Dyspepsia is commonly managed by general practitioners. The main symptom is a feeling of discomfort or heartburn and may be accompanied by a feeling of fullness, nausea, and vomiting. Dyspepsia can be divided into organic dyspepsia and functional dyspepsia. Management of dyspepsia starts from education, diet control, stress management, to drug therapy.
{"title":"Diagnosis dan Tata Laksana Dispepsia","authors":"Abdul Jafar Sidik","doi":"10.55175/cdk.v51i3.926","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v51i3.926","url":null,"abstract":"Dyspepsia is commonly managed by general practitioners. The main symptom is a feeling of discomfort or heartburn and may be accompanied by a feeling of fullness, nausea, and vomiting. Dyspepsia can be divided into organic dyspepsia and functional dyspepsia. Management of dyspepsia starts from education, diet control, stress management, to drug therapy. ","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":" 394","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140092395","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
People with diabetes mellitus have a dysregulated immune system and are more susceptible to infection, which poses a higher risk of severe influenza complications. Current evidence for influenza vaccine effectiveness in people with diabetes mellitus indicates a beneficial reduction of morbidity and mortality. In addition, serological studies show antibody levels elicited from influenza vaccination in diabetes patients show comparable results with healthy adults. Although more controlled clinical trials in diabetes mellitus patients with influenza are needed to reflect the effect of vaccination, current data indicate the need for routine influenza vaccination in diabetes mellitus patients, as recommended by guidelines. Efforts should be made to increase vaccination coverage in this risk group.
{"title":"Manfaat Vaksinasi Influenza bagi Pasien Diabetes Melitus","authors":"Rudy Kurniawan, D. Tahapary","doi":"10.55175/cdk.v51i3.1025","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v51i3.1025","url":null,"abstract":"People with diabetes mellitus have a dysregulated immune system and are more susceptible to infection, which poses a higher risk of severe influenza complications. Current evidence for influenza vaccine effectiveness in people with diabetes mellitus indicates a beneficial reduction of morbidity and mortality. In addition, serological studies show antibody levels elicited from influenza vaccination in diabetes patients show comparable results with healthy adults. Although more controlled clinical trials in diabetes mellitus patients with influenza are needed to reflect the effect of vaccination, current data indicate the need for routine influenza vaccination in diabetes mellitus patients, as recommended by guidelines. Efforts should be made to increase vaccination coverage in this risk group.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"39 4","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140282752","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Primary brainstem hemorrhage is an intracerebral hemorrhage that affects the brainstem, primarily caused by chronic hypertension. Clinical manifestations include decreased consciousness, motor weakness, respiratory problems, hyperthermia, and pupillary abnormalities. Diagnosis is with a head CT scan/MRI, bleeding was found in the mesencephalon, pontine, or medulla oblongata. Management is conservative with stabilization of vital signs, correction of hemostatic abnormalities, and intensive monitoring of neurological symptoms. Surgery is still controversial because of the lack of clinical and research evidence. The prognosis is generally grave depending on the degree of initial loss of consciousness, location, and volume of bleeding.
{"title":"Diagnosis dan Tata Laksana Perdarahan Batang Otak Primer","authors":"Henry Hadianto","doi":"10.55175/cdk.v51i3.944","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v51i3.944","url":null,"abstract":"Primary brainstem hemorrhage is an intracerebral hemorrhage that affects the brainstem, primarily caused by chronic hypertension. Clinical manifestations include decreased consciousness, motor weakness, respiratory problems, hyperthermia, and pupillary abnormalities. Diagnosis is with a head CT scan/MRI, bleeding was found in the mesencephalon, pontine, or medulla oblongata. Management is conservative with stabilization of vital signs, correction of hemostatic abnormalities, and intensive monitoring of neurological symptoms. Surgery is still controversial because of the lack of clinical and research evidence. The prognosis is generally grave depending on the degree of initial loss of consciousness, location, and volume of bleeding.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"139 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140282260","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
K. Suryoadji, Reynardi Larope Sutanto, Christopher Christian, Elza Nur Warsa Putra, M. Faruqi, Kevin Tadeus Simanjuntak, Ilham Qurrota A’yun, Najmah Ali
Pendahuluan: Merokok, yang melibatkan tembakau sebagai bahan utama, memiliki dampak yang luas pada kesehatan lingkungan dan manusia. Studi ini menggabungkan penggunaan literatur dan penelitian terkait dampak merokok pada kesehatan lingkungan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan, mengacu pada sumber referensi yang relevan. Pencarian dokumen dilakukan melalui Google Scholar dan pencarian manual dengan kata kunci “(Smoking) AND (Environmental Health)”. Hasil: Dampak merokok pada lingkungan sangat kompleks, termasuk polusi udara, sampah puntung rokok, dan dampak pengolahan serta produksi rokok pada lahan dan air. Terdapat masalah regulasi dalam upaya mengendalikan dampak negatif merokok pada lingkungan. Diskusi: Dampak polusi udara akibat merokok mencakup peningkatan emisi karbon dioksida yang signifikan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim. Sampah puntung rokok menimbulkan akumulasi sampah plastik yang merugikan ekosistem laut dan kesehatan manusia. Produksi tembakau juga membawa dampak serius, termasuk deforestasi, penggunaan agrokimia, dan polusi. Pengendalian tembakau dan rokok memerlukan langkah-langkah komprehensif, termasuk regulasi biaya, larangan iklan, dan pemantauan ketat. Perlu regulasi yang lebih kuat dan upaya kolaboratif untuk mengatasi dampak merokok pada kesehatan lingkungan. Simpulan: Merokok memiliki dampak negatif yang signifikan pada kesehatan lingkungan, termasuk polusi udara, sampah, dan dampak dari produksi tembakau. Upaya lebih lanjut diperlukan untuk mengendalikan dampak negatif ini melalui regulasi yang efektif dan kesadaran masyarakat tentang dampak lingkungan dari kebiasaan merokok.
导言:以烟草为主要成分的吸烟对环境和人类健康有着深远的影响。本研究结合使用与吸烟对环境健康的影响有关的文献和研究。研究方法本研究采用文献研究法,参考了相关参考资料。通过 Google Scholar 和人工搜索进行文献检索,关键词为"(吸烟)和(环境健康)"。研究结果吸烟对环境的影响十分复杂,包括空气污染、烟头垃圾以及卷烟加工和生产对土地和水的影响。在控制吸烟对环境的负面影响方面存在监管问题。讨论:吸烟对空气污染的影响包括二氧化碳排放量大幅增加,并导致气候变化。烟头垃圾导致塑料废物的积累,危害海洋生态系统和人类健康。烟草生产也带来严重影响,包括森林砍伐、农用化学品的使用和污染。烟草和香烟控制需要采取综合措施,包括成本监管、广告禁令和严格监控。要解决吸烟对环境健康的影响,需要更强有力的监管和共同努力。结论:吸烟对环境健康有很大的负面影响,包括空气污染、垃圾和烟草生产的影响。需要进一步努力,通过有效监管和提高公众对吸烟环境影响的认识来控制这些负面影响。
{"title":"Dampak Merokok terhadap Kesehatan Lingkungan: Sebuah Tinjauan Naratif","authors":"K. Suryoadji, Reynardi Larope Sutanto, Christopher Christian, Elza Nur Warsa Putra, M. Faruqi, Kevin Tadeus Simanjuntak, Ilham Qurrota A’yun, Najmah Ali","doi":"10.55175/cdk.v51i3.1064","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v51i3.1064","url":null,"abstract":"Pendahuluan: Merokok, yang melibatkan tembakau sebagai bahan utama, memiliki dampak yang luas pada kesehatan lingkungan dan manusia. Studi ini menggabungkan penggunaan literatur dan penelitian terkait dampak merokok pada kesehatan lingkungan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan, mengacu pada sumber referensi yang relevan. Pencarian dokumen dilakukan melalui Google Scholar dan pencarian manual dengan kata kunci “(Smoking) AND (Environmental Health)”. Hasil: Dampak merokok pada lingkungan sangat kompleks, termasuk polusi udara, sampah puntung rokok, dan dampak pengolahan serta produksi rokok pada lahan dan air. Terdapat masalah regulasi dalam upaya mengendalikan dampak negatif merokok pada lingkungan. Diskusi: Dampak polusi udara akibat merokok mencakup peningkatan emisi karbon dioksida yang signifikan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim. Sampah puntung rokok menimbulkan akumulasi sampah plastik yang merugikan ekosistem laut dan kesehatan manusia. Produksi tembakau juga membawa dampak serius, termasuk deforestasi, penggunaan agrokimia, dan polusi. Pengendalian tembakau dan rokok memerlukan langkah-langkah komprehensif, termasuk regulasi biaya, larangan iklan, dan pemantauan ketat. Perlu regulasi yang lebih kuat dan upaya kolaboratif untuk mengatasi dampak merokok pada kesehatan lingkungan. Simpulan: Merokok memiliki dampak negatif yang signifikan pada kesehatan lingkungan, termasuk polusi udara, sampah, dan dampak dari produksi tembakau. Upaya lebih lanjut diperlukan untuk mengendalikan dampak negatif ini melalui regulasi yang efektif dan kesadaran masyarakat tentang dampak lingkungan dari kebiasaan merokok.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"28 18","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140084342","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Glaucoma is the second-leading global cause of blindness. Lowering intraocular pressure can prevent the worsening of open-angle glaucoma, but alternative neuroprotective therapies are needed; citicoline is supposed to have neuroprotective potential. This evidence-based case report was to review the effectiveness of oral citicoline as an adjunct therapy for glaucoma. From 22 studies identified through PubMed, Scopus, Cochrane, EBSCO Host, and Google Scholar, three articles were selected for critical review. Lanza M. found the RNFL and GCC of the citicoline group 500 mg were significantly higher, 70.39 and 71.19 Pm, p<0,01 compared to controls, after 12 months. Sahin A, et al, showed that the RNFL was significantly higher in the third month than baseline in the oral citicoline 250 mg group, p = 0.038. Putri VC, et al, found that after 60 days, based on sub-group analysis, there was a significant difference in RNFL and GCIPL thickness changes after citicoline 500 mg intervention in the mild glaucoma group and after citicoline 1,000 mg in the moderate-severe glaucoma group. Oral citicoline supplementation prevents significant worsening of glaucoma, it can be given as an adjunct therapy.
{"title":"Peran Citicoline Oral Sebagai Terapi Tambahan dalam Pengobatan Glaukoma","authors":"Wina Sinaga","doi":"10.55175/cdk.v51i3.1051","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v51i3.1051","url":null,"abstract":"Glaucoma is the second-leading global cause of blindness. Lowering intraocular pressure can prevent the worsening of open-angle glaucoma, but alternative neuroprotective therapies are needed; citicoline is supposed to have neuroprotective potential. This evidence-based case report was to review the effectiveness of oral citicoline as an adjunct therapy for glaucoma. From 22 studies identified through PubMed, Scopus, Cochrane, EBSCO Host, and Google Scholar, three articles were selected for critical review. Lanza M. found the RNFL and GCC of the citicoline group 500 mg were significantly higher, 70.39 and 71.19 Pm, p<0,01 compared to controls, after 12 months. Sahin A, et al, showed that the RNFL was significantly higher in the third month than baseline in the oral citicoline 250 mg group, p = 0.038. Putri VC, et al, found that after 60 days, based on sub-group analysis, there was a significant difference in RNFL and GCIPL thickness changes after citicoline 500 mg intervention in the mild glaucoma group and after citicoline 1,000 mg in the moderate-severe glaucoma group. Oral citicoline supplementation prevents significant worsening of glaucoma, it can be given as an adjunct therapy.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"11 22","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-03-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140268680","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Konsep analgesia multimodal dianjurkan untuk pengobatan nyeri. Paracetamol dan nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAID) umumnya menjadi analgesik dasar, serta dikombinasikan dengan opioid sesuai kebutuhan. Analgesik intravena (IV) dapat menjadi solusi bagi pasien yang tidak dapat menerima analgesik per oral. Kombinasi paracetamol dan ibuprofen IV menunjukkan efek analgesik yang signifikan, dengan manfaat opioid sparing, antipiretik, serta dengan profil keamanan yang relatif baik pada pasien nyeri akut. The concept of multimodal analgesia is recommended for the treatment of pain. Paracetamol and nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are generally the basic analgesics, and are combined with opioids as needed. Intravenous (IV) analgesics may serve as an alternative for patients who cannot tolerate oral analgesics. The IV combination of paracetamol and ibuprofen for acute pain shows a significant analgesic effect with the benefits of opioid sparing, also with antipyretic effect, and with a relatively good safety profile.
{"title":"Kombinasi Analgesik Non-opioid Intravena untuk Tata Laksana Nyeri Akut","authors":"Johan Indra Lukito","doi":"10.55175/cdk.v50i9.868","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i9.868","url":null,"abstract":"Konsep analgesia multimodal dianjurkan untuk pengobatan nyeri. Paracetamol dan nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAID) umumnya menjadi analgesik dasar, serta dikombinasikan dengan opioid sesuai kebutuhan. Analgesik intravena (IV) dapat menjadi solusi bagi pasien yang tidak dapat menerima analgesik per oral. Kombinasi paracetamol dan ibuprofen IV menunjukkan efek analgesik yang signifikan, dengan manfaat opioid sparing, antipiretik, serta dengan profil keamanan yang relatif baik pada pasien nyeri akut.\u0000 \u0000The concept of multimodal analgesia is recommended for the treatment of pain. Paracetamol and nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are generally the basic analgesics, and are combined with opioids as needed. Intravenous (IV) analgesics may serve as an alternative for patients who cannot tolerate oral analgesics. The IV combination of paracetamol and ibuprofen for acute pain shows a significant analgesic effect with the benefits of opioid sparing, also with antipyretic effect, and with a relatively good safety profile.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129609610","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Hiponatremia adalah gangguan elektrolit karena total air tubuh yang berlebih dibandingkan dengan total jumlah natrium. Hiponatremia dapat diklasifikasikan menurut osmolalitas, status volume tubuh, dan osmolalitas urin. Ketoasidosis diabetik dengan kadar gula darah tinggi biasanya akan menyebabkan hiponatremia dilusional. Pada laporan kasus ini akan dibahas klasifikasi hiponatremia dan kejadiannya pada pasien ketoasidosis diabetik atau pada pasien hiperglikemia. Hiponatremia adalah gangguan elektrolit karena total air tubuh yang berlebih dibandingkan dengan total jumlah natrium. Hiponatremia dapat diklasifikasikan menurut osmolalitas, status volume tubuh, dan osmolalitas urin. Ketoasidosis diabetik dengan kadar gula darah tinggi biasanya akan menyebabkan hiponatremia dilusional. Pada laporan kasus ini akan dibahas klasifikasi hiponatremia dan kejadiannya pada pasien ketoasidosis diabetik atau pada pasien hiperglikemia.
{"title":"Diabetic Ketoacidosis with Hyponatremia Development","authors":"Irianto","doi":"10.55175/cdk.v50i9.866","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i9.866","url":null,"abstract":"Hiponatremia adalah gangguan elektrolit karena total air tubuh yang berlebih dibandingkan dengan total jumlah natrium. Hiponatremia dapat diklasifikasikan menurut osmolalitas, status volume tubuh, dan osmolalitas urin. Ketoasidosis diabetik dengan kadar gula darah tinggi biasanya akan menyebabkan hiponatremia dilusional. Pada laporan kasus ini akan dibahas klasifikasi hiponatremia dan kejadiannya pada pasien ketoasidosis diabetik atau pada pasien hiperglikemia.\u0000 \u0000Hiponatremia adalah gangguan elektrolit karena total air tubuh yang berlebih dibandingkan dengan total jumlah natrium. Hiponatremia dapat diklasifikasikan menurut osmolalitas, status volume tubuh, dan osmolalitas urin. Ketoasidosis diabetik dengan kadar gula darah tinggi biasanya akan menyebabkan hiponatremia dilusional. Pada laporan kasus ini akan dibahas klasifikasi hiponatremia dan kejadiannya pada pasien ketoasidosis diabetik atau pada pasien hiperglikemia.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"47 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131936139","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Tama Roma Ida Simangunsong, Ita Armyanti, Iit Fitrianingrum
Latar Belakang: Mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan kecerdasan emosional dan perilaku perfesional yang baik akan dapat memberikan kualitas pelayanan terbaik, sehingga memaksimalkan pelayanan kesehatan. Kecerdasan emosional juga diperlukan untuk pengembangan perilaku profesional. Tujuan: Mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku profesional mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2019. Metode: Studi analitik observasional jenis cross-sectional. Populasi penelitian merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2019. Teknik pengumpulan sampel, yaitu total sampling dengan subjek penelitian 171 orang. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2019 sebagian besar memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang dan memiliki perilaku profesional di bawah rata-rata. Terdapat hubungan positif bermakna antara variabel pengendalian diri, empati, dan keterampilan sosial pada kecerdasan emosional terhadap perilaku profesional mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2019. Background: Faculty of medicine students with high emotional control will manage their feelings and emotions well to provide the best quality of service. Students need to develop their professional behavior from the beginning of educational process. Purpose: To determine the relationship between emotional intelligence and professional behavior among Faculty of Medicine students, Tanjungpura University batch 2019. Method: A cross-sectional observational analytical study. The respondents were Faculty of Medicine students, Tanjungpura University batch 2019 with a total sampling of 171 respondents. Bivariate analysis used the Spearman correlation test. Result: Students of the Medical Study Program, Faculty of Medicine, Tanjungpura University batch 2019 mostly have a moderate level of emotional intelligence and below-average professional behavior. There is a significant positive relationship between emotional intelligence and professional behavior on the variables of self-control, empathy, and social skills.
背景:拥有良好情感智慧和完美行为的医学院学生将能够提供最好的服务质量,从而最大限度地提高医疗保健。职业行为发展还需要情感智慧。目标:学习情商与坦永普拉大学医学院(Tanjungpura university of medical school of Tanjungpura) 2019届学生的职业行为关系。方法:分析交叉类型的观察研究。研究人口是2019届医学院的学生。样本采集技术,总共是171个样本。bivariat分析使用Spearman相关性测试。结果:坦永普拉大学医学院(Tanjungpura university school of medical students) 2019班的学生大多情绪不佳,职业行为也低于平均水平。在坦永普拉大学医学院学生的职业行为方面,自我控制、同理心和社交技巧之间存在着积极而有意义的联系。背景:高度情绪控制的医学学生将使他们的感觉和情感提供最佳服务。学生需要从教育开始培养他们的专业行为。目的:确定神经情报和职业行为之间的关系方法:交叉分析分析研究。这个委员会是医学专业的学生,坦贡普拉大学2019号批次,共抽样了171个答题。两瓦分析用了Spearman correlation测试。推荐:医学研究项目的学生、医学的事实、坦贡普拉大学第2019批至少有一个适度的情感智能和专业平均行为水平。关于自我控制、同情和社会技能的变化,情感和专业行为之间存在着重要的积极关系。
{"title":"Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Perilaku Profesional Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Angkatan 2019","authors":"Tama Roma Ida Simangunsong, Ita Armyanti, Iit Fitrianingrum","doi":"10.55175/cdk.v50i9.1033","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i9.1033","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan kecerdasan emosional dan perilaku perfesional yang baik akan dapat memberikan kualitas pelayanan terbaik, sehingga memaksimalkan pelayanan kesehatan. Kecerdasan emosional juga diperlukan untuk pengembangan perilaku profesional. Tujuan: Mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku profesional mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2019. Metode: Studi analitik observasional jenis cross-sectional. Populasi penelitian merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2019. Teknik pengumpulan sampel, yaitu total sampling dengan subjek penelitian 171 orang. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2019 sebagian besar memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang dan memiliki perilaku profesional di bawah rata-rata. Terdapat hubungan positif bermakna antara variabel pengendalian diri, empati, dan keterampilan sosial pada kecerdasan emosional terhadap perilaku profesional mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2019. \u0000Background: Faculty of medicine students with high emotional control will manage their feelings and emotions well to provide the best quality of service. Students need to develop their professional behavior from the beginning of educational process. Purpose: To determine the relationship between emotional intelligence and professional behavior among Faculty of Medicine students, Tanjungpura University batch 2019. Method: A cross-sectional observational analytical study. The respondents were Faculty of Medicine students, Tanjungpura University batch 2019 with a total sampling of 171 respondents. Bivariate analysis used the Spearman correlation test. Result: Students of the Medical Study Program, Faculty of Medicine, Tanjungpura University batch 2019 mostly have a moderate level of emotional intelligence and below-average professional behavior. There is a significant positive relationship between emotional intelligence and professional behavior on the variables of self-control, empathy, and social skills.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"115 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116626786","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Background: Pneumonia is the leading cause of death among less than 5 year-old children worldwide, mainly in Asia in the form of community-acquired pneumonia. As primary prevention is considered crucial in combating the disease, risk factors need to be analyzed. Methods: Based on the PRISMA guidelines, observational studies were explored systematically by the PubMed MEDLINE database with inclusion and exclusion criteria. The studies retrieved are then assessed with the STROBE method. Results and Discussion: A total of 8 studies were included, with total participants of 16.862 children. STROBE score results range from 12.2 to 19.6. Several risk factors were associated with pneumonia and risk factor; the highest odds ratio are daytime abnormal behavior (OR: 11.06, 95% CI: 1.51-81.26, p=0.018), asthma diagnosis (OR: 5.85, 95% CI: 4.83–7.08), poor economic status (OR = 4.95, 95% CI: 2.38 to 10.28, p<0.05), and smoke-related cooking process (OR = 3.97, 95% CI: 2.00-7.88, p<0.05). Conclusion: The most associated host risk factor was health-related conditions while the most associated environmental risk factor was the smoke-related environment. Daytime abnormal behavior, the risk factor with the highest odds ratio. Latar Belakang: Pneumonia adalah penyebab kematian nomor satu pada anak usia di bawah 5 tahun di seluruh dunia, terutama di Asia, dalam bentuk community-acquired pneumonia. Pencegahan primer penyakit ini sangat penting; Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis faktor risiko pneumonia pada anak usia di bawah 5 tahun. Metode: Berdasarkan pedoman PRISMA, tinjauan literatur untuk studi observasional dilakukan melalui database PubMed MEDLINE dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Studi yang diperoleh dinilai menggunakan metode STROBE. Sebanyak 8 penelitian memenuhi kriteria dengan total subjek 16.862 anak. Hasil: Skor STROBE berkisar antara 12,2 hingga 19,6. Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan pneumonia; faktor risiko dengan odds ratio tertinggi adalah perilaku abnormal di siang hari (OR: 11,06; 95% CI: 1,51-81,26; p=0,018), asma (OR: 5,85; 95% CI: 4,83-7,08), status ekonomi buruk (OR=4,95; 95% CI: 2,38-10,28; p<0,05), dan proses memasak yang menghasilkan asap (OR=3,97; 95% CI: 2,00-7,88; p<0,05). Simpulan: Faktor risiko yang paling banyak dikaitkan adalah kondisi kesehatan subjek, sedangkan faktor risiko lingkungan yang paling banyak dibahas adalah lingkungan yang berhubungan dengan asap. Perilaku abnormal di siang hari yang merupakan faktor risiko dengan odds ratio tertinggi.
背景:肺炎是全世界5岁以下儿童死亡的主要原因,主要在亚洲以社区获得性肺炎的形式出现。由于一级预防被认为是防治该病的关键,因此需要分析风险因素。方法:根据PRISMA指南,通过PubMed MEDLINE数据库系统地对观察性研究进行纳入和排除标准。然后用STROBE方法对检索到的研究进行评估。结果与讨论:共纳入8项研究,共纳入16862名儿童。STROBE评分结果从12.2到19.6不等。几个危险因素与肺炎和危险因素相关;比值比最高的是日间异常行为(OR: 11.06, 95% CI: 1.51 ~ 81.26, p=0.018)、哮喘诊断(OR: 5.85, 95% CI: 4.83 ~ 7.08)、经济状况不佳(OR = 4.95, 95% CI: 2.38 ~ 10.28, p<0.05)和与烟熏有关的烹饪过程(OR = 3.97, 95% CI: 2.00 ~ 7.88, p<0.05)。结论:与健康相关的宿主危险因素最多,与吸烟相关的环境危险因素最多。日间异常行为是比值比最高的危险因素。Latar Belakang:肺炎(adalah penyebab kematian)、肺炎(adalah penyebab kematian)、肺炎(natalama di Asia)、社区获得性肺炎(dalam bentuk)。铅笔底漆;铅笔底漆;奥列·卡瑞纳图,潘鲁·迪拉库坎,分析巴瓦克雅尔河地区肺炎风险因素。方法:Berdasarkan pedoman PRISMA,天津文献研究,观察性研究,数据库PubMed MEDLINE邓根标准,inklui和eksklui yang telah ditetapkan。研究了杨二波罗、孟古纳坎的频闪方法。Sebanyak 8 penelitian memuhi标准,总标号16.862。哈西尔:斯科尔·斯特罗布·贝基萨尔·安塔拉12,2,辛加19,6。杨伯虎肺肺肺炎;风险因子:风险比:风险比:风险比:风险比:风险比:风险比:风险比:风险比:风险比:11,06;95% ci: 1,51-81,26;p= 0.018), asma (OR: 5,85;95% CI: 4,83-7,08),经济状况buruk (OR=4,95;95% ci: 2,38-10,28;p< 0.05), dan propromesasak yang menghasilkan asap (OR=3,97;95% ci: 2000 -7,88;p < 0 05)。Simpulan: ftor risko yang paling banyak dikaitkan adalah kondisi kesehatan subject, sedangkan ftor risko lingkungan yang paling banyak dibahas adalah lingkungan yang berhubungan dengan asap。危险地区异常的disiang hari yang merupakan因素,危险的登干优势比。
{"title":"Risk Factors for Community-acquired Pneumonia among Children Under-five Years in Asia: A Systematic Review of Observational Studies","authors":"M. F. Soelaeman, Johan Cahyadirga","doi":"10.55175/cdk.v50i9.841","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i9.841","url":null,"abstract":"Background: Pneumonia is the leading cause of death among less than 5 year-old children worldwide, mainly in Asia in the form of community-acquired pneumonia. As primary prevention is considered crucial in combating the disease, risk factors need to be analyzed. Methods: Based on the PRISMA guidelines, observational studies were explored systematically by the PubMed MEDLINE database with inclusion and exclusion criteria. The studies retrieved are then assessed with the STROBE method. Results and Discussion: A total of 8 studies were included, with total participants of 16.862 children. STROBE score results range from 12.2 to 19.6. Several risk factors were associated with pneumonia and risk factor; the highest odds ratio are daytime abnormal behavior (OR: 11.06, 95% CI: 1.51-81.26, p=0.018), asthma diagnosis (OR: 5.85, 95% CI: 4.83–7.08), poor economic status (OR = 4.95, 95% CI: 2.38 to 10.28, p<0.05), and smoke-related cooking process (OR = 3.97, 95% CI: 2.00-7.88, p<0.05). Conclusion: The most associated host risk factor was health-related conditions while the most associated environmental risk factor was the smoke-related environment. Daytime abnormal behavior, the risk factor with the highest odds ratio.\u0000 \u0000Latar Belakang: Pneumonia adalah penyebab kematian nomor satu pada anak usia di bawah 5 tahun di seluruh dunia, terutama di Asia, dalam bentuk community-acquired pneumonia. Pencegahan primer penyakit ini sangat penting; Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis faktor risiko pneumonia pada anak usia di bawah 5 tahun. Metode: Berdasarkan pedoman PRISMA, tinjauan literatur untuk studi observasional dilakukan melalui database PubMed MEDLINE dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Studi yang diperoleh dinilai menggunakan metode STROBE. Sebanyak 8 penelitian memenuhi kriteria dengan total subjek 16.862 anak. Hasil: Skor STROBE berkisar antara 12,2 hingga 19,6. Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan pneumonia; faktor risiko dengan odds ratio tertinggi adalah perilaku abnormal di siang hari (OR: 11,06; 95% CI: 1,51-81,26; p=0,018), asma (OR: 5,85; 95% CI: 4,83-7,08), status ekonomi buruk (OR=4,95; 95% CI: 2,38-10,28; p<0,05), dan proses memasak yang menghasilkan asap (OR=3,97; 95% CI: 2,00-7,88; p<0,05). Simpulan: Faktor risiko yang paling banyak dikaitkan adalah kondisi kesehatan subjek, sedangkan faktor risiko lingkungan yang paling banyak dibahas adalah lingkungan yang berhubungan dengan asap. Perilaku abnormal di siang hari yang merupakan faktor risiko dengan odds ratio tertinggi.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"54 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125168389","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Introduction: Hyponatremia (<135 mmol/L) is one of the most common electrolyte disturbances in clinical practice. Correct treatment can prevent worse outcomes. A case of hyponatremia supposedly induced by amlodipine besylate was presented. Case: A 74 year-old male with lethargy and occasional nausea and admitted to having chronic hyponatremia in the past years. He’s been taking clopidogrel, simvastatin, and amlodipine besylate regularly since 7 years ago and had a history of coronary angioplasty 7 years ago. His lowest serum sodium level was 128 mmol/L even though he already took a 500 mg of sodium chlorine once daily. His serum sodium level never reached the normal range despite increasing salt intake and fluid restriction. Discontinuation of amlodipine besylate and change to nebivolol result in increased serum sodium level to 131 mmol/L. Conclusion: This case of hyponatremia may be induced by amlodipine. Pendahuluan: Hiponatremia (<135 mmol/L) adalah salah satu gangguan elektrolit yang paling umum dalam praktik klinis sehari-hari. Tata laksana yang tepat dapat mencegah prognosis lebih buruk. Laporan ini memaparkan kasus hiponatremia diduga disebabkan oleh amlodipine besylate. Kasus: Laki-laki berusia 74 tahun datang dengan lesu dan mual sesekali dan mengaku menderita hiponatremia kronis dalam beberapa tahun terakhir. Dia telah mengonsumsi clopidogrel, simvastatin, dan amlodipine besylate secara teratur sejak 7 tahun yang lalu dan memiliki riwayat angioplasti koroner 7 tahun yang lalu. Kadar natrium serum terendahnya adalah 128 mmol/L, meskipun sudah mengonsumsi kapsul natrium klorida 500 mg sekali sehari. Kadar natrium serumnya tidak pernah mencapai kisaran normal, meskipun asupan garam dan pembatasan cairan sudah ditingkatkan. Amlodipine besylate dihentikan dan diganti dengan nebivolol; setelah itu kadar natrium serum menjadi 131 mmol/L. Simpulan: Kasus hiponatremia ini mungkin diinduksi oleh amlodipine.
简介:低钠血症(<135 mmol/L)是临床上最常见的电解质紊乱之一。正确的治疗可以预防更坏的结果。本文报道一例低钠血症,推测是由苯磺酸氨氯地平引起的。病例:74岁男性,嗜睡,偶尔恶心,承认过去几年有慢性低钠血症。7年前开始定期服用氯吡格雷、辛伐他汀和苯磺酸氨氯地平,7年前有冠状动脉成形术史。他的最低血清钠水平为128 mmol/L,尽管他已经每天服用一次500 mg氯钠。尽管增加了盐的摄入量并限制了液体的摄入,但他的血清钠水平从未达到正常范围。停用苯磺酸氨氯地平改用奈比洛尔导致血清钠水平升高至131 mmol/L。结论:本例低钠血症可能是氨氯地平所致。Pendahuluan:低钠血症(<135 mmol/L) adalah salah satu gangguan electrotrolit yang paling umum dalam praktik klinis sehari-hari。Tata laksana yang tepat dapat menegah prognosis lebih buruk。用苯磺酸氨氯地平治疗低钠血症。答:Laki-laki berusia 74 tahun dandandandanmengaku menderita hiponatemia kronis dalam beberapa tahunterakhir。氯吡格雷,辛伐他汀,氨氯地平,苯磺酸钠,血管成形术,血管成形术。卡达尔血钠128 mmol/L,米斯基普·乌苏达·孟山都·卡达尔钠500 mg。Kadar natrium serumnya tidak pernah menapai kisaran normal, meskipun asupan garam dan pembatasan cairan sudah ditingkatkan。苯磺酸氨氯地平;血钠131 mmol/L。猕猴:用氨氯地平治疗慢性低钠血症。
{"title":"Hyponatremia Induced by Amlodipine","authors":"Lissa Sabrina, Sidharta Salim","doi":"10.55175/cdk.v50i9.874","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i9.874","url":null,"abstract":"Introduction: Hyponatremia (<135 mmol/L) is one of the most common electrolyte disturbances in clinical practice. Correct treatment can prevent worse outcomes. A case of hyponatremia supposedly induced by amlodipine besylate was presented. Case: A 74 year-old male with lethargy and occasional nausea and admitted to having chronic hyponatremia in the past years. He’s been taking clopidogrel, simvastatin, and amlodipine besylate regularly since 7 years ago and had a history of coronary angioplasty 7 years ago. His lowest serum sodium level was 128 mmol/L even though he already took a 500 mg of sodium chlorine once daily. His serum sodium level never reached the normal range despite increasing salt intake and fluid restriction. Discontinuation of amlodipine besylate and change to nebivolol result in increased serum sodium level to 131 mmol/L. Conclusion: This case of hyponatremia may be induced by amlodipine. \u0000 \u0000Pendahuluan: Hiponatremia (<135 mmol/L) adalah salah satu gangguan elektrolit yang paling umum dalam praktik klinis sehari-hari. Tata laksana yang tepat dapat mencegah prognosis lebih buruk. Laporan ini memaparkan kasus hiponatremia diduga disebabkan oleh amlodipine besylate. Kasus: Laki-laki berusia 74 tahun datang dengan lesu dan mual sesekali dan mengaku menderita hiponatremia kronis dalam beberapa tahun terakhir. Dia telah mengonsumsi clopidogrel, simvastatin, dan amlodipine besylate secara teratur sejak 7 tahun yang lalu dan memiliki riwayat angioplasti koroner 7 tahun yang lalu. Kadar natrium serum terendahnya adalah 128 mmol/L, meskipun sudah mengonsumsi kapsul natrium klorida 500 mg sekali sehari. Kadar natrium serumnya tidak pernah mencapai kisaran normal, meskipun asupan garam dan pembatasan cairan sudah ditingkatkan. Amlodipine besylate dihentikan dan diganti dengan nebivolol; setelah itu kadar natrium serum menjadi 131 mmol/L. Simpulan: Kasus hiponatremia ini mungkin diinduksi oleh amlodipine.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"29 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128767593","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}