Indonesian students who study in Australia sometimes bring their family members, such as their children. Therefore, they do not only play a role as a student but also as a parent. The role will be more complex as they need to build partnership with their children’s school. Building family-school partnerships with families from culturally and linguistically difference can be challenging. Therefore, the aim of this research project was to understand the perspectives of Indonesian families to the notion of partnerships with the school for their children’s education. This study specifically focused on Indonesian families who study postgraduate education in Australia and have a child or children studying in early childhood education settings. This research was based on an exploratory case study. It involved semi-structured interviews with open-ended questions. The data was analyzed using an inductive strategy and thematic analysis. Findings showed that there was discrepancy between participants’ perspectives on authentic partnerships and the practice. Parents viewed partnerships as a collaboration only when they had concerns to children. Lack of open communication emerged as the challenge because participants’ role as a student. Parents felt hesitant also to ask about their children’s school program because of the lack of communication from the teacher and the cultural factor. Therefore, Indonesian families who have dual roles, as students and parents, and Australian teachers who have students that their parents also study could rethink what kind of partnerships that is effective for the benefit of children. Mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia terkadang membawa serta anggota keluarga, salah satunya adalah anak. Oleh karena itu, mereka memiliki peran ganda, sebagai mahasiswa dan sebagai orang tua. Peran tersebut menjadi lebih rumit jika anak mereka juga sekolah di Australia karena mereka diharapkan juga membangun kemitraan dengan sekolah anaknya. Membangun kemitraan antara sekolah dan orang tua dari negara yang berbeda bahasa dan budaya memiliki tantanganan tersendiri. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah memahami perspektif keluarga Indonesia tentang konsep kemitraan antara keluarga dan sekolah. Penelitian ini berfokus pada keluarga Indonesia yang sedang melanjutkan studi S2 di Australia dan mempunyai anak yang bersekolah di pendidikan anak usia dini. Penelitian ini berbentuk studi kasus eksploratori. Pengambilan data melalui wawancara semi-struktural dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Analisis data menggunakan strategi induktif dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan orangtua memiliki kekhawatiran yang berbeda terkait anaknya di sekolah. Ada ketidaksesuaian antara perspektif partisipan terkait konsep kemitraan dengan praktek di lapangan. Orangtua menganggap kemitraan sebagai kolaborasi hanya jika ada permasalahan pada anak. Kurangnya komunikasi menjadi tantangan kemitraan akibat peran orang tua sebagai mahas
在澳大利亚学习的印尼学生有时会带上他们的家人,比如他们的孩子。因此,他们不仅扮演学生的角色,而且扮演家长的角色。这个角色将更加复杂,因为他们需要与孩子的学校建立伙伴关系。与来自文化和语言差异的家庭建立家庭-学校合作关系可能具有挑战性。因此,这个研究项目的目的是了解印尼家庭对与学校合作教育子女的看法。这项研究特别关注在澳大利亚学习研究生教育的印度尼西亚家庭,他们有一个或多个孩子在幼儿教育机构学习。本研究基于探索性案例研究。它包括带有开放式问题的半结构化访谈。数据分析采用归纳策略和专题分析。调查结果表明,参与者对真实伙伴关系的看法与实践存在差异。父母只有在关心孩子的时候才会把伙伴关系看作是一种合作。由于参与者作为学生的角色,缺乏开放的沟通成为了挑战。由于缺乏与老师的沟通和文化因素,家长在询问孩子的学校计划时也感到犹豫。因此,作为学生和家长的双重角色的印度尼西亚家庭,以及父母也在学习学生的澳大利亚教师,应该重新思考什么样的伙伴关系对孩子的利益是有效的。Mahasiswa印度尼西亚yang belajar di澳大利亚terkadang membawa serta anggota keluarga, salah satunya adalah anak。Oleh karena itu, mereka memoriliki peran ganda, sebagai mahasiswa和sebagai orangtua。Peran tersebut menjadi lebih rumit jika anak mereka juga sekolah澳大利亚karena mereka diharapkan juga membangun kemitraan dengan sekolah anaknya。成员们都知道自己是谁,也知道自己是谁,也知道自己是谁。Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah memahami perspektif keluarga印度尼西亚tentang konsep kemitraan antara keluarga dan sekolah。Penelitian ini berfokus pada keluarga印度尼西亚yang sedang melanjutkan研究S2 di澳大利亚dan mempunyai anak yang bersekolah di pendidikan anak usia dini。Penelitian ini berbentuk研究kasus eksploratori。彭甘比兰的数据、数据、数据、数据、数据、数据和数据。分析数据蒙古纳坎战略产业和分析技术。哈西尔·潘内利安·曼努朱克安·红毛猩猩·克哈瓦蒂兰·扬·贝贝达·阿纳克尼亚·迪·斯科拉。Ada ketidaks - susuan - antara透视,partisipan terkait konsep kemitraan dengan praktek di lapangan。红毛猩猩,孟冈加,kemitraan, sebagai, kolaborasi, hanya, jika, ada, permasalahan, padanak。Kurangnya komunikasi menjadi tantanangan kemitraan akibat peran orang tubagai mahasiswa。猩猩ragu untuk bertanya terkait程序sekolah karena kurangnya komunikasi dari guru dan juga faktor文化。Maka dari, keluarga Indonesia, yang memiliki peran anda, sebagai mahasiswa dan orangtua, serta guru PAUD di Australia, yang memiliki siswa dengan orangang, yang juga pelajar di Australia, dapat meninjau ulang kemitraan, yang efektif untuk mendukung pembelajaran anak。
{"title":"FAMILY-SCHOOL PARTNERSHIPS OF INDONESIAN FAMILIES ENGAGED IN POSTGRADUATE STUDY","authors":"Pasiningsih","doi":"10.21009/jiv.1601.1","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1601.1","url":null,"abstract":"Indonesian students who study in Australia sometimes bring their family members, such as their children. Therefore, they do not only play a role as a student but also as a parent. The role will be more complex as they need to build partnership with their children’s school. Building family-school partnerships with families from culturally and linguistically difference can be challenging. Therefore, the aim of this research project was to understand the perspectives of Indonesian families to the notion of partnerships with the school for their children’s education. This study specifically focused on Indonesian families who study postgraduate education in Australia and have a child or children studying in early childhood education settings. This research was based on an exploratory case study. It involved semi-structured interviews with open-ended questions. The data was analyzed using an inductive strategy and thematic analysis. Findings showed that there was discrepancy between participants’ perspectives on authentic partnerships and the practice. Parents viewed partnerships as a collaboration only when they had concerns to children. Lack of open communication emerged as the challenge because participants’ role as a student. Parents felt hesitant also to ask about their children’s school program because of the lack of communication from the teacher and the cultural factor. Therefore, Indonesian families who have dual roles, as students and parents, and Australian teachers who have students that their parents also study could rethink what kind of partnerships that is effective for the benefit of children. \u0000 \u0000Mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia terkadang membawa serta anggota keluarga, salah satunya adalah anak. Oleh karena itu, mereka memiliki peran ganda, sebagai mahasiswa dan sebagai orang tua. Peran tersebut menjadi lebih rumit jika anak mereka juga sekolah di Australia karena mereka diharapkan juga membangun kemitraan dengan sekolah anaknya. Membangun kemitraan antara sekolah dan orang tua dari negara yang berbeda bahasa dan budaya memiliki tantanganan tersendiri. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah memahami perspektif keluarga Indonesia tentang konsep kemitraan antara keluarga dan sekolah. Penelitian ini berfokus pada keluarga Indonesia yang sedang melanjutkan studi S2 di Australia dan mempunyai anak yang bersekolah di pendidikan anak usia dini. Penelitian ini berbentuk studi kasus eksploratori. Pengambilan data melalui wawancara semi-struktural dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Analisis data menggunakan strategi induktif dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan orangtua memiliki kekhawatiran yang berbeda terkait anaknya di sekolah. Ada ketidaksesuaian antara perspektif partisipan terkait konsep kemitraan dengan praktek di lapangan. Orangtua menganggap kemitraan sebagai kolaborasi hanya jika ada permasalahan pada anak. Kurangnya komunikasi menjadi tantangan kemitraan akibat peran orang tua sebagai mahas","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"115 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114865944","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Rasa aman bagi anak dalam masa tumbuh kembangnya merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Pengasuhan yang tepat merupakan kunci keberhasilan anak dalam memenuhi tugas perkembangannya. Kesadaran orang tua untuk membekali diri mengenai proses pengasuhan tanpa melibatkan kekerasan dalam proses pendisiplinan merupakan hal mendasar untuk menciptakan rasa aman bagi anak. Penelitian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan program pengasuhan dapat menunjang kemampuan pengasuhan orang tua dalam mendisiplinkan anak tanpa melibatkan kekerasan verbal serta dampaknya bagi perkembangan anak. Penelitian ini merupakan studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 60 orang tua murid kelompok A maupun kelompok B di sebuah TK di Kota Surakarta. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa program pengasuhan yang diberikan yaitu Adults and Children Together (ACT) Raising Safe Kids dapat menunjang kemampuan orang tua mengenai pendisiplinan anak tanpa melibatkan kekerasan serta dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan sosial emosional anak. Program ini dibagi menjadi tiga sesi yang dilakukan selama 2 jam untuk setiap sesinya. Tujuan program adalah pemahaman orangtua mengenai perkembangan anak sesuai dengan tahap usianya, cara mengelola emosi dan membantu anak untuk mengelola emosi, serta bagaimana menciptakan lingkungan yang aman bagi anak yang terbebas dari kekerasan baik fisik maupun verbal. Penelitian ini melaporkan bahwa program ini dapat meningkatkan praktik pengasuhan yang aman tanpa kekerasan bagi anak. A sense of security for children during their growth and development is an important thing to pay attention to. Proper parenting is the key to children's success in fulfilling their developmental tasks. Parent’s awareness to equip themselves with the parenting process without involving violence in the disciplinary process is fundamental to creating a sense of security for children. The research was conducted to find out how the implementation of the Adults and Children Together (ACT) Raising Safe Kids program can support the parenting skills of parents in disciplining children without involving verbal violence. This study used a descriptive qualitative method. Data collection techniques in this study using interviews, observation, and document study. The results of this study indicate that the Adults and Children Together (ACT) Raising Safe Kids program is an effective parenting program to equip parents about child discipline without involving violence. The program is divided into three sessions which last for 2 hours each session. This program leads parents to understand the age stage based-child development, to manage emotions and to help children to manage their emotions. This program also facilitates them to know how to create a safe environment for children who are free from both physical and verbal violence. This study c
婴儿在成长过程中感到安全是一个值得关注的问题。正确的养育是发展中的孩子完成任务成功的关键。父母为自己提供关于意识中没有涉及暴力的育儿过程是最基本的纪律为孩子创造安全感。做研究,以了解在多大程度上实施教育项目中可以维持能力养育父母管教孩子而不涉及口头暴力及其对发展的影响。这是一个案例研究。研究的参与者包括60名家长的学生A和B都在日惹的一个学前班。本研究的数据收集技术采用访谈、观察和文档研究。研究结果表明,养育子女的共同努力可以帮助父母在不涉及暴力的情况下进行纪律,并对孩子的社会情感发展产生积极的影响。这个项目分为三个每疗程做两个小时的会议。项目的目标是父母了解儿童发展符合年龄阶段,如何管理情绪,帮助孩子管理情绪,以及如何摆脱暴力的为孩子创造一个安全的环境无论是身体还是口头上的。这项研究报告说,这个项目可以提高对儿童安全的育儿实践非暴力。during A sense of为儿童安全的增长和发展是一个重要的事要和继承的。养育是孩子们完成发展任务的关键。家长们意识到,在处理过程中不包括暴力,即建立一种儿童安全意识的基础上,将自己与进行对照。《research was conducted去发现如何implementation of The Adults项目和儿童一起(ACT)抚养经济安全的孩子可以支持《disciplining儿童家长的育儿技能没有involving言语暴力。这个研究过去a qqe descriptive方法。数据用interviews收藏techniques in this study observation,研究和文件。The results of this study indicate that The Adults项目和儿童一起(ACT)抚养经济安全的孩子是一个有效的养育计划到装备家长关于孩子没有involving暴力的规则”。《divided进三个sessions是哪种程序为每2小时最后阶段。这个项目引导父母理解儿童的年龄发展,引导情感,帮助孩子们控制情感。这也是一个很好的项目,它知道如何为孩子们创造一个安全的环境,他们在生理和言语上都是自由的。这个研究的结论是,这个项目可以在不影响儿童的情况下促进安全的运作。
{"title":"ANALISIS PROGRAM ADULTS AND CHILDREN TOGETHER (ACT) RAISING SAFE KIDS","authors":"Clara Dewi Larasati, Novita Eka Nurjanah","doi":"10.21009/jiv.1601.8","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1601.8","url":null,"abstract":"Rasa aman bagi anak dalam masa tumbuh kembangnya merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Pengasuhan yang tepat merupakan kunci keberhasilan anak dalam memenuhi tugas perkembangannya. Kesadaran orang tua untuk membekali diri mengenai proses pengasuhan tanpa melibatkan kekerasan dalam proses pendisiplinan merupakan hal mendasar untuk menciptakan rasa aman bagi anak. Penelitian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan program pengasuhan dapat menunjang kemampuan pengasuhan orang tua dalam mendisiplinkan anak tanpa melibatkan kekerasan verbal serta dampaknya bagi perkembangan anak. Penelitian ini merupakan studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 60 orang tua murid kelompok A maupun kelompok B di sebuah TK di Kota Surakarta. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa program pengasuhan yang diberikan yaitu Adults and Children Together (ACT) Raising Safe Kids dapat menunjang kemampuan orang tua mengenai pendisiplinan anak tanpa melibatkan kekerasan serta dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan sosial emosional anak. Program ini dibagi menjadi tiga sesi yang dilakukan selama 2 jam untuk setiap sesinya. Tujuan program adalah pemahaman orangtua mengenai perkembangan anak sesuai dengan tahap usianya, cara mengelola emosi dan membantu anak untuk mengelola emosi, serta bagaimana menciptakan lingkungan yang aman bagi anak yang terbebas dari kekerasan baik fisik maupun verbal. Penelitian ini melaporkan bahwa program ini dapat meningkatkan praktik pengasuhan yang aman tanpa kekerasan bagi anak. \u0000 \u0000A sense of security for children during their growth and development is an important thing to pay attention to. Proper parenting is the key to children's success in fulfilling their developmental tasks. Parent’s awareness to equip themselves with the parenting process without involving violence in the disciplinary process is fundamental to creating a sense of security for children. The research was conducted to find out how the implementation of the Adults and Children Together (ACT) Raising Safe Kids program can support the parenting skills of parents in disciplining children without involving verbal violence. This study used a descriptive qualitative method. Data collection techniques in this study using interviews, observation, and document study. The results of this study indicate that the Adults and Children Together (ACT) Raising Safe Kids program is an effective parenting program to equip parents about child discipline without involving violence. The program is divided into three sessions which last for 2 hours each session. This program leads parents to understand the age stage based-child development, to manage emotions and to help children to manage their emotions. This program also facilitates them to know how to create a safe environment for children who are free from both physical and verbal violence. This study c","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"46 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121479222","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Robertus Belarminus Suharta, S. Septiarti, Erma Kusumawardani
This present study aims to describe the pattern of partnerships between schools and families in basic education as part of character building for students in the context of informal learning in primary schools. The study was conducted using a descriptive qualitative approach with 9 school principals and committee members as participants. Participants were recruited from both public and private schools based on regional representation. Data analysis was conducted inductively by linking of family involvement aspects with interactive analysis. The results showed that character building is the responsibility of both the schools and families which is achieved through priority programs implemented in all elementary schools. These programs involved institutional cooperation, family-school collaboration at home and family-teacher communication. The study also found that involvement in all elementary schools was mostly represented by mothers (85%). Character building can also be done by accelerating school-family partnership in a more informal learning context. Through this families and schools go hand in hand promoting culture of achievement, literacy related habits five principles which comprise smile, greeting, say hello, polite, well-mannered and five involvement which are corporation, community leaders in the villages, universities, family and city government. Involving families in children's education evidently provides confidence, comfort and enthusiasm in learning at home and at school.Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola kemitraan antara keluarga dan sekolah dalam pendidikan dasar sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa dalam konteks pembelajaran informal di sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan partisipan 9 kepala sekolah dan komite sekolah. Peserta direkrut dari sekolah negeri dan swasta berdasarkan keterwakilan wilayah. Analisis data dilakukan secara induktif dengan mengaitkan aspek keterlibatan keluarga dengan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan karakter merupakan tanggung jawab sekolah dan keluarga yang dicapai melalui program prioritas yang dilaksanakan di semua sekolah dasar. Program-program ini melibatkan kerjasama kelembagaan, kerjasama keluarga-sekolah di rumah dan komunikasi keluarga-guru. Studi ini juga menemukan bahwa keterlibatan di semua sekolah dasar sebagian besar diwakili oleh ibu (85%). Pengembangan karakter juga dapat dilakukan dengan mempercepat kemitraan sekolah-keluarga dalam konteks pembelajaran yang lebih informal. Melalui ini keluarga dan sekolah bahu membahu mempromosikan budaya berprestasi, lima prinsip terkait kebiasaan literasi yaitu senyum, sapa, sopan, santun, menanyakan kabar dan lima keterlibatan yaitu korporasi, tokoh masyarakat di desa, perguruan tinggi, keluarga dan pemerintah kota. Melibatkan keluarga dalam pendidikan anak ternyata memberikan rasa percaya diri, kenyamanan dan semangat dalam belajar di rumah dan
本研究旨在描述学校和家庭在基础教育中的伙伴关系模式,作为小学非正式学习背景下学生性格塑造的一部分。本研究采用描述定性方法,以9位学校校长及委员会成员为研究对象。参与者根据地区代表性从公立和私立学校招募。通过将家庭参与方面与互动分析相联系,进行归纳分析。结果表明,品格塑造是学校和家庭共同的责任,通过在所有小学实施的优先项目来实现。这些项目包括机构合作、家庭-学校在家合作和家庭-教师交流。该研究还发现,参与所有小学教育的主要是母亲(85%)。性格塑造也可以通过在更非正式的学习环境中加速学校与家庭的伙伴关系来实现。通过这种方式,家庭和学校携手促进成就文化,扫盲相关的习惯五项原则,包括微笑,问候,打招呼,礼貌,举止得体和五项参与,即公司,社区领导人在村庄,大学,家庭和市政府。让家庭参与孩子的教育显然会给孩子在家里和学校的学习带来信心、安慰和热情。Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola kemitraan antara keluarga dan sekolah dalam pendidikan dasar sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa dalam konteks pembelajaran非正式地di sekolah dasar。Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan quality - quality - desk(名词),名词)她说:“我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说,我是说。”分析数据:迪拉库坎secara、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业、工业等。我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是。程序-程序ini melibatkan kerjasama kelembagaan, kerjasama keluarga-sekolah di rumah dan komunikasi keluarga-guru。Studi ini menemukan bahwa keterlibatan di semua sekolah dasar sebagian besar diwakili oleh ibu(85%)。penembangan karakter juga dapat dilakukan dengan mempercepat kemitraan sekolah-keluarga dalam konteks penbelajaran yang lebih非正式。Melalui ini keluarga dan sekolah bahu mempromosikan budaya berprestasi, lima prinsip terkait kebiasaan literasi yitu senyum, sapa, sopan, santun, menanyakan kabar dan keterlibatan yitu korporasi, tokoh masyarakat di desa, perguran tinggi, keluarga dan peremerintah kota。在肯尼亚,我们的国家是一个独立的国家,我们的国家是一个独立的国家。
{"title":"SCHOOL AND FAMILY PARTNERSHIP: INFORMAL LEARNING CONTEXT TO BUILD CHILDREN CHARACTER","authors":"Robertus Belarminus Suharta, S. Septiarti, Erma Kusumawardani","doi":"10.21009/jiv.1502.10","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1502.10","url":null,"abstract":"This present study aims to describe the pattern of partnerships between schools and families in basic education as part of character building for students in the context of informal learning in primary schools. The study was conducted using a descriptive qualitative approach with 9 school principals and committee members as participants. Participants were recruited from both public and private schools based on regional representation. Data analysis was conducted inductively by linking of family involvement aspects with interactive analysis. The results showed that character building is the responsibility of both the schools and families which is achieved through priority programs implemented in all elementary schools. These programs involved institutional cooperation, family-school collaboration at home and family-teacher communication. The study also found that involvement in all elementary schools was mostly represented by mothers (85%). Character building can also be done by accelerating school-family partnership in a more informal learning context. Through this families and schools go hand in hand promoting culture of achievement, literacy related habits five principles which comprise smile, greeting, say hello, polite, well-mannered and five involvement which are corporation, community leaders in the villages, universities, family and city government. Involving families in children's education evidently provides confidence, comfort and enthusiasm in learning at home and at school.Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola kemitraan antara keluarga dan sekolah dalam pendidikan dasar sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa dalam konteks pembelajaran informal di sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan partisipan 9 kepala sekolah dan komite sekolah. Peserta direkrut dari sekolah negeri dan swasta berdasarkan keterwakilan wilayah. Analisis data dilakukan secara induktif dengan mengaitkan aspek keterlibatan keluarga dengan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan karakter merupakan tanggung jawab sekolah dan keluarga yang dicapai melalui program prioritas yang dilaksanakan di semua sekolah dasar. Program-program ini melibatkan kerjasama kelembagaan, kerjasama keluarga-sekolah di rumah dan komunikasi keluarga-guru. Studi ini juga menemukan bahwa keterlibatan di semua sekolah dasar sebagian besar diwakili oleh ibu (85%). Pengembangan karakter juga dapat dilakukan dengan mempercepat kemitraan sekolah-keluarga dalam konteks pembelajaran yang lebih informal. Melalui ini keluarga dan sekolah bahu membahu mempromosikan budaya berprestasi, lima prinsip terkait kebiasaan literasi yaitu senyum, sapa, sopan, santun, menanyakan kabar dan lima keterlibatan yaitu korporasi, tokoh masyarakat di desa, perguruan tinggi, keluarga dan pemerintah kota. Melibatkan keluarga dalam pendidikan anak ternyata memberikan rasa percaya diri, kenyamanan dan semangat dalam belajar di rumah dan","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"79 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129603560","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pandemi COVID-19 telah menghambat proses belajar dan pembelajaran baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal seperti pada program kesetaraan Paket C. Guru atau tutor dituntut untuk dapat menghadirkan inovasi pembelajaran yang efektif. Pembelajaran jarak jauh dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan inovasi model pembelajaran jarak jauh pada Program Kesetaraan di wilayah Purwokerto Selatan pada masa pandemik COVID-19. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Pengumpulan data menggunakan tiga teknik yakni; melakukan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Setelah data diperoleh kemudian peneliti melakukan analisis, adapun teknik analisis yang digunakan yakni; mereduksi, analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga metode pembelajaran yakni daring (live book, kuis, recording materi), luring (proyek karya), dan kombinasi (group observation or self-observation, rekaman materi, diskusi, investigasi dan webinar, dan apresiasi belajar). Ketiga metode pembelajaran ini merupakan modifikasi sekaligus adaptasi pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19.The COVID-19 pandemic has hampered the learning and its process at all levels of education ranging from early childhood education to college. In addition to formal education, non-formal education such as the Package C Equality Program has also undergone drastic changes in the teaching and learning process. From that problem teachers or tutors are required to be able to present effective learning innovations. Distance learning can be one of the applicable alternatives. This article aims to describe the innovation of distance learning models in the Equality Program in the South Purwokerto region during the COVID-19 pandemic. This study is a field research with a qualitative approach. Data was collected using three techniques, namely; observations, interviews and document studies. The data then analysed based on these steps; reduction, analysis and withdrawal of conclusions. The results of this study show that there are three methods of learning namely online (live book, quiz, recording material), offline (project work), and combination (group observation or self-observation, recording material, discussion, investigation and webinar, and appreciation of learning). These three learning methods are both modifications and adaptations of distance learning during the COVID-19 pandemic.
{"title":"INOVASI MODEL PEMBELAJARAN JARAK JAUH PROGRAM KESETARAAN PAKET C DI MASA PANDEMI COVID-19","authors":"Musyafa Ali, Cesilia Prawening, Mukhamad Hamid Samiaji","doi":"10.21009/jiv.1502.2","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1502.2","url":null,"abstract":"Pandemi COVID-19 telah menghambat proses belajar dan pembelajaran baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal seperti pada program kesetaraan Paket C. Guru atau tutor dituntut untuk dapat menghadirkan inovasi pembelajaran yang efektif. Pembelajaran jarak jauh dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan inovasi model pembelajaran jarak jauh pada Program Kesetaraan di wilayah Purwokerto Selatan pada masa pandemik COVID-19. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Pengumpulan data menggunakan tiga teknik yakni; melakukan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Setelah data diperoleh kemudian peneliti melakukan analisis, adapun teknik analisis yang digunakan yakni; mereduksi, analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga metode pembelajaran yakni daring (live book, kuis, recording materi), luring (proyek karya), dan kombinasi (group observation or self-observation, rekaman materi, diskusi, investigasi dan webinar, dan apresiasi belajar). Ketiga metode pembelajaran ini merupakan modifikasi sekaligus adaptasi pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19.The COVID-19 pandemic has hampered the learning and its process at all levels of education ranging from early childhood education to college. In addition to formal education, non-formal education such as the Package C Equality Program has also undergone drastic changes in the teaching and learning process. From that problem teachers or tutors are required to be able to present effective learning innovations. Distance learning can be one of the applicable alternatives. This article aims to describe the innovation of distance learning models in the Equality Program in the South Purwokerto region during the COVID-19 pandemic. This study is a field research with a qualitative approach. Data was collected using three techniques, namely; observations, interviews and document studies. The data then analysed based on these steps; reduction, analysis and withdrawal of conclusions. The results of this study show that there are three methods of learning namely online (live book, quiz, recording material), offline (project work), and combination (group observation or self-observation, recording material, discussion, investigation and webinar, and appreciation of learning). These three learning methods are both modifications and adaptations of distance learning during the COVID-19 pandemic.","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124241559","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pengasuhan tidak hanya tugas seorang ibu, melainkan juga ayah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai keterllibatan ayah dalam pengasuhan anak, melalui kuisioner terbuka yang ditujukan pada ayah yang memiliki anak usia 0-8 tahun melalui Google form. Sebanyak 75 partisipan ayah dari anak usia 0-8 tahun terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan ayah dalam mengasuh anak sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan responden sebanyak 94,7% menjawab sudah terlibat dalam mengasuh anaknya. Hal ini di perkuat juga dengan pengasuhan yang dilakukan secara bersama antara ayah dan ibu cukup tinggi. Sebanyak 88% partisipan penelitian menyatakan bahwa pengasuhan anak menjadi tugas bersama antara ayah dan ibu. Terkait waktu ayah bersama anak, sebanyak 42,7% ayah menjawab selalu meluangkan waktu luang, disaat tidak ada kesibukan. Faktor penghambat untuk Ayah terlibat secara langsung dalam mengasuh anak adalah tuntutan pekerjaan (83,8%).Parenting is not only the duty of mothers, but also fathers. This study aims to obtain an overview of the fathers’ involvement in parenting, through an open questionnaire aimed at fathers who have children ages between 0 and 8 years old through Gform (google form). A total of 75 fathers were involved in this study. The results show the involvement of fathers in taking care of their children. The father’s involvement level in parenting is very high, as evidenced by the fact that 94,7% of the participants answered that they involved in parenting their children. This is also strengthened by the high level of equally shared parenting between fathers and mothers since 88% of respondents state that parenting is shared task between fathers and mothers. Regarding the time fathers spent with their children, 42,7%, of the fathers answered that they always spent their free time with their children. The father’s direct involvement in parenting their children is hampered by their job demands (83,8%).
{"title":"KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK","authors":"Resti Mia Wijayanti, Pujiyanti Fauziah","doi":"10.21009/jiv.1502.1","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1502.1","url":null,"abstract":"Pengasuhan tidak hanya tugas seorang ibu, melainkan juga ayah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai keterllibatan ayah dalam pengasuhan anak, melalui kuisioner terbuka yang ditujukan pada ayah yang memiliki anak usia 0-8 tahun melalui Google form. Sebanyak 75 partisipan ayah dari anak usia 0-8 tahun terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan ayah dalam mengasuh anak sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan responden sebanyak 94,7% menjawab sudah terlibat dalam mengasuh anaknya. Hal ini di perkuat juga dengan pengasuhan yang dilakukan secara bersama antara ayah dan ibu cukup tinggi. Sebanyak 88% partisipan penelitian menyatakan bahwa pengasuhan anak menjadi tugas bersama antara ayah dan ibu. Terkait waktu ayah bersama anak, sebanyak 42,7% ayah menjawab selalu meluangkan waktu luang, disaat tidak ada kesibukan. Faktor penghambat untuk Ayah terlibat secara langsung dalam mengasuh anak adalah tuntutan pekerjaan (83,8%).Parenting is not only the duty of mothers, but also fathers. This study aims to obtain an overview of the fathers’ involvement in parenting, through an open questionnaire aimed at fathers who have children ages between 0 and 8 years old through Gform (google form). A total of 75 fathers were involved in this study. The results show the involvement of fathers in taking care of their children. The father’s involvement level in parenting is very high, as evidenced by the fact that 94,7% of the participants answered that they involved in parenting their children. This is also strengthened by the high level of equally shared parenting between fathers and mothers since 88% of respondents state that parenting is shared task between fathers and mothers. Regarding the time fathers spent with their children, 42,7%, of the fathers answered that they always spent their free time with their children. The father’s direct involvement in parenting their children is hampered by their job demands (83,8%).","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"16 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"117335324","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penjaminan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas telah ditetapkan Standar Nasional Pendidikan, salah satunya melalui standar pengelolaan. Untuk memenuhi standar pengelolaan, dibutuhkan manajemen yang baik di satuan pendidikan. Pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, yang diselenggarakan di satuan pendidikan nonformal, seperti Sanggar Kegiatan Belajar dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan fungsi-fungsi manajemen melalui pelatihan dalam memenuhi standar pengelolaan SPNF dan mendeskripsikan hasil penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam memenuhi standar pengelolaan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif yang dilaksanakan terhadap 30 orang pengelola pada 30 satuan pendidikan nonformal di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Penentuan partisipan penelitian dengan menggunakan sampel bertujuan, sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu (quasi experiment design) dengan tes awal dan tes akhir. Perlakuan dilaksanakan selama selama dua bulan dengan 15 kali pertemuan atau 60 jam pelatihan, Instrumen penelitian menggunakan tes dan dokumen evaluasi diri berupa tes sebanyak 20 butir soal pilihan ganda. Signifikansi program diuji dengan t-test berkorelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel, artinya terdapat perbedaan yang signifikan nilai yang diperoleh SPNF sebelum dengan sesudah mengikuti pembelajaran pada taraf signifikansi 5%. Terdapat kenaikan nilai rata-rata tes awal dan tes akhir sebesar 59,6% dengan daya serap klasikal 75% atau baik. Sedangkan analisis dokumen menunjukkan hasil pemenuhan dokumen rata-rata 69,5 termasuk dalam kategori sangat baik.National education standards have been established to ensure quality education, one of which is through management standards. To meet management standards, good management is needed in the education unit. Non formal education is an educational path that can be implemented a structured and tiered manner, which is held in non-formal education units, including the Learning Centers and Community Learning Centers. This study aims to determine the effectiveness and describe the results of implementing management functions through training in meeting SPNF management standards. This research is a quantitative study conducted on non-formal education in Deli Serdang Regency, North Sumatra Province in 2018. Participants of this research were recruited based on the principle of purposive sampling. There were 30 participants that met the inclusion criteria which came from 30 non-formal education units. The participants were trained about management standards for 15 times or 60 hours within two months. Before and after the training participants were given a 20-item questionnaire about the training materials as well as self-evaluation. The significance of the program was tested with a
{"title":"PENERAPAN FUNGSI MANAJEMEN DALAM MEMENUHI STANDAR PENGELOLAAN SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL","authors":"Ivo Yani","doi":"10.21009/jiv.1502.9","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1502.9","url":null,"abstract":"Penjaminan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas telah ditetapkan Standar Nasional Pendidikan, salah satunya melalui standar pengelolaan. Untuk memenuhi standar pengelolaan, dibutuhkan manajemen yang baik di satuan pendidikan. Pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, yang diselenggarakan di satuan pendidikan nonformal, seperti Sanggar Kegiatan Belajar dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan fungsi-fungsi manajemen melalui pelatihan dalam memenuhi standar pengelolaan SPNF dan mendeskripsikan hasil penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam memenuhi standar pengelolaan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif yang dilaksanakan terhadap 30 orang pengelola pada 30 satuan pendidikan nonformal di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Penentuan partisipan penelitian dengan menggunakan sampel bertujuan, sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu (quasi experiment design) dengan tes awal dan tes akhir. Perlakuan dilaksanakan selama selama dua bulan dengan 15 kali pertemuan atau 60 jam pelatihan, Instrumen penelitian menggunakan tes dan dokumen evaluasi diri berupa tes sebanyak 20 butir soal pilihan ganda. Signifikansi program diuji dengan t-test berkorelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel, artinya terdapat perbedaan yang signifikan nilai yang diperoleh SPNF sebelum dengan sesudah mengikuti pembelajaran pada taraf signifikansi 5%. Terdapat kenaikan nilai rata-rata tes awal dan tes akhir sebesar 59,6% dengan daya serap klasikal 75% atau baik. Sedangkan analisis dokumen menunjukkan hasil pemenuhan dokumen rata-rata 69,5 termasuk dalam kategori sangat baik.National education standards have been established to ensure quality education, one of which is through management standards. To meet management standards, good management is needed in the education unit. Non formal education is an educational path that can be implemented a structured and tiered manner, which is held in non-formal education units, including the Learning Centers and Community Learning Centers. This study aims to determine the effectiveness and describe the results of implementing management functions through training in meeting SPNF management standards. This research is a quantitative study conducted on non-formal education in Deli Serdang Regency, North Sumatra Province in 2018. Participants of this research were recruited based on the principle of purposive sampling. There were 30 participants that met the inclusion criteria which came from 30 non-formal education units. The participants were trained about management standards for 15 times or 60 hours within two months. Before and after the training participants were given a 20-item questionnaire about the training materials as well as self-evaluation. The significance of the program was tested with a","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"58 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131057167","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pemanfaatan bahan alam yang ada di sekitar lingkungan sekolah masih jarang sekali dilakukan oleh guru untuk mendorong kemampuan klasifikasi pada anak usia dini usia 5-6 tahun. Guru hanya menggunakan media berupa benda konkret yang ada di kelas saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan media bahan alam dalam membantu meningkatkan kemampuan klasifikasi pada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif dengan Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil observasi selama lima kali pertemuan, menunjukkan bahwa guru menggunakan media bahan alam untuk mengembangkan kemampuan mengklasifikasi benda pada anak usia dini. Media bahan alam yang adalah batu-batu kecil, benih padi, biji salak, biji asam, air, sirup warna warni, batang pohon kering dan daun. Aktivitas belajar yang dilakukan siswa adalah mencari, mengumpulkan, mengelompokkan, membedakan, bermain sains dan menanam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan media bahan alam dapat meningkatkan kemampuan klasifikasi anak usia dini.Teachers rarely use natural materials around the school environment to encourage classification skills in children aged 5-6 years. Teachers only use media in the form of concrete objects in the classroom. The purpose of this study was to determine the use of natural media in improving early childhood’s classification ability. The method used in this research is descriptive qualitative with interviews, observation and documentation as data collection method. The results of this study indicate that the teacher used the natural media to develop their pupils’ object classification skills. During playing and learning activities teachers used natural materials such as tree branches, seeds, colourful liquid or syrup and inanimate objects. Learning activities carried out by students were searching, collecting, grouping, differentiating, playing science, and planting. This study concludes that the use of natural media can improve the classification skills of early childhood.
{"title":"MEDIA BAHAN ALAM UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN KLASIFIKASI PADA ANAK USIA DINI","authors":"Ira Arini, Ayu Fajarwati","doi":"10.21009/jiv.1502.3","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1502.3","url":null,"abstract":"Pemanfaatan bahan alam yang ada di sekitar lingkungan sekolah masih jarang sekali dilakukan oleh guru untuk mendorong kemampuan klasifikasi pada anak usia dini usia 5-6 tahun. Guru hanya menggunakan media berupa benda konkret yang ada di kelas saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan media bahan alam dalam membantu meningkatkan kemampuan klasifikasi pada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif dengan Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil observasi selama lima kali pertemuan, menunjukkan bahwa guru menggunakan media bahan alam untuk mengembangkan kemampuan mengklasifikasi benda pada anak usia dini. Media bahan alam yang adalah batu-batu kecil, benih padi, biji salak, biji asam, air, sirup warna warni, batang pohon kering dan daun. Aktivitas belajar yang dilakukan siswa adalah mencari, mengumpulkan, mengelompokkan, membedakan, bermain sains dan menanam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan media bahan alam dapat meningkatkan kemampuan klasifikasi anak usia dini.Teachers rarely use natural materials around the school environment to encourage classification skills in children aged 5-6 years. Teachers only use media in the form of concrete objects in the classroom. The purpose of this study was to determine the use of natural media in improving early childhood’s classification ability. The method used in this research is descriptive qualitative with interviews, observation and documentation as data collection method. The results of this study indicate that the teacher used the natural media to develop their pupils’ object classification skills. During playing and learning activities teachers used natural materials such as tree branches, seeds, colourful liquid or syrup and inanimate objects. Learning activities carried out by students were searching, collecting, grouping, differentiating, playing science, and planting. This study concludes that the use of natural media can improve the classification skills of early childhood.","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"140 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123369304","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Partisipasi perempuan di Indonesia pada angkatan kerja terlebih lagi pada perempuan yang sudah berkeluarga tidak bisa dibilang sedikit. Ibu yang bekerja memiliki tanggung jawab yang besar, yaitu tanggung jawab pada pekerjaannya dan juga tanggung jawab pada peran keluarganya. Ibu yang bekerja perlu melakukan manajemen pengasuhan anak, yaitu mengatur antara bekerja di luar kegiatan rumah tangga dan kegiatan pengasuhan anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui cara ibu yang bekerja dalam mengurangi permasalahan yang terjadi dalam pengasuhan anak usia dini dalam berbagai studi yang meneliti tentang hal ini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur yang dilakukan melalui pencarian dan pengumpulan referensi teori dilanjutkan dengan menganalisisnya. Ada 33 studi terdahulu yang mendeskripsikan manajemen pengasuhan anak usia dini. Penelitian ini menemukan bahwa manajemen pengasuhan anak pada ibu yang bekerja terkait dengan manajemen waktu, manajemen keluarga, manajemen pekerjaan, dan manajemen pengasuhan.The participation of women in Indonesia’s workforce even more so for married women cannot be said to be little. Working mothers have greater responsibility than the non working mothers, that is, responsibility for their work and also responsibility for their family roles. Working mothers need to do childcare management, which is to arrange between work outside household activities and childcare activities. This research was conducted to find out how working mothers minimize the problems that occur in early childhood care in various articles that disscuss this matters. The research method used was literature study which carried out through searching and gathering theoretical references followed by analyzing them. There are 33 studies which describes childcare management of working mothers. This study found that childcare management of working mothers related to time, family, work and care management.
{"title":"MANAJEMEN PENGASUHAN ANAK USIA DINI PADA IBU YANG BEKERJA: SEBUAH STUDI LITERATUR","authors":"Raras Putrihapsari, Pujiyanti Fauziah","doi":"10.21009/jiv.1502.4","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1502.4","url":null,"abstract":"Partisipasi perempuan di Indonesia pada angkatan kerja terlebih lagi pada perempuan yang sudah berkeluarga tidak bisa dibilang sedikit. Ibu yang bekerja memiliki tanggung jawab yang besar, yaitu tanggung jawab pada pekerjaannya dan juga tanggung jawab pada peran keluarganya. Ibu yang bekerja perlu melakukan manajemen pengasuhan anak, yaitu mengatur antara bekerja di luar kegiatan rumah tangga dan kegiatan pengasuhan anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui cara ibu yang bekerja dalam mengurangi permasalahan yang terjadi dalam pengasuhan anak usia dini dalam berbagai studi yang meneliti tentang hal ini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur yang dilakukan melalui pencarian dan pengumpulan referensi teori dilanjutkan dengan menganalisisnya. Ada 33 studi terdahulu yang mendeskripsikan manajemen pengasuhan anak usia dini. Penelitian ini menemukan bahwa manajemen pengasuhan anak pada ibu yang bekerja terkait dengan manajemen waktu, manajemen keluarga, manajemen pekerjaan, dan manajemen pengasuhan.The participation of women in Indonesia’s workforce even more so for married women cannot be said to be little. Working mothers have greater responsibility than the non working mothers, that is, responsibility for their work and also responsibility for their family roles. Working mothers need to do childcare management, which is to arrange between work outside household activities and childcare activities. This research was conducted to find out how working mothers minimize the problems that occur in early childhood care in various articles that disscuss this matters. The research method used was literature study which carried out through searching and gathering theoretical references followed by analyzing them. There are 33 studies which describes childcare management of working mothers. This study found that childcare management of working mothers related to time, family, work and care management.","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131887761","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Suharsiwi, Agus Suradika, Laely Farokhah, Emmy Zamzami
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya ketersediaan lagu anak-anak usia dini yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk pengembangan keterampilan sosial anak dengan kebutuhan khusus, terutama autisme, Attention Deficit of Hyperactivity Disorder (ADHD), dan Attention Deficit Disorder (ADD). Lagu Maritirukan adalah salah satu media pembelajaran hasil luaran riset PDUPT KemenristekBrin dengan No HKI 000210282 000210282. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan analisis konten lagu Maritirukan sebagai media pengembangan keterampilan sosial anak dengan autisme, ADHD, dan ADD usia dini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan pada 3 orang anak, wawancara secara mendalam pada 5 orang tua dan guru, dan expert judgement oleh 5 orang ahli yang terdiri dari musisi, ahli media, dan ahli pendidikan anak. Data tambahan terkait lagu diperoleh melalui survei pada 35 orang tua dan guru. Data yang diperoleh kemudian dianalisis yang terdiri dari tahap pengumpulan data, reduksi data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu “Maritirukan” telah memenuhi 5 standar kriteria lagu anak. Secara umum, syair lagu Maritirukan memiliki kalimat yang tidak terlalu panjang, sehingga mudah diingat dan dihafal oleh anak. Syair lagu-lagu ini juga memiliki nilai-nilai pendidikan berupa pesan yang ingin disampaikan untuk mengajarkan anak mengembangkan keterampilan sosialnya yaitu menunjukkan, mengenalkan, dan melatih pengembangan emosi yang sehat dan ragam perilaku yang baik. Aransemen lagu sesuai dengan dunia anak dengan nada yang mudah dihafal oleh anak-anak. Lagu ini dapat menjadi alternatif media pembelajaran bagi orang tua untuk mengembangkan keterampilan sosial pada anak berkebutuhan khusus, terutama anak usia dini dengan autisme, ADHD, dan ADD.This research is backgrounded by the limitations of children’s song as a media of learning to help develop the social skills of children with autism, Attention Deficit of Hyperactivity Disorder (ADHD) and Attention Deficit Disorder (ADD). The Maritirukan Song is one of the learning media results from the research output of PDUPT Kemenristekbrin with No. HKI 000210282 000210282. The aim of this research is to describe the analysis of the content of Maritirukan song as a media to develop the social skill of children with autism, ADHD, and or ADD. This research was a qualitative descriptive research. The data was collected through observations, interviews, and documentation. Observations were conducted on 3 children. Interviews were conducted on 5 parents and teachers. Expert judgments were conducted by 5 experts consisting of musicians, media experts, and childhood education experts. Additional data related to this research were obtained through a survey of 35 parents and teachers. The data obtained were analyzed using triangulation technique consisted of the stage
{"title":"ANALISIS KONTEN LAGU “MARITIRUKAN” SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI BERKEBUTUHAN KHUSUS","authors":"Suharsiwi, Agus Suradika, Laely Farokhah, Emmy Zamzami","doi":"10.21009/jiv.1502.8","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1502.8","url":null,"abstract":"Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya ketersediaan lagu anak-anak usia dini yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk pengembangan keterampilan sosial anak dengan kebutuhan khusus, terutama autisme, Attention Deficit of Hyperactivity Disorder (ADHD), dan Attention Deficit Disorder (ADD). Lagu Maritirukan adalah salah satu media pembelajaran hasil luaran riset PDUPT KemenristekBrin dengan No HKI 000210282 000210282. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan analisis konten lagu Maritirukan sebagai media pengembangan keterampilan sosial anak dengan autisme, ADHD, dan ADD usia dini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan pada 3 orang anak, wawancara secara mendalam pada 5 orang tua dan guru, dan expert judgement oleh 5 orang ahli yang terdiri dari musisi, ahli media, dan ahli pendidikan anak. Data tambahan terkait lagu diperoleh melalui survei pada 35 orang tua dan guru. Data yang diperoleh kemudian dianalisis yang terdiri dari tahap pengumpulan data, reduksi data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu “Maritirukan” telah memenuhi 5 standar kriteria lagu anak. Secara umum, syair lagu Maritirukan memiliki kalimat yang tidak terlalu panjang, sehingga mudah diingat dan dihafal oleh anak. Syair lagu-lagu ini juga memiliki nilai-nilai pendidikan berupa pesan yang ingin disampaikan untuk mengajarkan anak mengembangkan keterampilan sosialnya yaitu menunjukkan, mengenalkan, dan melatih pengembangan emosi yang sehat dan ragam perilaku yang baik. Aransemen lagu sesuai dengan dunia anak dengan nada yang mudah dihafal oleh anak-anak. Lagu ini dapat menjadi alternatif media pembelajaran bagi orang tua untuk mengembangkan keterampilan sosial pada anak berkebutuhan khusus, terutama anak usia dini dengan autisme, ADHD, dan ADD.This research is backgrounded by the limitations of children’s song as a media of learning to help develop the social skills of children with autism, Attention Deficit of Hyperactivity Disorder (ADHD) and Attention Deficit Disorder (ADD). The Maritirukan Song is one of the learning media results from the research output of PDUPT Kemenristekbrin with No. HKI 000210282 000210282. The aim of this research is to describe the analysis of the content of Maritirukan song as a media to develop the social skill of children with autism, ADHD, and or ADD. This research was a qualitative descriptive research. The data was collected through observations, interviews, and documentation. Observations were conducted on 3 children. Interviews were conducted on 5 parents and teachers. Expert judgments were conducted by 5 experts consisting of musicians, media experts, and childhood education experts. Additional data related to this research were obtained through a survey of 35 parents and teachers. The data obtained were analyzed using triangulation technique consisted of the stage","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129343882","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh video pembelajaran interaktif terhadap kemampuan mengenal warna pada anak usia 4-5 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah pre experimental dengan jenis one group pretest posttest design. Sampel yang digunakan adalah anak usia 4-5 tahun yang berjumlah 20 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Indikator kemampuan kognitif yang digunakan adalah kemampuan mengklasifikasikan warna, kemampuan mengurutkan benda berdasarkan 5 seri warna, dan kemampuan menyebutkan warna. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang digunakan untuk melakukan pretest dan posttest. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji paired sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada nilai rata-rata hasil pretest dan nilai hasil posttest pada indikator mengklasifikasikan warna memiliki nilai; indikator mengurutkan benda berdasarkan 5 seriasi warna; dan indikator menyebutkan warna. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh penggunaan video pembelajaran interaktif terhadap kemampuan mengenal warna pada anak usia 4-5 tahun.The purpose of this study was to find out the effect of interactive educational videos on children, specially aged 4-5 years, in recognizing colors. The research used pre-experimental method, with one group pre test post test design. The participants were 20 children aged 4-5 years, which recruited using saturated sampling. Indicators of cognitive abilities used in this research were focusing on the ability to classify colors, to sort objects based on 5 color series, and to name the colors. The data were collected through observation using observation sheets before and after the introduction of the interactive educational videos which was conducted for five days. Data analysis was performed using the normality test, homogeneity test, and paired sample T-test. The results showed that there was a significant difference in the mean value of the pretest and posttest results on each indicator. The conclusion of this study is that there is an effect of the use of interactive educational videos on the ability to recognize colors in children aged 4-5 years.
{"title":"PENGARUH VIDEO PEMBELAJARAN INTERAKTIF MENGENAL WARNA TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK","authors":"Femmy Nur Assyifa, Rohita, Nurfadilah","doi":"10.21009/jiv.1502.5","DOIUrl":"https://doi.org/10.21009/jiv.1502.5","url":null,"abstract":"Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh video pembelajaran interaktif terhadap kemampuan mengenal warna pada anak usia 4-5 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah pre experimental dengan jenis one group pretest posttest design. Sampel yang digunakan adalah anak usia 4-5 tahun yang berjumlah 20 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Indikator kemampuan kognitif yang digunakan adalah kemampuan mengklasifikasikan warna, kemampuan mengurutkan benda berdasarkan 5 seri warna, dan kemampuan menyebutkan warna. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang digunakan untuk melakukan pretest dan posttest. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji paired sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada nilai rata-rata hasil pretest dan nilai hasil posttest pada indikator mengklasifikasikan warna memiliki nilai; indikator mengurutkan benda berdasarkan 5 seriasi warna; dan indikator menyebutkan warna. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh penggunaan video pembelajaran interaktif terhadap kemampuan mengenal warna pada anak usia 4-5 tahun.The purpose of this study was to find out the effect of interactive educational videos on children, specially aged 4-5 years, in recognizing colors. The research used pre-experimental method, with one group pre test post test design. The participants were 20 children aged 4-5 years, which recruited using saturated sampling. Indicators of cognitive abilities used in this research were focusing on the ability to classify colors, to sort objects based on 5 color series, and to name the colors. The data were collected through observation using observation sheets before and after the introduction of the interactive educational videos which was conducted for five days. Data analysis was performed using the normality test, homogeneity test, and paired sample T-test. The results showed that there was a significant difference in the mean value of the pretest and posttest results on each indicator. The conclusion of this study is that there is an effect of the use of interactive educational videos on the ability to recognize colors in children aged 4-5 years.","PeriodicalId":234954,"journal":{"name":"JIV-Jurnal Ilmiah Visi","volume":"32 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"117182390","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}