Pub Date : 2024-07-04DOI: 10.22437/biospecies.v17i1.29101
Ikius Doga, D. S. Susanti, Jefrianto Sembiring, J. Mendes
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun beluntas (Pluchea indica L) sebagai insektisida nabati terhadap mortalitas hama Spodoptera litura. Penelitian ini bersifat eksperimental terdiri dari 5 perlakuan dengan 1 kontrol dan 5 ulangan pada setiap perlakuan. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara mengambil 300 ekor larva Spodoptera litura instar II yang telah dipelihara dan perbanyakan di laboratorium. Setiap perlakuan dilakukan 5 kali ulangan dan tiap pengulangan pada masing-masing perlakuan diujikan sebanyak 10 ekor larva Spodoptera litura instar II. Berdasarkan hasil penelitian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica L.) berpengaruh toksik terhadap serangga Spodoptera litura yang telah di uji. Jumlah rata-rata mortalitas Spodoptera litura tertinggi terjadi pada perlakuan konsentrasi 90% serta ekstrak daun beluntas (Pluchea indica L.) menunjukan pengaruh yang nyata terhadap mortalitas serangga Spodoptera litura.
{"title":"Efektivitas Daun Beluntas (Pluchea indica L.) Sebagai Insektisida Nabati Terhadap Mortalitas Ulat Grayak (Spodoptera litura F) Lepidoptera: Noctuidae","authors":"Ikius Doga, D. S. Susanti, Jefrianto Sembiring, J. Mendes","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.29101","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.29101","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun beluntas (Pluchea indica L) sebagai insektisida nabati terhadap mortalitas hama Spodoptera litura. Penelitian ini bersifat eksperimental terdiri dari 5 perlakuan dengan 1 kontrol dan 5 ulangan pada setiap perlakuan. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara mengambil 300 ekor larva Spodoptera litura instar II yang telah dipelihara dan perbanyakan di laboratorium. Setiap perlakuan dilakukan 5 kali ulangan dan tiap pengulangan pada masing-masing perlakuan diujikan sebanyak 10 ekor larva Spodoptera litura instar II. Berdasarkan hasil penelitian ekstrak daun beluntas (Pluchea indica L.) berpengaruh toksik terhadap serangga Spodoptera litura yang telah di uji. Jumlah rata-rata mortalitas Spodoptera litura tertinggi terjadi pada perlakuan konsentrasi 90% serta ekstrak daun beluntas (Pluchea indica L.) menunjukan pengaruh yang nyata terhadap mortalitas serangga Spodoptera litura.","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":" 48","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141677488","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-07-02DOI: 10.22437/biospecies.v17i1.31637
Wendy Elvina, D. Rahardjo, K. Kisworo
Aktivitas penyamakan kulit yang berada di kawasan industri Piyungan, menggunakan logam berat krom (Cr) sebagai bahan utama dalam proses penyamakan kulit sehingga telah terjadi pencemaran logam berat kromium di sepanjang aliran Sungai Opak. Selain berdampak pada perairan, krom juga akan terdistribusi pada sedimen maupun biota pada Sungai Opak terkhususnya tanaman air yang memiliki sifat fitoremidiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran cemaran krom pada sepandang aliran Sungai Opak di bagian hilir dengan menggunakan komponen air, sedimen, dan tanaman air. Penelitian dilakukan pada 5 titik uji pada bulan April, Mei, dan Juni. Kemudian, dianalisis kadar krom menggunakan metode AAS (Atomic Absobtion Spectrophotometer), dan diuji ANOVA. Dari hasil uji menujukkan bahwa Sungai Opak telah tercemar logam berat kromium dengan sebaran cemaran tertinggi pada sampel sedimen kemudian diikuti dengan sampel tanaman kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk) dengan rerata 0,210 mg/L dan diikuti dengan sampel tanaman enceng gondok (Eichornia crassipes Mart. Solms) dengan rerata akumulasi sebesar 0,152 mg/L.
{"title":"Pola Sebaran Cemaran Krom (Cr) Pada Air, Sedimen, Dan Tanaman Air Di Bagian Hilir Sungai Opak","authors":"Wendy Elvina, D. Rahardjo, K. Kisworo","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.31637","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.31637","url":null,"abstract":"Aktivitas penyamakan kulit yang berada di kawasan industri Piyungan, menggunakan logam berat krom (Cr) sebagai bahan utama dalam proses penyamakan kulit sehingga telah terjadi pencemaran logam berat kromium di sepanjang aliran Sungai Opak. Selain berdampak pada perairan, krom juga akan terdistribusi pada sedimen maupun biota pada Sungai Opak terkhususnya tanaman air yang memiliki sifat fitoremidiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran cemaran krom pada sepandang aliran Sungai Opak di bagian hilir dengan menggunakan komponen air, sedimen, dan tanaman air. Penelitian dilakukan pada 5 titik uji pada bulan April, Mei, dan Juni. Kemudian, dianalisis kadar krom menggunakan metode AAS (Atomic Absobtion Spectrophotometer), dan diuji ANOVA. Dari hasil uji menujukkan bahwa Sungai Opak telah tercemar logam berat kromium dengan sebaran cemaran tertinggi pada sampel sedimen kemudian diikuti dengan sampel tanaman kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk) dengan rerata 0,210 mg/L dan diikuti dengan sampel tanaman enceng gondok (Eichornia crassipes Mart. Solms) dengan rerata akumulasi sebesar 0,152 mg/L.","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"7 13","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141684748","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-07-02DOI: 10.22437/biospecies.v17i1.29826
Nida Sofhia, Dharmono Dharmono, Riya Irianti
Struktur populasi sangat penting dilakukan untuk mengetahui status dan keberadaan suatu populasi dalam suatu habitat. Kasturi (Mangifera casturi Kosterm) merupakan jenis flora endemik Kalimantan. Kasturi salah satu tumbuhan yang terdapat di Kawasan Danau Sari Embun Kabupaten Tanah Laut. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan struktur populasi Kasturi di Kawasan Danau Sari Embun Kabupaten Tanah Laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi Kasturi di Kawasan Danau Sari Embun memiliki bentuk piramida pasu atau kendi terganggu dengan dua fase pertumbuhan yaitu fase reproduktif dan fase post-reproduktif. Tumbuhan Kasturi yang terdapat di Kawasan Danau Sari Embun dikategorikan kritis yaitu 0,44 Ind/Km².
{"title":"Struktur Populasi Kasturi (Mangifera casturi Kosterm) Di Kawasan Danau Sari Embun Kabupaten Tanah Laut","authors":"Nida Sofhia, Dharmono Dharmono, Riya Irianti","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.29826","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.29826","url":null,"abstract":"Struktur populasi sangat penting dilakukan untuk mengetahui status dan keberadaan suatu populasi dalam suatu habitat. Kasturi (Mangifera casturi Kosterm) merupakan jenis flora endemik Kalimantan. Kasturi salah satu tumbuhan yang terdapat di Kawasan Danau Sari Embun Kabupaten Tanah Laut. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan struktur populasi Kasturi di Kawasan Danau Sari Embun Kabupaten Tanah Laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi Kasturi di Kawasan Danau Sari Embun memiliki bentuk piramida pasu atau kendi terganggu dengan dua fase pertumbuhan yaitu fase reproduktif dan fase post-reproduktif. Tumbuhan Kasturi yang terdapat di Kawasan Danau Sari Embun dikategorikan kritis yaitu 0,44 Ind/Km².","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"54 2","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141687612","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-07-02DOI: 10.22437/biospecies.v17i1.31362
Mahmud Rudini, Dwi Niken Kristyanti Monita, E. Kuswanto, Ika Listiana
Peternakan lebah madu Simpur merupakan peternakan yang mengusung gaya wisata edukasi yang berada di kaki gunung Rajabasa Kalianda Lampung Selatan. Lebah madu tanpa sengat (Stingless Bee) memiliki peran penting dalam penyerbukan tanaman dan pelestrian lingkungan. Lebah tanpa sengat dalam melindungi dirinya hanya menggunakan gigitannya sebagai pertahanan terhadap serangan musuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis lebah tanpa sengat dan menganalisis karakteristik dari sarang lebah madu tanpa sengat yang terdapat di peternakan lebah madu Simpur desa Kecapi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei eksploratif. Data yang dikumpulkan terdiri dari pengamatan secara langsung lebah dan karakteristik sarang lebah tanpa sengat yang ditemukan, mengumpulkan sampel lebah dan mengidentifikasinya. Identifikasi lebah tanpa sengat dilakukan melalui analisis morfologi. Hasil dari penelitian menunjukkan 4 spesies lebah madu tanpa sengat yang berada di kawasan peternakan lebah madu Simpur, Desa Kecapi Kalianda Lampung Selatan yaitu, Heterotrigona itama, Lepidotrigona terminata, Tetrigona apicalis, dan Geniotrigona thoracica. Karakteristik sarang lebah tanpa sengat terbuat dari resin dengan pembagian ruangan yang terdiri dari bagian pintu masuk, pot madu dan pot bee bread dan sel-sel anakan.
{"title":"Identifikasi Jenis Dan Karakteristik Sarang Lebah Madu Tanpa Sengat (Stingless Bee) Di Peternakan Lebah Simpur Desa Kecapi","authors":"Mahmud Rudini, Dwi Niken Kristyanti Monita, E. Kuswanto, Ika Listiana","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.31362","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.31362","url":null,"abstract":"Peternakan lebah madu Simpur merupakan peternakan yang mengusung gaya wisata edukasi yang berada di kaki gunung Rajabasa Kalianda Lampung Selatan. Lebah madu tanpa sengat (Stingless Bee) memiliki peran penting dalam penyerbukan tanaman dan pelestrian lingkungan. Lebah tanpa sengat dalam melindungi dirinya hanya menggunakan gigitannya sebagai pertahanan terhadap serangan musuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis lebah tanpa sengat dan menganalisis karakteristik dari sarang lebah madu tanpa sengat yang terdapat di peternakan lebah madu Simpur desa Kecapi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei eksploratif. Data yang dikumpulkan terdiri dari pengamatan secara langsung lebah dan karakteristik sarang lebah tanpa sengat yang ditemukan, mengumpulkan sampel lebah dan mengidentifikasinya. Identifikasi lebah tanpa sengat dilakukan melalui analisis morfologi. Hasil dari penelitian menunjukkan 4 spesies lebah madu tanpa sengat yang berada di kawasan peternakan lebah madu Simpur, Desa Kecapi Kalianda Lampung Selatan yaitu, Heterotrigona itama, Lepidotrigona terminata, Tetrigona apicalis, dan Geniotrigona thoracica. Karakteristik sarang lebah tanpa sengat terbuat dari resin dengan pembagian ruangan yang terdiri dari bagian pintu masuk, pot madu dan pot bee bread dan sel-sel anakan.","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"26 38","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141685429","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-07-02DOI: 10.22437/biospecies.v17i1.31310
Dwi Rini Kurnia Fitri, Nadia Agustina
Kupu-kupu merupakan bagian dari ordo Lepidoptera yang memiliki peranan penting sebagai bioindikator perubahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis Lepidoptera yang terdapat di Kec. Koto Tujuh, Kab. Sijunjung, Sumatera Barat. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik purposive sampling, dimana titik pengambilan sampel dibagi menjadi tiga zonasi yaitu zona pemukiman warga, tepi hutan serta sawah dan ladang. Hasil identifikasi jenis kupu-kupu didapatkan 23 spesies Lepidoptera yang tergolong pada lima famili yaitu famili Nymphalidae (11 spesies), Lycaenidae (1 spesies), Papilionidae (4 spesies), Hesperiidae (2 spesies), dan Pieridae (5 Spesies), dengan jumlah total 59 individu.
{"title":"Identifikasi Jenis Lepidoptera di Kecamatan Koto Tujuh, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat","authors":"Dwi Rini Kurnia Fitri, Nadia Agustina","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.31310","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.31310","url":null,"abstract":"Kupu-kupu merupakan bagian dari ordo Lepidoptera yang memiliki peranan penting sebagai bioindikator perubahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis Lepidoptera yang terdapat di Kec. Koto Tujuh, Kab. Sijunjung, Sumatera Barat. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik purposive sampling, dimana titik pengambilan sampel dibagi menjadi tiga zonasi yaitu zona pemukiman warga, tepi hutan serta sawah dan ladang. Hasil identifikasi jenis kupu-kupu didapatkan 23 spesies Lepidoptera yang tergolong pada lima famili yaitu famili Nymphalidae (11 spesies), Lycaenidae (1 spesies), Papilionidae (4 spesies), Hesperiidae (2 spesies), dan Pieridae (5 Spesies), dengan jumlah total 59 individu.","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"21 34","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141685783","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-07-02DOI: 10.22437/biospecies.v17i1.31492
Neliyati Neliyati, Lizawati Lizawati
Terbentuknya kalus merupakan salah satu indikasi keberhasilan dalam perbanyakan secara kultur jaringan. Faktor yang sangat menentukan dalam induksi kalus tersebut adalah ketepatan dalam menetukan jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin dalam mendia kultur. Penelitian in bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin (2,4-D) dan sitokinin (BAP) yang dapat menginduksi pembentukan propagule berupa kalus embrionik dari tanaman anggrek pensil dengan menggunakan teknik perbanyakan secara kultur jaringan. Perlakuan yang diuji pada penelitian ini adalah aplikasi beberapa konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin (2,4-D) yaitu 0,5; 1,0; 1,5 dan 2,0 ppm yang dikombinasikan dengan zat pengatur tumbuh sitokinin (BAP) dengan konsentrasi 0,0 dan 0,5 ppm. Percobaan disusun dalam pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 15 eksplan setiap perlakuan. Parameter yang diamati adalah waktu eksplan berespon (membengkak), persentase eksplan membengkak, saat muncul kalus, persentase eksplan membentuk kalus, struktur kalus dan warna kalus. Hasil percobaan diperoleh bahwa eksplan daun anggrek pensil mengalami respon pembengkakan dan membentuk kalus. Pembengkakan terjadi paling cepat dua minggu setelah kultur. Persentase eksplan membengkak dan berkalus paling banyak diperoleh dari perlakuan media MS yang ditambah dengan kombinasi zat pengatur tumbuh auksin 2,4-D 2,0 ppm + 0,5 ppm sitokinin BAP, yaitu eksplan yang membengkak sebanyak 100% dan eksplan berkalus 26,67%. Kalus yang terbentuk berstruktur remah, berwarna putih.
{"title":"Induksi kalus eksplan daun Anggrek Pensil (Papillionanthe hookeriana Rchb.f.) pada Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh 2,4-D dan BAP","authors":"Neliyati Neliyati, Lizawati Lizawati","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.31492","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.31492","url":null,"abstract":"Terbentuknya kalus merupakan salah satu indikasi keberhasilan dalam perbanyakan secara kultur jaringan. Faktor yang sangat menentukan dalam induksi kalus tersebut adalah ketepatan dalam menetukan jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin dalam mendia kultur. Penelitian in bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin (2,4-D) dan sitokinin (BAP) yang dapat menginduksi pembentukan propagule berupa kalus embrionik dari tanaman anggrek pensil dengan menggunakan teknik perbanyakan secara kultur jaringan. Perlakuan yang diuji pada penelitian ini adalah aplikasi beberapa konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin (2,4-D) yaitu 0,5; 1,0; 1,5 dan 2,0 ppm yang dikombinasikan dengan zat pengatur tumbuh sitokinin (BAP) dengan konsentrasi 0,0 dan 0,5 ppm. Percobaan disusun dalam pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 15 eksplan setiap perlakuan. Parameter yang diamati adalah waktu eksplan berespon (membengkak), persentase eksplan membengkak, saat muncul kalus, persentase eksplan membentuk kalus, struktur kalus dan warna kalus. Hasil percobaan diperoleh bahwa eksplan daun anggrek pensil mengalami respon pembengkakan dan membentuk kalus. Pembengkakan terjadi paling cepat dua minggu setelah kultur. Persentase eksplan membengkak dan berkalus paling banyak diperoleh dari perlakuan media MS yang ditambah dengan kombinasi zat pengatur tumbuh auksin 2,4-D 2,0 ppm + 0,5 ppm sitokinin BAP, yaitu eksplan yang membengkak sebanyak 100% dan eksplan berkalus 26,67%. Kalus yang terbentuk berstruktur remah, berwarna putih.","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"18 5","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141688164","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-07-02DOI: 10.22437/biospecies.v17i1.29712
Evita Anggereini, Ratu Sampurna, Lega Anattri, Viola Amelia Syafitri, Muhamad Tommy, Zulfa Hasanah
This research aims to conduct a quantitative analysis of public perceptions regarding monkey conservation efforts in Jambi Province. Monkeys are one of the endangered animal species in the area, and public understanding and support is very important in efforts to preserve them. One of the types of monkeys in Jambi province is wild monkeys which are still disturbing the people of Jambi, especially those close to forests and where many buildings and buildings have been erected. Of course, this makes monkeys lose their habitat and food in nature. In this research, data was collected through results from a Google form involving a total of 89 respondents from various communities in Jambi Province. Quantitative analysis was carried out using various statistical methods to evaluate the level of public awareness and views regarding monkey conservation. It is hoped that the results of this research will provide better insight into public perceptions of monkey conservation and become a basis for developing more effective strategies for their conservation. While awareness and support for monkey conservation in Jambi Province is good, there is still work to be done to effectively protect these species and maintain the sustainability of their ecosystem. Collaborative efforts involving all relevant parties are essential to achieve better conservation goals in the future.
{"title":"Quantitative Analysis Of Community Perceptions About Monkey Conservation In Jambi Province","authors":"Evita Anggereini, Ratu Sampurna, Lega Anattri, Viola Amelia Syafitri, Muhamad Tommy, Zulfa Hasanah","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.29712","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.29712","url":null,"abstract":"This research aims to conduct a quantitative analysis of public perceptions regarding monkey conservation efforts in Jambi Province. Monkeys are one of the endangered animal species in the area, and public understanding and support is very important in efforts to preserve them. One of the types of monkeys in Jambi province is wild monkeys which are still disturbing the people of Jambi, especially those close to forests and where many buildings and buildings have been erected. Of course, this makes monkeys lose their habitat and food in nature. In this research, data was collected through results from a Google form involving a total of 89 respondents from various communities in Jambi Province. Quantitative analysis was carried out using various statistical methods to evaluate the level of public awareness and views regarding monkey conservation. It is hoped that the results of this research will provide better insight into public perceptions of monkey conservation and become a basis for developing more effective strategies for their conservation. While awareness and support for monkey conservation in Jambi Province is good, there is still work to be done to effectively protect these species and maintain the sustainability of their ecosystem. Collaborative efforts involving all relevant parties are essential to achieve better conservation goals in the future.","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"45 12","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141687404","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2024-07-02DOI: 10.22437/biospecies.v17i1.31073
M. Misya, Johan Danu Prasetya
Udara merupakan komponen lingkungan dan sumber daya esensial yang menopang berbagai kehidupan makhluk hidup. Kualitas udara secara langsung dapat memengaruhi ekosistem, dan keseimbangan planet kita. Dewasa ini, peningkatan terhadap degradasi lingkungan telah mendorong kesadaran untuk memulai inisiatif dalam menjaga kualitasnya. Salah satu metode yang dapat dilakukan ialah dengan monitoring menggunakan bioindikator. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan dan membandingkan kualitas udara di dua tempat berbeda yakni di kawasan permukiman Mancasan Lor dan kawasan taman timur Kampus I UPN “Veteran†Yogyakarta menggunakan tumbuhan Rhoe discolor. Metode yang diterapkan adalah studi literatur, sampling dan pengamatan mikroskop di laboratorium. Sampel dengan jumlah stomata terbuka lebih banyak diasosiasikan dengan kualitas udara pada lingkungan yang masih terjaga.
{"title":"Pemanfaatan Tumbuhan Herbaceous Sebagai Bioindikator Pencemaran Udara dengan Pengamatan Mikroskopis","authors":"M. Misya, Johan Danu Prasetya","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.31073","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.31073","url":null,"abstract":"Udara merupakan komponen lingkungan dan sumber daya esensial yang menopang berbagai kehidupan makhluk hidup. Kualitas udara secara langsung dapat memengaruhi ekosistem, dan keseimbangan planet kita. Dewasa ini, peningkatan terhadap degradasi lingkungan telah mendorong kesadaran untuk memulai inisiatif dalam menjaga kualitasnya. Salah satu metode yang dapat dilakukan ialah dengan monitoring menggunakan bioindikator. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan dan membandingkan kualitas udara di dua tempat berbeda yakni di kawasan permukiman Mancasan Lor dan kawasan taman timur Kampus I UPN “Veteran†Yogyakarta menggunakan tumbuhan Rhoe discolor. Metode yang diterapkan adalah studi literatur, sampling dan pengamatan mikroskop di laboratorium. Sampel dengan jumlah stomata terbuka lebih banyak diasosiasikan dengan kualitas udara pada lingkungan yang masih terjaga.","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"22 39","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141685608","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Fermentasi kombucha bunga telang merupakan salah satu minuman probiotik yang dikultur melalui konsorsium bakteri dan ragi yang berbahan dasar bunga telang. Penelitian fermentasi kombucha bunga telang merupakan salah satu trobosan terbaru yang perlu diaplikasikan sebagai gambaran dasar pada bidang sains terapan yang sangat pesat kemajuan nya untuk terus ditingkatkan teknologinya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah mengenai aktivitas antibakteri dari suatu fermentasi kombucha bunga telang dari setiap konsentrasi larutan gula yang digunakan. Konsentrasi larutan gula yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 20%, 30%, dan 40%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Kontrol positif berupa kombucha berbahan dasar teh hitam. Kontrol negatif berupa akuades steril. Metode difusi sumuran merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pengujian antibakteri dengan cara menghitung diameter zona hambat. Kombucha bunga telang yang telah difermentasi oleh konsorsium bakteri dan ragi mempunyai aktivitas sebagai antibakteri Propinobacterium acne pada konsentrasi gula 40% dengan rata-rata diameter zona hambat 12,46 mm kategori kuat, sehingga selain berpotensi sebagai minuman probiotik fungsional berpotensi juga sebagai bahan atau zat aktif kosmetik seperti krim, serum, sabun wajah, dan spray wajah.
{"title":"Pengaruh Metode Bioteknologi Fermentasi Kombucha Bunga Telang (Clitoria ternatea) Sebagai Antibakteri Acne vulgaris","authors":"Firman Rezaldi, Fernanda Desmak Pertiwi, Swastika Oktavia, Suyamto Suyamto, Usman Setiawan, Nurullah Asep Abdillah, Cory Novi, M. Fathurrohim","doi":"10.22437/biospecies.v17i1.31493","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v17i1.31493","url":null,"abstract":"Fermentasi kombucha bunga telang merupakan salah satu minuman probiotik yang dikultur melalui konsorsium bakteri dan ragi yang berbahan dasar bunga telang. Penelitian fermentasi kombucha bunga telang merupakan salah satu trobosan terbaru yang perlu diaplikasikan sebagai gambaran dasar pada bidang sains terapan yang sangat pesat kemajuan nya untuk terus ditingkatkan teknologinya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah mengenai aktivitas antibakteri dari suatu fermentasi kombucha bunga telang dari setiap konsentrasi larutan gula yang digunakan. Konsentrasi larutan gula yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 20%, 30%, dan 40%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Kontrol positif berupa kombucha berbahan dasar teh hitam. Kontrol negatif berupa akuades steril. Metode difusi sumuran merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pengujian antibakteri dengan cara menghitung diameter zona hambat. Kombucha bunga telang yang telah difermentasi oleh konsorsium bakteri dan ragi mempunyai aktivitas sebagai antibakteri Propinobacterium acne pada konsentrasi gula 40% dengan rata-rata diameter zona hambat 12,46 mm kategori kuat, sehingga selain berpotensi sebagai minuman probiotik fungsional berpotensi juga sebagai bahan atau zat aktif kosmetik seperti krim, serum, sabun wajah, dan spray wajah.","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"23 36","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"141685511","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-07-03DOI: 10.22437/biospecies.v16i2.20205
Wulan Sari Sinaga, D. Rahardjo, Krismono Krismono
The distribution of chromium originating from industrial waste disposal activities into the Opak River can pollute the flow of rice irrigation water which has an impact on food safety, especially rice. This study aims to determine the concentration of hexavalent chromium, the daily intake rate of age groups, and the effect of chromium on health risks. This research was conducted in Jetis District, Bantul, Yogyakarta with 3 sub-district locations: Canden Village, Trimulyo Village, and Sumber Agung Village. The research samples used were 60 rice samples from their own harvest using irrigation water from the Opak River using a random sampling method. Analysis of hexavalent chromium in rice was carried out with a preparation of 15 grams and analyzed using a HACH DR 2700 Spectrophotometer. The results showed that 100% of rice samples in Jetis District were contaminated with hexavalent chromium. The chromium concentration in the 3 villages ranged from 0.054-0.604 mg/kg with the highest mean value of 0.224 mg/kg found in Canden village. The pattern of chromium intake from rice consumption in 3 sub-districts ranged from 0-1909 µg/day with a mean value of 971 µg/day. The average value of chromium intake patterns in 3 sub-districts is far beyond the safe limit set by WHO of 320 µg/day. From the health risk calculations, the Risk Quotient values obtained for the subdistricts of Canden, Trimulyo, and Sumber Agung villages were respectively 3.00, 2.00, and 2.00. The RQ value in 3 sub-districts is above the safe limit set by WHO at RQ > 1. Based on the calculation of the risk of cancer, seen from the ECR value, the results obtained range from 1.E-01 – 2.E-01, this ECR value is far beyond the set safe limit. by WHO is 10-4. Chromium concentration, daily intake rate, consumption patterns, and characteristics of respondents influence health risks. Keywords: Hexavalent Chromium, Rice, Health Risk Analysis Abstrak Distribusi kromium yang bersumber dari aktivitas pembuangan limbah industri ke Sungai Opak dapat mencemari aliran air irigasi persawahan yang berdampak pada keamanan pangan terutama beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kromium heksavalen, laju asupan harian dari kelompok umur, dan pengaruh kromium terhadap risiko kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta dengan 3 lokasi kelurahan yaitu Desa Canden, Desa Trimulyo dan Desa Sumberagung. Sampel penelitian yang digunakan adalah beras sebanyak 60 sampel yang berasal dari hasil panen sendiri yang memanfaatkan air irigasi sungai Opak dengan metode random sampling. Analisis kromium heksavalen pada beras dilakukan dengan preparasi sebanyak 15 gram dan dianalisis menggunakan alat Spektrofotometer HACH DR 2700. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% sampel beras di Kecamatan Jetis telah terkontaminasi kromium heksavalen. Konsentrasi kromium pada 3 desa berkisar sebesar 0,054-0,604 mg/kg dengan nilai rerata tertinggi sebesar 0,224 mg/kg terdapat di desa Cande
源于工业废物处理活动的铬在奥帕克河中的分布会污染水稻灌溉水流,从而影响食品安全,尤其是水稻。本研究旨在确定六价铬的浓度、各年龄组的日摄入量以及铬对健康风险的影响。这项研究在日惹班图尔市杰提斯区的 3 个分区进行:Canden 村、Trimulyo 村和 Sumber Agung 村。研究样本采用随机抽样法,从他们使用 Opak 河灌溉水收获的 60 份稻米样本中抽取。大米中六价铬的分析以 15 克为单位,使用 HACH DR 2700 分光光度计进行分析。结果显示,杰提斯地区的大米样本 100%受到六价铬污染。3 个村庄的铬浓度范围为 0.054-0.604 mg/kg,Canden 村的平均值最高,为 0.224 mg/kg。3 个分区从大米中摄入铬的模式介于 0-1909 微克/天之间,平均值为 971 微克/天。3 个分区铬摄入模式的平均值远远超出了世界卫生组织规定的安全限值 320 微克/天。通过健康风险计算,坎登村、特里姆利奥村和 Sumber Agung 村三个分区的风险商数分别为 3.00、2.00 和 2.00。3 个分区的 RQ 值均高于世界卫生组织规定的 RQ > 1 的安全限值。根据 ECR 值计算癌症风险,得出的结果为 1.E-01 - 2.E-01,这一 ECR 值远远超出了世界卫生组织规定的 10-4 的安全限值。铬的浓度、每日摄入量、消费模式和受访者的特征都会影响健康风险。关键词:六价铬六价铬;大米;健康风险分析 Abstrak Distribusi kromium yang bersumber dari aktivitas pembuangan limbah industri ke Sungai Opak dapat mencemari aliran air irigasi persawahan yang berdampak pada keamanan pangan terutama beras。该项目旨在建立镭资源中心、镭生产基地和镭风险控制中心。该项目位于日惹班图尔(Bantul)的杰提斯区(Kecamatan Jetis),有三个地区,分别是坎登(Desa Canden)、特里穆约(Desa Trimulyo)和森巴贡(Desa Sumberagung)。通过随机抽样的方法,在日惹的三个地区(Desa Canden、Desa Trimulyo 和 Desa Sumberagung)抽取了 60 个样本。对样本中的铬进行分析,用 15 克的样品进行制备,并用 HACH DR 2700 型快速光度计进行分析。研究结果表明,Kecamatan Jetis 的 100%样品都含有污染的铬。3 个采样点的铬含量为 0.054-0.604 毫克/千克,而坎登采样点的铬含量为 0.224 毫克/千克。在 3 个月的生产过程中,镉的含量为 0-1909 微克/小时,而镍的含量为 971 微克/小时。世卫组织在 3 个月内测定的阈值为 320 微克/小时。从风险系数来看,Canden、Trimulyo、Sumberagung 的风险系数分别为 3,00、2,00、2,00。3 个阶段的 RQ 值与世界卫生组织规定的 RQ 值 > 1 之间的蝙蝠数量相当。从蚂蚁的风险来看,ECR 值从 1,E-01 到 2,E-01,ECR 值与世界卫生组织规定的 10-4 之间的蝙蝠数量相当。铬的中心、生产基地、质量控制和反应能力都与疾病风险密切相关。关键词: 锗, Beras, 风险分析
{"title":"Analisa Risiko Kesehatan Cemaran Krom dalam Beras di Kecamatan Jetis, Yogyakarta","authors":"Wulan Sari Sinaga, D. Rahardjo, Krismono Krismono","doi":"10.22437/biospecies.v16i2.20205","DOIUrl":"https://doi.org/10.22437/biospecies.v16i2.20205","url":null,"abstract":"The distribution of chromium originating from industrial waste disposal activities into the Opak River can pollute the flow of rice irrigation water which has an impact on food safety, especially rice. This study aims to determine the concentration of hexavalent chromium, the daily intake rate of age groups, and the effect of chromium on health risks. This research was conducted in Jetis District, Bantul, Yogyakarta with 3 sub-district locations: Canden Village, Trimulyo Village, and Sumber Agung Village. The research samples used were 60 rice samples from their own harvest using irrigation water from the Opak River using a random sampling method. Analysis of hexavalent chromium in rice was carried out with a preparation of 15 grams and analyzed using a HACH DR 2700 Spectrophotometer. The results showed that 100% of rice samples in Jetis District were contaminated with hexavalent chromium. The chromium concentration in the 3 villages ranged from 0.054-0.604 mg/kg with the highest mean value of 0.224 mg/kg found in Canden village. The pattern of chromium intake from rice consumption in 3 sub-districts ranged from 0-1909 µg/day with a mean value of 971 µg/day. The average value of chromium intake patterns in 3 sub-districts is far beyond the safe limit set by WHO of 320 µg/day. From the health risk calculations, the Risk Quotient values obtained for the subdistricts of Canden, Trimulyo, and Sumber Agung villages were respectively 3.00, 2.00, and 2.00. The RQ value in 3 sub-districts is above the safe limit set by WHO at RQ > 1. Based on the calculation of the risk of cancer, seen from the ECR value, the results obtained range from 1.E-01 – 2.E-01, this ECR value is far beyond the set safe limit. by WHO is 10-4. Chromium concentration, daily intake rate, consumption patterns, and characteristics of respondents influence health risks. Keywords: Hexavalent Chromium, Rice, Health Risk Analysis Abstrak Distribusi kromium yang bersumber dari aktivitas pembuangan limbah industri ke Sungai Opak dapat mencemari aliran air irigasi persawahan yang berdampak pada keamanan pangan terutama beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kromium heksavalen, laju asupan harian dari kelompok umur, dan pengaruh kromium terhadap risiko kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta dengan 3 lokasi kelurahan yaitu Desa Canden, Desa Trimulyo dan Desa Sumberagung. Sampel penelitian yang digunakan adalah beras sebanyak 60 sampel yang berasal dari hasil panen sendiri yang memanfaatkan air irigasi sungai Opak dengan metode random sampling. Analisis kromium heksavalen pada beras dilakukan dengan preparasi sebanyak 15 gram dan dianalisis menggunakan alat Spektrofotometer HACH DR 2700. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% sampel beras di Kecamatan Jetis telah terkontaminasi kromium heksavalen. Konsentrasi kromium pada 3 desa berkisar sebesar 0,054-0,604 mg/kg dengan nilai rerata tertinggi sebesar 0,224 mg/kg terdapat di desa Cande","PeriodicalId":31745,"journal":{"name":"Biospecies","volume":"76 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139364002","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}