujudkan tokoh. Metode ini berpusat pada pertanyaan “Jika pemeran adalah tokoh Baitul Bilal, apa yang akan pemeran lakukan?”. Sehingga saat memerankan tokoh Baitul Bilal, pemeran akan memposisikan dirinya sebagai tokoh yang pemeran perankan. Bagaimana pemeran akan bersikap pada situasi yang dihadapi tokoh Baitul Bilal dan pemeran akan bertanya kepada dirinya sendiri apa yang harus ia lakukan, pada saat mengalami situasi yang dialami tokoh Baitul Bilal. Untuk memerankan tokoh tersebut pemeran harus jujur, logis dan masuk akal sesuai dengan tokoh yang pemeran perankan. Dalam memerankan tokoh, pemeran menggunakan realisme sebagai landasan untuk menciptakan tokoh. Proses penciptaan tokoh diawali dengan mengetahui deskripsi tokoh Baitul Bilal. Dalam proses mewujudkan tokoh Baitul Bilal, pemeran harus mempunyai rancangan pertunjukan kemudian memberitahukan kepada semua tim yang terlibat agar semua rancangan pemeran dapat diwujudkan di atas panggung. Akhirnya di pertunjukan ke hadapan penonton. Hingga pada akhirnya penonton dapat menikmati semua peristiwa yang ada di dalam naskah Orang Kasar.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"17 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129578902","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-05DOI: 10.26887/cartj.v4i2.2903
R. Pasaribu, Ikhsan Satria Irianto, Enrico Alamo
Pemeranan tokoh Banio dalam naskah Barabah karya Motinggo Busye merupakan bentuk penciptaan yang dilakukan oleh pemeran untuk mewujudkan tokoh Banio yang dipertunjukan di atas panggung, Perwujudan dan pencapaian tokoh Banio dalam naskah Barabah karya Motinggo Busye diwujudkan menggunakan metode akting Stanislavsky. Proses perwujudan tokoh Banio meliputi; observasi, mengidentifikasi tokoh, menumbuhkan tokoh, menjiwai tokoh, mengontrol emosi dan mendandani tokoh. Naskah Barabah karya Motinggo Busye menggangkat realitas kehidupan yang sering terjadi yaitu suatu kesalahpahaman. Banio seorang laki-laki tua berusia 70 tahun, rajin, pekerja keras, aktivitasnya pergi ke ladang bersuara lantang dan tegas, bentuk wajah berkerut, suka untuk tertawa, meskipun Banio sudah tua tetapi Banio masih kuat untuk hidup dan bekerja. Kata kunci :Pemeranan; Tokoh Banio; Naskah; Barabah; Stanislavsky
{"title":"Pemeranan Tokoh Banio dalam Naskah Barabah Karya Motinggo Busye dengan Menggunakan Metode Akting Stanislavsky","authors":"R. Pasaribu, Ikhsan Satria Irianto, Enrico Alamo","doi":"10.26887/cartj.v4i2.2903","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v4i2.2903","url":null,"abstract":"Pemeranan tokoh Banio dalam naskah Barabah karya Motinggo Busye merupakan bentuk penciptaan yang dilakukan oleh pemeran untuk mewujudkan tokoh Banio yang dipertunjukan di atas panggung, Perwujudan dan pencapaian tokoh Banio dalam naskah Barabah karya Motinggo Busye diwujudkan menggunakan metode akting Stanislavsky. Proses perwujudan tokoh Banio meliputi; observasi, mengidentifikasi tokoh, menumbuhkan tokoh, menjiwai tokoh, mengontrol emosi dan mendandani tokoh. Naskah Barabah karya Motinggo Busye menggangkat realitas kehidupan yang sering terjadi yaitu suatu kesalahpahaman. Banio seorang laki-laki tua berusia 70 tahun, rajin, pekerja keras, aktivitasnya pergi ke ladang bersuara lantang dan tegas, bentuk wajah berkerut, suka untuk tertawa, meskipun Banio sudah tua tetapi Banio masih kuat untuk hidup dan bekerja. Kata kunci :Pemeranan; Tokoh Banio; Naskah; Barabah; Stanislavsky ","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"26 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"117050462","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-06-26DOI: 10.26887/cartj.v4i1.2505
Muhammad Firmansyah Dwi Putra
Pertunjukan teater monolog Apakah Kita Sudah Merdeka disajikan berdasarkan analisis, bahwa masyarakat Indonesia bertanggung jawab penuh untuk mencapai kesejahteraannya berdasarkan jalannya masing-masing. Kemerdekaan yang dipahami oleh masyarakat Indonesia dan relasinya terhadap norma-norma yang ada setidaknya memiliki suatu stigma untuk mengartikan sebuah kemerdekaan yang diberikan kepada kita. Inilah acuan pemeran untuk menghadirkan pertunjukan menggunakan metode Stanislavsky. Bagaimana persiapan seorang aktor dengan “to be” dan mewujudkannya Dalam proses penyajian dan penubuhan keaktoran, metode yang digagas oleh Stanilavsky dapat diterapkan dengan berbagai kemungkinan proyeksi dramatik
{"title":"Penciptaan Karya Teater Monolog Apakah Kita Sudah Merdeka Dengan Pendekatan Realisme","authors":"Muhammad Firmansyah Dwi Putra","doi":"10.26887/cartj.v4i1.2505","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v4i1.2505","url":null,"abstract":"Pertunjukan teater monolog Apakah Kita Sudah Merdeka disajikan berdasarkan analisis, bahwa masyarakat Indonesia bertanggung jawab penuh untuk mencapai kesejahteraannya berdasarkan jalannya masing-masing. Kemerdekaan yang dipahami oleh masyarakat Indonesia dan relasinya terhadap norma-norma yang ada setidaknya memiliki suatu stigma untuk mengartikan sebuah kemerdekaan yang diberikan kepada kita. Inilah acuan pemeran untuk menghadirkan pertunjukan menggunakan metode Stanislavsky. Bagaimana persiapan seorang aktor dengan “to be” dan mewujudkannya Dalam proses penyajian dan penubuhan keaktoran, metode yang digagas oleh Stanilavsky dapat diterapkan dengan berbagai kemungkinan proyeksi dramatik","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"35 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-06-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114236813","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-06-19DOI: 10.26887/cartj.v4i1.2558
Titik Giarti, H. Hasan, A. Heryanto
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan Teater Potlot di Kota Palembang khususnya pada fungsi manajerial yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian di bidang kepegawaian, administrasi, keuangan, pembelajaran dan sarana/peralatan serta penerapannya, baikl pada aspek artistik dan non-artistik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengambil subjek Teater Potlot di kota Palembang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Conie Sema selaku sutradara dan pemimpin Teater Potlot . Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data adalah dengan menganalisis data reduksi, penyajian data, penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data menggunakan teknik Triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Teater Potlot dalam sistem manajemen manajemen menerapkan sistem manajemen yang rinci dan terprogram dalam setiap pementasan produksi dengan menerapkan fungsi manajemen yang menekankan pada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. terbuka dalam segala hal, baik dalam proses manajemen kinerja maupun dalam manajemen organisasi.
{"title":"Manajemen Pengelolaan Seni Pertunjukan pada Kelompok Teater Potlot di Kota Palembang","authors":"Titik Giarti, H. Hasan, A. Heryanto","doi":"10.26887/cartj.v4i1.2558","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v4i1.2558","url":null,"abstract":"Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan Teater Potlot di Kota Palembang khususnya pada fungsi manajerial yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian di bidang kepegawaian, administrasi, keuangan, pembelajaran dan sarana/peralatan serta penerapannya, baikl pada aspek artistik dan non-artistik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengambil subjek Teater Potlot di kota Palembang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Conie Sema selaku sutradara dan pemimpin Teater Potlot . Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data adalah dengan menganalisis data reduksi, penyajian data, penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data menggunakan teknik Triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Teater Potlot dalam sistem manajemen manajemen menerapkan sistem manajemen yang rinci dan terprogram dalam setiap pementasan produksi dengan menerapkan fungsi manajemen yang menekankan pada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. terbuka dalam segala hal, baik dalam proses manajemen kinerja maupun dalam manajemen organisasi.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"51 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-06-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122851821","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-06-01DOI: 10.26887/cartj.v4i1.2527
Puput Rahmadanti, Herwanfakhrizal Herwanfakhrizal
Randai Lakon Usui Merantau ke Moro merupakan teater tradisi berasal dari Teluk Kuantan Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Pertunjukan randai ini menampilkan cerita yang disajikan dalam bentuk kisahan (narasi) tahapan (dialog), Musik (instrumental dan vokal) serta tarian dan joget. Cerita-cerita yang dipertunjukkan mengangkat tema-tema, kontekstual yang berangkat dari realitas di padu dengan suasana ceria, gembira, dan suka cita. Penelitian ini dipusatkan menganalisis Struktur dan Tekstur Pertunjukan dengan Kerangka konsep Teoritis enam nilai dramatik yang dikembangkan George K Kernodle dan Portia Kernodle berupa, alur karakter tema dialog mood (rhythm), dan spektakel. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis.
Randai Lakon to Moro是传统的斗生湾旧址。randai的节目以表演顺序(叙述)、音乐(器乐和声乐)、舞蹈和舞蹈的形式呈现。所展示的故事以主题、背景和背景为主题,从现实出发,伴随着一种快乐、快乐和欢乐的气氛。这项研究以乔治·K·克诺德尔和波西亚·克诺德尔(George K Kernodle)、情绪对话主题(rhythm)和光谱谱子等理论概念的框架为重点分析表演的结构和纹理。本研究还采用了描述性分析方法。
{"title":"Analisis Pertunjukan Randai Lakon Usui Merantau ke Moro Sanggar Gelora Muda Teluk Kuantan","authors":"Puput Rahmadanti, Herwanfakhrizal Herwanfakhrizal","doi":"10.26887/cartj.v4i1.2527","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/cartj.v4i1.2527","url":null,"abstract":"Randai Lakon Usui Merantau ke Moro merupakan teater tradisi berasal dari Teluk Kuantan Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi. Pertunjukan randai ini menampilkan cerita yang disajikan dalam bentuk kisahan (narasi) tahapan (dialog), Musik (instrumental dan vokal) serta tarian dan joget. Cerita-cerita yang dipertunjukkan mengangkat tema-tema, kontekstual yang berangkat dari realitas di padu dengan suasana ceria, gembira, dan suka cita. Penelitian ini dipusatkan menganalisis Struktur dan Tekstur Pertunjukan dengan Kerangka konsep Teoritis enam nilai dramatik yang dikembangkan George K Kernodle dan Portia Kernodle berupa, alur karakter tema dialog mood (rhythm), dan spektakel. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"17 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-06-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130303185","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}