Intoksikasi asam jengkolat atau djenkolism merupakan salah satu penyebab gagal ginjal akut di Asia Tenggara. Manifestasi klinisnya dapat bervariasi. Dengan diagnosis dan tata laksana yang tepat, penderita dapat sembuh tanpa sekuele. Djenkolic acid intoxication or djenkolism is one of the causes of acute kidney failure in Southeast Asia. The clinical manifestations may vary. Patients can recover without sequelae with proper diagnosis and management.
{"title":"Diagnosis dan Tata Laksana Intoksikasi Asam Jengkolat","authors":"98 RiyantiAmeliabahwa, Veronica Noveni Dhfdhs merupakan, Desi Pauta virus.","doi":"10.55175/cdk.v50i8.678","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i8.678","url":null,"abstract":"Intoksikasi asam jengkolat atau djenkolism merupakan salah satu penyebab gagal ginjal akut di Asia Tenggara. Manifestasi klinisnya dapat bervariasi. Dengan diagnosis dan tata laksana yang tepat, penderita dapat sembuh tanpa sekuele.\u0000 \u0000Djenkolic acid intoxication or djenkolism is one of the causes of acute kidney failure in Southeast Asia. The clinical manifestations may vary. Patients can recover without sequelae with proper diagnosis and management.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"67 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125174949","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Tinitus merupakan persepsi suara tanpa adanya sumber suara eksternal. Walaupun tidak berbahaya, tinitus sangat memengaruhi kualitas hidup. Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk tinitus, namun konseling dan edukasi yang tepat dapat membantu pasien menangani stres yang berhubungan dengan tinitus. Tinnitus is the perception of sound without external source. Although not considered serious, tinnitus greatly affects quality of life. There is no established cure for tinnitus, but appropriate counseling and education could help patients dealing with stress associated with tinnitus.
{"title":"Diagnosis dan Tata Laksana Tinitus","authors":"Gabriela Widjaja, Vanessa Limdy Gunawan","doi":"10.55175/cdk.v50i8.999","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i8.999","url":null,"abstract":"Tinitus merupakan persepsi suara tanpa adanya sumber suara eksternal. Walaupun tidak berbahaya, tinitus sangat memengaruhi kualitas hidup. Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk tinitus, namun konseling dan edukasi yang tepat dapat membantu pasien menangani stres yang berhubungan dengan tinitus.\u0000 \u0000Tinnitus is the perception of sound without external source. Although not considered serious, tinnitus greatly affects quality of life. There is no established cure for tinnitus, but appropriate counseling and education could help patients dealing with stress associated with tinnitus.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"4 3-4","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"120909144","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
A. J. Nursalim, Vera Sumual, S. Loho, Christian Komaling, Oktavianus Makatipu
Pasien retinopati diabetik (diabetic retinopathy/DR) sering mengalami nyeri saat menjalani terapi panretina photocoagulation (PRP). Hubungan dokter – pasien yang baik dapat membantu membangun kepercayaan yang mampu mengubah persepsi nyeri pasien. Keluarga juga berperan penting dalam mendukung pasien dan memengaruhi persepsi nyeri. Selain itu, faktor psikologis seperti level depresi juga berdampak besar pada persepsi nyeri. Upaya meningkatkan toleransi nyeri pasien dengan membangun hubungan baik dokter - pasien serta mendukung keluarga dalam memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien. Patients with diabetic retinopathy (DR) often experience pain during panretinal photocoagulation (PRP) therapy. A good doctor-patient relationship can help build trust that can change patients' pain perception. Family support is also important to influence their pain perception. Psychological factors such as level of depression also have a significant impact on pain perception. Efforts should be made to improve pain tolerance in patients by building a good doctor - patient relationship, as well as supporting the patient's family in providing support and attention to the patient.
{"title":"Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Toleransi Nyeri Pada Pasien Dengan Terapi Panretina Photocoagulasi Untuk Pasien Proliferative Diabetic Retinopathy","authors":"A. J. Nursalim, Vera Sumual, S. Loho, Christian Komaling, Oktavianus Makatipu","doi":"10.55175/cdk.v50i7.665","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i7.665","url":null,"abstract":"Pasien retinopati diabetik (diabetic retinopathy/DR) sering mengalami nyeri saat menjalani terapi panretina photocoagulation (PRP). Hubungan dokter – pasien yang baik dapat membantu membangun kepercayaan yang mampu mengubah persepsi nyeri pasien. Keluarga juga berperan penting dalam mendukung pasien dan memengaruhi persepsi nyeri. Selain itu, faktor psikologis seperti level depresi juga berdampak besar pada persepsi nyeri. Upaya meningkatkan toleransi nyeri pasien dengan membangun hubungan baik dokter - pasien serta mendukung keluarga dalam memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien.\u0000Patients with diabetic retinopathy (DR) often experience pain during panretinal photocoagulation (PRP) therapy. A good doctor-patient relationship can help build trust that can change patients' pain perception. Family support is also important to influence their pain perception. Psychological factors such as level of depression also have a significant impact on pain perception. Efforts should be made to improve pain tolerance in patients by building a good doctor - patient relationship, as well as supporting the patient's family in providing support and attention to the patient.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122401144","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Introduction: The role of knowledge, attitude, and practice (KAP) in hypertension is crucial in controlling prevalence and preventing longterm complications against cardiovascular diseases. Method: Cross-sectional study on the elderlies with hypertension in Wijayakusuma Geriatric Outpatient Main Clinic, Bogor using valid KAP questionnaire. Results: The sample was 100 elderly hypertensive patients, 33% were male and 67% were female with an average of 67.43+5.13 years of age. As many as 75% of patients with controlled hypertension, 68% with obesity, 56% with hypertension less than 5 years, 54% had a family history of hypertension, and 2% had a history of smoking. The comorbidities were diabetes (40%), congestive heart disease (15%), and stroke (12%). The average knowledge is 81.88+16.8% (very good), the average attitude is 67.33+25.06% (good), and practice average 95+11.79% (very good). Knowledge is associated with education level (p=0.008) and hypertension duration (p=0.05). Attitudes are associated with controlled hypertension (p=0.008), whereas practice is related to age < 70 years (p=0.05). There is a relationship between knowledge and attitude (p=0.029). Conclusion: The role of KAP on hypertension in the elderly with hypertension are adequate, but can be improved. Pendahuluan: Peran pengetahuan, sikap, dan perilaku (PSP) pada hipertensi penting untuk mengontrol prevalensi dan mencegah komplikasi jangka panjang. Metode: Studi cross-sectional menggunakan kuesioner yang valid terkait PSP pada pasien lanjut usia (lansia) hipertensi di poliklinik Klinik Utama Geriatri Wijayakusuma, Bogor. Hasil: Didapatkan 100 orang pasien terdiri dari 33% laki-laki dan 67% perempuan dengan rerata umur 67,43±5,13 tahun. Sebanyak 75% pasien dengan hipertensi terkontrol, 68% dengan obesitas, 56% dengan hipertensi di bawah 5 tahun, 54% memiliki riwayat hipertensi pada keluarga, dan 2% dengan riwayat merokok. Komorbid adalah diabetes (40%), penyakit jantung kongestif (15%), dan stroke (12%). Rerata pengetahuan adalah 81,88±16,8% (sangat baik), rerata sikap adalah 67,33±25,06% (baik), dan rerata perilaku adalah 95±11,79% (sangat baik). Pengetahuan berkaitan dengan tingkat pendidikan (p=0,008) dan durasi hipertensi (p=0,05). Sikap berkaitan dengan hipertensi terkontrol (p=0,008) dan terkait pada kelompok usia ≤ 70 tahun (p=0,05). Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap (p=0,029). Simpulan: Peran PSP terkait hipertensi pada lansia sudah adekuat tetapi dapat ditingkatkan.
知识、态度和行为(KAP)在高血压中的作用对于控制患病率和预防心血管疾病的长期并发症至关重要。方法:采用有效的KAP问卷对茂物Wijayakusuma老年门诊主诊所的老年高血压患者进行横断面研究。结果:样本为100例老年高血压患者,男性占33%,女性占67%,平均年龄67.43+5.13岁。高血压控制患者占75%,肥胖患者占68%,5年以内高血压患者占56%,有高血压家族史的占54%,有吸烟史的占2%。合并症为糖尿病(40%)、充血性心脏病(15%)和中风(12%)。知识平均为81.88+16.8%(很好),态度平均为67.33+25.06%(好),实践平均为95+11.79%(很好)。知识与受教育程度(p=0.008)和高血压病程(p=0.05)相关。态度与高血压控制有关(p=0.008),而行为与年龄< 70岁有关(p=0.05)。知识与态度之间存在相关关系(p=0.029)。结论:KAP对老年高血压患者高血压的治疗作用是充分的,但仍有待提高。潘大江:潘大江,潘大江,潘大江,潘大江,潘大江,潘大江,潘大江,潘大江,潘大江,潘大江,潘大江,潘大江。方法:研究横断面孟古纳坎kuesonner yang有效的pspp - pasien lanjut - usia (lusia) - hiperteni - poliklinik - Utama - Geriatri Wijayakusuma,茂物。Hasil: Didapatkan 100 orang pasien terdiri dari 33% laki-laki dan 67% perempuan dengan rerata 67,43±5,13 tahun。塞班雅克75%的人患有登革热,68%的人患有肥胖,56%的人患有登革热,56%的人患有登革热,54%的人患有登革热,54%的人患有登革热,还有2%的人患有登革热。Komorbid adalah糖尿病(40%),penyakit jantung kongestif (15%), dan stroke(12%)。pengetahuan畸形畸形81,88±16.8% (sangat baik), sikap畸形畸形67,33±25.06% (baik), dan畸形畸形perperaku畸形畸形95±11.79% (sangat baik)。Pengetahuan berkaitan dengan tingkat pendidikan (p= 0.008)和durasi hipertensi (p= 0.05)。高血压对照组(p=0,008)和高血压对照组(p=0,05)。Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap (p= 0.029)。猴:Peran PSP terkait hipertensi padlansia sudah adekuat tetapi dapat ditingkatkan。
{"title":"Assessment of Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) towards Hypertension in the Elderlies","authors":"Rahmadia Kusumamardhika, Anis Puspita Utami, Hendro Darmawan","doi":"10.55175/cdk.v50i7.951","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i7.951","url":null,"abstract":"Introduction: The role of knowledge, attitude, and practice (KAP) in hypertension is crucial in controlling prevalence and preventing longterm complications against cardiovascular diseases. Method: Cross-sectional study on the elderlies with hypertension in Wijayakusuma Geriatric Outpatient Main Clinic, Bogor using valid KAP questionnaire. Results: The sample was 100 elderly hypertensive patients, 33% were male and 67% were female with an average of 67.43+5.13 years of age. As many as 75% of patients with controlled hypertension, 68% with obesity, 56% with hypertension less than 5 years, 54% had a family history of hypertension, and 2% had a history of smoking. The comorbidities were diabetes (40%), congestive heart disease (15%), and stroke (12%). The average knowledge is 81.88+16.8% (very good), the average attitude is 67.33+25.06% (good), and practice average 95+11.79% (very good). Knowledge is associated with education level (p=0.008) and hypertension duration (p=0.05). Attitudes are associated with controlled hypertension (p=0.008), whereas practice is related to age < 70 years (p=0.05). There is a relationship between knowledge and attitude (p=0.029). Conclusion: The role of KAP on hypertension in the elderly with hypertension are adequate, but can be improved.\u0000 \u0000Pendahuluan: Peran pengetahuan, sikap, dan perilaku (PSP) pada hipertensi penting untuk mengontrol prevalensi dan mencegah komplikasi jangka panjang. Metode: Studi cross-sectional menggunakan kuesioner yang valid terkait PSP pada pasien lanjut usia (lansia) hipertensi di poliklinik Klinik Utama Geriatri Wijayakusuma, Bogor. Hasil: Didapatkan 100 orang pasien terdiri dari 33% laki-laki dan 67% perempuan dengan rerata umur 67,43±5,13 tahun. Sebanyak 75% pasien dengan hipertensi terkontrol, 68% dengan obesitas, 56% dengan hipertensi di bawah 5 tahun, 54% memiliki riwayat hipertensi pada keluarga, dan 2% dengan riwayat merokok. Komorbid adalah diabetes (40%), penyakit jantung kongestif (15%), dan stroke (12%). Rerata pengetahuan adalah 81,88±16,8% (sangat baik), rerata sikap adalah 67,33±25,06% (baik), dan rerata perilaku adalah 95±11,79% (sangat baik). Pengetahuan berkaitan dengan tingkat pendidikan (p=0,008) dan durasi hipertensi (p=0,05). Sikap berkaitan dengan hipertensi terkontrol (p=0,008) dan terkait pada kelompok usia ≤ 70 tahun (p=0,05). Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap (p=0,029). Simpulan: Peran PSP terkait hipertensi pada lansia sudah adekuat tetapi dapat ditingkatkan. ","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"45 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132262170","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Aktivitas otak memerlukan kondisi yang optimal, termasuk lingkungan elektrolit yang ideal. Salah satu elektrolit utama dalam tubuh yang juga penting untuk aktivitas otak adalah natrium. Hipernatremia yang tidak terkoreksi dapat menyebabkan berbagai manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari rasa haus, kelemahan, eksitabilitas neuromuskular, hiperrefleks, letargi, confusion, kejang, atau koma. Oleh karena itu, penyebab, gejala, diagnosis, dan penanganan yang tepat perlu untuk mencegah penurunan kualitas hidup pasien. Brain activities need optimal conditions, including an ideal electrolyte environment. One of the main electrolytes in the body that is also essential for brain activity is sodium. Uncorrected hypernatremia may manifest in symptoms of thirst, weakness, neuromuscular excitability, hyperreflexia, lethargy, confusion, seizure, and coma. Therefore, the causes, symptoms, diagnosis, and appropriate treatment are necessary to prevent a decline in the patient’s quality of life.
{"title":"Efek Neurologis Hiponatremia","authors":"Priscillia Carmenita, Budi Riyanto Wreksoatmodjo","doi":"10.55175/cdk.v50i7.954","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i7.954","url":null,"abstract":"Aktivitas otak memerlukan kondisi yang optimal, termasuk lingkungan elektrolit yang ideal. Salah satu elektrolit utama dalam tubuh yang juga penting untuk aktivitas otak adalah natrium. Hipernatremia yang tidak terkoreksi dapat menyebabkan berbagai manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari rasa haus, kelemahan, eksitabilitas neuromuskular, hiperrefleks, letargi, confusion, kejang, atau koma. Oleh karena itu, penyebab, gejala, diagnosis, dan penanganan yang tepat perlu untuk mencegah penurunan kualitas hidup pasien.\u0000 \u0000Brain activities need optimal conditions, including an ideal electrolyte environment. One of the main electrolytes in the body that is also essential for brain activity is sodium. Uncorrected hypernatremia may manifest in symptoms of thirst, weakness, neuromuscular excitability, hyperreflexia, lethargy, confusion, seizure, and coma. Therefore, the causes, symptoms, diagnosis, and appropriate treatment are necessary to prevent a decline in the patient’s quality of life.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"32 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134147094","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jonathan Koswara, I. Yap, Ricky Alexander Chandra, Denny Suwanto
Perubahan tekanan, suhu, tingkat kelembapan, keadaan imobilisasi, suara bising, turbulensi, dan ekspansi udara di rongga tubuh yang berkaitan dengan perjalanan via udara dapat berdampak pada tubuh manusia. Para penumpang dengan riwayat penyakit jantung harus menyadari risikonya dan melakukan tindakan pencegahan. Changes in pressure, temperature, humidity levels, immobilization, noise, turbulence, and expansion of air in the body cavity associated with air travel can all have an impact on the human body. Passengers with a history of heart disease must be aware of the risks and take the necessary precautions.
{"title":"Perjalanan Udara pada Penderita Penyakit Jantung: Amankah?","authors":"Jonathan Koswara, I. Yap, Ricky Alexander Chandra, Denny Suwanto","doi":"10.55175/cdk.v50i7.869","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i7.869","url":null,"abstract":"Perubahan tekanan, suhu, tingkat kelembapan, keadaan imobilisasi, suara bising, turbulensi, dan ekspansi udara di rongga tubuh yang berkaitan dengan perjalanan via udara dapat berdampak pada tubuh manusia. Para penumpang dengan riwayat penyakit jantung harus menyadari risikonya dan melakukan tindakan pencegahan.\u0000 \u0000Changes in pressure, temperature, humidity levels, immobilization, noise, turbulence, and expansion of air in the body cavity associated with air travel can all have an impact on the human body. Passengers with a history of heart disease must be aware of the risks and take the necessary precautions.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"14 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127319656","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Ayudhia Giovanny Halim, K. A. Yunanto, I. G. Mahardhita
Background: Leiner’s disease (erythroderma desquamativum) is a disorder in infants; it is a complication of seborrheic dermatitis with universal and scaly erythema (erythroderma). The case is a baby boy aged 1 month 18 days with white scaly skin for 10 days and fever for 3 days prior to hospital admission. The prognosis is good with the risk of severe infections such as pneumonia, meningitis, and sepsis if not properly treated. Latar Belakang: Penyakit Leiner (erythroderma desquamativum) adalah gangguan pada bayi yang merupakan komplikasi dermatitis seboroik; biasanya ditemukan eritema universal dan skuama (eritroderma). Kasus pada seorang bayi laki-laki berumur 1 bulan 18 hari dengan kulit kemerahan serta bersisik putih kekuningan sejak 10 hari sebelum masuk RS dan demam selama 3 hari. Prognosis baik dengan risiko infeksi berat seperti pneumonia, meningitis, dan sepsis jika tidak diterapi dengan baik.
{"title":"Leiner’s Disease (Erythroderma Desquamativum) in a Baby Boy","authors":"Ayudhia Giovanny Halim, K. A. Yunanto, I. G. Mahardhita","doi":"10.55175/cdk.v50i7.957","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i7.957","url":null,"abstract":"Background: Leiner’s disease (erythroderma desquamativum) is a disorder in infants; it is a complication of seborrheic dermatitis with universal and scaly erythema (erythroderma). The case is a baby boy aged 1 month 18 days with white scaly skin for 10 days and fever for 3 days prior to hospital admission. The prognosis is good with the risk of severe infections such as pneumonia, meningitis, and sepsis if not properly treated.\u0000 \u0000Latar Belakang: Penyakit Leiner (erythroderma desquamativum) adalah gangguan pada bayi yang merupakan komplikasi dermatitis seboroik; biasanya ditemukan eritema universal dan skuama (eritroderma). Kasus pada seorang bayi laki-laki berumur 1 bulan 18 hari dengan kulit kemerahan serta bersisik putih kekuningan sejak 10 hari sebelum masuk RS dan demam selama 3 hari. Prognosis baik dengan risiko infeksi berat seperti pneumonia, meningitis, dan sepsis jika tidak diterapi dengan baik.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"58 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134494271","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pendahuluan: Persalinan en caul merupakan persalinan dengan bayi dilahirkan di dalam cairan amnion yang utuh. Kasus: Seorang wanita berusia 34 tahun dengan gravida 4 para 3 hamil 37 minggu datang ke IGD dengan keluhan keluar air-air sejak 3 jam sebelum masuk RS. Pemeriksaan menunjukkan kehamilan kembar presentasi lintang-lintang. Pasien diputuskan dilahirkan secara operasi seksio sesarea atas indikasi ketuban pecah dan posisi bayi lintang. Bayi pertama yang dilahirkan adalah laki-laki dengan berat 2.600 gram skor Apgar (Apgar score/AS) 7/9. Bayi kedua dilahirkan secara en caul dengan jenis kelamin laki-laki dengan berat 2.400 gram AS 7/9. Simpulan: Persalinan en caul lebih menguntungkan pada persalinan prematur, dan dapat juga dilakukan pada persalinan cukup bulan tanpa efek negatif pada bayi. Introduction: En caul birth is a delivery with an intact amniotic membrane covering a newborn’s body. Case: A 34-year-old gravida 4 para 3, 37 weeks of gestation presented to the Emergency Department due to membrane rupture 3 hours before admission. The examination revealed a twin pregnancy with a transverse-transverse presentation. A cesarean section was performed because of transverse presentation and membrane rupture. The first baby boy was born with 2,600 grams bodyweight and Apgar score (AS) of 7/9. The second baby boy was born en caul with 2,400 grams bodyweight and AS of 7/9. Conclusion: En caul birth is possible in preterm delivery, can also be performed in full-term labor without negative effects on the baby.
{"title":"Persalinan En Caul pada Kehamilan Kembar","authors":"Raymond Surya, Ekarini Aryasatiani","doi":"10.55175/cdk.v50i7.955","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i7.955","url":null,"abstract":"Pendahuluan: Persalinan en caul merupakan persalinan dengan bayi dilahirkan di dalam cairan amnion yang utuh. Kasus: Seorang wanita berusia 34 tahun dengan gravida 4 para 3 hamil 37 minggu datang ke IGD dengan keluhan keluar air-air sejak 3 jam sebelum masuk RS. Pemeriksaan menunjukkan kehamilan kembar presentasi lintang-lintang. Pasien diputuskan dilahirkan secara operasi seksio sesarea atas indikasi ketuban pecah dan posisi bayi lintang. Bayi pertama yang dilahirkan adalah laki-laki dengan berat 2.600 gram skor Apgar (Apgar score/AS) 7/9. Bayi kedua dilahirkan secara en caul dengan jenis kelamin laki-laki dengan berat 2.400 gram AS 7/9. Simpulan: Persalinan en caul lebih menguntungkan pada persalinan prematur, dan dapat juga dilakukan pada persalinan cukup bulan tanpa efek negatif pada bayi.\u0000 \u0000Introduction: En caul birth is a delivery with an intact amniotic membrane covering a newborn’s body. Case: A 34-year-old gravida 4 para 3, 37 weeks of gestation presented to the Emergency Department due to membrane rupture 3 hours before admission. The examination revealed a twin pregnancy with a transverse-transverse presentation. A cesarean section was performed because of transverse presentation and membrane rupture. The first baby boy was born with 2,600 grams bodyweight and Apgar score (AS) of 7/9. The second baby boy was born en caul with 2,400 grams bodyweight and AS of 7/9. Conclusion: En caul birth is possible in preterm delivery, can also be performed in full-term labor without negative effects on the baby.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131885936","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
K. Suryoadji, Arfian Muzaki, Hanna Angelia Rahmatullah, Mutiara Intan Permata Sari, Oktavinda Safitry
Latar Belakang: Penyebab kematian mendadak yang utama adalah penyakit kardiovaskular yang dikenal sebagai kematian kardiak mendadak, di mana 80% disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner adalah merokok. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi nasional perokok pada populasi usia >10 tahun sekitar 28,8%. Tinjauan ini akan menelusuri riwayat merokok sebagai faktor risiko kematian kardiak mendadak. Metode: Pencarian artikel dari 3 database, yaitu Pubmed, Cochrane, dan ScienceDirect dengan kata kunci “(Sudden Cardiac Death) AND (Smoking)”. Pencarian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta telaah kritis sesuai panduan untuk studi etiologi. Hasil: Didapatkan 1 artikel systematic review yang memenuhi kriteria, yaitu studi Aune D, et al, (2018). Hasil studi tersebut yaitu pasien dewasa dengan riwayat merokok mempunyai risiko tiga kali lebih besar untuk mengalami kematian kardiak mendadak dibandingkan pasien tanpa riwayat merokok. Simpulan: Risiko kematian kardiak mendadak meningkat tiga kali pada pasien perokok aktif. Background: The most common cause of death is cardiovascular disease, known as cardiac death; 80% of cardiac deaths were associated with coronary heart disease. One of the risk factors for coronary heart disease is smoking. According to the 2018 Basic Health Research (Riskesdas), the national prevalence of smokers at the age of >10 years is around 28.8%. This review will explore the association of smoking history as a risk factor for cardiac death. Methods: Search articles from 3 databases: Pubmed, Cochrane, and ScienceDirect with the keywords “(Sudden Cardiac Death) AND (Smoking)”. Search based on inclusion and exclusion criteria and critical review according to guidelines for etiological studies. Results: One systematic review article met the criteria, namely the study of Aune D, et al, (2018). Adult patients with a history of smoking have a 3x higher risk of cardiac death compared to patients without a history of smoking. Conclusion: The risk of sudden cardiac death increases three times in patients who are active smokers.
{"title":"Riwayat Merokok sebagai Faktor Risiko Kematian Mendadak akibat Penyebab Kardiovaskular: Laporan Kasus Berbasis Bukti","authors":"K. Suryoadji, Arfian Muzaki, Hanna Angelia Rahmatullah, Mutiara Intan Permata Sari, Oktavinda Safitry","doi":"10.55175/cdk.v50i7.959","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i7.959","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Penyebab kematian mendadak yang utama adalah penyakit kardiovaskular yang dikenal sebagai kematian kardiak mendadak, di mana 80% disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner adalah merokok. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi nasional perokok pada populasi usia >10 tahun sekitar 28,8%. Tinjauan ini akan menelusuri riwayat merokok sebagai faktor risiko kematian kardiak mendadak. Metode: Pencarian artikel dari 3 database, yaitu Pubmed, Cochrane, dan ScienceDirect dengan kata kunci “(Sudden Cardiac Death) AND (Smoking)”. Pencarian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta telaah kritis sesuai panduan untuk studi etiologi. Hasil: Didapatkan 1 artikel systematic review yang memenuhi kriteria, yaitu studi Aune D, et al, (2018). Hasil studi tersebut yaitu pasien dewasa dengan riwayat merokok mempunyai risiko tiga kali lebih besar untuk mengalami kematian kardiak mendadak dibandingkan pasien tanpa riwayat merokok. Simpulan: Risiko kematian kardiak mendadak meningkat tiga kali pada pasien perokok aktif.\u0000 \u0000Background: The most common cause of death is cardiovascular disease, known as cardiac death; 80% of cardiac deaths were associated with coronary heart disease. One of the risk factors for coronary heart disease is smoking. According to the 2018 Basic Health Research (Riskesdas), the national prevalence of smokers at the age of >10 years is around 28.8%. This review will explore the association of smoking history as a risk factor for cardiac death. Methods: Search articles from 3 databases: Pubmed, Cochrane, and ScienceDirect with the keywords “(Sudden Cardiac Death) AND (Smoking)”. Search based on inclusion and exclusion criteria and critical review according to guidelines for etiological studies. Results: One systematic review article met the criteria, namely the study of Aune D, et al, (2018). Adult patients with a history of smoking have a 3x higher risk of cardiac death compared to patients without a history of smoking. Conclusion: The risk of sudden cardiac death increases three times in patients who are active smokers.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"27 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132615389","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Gangguan gerak merupakan kondisi kelainan neurologis yang memengaruhi kecepatan, kelancaran, kualitas, dan kemudahan bergerak. Gejala gangguan gerak pada pasien stroke dapat terjadi pada fase akut ataupun setelahnya. Gangguan gerak dapat khas sesuai lokasi lesi. Movement disorder is a condition of neurological disorder that affects speed, smoothness, quality, and ease of movement. Symptoms of movement disorders in stroke patients can occur during and after the acute phase. Variations in movement disorders can be typical based on the location of the stroke lesion.
{"title":"Gangguan Gerak Pada Stroke","authors":"Yannuar Rifani Mandani, Gilang Nispu Saputra","doi":"10.55175/cdk.v50i7.642","DOIUrl":"https://doi.org/10.55175/cdk.v50i7.642","url":null,"abstract":"Gangguan gerak merupakan kondisi kelainan neurologis yang memengaruhi kecepatan, kelancaran, kualitas, dan kemudahan bergerak. Gejala gangguan gerak pada pasien stroke dapat terjadi pada fase akut ataupun setelahnya. Gangguan gerak dapat khas sesuai lokasi lesi.\u0000 \u0000Movement disorder is a condition of neurological disorder that affects speed, smoothness, quality, and ease of movement. Symptoms of movement disorders in stroke patients can occur during and after the acute phase. Variations in movement disorders can be typical based on the location of the stroke lesion.","PeriodicalId":295318,"journal":{"name":"Cermin Dunia Kedokteran","volume":"33 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125039948","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}