Artikel ini melihat pengaruh Alkitab dalam pergerakan nasionalisme Amir Syarifuddin sekaligus sumbangsih kekristenan di Indonesia. Amir Syarifuddin merupakan pejuang Kristen yang memiliki pengaruh besar dalam membangun pondasi dan melahirkan pikiran besar tentang pergerakan nasionalisme Indonesia. Keterlibatan Amir Syarifuddin terhadap pergerakan nasionalisme merupakan salah satu tokoh penting agar terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Namun, perjuangannya dalam kemerdekaan Indonesia masih belum mendapat tempat dalam historiografi pergerakan nasionalisme di Indonesia. Kontribusinya dalam melawan penjajah dan emansipasi nasional begitu besar hingga pasca-kemerdekaan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif yang mengacu pada peran sentral Alkitab terhadap nilai-nilai dasar pergerakan nasionalisme Amir Syarifuddin. Alkitab menjadi basis perjuangan melawan penjajah, penanaman nilai-nilai nasionalisme dan proses pembentukan identitas.
{"title":"Pengaruh Alkitab dalam pergerakan nasionalisme","authors":"Roynaldy Simaremare","doi":"10.51828/td.v12i2.228","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i2.228","url":null,"abstract":"Artikel ini melihat pengaruh Alkitab dalam pergerakan nasionalisme Amir Syarifuddin sekaligus sumbangsih kekristenan di Indonesia. Amir Syarifuddin merupakan pejuang Kristen yang memiliki pengaruh besar dalam membangun pondasi dan melahirkan pikiran besar tentang pergerakan nasionalisme Indonesia. Keterlibatan Amir Syarifuddin terhadap pergerakan nasionalisme merupakan salah satu tokoh penting agar terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Namun, perjuangannya dalam kemerdekaan Indonesia masih belum mendapat tempat dalam historiografi pergerakan nasionalisme di Indonesia. Kontribusinya dalam melawan penjajah dan emansipasi nasional begitu besar hingga pasca-kemerdekaan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif yang mengacu pada peran sentral Alkitab terhadap nilai-nilai dasar pergerakan nasionalisme Amir Syarifuddin. Alkitab menjadi basis perjuangan melawan penjajah, penanaman nilai-nilai nasionalisme dan proses pembentukan identitas.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"10 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89978744","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kepemimpinan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pencapaian tujuan suatu organisasi, termasuk gereja. Perubahan global yang begitu deras pada era pasca industri saat ini telah menghadirkan paradigma, penekanan, dan nilai-nilai baru. Perubahan yang terjadi bisa berdampak positif dan negatif. Para pemimpin pada satu sisi dituntut untuk tetap memiliki nilai-nilai kebenaran yang tidak berubah, dan pada saat yang sama juga dituntut untuk beradaptasi. Berbagai peristiwa yang menunjukkan para pemimpin gereja, telah melenceng dari nilai-nilai kebenaran, seperti perbuatan amoral, korupsi, perselingkuhan, perceraian, dan perilaku negatif lainnya telah mencoreng wajah gereja. Oleh karena itu, tujuan dari artikel ini adalah memaparkan kualifikasi kepemimpinan gereja masa kini atau yang menjadi faktor anteseden kepemimpinan gereja berdasakan Titus 1:5-16. Melalui metode biblika-eksegesis dan literature review, penulis menemukan bahwa kualifikasi kepemimpinan dengan nilai-nilai dasar kekristenan dalam konteks kepemimpinan gereja menjadi mutlak untuk ditekankan kepada para pemimpin gereja agar dapat berdampak secara efektif kepada warga gereja yang dipimpinnya.
{"title":"Anteseden dan kualifikasi kepemimpinan gereja masa kini berdasarkan Titus 1:5-16","authors":"Dreitsohn Franklyn Purba, Sunarto Sunarto, Kendy Wahyudi","doi":"10.51828/td.v12i2.259","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i2.259","url":null,"abstract":"Kepemimpinan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pencapaian tujuan suatu organisasi, termasuk gereja. Perubahan global yang begitu deras pada era pasca industri saat ini telah menghadirkan paradigma, penekanan, dan nilai-nilai baru. Perubahan yang terjadi bisa berdampak positif dan negatif. Para pemimpin pada satu sisi dituntut untuk tetap memiliki nilai-nilai kebenaran yang tidak berubah, dan pada saat yang sama juga dituntut untuk beradaptasi. Berbagai peristiwa yang menunjukkan para pemimpin gereja, telah melenceng dari nilai-nilai kebenaran, seperti perbuatan amoral, korupsi, perselingkuhan, perceraian, dan perilaku negatif lainnya telah mencoreng wajah gereja. Oleh karena itu, tujuan dari artikel ini adalah memaparkan kualifikasi kepemimpinan gereja masa kini atau yang menjadi faktor anteseden kepemimpinan gereja berdasakan Titus 1:5-16. Melalui metode biblika-eksegesis dan literature review, penulis menemukan bahwa kualifikasi kepemimpinan dengan nilai-nilai dasar kekristenan dalam konteks kepemimpinan gereja menjadi mutlak untuk ditekankan kepada para pemimpin gereja agar dapat berdampak secara efektif kepada warga gereja yang dipimpinnya.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"46 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"85788980","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Andreas Budi Setyobekti, Valentino Wariki, Andreas Christanto, Amos Hosea
The book of Matthew records the virgin birth of Jesus and then turns to the coming of the Magi from the East to see Jesus being born in Bethlehem. The Magi came from a faraway land guided by a bright star different from the other stars. They are synonymous with people who have knowledge of nature and can interpret the stars. Another view states that they are priests from Persia who work as interpreters of dreams. Examining these characteristics, it is suspected that they are Zoroastrians. This research aims to reveal the identity of the Magi, who brought gifts of gold, frankincense, and myrrh to Jesus. The method used is descriptive qualitative with a historical research approach. The results of the research show that there is a relationship between the Zoroastrians and the birth of Jesus. The birth of Jesus was written in non-Jewish treatises so that the news of human salvation has spread to nations, not just Jews. Abstrak Kitab Matius mencatat kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan kemudian beralih kepada kedatangan dari orang Majus dari Timur untuk melihat Yesus yang lahir di Betlehem. Orang Majus datang dari negeri jauh dituntun oleh bintang terang yang berbeda dengan bintang lainnya. Mereka identik dengan orang yang memiliki pengetahuan tentang alam dan mampu menafsirkan bintang. Pandangan lain menyatakan mereka sebagai imam dari Persia yang berprofesi sebagai penafsir mimpi. Menelisik kepada ciri-ciri tersebut, maka diduga mereka adalah kaum Zoroaster. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan identitas orang Majus yang membawa persembahan emas, kemenyan, dan mur kepada Yesus. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kaum Zoroaster dengan kelahiran Yesus. Kelahiran Yesus sudah ditulis dalam risalah-risalah non-Yahudi, sehingga kabar keselamatan manusia sudah tersebar di bangsa-bangsa, bukan hanya Yahudi.
《马太福音》记载了耶稣的童贞女之子,然后转向东方的东方贤士,看到耶稣在伯利恒出生。贤士们由一颗不同于其他星星的明亮恒星指引,从遥远的地方来。他们是具有自然知识并能解读星象的人的代名词。另一种观点认为,他们是来自波斯的祭司,从事解梦的工作。检查这些特征,可以怀疑他们是琐罗亚斯德教徒。这项研究旨在揭示给耶稣带来黄金、乳香和没药等礼物的东方三博士的身份。使用的方法是描述性定性与历史研究的方法。研究结果表明,在琐罗亚斯德教和耶稣的诞生之间有一种关系。耶稣的诞生被写在非犹太人的论文中,所以人类得救的消息传遍了各国,而不仅仅是犹太人。【摘要】【摘要】【摘要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】【概要】猩猩Majus datang dari negeri jauh dituntun oleh bintang terang yang berbeda dengan bintang lainnya。Mereka identik dengan orangang memoriliki pengetahuan tentang alam danmampu menafsirkan bintang。Pandangan lain menyatakan mereka sebagai imam dari Persia yang教授sebagai penafsir mimpi。Menelisik kepada ciri-ciri tersebut, maka diduga mereka adalah kaum琐罗亚斯德。Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan identitas ang Majus yang membawa persembahan emas, kemenyan, dan mur kepada Yesus。Metode yang digunakan adalah质量描述,dengan pendekatan penelitian sejarah。Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kaum琐罗亚斯德dengan kelahiran Yesus。Kelahiran Yesus sudah ditulis dalam risalah-risalah non-Yahudi, sehinga kabar keselamatan manusia sudah tersebar di bangsa-bangsa, bukan hanya Yahudi。
{"title":"Pengorbanan Zoroaster bagi Sang Mesias: Penelusuran Identitas orang Majus yang Menghampiri Bayi Yesus","authors":"Andreas Budi Setyobekti, Valentino Wariki, Andreas Christanto, Amos Hosea","doi":"10.47543/efata.v9i2.97","DOIUrl":"https://doi.org/10.47543/efata.v9i2.97","url":null,"abstract":"The book of Matthew records the virgin birth of Jesus and then turns to the coming of the Magi from the East to see Jesus being born in Bethlehem. The Magi came from a faraway land guided by a bright star different from the other stars. They are synonymous with people who have knowledge of nature and can interpret the stars. Another view states that they are priests from Persia who work as interpreters of dreams. Examining these characteristics, it is suspected that they are Zoroastrians. This research aims to reveal the identity of the Magi, who brought gifts of gold, frankincense, and myrrh to Jesus. The method used is descriptive qualitative with a historical research approach. The results of the research show that there is a relationship between the Zoroastrians and the birth of Jesus. The birth of Jesus was written in non-Jewish treatises so that the news of human salvation has spread to nations, not just Jews. \u0000 \u0000 \u0000Abstrak \u0000Kitab Matius mencatat kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan kemudian beralih kepada kedatangan dari orang Majus dari Timur untuk melihat Yesus yang lahir di Betlehem. Orang Majus datang dari negeri jauh dituntun oleh bintang terang yang berbeda dengan bintang lainnya. Mereka identik dengan orang yang memiliki pengetahuan tentang alam dan mampu menafsirkan bintang. Pandangan lain menyatakan mereka sebagai imam dari Persia yang berprofesi sebagai penafsir mimpi. Menelisik kepada ciri-ciri tersebut, maka diduga mereka adalah kaum Zoroaster. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan identitas orang Majus yang membawa persembahan emas, kemenyan, dan mur kepada Yesus. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kaum Zoroaster dengan kelahiran Yesus. Kelahiran Yesus sudah ditulis dalam risalah-risalah non-Yahudi, sehingga kabar keselamatan manusia sudah tersebar di bangsa-bangsa, bukan hanya Yahudi.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"198 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"74327006","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
This research is motivated by several irregularities that often occur in the church. This problem results in harmony in the church; for example, the relationship between the congregation and the Pastor becomes tenuous due to irregular teaching. Satire is valuable to satirize someone so that the person being ridiculed makes improvements and thinks more broadly. You can often find satirical sentences on social media accounts, both satire and sarcasm. But this time, many social media accounts are displaying satirical language-style forms of satire about the church, both in terms of order and teachings in the church. This article raises issues that exist on the social media account @gerejapalsu. This account can be a consideration regarding Pastors who are considered to emphasize their physical appearance rather than the truth of the Word that will be conveyed and teachings that are "considered" wrong by the account manager. This research aims to examine this phenomenon from an ethical and theological perspective so that the congregation can consider the positive side of the topic raised by the social media account @gerejapalsu. The method used in the article is a qualitative approach, and the study is in descriptive form using the literature study method. The results of the study show that the existence of this Christian satirical account has a good and functional purpose. Having a party that oversees the church and God's servants will minimize the possibility of damage to the church system. In addition, this phenomenon is helpful as a driving force or trigger for the congregation to think critically and be sensitive to existing problems. Abstrak Di akun media sosial seringkali ditemukan kalimat sindiran baik bersifat satire maupun sarkasme. Namun kali ini, banyak akun media sosial yang menampilkan bentuk sindiran bergaya bahasa satire mengenai gereja, baik secara tatanan maupun ajaran-ajaran dalam gereja. Artikel ini mengangkat permasalahan yang ada di akun media sosial @gerejapalsu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji fenomena ini dari kacamata etika dan teologis agar jemaat mampu mempertimbangkan sisi positif dari topik yang diangkat oleh akun media sosial @gerejapalsu. Pendekatan yang digunakan dalam artikel adalah pendekatan kualitatif serta kajian dalam bentuk deskriptif dengan metode studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberadaan akun satire Kristen ini sebenarnya memiliki tujuan yang baik dan bermanfaat. Dengan adanya pihak yang mengawasi gereja dan para pelayan gereja akan mengecilkan kemungkinan terjadinya kerusakan di dalam sistem gereja. Selain itu fenomena ini berguna sebagai pendorong atau pemicu jemaat untuk mampu berfikir secara kritis dan peka terhadap permasa-lahan yang ada.
这项研究的动机是教会中经常发生的几种不规范行为。这个问题导致了教会的和谐;例如,由于不定期的教导,会众和牧师之间的关系变得脆弱。讽刺是有价值的,它能让被嘲笑的人有所进步,思考得更广泛。你经常可以在社交媒体账户上找到讽刺的句子,既有讽刺的,也有讽刺的。但这一次,许多社交媒体账户都在展示对教会的讽刺语言风格的讽刺形式,无论是在教会的秩序还是教义方面。这篇文章提出了社交媒体账户@gerejapalsu上存在的问题。对于那些被认为强调他们的外表而不是将要传达的真理和被客户经理“认为”是错误的教导的牧师来说,这可以是一个考虑。本研究旨在从伦理和神学的角度审视这一现象,以便会众能够考虑社交媒体账户@gerejapalsu提出的话题的积极方面。本文采用的方法是定性方法,研究采用文献研究法的描述形式。研究结果表明,这一基督教讽刺故事的存在具有良好的功能性目的。有一个监督教会和神的仆人的党,可以最大限度地减少对教会制度的破坏。此外,这种现象有助于推动或触发会众批判性地思考和对存在的问题敏感。摘要:Di akun media social seringkali ditemukan kalimat sindiran baik bersiat讽刺maupun sarkasme。Namun kali ini, banyak akun媒体社会yang menampilkan bentuk sindiran bergaya bahasa讽刺mengenai gereja, baik secara tatanan maupun ajaran-ajaran dalam gereja。Artikel ini mengangkat permasalahan yang ada di akun media social @gerejapalsu。图juan dari penelitian ini adalah mengkaji现象ini dari kacamata etika dan technologiis agar jemaat mampu成员pertimbangkan sisi积极的dari话题yang diangkat oleh akun媒体社交@gerejapalsu。Pendekatan yang digunakan dalam artikel adalan Pendekatan kualitatif sert, kajian dalam bentuk deskriptif dengan方法研究pustaka。Hasil penelitian menunjukan bahwa keberadaan akun讽刺Kristen ini sebenarya memiliki tujuan yang baik dan berman。邓加·阿达尼亚·比哈克·杨,孟加瓦西·格里亚,丹·帕拉亚·格里亚,孟加瓦尼·格里亚,肯·孟加瓦尼·格里亚,肯·孟加瓦尼·格里亚,肯·格里亚,肯·格里亚,肯·格里亚,肯·格里亚,肯·格里亚,肯·格里亚,肯·格里亚。这是一种特殊的现象,它可以帮助人们更好地了解人类的生活,也可以帮助人们更好地了解人类的生活,也可以帮助人们更好地了解人类。
{"title":"Memaknai Akun Media Sosial Satire Kristen dalam Perspektif Etis-Teologis","authors":"Senopati Salomo Olimbovo, Martina Novalina","doi":"10.47543/efata.v9i2.115","DOIUrl":"https://doi.org/10.47543/efata.v9i2.115","url":null,"abstract":"This research is motivated by several irregularities that often occur in the church. This problem results in harmony in the church; for example, the relationship between the congregation and the Pastor becomes tenuous due to irregular teaching. Satire is valuable to satirize someone so that the person being ridiculed makes improvements and thinks more broadly. You can often find satirical sentences on social media accounts, both satire and sarcasm. But this time, many social media accounts are displaying satirical language-style forms of satire about the church, both in terms of order and teachings in the church. This article raises issues that exist on the social media account @gerejapalsu. This account can be a consideration regarding Pastors who are considered to emphasize their physical appearance rather than the truth of the Word that will be conveyed and teachings that are \"considered\" wrong by the account manager. This research aims to examine this phenomenon from an ethical and theological perspective so that the congregation can consider the positive side of the topic raised by the social media account @gerejapalsu. The method used in the article is a qualitative approach, and the study is in descriptive form using the literature study method. The results of the study show that the existence of this Christian satirical account has a good and functional purpose. Having a party that oversees the church and God's servants will minimize the possibility of damage to the church system. In addition, this phenomenon is helpful as a driving force or trigger for the congregation to think critically and be sensitive to existing problems. \u0000 \u0000 \u0000Abstrak \u0000Di akun media sosial seringkali ditemukan kalimat sindiran baik bersifat satire maupun sarkasme. Namun kali ini, banyak akun media sosial yang menampilkan bentuk sindiran bergaya bahasa satire mengenai gereja, baik secara tatanan maupun ajaran-ajaran dalam gereja. Artikel ini mengangkat permasalahan yang ada di akun media sosial @gerejapalsu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji fenomena ini dari kacamata etika dan teologis agar jemaat mampu mempertimbangkan sisi positif dari topik yang diangkat oleh akun media sosial @gerejapalsu. Pendekatan yang digunakan dalam artikel adalah pendekatan kualitatif serta kajian dalam bentuk deskriptif dengan metode studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberadaan akun satire Kristen ini sebenarnya memiliki tujuan yang baik dan bermanfaat. Dengan adanya pihak yang mengawasi gereja dan para pelayan gereja akan mengecilkan kemungkinan terjadinya kerusakan di dalam sistem gereja. Selain itu fenomena ini berguna sebagai pendorong atau pemicu jemaat untuk mampu berfikir secara kritis dan peka terhadap permasa-lahan yang ada.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"91 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89963626","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Katekismus Heidelberg menyajikan pengajaran penting yang kaya serta berlimpah tentang Allah Anak, Yesus Kristus. Secara eksplisit, pengajaran tentang Kristus memang hanya terdapat pada pertanyaan-jawaban 29-52 (24 pertanyaan-jawaban). Meskipun demikian, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa pengajaran tentang Kristus hanya terdapat pada bagian ini saja. Artikel ini mencoba menganalisa kekayaan pengajaran yang terdapat dalam Katekismus Heidelberg dari sudut pandang struktural secara keseluruhan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Hasil dari penelitian ini adalah pengajaran tentang Kristus mendasari keseluruhan Katekismus Heidelberg. Seluruh rangkaian struktural katekismus yang tersusun dalam tiga topik besar yang terbagi menjadi 129 pertanyaan dan jawaban adalah berpusatkan kepada Kristus bahkan menjadi inti teologi Katekismus Heidelberg. Dengan demikian, gereja-gereja Reformed masa kini dapat terus mengajarkan dan membina jemaatnya dengan kurikulum pembinaan berbasis Katekismus Heidelberg ini guna membangun fondasi iman yang sehat dan bersumber pada Alkitab sebagai Firman Tuhan.
{"title":"Meneropong \"Christ-centeredness\" dalam Katekismus Heidelberg dari sudut pandang kerangka struktur","authors":"Janice Christie","doi":"10.51828/td.v12i2.270","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i2.270","url":null,"abstract":"Katekismus Heidelberg menyajikan pengajaran penting yang kaya serta berlimpah tentang Allah Anak, Yesus Kristus. Secara eksplisit, pengajaran tentang Kristus memang hanya terdapat pada pertanyaan-jawaban 29-52 (24 pertanyaan-jawaban). Meskipun demikian, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa pengajaran tentang Kristus hanya terdapat pada bagian ini saja. Artikel ini mencoba menganalisa kekayaan pengajaran yang terdapat dalam Katekismus Heidelberg dari sudut pandang struktural secara keseluruhan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Hasil dari penelitian ini adalah pengajaran tentang Kristus mendasari keseluruhan Katekismus Heidelberg. Seluruh rangkaian struktural katekismus yang tersusun dalam tiga topik besar yang terbagi menjadi 129 pertanyaan dan jawaban adalah berpusatkan kepada Kristus bahkan menjadi inti teologi Katekismus Heidelberg. Dengan demikian, gereja-gereja Reformed masa kini dapat terus mengajarkan dan membina jemaatnya dengan kurikulum pembinaan berbasis Katekismus Heidelberg ini guna membangun fondasi iman yang sehat dan bersumber pada Alkitab sebagai Firman Tuhan.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"35 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"82805139","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan sifat paradoks manusia dalam praktik pendidikan. Manusia sebagai makhluk paradoksal adalah makhluk yang bebas namun bertanggung jawab, yang berarti bahwa manusia tidak hanya bergantung dan ada untuk dirinya sendiri, tetapi juga ada secara independen sambil terhubung atau bergantung pada orang lain. Hal ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial paradoks mempengaruhi pandangan mereka tentang hubungan antara manusia. Metode deskriptif analitis digunakan dalam menganalisis artikel untuk mensintesis dan menarik kesimpulan. Dalam kegiatan ini, baik guru dan murid memberi diri mereka untuk terlibat dan belajar bersama. Guru memberikan waktu, energi, dan kompetensinya, sementara murid memberikan diri mereka untuk diajarkan dan bersedia mengikuti petunjuk dan arahan guru. Kesadaran atas tanggung jawab peran dan tugas masing-masing membawa kehangatan ke dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini hanya dapat terjadi jika kedua belah pihak saling bergantung dan menyadarinya.
{"title":"Memahami manusia sebagai makhluk paradoksal dalam praktik Pendidikan Agama Kristen","authors":"Noh Ibrahim Boiliu, Bernadetha Nadeak","doi":"10.51828/td.v12i2.209","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i2.209","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan sifat paradoks manusia dalam praktik pendidikan. Manusia sebagai makhluk paradoksal adalah makhluk yang bebas namun bertanggung jawab, yang berarti bahwa manusia tidak hanya bergantung dan ada untuk dirinya sendiri, tetapi juga ada secara independen sambil terhubung atau bergantung pada orang lain. Hal ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial paradoks mempengaruhi pandangan mereka tentang hubungan antara manusia. Metode deskriptif analitis digunakan dalam menganalisis artikel untuk mensintesis dan menarik kesimpulan. Dalam kegiatan ini, baik guru dan murid memberi diri mereka untuk terlibat dan belajar bersama. Guru memberikan waktu, energi, dan kompetensinya, sementara murid memberikan diri mereka untuk diajarkan dan bersedia mengikuti petunjuk dan arahan guru. Kesadaran atas tanggung jawab peran dan tugas masing-masing membawa kehangatan ke dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini hanya dapat terjadi jika kedua belah pihak saling bergantung dan menyadarinya.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"53 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"86565822","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pelaksanaan kontekstualisasi tidak semudah yang dibayangkan, karena manusia adalah makhluk sosial yang terdiri dari adat istiadat dan kebudayaan yang berbeda-beda, maka sangatlah penting untuk mengerti dan memahami perlunya kontekstual dalam melakukan pemberitaan injil. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana kontekstualisasi dapat menolong orang percaya dalam melakukan penginjilan di tengah-tengah keberagaman budaya dan adat istiadat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kontekstualisasi adalah suatu tindakan sebagai refleksi dari setiap orang percaya kepada Tuhan, berupaya untuk menjelaskan iman kristen dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Menurut Kisah Para Rasul 17:16-34 menjelaskan beberapa hal mengenai kontekstualisasi yang Paulus lakukan, yaitu kontekstualisasi lahir dari hati yang terbeban. Kontekstualisasi dilakukan dengan cara bertukar pikiran, memuji budaya orang Atena dan memberitakan tentang Injil Yesus Kristus. Dan dampak dari kontekstualisasi yaitu: dampak positifnya adalah orang menjadi percaya dan dampak negatifnya adalah pemberita injil dapat mengalami penolakan.
{"title":"Kontekstualisasi menurut Kisah Para Rasul 17:16-34","authors":"I. Setiawan, Reagen Petrus Banea","doi":"10.51828/td.v12i2.227","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i2.227","url":null,"abstract":"Pelaksanaan kontekstualisasi tidak semudah yang dibayangkan, karena manusia adalah makhluk sosial yang terdiri dari adat istiadat dan kebudayaan yang berbeda-beda, maka sangatlah penting untuk mengerti dan memahami perlunya kontekstual dalam melakukan pemberitaan injil. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana kontekstualisasi dapat menolong orang percaya dalam melakukan penginjilan di tengah-tengah keberagaman budaya dan adat istiadat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kontekstualisasi adalah suatu tindakan sebagai refleksi dari setiap orang percaya kepada Tuhan, berupaya untuk menjelaskan iman kristen dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Menurut Kisah Para Rasul 17:16-34 menjelaskan beberapa hal mengenai kontekstualisasi yang Paulus lakukan, yaitu kontekstualisasi lahir dari hati yang terbeban. Kontekstualisasi dilakukan dengan cara bertukar pikiran, memuji budaya orang Atena dan memberitakan tentang Injil Yesus Kristus. Dan dampak dari kontekstualisasi yaitu: dampak positifnya adalah orang menjadi percaya dan dampak negatifnya adalah pemberita injil dapat mengalami penolakan.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"28 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"81345046","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Aeron Frior Sihombing, Barnabas Ludji, P. Surbakti
Masalah dalam penelitian ini adalah mengenai kota-kota perlindungan dalam Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34. Topik yang sama mengenai kota perlindungan, namun memiliki perbedaan yang signifikan. Penelitian ini akan membandingkan persamaan dan perbedaan antara kota-kota perlindungan menurut Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34 dan memaparkan relevansinya dengan orang percaya di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis kritis, melalui kritik redaksi, kritik sumber dan kritik bentuk. Kota-kota perlindungan dalam Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-35, baik dari sisi redaktur, sumber maupun sitz im leben berbeda, sehingga tujuan teologinya pun berbeda. Namun, kesamaannya ada di paradigma kota perlindungan dari kedua teks ini, yaitu untuk kemanusiaan dan kultus. Refleksi bagi penegakan hukum di Indonesia adalah penegakan hukum haruslah adil tanpa memandang status sosial dan sama rata terhadap seluruh penduduk Indonesia.
这项研究涉及约书亚记20:1-9和民数记35:9-34中关于避难城市的问题。同样的主题是庇护城,但有很大的不同。这项研究将比较《约书亚记》20:1-9和《民数记》35:9-34中提到的避难城市与印尼信徒的关系。本研究采用的方法是批判的历史方法,通过编辑批评、来源批评和形式批评。《约书亚记》20:1-9和《民数记》35:9-35中庇护的城市,无论是来自同一编辑的来源,还是sitz im leben,都是不同的,其神学目的是不同的。然而,类似的是,这两篇文章的庇护城的范例,即人类和邪教。对印尼执法的反思是,无论其社会地位如何,对整个印尼人民都是平等的,执法都应该是公平的。
{"title":"Kota-kota perlindungan dalam kitab Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34","authors":"Aeron Frior Sihombing, Barnabas Ludji, P. Surbakti","doi":"10.51828/td.v12i2.222","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i2.222","url":null,"abstract":"Masalah dalam penelitian ini adalah mengenai kota-kota perlindungan dalam Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34. Topik yang sama mengenai kota perlindungan, namun memiliki perbedaan yang signifikan. Penelitian ini akan membandingkan persamaan dan perbedaan antara kota-kota perlindungan menurut Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34 dan memaparkan relevansinya dengan orang percaya di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis kritis, melalui kritik redaksi, kritik sumber dan kritik bentuk. Kota-kota perlindungan dalam Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-35, baik dari sisi redaktur, sumber maupun sitz im leben berbeda, sehingga tujuan teologinya pun berbeda. Namun, kesamaannya ada di paradigma kota perlindungan dari kedua teks ini, yaitu untuk kemanusiaan dan kultus. Refleksi bagi penegakan hukum di Indonesia adalah penegakan hukum haruslah adil tanpa memandang status sosial dan sama rata terhadap seluruh penduduk Indonesia.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"8 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89422861","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Amid an increasing ecological crisis, ecological sustainability is certainly a hope that needs to be pursued. One of the steps that can be done is through missiology reconstruction. Missiology here does not only mean evangelism and inviting people to embrace Christianity but proclaiming the Bible in a context, especially ecological sustainability. Thus, this article tries to examine missiology to strive for ecological sustainability. This effort is a theoretical analysis in which the author traces and builds missiology to that context. In practice, the research method used is library research methods on related books and journals. The research results show that missiology can be constructed to promote ecological sustainability. This construction is expected to add scientific discussion and implementation proposals to practice. Abstrak Di tengah krisis ekologi yang semakin meningkat, kelestarian ekologis tentu menjadi harapan yang perlu diupayakan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan yaitu melalui merekonstruksi misiologi. Misiologi di sini tidak hanya dimaksud sekedar penginjilan dan mengajak orang memeluk agama Kristen, melainkan mewartakan Injil secara nyata dalam konteks, khususnya kelestarian ekologis. Dengan demikian, artikel ini mencoba meneropong misiologi untuk mengupayakan kelestarian ekologis. Usaha ini bersifat analisis teoritis di mana penulis menelusuri dan membangun misiologi ke konteks tersebut. Dalam praktiknya, metode penelitian yang dilakukan yaitu menggunakan metode penelitian pustaka terhadap buku dan jurnal terkait. Hasil penelitian diperoleh bahwa misiologi bisa dikonstruksi untuk mengupayakan kelestarian ekologis. Konstruksi ini diharapkan menambah diskusi keilmuan dan usulan implementasi ke praksis.
在日益严重的生态危机中,生态可持续性无疑是一个需要追求的希望。其中一个步骤是通过宣教学重建。这里的宣教不仅仅意味着传福音和邀请人们接受基督教,而是在一个背景下宣讲圣经,尤其是生态可持续性。因此,本文试图检视宣教学以争取生态可持续性。这种努力是一种理论分析,作者在其中追溯并建立了宣教学的背景。在实践中,采用的研究方法是图书馆对相关书刊的研究方法。研究结果表明,宣教学的构建可以促进生态的可持续性。这一建设有望为实践增加科学的讨论和实施建议。摘要/ abstract摘要:Di tengah krisis ecology yang semakin meningkat, kelestarian ecology tentu menjadi harapan yang perlu diupayakan。Salah satu langkah yang bisa dilakukan yitu melalui merekonstruksi misiologi。Misiologi di sini tidak hanya dimaksud sekedar penginjilan dan mengajak orang memeluk agama Kristen, melainkan mewartakan Injil secara nyata dalam konteks, khususnya kelestarian生态学。邓甘·德米克,阿蒂克尔,孟科巴,孟科巴,生物生态学,孟科巴,生物生态学。Usaha是一种基于数据分析的方法,它是基于数据分析的方法,是基于数据分析的方法。Dalam praktiknya, metode penelitian yang dilakukan yitu menggunakan metopenelitian pustaka terhadap, buku dan杂志。生态学的研究进展。在此基础上,我们讨论了经济发展与社会发展的关系。
{"title":"Misiologi untuk Mengupayakan Kelestarian Ekologis","authors":"Paulus Eko Kristianto","doi":"10.47543/efata.v9i2.125","DOIUrl":"https://doi.org/10.47543/efata.v9i2.125","url":null,"abstract":"Amid an increasing ecological crisis, ecological sustainability is certainly a hope that needs to be pursued. One of the steps that can be done is through missiology reconstruction. Missiology here does not only mean evangelism and inviting people to embrace Christianity but proclaiming the Bible in a context, especially ecological sustainability. Thus, this article tries to examine missiology to strive for ecological sustainability. This effort is a theoretical analysis in which the author traces and builds missiology to that context. In practice, the research method used is library research methods on related books and journals. The research results show that missiology can be constructed to promote ecological sustainability. This construction is expected to add scientific discussion and implementation proposals to practice. \u0000 \u0000 \u0000Abstrak \u0000Di tengah krisis ekologi yang semakin meningkat, kelestarian ekologis tentu menjadi harapan yang perlu diupayakan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan yaitu melalui merekonstruksi misiologi. Misiologi di sini tidak hanya dimaksud sekedar penginjilan dan mengajak orang memeluk agama Kristen, melainkan mewartakan Injil secara nyata dalam konteks, khususnya kelestarian ekologis. Dengan demikian, artikel ini mencoba meneropong misiologi untuk mengupayakan kelestarian ekologis. Usaha ini bersifat analisis teoritis di mana penulis menelusuri dan membangun misiologi ke konteks tersebut. Dalam praktiknya, metode penelitian yang dilakukan yaitu menggunakan metode penelitian pustaka terhadap buku dan jurnal terkait. Hasil penelitian diperoleh bahwa misiologi bisa dikonstruksi untuk mengupayakan kelestarian ekologis. Konstruksi ini diharapkan menambah diskusi keilmuan dan usulan implementasi ke praksis.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"33 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"83897832","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Paul's statement in Colossians 1:24 is interesting to analyze. The words "completing what is lacking in the afflictions of Christ" present believers with some difficulties. At first, these words reveal indirectly that there is a lack in the sufferings of Christ, that the effectiveness of our Lord's sufferings is limited, and that the purpose of redemption must be completed or accomplished through Paul's sufferings. The sufferings of Christ are perfect, sufficient to atone for the sins of mankind, and do not need to be completed. What needs to be completed or fulfilled is suffering to preach the Gospel about Christ, who died and was raised, so that many will know Him and the power of His Resurrection. This research will be studied by the descriptive qualitative method. First, this study aims to provide a theological answer to the meaning of “fulfilling what is lacking in the sufferings of Christ.” Second, it is given an essential meaning for every believer to live more and more earnestly in Christ because of the perfect atonement that Jesus made. Abstrak Pernyataan Paulus dalam Kolose 1:24 menjadi hal yang menarik untuk di analisis. Perkataan "melengkapkan apa yang kurang dalam penderitaan Kristus” menghadapkan orang percaya pada beberapa diskusi Nas. Sepintas nampaknya perkataan ini mengungkapkan secara tidak langsung bahwa ada kekurangan dalam penderitaan Kristus, bahwa keefektifan penderitaan Kristus itu terbatas dan tujuan penebusan harus dilengkapi atau diselesaikan melalui penderitaan Paulus. Penderitaan Kristus sudah sempurna, sudah cukup untuk menebus dosa manusia dan tidak perlu digenapkan lagi. Hal yang perlu digenapkan atau dipenuhkan adalah penderitaan demi mengabarkan Injil, tentang Kristus yang berinkarnasi menjadi manusia, mati menjadi korban tebusan dan telah dibangkitkan dari antara orang mati. sehingga banyak orang akan mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya. Penelitian ini akan dikaji secara metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, memberikan jawaban teologis terhadap makna “menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus.” Kedua, memberikan makna penting bagi setiap orang percaya untuk hidup makin lebih sungguh-sungguh dalam Kristus, karena penebusan yang sempurna yang dilakukan Yesus.
保罗在歌罗西书1章24节的陈述分析起来很有趣。“补上基督苦难所缺少的”这句话给信徒带来了一些困难。首先,这些话间接地表明基督的苦难是缺乏的,我们主的苦难的功效是有限的,救赎的目的必须通过保罗的苦难来完成或完成。基督所受的苦难是完全的,足以赎人的罪,不需要再成全。惟有受苦,传基督死而复活的福音,才能成全,叫许多人认识他,也知道他复活的大能。本研究将采用描述性定性方法进行研究。首先,本研究旨在为“补上基督苦难所欠缺的”的意义提供神学上的回答。其次,由于耶稣所作的完美的赎罪,它赋予每个信徒在基督里越来越认真地生活的重要意义。【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】“melengkapkan apa yang kurang dalam penderitaan Kristus”,“menghadapkan orang peraya pada beberapa diskusi Nas”。9月9日,我的女儿在我的女儿面前,我的女儿在我的女儿面前,我的女儿在我的女儿面前,我的女儿在我的女儿面前,我的女儿在我的女儿面前,我的女儿在我的女儿面前,我的女儿在我的女儿面前,我的女儿在我的女儿面前。彭德丽塔·克里斯塔斯·苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳,苏达森普纳。Hal yang perlu digenapkan atau dipenuhkan adalah penderitaan demi mengabarkan Injil, tentanstus yang berinkarnasi menjadi manusia, mati menjadi korban tebusan dantelah dibangkitkan dari antara orang mati。这是一种菩提树,是一种橙色的树,是一种红色的树。Penelitian的翻译结果:Penelitian的翻译结果:Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama,成员jawaban地质学家terhadap makna“menggenapkan apa yang kurang padpenderitaan Kristus”。Kedua,成员makna penting bagi seap orang peraya untuk hidup makin lebih sungguh sungguh dalam Kristus, karena penebusan yang sempurna yang dilakukan Yesus。
{"title":"Memaknai Frasa “Menggenapkan Apa yang Kurang pada Penderitaan Kristus”: Studi Teks Kolose 1:24","authors":"Paulus Kunto Baskoro, Yemima Setiasih","doi":"10.47543/efata.v9i2.110","DOIUrl":"https://doi.org/10.47543/efata.v9i2.110","url":null,"abstract":"Paul's statement in Colossians 1:24 is interesting to analyze. The words \"completing what is lacking in the afflictions of Christ\" present believers with some difficulties. At first, these words reveal indirectly that there is a lack in the sufferings of Christ, that the effectiveness of our Lord's sufferings is limited, and that the purpose of redemption must be completed or accomplished through Paul's sufferings. The sufferings of Christ are perfect, sufficient to atone for the sins of mankind, and do not need to be completed. What needs to be completed or fulfilled is suffering to preach the Gospel about Christ, who died and was raised, so that many will know Him and the power of His Resurrection. This research will be studied by the descriptive qualitative method. First, this study aims to provide a theological answer to the meaning of “fulfilling what is lacking in the sufferings of Christ.” Second, it is given an essential meaning for every believer to live more and more earnestly in Christ because of the perfect atonement that Jesus made. \u0000 \u0000 \u0000 \u0000Abstrak \u0000Pernyataan Paulus dalam Kolose 1:24 menjadi hal yang menarik untuk di analisis. Perkataan \"melengkapkan apa yang kurang dalam penderitaan Kristus” menghadapkan orang percaya pada beberapa diskusi Nas. Sepintas nampaknya perkataan ini mengungkapkan secara tidak langsung bahwa ada kekurangan dalam penderitaan Kristus, bahwa keefektifan penderitaan Kristus itu terbatas dan tujuan penebusan harus dilengkapi atau diselesaikan melalui penderitaan Paulus. Penderitaan Kristus sudah sempurna, sudah cukup untuk menebus dosa manusia dan tidak perlu digenapkan lagi. Hal yang perlu digenapkan atau dipenuhkan adalah penderitaan demi mengabarkan Injil, tentang Kristus yang berinkarnasi menjadi manusia, mati menjadi korban tebusan dan telah dibangkitkan dari antara orang mati. sehingga banyak orang akan mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya. Penelitian ini akan dikaji secara metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, memberikan jawaban teologis terhadap makna “menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus.” Kedua, memberikan makna penting bagi setiap orang percaya untuk hidup makin lebih sungguh-sungguh dalam Kristus, karena penebusan yang sempurna yang dilakukan Yesus.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"11 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"85697103","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}