Pub Date : 2022-12-30DOI: 10.33991/miktab.v2i2.437
Ira Suwitomo Putri, Joseph Christ Santo, Joko Sembodo
Dalam hidup bermasyarakat yang sangat beragam, kita dituntut untuk dapat mengendalikan emosi secara benar. Namun pada praktiknya, banyak yang mengalami kesulitan mengendalikan emosinya. Sebenarnya Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk mereka dapat mengendalikan emosi, karena Allah juga yang menciptakan emosi tersebut untuk kepentingan manusia. Dalam I Korintus 14:4 Rasul Paulus membahas tentang bahasa roh di mana fungsi bahasa roh adalah untuk membangun diri, termasuk di dalamnya menjadi orang yang dapat mengendalikan emosi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui praktik bahasa roh membangun diri sebagai upaya mengendalikan emosi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, di mana penulis mewawancarai 10 partisipan yang adalah aktivis GBIS Kepunton, Surakarta, dengan batas usia 25 sampai 75 tahun. Hasil dari penelitian yang didapat cukup bervariatif dan menunjukkan adanya praktik bahasa roh membangun diri dalam konteks I Korintus 14:4 yang dapat difungsikan sebagai pengendalian emosi untuk jemaat Tuhan.
{"title":"Praktik Bahasa Roh Membangun Diri Sendiri Menurut I Korintus 14:4 Sebagai Upaya Mengendalikan Emosi","authors":"Ira Suwitomo Putri, Joseph Christ Santo, Joko Sembodo","doi":"10.33991/miktab.v2i2.437","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/miktab.v2i2.437","url":null,"abstract":"Dalam hidup bermasyarakat yang sangat beragam, kita dituntut untuk dapat mengendalikan emosi secara benar. Namun pada praktiknya, banyak yang mengalami kesulitan mengendalikan emosinya. Sebenarnya Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk mereka dapat mengendalikan emosi, karena Allah juga yang menciptakan emosi tersebut untuk kepentingan manusia. Dalam I Korintus 14:4 Rasul Paulus membahas tentang bahasa roh di mana fungsi bahasa roh adalah untuk membangun diri, termasuk di dalamnya menjadi orang yang dapat mengendalikan emosi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui praktik bahasa roh membangun diri sebagai upaya mengendalikan emosi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, di mana penulis mewawancarai 10 partisipan yang adalah aktivis GBIS Kepunton, Surakarta, dengan batas usia 25 sampai 75 tahun. Hasil dari penelitian yang didapat cukup bervariatif dan menunjukkan adanya praktik bahasa roh membangun diri dalam konteks I Korintus 14:4 yang dapat difungsikan sebagai pengendalian emosi untuk jemaat Tuhan. ","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"14 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"73301417","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-30DOI: 10.36421/veritas.v21i2.510
A. Antonius
Pentecostalism is one of the fast-growing traditions that is distinctive in its theological method. Some Pentecostals also claim that they are an evangelical church. This claim can lead to debates and blur the meaning of evangelical as if there is no difference between the two. This difference cannot be seen only from the church’s status but from the method of theology that underlies it. Therefore, this study will compare the theological method of the Pentecostals-Charismatics, represented by Amos Yong, and the theological method of the Reformed, represented by John M. Frame. The purpose of this comparison is to try to find common ground and balance between the two approaches. Frame’s Triperspectivalism method can give room for Yong’s Trialectic method to see the Holy Spirit-Word-Community aspect from the normative, situational, and existential lenses of theology as three inseparable parts. Thus, it is hoped that there can be harmony in theological methods between the Pentecostal-Charismatic tradition and the Reformed tradition.
{"title":"Analysis of the Pentecostal Theological Methods from Amos Yong’s Trialectic based on John Frame’s Triperspectivalism","authors":"A. Antonius","doi":"10.36421/veritas.v21i2.510","DOIUrl":"https://doi.org/10.36421/veritas.v21i2.510","url":null,"abstract":"Pentecostalism is one of the fast-growing traditions that is distinctive in its theological method. Some Pentecostals also claim that they are an evangelical church. This claim can lead to debates and blur the meaning of evangelical as if there is no difference between the two. This difference cannot be seen only from the church’s status but from the method of theology that underlies it. Therefore, this study will compare the theological method of the Pentecostals-Charismatics, represented by Amos Yong, and the theological method of the Reformed, represented by John M. Frame. The purpose of this comparison is to try to find common ground and balance between the two approaches. Frame’s Triperspectivalism method can give room for Yong’s Trialectic method to see the Holy Spirit-Word-Community aspect from the normative, situational, and existential lenses of theology as three inseparable parts. Thus, it is hoped that there can be harmony in theological methods between the Pentecostal-Charismatic tradition and the Reformed tradition.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44803648","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-30DOI: 10.33991/miktab.v2i2.436
Nasri Nugroho, Yotam Teddy Kusnandar, Joko Sembodo
Pemberitaan kabar baik merupakan upaya untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia, bahkan yang berkembang di era teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu upaya untuk merealisasikannya adalah melalui media sosial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyampaian kabar baik menurut Lukas 4:18-19, untuk menjelaskan yang dimaksud media sosial, dan untuk menjelaskan peran media sosial dalam penyampaian kabar baik menurut Lukas 4:18-19. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka. Peneliti melakukan kajian dari berbagaisumberliteraturberupajurnalteologimaupunbuku-bukuyangsesuai dengantema,sehinggamenghasilkanbeberapapenjelasan yangdibahassecara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan diperlukannya kemampuan dalam mengakses dan memproses transmisi data dan informasi dalam berbagai macam platform media, sehingga penggunaan teknologi informasi bukan hanya sekadar dimanfaatkan untuk mengikuti tren zaman, tetapi media dapat berperan dalam melaksanakan misi Allah dalam menyampaikan kabar baik.
{"title":"Peran Media Sosial Dalam Penyampaian Kabar Baik Menurut Lukas 4 :18-19","authors":"Nasri Nugroho, Yotam Teddy Kusnandar, Joko Sembodo","doi":"10.33991/miktab.v2i2.436","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/miktab.v2i2.436","url":null,"abstract":"Pemberitaan kabar baik merupakan upaya untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia, bahkan yang berkembang di era teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu upaya untuk merealisasikannya adalah melalui media sosial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyampaian kabar baik menurut Lukas 4:18-19, untuk menjelaskan yang dimaksud media sosial, dan untuk menjelaskan peran media sosial dalam penyampaian kabar baik menurut Lukas 4:18-19. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka. Peneliti melakukan kajian dari berbagaisumberliteraturberupajurnalteologimaupunbuku-bukuyangsesuai dengantema,sehinggamenghasilkanbeberapapenjelasan yangdibahassecara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan diperlukannya kemampuan dalam mengakses dan memproses transmisi data dan informasi dalam berbagai macam platform media, sehingga penggunaan teknologi informasi bukan hanya sekadar dimanfaatkan untuk mengikuti tren zaman, tetapi media dapat berperan dalam melaksanakan misi Allah dalam menyampaikan kabar baik.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"90 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"83552337","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Takut akan Tuhan adalah sikap yang harus dimiliki setiap orang Kristen. Takut akan Tuhan diajarkan dalam Alkitab. Salah satu kitab mengajarkan tentang takut akan Tuhan adalah kitab Amsal, khususnya Amsal 1:1-7. Ada banyak pendapat mengenai penafsiran takut akan Tuhan dalam Amsal 1:1-7. Ajaran tentang takut akan Tuhan ini sangat baik untuk diajarkan kepada para remaja. Masa remaja merupakan masa yang labil dan mudah dipengaruhi, juga oleh pengaruh buruk yang dapat merusak kehidupan remaja. Dengan menggunakan metode penafsiran eksegesis. Takut akan Tuhan yang dimaksud dalam Amsal 1:1-7 adalah takut atau hormat kepada Tuhan karena kesucian-Nya. Rasa takut atau rasa hormat dapat membangun seseorang menjadi penyembah Tuhan yang sejati. Ketakutan akan penghormatan kepada Tuhan adalah dasar dari pengetahuan atau kebijaksanaan. Beberapa implikasi praktisnya adalah, pertama, remaja perlu untuk hidup dalam firman Tuhan. Kedua, hidup dalam kekudusan. Ketiga, hidup dalam kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.
{"title":"“Takut akan Tuhan” sebagai dasar pertumbuhan spiritualitas remaja Kristen","authors":"Robi Prianto, Hesron Yuswanto, Yohanes Hasiholan Tampubolon","doi":"10.51828/td.v12i1.242","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.242","url":null,"abstract":"Takut akan Tuhan adalah sikap yang harus dimiliki setiap orang Kristen. Takut akan Tuhan diajarkan dalam Alkitab. Salah satu kitab mengajarkan tentang takut akan Tuhan adalah kitab Amsal, khususnya Amsal 1:1-7. Ada banyak pendapat mengenai penafsiran takut akan Tuhan dalam Amsal 1:1-7. Ajaran tentang takut akan Tuhan ini sangat baik untuk diajarkan kepada para remaja. Masa remaja merupakan masa yang labil dan mudah dipengaruhi, juga oleh pengaruh buruk yang dapat merusak kehidupan remaja. Dengan menggunakan metode penafsiran eksegesis. Takut akan Tuhan yang dimaksud dalam Amsal 1:1-7 adalah takut atau hormat kepada Tuhan karena kesucian-Nya. Rasa takut atau rasa hormat dapat membangun seseorang menjadi penyembah Tuhan yang sejati. Ketakutan akan penghormatan kepada Tuhan adalah dasar dari pengetahuan atau kebijaksanaan. Beberapa implikasi praktisnya adalah, pertama, remaja perlu untuk hidup dalam firman Tuhan. Kedua, hidup dalam kekudusan. Ketiga, hidup dalam kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"368 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"86807503","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Saat ini gereja ditantang untuk semakin kreatif dalam mewartakan Injil. Artinya gereja dalam pewartaannya dituntut harus mampu menyapa semua umat beriman dimanapun mereka berada, tanpa terkecuali. Berdasarkan hal tersebut, fokus studi penelitian ini ialah pada peran lembaga religius, secara khusus Kongregasi Pasionis dalam mewartakan Injil. Peran Kongregasi Pasionis tampak nyata dalam kegiatan karya misi populer. Dalam misi populer, para Pasionis tidak hanya mengajarkan nilai-nilai Injil, tetapi juga nilai kehidupan. Misi populer dalam Kongregasi Pasionis dibahas dalam terang Dokumen Konsili Vatikan II yaitu Evangelii Nuntiandi. Penelitian ini digarap menggunakan metode kualitatif dengan menelusuri aneka kepustakaan yang relevan dengan tema yang dibahas. Temuan dalam penelitian, karya misi populer yang dijalankan oleh para Pasionis ternyata sangat cocok untuk pendalaman iman dan penyegaran rohani bagi umat, khususnya di pedalaman Kalimantan Barat.
{"title":"Misi populer Kongregasi Pasionis sebagai bentuk katekese umat Katolik masa kini yang mengaktualisasikan gagasan eklesiologi Konsili Vatikan II","authors":"Nobertus Epo","doi":"10.51828/td.v12i1.171","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.171","url":null,"abstract":"Saat ini gereja ditantang untuk semakin kreatif dalam mewartakan Injil. Artinya gereja dalam pewartaannya dituntut harus mampu menyapa semua umat beriman dimanapun mereka berada, tanpa terkecuali. Berdasarkan hal tersebut, fokus studi penelitian ini ialah pada peran lembaga religius, secara khusus Kongregasi Pasionis dalam mewartakan Injil. Peran Kongregasi Pasionis tampak nyata dalam kegiatan karya misi populer. Dalam misi populer, para Pasionis tidak hanya mengajarkan nilai-nilai Injil, tetapi juga nilai kehidupan. Misi populer dalam Kongregasi Pasionis dibahas dalam terang Dokumen Konsili Vatikan II yaitu Evangelii Nuntiandi. Penelitian ini digarap menggunakan metode kualitatif dengan menelusuri aneka kepustakaan yang relevan dengan tema yang dibahas. Temuan dalam penelitian, karya misi populer yang dijalankan oleh para Pasionis ternyata sangat cocok untuk pendalaman iman dan penyegaran rohani bagi umat, khususnya di pedalaman Kalimantan Barat.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"84 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89029790","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Artikel ini mengkaji keseluruhan kehidupan imam. Artikel ini menggunakan metode pustaka dengan landasan buku “Six Books on the Priesthood” oleh John Chrysostom. Juga didukung oleh pandangan Bapa-Bapa Gereja dan jurnal-jurnal teologi yang berkaitan dengan pembahasan artikel serta mengkolaborasikannya dengan ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab. Chrysostom menekankan bahwa tugas seorang imam adalah tugas melayani jiwa di hadapan Tuhan. Beberapa peneliti lain mengungkapkan, tugas seorang imam/gembala dalam jabatannya dianggap sulit dan rendah. Namun dibalik kesulitan tersebut, Chrysostom menemukan kemuliaan di dalam keimamatan. Oleh karena itu, kemuliaan jabatan imam sebagai martabat tertinggi diungkapkan dalam tiga hal. Pertama, awal mula tugas dan tanggung jawab imam dinyatakan dalam Injil Yohanes 21:15-19 sebagai pernyataan Yesus. Kedua, seorang imam menjadi representasi Kristus bagi kawanan melalui karakternya. Ketiga, tugas keimamatan meliputi berbagai godaan dan bahaya dalam pelayanan. Ketiga hal ini bertujuan untuk menjelaskan keseluruhan kehidupan imam sebagai tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah tetapi mulia.
这篇文章探讨了牧师的一生。本文采用了约翰·克里索斯托姆(John Chrysostom)的《六书关于牧师》(Six Books on the Priesthood)一书的库法。教会神父的观点和神学期刊也支持这一观点,这些观点与文章的讨论和与圣经中的经文相协调。克里索斯托姆强调,牧师的职责是在上帝面前侍奉灵魂。另一些研究人员指出,担任神职的牧师被认为是困难和低人一等的。然而,尽管困难,克里索斯托姆在祭司的职任中找到了荣耀。因此,祭司职任的最高荣耀在三件事上表现出来。首先,祭司职责和责任的开始,在约翰福音21:15-19中被耶稣陈述。其次,祭司通过他的品格成为羊群的代表。第三,祭司的职责包括服务中各种诱惑和危险。这三件事的目的是把整个祭司的生活解释为一种不容易但光荣的责任。
{"title":"Jabatan imam sebagai martabat tertinggi dalam Injil Yohanes 21:15-19 dari sudut pandang John Chrysostom","authors":"N. Daeli, Yaaro Harefa","doi":"10.51828/td.v12i1.208","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.208","url":null,"abstract":"Artikel ini mengkaji keseluruhan kehidupan imam. Artikel ini menggunakan metode pustaka dengan landasan buku “Six Books on the Priesthood” oleh John Chrysostom. Juga didukung oleh pandangan Bapa-Bapa Gereja dan jurnal-jurnal teologi yang berkaitan dengan pembahasan artikel serta mengkolaborasikannya dengan ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab. Chrysostom menekankan bahwa tugas seorang imam adalah tugas melayani jiwa di hadapan Tuhan. Beberapa peneliti lain mengungkapkan, tugas seorang imam/gembala dalam jabatannya dianggap sulit dan rendah. Namun dibalik kesulitan tersebut, Chrysostom menemukan kemuliaan di dalam keimamatan. Oleh karena itu, kemuliaan jabatan imam sebagai martabat tertinggi diungkapkan dalam tiga hal. Pertama, awal mula tugas dan tanggung jawab imam dinyatakan dalam Injil Yohanes 21:15-19 sebagai pernyataan Yesus. Kedua, seorang imam menjadi representasi Kristus bagi kawanan melalui karakternya. Ketiga, tugas keimamatan meliputi berbagai godaan dan bahaya dalam pelayanan. Ketiga hal ini bertujuan untuk menjelaskan keseluruhan kehidupan imam sebagai tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah tetapi mulia.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"42 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"78052709","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Antonius Missa, S. Bulan, Yusak Tanasyah, Bobby Kurnia Putrawan
Berbagai aliran dalam gereja memahami Firman Tuhan sesuai dengan doktrin masing-masing gereja yang berdampak pada beragamnya penafsiran teologi Kristen mengenai Covid-19. Tujuan penelitian ini mencari latar belakang teologis atas pelbagai pandangan Covid-19 yang berkembang selama masa pandemi dan bagaimana implikasinya bagi orang Kristen di Indonesia. Melalui penelitian kualitatif deskriptif, maka peneliti menemukan sintesis teologis tentang pandemi memberikan implikasi terhadap pandangan orang memahami pandemi Covid-19. Hal ini yang membedakan penelitian ini dengan penelitian lain yang banyak membahas dari pandangan kesehatan, sosial, psikologi sementara peneliti memaparkan dari bentuk pelbagai tafsir yang ada di kalangan teologi Kristen. Penemuan penelitian ini adalah pemahaman teologis seseorang berimplikasi pada pemahamannya melihat pandemi Covid-19 dan juga antivirus. Berbagai pandangan teologis menjelaskan tentang Covid-19; ada yang setuju untuk menerima vaksin dan ada juga yang menolak vaksin karena alasan teologis.
{"title":"Implikasi pelbagai tafsir teologi Kristen mengenai Covid-19 di Indonesia","authors":"Antonius Missa, S. Bulan, Yusak Tanasyah, Bobby Kurnia Putrawan","doi":"10.51828/td.v12i1.221","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.221","url":null,"abstract":"Berbagai aliran dalam gereja memahami Firman Tuhan sesuai dengan doktrin masing-masing gereja yang berdampak pada beragamnya penafsiran teologi Kristen mengenai Covid-19. Tujuan penelitian ini mencari latar belakang teologis atas pelbagai pandangan Covid-19 yang berkembang selama masa pandemi dan bagaimana implikasinya bagi orang Kristen di Indonesia. Melalui penelitian kualitatif deskriptif, maka peneliti menemukan sintesis teologis tentang pandemi memberikan implikasi terhadap pandangan orang memahami pandemi Covid-19. Hal ini yang membedakan penelitian ini dengan penelitian lain yang banyak membahas dari pandangan kesehatan, sosial, psikologi sementara peneliti memaparkan dari bentuk pelbagai tafsir yang ada di kalangan teologi Kristen. Penemuan penelitian ini adalah pemahaman teologis seseorang berimplikasi pada pemahamannya melihat pandemi Covid-19 dan juga antivirus. Berbagai pandangan teologis menjelaskan tentang Covid-19; ada yang setuju untuk menerima vaksin dan ada juga yang menolak vaksin karena alasan teologis.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"28 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"91380461","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Integritas merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam memimpin sebuah komunitas atau suatu kelompok. Nasihat dari sang ibu kepada Lemuel dalam teks Amsal 31:1-9 menunjukkan ada beberapa prinsip yang memiliki keterkaitan dengan seorang pemimpin berintegritas dan tulisan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip seorang pemimpin yang berintegritas dengan melihat teks tersebut. Metode yang dilakukan dalam tulisan ini adalah pendekatan metode kualitatif dengan sub-hermeneutika sastra hikmat yang menggunakan beberapa analisis sesuai dengan kitab yang bergenre sastra. Jika memperhatikan interpretasi Amsal 31:1-9, maka Artikel ini menemukan adanya tiga prinsip mengenai integrtias seorang seorang pemimpin yaitu seorang yang konsisten dalam setiap perkataan dan tindakan, jujur dalam melakukan segala hal, serta adil dalam mengambil keputusan.
{"title":"Integritas pemimpin berdasarkan Amsal 31:1-9","authors":"Farel Yosua Sualang, Afryliyanus Dejunior Budiman, Anon Dwi Saputra","doi":"10.51828/td.v12i1.229","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.229","url":null,"abstract":"Integritas merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam memimpin sebuah komunitas atau suatu kelompok. Nasihat dari sang ibu kepada Lemuel dalam teks Amsal 31:1-9 menunjukkan ada beberapa prinsip yang memiliki keterkaitan dengan seorang pemimpin berintegritas dan tulisan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip seorang pemimpin yang berintegritas dengan melihat teks tersebut. Metode yang dilakukan dalam tulisan ini adalah pendekatan metode kualitatif dengan sub-hermeneutika sastra hikmat yang menggunakan beberapa analisis sesuai dengan kitab yang bergenre sastra. Jika memperhatikan interpretasi Amsal 31:1-9, maka Artikel ini menemukan adanya tiga prinsip mengenai integrtias seorang seorang pemimpin yaitu seorang yang konsisten dalam setiap perkataan dan tindakan, jujur dalam melakukan segala hal, serta adil dalam mengambil keputusan.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"4 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"87562615","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kaum Injili dikenal memiliki penekanan tinggi terhadap aspek soteriologi, akan tetapi di sisi lain justru memiliki konstruksi eklesiologi yang tipis. Untuk mengatasi ketimpangan ini, perlu membangun sebuah pandangan teologis yang lebih apresiatif dan proporsional terhadap natur dan identitas gereja. Mengacu pada identitas kaum Injili yang mengakarkan diri pada otoritas Kitab Suci, maka pandangan terhadap gereja juga seharusnya dibangun atas dasar refleksi ulang terhadap gambaran-gambaran Alkitab itu sendiri tentang keberadaan gereja. Artikel ini hendak mengusulkan penghayatan kembali terhadap gambaran tentang gereja sebagai anak dara atau pengantin yang menantikan mempelainya yaitu Kristus; sekaligus sebagai Ibu yang mengasuh orang percaya. Pembacaan yang diusulkan ialah bahwa figur Maria ibu Yesus dapat menjadi model bahwa gereja adalah entitas yang diciptakan Allah melalui Roh dan firman dari dalam kekosongan, serta dipanggil untuk mengusung dan menghadirkan Kristus di dalam dunia yang berdosa, sekalipun harus melewati tahapan mengerang dan sakit bersalin.
{"title":"Gereja sebagai ibu dan mempelai","authors":"Carmia Margaret","doi":"10.51828/td.v12i1.238","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.238","url":null,"abstract":"Kaum Injili dikenal memiliki penekanan tinggi terhadap aspek soteriologi, akan tetapi di sisi lain justru memiliki konstruksi eklesiologi yang tipis. Untuk mengatasi ketimpangan ini, perlu membangun sebuah pandangan teologis yang lebih apresiatif dan proporsional terhadap natur dan identitas gereja. Mengacu pada identitas kaum Injili yang mengakarkan diri pada otoritas Kitab Suci, maka pandangan terhadap gereja juga seharusnya dibangun atas dasar refleksi ulang terhadap gambaran-gambaran Alkitab itu sendiri tentang keberadaan gereja. Artikel ini hendak mengusulkan penghayatan kembali terhadap gambaran tentang gereja sebagai anak dara atau pengantin yang menantikan mempelainya yaitu Kristus; sekaligus sebagai Ibu yang mengasuh orang percaya. Pembacaan yang diusulkan ialah bahwa figur Maria ibu Yesus dapat menjadi model bahwa gereja adalah entitas yang diciptakan Allah melalui Roh dan firman dari dalam kekosongan, serta dipanggil untuk mengusung dan menghadirkan Kristus di dalam dunia yang berdosa, sekalipun harus melewati tahapan mengerang dan sakit bersalin.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"10 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"75060308","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Reynaldo Pabebang, Erik H. Erikson, Bagus Subambang
Penelitian ini dilakukan berdasarkan kondisi masyarakat Toraja yang mayoritas Kristen. Penduduk masyarakat Toraja sudah sebagian besar memeluk agama Kristen namun di dalam praktik kehidupan sehari-hari, masih melakukan praktik sistem kepercayaan leluhur (Aluk Todolo) yang berbeda kepercayaan dengan kekristenan. Salah satu contoh yang akan menjadi fokus pembahasan pada penelitian ini ialah mengenai pelaksanaan upacara Rambu Solo’ yang merupakan adat budaya yang lahir dari sistem kepercayaan leluhur namun hingga sampai saat ini masih dilaksanakan oleh kalangan kekristenan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan fenomenologi. Berdasarkan pendekatan fenomenologi ditemukan suatu hasil penelitian bahwa upacara Rambu Solo’ termasuk tindakan sinkretisme. Dalam mengumpulkan data-data, peneliti melakukan wawancara, observasi dari video-video dan dokumen-dokumen berupa foto saat pelaksanaan upacara Rambu Solo’. Dengan penelitian ini, diharapkan pembaca, terlebih kepada masyarakat Toraja kistiani, memahami pandangan teologi tentang makna upacara Rambu Solo’ bagi orang Kristen di Toraja, dan memiliki suatu pertimbangan untuk tetap melaksanakan upacara Rambu Solo’.
{"title":"Tinjauan teologis mengenai upacara Rambu Solo'","authors":"Reynaldo Pabebang, Erik H. Erikson, Bagus Subambang","doi":"10.51828/td.v12i1.215","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.215","url":null,"abstract":"Penelitian ini dilakukan berdasarkan kondisi masyarakat Toraja yang mayoritas Kristen. Penduduk masyarakat Toraja sudah sebagian besar memeluk agama Kristen namun di dalam praktik kehidupan sehari-hari, masih melakukan praktik sistem kepercayaan leluhur (Aluk Todolo) yang berbeda kepercayaan dengan kekristenan. Salah satu contoh yang akan menjadi fokus pembahasan pada penelitian ini ialah mengenai pelaksanaan upacara Rambu Solo’ yang merupakan adat budaya yang lahir dari sistem kepercayaan leluhur namun hingga sampai saat ini masih dilaksanakan oleh kalangan kekristenan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan fenomenologi. Berdasarkan pendekatan fenomenologi ditemukan suatu hasil penelitian bahwa upacara Rambu Solo’ termasuk tindakan sinkretisme. Dalam mengumpulkan data-data, peneliti melakukan wawancara, observasi dari video-video dan dokumen-dokumen berupa foto saat pelaksanaan upacara Rambu Solo’. Dengan penelitian ini, diharapkan pembaca, terlebih kepada masyarakat Toraja kistiani, memahami pandangan teologi tentang makna upacara Rambu Solo’ bagi orang Kristen di Toraja, dan memiliki suatu pertimbangan untuk tetap melaksanakan upacara Rambu Solo’.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"38 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"79445060","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}