Sabaruddin Sabaruddin, Umy Kurniati Rasyid, Whyllies Agung Buana, Mieke Pakaya, Fitriana Nur Husain
Uji identifikasi dan penetapan kadar merupakan salah satu persyaratan mutu suplemen kesehatan yang mengandung vitamin B1, B3, B6, dan kofein sehingga diperlukan metode analisis yang optimal untuk mendeteksi secara simultan analit-analit tersebut dalam suatu campuran matriks. Saat ini telah tersedia metode analisa KCKT sistem gradien untuk pengujian tersebut. Namun, dari metode analisa tersebut diperoleh profil kromatogram yang belum optimal dengan nilai resolusi 0,844 pada puncak analit vitamin B3 dan B1. Hal ini disebabkan masih berhimpitnya puncak kedua analit dan tidak terpisah dengan baik pada baseline kromatogram. Oleh karena itu dianggap perlu untuk melakukan optimasi pada metode analisa ini dengan melakukan modifikasi perbandingan komposisi fase gerak sistem gradien pada menit terelusinya vitamin B3 dan B1. Metodologi penelitian menggunakan penelitian eksperimental laboratorium dengan parameter yang diamati adalah profil kromatogram pemisahan puncak analit dan nilai resolusi antara vitamin B3 dan B1. Berdasarkan data hasil optimasi diperoleh komposisi fase gerak ammonium asetat : asetonitril (25:75) yang memberikan profil kromatogram optimal terhadap pemisahan vitamin B3 dan B1 dengan nilai resolusi 7,230 untuk vitamin B3 dan 3,427 untuk vitamin B1 (syarat resolusi > 2). Metode optimasi kemudian dilanjutkan dengan validasi metode analisa dengan hasil uji parameter selektifitas, akurasi, presisi, linearitas, nilai LOD, dan nilai LOQ memenuhi syarat keberterimaan sehingga metode ini dapat digunakan untuk melakukan pengujian identifikasi dan penetapan kadar vitamin B1, B3, B6, dan kofein dalam sediaan suplemen kesehatan.Identification and assay tests are one of the quality requirements of health supplements containing vitamins B1, B3, B6, and caffeine, so an optimal analytical method is needed to detect these analytes simultaneously in a matrix mixture. Currently, a gradient system HPLC analysis method is available for this test. However, from this analysis method, the chromatogram profile was not optimal with a resolution value of 0.844 at the peak of the vitamin B3 and B1 analytes. This is because the peaks of the two analytes are still close together and are not well separated on the baseline chromatogram. Therefore, it is considered necessary to optimize this analytical method by modifying the ratio of the mobile phase composition of the gradient system at the minute of elution of vitamins B3 and B1. The research methodology used experimental laboratory research with the parameters observed were the chromatogram profile of analyte peak separation and the resolution value between vitamins B3 and B1. Based on the optimization data, the mobile phase composition of ammonium acetate: acetonitrile (25:75) provides an optimal chromatogram profile for the separation of vitamins B3 and B1 with a resolution value of 7,230 for vitamin B3 and 3,427 for vitamin B1 (resolution > 2). The optimization method is then followed by validation of the analytic
确定和确定措施是含有维生素B1、B3、B6和咖啡因的健康补充剂质量要求之一,因此需要一种最理想的分析方法来同时检测矩阵中的分析。目前有一种用于测试的KCKT系统的分析方法。然而,这种分析方法揭示了在维生素B3和B1的最佳分辨率为0.844的色谱仪配置。这是因为它仍然是双峰的结节,并没有在色基线上很好地分离。因此,人们认为通过在维生素B3和B1的快速补充时间对循环系统的运动相组成进行修正,从而对分析方法进行优化是必要的。研究方法论采用采用参数的实验实验研究方法是阿纳利特峰值分离和维生素B3和B1之间的色谱分析。根据优化结果数据获得的醋酸杏仁的相位合成:asetonitril(最佳kromatogram 25:75)提供的资料对分离维生素B3和B1 7,230分辨率值为维生素B1维生素B3和3,427(> 2)。决议条件优化方法与分析方法验证及随后selektifitas参数测试,准确,精度、linearitas LOQ资格keberterimaan价值LOD,所以这种方法可以用来识别和测试水平分别为维生素B1, B3B6,健康补充剂中有咖啡因。确定和评估是健康补充的唯一合格要求接触维生素B1, B3, B6和咖啡,所以需要对这些分析方法进行同时分析目前,HPLC系统的一种梯度分析方法是可以接受这个测试的。从这种分析方法来看,chromatogram在维生素B3和B1分析的peak 844是不理想的。这是因为两种分析的峰值仍然紧密相连,并没有很好地分离在基线chromatogram上。因此,在B3和B1的eeetion一分钟内,人们认为有必要将这种移动相位的分析方法进行优化。帕拉默特研究的研究结果是分析峰分离和维生素B3和B1之间的决心值的chromatology研究。基于数据优化,移动相位合成亚原子:acetonitrile(25:75分离》)最佳provides an chromatogram低调的维生素B3和B1 with a号”价值为维生素B3 7,230 3,427著作百科全书》为维生素B1(解析> 2)。optimization方法是然后跟着由validation》之分析方法with the results of the parameters测试selectivity评比、高级linearity, LOD价值LOQ value requirements会议可以用来测试维生素B1、B3、B6和咖啡因水平的鉴定性和决心。在准备健康补充方面。
{"title":"Optimasi dan Validasi Metode KCKT untuk Identifikasi dan Penetapan Kadar Vitamin B1, B3, B6, dan Kofein dalam Suplemen Kesehatan","authors":"Sabaruddin Sabaruddin, Umy Kurniati Rasyid, Whyllies Agung Buana, Mieke Pakaya, Fitriana Nur Husain","doi":"10.52365/jecp.v2i2.425","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i2.425","url":null,"abstract":"Uji identifikasi dan penetapan kadar merupakan salah satu persyaratan mutu suplemen kesehatan yang mengandung vitamin B1, B3, B6, dan kofein sehingga diperlukan metode analisis yang optimal untuk mendeteksi secara simultan analit-analit tersebut dalam suatu campuran matriks. Saat ini telah tersedia metode analisa KCKT sistem gradien untuk pengujian tersebut. Namun, dari metode analisa tersebut diperoleh profil kromatogram yang belum optimal dengan nilai resolusi 0,844 pada puncak analit vitamin B3 dan B1. Hal ini disebabkan masih berhimpitnya puncak kedua analit dan tidak terpisah dengan baik pada baseline kromatogram. Oleh karena itu dianggap perlu untuk melakukan optimasi pada metode analisa ini dengan melakukan modifikasi perbandingan komposisi fase gerak sistem gradien pada menit terelusinya vitamin B3 dan B1. Metodologi penelitian menggunakan penelitian eksperimental laboratorium dengan parameter yang diamati adalah profil kromatogram pemisahan puncak analit dan nilai resolusi antara vitamin B3 dan B1. Berdasarkan data hasil optimasi diperoleh komposisi fase gerak ammonium asetat : asetonitril (25:75) yang memberikan profil kromatogram optimal terhadap pemisahan vitamin B3 dan B1 dengan nilai resolusi 7,230 untuk vitamin B3 dan 3,427 untuk vitamin B1 (syarat resolusi > 2). Metode optimasi kemudian dilanjutkan dengan validasi metode analisa dengan hasil uji parameter selektifitas, akurasi, presisi, linearitas, nilai LOD, dan nilai LOQ memenuhi syarat keberterimaan sehingga metode ini dapat digunakan untuk melakukan pengujian identifikasi dan penetapan kadar vitamin B1, B3, B6, dan kofein dalam sediaan suplemen kesehatan.Identification and assay tests are one of the quality requirements of health supplements containing vitamins B1, B3, B6, and caffeine, so an optimal analytical method is needed to detect these analytes simultaneously in a matrix mixture. Currently, a gradient system HPLC analysis method is available for this test. However, from this analysis method, the chromatogram profile was not optimal with a resolution value of 0.844 at the peak of the vitamin B3 and B1 analytes. This is because the peaks of the two analytes are still close together and are not well separated on the baseline chromatogram. Therefore, it is considered necessary to optimize this analytical method by modifying the ratio of the mobile phase composition of the gradient system at the minute of elution of vitamins B3 and B1. The research methodology used experimental laboratory research with the parameters observed were the chromatogram profile of analyte peak separation and the resolution value between vitamins B3 and B1. Based on the optimization data, the mobile phase composition of ammonium acetate: acetonitrile (25:75) provides an optimal chromatogram profile for the separation of vitamins B3 and B1 with a resolution value of 7,230 for vitamin B3 and 3,427 for vitamin B1 (resolution > 2). The optimization method is then followed by validation of the analytic","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131251415","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Salah satu tanaman khas Indonesia yang berpotensi sebagai imunomodulator adalah genus Etlingera. Indonesia memiliki tiga spesies genus Etlingera yaitu E. elatior, E. hemisphaerica, dan E. pauciflora. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji informasi terhadap penelitian yang sudah ada sebelumnya mengenai morfologi, kandungan kimia, dan aktivitas imunomodulator tiga spesies genus Etlingera (E. elatior, E. hemisphaerica, dan E. pauciflora). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode kajian literatur sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfologi tiga spesies genus Etlingera dapat dibedakan dari bentuk setiap bagian tanamannya. Bunga E. elatior memiliki tepian berwarna putih dengan bentuk mahkota meruncing, sedangkan E. hemisphaerica memiliki tepian bunga berwarna kuning terang dengan bentuk mahkota bunga melebar. E. pauciflora memiliki bunga berwarna merah kejinggan dengan bentuk runcing memanjang. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa yang dapat meningkatkan imunitas tubuh seperti flavonoid, tanin, terpenoid, saponin dan essential oil. Etlingera elatior menunjukkan aktivitas paling tinggi sebagai imunostimulan dengan mekanisme kerja fagositosis, sedangkan spesies Etlingera hemisphaerica juga memiliki aktivitas dengan mekanisme peningkatan jumlah leukosit yang signifikan namun tetap dalam batas normal sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Belum ditemukan penelitian lebih lanjut terhadap spesies E. pauciflora mengenai kandungan kimia maupun aktivitas imunomodulatornya. Dapat disimpulkan bahwa tanaman genus Etlingera dapat dibedakan secara morfologi, sedangkan dua dari tiga spesies yaitu E.elatior dan E.hemisphaerica memiliki aktivitas sebagai imunostimulan dengan kandungan utamanya adalah flavonoid.One of the typical Indonesian plants that have the potential as an immunomodulator is the genus Etlingera. Indonesia has three species of the genus Etlingera, namely E. elatior, E. hemisphaerica , and E. pauciflora . The purpose of this study was to review information on previous studies regarding the morphology, chemical composition, and immunomodulatory activity of three species of the genus Etlingera ( E. elatior, E. hemisphaerica , and E. pauciflora ). This research is a qualitative research with a systematic literature review method. The results showed that the morphology of the three species of the genus Etlingera could be distinguished from the shape of each part of the plant. E. elatior flowers have white edges with a tapered crown, while E. hemisphaerica flowers have bright yellow edges with wide flower crowns. E. pauciflora has orange-red flowers with an elongated pointed shape. This plant contains various compounds that can increase the body's immunity such as flavonoids, tannins, terpenoids, saponins and essential oils . Etlingera elatior showed the highest activity as an immunostimulant with a phagocytosis mechanism, while Etlingera hemisphaerica species also had activity with a significant increas
印尼的一种潜在的免疫调节剂植物是Etlingera属。印度尼西亚有三种Etlingera属,即E. epraor, E. hemisphaerica和E. pauciflora。这项研究的目的是研究早期已知的关于Etlingera属(E. epraor, E. hemisphaerica, E. pauciflora)的形态、化学成分和免疫调节器活性的资料。本研究是一种具有系统性文献研究方法的定性研究。研究表明,三种伊特林根属的形态可以与植物的每一部分的形状不同。elatior花有白色的边,顶部是锥形的冠,而血红蛋白则有鲜黄色的花边,花瓣呈球形展开。E. pauciflora有一种长尖的红色斑点花。这种植物含有多种化合物,可以增强人体免疫系统,如类黄酮、单宁酸、松节油、盐渍油等。elatior Etlingera表现为免疫兴奋剂与fagositosis工作机制的高活性,而Etlingera属hemisphaerica物种也有活动,导致白细胞数量明显增加,但仍在正常范围内,从而增强免疫系统。目前还没有对保氏菌化学成分和免疫调节活动的进一步研究。可以得出结论,Etlingera属植物可以通过形态学来区分,而三种不同种类的E. epraor和E.hemisphaerica的两种具有非甾体作为免疫刺激的主要成分是类黄酮。印度尼西亚的一种植物具有潜在的免疫调制器是Etlingera属。印度尼西亚有三个属的Etlingera, namely E. ediation, E. hemisphaerica和E. pauciflora。这项研究的目的是对先侧研究的信息进行回顾,参考伊斯特林格拉属(E. epraor, E. hemisphaerica和E. pauciflora)的形态、化学组合和免疫模态。这一研究是一项有系统读写评论的专业化研究。据说,人种系的三个物种的形态可以从植物的每一部分的形状中拼凑出来。elatior flowers have white edges with a tied crown,而E. hemisphaerica flowers有明亮的黄色花瓣花瓣。pauciflora有红色的花与一个松散的指针形状。这种植物携带着一种不同的化合物,这种化合物可以增加身体的免疫力,就像鞭毛虫、棕褐色、松节油和本质油一样。Etlingera的etivera提出了一种罕见的、具有传染性机制的免疫活动,而Etlingera的半乳糖物种在leukocyte伯爵中也有明显的活动,但仍存在于正常限制之内。没有进一步的研究发现过pauciflora species关于它的化学性质和免疫调节反应的。它可能会得出这样的结论:人种属的植物可能会产生形态学上的变形,而三个物种中的两种,namely E,半乳糖类动物的行为与潜在的黄质结合
{"title":"Kajian Morfologi, Fitokimia, dan Aktivitas Imunomodulator Tiga Spesies Genus Etlingera : E. elatior, E. hemisphaerica, dan E. pauciflora","authors":"L. Vania, M. Wulan, Syipa Siti Saripah","doi":"10.52365/jecp.v2i2.424","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i2.424","url":null,"abstract":"Salah satu tanaman khas Indonesia yang berpotensi sebagai imunomodulator adalah genus Etlingera. Indonesia memiliki tiga spesies genus Etlingera yaitu E. elatior, E. hemisphaerica, dan E. pauciflora. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji informasi terhadap penelitian yang sudah ada sebelumnya mengenai morfologi, kandungan kimia, dan aktivitas imunomodulator tiga spesies genus Etlingera (E. elatior, E. hemisphaerica, dan E. pauciflora). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode kajian literatur sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfologi tiga spesies genus Etlingera dapat dibedakan dari bentuk setiap bagian tanamannya. Bunga E. elatior memiliki tepian berwarna putih dengan bentuk mahkota meruncing, sedangkan E. hemisphaerica memiliki tepian bunga berwarna kuning terang dengan bentuk mahkota bunga melebar. E. pauciflora memiliki bunga berwarna merah kejinggan dengan bentuk runcing memanjang. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa yang dapat meningkatkan imunitas tubuh seperti flavonoid, tanin, terpenoid, saponin dan essential oil. Etlingera elatior menunjukkan aktivitas paling tinggi sebagai imunostimulan dengan mekanisme kerja fagositosis, sedangkan spesies Etlingera hemisphaerica juga memiliki aktivitas dengan mekanisme peningkatan jumlah leukosit yang signifikan namun tetap dalam batas normal sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Belum ditemukan penelitian lebih lanjut terhadap spesies E. pauciflora mengenai kandungan kimia maupun aktivitas imunomodulatornya. Dapat disimpulkan bahwa tanaman genus Etlingera dapat dibedakan secara morfologi, sedangkan dua dari tiga spesies yaitu E.elatior dan E.hemisphaerica memiliki aktivitas sebagai imunostimulan dengan kandungan utamanya adalah flavonoid.One of the typical Indonesian plants that have the potential as an immunomodulator is the genus Etlingera. Indonesia has three species of the genus Etlingera, namely E. elatior, E. hemisphaerica , and E. pauciflora . The purpose of this study was to review information on previous studies regarding the morphology, chemical composition, and immunomodulatory activity of three species of the genus Etlingera ( E. elatior, E. hemisphaerica , and E. pauciflora ). This research is a qualitative research with a systematic literature review method. The results showed that the morphology of the three species of the genus Etlingera could be distinguished from the shape of each part of the plant. E. elatior flowers have white edges with a tapered crown, while E. hemisphaerica flowers have bright yellow edges with wide flower crowns. E. pauciflora has orange-red flowers with an elongated pointed shape. This plant contains various compounds that can increase the body's immunity such as flavonoids, tannins, terpenoids, saponins and essential oils . Etlingera elatior showed the highest activity as an immunostimulant with a phagocytosis mechanism, while Etlingera hemisphaerica species also had activity with a significant increas","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"106 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115741959","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Minyak biji kelor merupakan tanaman yang memiliki efek antioksidan karena memiliki kandungan flavanoid yang tinggi, sehingga perlu dilakukan pengembangan minyak biji kelor dalam bentuk sediaan krim. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi serta mengevaluasi sediaan krim. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Sediaan krim dibuat dengan dengan tiga formula konsentrasi minyak biji kelor yang berbeda yaitu FI (3%); FII (4%); FIII (5%). Evaluasi stabilitas sediaan krim meliputi pengamatan organoleptik (bau, warna, tekstur), uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji daya sebar. Hasil pemeriksaan mutu sediaan organoleptik menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi dalam sediaan krim maka semakin kental pula sediaan tersebut, uji homogenitas sediaan menunjukkan susunan yang homogen, uji pH yang dihasilkan 5,8-6,1, uji viskositas sediaan yang dihasilkan 5900 Cp, 5300 Cp, dan 5240 Cp, dan uji daya sebar yang dihasilkan 7 cm, 6,5 cm, 5,5 cm. Maka dapat disimpulkan bahwa FI, FII dan FIII krim minyak biji kelor dapat diformulasikan sebagai sediaan krim.Moringa seed oil is a plant that has an antioxidant effect because it has a high flavonoid content, so it is necessary to develop Moringa seed oil in the form of cream preparations. This study aims to formulate and evaluate cream preparations. This research is an experimental laboratory research. Cream preparations were made with three different concentration formulas of Moringa seed oil, namely FI (3%); FII (4%); FIII (5%). Evaluation of the stability of the cream preparation included organoleptic observations (smell, color, texture), homogeneity test, pH test, viscosity test, and spreadability test. The results of the quality inspection of organoleptic preparations showed that the higher the concentration in the cream preparation, the thicker the preparation, the homogeneity test of the preparation showed a homogeneous arrangement, the pH test produced was 5.8 -6.1, the viscosity test of the preparation produced 5900 Cp, 5300 Cp , and 5240 Cp, and the resulting dispersion test was 7 cm, 6.5 cm, 5.5 cm. So it can be concluded that FI, FII and FIII Moringa seed oil cream can be formulated as a cream preparation.
{"title":"Formulasi dan Evaluasi Stabilitas Fisik Krim Minyak Biji Kelor (Moringa oleifera L.)","authors":"Awalludin Awalludin, Robert Tungadi, E. Djuwarno","doi":"10.52365/jecp.v2i2.433","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i2.433","url":null,"abstract":"Minyak biji kelor merupakan tanaman yang memiliki efek antioksidan karena memiliki kandungan flavanoid yang tinggi, sehingga perlu dilakukan pengembangan minyak biji kelor dalam bentuk sediaan krim. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi serta mengevaluasi sediaan krim. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Sediaan krim dibuat dengan dengan tiga formula konsentrasi minyak biji kelor yang berbeda yaitu FI (3%); FII (4%); FIII (5%). Evaluasi stabilitas sediaan krim meliputi pengamatan organoleptik (bau, warna, tekstur), uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji daya sebar. Hasil pemeriksaan mutu sediaan organoleptik menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi dalam sediaan krim maka semakin kental pula sediaan tersebut, uji homogenitas sediaan menunjukkan susunan yang homogen, uji pH yang dihasilkan 5,8-6,1, uji viskositas sediaan yang dihasilkan 5900 Cp, 5300 Cp, dan 5240 Cp, dan uji daya sebar yang dihasilkan 7 cm, 6,5 cm, 5,5 cm. Maka dapat disimpulkan bahwa FI, FII dan FIII krim minyak biji kelor dapat diformulasikan sebagai sediaan krim.Moringa seed oil is a plant that has an antioxidant effect because it has a high flavonoid content, so it is necessary to develop Moringa seed oil in the form of cream preparations. This study aims to formulate and evaluate cream preparations. This research is an experimental laboratory research. Cream preparations were made with three different concentration formulas of Moringa seed oil, namely FI (3%); FII (4%); FIII (5%). Evaluation of the stability of the cream preparation included organoleptic observations (smell, color, texture), homogeneity test, pH test, viscosity test, and spreadability test. The results of the quality inspection of organoleptic preparations showed that the higher the concentration in the cream preparation, the thicker the preparation, the homogeneity test of the preparation showed a homogeneous arrangement, the pH test produced was 5.8 -6.1, the viscosity test of the preparation produced 5900 Cp, 5300 Cp , and 5240 Cp, and the resulting dispersion test was 7 cm, 6.5 cm, 5.5 cm. So it can be concluded that FI, FII and FIII Moringa seed oil cream can be formulated as a cream preparation.","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"13 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125002939","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Insyira Fadliana Basri, Fihrina Mohamad, N. Slamet, Arlan K. Imran, Rizka Puji Astuti Daud, Fitriah Ayu Magfirah Yunus, P. S. Wicita, Rakhmadhana Fitraeni Basri
Tanaman kelor tumbuh di daerah tropis dan telah dikenal oleh masyarakat sebagai sayur dan berkhasiat sebagai obat tradisional. Sangat jarang ditemukan penelitian yang mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada bagian akar kelor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam akar kelor (Moringa oleifera L.) yang berasal dari Desa Talulobutu, Kabupaten Bone Bolango. Metode penelitian ini menggunakan reagen Mayer dan reagen Dragendorff untuk mengidentifikasi senyawa alkaloid, reagen NaOH 4% untuk mengidentifikasi senyawa tanin, reagen Pb(C2H3O2)2 10% untuk megidentifikasi senyawa flavonoid, dan uji buih menggunakan aquadest panas untuk megidentifikasi senyawa saponin.
{"title":"Skrining Fitokimia dari Ekstrak Metanol Akar Kelor (Moringa oleifera L.)","authors":"Insyira Fadliana Basri, Fihrina Mohamad, N. Slamet, Arlan K. Imran, Rizka Puji Astuti Daud, Fitriah Ayu Magfirah Yunus, P. S. Wicita, Rakhmadhana Fitraeni Basri","doi":"10.52365/jecp.v2i2.345","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i2.345","url":null,"abstract":"Tanaman kelor tumbuh di daerah tropis dan telah dikenal oleh masyarakat sebagai sayur dan berkhasiat sebagai obat tradisional. Sangat jarang ditemukan penelitian yang mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada bagian akar kelor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam akar kelor (Moringa oleifera L.) yang berasal dari Desa Talulobutu, Kabupaten Bone Bolango. Metode penelitian ini menggunakan reagen Mayer dan reagen Dragendorff untuk mengidentifikasi senyawa alkaloid, reagen NaOH 4% untuk mengidentifikasi senyawa tanin, reagen Pb(C2H3O2)2 10% untuk megidentifikasi senyawa flavonoid, dan uji buih menggunakan aquadest panas untuk megidentifikasi senyawa saponin.","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"56 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132420131","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Reza Agung Sriwijaya, Ahmad Fatoni, Anggraini Anggraini
Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP),salah satunya penyimpanan obat harus dapat menjamin kualitas dan keamanan sesuai dengan persyaratan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu penyimpanan obat berdasarkan Standar Akreditasi Nasional Rumah Sakit (SNARS) Jenis penelitian ini adalah non eksperimental,deskriptif dengan pengamatan langsung terhadap fasilitas penyimpanan obat. Pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung dan wawancara dengan apoteker di Instalasi Farmasi bagian penyimpanan obat rumah sakit X menggunakan lembar chek list ditabel pengamatan, kemudian dihitung persentasenya. hasil didapat Standar Operasional Prosedur Penyimpanan sebesar 100% (baik), kondisi sarana dan prasarana penyimpanan kesesuaian sebesar 93% (Baik) dan pengaturan penyimpanan obat kesesuaian sebesar 96% (Baik).
{"title":"Evaluasi Mutu Penyimpanan Obat di Instalasi Farmasi RS. X Palembang Berdasarkan Standart Nasional Akreditasi Rumah Sakit","authors":"Reza Agung Sriwijaya, Ahmad Fatoni, Anggraini Anggraini","doi":"10.52365/jecp.v2i1.371","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i1.371","url":null,"abstract":"Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP),salah satunya penyimpanan obat harus dapat menjamin kualitas dan keamanan sesuai dengan persyaratan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu penyimpanan obat berdasarkan Standar Akreditasi Nasional Rumah Sakit (SNARS) Jenis penelitian ini adalah non eksperimental,deskriptif dengan pengamatan langsung terhadap fasilitas penyimpanan obat. Pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung dan wawancara dengan apoteker di Instalasi Farmasi bagian penyimpanan obat rumah sakit X menggunakan lembar chek list ditabel pengamatan, kemudian dihitung persentasenya. hasil didapat Standar Operasional Prosedur Penyimpanan sebesar 100% (baik), kondisi sarana dan prasarana penyimpanan kesesuaian sebesar 93% (Baik) dan pengaturan penyimpanan obat kesesuaian sebesar 96% (Baik).","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"64 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121823682","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penggunaan obat-obatan tanpa konsultasi profesional medis dan membeli obat bebas adalah salah satu masalah penting yang mengarah pada penggunaan obat yang tidak tepat. Swamedikasi menjadi ancaman dan perhatian serius di karena kasusnya terus meningkat. Walaupun dibeberapa tempat di dunia swamedikasi masih dilakukan dalam batas wajar namun timbul kekhawatiran karena kurangnya literasi kesehatan, program pendidikan dan pelatihan tentang swamedikasi dan juga kebijakan yang belum kuat tentang pelarangan obat-obatan tanpa resep dokter. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menilai perilaku swamedikasi pada pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan studi literature review, Sumber ilmiah didapatkan dari google scholar dan Pubmed berupa textbook dan jurnal ilmiah yang berjumlah 26 buah. Tingginya aktivitas swamedikasi yang belum tepat dan tanpa konsultasi profesional medis dan membeli obat bebas adalah salah satu masalah penting yang mengarah pada penggunaan obat yang tidak tepat. Swamedikasi menjadi ancaman dan perhatian serius di karena kasusnya terus meningkat dan membawa dampak merugikan seperti resistensi antibiotik dan reaksi obat yang merugikan.
{"title":"Perilaku Swamedikasi pada Pandemi COVID-19","authors":"Adilla Dwi Nur Yadika","doi":"10.52365/jecp.v2i1.372","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i1.372","url":null,"abstract":"Penggunaan obat-obatan tanpa konsultasi profesional medis dan membeli obat bebas adalah salah satu masalah penting yang mengarah pada penggunaan obat yang tidak tepat. Swamedikasi menjadi ancaman dan perhatian serius di karena kasusnya terus meningkat. Walaupun dibeberapa tempat di dunia swamedikasi masih dilakukan dalam batas wajar namun timbul kekhawatiran karena kurangnya literasi kesehatan, program pendidikan dan pelatihan tentang swamedikasi dan juga kebijakan yang belum kuat tentang pelarangan obat-obatan tanpa resep dokter. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menilai perilaku swamedikasi pada pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan studi literature review, Sumber ilmiah didapatkan dari google scholar dan Pubmed berupa textbook dan jurnal ilmiah yang berjumlah 26 buah. Tingginya aktivitas swamedikasi yang belum tepat dan tanpa konsultasi profesional medis dan membeli obat bebas adalah salah satu masalah penting yang mengarah pada penggunaan obat yang tidak tepat. Swamedikasi menjadi ancaman dan perhatian serius di karena kasusnya terus meningkat dan membawa dampak merugikan seperti resistensi antibiotik dan reaksi obat yang merugikan.","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"99 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116469510","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Fadli Husain, Vyani Kamba, Zulfiayu Zulfiayu, Arlan K. Imran
Instalasi farmasi sering menghadapi permasalahan pada tahap seleksi, perencanaan dan pengadaan. Pengelolaan obat yang buruk menyebabkan tingkat ketersediaan obat menjadi berkurang, terjadi kekosongan obat, banyaknya obat yang menumpuk karena tidak sesuainya perencanaan obat, serta banyaknya obat yang kadaluwarsa/rusak akibat sistem distribusi yang kurang baik sehingga dapat berdampak kepada inefisiensi penggunaan anggaran/biaya obat di tingkat Kabupaten/Kota. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif dan concurent. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Farmasi Kab. Kota se-Provinsi Gorontalo. Alat ukur penelitian ini adalah daftar pertanyaan berdasarkan indikator standar yang telah ditetapkan sesuai pedoman yang digunakan untuk monitoring dan evaluasi pengelolaan obat kabupaten/kota, serta melakukan wawancara langsung kepada penanggung jawab Instalasi Farmasi setempat. Hasil penelitian didapatkan bahwa; alokasi dana pengadaan obat tahun 2018 > 2 Miliar rupiah dan tahun 2019 1,7 Miliar - 4,3 Miliar rupiah. Terdapat 50% Kabupaten/kota yang sudah memiliki Tim Perencanaan Obat Terpadu (TPOT) di lingkungan Dinas Kesehatan. Biaya obat perkapita bila menggunakan standar WHO 1 US$ perkapita maka 80% Kabupaten/Kota sudah sesuai bahkan melampaui, hanya 1 kabupaten yang dibawah standar WHO. Terdapat 83% Kabupaten/kota yang kesesuaian item obat dengan DOEN diatas 80% dan seluruh Kabupaten Kota mempunyai kesesuaian FORNAS lebih dari 80%.
{"title":"Analisis Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Se-Provinsi Gorontalo Periode Tahun 2018 dan 2019","authors":"Fadli Husain, Vyani Kamba, Zulfiayu Zulfiayu, Arlan K. Imran","doi":"10.52365/jecp.v2i1.352","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i1.352","url":null,"abstract":"Instalasi farmasi sering menghadapi permasalahan pada tahap seleksi, perencanaan dan pengadaan. Pengelolaan obat yang buruk menyebabkan tingkat ketersediaan obat menjadi berkurang, terjadi kekosongan obat, banyaknya obat yang menumpuk karena tidak sesuainya perencanaan obat, serta banyaknya obat yang kadaluwarsa/rusak akibat sistem distribusi yang kurang baik sehingga dapat berdampak kepada inefisiensi penggunaan anggaran/biaya obat di tingkat Kabupaten/Kota. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif dan concurent. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Farmasi Kab. Kota se-Provinsi Gorontalo. Alat ukur penelitian ini adalah daftar pertanyaan berdasarkan indikator standar yang telah ditetapkan sesuai pedoman yang digunakan untuk monitoring dan evaluasi pengelolaan obat kabupaten/kota, serta melakukan wawancara langsung kepada penanggung jawab Instalasi Farmasi setempat. Hasil penelitian didapatkan bahwa; alokasi dana pengadaan obat tahun 2018 > 2 Miliar rupiah dan tahun 2019 1,7 Miliar - 4,3 Miliar rupiah. Terdapat 50% Kabupaten/kota yang sudah memiliki Tim Perencanaan Obat Terpadu (TPOT) di lingkungan Dinas Kesehatan. Biaya obat perkapita bila menggunakan standar WHO 1 US$ perkapita maka 80% Kabupaten/Kota sudah sesuai bahkan melampaui, hanya 1 kabupaten yang dibawah standar WHO. Terdapat 83% Kabupaten/kota yang kesesuaian item obat dengan DOEN diatas 80% dan seluruh Kabupaten Kota mempunyai kesesuaian FORNAS lebih dari 80%.","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"46 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128481154","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Tumbuhan obat merupakan seluruh spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat sebagai obat. Tumbuhan obat tersebut dikelompokkan menjadi tiga yaitu tumbuhan obat tradisional, tumbuhan obat modern, dan tumbuhan obat potensial. Kajian etnofarmakologi tumbuhan obat dalam pengobatan penyakit hipertensi dilakukan untuk mengkaji informasi tentang pemanfaatan tumbuhan obat meliputi nama tumbuhan, bagian Tumbuhan yang digunakan, cara pengolahan dan penggunaannya berdasarkan kebiasaan masyarakat di kelurahan Bontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Penelitian dilakukan dengan metode Snowball sampling dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informasi yang diperoleh selanjutnya dikaji dengan metode literasi untuk mendapatkan informasi ilmiah dari hasil penelitian maupun dari rujukan buku dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis tumbuhan obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit hipertensi yang terdiri dari 46,15% daun, 38,64% buah, 7,69% akar, dan 7,69% umbi. Rata-rata tumbuhan obat diolah dengan cara direbus menggunakan air mendidih kemudian dikonsumsi dengan cara diminum dan 84,6% merasakan gejala penyakit berkurang setelah penggunaan tumbuhan obat secara rutin.
{"title":"Kajian Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Untuk Penyakit Hipertensi Di Kelurahan Bontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa","authors":"Nurul Hidayah Base, Yusriyani Yusriyani, Siti Hardianti","doi":"10.52365/jecp.v2i1.341","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i1.341","url":null,"abstract":"Tumbuhan obat merupakan seluruh spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat sebagai obat. Tumbuhan obat tersebut dikelompokkan menjadi tiga yaitu tumbuhan obat tradisional, tumbuhan obat modern, dan tumbuhan obat potensial. Kajian etnofarmakologi tumbuhan obat dalam pengobatan penyakit hipertensi dilakukan untuk mengkaji informasi tentang pemanfaatan tumbuhan obat meliputi nama tumbuhan, bagian Tumbuhan yang digunakan, cara pengolahan dan penggunaannya berdasarkan kebiasaan masyarakat di kelurahan Bontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Penelitian dilakukan dengan metode Snowball sampling dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informasi yang diperoleh selanjutnya dikaji dengan metode literasi untuk mendapatkan informasi ilmiah dari hasil penelitian maupun dari rujukan buku dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 jenis tumbuhan obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit hipertensi yang terdiri dari 46,15% daun, 38,64% buah, 7,69% akar, dan 7,69% umbi. Rata-rata tumbuhan obat diolah dengan cara direbus menggunakan air mendidih kemudian dikonsumsi dengan cara diminum dan 84,6% merasakan gejala penyakit berkurang setelah penggunaan tumbuhan obat secara rutin.","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"61 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115686911","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya gastritis di Indonesia salah satunya adalah pola makan. Pola makan yang salah dapat menyebabkan infeksi pada lambung. Santry memiliki pola makan yang tidak teratur dan sering mengonsumsi makanan yang menyebabkan sakit perut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian gastritis pada santri Pondok Pesantren Al Itishom Gunungkidul, DI. Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain penelitian potong lintang yang melibatkan 159 santri Pondok Pesantren Al-Itishom Gunungkidul DI. Yogyakarta dengan besar sampel 61 responden. Pengambilan sampel berurutan digunakan untuk metode pengambilan sampel, dan uji chi-kuadrat digunakan untuk pengujian statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola makan santri yang paling banyak adalah Pondok Pesantren Al Itishom Gunungkidul DI. Hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas (p) sebesar 0,000 (p<0,05) dan nilai koefisien korelasi (r) sama ~0,502, dimana Diet dan tekanan sedang menunjukkan adanya hubungan antara kejadian gastritis
{"title":"Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis pada Santri","authors":"Widowati Galuh Premesti, Muskhab Eko Riyadi","doi":"10.52365/jecp.v2i1.366","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i1.366","url":null,"abstract":"Ada beberapa faktor penyebab terjadinya gastritis di Indonesia salah satunya adalah pola makan. Pola makan yang salah dapat menyebabkan infeksi pada lambung. Santry memiliki pola makan yang tidak teratur dan sering mengonsumsi makanan yang menyebabkan sakit perut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian gastritis pada santri Pondok Pesantren Al Itishom Gunungkidul, DI. Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain penelitian potong lintang yang melibatkan 159 santri Pondok Pesantren Al-Itishom Gunungkidul DI. Yogyakarta dengan besar sampel 61 responden. Pengambilan sampel berurutan digunakan untuk metode pengambilan sampel, dan uji chi-kuadrat digunakan untuk pengujian statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola makan santri yang paling banyak adalah Pondok Pesantren Al Itishom Gunungkidul DI. Hasil uji statistik diperoleh nilai probabilitas (p) sebesar 0,000 (p<0,05) dan nilai koefisien korelasi (r) sama ~0,502, dimana Diet dan tekanan sedang menunjukkan adanya hubungan antara kejadian gastritis","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"120 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123619623","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Penggunaan antibiotic (AB) haruslah sesuai dengan kebutuhan klinis. Penggunaan tidak tepat memberikan berbagai dampak negatif antara lain timbulnya efek samping, mempercepat terjadinya resistensi, terjadi resiko kegagalan terapi, bertambah beban penyakit pasien, lamanya pasien menderita, serta meningkatkan biaya pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa ketepatan pemberian antibiotik injeksi di ruang rawat inap. Jenis Penelitian adalah observasional dengan pendekatan deskriptif. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien dirawat inap Rumah Sakit yang diberikan antibiotik pada bulan Januari-April 2019 yang berjumlah 176 dilihat pada kartu rekam medik. Tepatnya waktu penyuntikan injeksi antibiotik dilihat dari kesesuaian catatan rekam medik dengan paraf petugas perawat SD(±30 menit) dari setiap pemberian pertama. Frekuensi umur 46-65 yang paling banyak diberikan antibiotic. Frekuensi berat badan yang < 70 kg paling banyak menggunakan antibiotik injeksi sesuai dosis. Pemberian dosis AB dengan Berat badan >70 kg belum tampak penyesuaian dosis. Pada riwayat alergi hanya 1 pasien ditemukan alergi terhadap antibiotik dari total sampel. Kesimpulan ketepatan waktu pemberian antibiotik injeksi dinyatakan 80% tepat waktu penyuntikan antibiotik injeksi sedangkan 20% tidak tepat. Sebanyak 20% belum patuh dalam penulisan rekam medik.
{"title":"Pemberian Injeksi Antibiotik Pada Pasien di Ruang Perawatan Penyakit Dalam di Rumah Sakit Palembang","authors":"Estelita O.N. Siregar, Sarmalina Simamora, Sonlimar Mangunsong","doi":"10.52365/jecp.v2i1.347","DOIUrl":"https://doi.org/10.52365/jecp.v2i1.347","url":null,"abstract":"Penggunaan antibiotic (AB) haruslah sesuai dengan kebutuhan klinis. Penggunaan tidak tepat memberikan berbagai dampak negatif antara lain timbulnya efek samping, mempercepat terjadinya resistensi, terjadi resiko kegagalan terapi, bertambah beban penyakit pasien, lamanya pasien menderita, serta meningkatkan biaya pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa ketepatan pemberian antibiotik injeksi di ruang rawat inap. Jenis Penelitian adalah observasional dengan pendekatan deskriptif. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien dirawat inap Rumah Sakit yang diberikan antibiotik pada bulan Januari-April 2019 yang berjumlah 176 dilihat pada kartu rekam medik. Tepatnya waktu penyuntikan injeksi antibiotik dilihat dari kesesuaian catatan rekam medik dengan paraf petugas perawat SD(±30 menit) dari setiap pemberian pertama. Frekuensi umur 46-65 yang paling banyak diberikan antibiotic. Frekuensi berat badan yang < 70 kg paling banyak menggunakan antibiotik injeksi sesuai dosis. Pemberian dosis AB dengan Berat badan >70 kg belum tampak penyesuaian dosis. Pada riwayat alergi hanya 1 pasien ditemukan alergi terhadap antibiotik dari total sampel. Kesimpulan ketepatan waktu pemberian antibiotik injeksi dinyatakan 80% tepat waktu penyuntikan antibiotik injeksi sedangkan 20% tidak tepat. Sebanyak 20% belum patuh dalam penulisan rekam medik.","PeriodicalId":168977,"journal":{"name":"Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP)","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132459297","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}