Pub Date : 2023-07-03DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v28i2.105
Rizki Desika Putri Pane, Eko Noviandi Ginting
Salah satu gejala defisiensi hara mikro yang kerap muncul pada tanaman kelapa sawit adalah gejala defisiensi hara boron. Boron merupakan unsur hara mikro yang memiliki fungsi vital bagi tanaman diantaranya berperan dalam perkembangan sel baru pada jaringan merismatik, translokasi gula, pati, transport air dan hara, serta berperan penting dalam metabolisme asam fenolik yang sangat penting untuk pertumbuhan serbuk sari yang berpengaruh terhadap pembentukan buah. Pada tanaman kelapa sawit, boron sangat berperan penting pada masa pembungaan dan pembentukan buah. Untuk memenuhi kebutuhan hara boron tanaman kelapa sawit aplikasi pupuk boron dilakukan secara rutin setiap tahun terutama untuk tanaman kelapa sawit muda. Jenis pupuk boron yang umum digunakan di perkebunan kelapa sawit adalah pupuk borax yang memiliki kelarutan yang tinggi. Kelemahan dari pupuk ini adalah hara boron lebih mudah dan cepat hilang tercuci (leaching) terutama pada jenis tanah berpasir dan daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi. Sementara itu, di pasaran terdapat berbagai sumber pupuk boron yang diklaim memiliki sifat slow-release sehingga dapat menyediakan hara boron untuk jangka waktu yang relatif lebih lama terutama untuk areal-areal marjinal. Artikel ini menyajikan informasi mengenai unsur hara boron secara keseluruhan termasuk dinamikanya di dalam tanah dan tanaman serta ulasan singkat terkait hasil pengujian beberapa jenis pupuk boron yang jarang digunakan khususnya pada perkebunan kelapa sawit.
{"title":"BORON – HARA MIKRO ESENSIAL UNTUK TANAMAN KELAPA SAWIT","authors":"Rizki Desika Putri Pane, Eko Noviandi Ginting","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i2.105","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i2.105","url":null,"abstract":"Salah satu gejala defisiensi hara mikro yang kerap muncul pada tanaman kelapa sawit adalah gejala defisiensi hara boron. Boron merupakan unsur hara mikro yang memiliki fungsi vital bagi tanaman diantaranya berperan dalam perkembangan sel baru pada jaringan merismatik, translokasi gula, pati, transport air dan hara, serta berperan penting dalam metabolisme asam fenolik yang sangat penting untuk pertumbuhan serbuk sari yang berpengaruh terhadap pembentukan buah. Pada tanaman kelapa sawit, boron sangat berperan penting pada masa pembungaan dan pembentukan buah. Untuk memenuhi kebutuhan hara boron tanaman kelapa sawit aplikasi pupuk boron dilakukan secara rutin setiap tahun terutama untuk tanaman kelapa sawit muda. Jenis pupuk boron yang umum digunakan di perkebunan kelapa sawit adalah pupuk borax yang memiliki kelarutan yang tinggi. Kelemahan dari pupuk ini adalah hara boron lebih mudah dan cepat hilang tercuci (leaching) terutama pada jenis tanah berpasir dan daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi. Sementara itu, di pasaran terdapat berbagai sumber pupuk boron yang diklaim memiliki sifat slow-release sehingga dapat menyediakan hara boron untuk jangka waktu yang relatif lebih lama terutama untuk areal-areal marjinal. Artikel ini menyajikan informasi mengenai unsur hara boron secara keseluruhan termasuk dinamikanya di dalam tanah dan tanaman serta ulasan singkat terkait hasil pengujian beberapa jenis pupuk boron yang jarang digunakan khususnya pada perkebunan kelapa sawit.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"106 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133852134","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-07-03DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v28i2.108
Muhammad Abdul Aziz
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa produksi daging sapi Indonesia dari tahun ke tahun cenderung stagnan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan daging nasional. Upaya pemerintah melalui Permentan No. 48/Permentan/PK.210/10/2016 belum mampu mengatasi masalah tersebut, sementara keberhasilan program swasembada daging selalu dihadapkan pada masalah ketersediaan pakan yang berkualitas dan terjangkau. Berbagai jenis biomassa lignoselulosa sebagai produk samping produksi minyak sawit seperti tandan kosong sawit (TKS), solid palm oil mill effluent (POME), dan bungkil inti sawit (BIS) tersedia dalam jumlah yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara sustain dan massal, padahal potensinya sebagai bahan pakan ruminansia sangat besar. Hal ini karena sumber biomassa tersebut mengandung nutrisi yang cukup tinggi, baik berupa protein maupun lemak. Namun, terdapat beberapa faktor pembatas seperti kandungan lignin dan serat kasar yang tinggi, sehingga menyebabkan rendahnya nilai palatabilitas dan tingkat kecernaan. Untuk mengatasi hal tersebut sekaligus meningkatkan nilai nutrisi biomassa lignoselulosa sebagai bahan pakan dapat dilakukan dengan pretreatment melalui pendekatan kombinasi metode fisik, kimiawi, dan biologis. Metode pretreatment biomassa lignoselulosa seperti TKS menggunakan kombinasi fiber cracking technology (FCT) dan urea 5%, kemudian dilanjutkan dengan fermentasi menggunakan jamur pelapuk putih (JPP) seperti Phanerochaeta chrysosporium, Marasmius sp., Penicillium verruculosum, Tremetes vesicolor, Marasmiellus palmivorus, Pleurotus floridanus, dan Ganoderma lucidum merupakan pendekatan yang potensial dalam meningkatkan derajat delignifikasi dan nilai nutrisi. Dengan demikian, biomassa lignoselulosa perkebunan sawit khususnya TKS dapat dioptimalkan pemanfaatannya.
{"title":"PEMANFAATAN BIOMASSA LIGNOSELULOSA PERKEBUNAN SAWIT DAN PRETREATMENT TKS SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN TERNAK POTENSIAL","authors":"Muhammad Abdul Aziz","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i2.108","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i2.108","url":null,"abstract":"Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa produksi daging sapi Indonesia dari tahun ke tahun cenderung stagnan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan daging nasional. Upaya pemerintah melalui Permentan No. 48/Permentan/PK.210/10/2016 belum mampu mengatasi masalah tersebut, sementara keberhasilan program swasembada daging selalu dihadapkan pada masalah ketersediaan pakan yang berkualitas dan terjangkau. Berbagai jenis biomassa lignoselulosa sebagai produk samping produksi minyak sawit seperti tandan kosong sawit (TKS), solid palm oil mill effluent (POME), dan bungkil inti sawit (BIS) tersedia dalam jumlah yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara sustain dan massal, padahal potensinya sebagai bahan pakan ruminansia sangat besar. Hal ini karena sumber biomassa tersebut mengandung nutrisi yang cukup tinggi, baik berupa protein maupun lemak. Namun, terdapat beberapa faktor pembatas seperti kandungan lignin dan serat kasar yang tinggi, sehingga menyebabkan rendahnya nilai palatabilitas dan tingkat kecernaan. Untuk mengatasi hal tersebut sekaligus meningkatkan nilai nutrisi biomassa lignoselulosa sebagai bahan pakan dapat dilakukan dengan pretreatment melalui pendekatan kombinasi metode fisik, kimiawi, dan biologis. Metode pretreatment biomassa lignoselulosa seperti TKS menggunakan kombinasi fiber cracking technology (FCT) dan urea 5%, kemudian dilanjutkan dengan fermentasi menggunakan jamur pelapuk putih (JPP) seperti Phanerochaeta chrysosporium, Marasmius sp., Penicillium verruculosum, Tremetes vesicolor, Marasmiellus palmivorus, Pleurotus floridanus, dan Ganoderma lucidum merupakan pendekatan yang potensial dalam meningkatkan derajat delignifikasi dan nilai nutrisi. Dengan demikian, biomassa lignoselulosa perkebunan sawit khususnya TKS dapat dioptimalkan pemanfaatannya.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131336218","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-27DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v28i1.85
H. Hasibuan
Rendemen CPO dan kernel yang diperoleh di pabrik kelapa sawit (PKS) sangat dipengaruhi oleh kualitas buah sawit yang diolah seperti jenis varietas dan tingkat kematangan buah dari pemasok baik dari kebun inti maupun dari kebun petani plasma dan swadaya. Secara umum, kualitas buah sawit dari petani swadaya sangat bervariasi karena pengaruh jenis varietas, pengolahan kebun (kultur teknis) dan kriteria matang panen buah berbeda antar petani. Kualitas buah sawit yang bervariasi menyebabkan rendemen CPO dan kernel juga berbeda-beda. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji potensi rendemen CPO dan kernel pada buah sawit dari petani swadaya yang diterima oleh PKS dengan studi kasus di Jambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen CPO pada buah sawit petani swadaya dengan jenis buah Tenera lebih tinggi dibandingkan jenis buah Dura. Buah sawit tepat matang memiliki rendemen CPO pada buah sawit jenis Tenera sebesar 20,2 ± 5,5% sedangkan pada buah sawit jenis buah Dura sebesar 14,4 ± 4,1%. Sementara itu, rendemen kernel pada buah sawit jenis Tenera sebesar 5,4 ± 2,0% relatif sama dengan buah sawit jenis buah Dura sebesar 5,3 ± 1,7%. Rendemen CPO dan kernel pada buah sawit matang juga lebih tinggi dibandingkan buah sawit mentah dan lewat matang. Rendemen CPO dan kernel pada buah sawit lewat matang lebih rendah dibandingkan buah sawit matang disebabkan oleh berondolan tidak terkutip di kebun dan pengangkutan dari kebun ke PKS. Sebagai rekomendasi, untuk mendapatkan rendemen CPO dan kernel maksimal sebaiknya petani swadaya menggunakan benih unggul berjenis DP, melakukan kultur teknis sesuai standar dan memanen buah sawit tepat matang.
{"title":"PENENTUAN RENDEMEN CPO DAN KERNEL PADA BUAH SAWIT PETANI SWADAYA (Studi Kasus di Jambi)","authors":"H. Hasibuan","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i1.85","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i1.85","url":null,"abstract":"Rendemen CPO dan kernel yang diperoleh di pabrik kelapa sawit (PKS) sangat dipengaruhi oleh kualitas buah sawit yang diolah seperti jenis varietas dan tingkat kematangan buah dari pemasok baik dari kebun inti maupun dari kebun petani plasma dan swadaya. Secara umum, kualitas buah sawit dari petani swadaya sangat bervariasi karena pengaruh jenis varietas, pengolahan kebun (kultur teknis) dan kriteria matang panen buah berbeda antar petani. Kualitas buah sawit yang bervariasi menyebabkan rendemen CPO dan kernel juga berbeda-beda. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji potensi rendemen CPO dan kernel pada buah sawit dari petani swadaya yang diterima oleh PKS dengan studi kasus di Jambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen CPO pada buah sawit petani swadaya dengan jenis buah Tenera lebih tinggi dibandingkan jenis buah Dura. Buah sawit tepat matang memiliki rendemen CPO pada buah sawit jenis Tenera sebesar 20,2 ± 5,5% sedangkan pada buah sawit jenis buah Dura sebesar 14,4 ± 4,1%. Sementara itu, rendemen kernel pada buah sawit jenis Tenera sebesar 5,4 ± 2,0% relatif sama dengan buah sawit jenis buah Dura sebesar 5,3 ± 1,7%. Rendemen CPO dan kernel pada buah sawit matang juga lebih tinggi dibandingkan buah sawit mentah dan lewat matang. Rendemen CPO dan kernel pada buah sawit lewat matang lebih rendah dibandingkan buah sawit matang disebabkan oleh berondolan tidak terkutip di kebun dan pengangkutan dari kebun ke PKS. Sebagai rekomendasi, untuk mendapatkan rendemen CPO dan kernel maksimal sebaiknya petani swadaya menggunakan benih unggul berjenis DP, melakukan kultur teknis sesuai standar dan memanen buah sawit tepat matang.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"448 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116432745","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-27DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v28i1.101
H. Priwiratama, Deden Dewantara Eris, Mahardika Gama Pradana, Tjut Ahmad Perdana Rozziansha
Penyakit bercak daun telah bertransformasi menjadi ancaman serius untuk keberlangsungan pembibitan kelapa sawit. Dalam kurun dua tahun terakhir, infestasi penyakit bercak daun pada beberapa sentra pembibitan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan telah menyebabkan kerusakan yang berat hingga menyebabkan kematian pada bibit yang dibudidayakan. Evaluasi penyakit pada sentra-sentra pembibitan dengan tingkat penyakit berat menunjukkan adanya kesamaan metode penyiraman yang menyediakan kondisi optimal bagi patogen untuk menginisiasi penyakit. Tindakan pengendalian yang masih mengandalkan penggunaan fungisida harus dilakukan secara bijak untuk mencegah terjadinya resistensi. Indikasi resistensi dapat dikaji dari penurunan efektivitas pengendalian fungisida yang sama dari waktu ke waktu. Rotasi dan pencampuran bahan aktif menjadi salah satu solusi untuk mematahkan serta mencegah terjadinya resistensi terhadap suatu bahan aktif fungisida. Namun, penggunaan fungisida hanya akan mampu menghentikan epidemi penyakit jika diiringi dengan pemahaman mengenai aspek-aspek yang memengaruhi perkembangan penyakit bercak daun di pembibitan kelapa sawit.
{"title":"STATUS TERKINI PENYAKIT BERCAK DAUN KELAPA SAWIT DI SUMATERA DAN KALIMANTAN","authors":"H. Priwiratama, Deden Dewantara Eris, Mahardika Gama Pradana, Tjut Ahmad Perdana Rozziansha","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i1.101","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i1.101","url":null,"abstract":"Penyakit bercak daun telah bertransformasi menjadi ancaman serius untuk keberlangsungan pembibitan kelapa sawit. Dalam kurun dua tahun terakhir, infestasi penyakit bercak daun pada beberapa sentra pembibitan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan telah menyebabkan kerusakan yang berat hingga menyebabkan kematian pada bibit yang dibudidayakan. Evaluasi penyakit pada sentra-sentra pembibitan dengan tingkat penyakit berat menunjukkan adanya kesamaan metode penyiraman yang menyediakan kondisi optimal bagi patogen untuk menginisiasi penyakit. Tindakan pengendalian yang masih mengandalkan penggunaan fungisida harus dilakukan secara bijak untuk mencegah terjadinya resistensi. Indikasi resistensi dapat dikaji dari penurunan efektivitas pengendalian fungisida yang sama dari waktu ke waktu. Rotasi dan pencampuran bahan aktif menjadi salah satu solusi untuk mematahkan serta mencegah terjadinya resistensi terhadap suatu bahan aktif fungisida. Namun, penggunaan fungisida hanya akan mampu menghentikan epidemi penyakit jika diiringi dengan pemahaman mengenai aspek-aspek yang memengaruhi perkembangan penyakit bercak daun di pembibitan kelapa sawit.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"27 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125604456","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-27DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v28i1.94
Heri Adriwan Siregar
Salah satu pendekatan rekayasa DNA adalah pengeditan genom CRISPR/Cas9 yang digunakan untuk perbaikan sifat diinginkan. Teknologi ini telah didemonstrasikan dan berhasil diterapkan untuk mengedit gen target pada berbagai spesies tanaman. Namun, kendala muncul pada proses memasukkan komponen CRISPR/Cas9 ke dalam sel tanaman yang tebal dan termasuk kendala proses mengkultur sel tanaman yang sudah diedit. Baru-baru ini dilaporkan keberhasilan nanobioteknologi dengan salah satu pendekatannya yang dikenal dengan magnetik nanopartikel pada upaya rekayasa DNA tanaman kapas. Gagasan memanfaatkan dan menggabungkan kedua paket teknologi tersebut muncul pada berbagai publikasi ilmiah terutama pada tanaman disebabkan kelemahan dan kekuatan masing-masing teknologi yang saling melengkapi. Hingga saat ini memang belum ada yang melaporkan keberhasilan memanfaatkan penggabungan kedua teknologi tersebut, namun pembahasan ilmiahnya dapat dengan mudah ditemukan dan sangat menarik perhatian para pemulia tanaman termasuk kelapa sawit. Kedua teknologi tersebut tampaknya layak diujicoba demi keberhasilan dan akselerasi pemuliaan tanaman tahunan kelapa sawit virescens atau pada karakter agronomis lainnya.
{"title":"GAGASAN: AKSELERASI PEMULIAAN KELAPA SAWIT VIRESCENS MEMANFAATKAN TEKNOLOGI GENOME EDITING DAN NANO PARTIKEL","authors":"Heri Adriwan Siregar","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i1.94","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i1.94","url":null,"abstract":"Salah satu pendekatan rekayasa DNA adalah pengeditan genom CRISPR/Cas9 yang digunakan untuk perbaikan sifat diinginkan. Teknologi ini telah didemonstrasikan dan berhasil diterapkan untuk mengedit gen target pada berbagai spesies tanaman. Namun, kendala muncul pada proses memasukkan komponen CRISPR/Cas9 ke dalam sel tanaman yang tebal dan termasuk kendala proses mengkultur sel tanaman yang sudah diedit. Baru-baru ini dilaporkan keberhasilan nanobioteknologi dengan salah satu pendekatannya yang dikenal dengan magnetik nanopartikel pada upaya rekayasa DNA tanaman kapas. Gagasan memanfaatkan dan menggabungkan kedua paket teknologi tersebut muncul pada berbagai publikasi ilmiah terutama pada tanaman disebabkan kelemahan dan kekuatan masing-masing teknologi yang saling melengkapi. Hingga saat ini memang belum ada yang melaporkan keberhasilan memanfaatkan penggabungan kedua teknologi tersebut, namun pembahasan ilmiahnya dapat dengan mudah ditemukan dan sangat menarik perhatian para pemulia tanaman termasuk kelapa sawit. Kedua teknologi tersebut tampaknya layak diujicoba demi keberhasilan dan akselerasi pemuliaan tanaman tahunan kelapa sawit virescens atau pada karakter agronomis lainnya.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"18 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115362627","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-27DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v28i1.102
Putri Shobrina Azahra, Ernayunita
Perbanyakan kelapa sawit secara vegetatif dapat dilakukan dengan memanfaatkan bioteknologi kultur jaringan. Keuntungan pengadaan bahan tanam melalui kultur jaringan (klon) antara lain dapat diperoleh bahan tanaman yang unggul dalam jumlah banyak dan seragam, selain itu dapat diperoleh biakan steril (motherstock) sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk perbanyakan selanjutnya. Selain banyaknya keunggulan bahan tanam asal kultur jaringan, terdapat kelemahan perbanyakan kultur jaringan yaitu adanya variasi somaklonal. Variasi somaklonal merupakan perubahan genetik yang terjadi selama proses kultur in vitro, yang bukan disebabkan oleh segregasi atau rekombinasi gen, seperti yang biasa terjadi akibat proses persilangan. Untuk menekan abnormalitas yang disebabkan oleh variasi somaklonal, diperlukan beberapa upaya seperti pemilihan jenis dan konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang tepat, memangkas siklus kultur dan waktu paparan ZPT, seleksi yang dilakukan sedini mungkin, pemantauan keragaan klon di lapangan, perbaikan sistem kultur, uji DNA, dan penggunaan database yang tertelusur.
{"title":"UPAYA MEMINIMALKAN ABNORMALITAS PADA KLON KELAPA SAWIT","authors":"Putri Shobrina Azahra, Ernayunita","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i1.102","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i1.102","url":null,"abstract":"Perbanyakan kelapa sawit secara vegetatif dapat dilakukan dengan memanfaatkan bioteknologi kultur jaringan. Keuntungan pengadaan bahan tanam melalui kultur jaringan (klon) antara lain dapat diperoleh bahan tanaman yang unggul dalam jumlah banyak dan seragam, selain itu dapat diperoleh biakan steril (motherstock) sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk perbanyakan selanjutnya. Selain banyaknya keunggulan bahan tanam asal kultur jaringan, terdapat kelemahan perbanyakan kultur jaringan yaitu adanya variasi somaklonal. Variasi somaklonal merupakan perubahan genetik yang terjadi selama proses kultur in vitro, yang bukan disebabkan oleh segregasi atau rekombinasi gen, seperti yang biasa terjadi akibat proses persilangan. Untuk menekan abnormalitas yang disebabkan oleh variasi somaklonal, diperlukan beberapa upaya seperti pemilihan jenis dan konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang tepat, memangkas siklus kultur dan waktu paparan ZPT, seleksi yang dilakukan sedini mungkin, pemantauan keragaan klon di lapangan, perbaikan sistem kultur, uji DNA, dan penggunaan database yang tertelusur.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"148 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133836388","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-27DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v28i1.97
Muhdan Syarovy, A. Nugroho, Lilik Sutiarso
Era revolusi industri 4.0 dengan penggunaan Internet of Thing, big data, dan Artificial Intelligence mendorong pertanian presisi ke tingkat yang lebih lanjut (next generation precision farming). Teknologi yang dapat mengklasifikasi (clasification), mengelompokkan (clustering), mengestimasi (estimation), dan memprediksi (forecating) merupakan salah satu fokus dalam penerapan pertanian presisi. Teknologi pintar tersebut dapat dikembangkan dengan memanfaatkan model matematika yang dikenal dengan model Neural Network (NN). Model ini menggunakan algoritma pembelajaran yang terinspirasi oleh cara otak manusia untuk menyimpan informasi. Saat ini, istilah Machine Learning dan Deep Learning sering digunakan dalam pemodelan menggunakan NN. Penelitian terkait pemanfaatan model NN di perkebunan kelapa sawit telah dilakukan namun masih terdapat banyak ruang yang dapat di eksplorasi dalam penggunaan model ini. Terlebih lagi, saat ini banyak perkebunan yang sudah melakukan proses digitalisasi pada seluruh aktivitasnya. Pemanfaatan model NN diharapkan dapat membantu pengembangan mesin pengambilan keputusan cerdas dalam budidaya kelapa sawit untuk mendukung generasi baru pertanian presisi.
{"title":"PEMANFAATAN MODEL NEURAL NETWORK DALAM GENERASI BARU PERTANIAN PRESISI DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT","authors":"Muhdan Syarovy, A. Nugroho, Lilik Sutiarso","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i1.97","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i1.97","url":null,"abstract":"Era revolusi industri 4.0 dengan penggunaan Internet of Thing, big data, dan Artificial Intelligence mendorong pertanian presisi ke tingkat yang lebih lanjut (next generation precision farming). Teknologi yang dapat mengklasifikasi (clasification), mengelompokkan (clustering), mengestimasi (estimation), dan memprediksi (forecating) merupakan salah satu fokus dalam penerapan pertanian presisi. Teknologi pintar tersebut dapat dikembangkan dengan memanfaatkan model matematika yang dikenal dengan model Neural Network (NN). Model ini menggunakan algoritma pembelajaran yang terinspirasi oleh cara otak manusia untuk menyimpan informasi. Saat ini, istilah Machine Learning dan Deep Learning sering digunakan dalam pemodelan menggunakan NN. Penelitian terkait pemanfaatan model NN di perkebunan kelapa sawit telah dilakukan namun masih terdapat banyak ruang yang dapat di eksplorasi dalam penggunaan model ini. Terlebih lagi, saat ini banyak perkebunan yang sudah melakukan proses digitalisasi pada seluruh aktivitasnya. Pemanfaatan model NN diharapkan dapat membantu pengembangan mesin pengambilan keputusan cerdas dalam budidaya kelapa sawit untuk mendukung generasi baru pertanian presisi.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"21 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121574786","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-02-27DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v28i1.98
Biodiesel saat ini menjadi bahan bakar terbarukan yang banyak diaplikasikan di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Biodiesel dapat disintesis dari berbagai macam minyak nabati seperti minyak kelapa, kelapa sawit, biji bunga matahari, biji jarak, dan biji karet. Biodiesel memiliki kelebihan dibandingkan bahan bakar berbasis fosil karena tidak beracun, memiliki emisi gas buang yang lebih bersih, dan dapat digunakan murni maupun sebagai campuran dengan bahan bakar diesel petroleum. Teknologi produksi biodiesel biasanya menggunakan bahan baku minyak nabati dengan menggunakan teknik transesterifikasi yang merupakan salah satu teknik yang paling sering digunakan dalam produksi biodiesel. Proses yang terjadi berupa proses konversi asam lemak dari minyak dan methanol menjadi biodiesel dengan bantuan katalis homogen yaitu katalis asam atau basa. Penelitian ini menggunakan minyak nabati berasal dari minyak kelapa sawit dan minyak jarak pagar yang disintesis menjadi biodiesel dengan katalis KOH 1% (b/v). Hasil karakteristik biodiesel minyak sawit dan jarak pagar secara keseluruhan tidak berbeda dan masuk standar SNI 7182-2015. Kadar metil ester sebesar 97,66%; angka asam 0,25 mg KOH/g sampel; angka penyabunan 184,93; gliserol total 0,22; densitas 0,878 g/cm3.
{"title":"KARAKTERISTIK SIFAT FISIKA KIMIA BIODIESEL BERBASIS MINYAK NABATI","authors":"","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i1.98","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i1.98","url":null,"abstract":"Biodiesel saat ini menjadi bahan bakar terbarukan yang banyak diaplikasikan di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Biodiesel dapat disintesis dari berbagai macam minyak nabati seperti minyak kelapa, kelapa sawit, biji bunga matahari, biji jarak, dan biji karet. Biodiesel memiliki kelebihan dibandingkan bahan bakar berbasis fosil karena tidak beracun, memiliki emisi gas buang yang lebih bersih, dan dapat digunakan murni maupun sebagai campuran dengan bahan bakar diesel petroleum. Teknologi produksi biodiesel biasanya menggunakan bahan baku minyak nabati dengan menggunakan teknik transesterifikasi yang merupakan salah satu teknik yang paling sering digunakan dalam produksi biodiesel. Proses yang terjadi berupa proses konversi asam lemak dari minyak dan methanol menjadi biodiesel dengan bantuan katalis homogen yaitu katalis asam atau basa. Penelitian ini menggunakan minyak nabati berasal dari minyak kelapa sawit dan minyak jarak pagar yang disintesis menjadi biodiesel dengan katalis KOH 1% (b/v). Hasil karakteristik biodiesel minyak sawit dan jarak pagar secara keseluruhan tidak berbeda dan masuk standar SNI 7182-2015. Kadar metil ester sebesar 97,66%; angka asam 0,25 mg KOH/g sampel; angka penyabunan 184,93; gliserol total 0,22; densitas 0,878 g/cm3.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130496641","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-10-31DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v27i3.86
Rokhana Faizah
Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan patogen Ganoderma boninense menjadi penyakit utama pada kelapa sawit yang menurunkan produktivitas secara signifikan. Pengembangan varietas kelapa sawit tahan penyakit BPB melalui beberapa tahapan dan evaluasi di setiap prosesnya. Tulisan ini akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan respon ketahanan dan tahapan pengembangan biomarka berbasis nukleotida untuk mendapatkan varietas kelapa sawit tahan Ganoderma. Evaluasi fenotipe dan genotipe plasma nutfah sebagai sumber material genetik, metode pemuliaan dan seleksi tanaman tahan, respon ketahanan tanaman, dan gen-gen yang terlibat dalam ketahanan penyakit menjadi komponen yang berkaitan dengan efektif dan efisien biomarka pada program pemuliaan kelapa sawit tahan penyakit BPB. Pengembangan biomarka untuk seleksi karakter unggul pada kelapa sawit dan tanaman lain juga dijelaskan pada artikel ini.
{"title":"PENGEMBANGAN BIOMARKA UNTUK SELEKSI TANAMAN TAHAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG PADA KELAPA SAWIT","authors":"Rokhana Faizah","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v27i3.86","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v27i3.86","url":null,"abstract":"Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan patogen Ganoderma boninense menjadi penyakit utama pada kelapa sawit yang menurunkan produktivitas secara signifikan. Pengembangan varietas kelapa sawit tahan penyakit BPB melalui beberapa tahapan dan evaluasi di setiap prosesnya. Tulisan ini akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan respon ketahanan dan tahapan pengembangan biomarka berbasis nukleotida untuk mendapatkan varietas kelapa sawit tahan Ganoderma. Evaluasi fenotipe dan genotipe plasma nutfah sebagai sumber material genetik, metode pemuliaan dan seleksi tanaman tahan, respon ketahanan tanaman, dan gen-gen yang terlibat dalam ketahanan penyakit menjadi komponen yang berkaitan dengan efektif dan efisien biomarka pada program pemuliaan kelapa sawit tahan penyakit BPB. Pengembangan biomarka untuk seleksi karakter unggul pada kelapa sawit dan tanaman lain juga dijelaskan pada artikel ini.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"232 7","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"120933482","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-10-31DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v27i3.84
R. Amalia, Sachnaz Desta Oktarina
Tidak banyak yang tahu bahwa peran perempuan menyumbang kontribusi yang tidak sedikit bagi sektor pertanian dan perkebunan Indonesia. Tidak hanya bertugas menjamin ketahanan pangan keluarga dan aktif di ranah sosial, perempuan juga dapat membantu perekonomian rumah tangga. FAO menyebutkan 60% dari pekerja usaha tani Indonesia adalah sosok perempuan. Cukup banyak literatur yang menjabarkan peran perempuan dalam industri perkebunan kelapa sawit. Namun, tidak banyak kajian peran perempuan yang menitikberatkan di rantai pasok lainnya, seperti sektor hilir dan sisi konsumen. Tulisan ini mengkaji bagaimana peran dan kinerja perempuan dalam perkembangan industri kelapa sawit Indonesia. Studi melalui data sekunder dan analisis non-parametrik Wilcoxon Rank Sum Test menjelaskan secara bernas bahwa kinerja perempuan di beberapa rantai pasok menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan gender lainnya. Peran perempuan tidak dapat dinafikan terutama dalam hal penentuan keputusan pembelian suatu barang. Analisis konten menunjukkan bahwa konsumen perempuan lebih elastis terhadap produk kelapa sawit yang bersertifikat keberlanjutan (ISPO/RSPO).
很少有人知道妇女的作用对印尼农业和种植园贡献良多。妇女不仅负责确保家庭粮食安全和活跃在社会领域,而且还可以帮助家庭经济。粮农组织表示,60%的印尼农场工人是女性。关于妇女在棕榈油生产中的作用,有相当多的文献。然而,对于下游和消费者方面等其他行业中影响深远的女性角色的研究并不多。这篇文章探讨了妇女在印尼棕榈油工业发展中的作用和表现。次生数据的研究和对Wilcoxon Rank Sum Test的非参数分析表明,一些链中的女性表现比其他性别更好。女性在确定购买决定方面的角色尤其重要。内容分析表明,女性消费者对持续性棕榈油产品(ISPO/RSPO)更有弹性。
{"title":"PERAN PEREMPUAN PADA RANTAI PASOK INDUSTRI KELAPA SAWIT","authors":"R. Amalia, Sachnaz Desta Oktarina","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v27i3.84","DOIUrl":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v27i3.84","url":null,"abstract":"Tidak banyak yang tahu bahwa peran perempuan menyumbang kontribusi yang tidak sedikit bagi sektor pertanian dan perkebunan Indonesia. Tidak hanya bertugas menjamin ketahanan pangan keluarga dan aktif di ranah sosial, perempuan juga dapat membantu perekonomian rumah tangga. FAO menyebutkan 60% dari pekerja usaha tani Indonesia adalah sosok perempuan. Cukup banyak literatur yang menjabarkan peran perempuan dalam industri perkebunan kelapa sawit. Namun, tidak banyak kajian peran perempuan yang menitikberatkan di rantai pasok lainnya, seperti sektor hilir dan sisi konsumen. Tulisan ini mengkaji bagaimana peran dan kinerja perempuan dalam perkembangan industri kelapa sawit Indonesia. Studi melalui data sekunder dan analisis non-parametrik Wilcoxon Rank Sum Test menjelaskan secara bernas bahwa kinerja perempuan di beberapa rantai pasok menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan gender lainnya. Peran perempuan tidak dapat dinafikan terutama dalam hal penentuan keputusan pembelian suatu barang. Analisis konten menunjukkan bahwa konsumen perempuan lebih elastis terhadap produk kelapa sawit yang bersertifikat keberlanjutan (ISPO/RSPO).","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"2009 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-10-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125635698","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}