Bakteri penambat nitrogen merupakan bakteri yang mampu memfiksasi nitrogen bebas menjadi amonium atau nitrat, sehingga dapat diserap oleh tanaman. Penggunaan biofertilizer yang mengandung bakteri penambat nitrogen menjadi alternatif pengganti pupuk anorganik yang dapat mendukung tercapainya pertanian berkelanjutan. Pada tulisan ini dibahas secara ringkas tentang siklus nitrogen, mekanisme penambatan nitrogen oleh bakteri simbiosis dan non-simbiosis, metode isolasi bakteri penambat nitrogen, penelitian terkini dan prospek penelitian lanjutan terkait bakteri penambat nitrogen. Umumnya penelitian melaporkan metode isolasi bakteri penambat nitrogen dengan nutrient-free medium dan beberapa diantaranya memodifikasi medium dengan menambahkan reagen. Penelitian terkini cenderung dilakukan melalui pendekatan teknik molekuler seperti Next Generation Sequencing (NGS) untuk mengetahui mikrobioma di rizosfer. Penerapan teknik molekuler berpeluang untuk mendapatkan novel strain yang bersifat culture-independent dan tidak hanya terbatas pada tanaman legum saja. Selanjutnya, melalui rekayasa genetika diharapkan terbentuk strain bakteri yang efektif dengan inokulum dosis rendah dan tahan pada berbagai kondisi lingkungan untuk masa yang akan datang. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji secara sederhana tentang bakteri penambat nitrogen sebagai agen biofertilizer.
{"title":"BAKTERI PENAMBAT NITROGEN SEBAGAI AGEN BIOFERTILIZER","authors":"Fadilla Sapalina, Eko Noviandi Ginting, Fandi Hidayat","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v27i1.80","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v27i1.80","url":null,"abstract":"Bakteri penambat nitrogen merupakan bakteri yang mampu memfiksasi nitrogen bebas menjadi amonium atau nitrat, sehingga dapat diserap oleh tanaman. Penggunaan biofertilizer yang mengandung bakteri penambat nitrogen menjadi alternatif pengganti pupuk anorganik yang dapat mendukung tercapainya pertanian berkelanjutan. Pada tulisan ini dibahas secara ringkas tentang siklus nitrogen, mekanisme penambatan nitrogen oleh bakteri simbiosis dan non-simbiosis, metode isolasi bakteri penambat nitrogen, penelitian terkini dan prospek penelitian lanjutan terkait bakteri penambat nitrogen. Umumnya penelitian melaporkan metode isolasi bakteri penambat nitrogen dengan nutrient-free medium dan beberapa diantaranya memodifikasi medium dengan menambahkan reagen. Penelitian terkini cenderung dilakukan melalui pendekatan teknik molekuler seperti Next Generation Sequencing (NGS) untuk mengetahui mikrobioma di rizosfer. Penerapan teknik molekuler berpeluang untuk mendapatkan novel strain yang bersifat culture-independent dan tidak hanya terbatas pada tanaman legum saja. Selanjutnya, melalui rekayasa genetika diharapkan terbentuk strain bakteri yang efektif dengan inokulum dosis rendah dan tahan pada berbagai kondisi lingkungan untuk masa yang akan datang. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji secara sederhana tentang bakteri penambat nitrogen sebagai agen biofertilizer.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"100 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132884201","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-02-23DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v27i1.81
Fosfor merupakan unsur hara makro primer yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah besar, selain nitrogen dan kalium. Mikroba pelarut fosfat (MPF) terbukti dapat meningkatkan ketersediaan fosfor dan hasil pertanian dengan pendekatan yang ramah lingkungan. Oleh sebab itu, kajian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai jenis, mekanisme, cara isolasi, serta manfaat MPF dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pada kajian ini dijelaskan bahwa beberapa mikroba tanah dari golongan bakteri, jamur, dan alga ditemukan dapat melarutkan fosfat. MPF melarutkan fosfor anorganik dengan beberapa cara yaitu produksi asam organik, asam anorganik, melepas proton, produksi siderofor dan eksopolisakarida. Sementara itu, pelarutan P organik terjadi melalui proses mineralisasi yang dikatalis oleh enzim.
{"title":"MIKROBA PELARUT FOSFAT DAN POTENSINYA DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN","authors":"","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v27i1.81","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v27i1.81","url":null,"abstract":"Fosfor merupakan unsur hara makro primer yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah besar, selain nitrogen dan kalium. Mikroba pelarut fosfat (MPF) terbukti dapat meningkatkan ketersediaan fosfor dan hasil pertanian dengan pendekatan yang ramah lingkungan. Oleh sebab itu, kajian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai jenis, mekanisme, cara isolasi, serta manfaat MPF dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pada kajian ini dijelaskan bahwa beberapa mikroba tanah dari golongan bakteri, jamur, dan alga ditemukan dapat melarutkan fosfat. MPF melarutkan fosfor anorganik dengan beberapa cara yaitu produksi asam organik, asam anorganik, melepas proton, produksi siderofor dan eksopolisakarida. Sementara itu, pelarutan P organik terjadi melalui proses mineralisasi yang dikatalis oleh enzim.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121218828","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-02-23DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v27i1.63
Manda Edy Mulyono
Saat ini, kebutuhan pangan bernutrisi meningkat signifikan seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih sehat. Hal ini memicu berbagai penelitian pada rekomposisi dan fungsionalisasi minyak nabati serta teknologi yang berkaitan dengannya. Minyak sawit merah (RPO) dengan komposisi uniknya, selain komposisi asam lemak jenuh dan tidak jenuh pada rasio berimbang juga mengandung fitonutrien yang tinggi, menarik untuk diteliti lebih lanjut guna menjawab kebutuhan pangan fungsional. Tulisan ini mengkaji teknologi kristalisasi fraksional yang dibutuhkan untuk menghasilkan minyak sawit merah dengan karakter tinggi oleat-rendah palmitat serta kaya nutrisi. Penggunaan pendekatan matematis dengan persamaan Hildebrand dalam teknologi kristalisasi juga disajikan dalam tulisan ini.
{"title":"KAJIAN TEKNOLOGI KRISTALISASI FRAKSIONAL PADA PRODUKSI MINYAK SAWIT MERAH TINGGI OLEAT-RENDAH PALMITAT","authors":"Manda Edy Mulyono","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v27i1.63","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v27i1.63","url":null,"abstract":"Saat ini, kebutuhan pangan bernutrisi meningkat signifikan seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih sehat. Hal ini memicu berbagai penelitian pada rekomposisi dan fungsionalisasi minyak nabati serta teknologi yang berkaitan dengannya. Minyak sawit merah (RPO) dengan komposisi uniknya, selain komposisi asam lemak jenuh dan tidak jenuh pada rasio berimbang juga mengandung fitonutrien yang tinggi, menarik untuk diteliti lebih lanjut guna menjawab kebutuhan pangan fungsional. Tulisan ini mengkaji teknologi kristalisasi fraksional yang dibutuhkan untuk menghasilkan minyak sawit merah dengan karakter tinggi oleat-rendah palmitat serta kaya nutrisi. Penggunaan pendekatan matematis dengan persamaan Hildebrand dalam teknologi kristalisasi juga disajikan dalam tulisan ini.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"144 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129043986","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-02-23DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v27i1.53
H. Hasibuan
Bungkil inti sawit (BIS) atau palm kernel cake mengandung protein sebesar 15-21%. Selain sebagai pakan ternak, BIS dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku untuk produksi isolat dan hidrolisat protein. Protein BIS mengandung globulin, glutelin-1 dan glutelin-2. Protein dari BIS dapat diekstraksi secara efektif menggunakan larutan alkali diikuti dengan hidrolisis enzimatik untuk menghasilkan hidrolisat protein. Isolat protein dan hidrolisat protein mengandung asam-asam amino yang memenuhi syarat sebagai asam amino esensial yang dibutuhkan oleh manusia. Hidrolisat protein mengandung peptida-peptida yang memiliki bioaktivitas sebagai antioksidan, antibakteri dan antihipertensi. Makalah ini mengulas tentang hidrolisat protein (peptida) dari BIS meliputi ekstraksi protein, hidrolisis protein, fungsi biologi peptida bioaktif, purifikasi dan identifikasi peptida dari BIS.
{"title":"HIDROLISAT PROTEIN SEBAGAI PEPTIDA BIOAKTIF DARI BUNGKIL INTI SAWIT DAN FUNGSI BIOLOGINYA","authors":"H. Hasibuan","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v27i1.53","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v27i1.53","url":null,"abstract":"Bungkil inti sawit (BIS) atau palm kernel cake mengandung protein sebesar 15-21%. Selain sebagai pakan ternak, BIS dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku untuk produksi isolat dan hidrolisat protein. Protein BIS mengandung globulin, glutelin-1 dan glutelin-2. Protein dari BIS dapat diekstraksi secara efektif menggunakan larutan alkali diikuti dengan hidrolisis enzimatik untuk menghasilkan hidrolisat protein. Isolat protein dan hidrolisat protein mengandung asam-asam amino yang memenuhi syarat sebagai asam amino esensial yang dibutuhkan oleh manusia. Hidrolisat protein mengandung peptida-peptida yang memiliki bioaktivitas sebagai antioksidan, antibakteri dan antihipertensi. Makalah ini mengulas tentang hidrolisat protein (peptida) dari BIS meliputi ekstraksi protein, hidrolisis protein, fungsi biologi peptida bioaktif, purifikasi dan identifikasi peptida dari BIS.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"s1-4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114692393","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-02-15DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v27i1.73
Rivaldy Yustianto Pasaribu, M. A. Nasution, Henny Lydiasari, Arjanggi Nasution, Ayu Wulandari
Limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) merupakan hasil samping dari proses pengolahan minyak kelapa sawit. Salah satu alternatif pemanfaatan POME adalah dikonversi kedalam bentuk biogas sebagai sumber energi. Pada studi ini dilakukan kajian penyelidikan tanah sebagai lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG) co-firing di pabrik kelapa sawit (PKS) Lubuk Dalam PTPN V dengan menerapkan teknologi covered lagoon. Penyelidikan tanah dilakukan dalam skala lapangan dan laboratorium antara lain pengukuran elevasi lahan, dekripsi tanah, perlawanan konus dan klasifikasi tanah. Dari hasil pengujian diperoleh lahan termasuk kategori landai dengan spesifikasi teknis termasuk tanah keras. Jenis tanah pada lokasi pembangunan ini didominasi oleh tanah lempung (clay) sebesar 65,25% dan nilai CBR laboratorium mencapai 6,80% yang memenuhi sebagai syarat teknis tanah dasar untuk pembangunan PLTBG teknologi sistem covered lagoon.
{"title":"PENYELIDIKAN TANAH PADA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOGAS(PLTBg) : STUDI KASUS PABRIK KELAPA SAWIT (PKS) LUBUK DALAM PTPN V","authors":"Rivaldy Yustianto Pasaribu, M. A. Nasution, Henny Lydiasari, Arjanggi Nasution, Ayu Wulandari","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v27i1.73","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v27i1.73","url":null,"abstract":"Limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) merupakan hasil samping dari proses pengolahan minyak kelapa sawit. Salah satu alternatif pemanfaatan POME adalah dikonversi kedalam bentuk biogas sebagai sumber energi. Pada studi ini dilakukan kajian penyelidikan tanah sebagai lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG) co-firing di pabrik kelapa sawit (PKS) Lubuk Dalam PTPN V dengan menerapkan teknologi covered lagoon. Penyelidikan tanah dilakukan dalam skala lapangan dan laboratorium antara lain pengukuran elevasi lahan, dekripsi tanah, perlawanan konus dan klasifikasi tanah. Dari hasil pengujian diperoleh lahan termasuk kategori landai dengan spesifikasi teknis termasuk tanah keras. Jenis tanah pada lokasi pembangunan ini didominasi oleh tanah lempung (clay) sebesar 65,25% dan nilai CBR laboratorium mencapai 6,80% yang memenuhi sebagai syarat teknis tanah dasar untuk pembangunan PLTBG teknologi sistem covered lagoon.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"34 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127996676","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Selama empat generasi penanaman kelapa sawit, penggunaan pupuk anorganik dan pestisida di perkebunan kelapa sawit merupakan praktik standar yang umum. Penggunaan pupuk dan pestisida sebagai intensifikasi pertanian akan menimbulkan tantangan tersendiri, di satu sisi produktivitas akan meningkat, tetapi di sisi lain, lingkungan akan menghadapi ancaman serius. Untuk mengatasi penggunaan pupuk kimia dan pestisida, produk hayati muncul sebagai alternatif untuk meminimalkan bahaya terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pada tulisan ini akan diulas secara ringkas mengenai produk hayati khususnya pupuk hayati dengan tujuan untuk memberikan informasi pemanfaatan produk hayati di perkebunan kelapa sawit, peluang, dan tantangannya.
{"title":"PELUANG DAN TANTANGAN PEMANFAATAN PRODUK HAYATI DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT","authors":"Fandi Hidayat, Fadilla Sapalina, Rizki Desika Putri Pane, Winarna","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v27i1.77","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v27i1.77","url":null,"abstract":"Selama empat generasi penanaman kelapa sawit, penggunaan pupuk anorganik dan pestisida di perkebunan kelapa sawit merupakan praktik standar yang umum. Penggunaan pupuk dan pestisida sebagai intensifikasi pertanian akan menimbulkan tantangan tersendiri, di satu sisi produktivitas akan meningkat, tetapi di sisi lain, lingkungan akan menghadapi ancaman serius. Untuk mengatasi penggunaan pupuk kimia dan pestisida, produk hayati muncul sebagai alternatif untuk meminimalkan bahaya terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pada tulisan ini akan diulas secara ringkas mengenai produk hayati khususnya pupuk hayati dengan tujuan untuk memberikan informasi pemanfaatan produk hayati di perkebunan kelapa sawit, peluang, dan tantangannya.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"30 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131264939","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-14DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v26i3.45
Wanriski Fauzi Riski
Kelapa sawit merupakan penghasil terbesar devisa di Indonesia. Dalam perjalanannya sebagai sumber penghasil minyak nabati, kelapa sawit mendapat banyak tantangan, terutama dari perubahan iklim dimana sering terjadi fenomena kekeringan yang berdampak terhadap fisiologi dan produksi kelapa sawit. Cekaman kekeringan terjadi apabila kebutuhan air tanaman tidak dapat tercukupi dengan baik akibat terjadinya defisit air. Defisit air >200 mm menyebabkan fisiologi tanaman terganggu. Cekaman kekeringan menyebabkan perubahan fisiokimia seperti aktivitas Rubisco, mengurangi efisiensi foto, meningkatkan stres metabolit dan enzim antioksidan, ketidakstabilan membran sel, mengurangi kandungan air daun, degradasi pigmen, penurunan bukaan stomata, penurunan kandungan CO2 tanaman, mengurangi laju fotosintesis dan menghambat pertumbuhan tanaman. Cekaman kekeringan dapat menghambat pembukaan pelepah daun muda, merusak hijau daun yang menyebabkan daun tampak menguning dan mengering, pelepah daun terkulai dan pupus patah. Pada fase reproduktif cekaman kekeringan menyebabkan perubahan nisbah kelamin bunga, bunga dan buah muda mengalami keguguran, dan tandan buah gagal menjadi masak, akhirnya mengakibatkan gagal panen dan menurunkan produksi tandan buah segar. Untuk meminimalisir dampak cekaman lingkungan, hal hal yang dapat dilakukan antara lain, melakukan monitoring rutin terhadap kondisi cuaca dan iklim, menerapkan standar kultur teknis yang baik dan menerapkan teknik konservasi tanah dan air.
{"title":"PENGARUH CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP FISIOLOGI DAN PRODUKSI KELAPA SAWIT","authors":"Wanriski Fauzi Riski","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v26i3.45","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v26i3.45","url":null,"abstract":"Kelapa sawit merupakan penghasil terbesar devisa di Indonesia. Dalam perjalanannya sebagai sumber penghasil minyak nabati, kelapa sawit mendapat banyak tantangan, terutama dari perubahan iklim dimana sering terjadi fenomena kekeringan yang berdampak terhadap fisiologi dan produksi kelapa sawit. Cekaman kekeringan terjadi apabila kebutuhan air tanaman tidak dapat tercukupi dengan baik akibat terjadinya defisit air. Defisit air >200 mm menyebabkan fisiologi tanaman terganggu. Cekaman kekeringan menyebabkan perubahan fisiokimia seperti aktivitas Rubisco, mengurangi efisiensi foto, meningkatkan stres metabolit dan enzim antioksidan, ketidakstabilan membran sel, mengurangi kandungan air daun, degradasi pigmen, penurunan bukaan stomata, penurunan kandungan CO2 tanaman, mengurangi laju fotosintesis dan menghambat pertumbuhan tanaman. Cekaman kekeringan dapat menghambat pembukaan pelepah daun muda, merusak hijau daun yang menyebabkan daun tampak menguning dan mengering, pelepah daun terkulai dan pupus patah. Pada fase reproduktif cekaman kekeringan menyebabkan perubahan nisbah kelamin bunga, bunga dan buah muda mengalami keguguran, dan tandan buah gagal menjadi masak, akhirnya mengakibatkan gagal panen dan menurunkan produksi tandan buah segar. Untuk meminimalisir dampak cekaman lingkungan, hal hal yang dapat dilakukan antara lain, melakukan monitoring rutin terhadap kondisi cuaca dan iklim, menerapkan standar kultur teknis yang baik dan menerapkan teknik konservasi tanah dan air.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"32 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122180289","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-11DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v26i3.57
Ilmi Fadhilah Rizki
Penggunaan pelarut organik saat ini telah menjadi salah satu masalah dalam pengembangan teknologi industri karena cenderung beracun, merusak lingkungan, dan juga menggunakan biaya produksi yang tinggi. Pelarut tersebut masih digunakan pada industri farmasi dan pangan, namun jika dikonsumsi diatas batas maksimal konsentrasinya akan memberikan pengaruh terhadap kesehatan manusia. Pelarut organik biasanya digunakan untuk mengeksktrak fitonutrien yang terdapat pada tanaman. Minyak kelapa sawit merupakan salah satu minyak nabati yang kaya akan berbagai fitonutrien yang dapat dikembangkan menjadi sebuah produk pangan, farmasi, dan kosmetik. Berdasarkan hal tersebut, pengembangan teknologi ramah lingkungan (green technology) sangat dibutuhkan untuk dapat meminimalkan pemakaian pelarut organik. Teknologi ramah lingkungan ini akan menerapkan penggunaan minimum pelarut yang berbahaya dengan mengembangkan pelarut yang ramah lingkungan (green solvent). Natural Deep Eutectic Solvent (NaDES) akan menjadi alternatif pengganti pelarut organik umum tersebut. NaDES tersusun dari komponen senyawa metabolit primer yang terdapat pada makhluk hidup, sehingga memiliki sifat yang mudah terurai, tidak beracun, tidak mudah menguap, aman dan murah untuk menghasilkan pelarut ramah lingkungan yang dapat digunakan pada industri pangan dan farmasi. Potensial yang dimiliki oleh NaDES ini akan terus dikembangkan dan digunakan untuk mengekstraksi fitonutrien yang terdapat pada minyak kelapa sawit dengan efektif dan selektif.
{"title":"PENGEMBANGAN METODE EKSTRAKSI FITONUTRIEN CRUDE PALM OIL (CPO) RAMAH LINGKUNGAN UNTUK INDUSTRI PANGAN DAN FARMASI","authors":"Ilmi Fadhilah Rizki","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v26i3.57","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v26i3.57","url":null,"abstract":"Penggunaan pelarut organik saat ini telah menjadi salah satu masalah dalam pengembangan teknologi industri karena cenderung beracun, merusak lingkungan, dan juga menggunakan biaya produksi yang tinggi. Pelarut tersebut masih digunakan pada industri farmasi dan pangan, namun jika dikonsumsi diatas batas maksimal konsentrasinya akan memberikan pengaruh terhadap kesehatan manusia. Pelarut organik biasanya digunakan untuk mengeksktrak fitonutrien yang terdapat pada tanaman. Minyak kelapa sawit merupakan salah satu minyak nabati yang kaya akan berbagai fitonutrien yang dapat dikembangkan menjadi sebuah produk pangan, farmasi, dan kosmetik. Berdasarkan hal tersebut, pengembangan teknologi ramah lingkungan (green technology) sangat dibutuhkan untuk dapat meminimalkan pemakaian pelarut organik. Teknologi ramah lingkungan ini akan menerapkan penggunaan minimum pelarut yang berbahaya dengan mengembangkan pelarut yang ramah lingkungan (green solvent). Natural Deep Eutectic Solvent (NaDES) akan menjadi alternatif pengganti pelarut organik umum tersebut. NaDES tersusun dari komponen senyawa metabolit primer yang terdapat pada makhluk hidup, sehingga memiliki sifat yang mudah terurai, tidak beracun, tidak mudah menguap, aman dan murah untuk menghasilkan pelarut ramah lingkungan yang dapat digunakan pada industri pangan dan farmasi. Potensial yang dimiliki oleh NaDES ini akan terus dikembangkan dan digunakan untuk mengekstraksi fitonutrien yang terdapat pada minyak kelapa sawit dengan efektif dan selektif.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"74 35","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114005521","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-11DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v26i3.64
Ragil Alsabah, Yurna Yenni, Sujadi
Crown disease (CD) merupakan salah satu gejala abnormalitas yang kadang muncul pada tanaman kelapa sawit. Gejala ini dimasukkan ke dalam kategori penyakit minor kelapa sawit. Kejadian penyakit CD pada tanaman belum menghasilkan dapat menyebabkan penundaan masa panen. Kemunculan penyakit ini pada tanaman menghasilkan berdampak pada penurunan produksi 4,5 hingga 6%. Tanaman dengan gejala CD dapat berangsur pulih dalam 1 sampai 2 tahun. Genetik diduga sebagai faktor penyebab utama kemunculan kelainan ini. CD diwariskan dari tetua karena adanya aksi gen epistasis dalam bentuk gen inhibitor. Untuk mencegah munculnya kejadian di lapangan, diperlukan seleksi ketat pada masa pembibitan. Selain itu, beberapa faktor lain dapat memperparah gejala penyakit ini, seperti kelebihan kandungan unsur hara dan beberapa patogen yang bersifat saprofit. Salah satu upaya untuk menekan perkembangan penyakit ini adalah melalui pengaturan iklim mikro dan perlakuan teknis di lapangan.
{"title":"CROWN DISEASE PADA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DAN FAKTOR PENYEBABNYA","authors":"Ragil Alsabah, Yurna Yenni, Sujadi","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v26i3.64","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v26i3.64","url":null,"abstract":"Crown disease (CD) merupakan salah satu gejala abnormalitas yang kadang muncul pada tanaman kelapa sawit. Gejala ini dimasukkan ke dalam kategori penyakit minor kelapa sawit. Kejadian penyakit CD pada tanaman belum menghasilkan dapat menyebabkan penundaan masa panen. Kemunculan penyakit ini pada tanaman menghasilkan berdampak pada penurunan produksi 4,5 hingga 6%. Tanaman dengan gejala CD dapat berangsur pulih dalam 1 sampai 2 tahun. Genetik diduga sebagai faktor penyebab utama kemunculan kelainan ini. CD diwariskan dari tetua karena adanya aksi gen epistasis dalam bentuk gen inhibitor. Untuk mencegah munculnya kejadian di lapangan, diperlukan seleksi ketat pada masa pembibitan. Selain itu, beberapa faktor lain dapat memperparah gejala penyakit ini, seperti kelebihan kandungan unsur hara dan beberapa patogen yang bersifat saprofit. Salah satu upaya untuk menekan perkembangan penyakit ini adalah melalui pengaturan iklim mikro dan perlakuan teknis di lapangan.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"22 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126788821","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2021-10-11DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v26i3.65
Annisa Sitepu, Yurna Yenni, Sujadi
Istilah kelapa sawit feminin mulai sering muncul di kalangan praktisi kelapa sawit. Istilah ini menjelaskan kondisi tanaman kelapa sawit yang lebih banyak memproduksi bunga betina dibandingkan bunga jantan dengan proporsi yang tidak seimbang pada kondisi lingkungan yang optimal. Fenomena ini diduga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan produktivitas tanaman belum mampu mendekati potensi produksi varietas yang telah dirilis. Perbandingan antara jumlah bunga betina dengan seluruh bunga yang diproduksi (sex ratio) sangat penting untuk dipelajari terkait ketersediaan polen yang dibutuhkan untuk menyerbuki tandan bunga betina. Lingkungan dan genetik merupakan faktor yang dapat mempengaruhi sex ratio pada kelapa sawit, dan pembentukan fruit set kelapa sawit. Sex ratio pada enam varietas PPKS umur 8 tahun bervariasi mulai dari 53,2%-73,0%. Hal ini mengindikasikan bahwa polen yang dibutuhkan untuk menyerbuki tandan bunga betina tercukupi, sehingga dapat dikatakan bahwa fenomena feminin tidak ditemukan pada varietas PPKS yang diamati.
{"title":"MENGENAL FENOMENA FEMININ PADA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)","authors":"Annisa Sitepu, Yurna Yenni, Sujadi","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v26i3.65","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v26i3.65","url":null,"abstract":"Istilah kelapa sawit feminin mulai sering muncul di kalangan praktisi kelapa sawit. Istilah ini menjelaskan kondisi tanaman kelapa sawit yang lebih banyak memproduksi bunga betina dibandingkan bunga jantan dengan proporsi yang tidak seimbang pada kondisi lingkungan yang optimal. Fenomena ini diduga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan produktivitas tanaman belum mampu mendekati potensi produksi varietas yang telah dirilis. Perbandingan antara jumlah bunga betina dengan seluruh bunga yang diproduksi (sex ratio) sangat penting untuk dipelajari terkait ketersediaan polen yang dibutuhkan untuk menyerbuki tandan bunga betina. Lingkungan dan genetik merupakan faktor yang dapat mempengaruhi sex ratio pada kelapa sawit, dan pembentukan fruit set kelapa sawit. Sex ratio pada enam varietas PPKS umur 8 tahun bervariasi mulai dari 53,2%-73,0%. Hal ini mengindikasikan bahwa polen yang dibutuhkan untuk menyerbuki tandan bunga betina tercukupi, sehingga dapat dikatakan bahwa fenomena feminin tidak ditemukan pada varietas PPKS yang diamati.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"12 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132275506","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}