Pub Date : 2020-12-01DOI: 10.31571/SOSIAL.V7I2.2439
Ema Sukmawati, Martin Martin, S. Saraswati
Penelitian ini bertujuan mengetahui: 1) Gambaran umum kejenuhan belajar sebelum dilakukan layanan konseling kelompok dengan teknik modeling, 2) Pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan teknik modeling untuk mengatasi kejenuhan belajar, dan 3) Layanan konseling kelompok dengan teknik modeling dapat mengatasi kejenuhan belajar siswa SMP Negeri 1 Jagoi Babang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan (action research), sedangkan bentuknya yaitu penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK). Hasil penelitian yaitu: 1) Kejenuhan belajar sebelum diberikan layanan konseling kelompok tergolong “Tinggi”, dengan persentase 70% ketegori “Tinggi”, 2) Pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan teknik modeling dapat mengatasi kejenuhan belajar dilakukan dengan 4 tahap yaitu: permulaan, transisi, kegiatan dan pengakhiran, 3) Kejenuhan belajar siswa SMP Negeri 1 Jagoi Babang dapat teratasi, setelah diberikan tindakan memperoleh kategori “Rendah”. Tindakan siklus I dengan presentase 52% kategori “Sedang”, siklus II memperoleh presentase 33% dengan ketegori “Rendah”.
{"title":"LAYANAN KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK MODELING UNTUK MENGATASI KEJENUHAN BELAJAR PADA SISWA","authors":"Ema Sukmawati, Martin Martin, S. Saraswati","doi":"10.31571/SOSIAL.V7I2.2439","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/SOSIAL.V7I2.2439","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan mengetahui: 1) Gambaran umum kejenuhan belajar sebelum dilakukan layanan konseling kelompok dengan teknik modeling, 2) Pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan teknik modeling untuk mengatasi kejenuhan belajar, dan 3) Layanan konseling kelompok dengan teknik modeling dapat mengatasi kejenuhan belajar siswa SMP Negeri 1 Jagoi Babang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan (action research), sedangkan bentuknya yaitu penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK). Hasil penelitian yaitu: 1) Kejenuhan belajar sebelum diberikan layanan konseling kelompok tergolong “Tinggi”, dengan persentase 70% ketegori “Tinggi”, 2) Pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan teknik modeling dapat mengatasi kejenuhan belajar dilakukan dengan 4 tahap yaitu: permulaan, transisi, kegiatan dan pengakhiran, 3) Kejenuhan belajar siswa SMP Negeri 1 Jagoi Babang dapat teratasi, setelah diberikan tindakan memperoleh kategori “Rendah”. Tindakan siklus I dengan presentase 52% kategori “Sedang”, siklus II memperoleh presentase 33% dengan ketegori “Rendah”.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"32 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128299004","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-01DOI: 10.31571/SOSIAL.V7I2.2170
H. Firmansyah, Agus Sastrawan Noor, Ika Rahmatika Chalimi
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui bagaimana sejarah awal berdirinya Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, (2) mengetahui bagaimana perkembangan peran dan fungsi Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, dan (3) mengetahui perkembangan dan makna Arsitektur Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri terdiri dari heuristik, verifikasi, interpretasi dan penulisan. Adapun hasil penelitian ini adaIah Nama masjid Sultan Syraif Abdurrahman diambil dari nama sultan pertama kesultanan Qadriah Pontianak yang memiliki peran penting dalam berdirirnya masjid. Masjid Sultan Syarif Abdurrahman mempunyai bentuk arsitektur yang berciri khas unik, terutama pada ruangan utama dan bagian atap masjid yang memiliki makna folisofi sendiri. Ruang utama yang terdapat enam tiang besar sebagai penyanggah utama masjid memiliki makna sebagai rukum iman tanda ketaatan dalam menjalankan perintah Allah swt. Sedangkan bagian atap masjid yang berbentuk tumpang dikombinasikan dengan puncaknya berbentuk kubah berbentuk persegi empat dan bertingkat empat, jumlah dari tingkat atap dan menara kecil yang dimiliki oleh masjid ini melambangkan keempat sahabat Nabi Muhammad yakni Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
这项研究的目的是:(1)了解Jami ' Sultan ' Abdurrahman Alkadrie清真寺最初的历史,(2)了解Jami ' Sultan Abdurrahman Alkadrie清真寺的角色和功能,(3)了解Jami ' Sultan Alkadrie清真寺的发展和意义。该研究采用由启发、验证、解释和写作组成的历史研究方法。至于这个研究结果是苏丹清真寺Syraif名字命名的苏丹的阿布杜有Qadriah Pontianak苏丹的第一例berdirirnya清真寺中扮演着重要的角色。苏丹Syarif Abdurrahman清真寺有着独特的建筑形式,尤其是在清真寺的主房间和屋顶上,清真寺本身具有folisofi的意义。主的殿有六根大柱子支撑着一座主要的清真寺,这就像信仰的rukum,在遵守上帝的命令时表现出服从。而屋顶形状重叠的清真寺结合圆顶状的山峰呈长方形,四层,从屋顶和塔一层小数目这个清真寺代表四个朋友所拥有的先知穆罕默德阿布·巴克尔As-Shidiq、奥马尔·本·哈塔卜Utsman·本·阿凡和Ali bin Abi塔利班。
{"title":"HISTORISITAS DAN MAKNA ARSITEKTUR MASJID JAMI’ SULTAN SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRIE","authors":"H. Firmansyah, Agus Sastrawan Noor, Ika Rahmatika Chalimi","doi":"10.31571/SOSIAL.V7I2.2170","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/SOSIAL.V7I2.2170","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui bagaimana sejarah awal berdirinya Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, (2) mengetahui bagaimana perkembangan peran dan fungsi Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, dan (3) mengetahui perkembangan dan makna Arsitektur Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri terdiri dari heuristik, verifikasi, interpretasi dan penulisan. Adapun hasil penelitian ini adaIah Nama masjid Sultan Syraif Abdurrahman diambil dari nama sultan pertama kesultanan Qadriah Pontianak yang memiliki peran penting dalam berdirirnya masjid. Masjid Sultan Syarif Abdurrahman mempunyai bentuk arsitektur yang berciri khas unik, terutama pada ruangan utama dan bagian atap masjid yang memiliki makna folisofi sendiri. Ruang utama yang terdapat enam tiang besar sebagai penyanggah utama masjid memiliki makna sebagai rukum iman tanda ketaatan dalam menjalankan perintah Allah swt. Sedangkan bagian atap masjid yang berbentuk tumpang dikombinasikan dengan puncaknya berbentuk kubah berbentuk persegi empat dan bertingkat empat, jumlah dari tingkat atap dan menara kecil yang dimiliki oleh masjid ini melambangkan keempat sahabat Nabi Muhammad yakni Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"24 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122545939","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-01DOI: 10.31571/SOSIAL.V7I2.1801
Hadi Wiyono
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi sosial yang terjadi pada masyarakat antar etnis di Desa Mandor dilihat dari sudut pandang Multikulturalisme. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif dan bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada masyarakat Desa Mandor dengan empat informan berasal dari penduduk Desa Mandor yang dipilih secara proporsional. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data berupa reduksi data, penyajian data dan verifikasi data/penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa bentuk interaksi sosial berupa kerjasama dalam bentuk gotong royong dan Joint Venture, akomodasi yang berupa toleransi dan asimilasi. Nilai yang berkembang berupa nilai saling menghargai, menghormati, dan tolong menolong. Multikulturalisme dianalisis dari bentuk dan nilai interaksi sosial yang berkembang pada masyarakat Desa Mandor yaitu terdapat fenomena-fenomena yang dipandang sebagai bahasa bersama yaitu persoalan bersama, kesamaan identitas, dan saling menghargai.
{"title":"MULTIKULTURALISME: STUDI INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT ANTAR ETNIS DI DESA MANDOR KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK","authors":"Hadi Wiyono","doi":"10.31571/SOSIAL.V7I2.1801","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/SOSIAL.V7I2.1801","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi sosial yang terjadi pada masyarakat antar etnis di Desa Mandor dilihat dari sudut pandang Multikulturalisme. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif dan bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada masyarakat Desa Mandor dengan empat informan berasal dari penduduk Desa Mandor yang dipilih secara proporsional. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data berupa reduksi data, penyajian data dan verifikasi data/penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa bentuk interaksi sosial berupa kerjasama dalam bentuk gotong royong dan Joint Venture, akomodasi yang berupa toleransi dan asimilasi. Nilai yang berkembang berupa nilai saling menghargai, menghormati, dan tolong menolong. Multikulturalisme dianalisis dari bentuk dan nilai interaksi sosial yang berkembang pada masyarakat Desa Mandor yaitu terdapat fenomena-fenomena yang dipandang sebagai bahasa bersama yaitu persoalan bersama, kesamaan identitas, dan saling menghargai.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"22 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133640286","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penelitian ini bertujuan memahami dan menjelaskan peran yang dimainkan Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam mencegah dan mengatasi kebiasaan merokok di kalangan siswa. Data dikumpulkan melalui studi dokumen, observasi, dan wawancara mendalam. Data dianalisis dengan menggunakan kerangka teori sistem yang dikembangkan oleh Talcott Parsons. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Dipahami sebagai sebuah sistem, sekolah tersusun atas sub-sistem ekonomi, politik, dan sosial yang dijalankan oleh aktor dengan peran spesifik namun terkait satu sama lain; (2) Pada hierarki birokrasi negara, sekolah adalah pelaksana kebijakan yang disusun oleh birokrasi di atasnya; (3) Siswa perokok terbagi atas perokok aktif, meniru teman sebaya, coba-coba, dan untuk bergaya; (4) Peran sekolah dalam mengatasi perilaku merokok siswa dijalankan oleh kepala sekolah, wakasek kesiswaan, guru BK/Konselor, dan guru wali kelas. Masih ditemukan beberapa celah yang membuat siswa dapat merokok di dalam maupun di luar sekolah seperti penjagaan dan pengawasan terhadap siswa yang kurang maksimal, tidak adanya pemberian bimbingan yang berkelanjutan, kerjasama dengan orang tua yang kurang intens, dan masih terdapat beberapa guru yang merokok di sekolah.
这项研究旨在理解和解释高中在预防和克服学生吸烟习惯方面所起的作用。通过研究文件收集数据、观察和深入访谈。数据分析用Talcott帕森斯开发的系统的理论框架。这个研究的结论如下:(1)理解为一个系统,学校是由sub-sistem组成的经济、政治和社会是由演员的角色具体但相互关联的;(2)在国家官僚主义的等级制度中,学校是由官僚主义安排的政策执行者;(3)学生将主动吸烟的人分为抽烟的人,模仿同学、尝试和时尚;(4)学校学生克服吸烟行为中的角色由校长,德苏kesiswaan, BK -,辅导员和班主任老师。还发现了一些漏洞让学生可以抽烟的内外监管和监督这样的学校对学生的最大不足,缺乏持续的给予指导,与父母缺乏强烈的合作,而且仍然有一些他的老师在学校抽烟。
{"title":"PERAN SEKOLAH DALAM MENGATASI PERILAKU MEROKOK SISWA DI SMA NEGERI KARANGPANDAN","authors":"Bayu Pranoto, Nurhadi Nurhadi, Yuhastina Yuhastina","doi":"10.31571/SOSIAL.V7I2.1743","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/SOSIAL.V7I2.1743","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan memahami dan menjelaskan peran yang dimainkan Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam mencegah dan mengatasi kebiasaan merokok di kalangan siswa. Data dikumpulkan melalui studi dokumen, observasi, dan wawancara mendalam. Data dianalisis dengan menggunakan kerangka teori sistem yang dikembangkan oleh Talcott Parsons. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Dipahami sebagai sebuah sistem, sekolah tersusun atas sub-sistem ekonomi, politik, dan sosial yang dijalankan oleh aktor dengan peran spesifik namun terkait satu sama lain; (2) Pada hierarki birokrasi negara, sekolah adalah pelaksana kebijakan yang disusun oleh birokrasi di atasnya; (3) Siswa perokok terbagi atas perokok aktif, meniru teman sebaya, coba-coba, dan untuk bergaya; (4) Peran sekolah dalam mengatasi perilaku merokok siswa dijalankan oleh kepala sekolah, wakasek kesiswaan, guru BK/Konselor, dan guru wali kelas. Masih ditemukan beberapa celah yang membuat siswa dapat merokok di dalam maupun di luar sekolah seperti penjagaan dan pengawasan terhadap siswa yang kurang maksimal, tidak adanya pemberian bimbingan yang berkelanjutan, kerjasama dengan orang tua yang kurang intens, dan masih terdapat beberapa guru yang merokok di sekolah.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121242444","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi yang obyektif mengenai Peningkatkan Creative Intelegency (Kecerdasan Kreatif) Siswa melalui Metode Diskusi Kelompok pada Pembelajaran Geografi Di Kelas X SMA Negeri 1 Tanah Pinoh Kabupaten Melawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas sedangkan bentuk penelitiannya adalah penelitian tindakan kolaboratif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS2 sebanyak 32 siswa, dan objek penelitiannya adalah Creative Intelegency (Kecerdasan Kreatif) siswa kelas X IPS 2. Alat pengumpulan datanya yaitu lembar observasi, dokumentasi dan angket. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) Penerapan metode pembelajaran diskusi kelompok pa terlaksana dengan baik dan mencapai kriteria keberhasilan 2) Creative Intelegency (kecerdasan kreatif) siswa melalui penerapan metode diskusi kelompok dengan aspek berpikir lancar, berpikir luwes, berpikir orisinil dan berpikir elaboratif terdapat peningkatan dan mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan pada siklus I yaitu setiap aspek tergolong dalam kategori cukup (C) kemudian meningkat pada siklus II dengan rentang rata-rata persentase yang diproleh yaitu setiap aspek tergolong dalam kategori baik (B), 3) hasil tanggapan siswa terhadap penerapan metode yang digunakan guru memproleh skor pada siklus I 56,22% dan terjadi peningkatan pada siklus II dengan skor 69,59% masuk pada kategori baik.
{"title":"PENINGKATAN CREATIVE INTELEGENCY (KECERDASAN KREATIF) SISWA MELALUI METODE DISKUSI KELOMPOK PADA PEMBELAJARAN GEOGRAFI","authors":"Rika Anggela, Suherdiyanto Suherdiyanto, Rina Rina","doi":"10.31571/SOSIAL.V7I2.2165","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/SOSIAL.V7I2.2165","url":null,"abstract":"Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi yang obyektif mengenai Peningkatkan Creative Intelegency (Kecerdasan Kreatif) Siswa melalui Metode Diskusi Kelompok pada Pembelajaran Geografi Di Kelas X SMA Negeri 1 Tanah Pinoh Kabupaten Melawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas sedangkan bentuk penelitiannya adalah penelitian tindakan kolaboratif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS2 sebanyak 32 siswa, dan objek penelitiannya adalah Creative Intelegency (Kecerdasan Kreatif) siswa kelas X IPS 2. Alat pengumpulan datanya yaitu lembar observasi, dokumentasi dan angket. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) Penerapan metode pembelajaran diskusi kelompok pa terlaksana dengan baik dan mencapai kriteria keberhasilan 2) Creative Intelegency (kecerdasan kreatif) siswa melalui penerapan metode diskusi kelompok dengan aspek berpikir lancar, berpikir luwes, berpikir orisinil dan berpikir elaboratif terdapat peningkatan dan mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan pada siklus I yaitu setiap aspek tergolong dalam kategori cukup (C) kemudian meningkat pada siklus II dengan rentang rata-rata persentase yang diproleh yaitu setiap aspek tergolong dalam kategori baik (B), 3) hasil tanggapan siswa terhadap penerapan metode yang digunakan guru memproleh skor pada siklus I 56,22% dan terjadi peningkatan pada siklus II dengan skor 69,59% masuk pada kategori baik.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"34 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126424591","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-01DOI: 10.31571/SOSIAL.V7I2.2798
Kamaruzzaman Kamaruzzaman, Hendra Sulistiawan
Penelitian ini dilakukan berdasarkan temuan empirik yang menunjukkan bahwa permasalahan tentang rendahnya daftar kunjung mahasiswa ke UPT Pelayanan Konseling di Perguruan Tinggi. Oleh karena itu perlu diketahui secara jelas dalam menyikapi situasi tersebut, sehingga permasalahannya terletak dimana, apakah karena ketidaktahuan mereka atau ketidakpahaman mereka terhadap keberadaan layanan bimbingan dan konseling di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa terhadap pelayanan bimbingan dan konseling di perguruan tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian survey. Subjek Penelitian adalah mahasiswa program studi bimbingan dan konseling Tahun Akademik 2019/2020. Berdasarkan analisis data dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa pemahaman mahasiswa terhadap layanan bimbingan dan konseling termasuk kategori cukup baik.
{"title":"ANALISIS PEMAHAMAN MAHASISWA TERHADAP PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI PERGURUAN TINGGI","authors":"Kamaruzzaman Kamaruzzaman, Hendra Sulistiawan","doi":"10.31571/SOSIAL.V7I2.2798","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/SOSIAL.V7I2.2798","url":null,"abstract":"Penelitian ini dilakukan berdasarkan temuan empirik yang menunjukkan bahwa permasalahan tentang rendahnya daftar kunjung mahasiswa ke UPT Pelayanan Konseling di Perguruan Tinggi. Oleh karena itu perlu diketahui secara jelas dalam menyikapi situasi tersebut, sehingga permasalahannya terletak dimana, apakah karena ketidaktahuan mereka atau ketidakpahaman mereka terhadap keberadaan layanan bimbingan dan konseling di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa terhadap pelayanan bimbingan dan konseling di perguruan tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian survey. Subjek Penelitian adalah mahasiswa program studi bimbingan dan konseling Tahun Akademik 2019/2020. Berdasarkan analisis data dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa pemahaman mahasiswa terhadap layanan bimbingan dan konseling termasuk kategori cukup baik.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"33 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131736575","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-12-01DOI: 10.31571/SOSIAL.V7I2.1846
Eli Trisnowati, Tri Mega Ralasari
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui kondisi karyawan IKIP PGRI Pontianak terhadap konflik kerja yang kerap dirasakan oleh pekerja. Adapun variabel yang menjadi aspek dalam penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap keterlaksanaan layanan konseling individual dengan teknik konseling guided imagery dan deep breathing terdiri dari hambatan dalam komunikasi, kompetisi yang tidak sehat, tuntutan kerja, perbedaan nilai dan prinsip kerja, serta perbedaan kepribadian. Dari hasil penelitian yang dilakukan, terbuti bahwa pelaksanaan konseling guided imagery dan deep breathing dapat memberikan pengaruh tinggi dalam meningkatkan kemampuan katarsis masalah konseli pada pelaksanaan layanan konseling.
{"title":"KONSELING GUIDED IMAGERY DAN DEEP BREATHING BAGI KARYAWAN YANG MENGHADAPI KONFLIK KERJA","authors":"Eli Trisnowati, Tri Mega Ralasari","doi":"10.31571/SOSIAL.V7I2.1846","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/SOSIAL.V7I2.1846","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui kondisi karyawan IKIP PGRI Pontianak terhadap konflik kerja yang kerap dirasakan oleh pekerja. Adapun variabel yang menjadi aspek dalam penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap keterlaksanaan layanan konseling individual dengan teknik konseling guided imagery dan deep breathing terdiri dari hambatan dalam komunikasi, kompetisi yang tidak sehat, tuntutan kerja, perbedaan nilai dan prinsip kerja, serta perbedaan kepribadian. Dari hasil penelitian yang dilakukan, terbuti bahwa pelaksanaan konseling guided imagery dan deep breathing dapat memberikan pengaruh tinggi dalam meningkatkan kemampuan katarsis masalah konseli pada pelaksanaan layanan konseling.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"94 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121587865","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan makna filosofis alat-alat tradisional dayak tabun sebagai konteks pembelajaran pendidikan karakter berbasis budaya local. Budaa lokal disini adalah sebagai konteks pembangun karakter kedaerahan, yang dimana perpaduan filosofis kebudayaan daerah dipadukan dengan pendidikan karakter. Dengan memaknai kajian kedaerahan di harapkan dapat menambah warna dalam pendidikan menjadi tidak hanya memfokuskan pada kajian nasional, akan tetapi dengan memaknai kajian filosofis pada alat-alat tradisional, penggunaaan alat, bahan alat dan xara menggunakan yang memiliki filosofis khusus untuk menjadi pengembang dan penguat cinta budaya daerah yang bisa di aplikasikan dalam konteks pembelajaran pendidikan karakter yang berbasis budaya lokal.
{"title":"FILOSOFIS ALAT-ALAT TRADISIONAL DAYAK TABUN SEBAGAI KONTEKS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA LOKAL","authors":"Teguh Agustian, Riki Maulana, H. Hartanto","doi":"10.24127/HJ.V8I2.2488","DOIUrl":"https://doi.org/10.24127/HJ.V8I2.2488","url":null,"abstract":"Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan makna filosofis alat-alat tradisional dayak tabun sebagai konteks pembelajaran pendidikan karakter berbasis budaya local. Budaa lokal disini adalah sebagai konteks pembangun karakter kedaerahan, yang dimana perpaduan filosofis kebudayaan daerah dipadukan dengan pendidikan karakter. Dengan memaknai kajian kedaerahan di harapkan dapat menambah warna dalam pendidikan menjadi tidak hanya memfokuskan pada kajian nasional, akan tetapi dengan memaknai kajian filosofis pada alat-alat tradisional, penggunaaan alat, bahan alat dan xara menggunakan yang memiliki filosofis khusus untuk menjadi pengembang dan penguat cinta budaya daerah yang bisa di aplikasikan dalam konteks pembelajaran pendidikan karakter yang berbasis budaya lokal.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"42 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132333422","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-06-01DOI: 10.31571/SOSIAL.V7I1.1573
Ihsan Nurhakim, Suherdiyanto Suherdiyanto
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan model project based learning dan problem based learning terhadap hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 4 Sungai Raya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 4 Sungai Raya. Sampel dalam penelitian ini adalah XI IIS 3 sebagai kelas eksperimen I dan XI IIS 5 sebagai kelas eksperimen II. Pengolahan data model perbandingan project based learning dan problem based learning menggunakan uji t-test. Dari hasil penemuan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: (1) hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model project based learning pada kategori tinggi (2) hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model problem based learning pada kategori sedang. (3) terdapat perbedaan antara model project based learning dan problem based learning terhadap hasil belajar siswa.
{"title":"PERBANDINGAN MODEL PROJECT BASED LEARNING DAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI MATA PELAJARAN GEOGRAFI DI SMA N 4 SUNGAI RAYA KABUPATEN KUBU RAYA","authors":"Ihsan Nurhakim, Suherdiyanto Suherdiyanto","doi":"10.31571/SOSIAL.V7I1.1573","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/SOSIAL.V7I1.1573","url":null,"abstract":"Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan model project based learning dan problem based learning terhadap hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 4 Sungai Raya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 4 Sungai Raya. Sampel dalam penelitian ini adalah XI IIS 3 sebagai kelas eksperimen I dan XI IIS 5 sebagai kelas eksperimen II. Pengolahan data model perbandingan project based learning dan problem based learning menggunakan uji t-test. Dari hasil penemuan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: (1) hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model project based learning pada kategori tinggi (2) hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model problem based learning pada kategori sedang. (3) terdapat perbedaan antara model project based learning dan problem based learning terhadap hasil belajar siswa.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"3 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125490942","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2020-06-01DOI: 10.31571/sosial.v7i1.2098
Novi Andriati, Riki Maulana, Galuh Hartinah, Ema Sukmawati
Tujuan penelitian ini ialah mengembangkan model layanan informasi berbantu media visual untuk meningkatkan pemantapan karier pada siswa SMA, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development). Hasil penelitian: 1) Gambaran pelaksanaan layanan informasi karier di sekolah tempat penelitian sudah dilaksanakan secara umumnya melewati tahapan pendahuluan, kegiatan dan pengakhiran, namun belum pernah menggunakan media tertentu seperti berbantuan media visual yang merupakan media yang dapat mempermudah penyampaian informasi kepada siswa, 2) Desain model yang dikembangkan adalah layanan informasi karier berbantuan media visual terdiri atas enam komponen, yaitu: (a) rasional, (b) tujuan layanan informasi karier, (c) asumsi, (d) target dan isi layanan informasi (e) komponen penunjang layanan informasi karier, dan (f) Langkah pelaksanaan layanan informasi karier berbantu media visual, 3) Model layanan informasi berbantu media visual dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan pemantapan karier siswa.
{"title":"PENGEMBANGAN MODEL LAYANAN INFORMASI BERBANTU MEDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMANTAPAN KARIER PADA SISWA SMA NEGERI DI KABUPATEN KUBU RAYA","authors":"Novi Andriati, Riki Maulana, Galuh Hartinah, Ema Sukmawati","doi":"10.31571/sosial.v7i1.2098","DOIUrl":"https://doi.org/10.31571/sosial.v7i1.2098","url":null,"abstract":"Tujuan penelitian ini ialah mengembangkan model layanan informasi berbantu media visual untuk meningkatkan pemantapan karier pada siswa SMA, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development). Hasil penelitian: 1) Gambaran pelaksanaan layanan informasi karier di sekolah tempat penelitian sudah dilaksanakan secara umumnya melewati tahapan pendahuluan, kegiatan dan pengakhiran, namun belum pernah menggunakan media tertentu seperti berbantuan media visual yang merupakan media yang dapat mempermudah penyampaian informasi kepada siswa, 2) Desain model yang dikembangkan adalah layanan informasi karier berbantuan media visual terdiri atas enam komponen, yaitu: (a) rasional, (b) tujuan layanan informasi karier, (c) asumsi, (d) target dan isi layanan informasi (e) komponen penunjang layanan informasi karier, dan (f) Langkah pelaksanaan layanan informasi karier berbantu media visual, 3) Model layanan informasi berbantu media visual dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan pemantapan karier siswa.","PeriodicalId":248970,"journal":{"name":"Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial","volume":"36 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123241682","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}