Heni Prasetyowati, E. Astuti, Joni Hendri, Hubullah Fuadzy
Kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung mencapai 3.381 kasus pada tahun 2016. Masih tingginya kasus DBD menunjukkan upaya pengendalian vektor DBD belum optimal. Setiap penduduk yang tinggal di wilayah ini berisiko tertular DBD. Risiko penularan dan tempat perkembangbiakan potensial Aedes di suatu wilayah dapat dianalisa dengan maya index dan key container. Tujuan dari studi ini adalah menggambarkan maya index dan key container pada rumah tangga kasus dan kontrol di wilayah Kota Bandung. Kajian ini merupakan analisis lanjut dari hasil penelitian “Penentuan Faktor Risiko Sanitasi Rumah Tinggal Pada Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung”. Kajian ini menganalisa data berupa jumlah rumah yang diperiksa, jumlah rumah yang positif jentik, jumlah kontainer yang diperiksa, jumlah kontainer yang positif jentik serta letak kontainer. Data tersebut dianalisis lebih lanjut untuk menghitung maya index dan mengidentifikasi key container. Berdasarkan indikator risiko tempat perkembangbiakan dan sanitasi lingkungan, nilai Breeding Risk Index (BRI), Hygiene Risk Index (HRI), serta maya index di wilayah Kota Bandung termasuk kategori sedang baik pada rumah tangga kasus maupun kontrol. Key container yang ditemukan di rumah tangga kasus dan kontrol adalah dispenser, bak mandi dan ember.
{"title":"Risiko Penularan DBD Berdasarkan Maya Index dan Key Container pada Rumah Tangga Kasus dan Kontrol di Kota Bandung","authors":"Heni Prasetyowati, E. Astuti, Joni Hendri, Hubullah Fuadzy","doi":"10.22435/blb.v14i2.399","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/blb.v14i2.399","url":null,"abstract":"Kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung mencapai 3.381 kasus pada tahun 2016. Masih tingginya kasus DBD menunjukkan upaya pengendalian vektor DBD belum optimal. Setiap penduduk yang tinggal di wilayah ini berisiko tertular DBD. Risiko penularan dan tempat perkembangbiakan potensial Aedes di suatu wilayah dapat dianalisa dengan maya index dan key container. Tujuan dari studi ini adalah menggambarkan maya index dan key container pada rumah tangga kasus dan kontrol di wilayah Kota Bandung. Kajian ini merupakan analisis lanjut dari hasil penelitian “Penentuan Faktor Risiko Sanitasi Rumah Tinggal Pada Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung”. Kajian ini menganalisa data berupa jumlah rumah yang diperiksa, jumlah rumah yang positif jentik, jumlah kontainer yang diperiksa, jumlah kontainer yang positif jentik serta letak kontainer. Data tersebut dianalisis lebih lanjut untuk menghitung maya index dan mengidentifikasi key container. Berdasarkan indikator risiko tempat perkembangbiakan dan sanitasi lingkungan, nilai Breeding Risk Index (BRI), Hygiene Risk Index (HRI), serta maya index di wilayah Kota Bandung termasuk kategori sedang baik pada rumah tangga kasus maupun kontrol. Key container yang ditemukan di rumah tangga kasus dan kontrol adalah dispenser, bak mandi dan ember.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47104411","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Tikus dapat menjadi reservoir penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa, salah satunya adalah toksoplasmosis. Toksoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii dengan Felidae seperti kucing sebagai hospes definitifnya. Infeksi toksoplasmosis pada kucing dapat diperoleh dari hewan kecil disekitarnya seperti tikus. Artikel ini bertujuan untuk mengukur keberhasilan penangkapan, mengidentifikasi spesies tikus yang tertangkap, mengukur indeks keragaman, dominasi, menganalisis toksoplasmosis pada tikus dan peranannya pada penularan toksoplasmosis di Kabupaten Banjarnegara. Jenis penelitian deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive. Survei tikus dilakukan dengan metode single live trap di pasar induk, rumah sakit umum dan kompleks pertokoan Kelurahan Semampir. Pemeriksaan toksoplasmosis menggunakan FELISA imunostik. Angka keberhasilan penangkapan tikus rata-rata sebesar 7,63% dengan keberhasilan penangkapan tertinggi pada pasar induk sebesar 17%. Spesies tikus tertangkap adalah Rattus tanezumi dan Rattus norvegicus, dengan dominasi R. tanezumi sebesar 98,32%. Mayoritas tikus betina yang tertangkap. Indeks keragaman spesies tikus di tempat-tempat umum rendah (<1). Toksoplasmosis pada tikus sebesar 3,57% menunjukkan bahwa tikus kurang berperan dalam penularan toksoplasmosis di Banjarnegara.
{"title":"Keanekaragaman, Deteksi dan Peranan Tikus terhadap Penularan Toksoplasmosis di Kabupaten Banjarnegara","authors":"Tri Wijayanti, Dewi Marbawati","doi":"10.22435/blb.v14i2.188","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/blb.v14i2.188","url":null,"abstract":"Tikus dapat menjadi reservoir penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa, salah satunya adalah toksoplasmosis. Toksoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii dengan Felidae seperti kucing sebagai hospes definitifnya. Infeksi toksoplasmosis pada kucing dapat diperoleh dari hewan kecil disekitarnya seperti tikus. Artikel ini bertujuan untuk mengukur keberhasilan penangkapan, mengidentifikasi spesies tikus yang tertangkap, mengukur indeks keragaman, dominasi, menganalisis toksoplasmosis pada tikus dan peranannya pada penularan toksoplasmosis di Kabupaten Banjarnegara. Jenis penelitian deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive. Survei tikus dilakukan dengan metode single live trap di pasar induk, rumah sakit umum dan kompleks pertokoan Kelurahan Semampir. Pemeriksaan toksoplasmosis menggunakan FELISA imunostik. Angka keberhasilan penangkapan tikus rata-rata sebesar 7,63% dengan keberhasilan penangkapan tertinggi pada pasar induk sebesar 17%. Spesies tikus tertangkap adalah Rattus tanezumi dan Rattus norvegicus, dengan dominasi R. tanezumi sebesar 98,32%. Mayoritas tikus betina yang tertangkap. Indeks keragaman spesies tikus di tempat-tempat umum rendah (<1). Toksoplasmosis pada tikus sebesar 3,57% menunjukkan bahwa tikus kurang berperan dalam penularan toksoplasmosis di Banjarnegara.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45377899","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Schistosomiasis adalah penyakit parasitik bersifat zoonosis dengan inang perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penyebaran habitat keong O. h. lindoensis di Sulawesi Tengah ditemukan di tiga wilayah yaitu Dataran Tinggi Napu, Bada, dan Lindu dengan angka infeksi diatas 1%. Pemetaan fokus terakhir dilakukan tahun 2008, sehingga dilakukan pemutakhiran data distribusi daerah fokus primer dan sekunder di empat desa daerah integrasi program lintas sektor, Desa Sedoa, dan Watutau di Dataran Tinggi Napu, Desa Tomehipi Dataran Tinggi Bada, dan Desa Tomado di Dataran Tinggi Lindu. Penelitian dilakukan Bulan Mei-Nopember tahun 2016, dengan desain penelitian cross sectional. Survei keong menggunakan metode man/minute, pemeriksaan serkaria cacing Schistosoma japonicum pada keong menggunakan metode crushing. Hasil penelitian ditemukan 91,4% fokus sekunder dan 8,6% fokus primer. Di Desa Sedoa sebanyak 33 fokus, 45% diantaranya positif serkaria dan di Desa Watutau 50% dari dua fokus sekunder ditemukan positif serkaria. Delapan daerah fokus ditemukan di Desa Tomehipi, 13% diantaranya positif serkaria. Sebanyak 15 daerah fokus ditemukan di Desa Tomado, 67% positif serkaria. Distribusi fokus di daerah integrasi program lintas sektor sebagian besar merupakan fokus sekunder dengan jumlah fokus menurun namun area fokus semakin luas. Persentase fokus positif serkaria tertinggi ditemukan di Dataran Tinggi Lindu Desa Tomado.
{"title":"Kondisi Fokus Keong Perantara Schistosomiasis Oncomelania hupensis lindoensis di Empat Desa Daerah Integrasi Program Lintas Sektor, Sulawesi Tengah","authors":"Samarang Pawakkangi, Anis Nurwidayati, Phetisya Pamela Frederika Sumolang, L. Lobo, Gunawan Gunawan, Murni Murni","doi":"10.22435/blb.v14i2.273","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/blb.v14i2.273","url":null,"abstract":"Schistosomiasis adalah penyakit parasitik bersifat zoonosis dengan inang perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Penyebaran habitat keong O. h. lindoensis di Sulawesi Tengah ditemukan di tiga wilayah yaitu Dataran Tinggi Napu, Bada, dan Lindu dengan angka infeksi diatas 1%. Pemetaan fokus terakhir dilakukan tahun 2008, sehingga dilakukan pemutakhiran data distribusi daerah fokus primer dan sekunder di empat desa daerah integrasi program lintas sektor, Desa Sedoa, dan Watutau di Dataran Tinggi Napu, Desa Tomehipi Dataran Tinggi Bada, dan Desa Tomado di Dataran Tinggi Lindu. Penelitian dilakukan Bulan Mei-Nopember tahun 2016, dengan desain penelitian cross sectional. Survei keong menggunakan metode man/minute, pemeriksaan serkaria cacing Schistosoma japonicum pada keong menggunakan metode crushing. Hasil penelitian ditemukan 91,4% fokus sekunder dan 8,6% fokus primer. Di Desa Sedoa sebanyak 33 fokus, 45% diantaranya positif serkaria dan di Desa Watutau 50% dari dua fokus sekunder ditemukan positif serkaria. Delapan daerah fokus ditemukan di Desa Tomehipi, 13% diantaranya positif serkaria. Sebanyak 15 daerah fokus ditemukan di Desa Tomado, 67% positif serkaria. Distribusi fokus di daerah integrasi program lintas sektor sebagian besar merupakan fokus sekunder dengan jumlah fokus menurun namun area fokus semakin luas. Persentase fokus positif serkaria tertinggi ditemukan di Dataran Tinggi Lindu Desa Tomado.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44815833","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
D. Widiastuti, Ulfah Farida Trisnawati, Nova Pramestuti
Indonesia merupakan negara endemis rickettsiosis, di kota-kota besar seperti Jakarta dan Kota Semarang pernah ditemukan adanya antibodi Rickettsia typhi pada manusia. Populasi tikus yang tinggi di Kota Semarang memungkinkan terjadinya penularan rickettsiosis. Rickettsiosis disebabkan oleh Rickettsia spp. yang ditularkan melalui ektoparasit tikus. Sistem surveilans rickettsiosis di Kota Semarang belum ada, sehingga adanya infeksi R. typhi pada pinjal tikus menjadi tidak terlaporkan. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeteksi keberadaan R. typhi pada pinjal tikus di Kota Semarang. Pinjal diperoleh dari tikus yang tertangkap dengan metode live trap di beberapa lokasi Kota Semarang pada bulan April-November 2016. DNA Rickettsia spp. dari sampel pinjal dideteksi menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Xenopsylla cheopis menginfestasi semua tikus tertangkap yaitu Rattus tanezumi, R. norvegicus, R. exulans, Bandicota indica, B. bengalensis, Mus musculus dan Suncus murinus. Pengujian dengan PCR dilakukan pada sebanyak 144 pool X. cheopis, lima puluh pool sampel X. cheopis (34,7%) positif Rickettsia spp. Tidak ada korelasi yang signifikan antara spesies inang dan jenis kelamin inang terhadap infeksi Rickettsia spp. pada populasi pinjal. Tingginya X. cheopis terinfeksi dengan Rickettsia spp. dapat berpotensi menjadi sumber penularan rickettsiosis di Kota Semarang.
印度尼西亚是雅加达和三宝垄等主要城市的病因疾病患者,在人类身上发现了病变抗体。三马朗市老鼠的高密度使坏血病传染成为可能。病理病是由spp红斑引起的,通过鼠外寄生虫传播。目前还不存在三宝垄里赫特西斯的监视系统,因此老鼠皮感染的R. tiphi已被列为未知。这项研究的目的是探测三宝垄老鼠pinjal的存在。2016年4月至11月,在三宝垄的几个地方,用捕鼠器捕获了这只老鼠。从pinjal样本中检测到的核糖核酸spp。研究表明,Xenopsylla cheopis感染了所有被捕获的老鼠,即Rattus tanezumi, norvegicus, R. exulans, bandicolenta, B. bengalensis, muculus和Suncus murinus。PCR测试在144池的X. cheopis, 50池的样本X. cheopi(34.7%)为Rickettsia spp检测结果。高X. cheopis已被Rickettsia spp感染,可能是三马朗市疾病传染的潜在来源。
{"title":"Deteksi Rickettsia spp. pada Pinjal Tikus di Kota Semarang","authors":"D. Widiastuti, Ulfah Farida Trisnawati, Nova Pramestuti","doi":"10.22435/blb.v14i2.226","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/blb.v14i2.226","url":null,"abstract":"Indonesia merupakan negara endemis rickettsiosis, di kota-kota besar seperti Jakarta dan Kota Semarang pernah ditemukan adanya antibodi Rickettsia typhi pada manusia. Populasi tikus yang tinggi di Kota Semarang memungkinkan terjadinya penularan rickettsiosis. Rickettsiosis disebabkan oleh Rickettsia spp. yang ditularkan melalui ektoparasit tikus. Sistem surveilans rickettsiosis di Kota Semarang belum ada, sehingga adanya infeksi R. typhi pada pinjal tikus menjadi tidak terlaporkan. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeteksi keberadaan R. typhi pada pinjal tikus di Kota Semarang. Pinjal diperoleh dari tikus yang tertangkap dengan metode live trap di beberapa lokasi Kota Semarang pada bulan April-November 2016. DNA Rickettsia spp. dari sampel pinjal dideteksi menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Xenopsylla cheopis menginfestasi semua tikus tertangkap yaitu Rattus tanezumi, R. norvegicus, R. exulans, Bandicota indica, B. bengalensis, Mus musculus dan Suncus murinus. Pengujian dengan PCR dilakukan pada sebanyak 144 pool X. cheopis, lima puluh pool sampel X. cheopis (34,7%) positif Rickettsia spp. Tidak ada korelasi yang signifikan antara spesies inang dan jenis kelamin inang terhadap infeksi Rickettsia spp. pada populasi pinjal. Tingginya X. cheopis terinfeksi dengan Rickettsia spp. dapat berpotensi menjadi sumber penularan rickettsiosis di Kota Semarang.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45852699","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Upaya yang cenderung dilakukan masyarakat Riau dalam menanggulangi kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah menggunakan insektisida komersial untuk mengendalikan infestasi Aedes spp. Kebiasaan menggunakan insektisida dalam satu golongan yang diaplikasikan terus menerus dalam waktu lama dapat meningkatkan toleransi nyamuk vektor. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kebiasaan masyarakat menggunakan insektisida komersial dalam mengendalikan infestasi Aedes spp. di Provinsi Riau. Sumber data diperoleh dari hasil penelitian “Pemetaan status kerentanan Aedes spp. terhadap insektisida di Indonesia tahun 2015”. Metode penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan potong lintang pada tiga daerah endemik DBD di Provinsi Riau. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara menggunakan instrumen kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian insektisida komersial oleh masyarakat Bengkalis berhubungan dengan infestasi Aedes spp., sedangkan di Pekanbaru dan Dumai tidak berhubungan. Kebiasaan mayoritas responden di Pekanbaru, Dumai, dan Bengkalis lebih memilih insektisida dari golongan sintetik piretroid dengan formulasi anti nyamuk bakar, diaplikasikan pada ruang tidur pada malam hari dan frekuensi kurang dari tujuh kali (Pekanbaru dan Dumai); lebih dari tujuh kali (Bengkalis) dalam satu minggu. Indeks entomologi menunjukkan masih berpotensi terjadi penularan DBD.
{"title":"Penggunaan Insektisida Komersial dalam Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue di Provinsi Riau","authors":"Hubullah Fuadzy, Firda Yanuar","doi":"10.22435/blb.v14i2.421","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/blb.v14i2.421","url":null,"abstract":"Upaya yang cenderung dilakukan masyarakat Riau dalam menanggulangi kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah menggunakan insektisida komersial untuk mengendalikan infestasi Aedes spp. Kebiasaan menggunakan insektisida dalam satu golongan yang diaplikasikan terus menerus dalam waktu lama dapat meningkatkan toleransi nyamuk vektor. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kebiasaan masyarakat menggunakan insektisida komersial dalam mengendalikan infestasi Aedes spp. di Provinsi Riau. Sumber data diperoleh dari hasil penelitian “Pemetaan status kerentanan Aedes spp. terhadap insektisida di Indonesia tahun 2015”. Metode penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan potong lintang pada tiga daerah endemik DBD di Provinsi Riau. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara menggunakan instrumen kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian insektisida komersial oleh masyarakat Bengkalis berhubungan dengan infestasi Aedes spp., sedangkan di Pekanbaru dan Dumai tidak berhubungan. Kebiasaan mayoritas responden di Pekanbaru, Dumai, dan Bengkalis lebih memilih insektisida dari golongan sintetik piretroid dengan formulasi anti nyamuk bakar, diaplikasikan pada ruang tidur pada malam hari dan frekuensi kurang dari tujuh kali (Pekanbaru dan Dumai); lebih dari tujuh kali (Bengkalis) dalam satu minggu. Indeks entomologi menunjukkan masih berpotensi terjadi penularan DBD.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"41318852","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penggunaan bahan kimia sebagai bahan utama pembuatan produk anti nyamuk dapat berbahaya bagi kesehatan, sehingga perlu insektisida hayati yang berasal dari tumbuhan, seperti jeruk bali (Citrus maxima (Burm.) Merr.). Kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai repelan yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas repelan/daya tolak minyak atsiri kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) dalam sediaan losion. Jenis penelitian adalah eksperimental semu dengan menggunakan konsentrasi minyak atsiri ekstrak kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) 10%, 20%, 40%, 60%, dan 80% dalam sediaan losion. Pengujian mengacu pada petunjuk teknis Standar Pengujian Efikasi Pestisida Kementerian Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa losion minyak atsiri kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) memiliki daya tolak antara 36-96%. Daya tolak tertinggi pada konsentrasi 40% dengan waktu paling efektif dari jam ke-0 sampai jam ke-1. Daya repelan dari minyak atsiri kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) sangat berpotensi namun perlu dikembangkan metode ekstraksi untuk mendapatkan konsentrat yang lebih tinggi, pembuatan sediaan dalam bentuk lain, atau mengkombinasikan dengan senyawa dari minyak atsiri yang lain.
{"title":"Efektifitas Repelan Losion Minyak Atsiri Kulit Jeruk Bali (Citrus maxima (Burm.) Merr.) terhadap Aedes aegypti","authors":"Nurul Hidayah, Hasrida Mustafa, Murni Murni, Intan Tolistiawaty","doi":"10.22435/blb.v14i2.403","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/blb.v14i2.403","url":null,"abstract":"Penggunaan bahan kimia sebagai bahan utama pembuatan produk anti nyamuk dapat berbahaya bagi kesehatan, sehingga perlu insektisida hayati yang berasal dari tumbuhan, seperti jeruk bali (Citrus maxima (Burm.) Merr.). Kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai repelan yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas repelan/daya tolak minyak atsiri kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) dalam sediaan losion. Jenis penelitian adalah eksperimental semu dengan menggunakan konsentrasi minyak atsiri ekstrak kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) 10%, 20%, 40%, 60%, dan 80% dalam sediaan losion. Pengujian mengacu pada petunjuk teknis Standar Pengujian Efikasi Pestisida Kementerian Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa losion minyak atsiri kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) memiliki daya tolak antara 36-96%. Daya tolak tertinggi pada konsentrasi 40% dengan waktu paling efektif dari jam ke-0 sampai jam ke-1. Daya repelan dari minyak atsiri kulit jeruk bali (C. maxima (Burm.) Merr.) sangat berpotensi namun perlu dikembangkan metode ekstraksi untuk mendapatkan konsentrat yang lebih tinggi, pembuatan sediaan dalam bentuk lain, atau mengkombinasikan dengan senyawa dari minyak atsiri yang lain.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"49470408","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kecoa merupakan serangga yang merugikan karena berperan sebagai vektor mekanis. Penularan penyakit dapat terjadi melalui bakteri atau kuman penyakit yang terdapat pada sampah atau sisa makanan. Kuman tersebut terbawa oleh kaki atau bagian tubuh lainnya dari kecoa, kemudian mengontaminasi makanan. Ekstrak etanol akar tuba efektif dalam mengurangi populasi serangga pengganggu, pembunuh ikan di tambak dan mengurangi populasi tikus. Berdasarkan fakta tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai efektivitas dari akar tuba membunuh kecoa. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Oktober tahun 2014. Penelitian ini menggunakan 7 konsentrasi ekstrak yaitu: 1, 3, 5, 7, 9, 11, dan 13 g/100 ml. Ekstraksi etanol akar tuba menggunakan metode maserasi. Ketujuh ekstrak diencerkan dengan media air kemudian disemprotkan menggunakan alat sprayer biasa pada seluruh bagian tubuh luar kecoa. Pengamatan dilakukan pada jam ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6 dan ke-48. Analisis data menggunakan regresi probit. Hasil analisis menunjukkan ekstrak etanol akar tumbuhan tuba (Derris elliptica (Roxb.) Benth) efektif mematikan Periplaneta americana dengan LC50 pada konsentrasi 3 mg/100 ml dan LC90 adalah 10,306 mg/100 ml, sedangkan LT50 7 jam dan LT90 adalah 11 jam. Ekstrak etanol akar tumbuhan tuba (Derris elliptica (Roxb.) Benth) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif insektisida alami yang dapat membunuh kecoa P. americana.
{"title":"Efektivitas Ekstrak Etanol Akar Tuba (Derris elliptica) terhadap Kematian Periplaneta americana dengan Metode Spraying","authors":"Revi Rosavika Kinansi, S. Handayani, Dhian Prastowo, Ary Oktsari Yanti Sudarno","doi":"10.22435/BLB.V14I2.70","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/BLB.V14I2.70","url":null,"abstract":"Kecoa merupakan serangga yang merugikan karena berperan sebagai vektor mekanis. Penularan penyakit dapat terjadi melalui bakteri atau kuman penyakit yang terdapat pada sampah atau sisa makanan. Kuman tersebut terbawa oleh kaki atau bagian tubuh lainnya dari kecoa, kemudian mengontaminasi makanan. Ekstrak etanol akar tuba efektif dalam mengurangi populasi serangga pengganggu, pembunuh ikan di tambak dan mengurangi populasi tikus. Berdasarkan fakta tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai efektivitas dari akar tuba membunuh kecoa. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Oktober tahun 2014. Penelitian ini menggunakan 7 konsentrasi ekstrak yaitu: 1, 3, 5, 7, 9, 11, dan 13 g/100 ml. Ekstraksi etanol akar tuba menggunakan metode maserasi. Ketujuh ekstrak diencerkan dengan media air kemudian disemprotkan menggunakan alat sprayer biasa pada seluruh bagian tubuh luar kecoa. Pengamatan dilakukan pada jam ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6 dan ke-48. Analisis data menggunakan regresi probit. Hasil analisis menunjukkan ekstrak etanol akar tumbuhan tuba (Derris elliptica (Roxb.) Benth) efektif mematikan Periplaneta americana dengan LC50 pada konsentrasi 3 mg/100 ml dan LC90 adalah 10,306 mg/100 ml, sedangkan LT50 7 jam dan LT90 adalah 11 jam. Ekstrak etanol akar tumbuhan tuba (Derris elliptica (Roxb.) Benth) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif insektisida alami yang dapat membunuh kecoa P. americana.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"46011966","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis disebabkan bakteri Leptospira patogenik dan berpotensi menyebabkan kematian pada manusia. Tikus sebagai reservoir utama Leptospira kebanyakan diteliti di kawasan perkotaan atau pedesaan di sekitar permukiman. Sebaliknya, penelitian leptospirosis pada tikus endemis jumlahnya sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tikus endemis Sulawesi sebagai reservoir Leptospira di Kabupaten Bulukumba, Pangkep dan Luwu Timur. Penelitian ini merupakan bagian dari Rikhus Vektora tahun 2017 dengan menggunakan perangkap hidup untuk menangkap tikus di enam ekosistem berbeda pada tiap kabupaten. Seluruh tikus tertangkap diidentifikasi secara morfologis yang selanjutnya diuji Microscopic Agglutination Test (MAT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasilnya diperoleh berbagai tikus endemis seperti Rattus marmosurus, Rattus hoffmanni, Bunomys chrysocomus, Bunomys andrewsi dan Bunomys coelestis terinfeksi leptospirosis. Hasil penelitian menunjukkan catatan baru beberapa jenis tikus endemis Sulawesi terinfeksi leptospirosis. Kondisi ini perlu diwaspadai karena terdapat potensi penularan leptospirosis di habitat hutan dari tikus endemis tersebut.
{"title":"Leptospirosis pada Tikus Endemis Sulawesi (Rodentia: Muridae) dan Potensi Penularannya Antar Tikus dari Provinsi Sulawesi Selatan","authors":"Aryo Ardanto, B. Yuliadi, Ika Martiningsih, Dimas Bagus Wicaksono Putro, Arum Sih Joharina, Anis Nurwidayati","doi":"10.22435/BLB.V14I2.196","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/BLB.V14I2.196","url":null,"abstract":"Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis disebabkan bakteri Leptospira patogenik dan berpotensi menyebabkan kematian pada manusia. Tikus sebagai reservoir utama Leptospira kebanyakan diteliti di kawasan perkotaan atau pedesaan di sekitar permukiman. Sebaliknya, penelitian leptospirosis pada tikus endemis jumlahnya sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tikus endemis Sulawesi sebagai reservoir Leptospira di Kabupaten Bulukumba, Pangkep dan Luwu Timur. Penelitian ini merupakan bagian dari Rikhus Vektora tahun 2017 dengan menggunakan perangkap hidup untuk menangkap tikus di enam ekosistem berbeda pada tiap kabupaten. Seluruh tikus tertangkap diidentifikasi secara morfologis yang selanjutnya diuji Microscopic Agglutination Test (MAT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasilnya diperoleh berbagai tikus endemis seperti Rattus marmosurus, Rattus hoffmanni, Bunomys chrysocomus, Bunomys andrewsi dan Bunomys coelestis terinfeksi leptospirosis. Hasil penelitian menunjukkan catatan baru beberapa jenis tikus endemis Sulawesi terinfeksi leptospirosis. Kondisi ini perlu diwaspadai karena terdapat potensi penularan leptospirosis di habitat hutan dari tikus endemis tersebut.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"46307912","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Aedes aegypti is vector of Dengue Hemorrhagic fever (DHF) which still considered as important health problem in Indonesia. The marigold (T. erecta L.) is a well known plant in the community and widely used as traditional medicines and repellent mosquitoes plant. This study aims to assess the repellency effect of ethanol extract of marigold leaves againts Ae. aegypti. The marigold were obtained from the farmers’ garden in Kerinjing Village, Pagaralam, Sumatera Selatan Province. The extraction process was carried out in Pharmaceutical Laboratory and Genetics Laboratory Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sriwijaya University in June 2016. Maceration process used solvent ethanol 70%. The repellency test was done in Entomology Laboratory of Loka Litbang P2B2 Baturaja in August to October 2016. The repellent was made with mixture of cleansing milk as diluent with concentration of 25%, 30%, 35%, 40%, and 45%. The method of repellent test was referred to WHOPES 2009 with modification. The phytochemical test showed that marigold leaves extract had compound of alkaloid, flavonoid, saponin, and tannin. The repellency test showed that the lotion of marigold leaves extract was ineffective as repellent againts Ae. aegypti with complete protection up to more than 90% after two hours aplication at concentration 30%.
{"title":"Potensi Daya Tolak Ekstrak Daun Marigold (Tagetes erecta L.) terhadap Nyamuk Aedes aegypti","authors":"Marini Marini, Tanwirotun Ni’mah, Vivin Mahdalena, Rahayu Hasti Komariah, H. Sitorus","doi":"10.22435/BLB.V14I1.301","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/BLB.V14I1.301","url":null,"abstract":"Aedes aegypti is vector of Dengue Hemorrhagic fever (DHF) which still considered as important health problem in Indonesia. The marigold (T. erecta L.) is a well known plant in the community and widely used as traditional medicines and repellent mosquitoes plant. This study aims to assess the repellency effect of ethanol extract of marigold leaves againts Ae. aegypti. The marigold were obtained from the farmers’ garden in Kerinjing Village, Pagaralam, Sumatera Selatan Province. The extraction process was carried out in Pharmaceutical Laboratory and Genetics Laboratory Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sriwijaya University in June 2016. Maceration process used solvent ethanol 70%. The repellency test was done in Entomology Laboratory of Loka Litbang P2B2 Baturaja in August to October 2016. The repellent was made with mixture of cleansing milk as diluent with concentration of 25%, 30%, 35%, 40%, and 45%. The method of repellent test was referred to WHOPES 2009 with modification. The phytochemical test showed that marigold leaves extract had compound of alkaloid, flavonoid, saponin, and tannin. The repellency test showed that the lotion of marigold leaves extract was ineffective as repellent againts Ae. aegypti with complete protection up to more than 90% after two hours aplication at concentration 30%.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-08-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44468857","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Incidence Rate/IR DHF in Indonesia 2015 to 2017 decreased 44.43%, although in 2016 there was an increase of 53.61% from incidence in 2015 (DHF IR per 100,000 population in 2015 until 2017 was 50,75;77,96; 22.55). Five subsystems related to DHF transmission are human, dengue virus, Aedes mosquito, physical and biological environment. Research on these five subsystems and various control efforts has been done in Indonesia. Literature review was used to discuss it in this article. Search area on the site ejournal.litbang.kemkes.go.id, portalgaruda.org, e-resources.perpusnas.go.id, www.researchgate.net, www.hindawi.com and who.int with keywords Aedes aegypti, Dengue Haemorhagic Fever. Several studies showed different results depending on the study site conditions (climatic,altitude,ecological conditions). Human behavior associated with the use of anti-mosquito, dengue virus, Aedes as a vector (potential breeding places, transovary phenomena, insecticide vector resistance), and climate conditions (temperature and humidity) that contribute to the incidence of DHF. Vector control is the most effective measure in DHF control program. The use of Bacillus thuringensis, Romanomermis iyengari, and Wolbachia, the manufactured repellents and larvasides from various plants, the improvement of eradication of mosquito breeding sites related community behavior, and the application of sterile insect techniques have been developed from various studies. The results of such research can be adopted as alternative to control vectors and implemented in integrated manner based on the specific local context.
{"title":"Aspek Kekinian tentang Penelitian Demam Berdarah Dengue di Pulau Jawa dan Sekitarnya","authors":"Bina Ikawati","doi":"10.22435/BLB.V14I1.303","DOIUrl":"https://doi.org/10.22435/BLB.V14I1.303","url":null,"abstract":"Incidence Rate/IR DHF in Indonesia 2015 to 2017 decreased 44.43%, although in 2016 there was an increase of 53.61% from incidence in 2015 (DHF IR per 100,000 population in 2015 until 2017 was 50,75;77,96; 22.55). Five subsystems related to DHF transmission are human, dengue virus, Aedes mosquito, physical and biological environment. Research on these five subsystems and various control efforts has been done in Indonesia. Literature review was used to discuss it in this article. Search area on the site ejournal.litbang.kemkes.go.id, portalgaruda.org, e-resources.perpusnas.go.id, www.researchgate.net, www.hindawi.com and who.int with keywords Aedes aegypti, Dengue Haemorhagic Fever. Several studies showed different results depending on the study site conditions (climatic,altitude,ecological conditions). Human behavior associated with the use of anti-mosquito, dengue virus, Aedes as a vector (potential breeding places, transovary phenomena, insecticide vector resistance), and climate conditions (temperature and humidity) that contribute to the incidence of DHF. Vector control is the most effective measure in DHF control program. The use of Bacillus thuringensis, Romanomermis iyengari, and Wolbachia, the manufactured repellents and larvasides from various plants, the improvement of eradication of mosquito breeding sites related community behavior, and the application of sterile insect techniques have been developed from various studies. The results of such research can be adopted as alternative to control vectors and implemented in integrated manner based on the specific local context.","PeriodicalId":31128,"journal":{"name":"Balaba Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-08-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47916371","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}