Substansi bioaktif merupakan zat ezensial dan non esensial yang terdapat di alam, memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh manusia dan ikut andil dalam perkembangan teknologi farmakologi bahari. Beberapa penelitian terdahulu menganalisis tentang pengaruh kualitas produk dan layanan terhadap kepuasan pelanggan, namun belum ditemukan informasi rinci terkait persepsi pengunjung apotek, serta bagaimana tubuh mereka menanggapi saat menggunakan obat alami. Dalam penelitian ini berisi identifikasi bagaimana persepsi konsumen terhadap obat alami substansi bioaktif maritim.Pengambilan sampel dalam penelitian adalah random sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel secara acak dengan memberi kuesioner, wawancara langsung, serta penunjukan hasil check up bagi konsumen. Dari metode tersebut didapatkan hasil analisis data berupa apa keluhan yang kebanyakan dialami, perubahan yang dialami setelah mengonsumsi obat substansi bioaktif maritim, fase yang diperlukan untuk merasakan manfaat obat, efek samping saat mengonsumsi obat, serta pendapat tentang obat substansi menurut pelanggan. Hasil wawancara menggambarkan respon positif penunjukkan tingkat kepuasan dan partisipasi konsumen yang sudah banyak menunjukkan kemajuan dan perkembangan pemasaran yang dilakukan suatu produsen yang bergerak dibidang obat-obatan tradisional. Meskipun minat pelanggan yang masih kurang, dideteksi terdapat tolak belakang terhadap kecepatan reaksi antara obat alami dengan obat kimia yang signifikan, serta harga yang cukup tinggi dibandingkan obat kimia. Uji kuesioner yang dilakukan mengaplikasikan efisiensi, efektivitas, serta kepuasan kinerja obat alami substansi bioaktif maritim disertakan hasil medical check up pelanggan yang menunjukkan persepsi pelanggan serta bagaimana tanggapan tubuh pengguna obat alami substansi bioaktif maritim telah mampu menunjukkan peran serta kontribusinya menggantikan kerja dan fungsi obat kimia, dengan sifatnya yaitu holistik dan kuratif. Kata kunci: Bioaktif, Farmakologi, Maritim, Perseps
{"title":"PERSEPSI PELANGGAN APOTEK SAGITA FARMA TERHADAP SUBSTANSI BIOAKTIF KEMARITIMAN BIDANG FARMAKOLOGI","authors":"Yuyun Kurniasari, Didik Wahyu Bintoro, Denny Oktavina Radianto","doi":"10.52434/JFB.V12I1.1035","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V12I1.1035","url":null,"abstract":"Substansi bioaktif merupakan zat ezensial dan non esensial yang terdapat di alam, memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh manusia dan ikut andil dalam perkembangan teknologi farmakologi bahari. Beberapa penelitian terdahulu menganalisis tentang pengaruh kualitas produk dan layanan terhadap kepuasan pelanggan, namun belum ditemukan informasi rinci terkait persepsi pengunjung apotek, serta bagaimana tubuh mereka menanggapi saat menggunakan obat alami. Dalam penelitian ini berisi identifikasi bagaimana persepsi konsumen terhadap obat alami substansi bioaktif maritim.Pengambilan sampel dalam penelitian adalah random sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel secara acak dengan memberi kuesioner, wawancara langsung, serta penunjukan hasil check up bagi konsumen. Dari metode tersebut didapatkan hasil analisis data berupa apa keluhan yang kebanyakan dialami, perubahan yang dialami setelah mengonsumsi obat substansi bioaktif maritim, fase yang diperlukan untuk merasakan manfaat obat, efek samping saat mengonsumsi obat, serta pendapat tentang obat substansi menurut pelanggan. Hasil wawancara menggambarkan respon positif penunjukkan tingkat kepuasan dan partisipasi konsumen yang sudah banyak menunjukkan kemajuan dan perkembangan pemasaran yang dilakukan suatu produsen yang bergerak dibidang obat-obatan tradisional. Meskipun minat pelanggan yang masih kurang, dideteksi terdapat tolak belakang terhadap kecepatan reaksi antara obat alami dengan obat kimia yang signifikan, serta harga yang cukup tinggi dibandingkan obat kimia. Uji kuesioner yang dilakukan mengaplikasikan efisiensi, efektivitas, serta kepuasan kinerja obat alami substansi bioaktif maritim disertakan hasil medical check up pelanggan yang menunjukkan persepsi pelanggan serta bagaimana tanggapan tubuh pengguna obat alami substansi bioaktif maritim telah mampu menunjukkan peran serta kontribusinya menggantikan kerja dan fungsi obat kimia, dengan sifatnya yaitu holistik dan kuratif. \u0000 \u0000 \u0000Kata kunci: Bioaktif, Farmakologi, Maritim, Perseps","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-02-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125555133","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Daging olahan yang ada dipasaran sering terkontaminasi oleh mikroba sehingga mengalami pembusukan atau masa simpannya sangat rendah. Sehingga, untuk menghindari kerugian biasanya ditambahkan pengawet sintetik, sedangkan pengawet sintetik berbahaya bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawet alami nabati yang aman bagi manusia. Salah satunya adalah pemanfaatan ekstrak kayu sepang (Caesalpinia sappan L.) sebab memiliki kandungan antioksidan serta antimikroba. Akan tetapi, perlu dilakukan analisa mengenai ekstrak kayu sepang dengan pH air yang berbeda (pH 6, pH 7 dan pH 8) agar aktivitas antioksidan dapat efektif. Penentuan uji aktivitas antioksidan didasarkan pada perubahan warna ekstrak selama perendaman daging olahan (bakso). Perubahan yang tidak signifikan pada pH tertentu akan dijadikan sebagai dasar untuk melakukan uji aktivitas antioksidan (IC50). Hasil yang diperoleh yaitu perubahan warna pada larutan ekstrak stagnan pada pH 5-6 untuk setiap variasi waktu perendaman (5, 10, dan 15 jam). Perubahan pH yang dijadikan sebagai uji lanjut untuk menentukan aktivitas antioksidan adalah pada pH 6. Hasil yang diperoleh bahwa aktivitas antioksidan (IC50) pada pH 6 yaitu 1,16 ppm yang mengindikasikan bahwa sifat antioksidan sangat kuat. Kata kunci: Antioksidan, Caesalpinia sappan L, Kayu Sepang
{"title":"AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA EKSTRAK KAYU SEPANG (Caesalpinia sappan L.) BERDASARKAN PH AIR","authors":"A. M. I. A. Asfar, A. T. Asfar","doi":"10.52434/JFB.V12I1.1032","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V12I1.1032","url":null,"abstract":"Daging olahan yang ada dipasaran sering terkontaminasi oleh mikroba sehingga mengalami pembusukan atau masa simpannya sangat rendah. Sehingga, untuk menghindari kerugian biasanya ditambahkan pengawet sintetik, sedangkan pengawet sintetik berbahaya bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawet alami nabati yang aman bagi manusia. Salah satunya adalah pemanfaatan ekstrak kayu sepang (Caesalpinia sappan L.) sebab memiliki kandungan antioksidan serta antimikroba. Akan tetapi, perlu dilakukan analisa mengenai ekstrak kayu sepang dengan pH air yang berbeda (pH 6, pH 7 dan pH 8) agar aktivitas antioksidan dapat efektif. Penentuan uji aktivitas antioksidan didasarkan pada perubahan warna ekstrak selama perendaman daging olahan (bakso). Perubahan yang tidak signifikan pada pH tertentu akan dijadikan sebagai dasar untuk melakukan uji aktivitas antioksidan (IC50). Hasil yang diperoleh yaitu perubahan warna pada larutan ekstrak stagnan pada pH 5-6 untuk setiap variasi waktu perendaman (5, 10, dan 15 jam). Perubahan pH yang dijadikan sebagai uji lanjut untuk menentukan aktivitas antioksidan adalah pada pH 6. Hasil yang diperoleh bahwa aktivitas antioksidan (IC50) pada pH 6 yaitu 1,16 ppm yang mengindikasikan bahwa sifat antioksidan sangat kuat. Kata kunci: Antioksidan, Caesalpinia sappan L, Kayu Sepang","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"68 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-02-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128726876","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Raden Aldizal Mahendra Rizkio Syamsudin, Faizah Min Fadhlillah, Farid Perdana, Ardi Rustamsyah, Ayu Awaliyah Inayah, Muhamad Abdul Aziz
Teh kejek merupakan teh tradisional dari daerah Garut yang sudah bertahan selama lebih dari 200 tahun. Teh ini diproses menggunakan cara tradisional dan memiliki karakter teh yang khas. Pemrosesan yang menjadi ciri khas teh ini adalah penggilingan daun teh menggunakan kaki dan pemanasan menggunakan cara penyangraian. Pada penelitian ini digunakan modifikasi terhadap metode pemrosesan yang digunakan yaitu menggunakan mesin giling dan oven kemudian dinilai karakteristik, kadar fenolik, kadar flavonoid, serta aktivitas antioksidan dari keduanya. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa pemrosesan secara tradisional memiliki kandungan fenolik, flavonoid serta aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan hasil modifikasi namun menghasilkan karakteristik yang beragam.Kata kunci: antioksidan, Camellia sinensis, fenol, flavonoid, Teh Kejek
{"title":"PENGARUH METODE PEMROSESAN TERHADAP KARAKTERISTIK, KADAR FENOL, KADAR FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN TEH TRADISIONAL GARUT (TEH KEJEK)","authors":"Raden Aldizal Mahendra Rizkio Syamsudin, Faizah Min Fadhlillah, Farid Perdana, Ardi Rustamsyah, Ayu Awaliyah Inayah, Muhamad Abdul Aziz","doi":"10.52434/JFB.V12I1.898","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V12I1.898","url":null,"abstract":"Teh kejek merupakan teh tradisional dari daerah Garut yang sudah bertahan selama lebih dari 200 tahun. Teh ini diproses menggunakan cara tradisional dan memiliki karakter teh yang khas. Pemrosesan yang menjadi ciri khas teh ini adalah penggilingan daun teh menggunakan kaki dan pemanasan menggunakan cara penyangraian. Pada penelitian ini digunakan modifikasi terhadap metode pemrosesan yang digunakan yaitu menggunakan mesin giling dan oven kemudian dinilai karakteristik, kadar fenolik, kadar flavonoid, serta aktivitas antioksidan dari keduanya. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa pemrosesan secara tradisional memiliki kandungan fenolik, flavonoid serta aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan hasil modifikasi namun menghasilkan karakteristik yang beragam.Kata kunci: antioksidan, Camellia sinensis, fenol, flavonoid, Teh Kejek","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-02-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114473941","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Nur Rohmah Prihatanti, Heni Aryani, Istifadatul Ilmiya, A S Noorhamdani, D. Hidayati
Salah satu infeksi pada organ genitalia wanita adalah infeksi tuba falopi. Infeksi tuba fallopi dapat disebabkan oleh Streptococcus agalactiae. Pencegahan infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus agalactiae dapat dilakukan dengan vaksinasi. Protein pili Streptococcus agalactiae merupakan kandidat vaksin yang baik. Pili Streptococcus agalactiae berperan penting dalam memfasilitasi ikatan antara Streptococcus agalactiae dengan sel inang. Protein pili Streptococcus agalactiae didapatkan dari proses pemotongan pili. Tikus putih (Rattus novergicus) galur wistar dikelompokkan menjadi 5 kelompok (kontrol dan perlakuan). Satu minggu setelah pemberian protein pili Streptococcus agalactiae terakhir, tikus putih (Rattus novergicus) galur wistar dikorbankan menggunakan teknik dekapitasi. Jaringan tuba falopi diambil dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia. Ekspresi β-defensin-2 hasil imunohistokimia diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x dan dihitung menggunakan software Image-J. Terdapat perbedaan ekspresi β-defensin-2 yang signifikan pada tuba fallopi tikus putih (Rattus novergicus) galur wistar kelompok kontrol dan perlakuan. Semakin tinggi dosis protein pili Streptococcus agalactiae, semakin tinggi pula ekspresi β-defensin-2 pada tuba fallopi tikus putih (Rattus novergicus) galur wistar. Kata kunci: β-defensin-2, Tuba Fallopi, Protein Pili Streptococcus agalactiae
{"title":"PENGARUH PROTEIN PILI Streptococcus Agalactiae TERHADAP EKSPRESI β-Defensin-2 PADA TUBA FALLOPI TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) GALUR WISTAR","authors":"Nur Rohmah Prihatanti, Heni Aryani, Istifadatul Ilmiya, A S Noorhamdani, D. Hidayati","doi":"10.52434/JFB.V12I1.1001","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V12I1.1001","url":null,"abstract":"Salah satu infeksi pada organ genitalia wanita adalah infeksi tuba falopi. Infeksi tuba fallopi dapat disebabkan oleh Streptococcus agalactiae. Pencegahan infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus agalactiae dapat dilakukan dengan vaksinasi. Protein pili Streptococcus agalactiae merupakan kandidat vaksin yang baik. Pili Streptococcus agalactiae berperan penting dalam memfasilitasi ikatan antara Streptococcus agalactiae dengan sel inang. Protein pili Streptococcus agalactiae didapatkan dari proses pemotongan pili. Tikus putih (Rattus novergicus) galur wistar dikelompokkan menjadi 5 kelompok (kontrol dan perlakuan). Satu minggu setelah pemberian protein pili Streptococcus agalactiae terakhir, tikus putih (Rattus novergicus) galur wistar dikorbankan menggunakan teknik dekapitasi. Jaringan tuba falopi diambil dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia. Ekspresi β-defensin-2 hasil imunohistokimia diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x dan dihitung menggunakan software Image-J. Terdapat perbedaan ekspresi β-defensin-2 yang signifikan pada tuba fallopi tikus putih (Rattus novergicus) galur wistar kelompok kontrol dan perlakuan. Semakin tinggi dosis protein pili Streptococcus agalactiae, semakin tinggi pula ekspresi β-defensin-2 pada tuba fallopi tikus putih (Rattus novergicus) galur wistar. \u0000 \u0000Kata kunci: β-defensin-2, Tuba Fallopi, Protein Pili Streptococcus agalactiae","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"14 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-02-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128892081","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Daun kelor merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat dibidang kesehatan. Beberapa diantaranya menyebutkan bahwa daun kelor memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lam) terhadap bakteri P. aeruginosa. Kelompok uji terdiri dari 5 kelompok perlakukan variasi konsentrasi ekstrak daun kelor 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%, kelompok kontrol positif, dan kontrol negatif. Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara metode difusi sumuran. Inkubasi dilakukan pada suhu 37˚C selama 24 jam. Pengamatan dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak daun kelor terhadap bakteri P. aeruginosa menunjukkan adanya zona hambat pada konsentrasi ≥4%. Nilai zona hambat tertinggi diperoleh pada konsentrasi 10% dengan rata-rata diameter zona hambat 19,60±0,67 mm. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor mengandung flavonoid, saponin, terpenoid dan tanin. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kelor memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri P. aeruginosa. Zona hambat yang terbentuk semakin besar seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Kata kunci: Antibakteri, Moringa oleifera, Pseudomonas aeruginosa
{"title":"AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KELOR TERHADAP Pseudomonas auroginosa","authors":"Erma Yunita, Dheanissa Galuh Permatasari, Deni Lestari","doi":"10.52434/JFB.V11I2.886","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V11I2.886","url":null,"abstract":"Daun kelor merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat dibidang kesehatan. Beberapa diantaranya menyebutkan bahwa daun kelor memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lam) terhadap bakteri P. aeruginosa. Kelompok uji terdiri dari 5 kelompok perlakukan variasi konsentrasi ekstrak daun kelor 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%, kelompok kontrol positif, dan kontrol negatif. Uji aktivitas antibakteri dilakukan secara metode difusi sumuran. Inkubasi dilakukan pada suhu 37˚C selama 24 jam. Pengamatan dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak daun kelor terhadap bakteri P. aeruginosa menunjukkan adanya zona hambat pada konsentrasi ≥4%. Nilai zona hambat tertinggi diperoleh pada konsentrasi 10% dengan rata-rata diameter zona hambat 19,60±0,67 mm. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor mengandung flavonoid, saponin, terpenoid dan tanin. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kelor memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri P. aeruginosa. Zona hambat yang terbentuk semakin besar seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. \u0000 \u0000Kata kunci: Antibakteri, Moringa oleifera, Pseudomonas aeruginosa","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"77 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114437744","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kandungan senyawa golongan flavonoid yang terdapat pada kulit pisang ambon putih dapat berpotensi sebagai antioksidan alami. Antioksidan dapat berfungsi menangkal radikal bebas. Radikal bebas dan sinar matahari dapat menimbulkan dampat negatif pada kerusakan kulit. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antioksidan dan tabir surya dari ekstrak kulit pisang ambon putih (Musa acuminata AAA). Kulit pisang ambon putih diekstraksi pelarut etanol, air, dan etil asetat dengan metode maserasi. Penentuan aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH, sedangkan penentuan nilai SPF dengan metode spektrofotometri. Hasil aktivitas antioksidan menunjukan ekstrak etanol memiliki nilai IC50 yaitu 121,34 μg/mL, diikuti dengan fraksi air 136,40 μg/mL dan fraksi etil asetat 159,88 μg/mL. Hasil penentuan nilai SPF ekstrak etanol, fraksi air, fraksi eti asetat secara berturut-turut sebesar 11,579; 3,572; 2,018. Aktivitas antioksidan ketiga ekstrak kulit pisang ambon putih masuk dalam kategori sedang. Nilai SPF tertinggi terdapat pada ekstrak pelarut etanol. Kata kunci: antioksidan, flavonoid, kulit pisang, tabir surya.
{"title":"POTENSI ANTIOKSIDAN DAN TABIR SURYA EKSTRAK KULIT BUAH PISANG AMBON PUTIH (Musa acuminata AAA)","authors":"Harry Noviardi, Eem Masaenah, Kurniati Indraswari","doi":"10.52434/JFB.V11I2.842","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V11I2.842","url":null,"abstract":"Kandungan senyawa golongan flavonoid yang terdapat pada kulit pisang ambon putih dapat berpotensi sebagai antioksidan alami. Antioksidan dapat berfungsi menangkal radikal bebas. Radikal bebas dan sinar matahari dapat menimbulkan dampat negatif pada kerusakan kulit. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antioksidan dan tabir surya dari ekstrak kulit pisang ambon putih (Musa acuminata AAA). Kulit pisang ambon putih diekstraksi pelarut etanol, air, dan etil asetat dengan metode maserasi. Penentuan aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH, sedangkan penentuan nilai SPF dengan metode spektrofotometri. Hasil aktivitas antioksidan menunjukan ekstrak etanol memiliki nilai IC50 yaitu 121,34 μg/mL, diikuti dengan fraksi air 136,40 μg/mL dan fraksi etil asetat 159,88 μg/mL. Hasil penentuan nilai SPF ekstrak etanol, fraksi air, fraksi eti asetat secara berturut-turut sebesar 11,579; 3,572; 2,018. Aktivitas antioksidan ketiga ekstrak kulit pisang ambon putih masuk dalam kategori sedang. Nilai SPF tertinggi terdapat pada ekstrak pelarut etanol. \u0000 \u0000Kata kunci: antioksidan, flavonoid, kulit pisang, tabir surya.","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"29 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"117294631","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Fenilbutazon merupakan salah satu bahan kimia obat yang banyak ditambahkan ke dalam obat tradisional. Pemakaian bahan kimia obat di dalam sediaan jamu dilarang karena melanggar UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Secara umum fenilbutazon dalam sediaan jamu di indentifikasi kandungannya menggunakan metode KLT yang dikombinasi dengan Spektrofotmometri UV, namun metode ini dianggap kurang memiliki sensitifitas yang tinggi. Saat ini dikembangan suatu metode baru yang memiliki sensitifitas lebih tinggi yaitu Molecularly Imprinted Polymer (MIP). MIP adalah suatu metode yang sensitiv dan selektif digunakan untuk mengekstraksi fenilbutazon dari sediaan obat tradisional. Fenilbutazon dari dalam polymer di ekstraksi menggunakan metode soxhletasi. Fenilbutazon akan terekstraksi ke dalam pelarut. Namun terdapat suatu masalah yaitu sulit nya polimer terekstraksi. Maka penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi pelarut pengekstraksi MIP fenilbutazon. Optimasi ini bertujuan untuk mendapatkan pelarut terbaik dalam mengekstraksi fenilbutazon dari dalam polimer. Penelitian dilakukan dengan tahapan sintesis metode polimerisasi ruah dengan asam metakrilat sebagai monomer, fenilbutazon sebagai template, etilenglikoldimetakrilat sebagai cross-linker, selanjutnya hasil optimasi pelarut yang terbaik dalam mengekstrasi fenilbutazon dari dalam polimer adalah pelarut kloroform-asam asetat dengan perbandingan (99:1) yang dapat mengekstraksi fenilbutazon dari dalam polimer selama 24 jam. Kata Kunci :Molecularly Imprinted, Fenilbutazon, Optimasi
{"title":"OPTIMASI PELARUT PENGEKSTRAKSI TEMPLATE MIP (MOLECULAR IMPRINTED POLIMER) FENILBUTAZON DENGAN MONOMER ASAM METAKRILAT","authors":"D. Soni, Shendi Suryana, Helva Kris Herdianty","doi":"10.52434/JFB.V11I2.794","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V11I2.794","url":null,"abstract":"Fenilbutazon merupakan salah satu bahan kimia obat yang banyak ditambahkan ke dalam obat tradisional. Pemakaian bahan kimia obat di dalam sediaan jamu dilarang karena melanggar UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Secara umum fenilbutazon dalam sediaan jamu di indentifikasi kandungannya menggunakan metode KLT yang dikombinasi dengan Spektrofotmometri UV, namun metode ini dianggap kurang memiliki sensitifitas yang tinggi. Saat ini dikembangan suatu metode baru yang memiliki sensitifitas lebih tinggi yaitu Molecularly Imprinted Polymer (MIP). MIP adalah suatu metode yang sensitiv dan selektif digunakan untuk mengekstraksi fenilbutazon dari sediaan obat tradisional. Fenilbutazon dari dalam polymer di ekstraksi menggunakan metode soxhletasi. Fenilbutazon akan terekstraksi ke dalam pelarut. Namun terdapat suatu masalah yaitu sulit nya polimer terekstraksi. Maka penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi pelarut pengekstraksi MIP fenilbutazon. Optimasi ini bertujuan untuk mendapatkan pelarut terbaik dalam mengekstraksi fenilbutazon dari dalam polimer. Penelitian dilakukan dengan tahapan sintesis metode polimerisasi ruah dengan asam metakrilat sebagai monomer, fenilbutazon sebagai template, etilenglikoldimetakrilat sebagai cross-linker, selanjutnya hasil optimasi pelarut yang terbaik dalam mengekstrasi fenilbutazon dari dalam polimer adalah pelarut kloroform-asam asetat dengan perbandingan (99:1) yang dapat mengekstraksi fenilbutazon dari dalam polimer selama 24 jam. \u0000 \u0000Kata Kunci :Molecularly Imprinted, Fenilbutazon, Optimasi","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"155 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124363003","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Dani Sujana, Deden Winda Suwandi, T. Rusdiana, Anas Subarnas
Meningkatnya minat masyarakat terhadap penggunaan bahan alam dari tanaman terjadi karena ketersediaan bahan yang mudah didapat. Cara tersebut terus dilakukan oleh masyarakat, serta diwariskan secara turuntemurun mengingat penggunaannya dianggap relatif aman serta efek samping yang minimal. Bagian akar dari pakis tangkur digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengobati berbagai jenis penyakit, antara lain rematik, hipertensi dan sebagai afrodisiaka. Menurut United States of Food and Drug Administration (FDA) meskipun bahan alam dianggap relatif aman oleh sebagian kelompok penggunanya, tetap harus dilakukan skrining toksikologi terhadap senyawa yang berpotensi obat untuk melihat serta menggambarkan efek toksik sehingga diperoleh nilai Dosis letal (LD50). Dari hasil penelitian toksisitas akut ini nilai LD50 yang diperoleh yaitu lebih dari 5000 mg/kgBB. Dikarenakan pada dosis paling tinggi pada penelitian yaitu 5000 mg/kgBB tidak terdapat hewan yang mati, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak akar pakis tangkur termasuk kedalam kategori praktis tidak toksik. Kata kunci: Ekstrak Akar Pakis Tangkur, Toksisitas Akut
{"title":"UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL AKAR PAKIS TANGKUR (Polypodium Feei MEET) DARI GUNUNG TALAGA BODAS PADA MENCIT SWISS WEBSTER","authors":"Dani Sujana, Deden Winda Suwandi, T. Rusdiana, Anas Subarnas","doi":"10.52434/JFB.V11I2.856","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V11I2.856","url":null,"abstract":"Meningkatnya minat masyarakat terhadap penggunaan bahan alam dari tanaman terjadi karena ketersediaan bahan yang mudah didapat. Cara tersebut terus dilakukan oleh masyarakat, serta diwariskan secara turuntemurun mengingat penggunaannya dianggap relatif aman serta efek samping yang minimal. Bagian akar dari pakis tangkur digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengobati berbagai jenis penyakit, antara lain rematik, hipertensi dan sebagai afrodisiaka. Menurut United States of Food and Drug Administration (FDA) meskipun bahan alam dianggap relatif aman oleh sebagian kelompok penggunanya, tetap harus dilakukan skrining toksikologi terhadap senyawa yang berpotensi obat untuk melihat serta menggambarkan efek toksik sehingga diperoleh nilai Dosis letal (LD50). Dari hasil penelitian toksisitas akut ini nilai LD50 yang diperoleh yaitu lebih dari 5000 mg/kgBB. Dikarenakan pada dosis paling tinggi pada penelitian yaitu 5000 mg/kgBB tidak terdapat hewan yang mati, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak akar pakis tangkur termasuk kedalam kategori praktis tidak toksik. Kata kunci: Ekstrak Akar Pakis Tangkur, Toksisitas Akut","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-08-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128767004","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jeruju (Hydrolea spinosa L.) merupakan tumbuhan endemic lahan basah Kalimantan Selatan yang dipercaya masyarakat setempat sebagai tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan sebagai penurun demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa kimia yang terkandung pada ekstrak daun jeruju. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, kemudian dilakukan skrining fitokimia dan uji penegasan dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan fase gerak kloroform : etanol : aquades (20:1:0,5; 25:1:0,5; 27:1:0,5; 15:2:1; 8:2:1 dan 6:2:1) dan n-heksan : etil asetat dengan perbandingan 8:2; 7:3 dan 6:4, penampakan noda dilakukan pada UV 254 nm, 366 nm dan dengan peyemprotan H2SO4 10%. Analisa KLT ekstrak daun Jeruju menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jeruju mengandung tanin, alkaloid, flavonoid, steroid dan saponin. Kata kunci: Jeruju, Hydrolea spinosa L., maserasi, kromatografi lapis tipis (KLT)
{"title":"SKRINING FITOKIMIA DAN ANALISIS KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS EKSTRAK ETANOL DAUN JERUJU (HYDROLEA SPINOSA L.)","authors":"Dyera Forestryana, Arnida Arnida","doi":"10.52434/JFB.V11I2.859","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V11I2.859","url":null,"abstract":"Jeruju (Hydrolea spinosa L.) merupakan tumbuhan endemic lahan basah Kalimantan Selatan yang dipercaya masyarakat setempat sebagai tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan sebagai penurun demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa kimia yang terkandung pada ekstrak daun jeruju. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, kemudian dilakukan skrining fitokimia dan uji penegasan dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan fase gerak kloroform : etanol : aquades (20:1:0,5; 25:1:0,5; 27:1:0,5; 15:2:1; 8:2:1 dan 6:2:1) dan n-heksan : etil asetat dengan perbandingan 8:2; 7:3 dan 6:4, penampakan noda dilakukan pada UV 254 nm, 366 nm dan dengan peyemprotan H2SO4 10%. Analisa KLT ekstrak daun Jeruju menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jeruju mengandung tanin, alkaloid, flavonoid, steroid dan saponin. \u0000 \u0000Kata kunci: Jeruju, Hydrolea spinosa L., maserasi, kromatografi lapis tipis (KLT)","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"42 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114807180","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Inflamasi merupakan keadaan yang cenderung merugikan sebagai respon perlindungan tubuh untuk mengurangi dan menghilangkan pemicu terjadinya cedera dan infeksi.1 Salah satu mediator yang berperan dalam peradangan adalah Enzim siklooksigenase (COX).3 Penelitian in vitro menunjukan bahwa daun asam jawa (Tamarindus indica L.) memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi.4,5 Penelitian ini menggunakan metode uji in silico dengan melakukan skrinning virtual terhadap senyawa-senyawa aktif di dalam asam jawa. Skrining virtual dilakukan untuk memprediksi senyawa aktif dalam asam jawa yang memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi terhadap selektif inhibitor COX-2. Pengujian yang dilakukan meliputi skrining pharmacopore, molecular docking, pengujian lipinsky’s rules of five dan pengujian Pre-ADMET. Dari hasil identifikasi farmakofor dan penambatan molekul diperoleh satu senyawa aktif daun asam jawa sebagai senyawa pemandu terhadap COX-2 yaitu Linalool yang memiliki nilai pharmacophore fit score sebesar 52.11% dan memiliki nilai ikatan energi bebas (∆G) sebesar -9.21 kkal/mol, lebih rendah dibandingkan dengan ligan alaminya yaitu Celecoxib (-7.98 kkal/mol). Dengan residu asam amino ligan alami yang sama terikat pada Linalool yaituTYR371. Dari hasil prediksi parameter absorbsi dan distribusi menunjukkan bahwa senyawa Linalool memiliki nilai Caco-2 cell sebesar 37.4763 nmsec-1, HIA (%) sebesar 96.0055 dan Protein Plasma Binding (%) 95.0547. Kata kunci: antiinflamasi, asam jawa, inhibitor selektif COX-2, penambatan molekul, skrining farmakofor.
{"title":"SKRINING VIRTUAL SENYAWA AKTIF ASAM JAWA (Tamarindus indica L.) TERHADAP SELEKTIF INHIBITOR SIKLOOKSIGENASE-2","authors":"Meilia Suherman, Riska Prasetiawati, Dani Ramdani","doi":"10.52434/JFB.V11I2.879","DOIUrl":"https://doi.org/10.52434/JFB.V11I2.879","url":null,"abstract":"Inflamasi merupakan keadaan yang cenderung merugikan sebagai respon perlindungan tubuh untuk mengurangi dan menghilangkan pemicu terjadinya cedera dan infeksi.1 Salah satu mediator yang berperan dalam peradangan adalah Enzim siklooksigenase (COX).3 Penelitian in vitro menunjukan bahwa daun asam jawa (Tamarindus indica L.) memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi.4,5 Penelitian ini menggunakan metode uji in silico dengan melakukan skrinning virtual terhadap senyawa-senyawa aktif di dalam asam jawa. Skrining virtual dilakukan untuk memprediksi senyawa aktif dalam asam jawa yang memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi terhadap selektif inhibitor COX-2. Pengujian yang dilakukan meliputi skrining pharmacopore, molecular docking, pengujian lipinsky’s rules of five dan pengujian Pre-ADMET. Dari hasil identifikasi farmakofor dan penambatan molekul diperoleh satu senyawa aktif daun asam jawa sebagai senyawa pemandu terhadap COX-2 yaitu Linalool yang memiliki nilai pharmacophore fit score sebesar 52.11% dan memiliki nilai ikatan energi bebas (∆G) sebesar -9.21 kkal/mol, lebih rendah dibandingkan dengan ligan alaminya yaitu Celecoxib (-7.98 kkal/mol). Dengan residu asam amino ligan alami yang sama terikat pada Linalool yaituTYR371. Dari hasil prediksi parameter absorbsi dan distribusi menunjukkan bahwa senyawa Linalool memiliki nilai Caco-2 cell sebesar 37.4763 nmsec-1, HIA (%) sebesar 96.0055 dan Protein Plasma Binding (%) 95.0547. \u0000 \u0000Kata kunci: antiinflamasi, asam jawa, inhibitor selektif COX-2, penambatan molekul, skrining farmakofor.","PeriodicalId":197039,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Farmako Bahari","volume":"76 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122605149","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}