Pub Date : 2020-05-02DOI: 10.26887/CARTJ.V2I1.1372
Megi Hardani
Pemeranan tokoh Willy Loman dalam lakon Matinya Pedagang Keliling atau Death of Salesman karya Arthur Miller merupakan bentuk penciptaan seni peran yang dilakukan oleh pemeran. Perwujudan pemeranan tokoh Willy Loman dimulai dengan analisis lakon Matinya Pedagang Keliling. Pendekatan akting presentasi digunakan sebagai rujukan untuk mengaplikasikan tokoh Willy ke atas pangung. Pendekatan presentasi adalah proses dimana aktor menentukan lebih dahulu tindakan-tindakan yang dilakukan karakter yang dimainkannya seutuhnya baik secara pengalaman empiris dan juga secara fisik. Secara alamiah dia masuk dalam si tokoh dan melakukannya di atas panggung. Metode akting yang digunakan adalah metode akting Stanislavsky.Melalui tokoh Willy Loman, pemeran ingin memberikan sindiran terhadap penonton, dimana etos kerja dan nilai-nilai moral pada generasi muda sudah mulai hilang. Hal inilah yang digambarkan dengan jelas melalui tokoh Willy Loman, karena Willy juga pernah selingkuh, padahal ia memiliki seorang istri yang setia. Tokoh Willy juga memberikan nilai-nilai moral, seperti perlunya keteladanan, kerja keras, dan jujur dalam bekerja. Lakon Matinya Pedagang Keliling memberikan contoh tragedi yang dapat terjadi terlalu ambisius, kemandekan kreatifitas dan inivasi dalam berbisnis, bahaya modernitas serta persaingan bisnis maupun ekonomi.
{"title":"Mewujudkan Metode Akting Stanislavski dalam Lakon Matinya Pedagang Keliling (Death Of Salesman) Karya Arthur Miller","authors":"Megi Hardani","doi":"10.26887/CARTJ.V2I1.1372","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/CARTJ.V2I1.1372","url":null,"abstract":"Pemeranan tokoh Willy Loman dalam lakon Matinya Pedagang Keliling atau Death of Salesman karya Arthur Miller merupakan bentuk penciptaan seni peran yang dilakukan oleh pemeran. Perwujudan pemeranan tokoh Willy Loman dimulai dengan analisis lakon Matinya Pedagang Keliling. Pendekatan akting presentasi digunakan sebagai rujukan untuk mengaplikasikan tokoh Willy ke atas pangung. Pendekatan presentasi adalah proses dimana aktor menentukan lebih dahulu tindakan-tindakan yang dilakukan karakter yang dimainkannya seutuhnya baik secara pengalaman empiris dan juga secara fisik. Secara alamiah dia masuk dalam si tokoh dan melakukannya di atas panggung. Metode akting yang digunakan adalah metode akting Stanislavsky.Melalui tokoh Willy Loman, pemeran ingin memberikan sindiran terhadap penonton, dimana etos kerja dan nilai-nilai moral pada generasi muda sudah mulai hilang. Hal inilah yang digambarkan dengan jelas melalui tokoh Willy Loman, karena Willy juga pernah selingkuh, padahal ia memiliki seorang istri yang setia. Tokoh Willy juga memberikan nilai-nilai moral, seperti perlunya keteladanan, kerja keras, dan jujur dalam bekerja. Lakon Matinya Pedagang Keliling memberikan contoh tragedi yang dapat terjadi terlalu ambisius, kemandekan kreatifitas dan inivasi dalam berbisnis, bahaya modernitas serta persaingan bisnis maupun ekonomi. ","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"80 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-05-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127184169","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-05-01DOI: 10.26887/CARTJ.V2I1.1369
Akbar Munazif
Lakon Maut dan sang dara karya Areil Dorfman terjemahan Mimi Notokusumo, salah satu lakon yang hadir dari pengalaman pengarang untuk menyatakan keadialan. Perancangan pementasan lakon Maut dan sang Dara akan membawa penonton ke dalam tontonan yang banyak menyinggung persoalan politik dan kekuasaan, untuk menciptakan hal itu penulis menganalisis struktur dan tekstur agar rancangan pementasan lakon menjadi akurat dan bisa dipertanggungjawabkan, dan realisme sebagai pijakan penulis untuk mengupas lakon demi terciptanya rancangan yang menyuguhkan keadaan yang nyata dalam pementasan.
{"title":"Perancangan Teater Realisme Dalam Lakon Maut dan Sang Dara Karya Ariel Dorfman Terjemahan Mimi Notokusumo","authors":"Akbar Munazif","doi":"10.26887/CARTJ.V2I1.1369","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/CARTJ.V2I1.1369","url":null,"abstract":"Lakon Maut dan sang dara karya Areil Dorfman terjemahan Mimi Notokusumo, salah satu lakon yang hadir dari pengalaman pengarang untuk menyatakan keadialan. Perancangan pementasan lakon Maut dan sang Dara akan membawa penonton ke dalam tontonan yang banyak menyinggung persoalan politik dan kekuasaan, untuk menciptakan hal itu penulis menganalisis struktur dan tekstur agar rancangan pementasan lakon menjadi akurat dan bisa dipertanggungjawabkan, dan realisme sebagai pijakan penulis untuk mengupas lakon demi terciptanya rancangan yang menyuguhkan keadaan yang nyata dalam pementasan.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"30 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-05-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123029548","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-03-18DOI: 10.26887/CARTJ.V2I2.1459
Febby Monica, Desi Susanti, Yuniarni Fakultas Seni Pertunjukan
Tokoh Arini dalam naskah Mainan Gelas karya Tennessee Williams Saduran Suyatna Anirun merupakan tokoh yang mengalami konflik batin pada dirinya, karena Arini memiliki banyak permasalahan dalam hidup mulai dari tokoh ayah yang pergi meninggalkannya dan kedua anaknya yang tidak mau mendengarkan perkataan Arini. Naskah ini merupakan naskah realisme psikologi karena berangkat dari kondisi kehidupan masa lalu si pengarang dan menceritakan seorang ibu bernama Arini yang terjebak pada kenangan masa lalu dan harapan untuk masa depan yang tidak bisa dicapainya. Arini mendidik anaknya secara otoriter, sifat keegoisannya yang hanya ingin didengar membuat anaknya tidak nyaman dengan prilaku Arini. Dalam konteks ini, maka tokoh Arini akan dihadirkan dengan metode akting Stanislavsky (to be). Berdasarkan metode akting ini pemeran ingin meyakinkan penonton bahwa apa yang terjadi di atas panggung adalah kejadian yang sebenarnya.
{"title":"Tokoh Arini Dalam Naskah Mainan Gelas Karya Tennessee Williams Saduran Suyatna Anirun","authors":"Febby Monica, Desi Susanti, Yuniarni Fakultas Seni Pertunjukan","doi":"10.26887/CARTJ.V2I2.1459","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/CARTJ.V2I2.1459","url":null,"abstract":"Tokoh Arini dalam naskah Mainan Gelas karya Tennessee Williams Saduran Suyatna Anirun merupakan tokoh yang mengalami konflik batin pada dirinya, karena Arini memiliki banyak permasalahan dalam hidup mulai dari tokoh ayah yang pergi meninggalkannya dan kedua anaknya yang tidak mau mendengarkan perkataan Arini. Naskah ini merupakan naskah realisme psikologi karena berangkat dari kondisi kehidupan masa lalu si pengarang dan menceritakan seorang ibu bernama Arini yang terjebak pada kenangan masa lalu dan harapan untuk masa depan yang tidak bisa dicapainya. Arini mendidik anaknya secara otoriter, sifat keegoisannya yang hanya ingin didengar membuat anaknya tidak nyaman dengan prilaku Arini. Dalam konteks ini, maka tokoh Arini akan dihadirkan dengan metode akting Stanislavsky (to be). Berdasarkan metode akting ini pemeran ingin meyakinkan penonton bahwa apa yang terjadi di atas panggung adalah kejadian yang sebenarnya.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126731382","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pemeranan tokoh Gusti Biang adalah proses perwujudan tokoh dalam naskah menuju panggung pertunjukan. Dalam proses perwujudan tokoh Gusti Biang berlandasan pada anlisis penokohan dan analisis terhadap naskah drama. Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya tergolong naskah yang bergaya realisme. Akting realis adalah upaya menyakinkan penonton dengan laku yang natural. Untuk memerankan tokoh Gusti Biang, diperlukan metode yang mampu memproyeksikan suatu keaktoran dan menyatukan karakter pemeran dengan kebutuhan karakter tokoh yang diperankan. Metode yang paling relevan untuk mewujudkan tokoh dalam naskah realis adalah metode akting to be atau menjadi yang digagas oleh Stanislavsky.
{"title":"PEMERANAN TOKOH GUSTI BIANG LAKON BILA MALAM BERTAMBAH MALAM KARYA PUTU WIJAYADENGAN METODE AKTING STANISLAVSKY","authors":"Nani Yuliani","doi":"10.26887/CARTJ.V1I1.938","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/CARTJ.V1I1.938","url":null,"abstract":"Pemeranan tokoh Gusti Biang adalah proses perwujudan tokoh dalam naskah menuju panggung pertunjukan. Dalam proses perwujudan tokoh Gusti Biang berlandasan pada anlisis penokohan dan analisis terhadap naskah drama. Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya tergolong naskah yang bergaya realisme. Akting realis adalah upaya menyakinkan penonton dengan laku yang natural. Untuk memerankan tokoh Gusti Biang, diperlukan metode yang mampu memproyeksikan suatu keaktoran dan menyatukan karakter pemeran dengan kebutuhan karakter tokoh yang diperankan. Metode yang paling relevan untuk mewujudkan tokoh dalam naskah realis adalah metode akting to be atau menjadi yang digagas oleh Stanislavsky.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"32 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-05-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126335765","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-04-22DOI: 10.26887/LG.V5I2.925.G476
I. Putra
Karya tari berjudul ” Meupilet Pilet” ini terinspirasi kegiatan masyarakat pesisir pantai di kota Lhokseumawe yang berkerja di lautan dengan menarik pukat ‘Tarek Pukat’. Tarek Pukat menurut istilah adalah suatu aktivitas yang dilakukan di pesisir pantai untuk menangkap ikan dengan menggunakan jala yang telah ditebar di lautan dengan menggunakan perahu nelayan, kemudian ditarik ke daratan secara bersama-sama. Pengkarya merasa tersentuh terutama melihat tali yang disimpulkan menjadi sebuah jala dimana proses pembuatannya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, membutuhkan konsentrasi pikiran , keseimbangan antara sisi kanan dan kiri, cermat dan detail serta harus memiliki keterampilan dalam menyimpulkan setiap pola jala. Pengkarya mentitik fokuskan tali tersebut sebagai inspirasi pengkarya yang diintepretasikan sebagai gambaran kehidupan, mengikat, tidak terputus-putus yang dimaknai sebagai harapan yang sangat kuat, gambaran sebuah ikatan antara saudara, masyarakat, kehidupan, alam serta alam dengan masyarakatnya, sebagai identitas masyarakat yang saling terjalin satu sama lain (terikat). Untuk menggarap konsep ini pengkarya mempunyai ide garapan, pengkarya menggunakan tubuh dan tali sebagai media ungkap serta properti rotan yang dililitkan tali sebagai gambaran ombat lautan, rumah serta kehidupan bagi masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam pelahiran karya ini diantaranya, observasi, pengolahan data, studi pustaka, pemilihan pendukung karya, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, dan evaluasi. Dalam karya ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama menggambarkan esensi tali dalam tubuh, bagian kedua menggambarkan fungsi tali dan bagian ketiga merupakan representasi secara keseluruhan tubuh dan tali.
{"title":"MEUPILET PILET: Tubuh dan Tali Sebagai Kehidupan Masyarakat Aceh","authors":"I. Putra","doi":"10.26887/LG.V5I2.925.G476","DOIUrl":"https://doi.org/10.26887/LG.V5I2.925.G476","url":null,"abstract":"Karya tari berjudul ” Meupilet Pilet” ini terinspirasi kegiatan masyarakat pesisir pantai di kota Lhokseumawe yang berkerja di lautan dengan menarik pukat ‘Tarek Pukat’. Tarek Pukat menurut istilah adalah suatu aktivitas yang dilakukan di pesisir pantai untuk menangkap ikan dengan menggunakan jala yang telah ditebar di lautan dengan menggunakan perahu nelayan, kemudian ditarik ke daratan secara bersama-sama. Pengkarya merasa tersentuh terutama melihat tali yang disimpulkan menjadi sebuah jala dimana proses pembuatannya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, membutuhkan konsentrasi pikiran , keseimbangan antara sisi kanan dan kiri, cermat dan detail serta harus memiliki keterampilan dalam menyimpulkan setiap pola jala. Pengkarya mentitik fokuskan tali tersebut sebagai inspirasi pengkarya yang diintepretasikan sebagai gambaran kehidupan, mengikat, tidak terputus-putus yang dimaknai sebagai harapan yang sangat kuat, gambaran sebuah ikatan antara saudara, masyarakat, kehidupan, alam serta alam dengan masyarakatnya, sebagai identitas masyarakat yang saling terjalin satu sama lain (terikat). Untuk menggarap konsep ini pengkarya mempunyai ide garapan, pengkarya menggunakan tubuh dan tali sebagai media ungkap serta properti rotan yang dililitkan tali sebagai gambaran ombat lautan, rumah serta kehidupan bagi masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam pelahiran karya ini diantaranya, observasi, pengolahan data, studi pustaka, pemilihan pendukung karya, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, dan evaluasi. Dalam karya ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama menggambarkan esensi tali dalam tubuh, bagian kedua menggambarkan fungsi tali dan bagian ketiga merupakan representasi secara keseluruhan tubuh dan tali.","PeriodicalId":197568,"journal":{"name":"Creativity And Research Theatre Journal","volume":"136 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-04-22","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122837477","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}