Pub Date : 2023-02-19DOI: 10.59177/veritas.v5i1.205
Paulus Kunto Baskoro, P. Chia
Daniel is a real, not fictional, Bible character. Daniel is known as a loyal person and there is no cheating in him. Daniel became God declaring His sovereignty. Close relationship with God, total surrender of life, pious character, commitment to live truth, commitment to diligent worship, integrity, and strong faith are principles that should be applied in the life of every believer. The method used is descriptive literature method. Then the writer will use a dictionary or lexicon, special word study books, and other literature. This research will discuss Daniel’s Piety according to The Book of Daniel 6 : 1 – 29 and the Logical Implementation of Contemporary Believers in an effort to find the meaning of godliness. The purpose of this writing is First, the writer tries to find the true meaning of piety. Second, finding the meaning contained in Daniel’s piety according to the book of Daniel. Third, implementing a godly life for today’s believers.AbstrakDaniel adalah tokoh Alkitab yang nyata dan bukan fiksi. Daniel dikenal sebagai orang yang setia dan tidak ada kecurangan terdapat dalam dirinya. Daniel menjadi Allah menyatakan kedaulatan-Nya. Hubungan yang dekat dengan Tuhan, penyerahan hidup secara total, karakternya yang saleh, memiliki komitmen untuk hidup dalam kebenaran, komitmen untuk tekun beribadah, memiliki integritas, dan memiliki iman yang teguh merupakan prinsip-prinsip yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan setiap orang percaya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif literatur. Maka penulis akan menggunakan kamus atau leksikon, buku-buku khusus studi kata, dan literatur yang lainnya. Penelitian ini akan membahas tentang Kesalehan Daniel Menurut Kitab Daniel 6:1-29 dan Implementasi Logis Terhadap Orang Percaya Masa Kini dalam upaya menemukan arti kesalehan. Tujuan dalam penulisan ini adalah: Pertama, penulis berusaha menemukan arti sesungguhnya tentang kesalehan. Kedua, menemukan makna-makna yang terkandung dalam kesalehan Daniel menurut kitab Daniel. Ketiga, mengimplementasikan kehidupan yang saleh bagi orang percaya masa kini.
但以理是真实存在的,不是虚构的圣经人物。丹尼尔是出了名的忠诚的人,他没有欺骗。但以理成为神,宣告他的主权。与神亲密的关系、完全降服生命、虔诚的品格、委身于活出真理、委身于勤奋敬拜、正直和坚定的信心,这些都是每个信徒应该应用在生活中的原则。采用描述性文献法。然后作者会使用字典或词汇,专门的单词学习书籍和其他文献。本研究将根据《但以理书》6:1 - 29来讨论但以理的虔敬,以及当代信徒的逻辑执行,试图找到敬虔的意义。这篇文章的目的是:首先,作者试图找到虔诚的真正意义。第二,根据但以理书找到但以理虔诚的含义。第三,为今天的信徒实行敬虔的生活。摘要daniel adalah tokoh Alkitab yang nyata dan bukan fiksi。Daniel dikenal sebagai orang yang setitiak danecurangan terdapat dalam dirinya。Daniel menjadi Allah menyatakan kedaulatan-Nya。Hubungan yang dekat dengan Tuhan, penyerahan hidup secara total, karakternya yang saleh, memoriliki komitmen untuk hidup dalam kebenaran, komitmen untuk tekun beribadah, memoriliki integritas, danmemoriliki iman yang teguh merupakan prinsisip yang seharusnya diiterapkan dalam kehidupan setiap orang peraya。方法阳迪古纳坎阿达拉方法论述文献。Maka penulis akan menggunakan kamus atau leksikon, buku-buku khusus studi kata, dan literature杨兰妮亚。但以理书6:1-29但以理书6:1-29但以理书6:1-29但以理书6:1-29但以理书6:1-29Tujuan dalam penulisan ini adalah: Pertama, penulis berusaha menemukan arti sesungguhnya tentang kesalehan。Kedua, menemukan makna-makna yang terkandung dalam kesalehan Daniel menuut kitab Daniel。Ketiga, mengimplementaskan kehidupan yang saleh bagi橙色peraya masa kini。
{"title":"Deskriptif Kesalehan Daniel dalam Kitab Daniel 6:1-29 dan Implementasi dan Refleksi Logis bagi Orang Percaya Masa Kini","authors":"Paulus Kunto Baskoro, P. Chia","doi":"10.59177/veritas.v5i1.205","DOIUrl":"https://doi.org/10.59177/veritas.v5i1.205","url":null,"abstract":"Daniel is a real, not fictional, Bible character. Daniel is known as a loyal person and there is no cheating in him. Daniel became God declaring His sovereignty. Close relationship with God, total surrender of life, pious character, commitment to live truth, commitment to diligent worship, integrity, and strong faith are principles that should be applied in the life of every believer. The method used is descriptive literature method. Then the writer will use a dictionary or lexicon, special word study books, and other literature. This research will discuss Daniel’s Piety according to The Book of Daniel 6 : 1 – 29 and the Logical Implementation of Contemporary Believers in an effort to find the meaning of godliness. The purpose of this writing is First, the writer tries to find the true meaning of piety. Second, finding the meaning contained in Daniel’s piety according to the book of Daniel. Third, implementing a godly life for today’s believers.AbstrakDaniel adalah tokoh Alkitab yang nyata dan bukan fiksi. Daniel dikenal sebagai orang yang setia dan tidak ada kecurangan terdapat dalam dirinya. Daniel menjadi Allah menyatakan kedaulatan-Nya. Hubungan yang dekat dengan Tuhan, penyerahan hidup secara total, karakternya yang saleh, memiliki komitmen untuk hidup dalam kebenaran, komitmen untuk tekun beribadah, memiliki integritas, dan memiliki iman yang teguh merupakan prinsip-prinsip yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan setiap orang percaya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif literatur. Maka penulis akan menggunakan kamus atau leksikon, buku-buku khusus studi kata, dan literatur yang lainnya. Penelitian ini akan membahas tentang Kesalehan Daniel Menurut Kitab Daniel 6:1-29 dan Implementasi Logis Terhadap Orang Percaya Masa Kini dalam upaya menemukan arti kesalehan. Tujuan dalam penulisan ini adalah: Pertama, penulis berusaha menemukan arti sesungguhnya tentang kesalehan. Kedua, menemukan makna-makna yang terkandung dalam kesalehan Daniel menurut kitab Daniel. Ketiga, mengimplementasikan kehidupan yang saleh bagi orang percaya masa kini.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"15 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"91171544","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-19DOI: 10.59177/veritas.v5i1.203
Stefanus Yulli Sapto Ajie
Incarnation in writing this journal refers to the figure of the existence of Jesus Christ either personally the Lord Jesus or the work of the Lord Jesus. The essence of incarnation in the Lord Jesus Christ is understood according to John 1:14, the Lord Jesus as God the Son descended into the world to become human and then became the human savior, serving, training and forming human beings who have lost the image and likeness of God, to become similar and likeness to God again. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it is found that the incarnation as the basis for the development of pastoral leadership based on John 1:14 and Philippians 2:5-11 has the highest motive, commitment, behavior and actions of Jesus, who was incarnated into a human context. Jesus did not become an authoritarian leader, but led with love, humility, integrity and a servant's heart. Jesus' leadership is ministry-based, so nothing is personal gain.AbstrakInkarnasi dalam penulisan jurnal ini menunjuk kepada sosok kepada keberadaan Yesus Kristus baik secara pribadi Tuhan Yesus atau karya Tuhan Yesus. Hakekat inkarnasi dalam diri Tuhan Yesus Kristus dipahami menurut Yohanes 1:14, Tuhan Yesus sebagai Allah Anak turun kedunia menjadi manusia kemudian menjadi juru selamat manusia, melayani, melatih dan membentuk manusia yang kehilangan gambar dan rupa Allah, menjadi kembali serupa dan segambar dengan Allah. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature didapatka bahwa inkarnasi sebagai dasar pengembangan kepemimpinan gembala sidang berdasarkan Yohanes 1:14 dan Filipi 2:5-11 memiliki Motif tertinggi, komitmen, perilaku dan tindakan Yesus, yang berinkarnasi ke dalam konteks manusia. Yesus tidak menjadi seseorang pemimpin yang otoriter, melainkan memimpin dengan kasih, kerendahan hati, integritas serta berhati hamba. Kepemimpinan Yesus berbasis pelayanan, sehingga tidak ada hal yang bersifat menguntungkan pribadi.
在写这本日记时,道成肉身指的是耶稣基督存在的形象,要么是主耶稣本人,要么是主耶稣的工作。主耶稣基督道成肉身的本质是根据约翰福音1:14来理解的,主耶稣作为神的儿子降世成为人类,然后成为人类的救主,服侍、训练和塑造失去了神的形象和样式的人类,使他们再次变得与神相似和相似。采用描述性定性方法和文献研究法,根据约翰福音1:14和腓立比书2:5-11,发现道成肉身作为牧师领导发展的基础,具有耶稣道成肉身进入人类环境的最高动机、承诺、行为和行动。耶稣没有成为一个专制的领袖,而是用爱、谦卑、正直和仆人的心来领导。耶稣的领导是以事工为基础的,所以没有什么是个人的利益。[摘要]〔摘要〕中国科学院科学院期刊《中国科学院科学院学报》(inkarnasi dalam penulisjournal)。Hakekat inkarnasi dalam diri Tuhan Yesus Kristus dipahami menurut Yohanes 1:14, Tuhan Yesus sebagai Allah Anak turun kedunia menjadi manusia kemudian menjadi juru selamat manusia, melayani, melatih dan membentuk manusia yang kehilangan gambar dan rupa Allah, menjadi kembali serupa dan segambar dengan Allah。孟unakan方法,素质研究,文学didapatka bahwa inkarnasi sebagai dasar pengembangan kepemimpinan gembala sidang berdasarkan Yohanes 1:14 dan Filipi 2:5-11 memiliki Motif tertinggi, komitmen, peraku dan tindakan Yesus, yang berinkarnasi ke dalam konteks手稿。Yesus tidak menjadi sesseseang pemimpin yang, melainkan memimpin dengan kasih, kerendahan hati, integritas serta berhati hamba。keep emimpinan Yesus berbasis pelayanan, sehinga tidak ada hal yang bersifat menguntunkan pribadi。
{"title":"Inkarnasi Sebagai Dasar Pengembangan Kepemimpinan Gembala Sidang Berdasarkan Yohanes 1:14 Dan Filipi 2:5-11","authors":"Stefanus Yulli Sapto Ajie","doi":"10.59177/veritas.v5i1.203","DOIUrl":"https://doi.org/10.59177/veritas.v5i1.203","url":null,"abstract":"Incarnation in writing this journal refers to the figure of the existence of Jesus Christ either personally the Lord Jesus or the work of the Lord Jesus. The essence of incarnation in the Lord Jesus Christ is understood according to John 1:14, the Lord Jesus as God the Son descended into the world to become human and then became the human savior, serving, training and forming human beings who have lost the image and likeness of God, to become similar and likeness to God again. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it is found that the incarnation as the basis for the development of pastoral leadership based on John 1:14 and Philippians 2:5-11 has the highest motive, commitment, behavior and actions of Jesus, who was incarnated into a human context. Jesus did not become an authoritarian leader, but led with love, humility, integrity and a servant's heart. Jesus' leadership is ministry-based, so nothing is personal gain.AbstrakInkarnasi dalam penulisan jurnal ini menunjuk kepada sosok kepada keberadaan Yesus Kristus baik secara pribadi Tuhan Yesus atau karya Tuhan Yesus. Hakekat inkarnasi dalam diri Tuhan Yesus Kristus dipahami menurut Yohanes 1:14, Tuhan Yesus sebagai Allah Anak turun kedunia menjadi manusia kemudian menjadi juru selamat manusia, melayani, melatih dan membentuk manusia yang kehilangan gambar dan rupa Allah, menjadi kembali serupa dan segambar dengan Allah. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature didapatka bahwa inkarnasi sebagai dasar pengembangan kepemimpinan gembala sidang berdasarkan Yohanes 1:14 dan Filipi 2:5-11 memiliki Motif tertinggi, komitmen, perilaku dan tindakan Yesus, yang berinkarnasi ke dalam konteks manusia. Yesus tidak menjadi seseorang pemimpin yang otoriter, melainkan memimpin dengan kasih, kerendahan hati, integritas serta berhati hamba. Kepemimpinan Yesus berbasis pelayanan, sehingga tidak ada hal yang bersifat menguntungkan pribadi.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"26 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"81545441","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-15DOI: 10.59177/veritas.v5i1.197
Ayub Rusmanto, Kerin Rajagukguk, S. Sriwahyuni
Giving thanks is a positive attitude of believers who have received God's grace. This study explores the perception of giving thanks for God's grace based on the text of 1 Corinthians 1:4-9. In Paul's letter this helps strengthen, and evaluate the way of life of Christians in Corinth. Paul gave thanks based on the fact that he knew salvation came entirely from God. It is God who calls His people from spiritual death into His salvation. The method used in this research is descriptive qualitative method to explain how the text of 1 Corinthians 1:4-9 is aimed at helping to strengthen and evaluate the way of life of Corinthian Christians and Christians today. The result of the research is that Corinthian Christians have been called by God and can have confidence and know that it is God who calls for the grace that He has bestowed in Christ Jesus. Besides that, giving thanks for God's grace The congregation in Corinth is still relevant in the lives of today's believers.AbstrakMengucap syukur adalah sikap positif orang percaya yang telah menerima kasih karunia Tuhan. Penelitian ini menelusuri persepsi mengucap syukur atas kasih karunia Allah berdasarkan teks 1 Korintus 1:4-9.Dalam surat Paulus ini membantu menguatkan, dan mengevaluasi cara hidup orang Kristen di Korintus. Paulus mengucap syukur didasarkan pada fakta bahwa dia tahu keselamatan sepenuhnya berasal dari Allah. Allahlah yang memanggil umat-Nya dari kematian rohani kedalam keselamatan-Nya. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode kualitatif deskreptif untuk memaparkan bagaimana teks 1 Korintus 1:4-9 di tujukan membantu menguatkan dan mengevaluasi cara hidup orang Kristen Korintus dan orang Kristen masa kini. Hasil penelitian bahwa orang Kristen Korintus telah dipanggil oleh Allah dan dapat memiliki keyakinan dan mengetahui bahwa Allahlah yang memanggil atas kasih karunia yang telah dianugerahkan-Nya dalam Kristus Yesus. Selain itu, mengucap syukur atas kasih karunia Allah Jemaat di Korintus masih relevan dalam kehidupan orang percaya masa kini.
感恩是接受神恩典的信徒的积极态度。本研究以哥林多前书1:4-9为基础,探讨为神的恩典感恩的概念。在保罗的信中,这有助于加强和评估哥林多基督徒的生活方式。保罗感恩是因为他知道救恩完全是从神而来。是神呼召他的百姓脱离属灵的死亡,进入他的救恩。本研究中使用的方法是描述性定性方法来解释哥林多前书1:4-9的文本如何旨在帮助加强和评估哥林多基督徒和今天基督徒的生活方式。研究的结果是哥林多的基督徒已经被神呼召,并且可以有信心,并且知道是神在呼召他在基督耶稣里所赐的恩典。除此之外,感谢神的恩典哥林多教会对今天信徒的生活仍然有意义。【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】【摘要】神是神的神,神是神的神,神是神的神。哥林多前书1:4-9。Dalam surat Paulus ini menbantu menguatkan, dan mengevaluasi cara hidup和Kristen di Korintus。保卢斯·蒙古卡普·苏库尔·迪达萨坎·帕达·费克塔·巴瓦·迪达尔·塔乌斯·克塞勒·马坦·巴托尔·阿达尔·安拉。安拉yang memanggil umat-Nya dari kematian rohani kedalam keselamatan-Nya。中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:中文翻译:哈希尔penelitian bahwa orang Kristen Korintus telah dipanggil oleh安拉,dandapat memiliki keyakinan danmengetahui bahwa安拉,杨memanggil atas kashih karunia杨telah dianugerahkan-Nya dalam克里斯特斯耶苏斯。Selain itu, mengucap syukur, as kasih karunia Allah Jemaat di Korintus, masih相关性,dalam kehidupan or peraya masa kini。
{"title":"Persepsi Mengucap Syukur Atas Kasih Karunia Allah Berdasarkan Teks 1 Korintus 1:4-9","authors":"Ayub Rusmanto, Kerin Rajagukguk, S. Sriwahyuni","doi":"10.59177/veritas.v5i1.197","DOIUrl":"https://doi.org/10.59177/veritas.v5i1.197","url":null,"abstract":"Giving thanks is a positive attitude of believers who have received God's grace. This study explores the perception of giving thanks for God's grace based on the text of 1 Corinthians 1:4-9. In Paul's letter this helps strengthen, and evaluate the way of life of Christians in Corinth. Paul gave thanks based on the fact that he knew salvation came entirely from God. It is God who calls His people from spiritual death into His salvation. The method used in this research is descriptive qualitative method to explain how the text of 1 Corinthians 1:4-9 is aimed at helping to strengthen and evaluate the way of life of Corinthian Christians and Christians today. The result of the research is that Corinthian Christians have been called by God and can have confidence and know that it is God who calls for the grace that He has bestowed in Christ Jesus. Besides that, giving thanks for God's grace The congregation in Corinth is still relevant in the lives of today's believers.AbstrakMengucap syukur adalah sikap positif orang percaya yang telah menerima kasih karunia Tuhan. Penelitian ini menelusuri persepsi mengucap syukur atas kasih karunia Allah berdasarkan teks 1 Korintus 1:4-9.Dalam surat Paulus ini membantu menguatkan, dan mengevaluasi cara hidup orang Kristen di Korintus. Paulus mengucap syukur didasarkan pada fakta bahwa dia tahu keselamatan sepenuhnya berasal dari Allah. Allahlah yang memanggil umat-Nya dari kematian rohani kedalam keselamatan-Nya. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode kualitatif deskreptif untuk memaparkan bagaimana teks 1 Korintus 1:4-9 di tujukan membantu menguatkan dan mengevaluasi cara hidup orang Kristen Korintus dan orang Kristen masa kini. Hasil penelitian bahwa orang Kristen Korintus telah dipanggil oleh Allah dan dapat memiliki keyakinan dan mengetahui bahwa Allahlah yang memanggil atas kasih karunia yang telah dianugerahkan-Nya dalam Kristus Yesus. Selain itu, mengucap syukur atas kasih karunia Allah Jemaat di Korintus masih relevan dalam kehidupan orang percaya masa kini.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"47 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"80599634","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-15DOI: 10.59177/veritas.v5i1.195
Eko Nugroho, Vendyah Trisnaningtyas, Steven Tommy Dalekes Umboh
This article aims to explore the meaning of Refection which means “Mirror/Reflection”, provide an analysis of it and provide a description of the function of Reflection in Christian life. In writing this scientific paper, the researcher uses a qualitative descriptive method by collecting data from books, journal articles, and from the author's observations while serving the family and work community. The description in this article shows that there is power in doing Reflection on the Christian life in a real way by being doers of God's Word. The conclusion is found that it is biblically stated that reflection is exemplified by the Lord Jesus Christ himself in parables in each of his sermons and is also carried out by biblical figures in determining the choice of a way of life that is in accordance with God's Word. Reflection proves that the power of God's Word is able to bring people to introspect themselves by understanding God's will in every journey of life, so that they get results or fruit that are beyond human expectations, because it is written that what is sown is what is reaped. In other words, reflection is a part of life's reflection in doing according to the will of God's Word and living it, the Holy Spirit who enables understanding and faith that makes miracles happen when reflection is done with high self-awareness.AbstrakArtikel ini bertujuan mendalami makna dari reflection yang berarti “cermin/pantulan”, memberikan analisis terhadapnya dan memberikan deskripsi fungsi dari Reflection dalam kehidupan Kekristenan. Dalam penulisan karya ilmiah ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pegumpulan data dari buku, artikel jurnal, dan dari pengamatan penulis selama melayani komunitas keluarga dan pekerjaan. Uraian pada artikel ini menunjukkan ada kekuatan dalam melakukan reflection (cermin/pantulan) pada kehidupan Kekristenan secara nyata dengan menjadi pelaku Firman Tuhan. Hasil simpulan ditemukan bahwa secara Alkitabiah menyatakan bahwa reflection dicontohkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri dalam perumpamaan dalam setiap kotbah-Nya dan dilakukan pula oleh para tokoh Alkitab dalam menetapkan pilihan jalan hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan. Reflection membuktikan bahwa kekuatan Firman Allah mampu membawa manusia menginstrospeksi diri dengan cara memahami kehendak Tuhan dalam setiap perjalanan hidup, sehingga memperoleh hasil atau buah yang diluar ekspektasi manusia itu sendiri, karena ada tertulis apa yang di tabur itulah yang dituai. Dengan kata lain reflection merupakan bagian cerminan hidup dalam melakukan sesuai kehendak Firman Allah dan menghidupinya, Roh Kudus yang memampukan untuk memahami dan iman yang membuat mujizat terjadi saat reflection dilakukan dengan kesadaran diri yang tinggi.
本文旨在探讨反思的意义,即“镜子/反思”,对其进行分析,并描述反思在基督徒生活中的作用。在撰写这篇科学论文时,研究人员通过从书籍,期刊文章和作者在为家庭和工作社区服务时的观察中收集数据,使用定性描述方法。这篇文章的描述表明,以一种真实的方式反思基督徒的生活,成为神话语的实行者,是有能力的。结论是,圣经中指出,主耶稣基督在每次讲道中都用比喻来说明反思,并且圣经中的人物在决定选择一种符合上帝话语的生活方式时也进行了反思。省思证明神话语的大能,能使人在人生的每一段旅程中,藉著明白神的旨意,来省察自己,使人得到超乎预期的结果或果子,因为经上记著说,种的是什么,收的就是什么。换句话说,反思是生活反思的一部分,按照神的话的旨意去做,并按照神的话去生活,圣灵使我们有理解和信心,当我们带着高度的自我意识去反思时,奇迹就会发生。摘要:artikel ini bertujuan mendalami makna dari reflection yang berarti“cermin/pantulan”,memberkan analysis terhadapnya, memberikkan deskripsi fungsi dari reflection dalam kehidupan kekristan。[3][中国科学院学报,中国科学院学报,中国科学院学报,中国科学院学报。]Uraian pada artikel ini menunjukkan ada kekuatan dalam melakukan reflection (cermin/pantulan) pada kehidupan kekristan secara nyata dengan menjadi pelaku Firman Tuhan。哈西尔simpulan ditemukan bahwa secara Alkitabiah menyatakan bahwa reflection dicontohkan oleh Tuhan Yesus us sendiri dalam perumpamaan dalam sehiap koha - nya dan dilakukan pula oleh parha alkitabam menetapkan pilihan jalan hidup yang sesuan dengan Firman Tuhan。反射membuktikan bahwa kekuatan Firman安拉·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·曼普·····Dengan型躺反射merupakan bagian cerminan hidup dalam melakukan sesuai kehendak诏书真主dan menghidupinya卢武铉捻角羚杨memampukan为她memahami丹杨伊曼membuat mujizat terjadi种子反射dilakukan Dengan kesadaran diri杨丁宜受困。
{"title":"Deskriptif Jalan Sempit Dalam Matius 7:13-14: Suatu Refleksi Teologi Bagi Kekristenan","authors":"Eko Nugroho, Vendyah Trisnaningtyas, Steven Tommy Dalekes Umboh","doi":"10.59177/veritas.v5i1.195","DOIUrl":"https://doi.org/10.59177/veritas.v5i1.195","url":null,"abstract":"This article aims to explore the meaning of Refection which means “Mirror/Reflection”, provide an analysis of it and provide a description of the function of Reflection in Christian life. In writing this scientific paper, the researcher uses a qualitative descriptive method by collecting data from books, journal articles, and from the author's observations while serving the family and work community. The description in this article shows that there is power in doing Reflection on the Christian life in a real way by being doers of God's Word. The conclusion is found that it is biblically stated that reflection is exemplified by the Lord Jesus Christ himself in parables in each of his sermons and is also carried out by biblical figures in determining the choice of a way of life that is in accordance with God's Word. Reflection proves that the power of God's Word is able to bring people to introspect themselves by understanding God's will in every journey of life, so that they get results or fruit that are beyond human expectations, because it is written that what is sown is what is reaped. In other words, reflection is a part of life's reflection in doing according to the will of God's Word and living it, the Holy Spirit who enables understanding and faith that makes miracles happen when reflection is done with high self-awareness.AbstrakArtikel ini bertujuan mendalami makna dari reflection yang berarti “cermin/pantulan”, memberikan analisis terhadapnya dan memberikan deskripsi fungsi dari Reflection dalam kehidupan Kekristenan. Dalam penulisan karya ilmiah ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pegumpulan data dari buku, artikel jurnal, dan dari pengamatan penulis selama melayani komunitas keluarga dan pekerjaan. Uraian pada artikel ini menunjukkan ada kekuatan dalam melakukan reflection (cermin/pantulan) pada kehidupan Kekristenan secara nyata dengan menjadi pelaku Firman Tuhan. Hasil simpulan ditemukan bahwa secara Alkitabiah menyatakan bahwa reflection dicontohkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri dalam perumpamaan dalam setiap kotbah-Nya dan dilakukan pula oleh para tokoh Alkitab dalam menetapkan pilihan jalan hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan. Reflection membuktikan bahwa kekuatan Firman Allah mampu membawa manusia menginstrospeksi diri dengan cara memahami kehendak Tuhan dalam setiap perjalanan hidup, sehingga memperoleh hasil atau buah yang diluar ekspektasi manusia itu sendiri, karena ada tertulis apa yang di tabur itulah yang dituai. Dengan kata lain reflection merupakan bagian cerminan hidup dalam melakukan sesuai kehendak Firman Allah dan menghidupinya, Roh Kudus yang memampukan untuk memahami dan iman yang membuat mujizat terjadi saat reflection dilakukan dengan kesadaran diri yang tinggi.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"37 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"88008772","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-15DOI: 10.59177/veritas.v5i1.202
H. Subagyo
There are still many Christian families today who are unhappy because they do not understand how to manage a Biblical family. Psalm 127 gives guidance to today's families on how to manage a happy family life according to God's will. Family life without involving God in it will not experience happiness. The method used in this study is a qualitative descriptive method. In conclusion, everything that does not involve God will end in vain. God is the ultimate authority in the lives of His people. A family that involves God's authority is a happy family because God is also working in it and He will act to bring joy to the family.AbstrakMasih banyak dijumpai kehidupan keluarga kristen masa kini yang tidak bahagia karena mereka belum paham bagaimana mengelola sebuah keluarga yang Alkitabiah.Mazmur 127 memberi petujuk pada keluarga masa kini bagaimana cara mengelola kehidupan keluarga bahagia menurut kehendak Tuhan. Kehidupan keluarga tanpa melibatkan Tuhan didalamnya tidak akan mengalami kebahagiaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskritif kualitatif. Kesimpulan, segala sesuatu yang tidak melibatkan Tuhan akan berakhir dengan sia-sia. Tuhan adalah otoritas tertinggi dalam kehidupan umat-Nya. Keluarga yang melibatkan otoritas Allah adalah keluarga bahagia karena Allah turut bekerja di dalamnya dan Dia akan bertindak untuk mendatangkan sukacita dalam keluarga.
{"title":"Deskripsi Mazmur 127:1-5 dan Implementasinya pada Kehidupan Keluarga Masa Kini","authors":"H. Subagyo","doi":"10.59177/veritas.v5i1.202","DOIUrl":"https://doi.org/10.59177/veritas.v5i1.202","url":null,"abstract":"There are still many Christian families today who are unhappy because they do not understand how to manage a Biblical family. Psalm 127 gives guidance to today's families on how to manage a happy family life according to God's will. Family life without involving God in it will not experience happiness. The method used in this study is a qualitative descriptive method. In conclusion, everything that does not involve God will end in vain. God is the ultimate authority in the lives of His people. A family that involves God's authority is a happy family because God is also working in it and He will act to bring joy to the family.AbstrakMasih banyak dijumpai kehidupan keluarga kristen masa kini yang tidak bahagia karena mereka belum paham bagaimana mengelola sebuah keluarga yang Alkitabiah.Mazmur 127 memberi petujuk pada keluarga masa kini bagaimana cara mengelola kehidupan keluarga bahagia menurut kehendak Tuhan. Kehidupan keluarga tanpa melibatkan Tuhan didalamnya tidak akan mengalami kebahagiaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskritif kualitatif. Kesimpulan, segala sesuatu yang tidak melibatkan Tuhan akan berakhir dengan sia-sia. Tuhan adalah otoritas tertinggi dalam kehidupan umat-Nya. Keluarga yang melibatkan otoritas Allah adalah keluarga bahagia karena Allah turut bekerja di dalamnya dan Dia akan bertindak untuk mendatangkan sukacita dalam keluarga.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"9 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"74749998","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-15DOI: 10.59177/veritas.v5i1.193
Zakaria Zakaria, Urbanus Urbanus
The Church's View on Divorce and Polygamy Amidst Various Views of Christian Ethics must be a serious concern so that Divorce and Polygamy can be understood properly and no problems occur in the future. The emergence of various Christian ethical views on divorce and polygamy has advanced Christians to be able to make wise decisions regarding divorce and polygamy that often occur among Christians. The method used in this study is a qualitative method, which means the author analyzes data from books or other literature. The results or conclusions of this research are First, Christian marriage is once for a lifetime, second, the Church's Teachings Should be Realistic and Biblical, specifically on Divorce and Polygamy, third, the longevity of marriage is a big and new challenge for all couples, and fourth, Marriage in Christian teachings is a Christian ceremony that must be respected because God has united and blessed them.AbstrakPadangan Gereja tentang perceraian hidup dan Poligami ditengah berbagai pandangan Etika Kristen harus menjadi perhatian yang serius supaya Perceraian hidup dan Poligami dapat dipahami dengan baik serta tidak terjadi masalah dikemudian hari. Munculnya berbagai pandangan etika Kristen tentang perceraian dan poligami memaju orang Kristen untuk dapat mengambil keputusan yang bijak terhadap perceraian hidup dan Poligami yang sering terjadi di kalangan orang Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yang artinya penulis menganalisis data dari buku atau kepustakaan lainya. Sebagai hasil atau kesimpulan dari Penelitian ini adalah pertama, Perkawinan Kristen adalah sekali untuk seumur hidup, kedua, Ajaran Gereja Semestinya Realistis dan Alkitabiah secara khusus terhadap Perceraian dan Poligami, ketiga, lama keberlangsungan penikahan merupakan tantangan besar dan baru untuk semua pasangan, dan keempat, Pernikahan dalam ajaran Kristen merupakan upacara Masehi yang harus dihormati karena Allah yang telah mempersatukan serta memberkatinya.
在基督教伦理的各种观点中,教会对离婚和一夫多妻制的看法必须得到认真的关注,这样离婚和一夫多妻制才能得到正确的理解,将来不会出现问题。关于离婚和一夫多妻制的各种基督教伦理观点的出现,使基督徒能够对经常发生在基督徒中的离婚和一夫多妻制做出明智的决定。本研究使用的方法是定性方法,即作者从书籍或其他文献中分析数据。本研究的结果或结论是:第一,基督徒的婚姻是一生一次;第二,教会的教导应该是现实的和符合圣经的,特别是关于离婚和一夫多妻制;第三,婚姻的长寿对所有夫妇来说都是一个巨大的新挑战;第四,基督教教义中的婚姻是一个必须受到尊重的基督教仪式,因为上帝已经联合并祝福了他们。摘要:padangan gerejan tentenan perperup dan Poligami ditengah berbagai pandangan Etika Kristen harus menjadi perhatian yang serius supaya perangan hidup dan Poligami dapat dipahami dengan baik serta tiak terjadi masalah dikemudian hari。Munculnya berbagai pandangan etika Kristen tentang perian dan poligami memaju orang Kristen untuk dapat mengambil keputusan yang bijak perchup danpoligami yang sering terjadi di kalangan orangang Kristen。方法杨迪库纳肯的dalam penelitian ini adalah方法定性,杨迪库纳肯的penelitian分析数据dari buku atau kepustakaan lainya。我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是我的意思。
{"title":"Pandangan Gereja Tentang Perceraian Hidup dan Poligami di Tengah Berbagai Pandangan Etika Kristen","authors":"Zakaria Zakaria, Urbanus Urbanus","doi":"10.59177/veritas.v5i1.193","DOIUrl":"https://doi.org/10.59177/veritas.v5i1.193","url":null,"abstract":"The Church's View on Divorce and Polygamy Amidst Various Views of Christian Ethics must be a serious concern so that Divorce and Polygamy can be understood properly and no problems occur in the future. The emergence of various Christian ethical views on divorce and polygamy has advanced Christians to be able to make wise decisions regarding divorce and polygamy that often occur among Christians. The method used in this study is a qualitative method, which means the author analyzes data from books or other literature. The results or conclusions of this research are First, Christian marriage is once for a lifetime, second, the Church's Teachings Should be Realistic and Biblical, specifically on Divorce and Polygamy, third, the longevity of marriage is a big and new challenge for all couples, and fourth, Marriage in Christian teachings is a Christian ceremony that must be respected because God has united and blessed them.AbstrakPadangan Gereja tentang perceraian hidup dan Poligami ditengah berbagai pandangan Etika Kristen harus menjadi perhatian yang serius supaya Perceraian hidup dan Poligami dapat dipahami dengan baik serta tidak terjadi masalah dikemudian hari. Munculnya berbagai pandangan etika Kristen tentang perceraian dan poligami memaju orang Kristen untuk dapat mengambil keputusan yang bijak terhadap perceraian hidup dan Poligami yang sering terjadi di kalangan orang Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yang artinya penulis menganalisis data dari buku atau kepustakaan lainya. Sebagai hasil atau kesimpulan dari Penelitian ini adalah pertama, Perkawinan Kristen adalah sekali untuk seumur hidup, kedua, Ajaran Gereja Semestinya Realistis dan Alkitabiah secara khusus terhadap Perceraian dan Poligami, ketiga, lama keberlangsungan penikahan merupakan tantangan besar dan baru untuk semua pasangan, dan keempat, Pernikahan dalam ajaran Kristen merupakan upacara Masehi yang harus dihormati karena Allah yang telah mempersatukan serta memberkatinya.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"44 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"83082382","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penting untuk memahami arti kata sepadan karena persoalan di seputar laki-laki dan perempuan, suami dan isteri bukanlah sesuatu yang baru karena telah terjadi sejak kejatuhan manusia dalam dosa sebagaimana dijelaskan dalam Kejadian 3. tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan makna kata "sepadan" dalam Kejadian 2:18 sebagai pedoman bagi relasi suami-isteri dalam keluarga kristen. Dalam mengkaji topik ini metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan eksegese teks Kejadian 2:18. Kesimpulan: menjadi "sepadan" tidak hanya bergantung pada satu pribadi tertentu saja melainkan memerlukan peranan dari semua aspek yang ada di dalamnya baik sebagai seorang suami (laki-laki), perempuan (isteri), dan anak-anak sehingga menjadi satu keluarga yang utuh secara khusus dalam konteks sebagai keluarga kristen.
{"title":"Makna kata “sepadan” dalam Kejadian 2:18 sebagai Pedoman bagi Relasi Suami-Istri dalam Keluarga Kristen","authors":"Agustina Pasang","doi":"10.47543/efata.v9i1.81","DOIUrl":"https://doi.org/10.47543/efata.v9i1.81","url":null,"abstract":"Penting untuk memahami arti kata sepadan karena persoalan di seputar laki-laki dan perempuan, suami dan isteri bukanlah sesuatu yang baru karena telah terjadi sejak kejatuhan manusia dalam dosa sebagaimana dijelaskan dalam Kejadian 3. tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan makna kata \"sepadan\" dalam Kejadian 2:18 sebagai pedoman bagi relasi suami-isteri dalam keluarga kristen. Dalam mengkaji topik ini metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan eksegese teks Kejadian 2:18. Kesimpulan: menjadi \"sepadan\" tidak hanya bergantung pada satu pribadi tertentu saja melainkan memerlukan peranan dari semua aspek yang ada di dalamnya baik sebagai seorang suami (laki-laki), perempuan (isteri), dan anak-anak sehingga menjadi satu keluarga yang utuh secara khusus dalam konteks sebagai keluarga kristen.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"94 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-01-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"75957961","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Dunia ada dalam kondisi krisis lingkungan, bencana dan berbagai problematika yang menyentuh kepada kepentingan hidup orang banyak. Dalam hal ini Alkitab menguak tentang keserupaan dengan Allah menjadi wujud tanggungjawab untuk persoalan tersebut. Di dalam keserupaan dengan Allah, dijumpai sebuah mandate tanggungjawab pemeliharaan alam kepada keturunan berikutnya dan salah satu pelaksanaan yang dapat dilaksanakan adalah melalui ecopedagogy. Era society menarik maju manusia dalam sebuah perkembangan tehnologi yang tidak dapat dihindarkan, dan pelestarian terhadap lingkungan menjadi tugas pendidikan generasi yang mempengaruhi kenyamanan “rumah”dimana kita tinggal. Dengan metode penelitian kepustakaan, artikel ini memaparkan ecopedagogy sebagai pelaksanaan tugas keserupaan dengan Allah yang mampu menjadi sebagian jawaban terhadap permasalah ekologi masa kini.
{"title":"Ekopedagogi sebagai Fungsi Praksis Imago Dei dalam Menjaga dan Merawat Lingkungan","authors":"Agustin Soewitomo Putri","doi":"10.47543/efata.v9i1.82","DOIUrl":"https://doi.org/10.47543/efata.v9i1.82","url":null,"abstract":"Dunia ada dalam kondisi krisis lingkungan, bencana dan berbagai problematika yang menyentuh kepada kepentingan hidup orang banyak. Dalam hal ini Alkitab menguak tentang keserupaan dengan Allah menjadi wujud tanggungjawab untuk persoalan tersebut. Di dalam keserupaan dengan Allah, dijumpai sebuah mandate tanggungjawab pemeliharaan alam kepada keturunan berikutnya dan salah satu pelaksanaan yang dapat dilaksanakan adalah melalui ecopedagogy. Era society menarik maju manusia dalam sebuah perkembangan tehnologi yang tidak dapat dihindarkan, dan pelestarian terhadap lingkungan menjadi tugas pendidikan generasi yang mempengaruhi kenyamanan “rumah”dimana kita tinggal. Dengan metode penelitian kepustakaan, artikel ini memaparkan ecopedagogy sebagai pelaksanaan tugas keserupaan dengan Allah yang mampu menjadi sebagian jawaban terhadap permasalah ekologi masa kini.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"75 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-01-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"90653169","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-31DOI: 10.36421/veritas.v21i2.577
J. Simon
How to understand apocalyptic in the current COVID-19 pandemic? This is the question as well as the significance of the problem to be answered. Is it based on Jürgen Moltmann’s theological opinion through his “adventus” and emphasizes divine transcendence, or based on Slavoj Žižek’s opinion, which is “Christian materialism,” which rejects divine transcendence? By using a comparative-analytical method and qualitative research, this paper aims to find meaning that is found through the encounter between Moltmann’s idea of adventus and Zižek’s suggestion to build a new community through “resistance.” The result is that the COVID-19 pandemic is a resistant apocalyptic narrative about “What is to Come” as an adventus that exceeds the normal and surprising, as well as resistance to finding a new cosmic community model in an effort to live a new life in the new normal era. The order of discussion is as follows. First, Moltmann's apocalyptic thinking will be presented. Second, Žižek’s apocalyptic thinking will be presented. Third, the meeting points and relevance for apocalyptic resistance will be presented in the context of the current pandemic.
{"title":"Resistant Apocalyptic: Comparing Moltmann and Žižek and Its Relevance during the Pandemic","authors":"J. Simon","doi":"10.36421/veritas.v21i2.577","DOIUrl":"https://doi.org/10.36421/veritas.v21i2.577","url":null,"abstract":"How to understand apocalyptic in the current COVID-19 pandemic? This is the question as well as the significance of the problem to be answered. Is it based on Jürgen Moltmann’s theological opinion through his “adventus” and emphasizes divine transcendence, or based on Slavoj Žižek’s opinion, which is “Christian materialism,” which rejects divine transcendence? By using a comparative-analytical method and qualitative research, this paper aims to find meaning that is found through the encounter between Moltmann’s idea of adventus and Zižek’s suggestion to build a new community through “resistance.” The result is that the COVID-19 pandemic is a resistant apocalyptic narrative about “What is to Come” as an adventus that exceeds the normal and surprising, as well as resistance to finding a new cosmic community model in an effort to live a new life in the new normal era. The order of discussion is as follows. First, Moltmann's apocalyptic thinking will be presented. Second, Žižek’s apocalyptic thinking will be presented. Third, the meeting points and relevance for apocalyptic resistance will be presented in the context of the current pandemic.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"48740471","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-12-31DOI: 10.36421/veritas.v21i2.654
H. Thoreau, Aldo Leopold, Czeslaw Milosz, Denise Levertov, Gary Snyder, N. S. Momaday, Mary Oliver, Robert Hass, Louise Glück, Leslie Marmon
Douglas Christie is among many scholars who attempt to make the “ecological turn” to the recent growing interest in ecology. While acknowledging contemporary conversations across various disciplines, Christie approaches this issue differently through a contemplative lens. More specifically, as indicated in the title of the book, Christie draws from the well of early Christian monasticism—something which he is already worked through in his book, The Word in the Desert: Scripture and the Quest for Holiness In Early Christian Monasticism (1993). In this book, Christie aims to reimagine the nexus of the self and the natural world through a retrieval of the spiritual sense of wholeness amidst a fragmented world (4). Christie’s method and style in writing this book are worth noting. He was inspired by David Tracy’s “critical correlation” method, that is, a “meaningful religious reflection ... [that] involves an effort to correlate classic spiritual texts and common human experience” (16). He does this by arranging his book chapters based on classic themes that include tears (penthos), place (topos), attention (prosoche), word (logos), desire (eros), self-emptying (kenosis), and paradise (telos) in the early monastic tradition and reinterprets them in conversation with various sources such as his personal testimonies, classic poet and writings, and even Charles Darwin.
{"title":"The Blue Sapphire of the Mind: Notes for a Contemplative Ecology","authors":"H. Thoreau, Aldo Leopold, Czeslaw Milosz, Denise Levertov, Gary Snyder, N. S. Momaday, Mary Oliver, Robert Hass, Louise Glück, Leslie Marmon","doi":"10.36421/veritas.v21i2.654","DOIUrl":"https://doi.org/10.36421/veritas.v21i2.654","url":null,"abstract":"Douglas Christie is among many scholars who attempt to make the “ecological turn” to the recent growing interest in ecology. While acknowledging contemporary conversations across various disciplines, Christie approaches this issue differently through a contemplative lens. More specifically, as indicated in the title of the book, Christie draws from the well of early Christian monasticism—something which he is already worked through in his book, The Word in the Desert: Scripture and the Quest for Holiness In Early Christian Monasticism (1993). In this book, Christie aims to reimagine the nexus of the self and the natural world through a retrieval of the spiritual sense of wholeness amidst a fragmented world (4). Christie’s method and style in writing this book are worth noting. He was inspired by David Tracy’s “critical correlation” method, that is, a “meaningful religious reflection ... [that] involves an effort to correlate classic spiritual texts and common human experience” (16). He does this by arranging his book chapters based on classic themes that include tears (penthos), place (topos), attention (prosoche), word (logos), desire (eros), self-emptying (kenosis), and paradise (telos) in the early monastic tradition and reinterprets them in conversation with various sources such as his personal testimonies, classic poet and writings, and even Charles Darwin.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47577859","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}