Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makhluk sosial, di antara yang dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik. Dalam hubungan seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses komunikasi itu tentunya tidak terlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan, dan juga untuk tercapainya proses penyampaian informasi itu akan berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai sarana penyaluran informasi atau berita. Proses komunikasi akan efektif apabila komunikator melakukan perananya, sehingga terjadinya suatu proses komunikasi yang baik dan sesuai dengan harapan, di mana gagasan-gagasan atau ide dibahas dalam suatu musyawarah antara komunikator dengan komunikan, dan terjadi pemahaman tentang informasi atau segala sesuatu hal menjadi pokok dari pembahasan untuk mengarah pada kesepakatan dan kesatuan dalam pendapat. Selanjutnya bahwa dalam proses komunikasi terbagai dalam dua macam, yang meliputi komunikasiaktif dan komunikasi pasif. Proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan efektif jika ide, gagasan dan informasi dimiliki secara bersama-sama oleh manusia yang terlibat dalam perilaku komunikasi. Begitu juga dengan komunikasi instruksional. Materi pelajaran akan dicerna dengan baik, jika materi yang disampaikan dapat dimaknai sama oleh peserta didik sebagaimana yang dimaksudkan oleh pendidik. Kata Kunci : Komunikasi, Pendidikan, Komunikator, Manajemen
{"title":"Komunikasi Dalam Manajemen Pendidikan","authors":"Imam Bahrozi","doi":"10.37812/fikroh.v8i2.2","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v8i2.2","url":null,"abstract":"Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makhluk sosial, di antara yang dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik. Dalam hubungan seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses komunikasi itu tentunya tidak terlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan, dan juga untuk tercapainya proses penyampaian informasi itu akan berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai sarana penyaluran informasi atau berita. Proses komunikasi akan efektif apabila komunikator melakukan perananya, sehingga terjadinya suatu proses komunikasi yang baik dan sesuai dengan harapan, di mana gagasan-gagasan atau ide dibahas dalam suatu musyawarah antara komunikator dengan komunikan, dan terjadi pemahaman tentang informasi atau segala sesuatu hal menjadi pokok dari pembahasan untuk mengarah pada kesepakatan dan kesatuan dalam pendapat. Selanjutnya bahwa dalam proses komunikasi terbagai dalam dua macam, yang meliputi komunikasiaktif dan komunikasi pasif. Proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan efektif jika ide, gagasan dan informasi dimiliki secara bersama-sama oleh manusia yang terlibat dalam perilaku komunikasi. Begitu juga dengan komunikasi instruksional. Materi pelajaran akan dicerna dengan baik, jika materi yang disampaikan dapat dimaknai sama oleh peserta didik sebagaimana yang dimaksudkan oleh pendidik. \u0000Kata Kunci : Komunikasi, Pendidikan, Komunikator, Manajemen","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"45 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126297968","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Mazhab adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh Imam mujtahid dalam memecahkan masalah; atau mengistinbathkan hukum Islam. Munculnya mazhab, sebagai bagian dari proses sejarah penetapan hukum islam tertata rapi dari generasi sahabat, tabi’in, hingga mencapai masa keemasaan pada khilafah Abbasiyah, akan tetapi harus diakui madzhab telah memberikan sumbangsih pemikiran besar dalam penetapan hukum fiqh Islam.Sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat/mazhab dikarenakan perbedaan persepsi dalam ushul fiqh dan fiqh serta perbedaan interpretasi atau penafsiran mujtahid.Menganut paham untuk bermahzab, dikarenakan faktor “ketidakmampuan” kita untuk menggali hukum syariat sendiri secara langsung dari sumber-sumbernya (Al-Quran dan as-Sunnah). Bermadzhab secara benar dapat ditempuh dengan cara memahami bahwa sungguhnya pemahaman kita terhadap perbedaan pendapat di kalangan mazhab-mazhab adalah sesuatu yang sehat dan alamiah, bukan sesuatu yang janggal atau menyimpang dari Islam. Kata Kunci : Madzhab dan Perbedaan
{"title":"Madzhab Dan Faktor Penyebab Terjadinya Perbedaan","authors":"Nanang Abdillah","doi":"10.37812/fikroh.v8i1.20","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v8i1.20","url":null,"abstract":"Mazhab adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh Imam mujtahid dalam memecahkan masalah; atau mengistinbathkan hukum Islam. Munculnya mazhab, sebagai bagian dari proses sejarah penetapan hukum islam tertata rapi dari generasi sahabat, tabi’in, hingga mencapai masa keemasaan pada khilafah Abbasiyah, akan tetapi harus diakui madzhab telah memberikan sumbangsih pemikiran besar dalam penetapan hukum fiqh Islam.Sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat/mazhab dikarenakan perbedaan persepsi dalam ushul fiqh dan fiqh serta perbedaan interpretasi atau penafsiran mujtahid.Menganut paham untuk bermahzab, dikarenakan faktor “ketidakmampuan” kita untuk menggali hukum syariat sendiri secara langsung dari sumber-sumbernya (Al-Quran dan as-Sunnah). Bermadzhab secara benar dapat ditempuh dengan cara memahami bahwa sungguhnya pemahaman kita terhadap perbedaan pendapat di kalangan mazhab-mazhab adalah sesuatu yang sehat dan alamiah, bukan sesuatu yang janggal atau menyimpang dari Islam. \u0000Kata Kunci : Madzhab dan Perbedaan","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"97 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134499905","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Sekolah merupakan sebuah lembaga yang berusaha memproses input yang berupa siswa menjadi out put yang tidak hanya menguasai pengetahuan dari salah satu ranah saja, melainkan dari ketiga ranahnya yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik secara komprehensif termasuk di dalamnya pe ndidikan moral. Namun kenyataannya, sering dijumpai penyimpangan perilaku siswa, yang pada akhirnya muncul adanya degradasi moral pada siswa. Sekolah akan bermakna lebih jika sudah menerapkan pendidikan moral pada siswa secara totalitas.
{"title":"Problematika Pendidikan Moral di Sekolah","authors":"Misbahus Surur","doi":"10.37812/fikroh.v4i2.16","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v4i2.16","url":null,"abstract":"Sekolah merupakan sebuah lembaga yang berusaha memproses input yang berupa siswa menjadi out put yang tidak hanya menguasai pengetahuan dari salah satu ranah saja, melainkan dari ketiga ranahnya yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik secara komprehensif termasuk di dalamnya pe ndidikan moral. Namun kenyataannya, sering dijumpai penyimpangan perilaku siswa, yang pada akhirnya muncul adanya degradasi moral pada siswa. Sekolah akan bermakna lebih jika sudah menerapkan pendidikan moral pada siswa secara totalitas.","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"43 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122750877","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
This research investigates hizbut tahrir (HTI) and majelis mujahidin Indonesia (HTI), as Islamic fundamentalist groups. The investigation deals thoroughly with three aspect of Islamic fundamentalist movement: (1) its ideological construct (roots) and its objectification, (2) the perception to the “other” as enemy, and (3) its expression to gain the idealism (applying sharia and khilafah). To conduct the investigation this study draws on qualitative research paradigma, which is implemented by the methods of documentation, depth interview and participant observation. The investigation of this research shows the following result. Firstly, HTI and MMI are to be regarded as an axemplar of universalistic religio-political fundamentalist group. This term is coined to suggest that the movement as HTI and MMI as a fundamentalist group is not only based on religious motives but also on political motives with universal orientation. HTI and MMI have as its political target the determination to reestablish the Islamic state of khilafah. In the opinion of them, this institution will constitute a political umbrella for all Islamic ummah. Secondly, HTI dan MMI have a feeling of being under attack coupled with distrust of kafir in friendship or alliance. Thirdly, they have attention to the perpetual conflict between muslims and non-muslims and insistence that it can cease only by non-Muslim submission to a muslim ruler or Islamic law under the status of dhimmi. Kata Kunci: Islam radikal, liyan, pencitraan
本研究调查了伊斯兰原教旨主义组织——伊斯兰解放党(HTI)和印度尼西亚圣战者majelis mujahidin Indonesia (HTI)。本研究深入探讨了伊斯兰原教旨主义运动的三个方面:(1)其意识形态建构(根源)及其客观化;(2)将“他者”视为敌人;(3)其表达以获得理想主义(运用伊斯兰教法和希拉法)。本研究采用质性研究范式,采用文献资料法、深度访谈法和参与观察法进行调查。本研究的调查结果如下。首先,HTI和MMI被视为普遍主义宗教政治原教旨主义团体的典范。这是暗示作为HTI和MMI的原教旨主义团体的运动不仅有宗教动机,而且有普遍倾向的政治动机。HTI和MMI的政治目标是决心重建希拉法伊斯兰国。他们认为,这一机构将构成所有伊斯兰教民的政治保护伞。其次,HTI和MMI有一种受到攻击的感觉,加上在友谊或联盟中对kafir的不信任。第三,他们注意到穆斯林和非穆斯林之间的长期冲突,并坚持认为,只有非穆斯林服从穆斯林统治者或以齐米身份服从伊斯兰法律,这种冲突才能停止。Kata Kunci:伊斯兰激进分子,liyan, pencitraan
{"title":"Pencitraan “Liyan” Sebagai Musuh Telaah Gerakan Islam Radikal Di Indonesia","authors":"Abdullah Arif Mukhlas","doi":"10.37812/fikroh.v4i1.9","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v4i1.9","url":null,"abstract":"This research investigates hizbut tahrir (HTI) and majelis mujahidin Indonesia (HTI), as Islamic fundamentalist groups. The investigation deals thoroughly with three aspect of Islamic fundamentalist movement: (1) its ideological construct (roots) and its objectification, (2) the perception to the “other” as enemy, and (3) its expression to gain the idealism (applying sharia and khilafah). To conduct the investigation this study draws on qualitative research paradigma, which is implemented by the methods of documentation, depth interview and participant observation. The investigation of this research shows the following result. Firstly, HTI and MMI are to be regarded as an axemplar of universalistic religio-political fundamentalist group. This term is coined to suggest that the movement as HTI and MMI as a fundamentalist group is not only based on religious motives but also on political motives with universal orientation. HTI and MMI have as its political target the determination to reestablish the Islamic state of khilafah. In the opinion of them, this institution will constitute a political umbrella for all Islamic ummah. Secondly, HTI dan MMI have a feeling of being under attack coupled with distrust of kafir in friendship or alliance. Thirdly, they have attention to the perpetual conflict between muslims and non-muslims and insistence that it can cease only by non-Muslim submission to a muslim ruler or Islamic law under the status of dhimmi. \u0000 \u0000Kata Kunci: Islam radikal, liyan, pencitraan","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"29 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128514536","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pengajaran Pendidikan Agama Islam di lembaga-lembaga sekolah seringkali menuai kegagalan, karena meskipun para siswa sudah diberi pelajaran tersebut, namun di masyarakat mereka seringkali tidak menggunkannya atau mengaplikasikan apa yang mereka peroleh melalui sekolahnya, pembelajaran PAI di sekolah seolah-olah menjadi pelajaran selingan, tidak lebih penting dari pada pelajaran-pelajaran seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi, padahal Pendidikan Agama Islam seharusnya mempunyai dua karakteristik Pembelajaran yaitu transfer of knowledge dan transfer of value, oleh karena itu dalam pemikiran konstruktivistik iniakan dijumpai bagaimana pembelajaran PAI tidak harus dilakukan, agar materi-materi PAI tidak hanya sekedar menjadi wacana bagi penerimanya, tetapi menjadi buah yang mempribadi bagi mereka. Kata kunci: Konstrukvistik, Teknologi Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam
{"title":"Teknologi Pembelajaran Pai (Pendidikan Agama Islam) Dalam Paradigma Konstruktivistik","authors":"Ach Khusnan","doi":"10.37812/fikroh.v4i2.18","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v4i2.18","url":null,"abstract":"Pengajaran Pendidikan Agama Islam di lembaga-lembaga sekolah seringkali menuai kegagalan, karena meskipun para siswa sudah diberi pelajaran tersebut, namun di masyarakat mereka seringkali tidak menggunkannya atau mengaplikasikan apa yang mereka peroleh melalui sekolahnya, pembelajaran PAI di sekolah seolah-olah menjadi pelajaran selingan, tidak lebih penting dari pada pelajaran-pelajaran seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi, padahal Pendidikan Agama Islam seharusnya mempunyai dua karakteristik Pembelajaran yaitu transfer of knowledge dan transfer of value, oleh karena itu dalam pemikiran konstruktivistik iniakan dijumpai bagaimana pembelajaran PAI tidak harus dilakukan, agar materi-materi PAI tidak hanya sekedar menjadi wacana bagi penerimanya, tetapi menjadi buah yang mempribadi bagi mereka. \u0000 \u0000Kata kunci: Konstrukvistik, Teknologi Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128259745","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kemanakah arah pendidikan Islam di masa depan harus dibawa? Sebuah pertanyaan klasik yang sering muncul tetapi sekaligus menantang bagi para civitas akademikanya untuk selalu memberikan jawabannya. Entah siapa yang salah, hingga saat ini, masyarakat umum masih mempunyai persepsi kurang menguntungkan terhadap pendidikan Islam. Faktanya, masih banyak pilihan orang tua memasukkan anaknya ke pendidikan Islam sebagai pilihan kedua setelah pilihan pertama ke lembaga pendidikan umum. Satu masalah bagi civitas akademika pendidikan islam untuk terus meneruskan jati dirinya agar lebih acceptable bagi masyarakat luas. Karena itu, pendidikan Islam harus selalu memperbaruhi sumber daya ke pendidikannya agar relevan dengan perkembangan masyarakat pengunanya. Agar arah pendidikan Islam dimasa depan tidak sekedar mengikuti arus perubahan yang telah terjadi, maka pendidikan Islam perlu untuk memikirkan kembali filsafat, teori, dan kurikulum pendidikannya. Dengan demikian pendidikan islam tidak akan kehilangan jati dirinya sendiri, tetapi justru yang terjadi adalah pendidikan islam tidak akan memainkan peranan aktif dalam arus pergaulan global yang sedang berjalan ini. Kata kunci : Pendidikan Islam, Globalisasi, Filsafat, Teori, dan Kurikulum
{"title":"Konstruk Pemikiran Pendidikan Islam Berwawasan Masa Depan","authors":"S. Sutono","doi":"10.37812/fikroh.v4i1.7","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v4i1.7","url":null,"abstract":"Kemanakah arah pendidikan Islam di masa depan harus dibawa? Sebuah pertanyaan klasik yang sering muncul tetapi sekaligus menantang bagi para civitas akademikanya untuk selalu memberikan jawabannya. Entah siapa yang salah, hingga saat ini, masyarakat umum masih mempunyai persepsi kurang menguntungkan terhadap pendidikan Islam. Faktanya, masih banyak pilihan orang tua memasukkan anaknya ke pendidikan Islam sebagai pilihan kedua setelah pilihan pertama ke lembaga pendidikan umum. Satu masalah bagi civitas akademika pendidikan islam untuk terus meneruskan jati dirinya agar lebih acceptable bagi masyarakat luas. Karena itu, pendidikan Islam harus selalu memperbaruhi sumber daya ke pendidikannya agar relevan dengan perkembangan masyarakat pengunanya. Agar arah pendidikan Islam dimasa depan tidak sekedar mengikuti arus perubahan yang telah terjadi, maka pendidikan Islam perlu untuk memikirkan kembali filsafat, teori, dan kurikulum pendidikannya. Dengan demikian pendidikan islam tidak akan kehilangan jati dirinya sendiri, tetapi justru yang terjadi adalah pendidikan islam tidak akan memainkan peranan aktif dalam arus pergaulan global yang sedang berjalan ini. \u0000 \u0000Kata kunci : Pendidikan Islam, Globalisasi, Filsafat, Teori, dan Kurikulum ","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"7 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121248604","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pendidikan fiqih sangat berpengaruh terhadap peserta didik dalam membentuk pola pikir, sikap dan prilaku toleransi terhadap pendapat Mujtahid yang bervarian.Pola pendidikan yang digunakan adalah Pendidikan ideologi dengan cara internalisasi nilai, sosialisasi dan pengarahan.Perubahan yang dikehendaki (intended-change) atau perubahan yang direncanakan (planned-change) harus konsisten agar tidak terjadi penyimpangan dari yang direncanakan. Pokok dari materi ajar yang sangat mempengaruhi terhadap peserta didik agar bisa menjadi toleran terhadap pendapat lain yang varian, adalah; materi sumber hukum islam, yang mencakup sumber hukum yang disepakati (al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas ) sedang yang diperselisihkan adalah (Istihsan, istishhab, maslahah mursalah, syad al-dzarai, syar’u man qablana ‘urf dan madhhab shahabi), dan materi tentang ijtihad. Metode yang bervarian inilah yang dipakai oleh para pakar hukum islam dalam berijtihad untuk menggali hukum. Tentunya, dengan metode yang bervarian ini akan menghasilan pendapat yang berbeda pula. Sedang hasil pendapat para mujtahid diakui oleh Nabi, terlepas benar atau salah. Sehingga tidak ada pilihan dalam mensikapi perbedaan pendapat tersebut kecuali saling menghormati dan toleransi Kata Kunci : Fiqih, Pola Pikir dan Toleran
fiqih教育对学习者在形成容忍变异Mujtahid观点的思想、态度和行为上有很大的影响。教育模式是一种以价值、社会化和方向的内部形态教育。打算的变化或计划的变化必须保持一致,以免偏离计划。对学习者产生如此深远影响的教学材料的主题是:伊斯兰法律的资源,包括商定的法律来源(《古兰经》,《逊尼派》,《Ijma》和《Qiyas》),讨论的是(Istihsan, istishhab, maslaha mursalah, shad al-dzarai, syar ' u man qablana’urf和madhhab shahabi),以及ijtihad的内容。这就是伊斯兰法学家在探索法律时采用的变异方法。当然,用这种多变的方法可以解决所有不同的问题。是先知承认的mujtahid观点的结果,不管对错。因此,在解决这些分歧时,除了相互尊重和宽容的关键字:Fiqih,心态和宽容
{"title":"Pola Pikir, Sikap Dan Prilaku Toleran Peserta Didik","authors":"Ahmad Khusnan","doi":"10.37812/fikroh.v8i1.21","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v8i1.21","url":null,"abstract":"Pendidikan fiqih sangat berpengaruh terhadap peserta didik dalam membentuk pola pikir, sikap dan prilaku toleransi terhadap pendapat Mujtahid yang bervarian.Pola pendidikan yang digunakan adalah Pendidikan ideologi dengan cara internalisasi nilai, sosialisasi dan pengarahan.Perubahan yang dikehendaki (intended-change) atau perubahan yang direncanakan (planned-change) harus konsisten agar tidak terjadi penyimpangan dari yang direncanakan. Pokok dari materi ajar yang sangat mempengaruhi terhadap peserta didik agar bisa menjadi toleran terhadap pendapat lain yang varian, adalah; materi sumber hukum islam, yang mencakup sumber hukum yang disepakati (al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas ) sedang yang diperselisihkan adalah (Istihsan, istishhab, maslahah mursalah, syad al-dzarai, syar’u man qablana ‘urf dan madhhab shahabi), dan materi tentang ijtihad. Metode yang bervarian inilah yang dipakai oleh para pakar hukum islam dalam berijtihad untuk menggali hukum. Tentunya, dengan metode yang bervarian ini akan menghasilan pendapat yang berbeda pula. Sedang hasil pendapat para mujtahid diakui oleh Nabi, terlepas benar atau salah. Sehingga tidak ada pilihan dalam mensikapi perbedaan pendapat tersebut kecuali saling menghormati dan toleransi \u0000Kata Kunci : Fiqih, Pola Pikir dan Toleran","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"16 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122698455","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Kajian hadis-hadis bertentangan telah dimulai sejak sebelum masa al-Syafi’i. Namun, baru di tangan al-Syafi’i, kajian ini menemukan bentuk teoretisnya terutama melalui karya yang berjudul Ikhtilâf al-Hadîts. Karya ini muncul sebagai bagian dari usaha al-Syafi’i dalam mengkonstruksi bangunan fikih, terutama aliran ahli hadis dengan memberikan penguatan pada basis teoretisnya untuk menghadapi serangan ahli ra’yu, inkar al-Sunnah, dan kelompok Kalam. Al-Syafi’i merasa berkepentingan meneguhkan eksistensi sunnah dengan segala variannya. Secara intern, al-Syafi’i harus menghadapi dan menyelesaikan problem hadis-hadis yang saling bertentangan yang merupakan celah yang dapat dimanfaatkan kaum yang menolak hadis sebagai bagian dari syariah. Di sinilah perlunya mengetahui perjalanan awal Mukhtalif al-Hadîts. Kata Kunci: Mukhtalif, Ikhtilaf, Hadis, al-Syafi’i
{"title":"Kontribusi Al-Syafi’i Dalam Masalah Ikhtilaf Al-Hadits","authors":"Atmari Atmari","doi":"10.37812/fikroh.v8i2.5","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v8i2.5","url":null,"abstract":"Kajian hadis-hadis bertentangan telah dimulai sejak sebelum masa al-Syafi’i. Namun, baru di tangan al-Syafi’i, kajian ini menemukan bentuk teoretisnya terutama melalui karya yang berjudul Ikhtilâf al-Hadîts. Karya ini muncul sebagai bagian dari usaha al-Syafi’i dalam mengkonstruksi bangunan fikih, terutama aliran ahli hadis dengan memberikan penguatan pada basis teoretisnya untuk menghadapi serangan ahli ra’yu, inkar al-Sunnah, dan kelompok Kalam. Al-Syafi’i merasa berkepentingan meneguhkan eksistensi sunnah dengan segala variannya. Secara intern, al-Syafi’i harus menghadapi dan menyelesaikan problem hadis-hadis yang saling bertentangan yang merupakan celah yang dapat dimanfaatkan kaum yang menolak hadis sebagai bagian dari syariah. Di sinilah perlunya mengetahui perjalanan awal Mukhtalif al-Hadîts. \u0000 \u0000Kata Kunci: Mukhtalif, Ikhtilaf, Hadis, al-Syafi’i","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"30 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132081963","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pengajaran remedial merupakan suatu kegiatan pendidikan yang bertujuan membantu anak didik untuk mengusai materi pembelajaran yang dirasakan belum cukup dikuasai. Kebutuhan akan pengajaran remedial ini, bukan hanya bagi calon peserta tes masuk perguruan tinggi saja, melainkan juga para siswa, mahasiswa, bukan para sarjana yang “belum siap pakai”. Mengingat para jasa pengajaran remedial cukup luas, tulisan ini mencoba memaparkan ruang gerak pengajaran remedial, langkah-langkah pengembangan serta fungsi-fungsinya dalam dunia pendidikan Kata kunci: Bimbingan tes, teknik bimbingan, pengajaran remedial
{"title":"Pengajaran Remedial Sebuah Upaya Peningkatan Pendidikan Non Formal","authors":"Nanang Abdillah","doi":"10.37812/fikroh.v4i1.11","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v4i1.11","url":null,"abstract":"Pengajaran remedial merupakan suatu kegiatan pendidikan yang bertujuan membantu anak didik untuk mengusai materi pembelajaran yang dirasakan belum cukup dikuasai. Kebutuhan akan pengajaran remedial ini, bukan hanya bagi calon peserta tes masuk perguruan tinggi saja, melainkan juga para siswa, mahasiswa, bukan para sarjana yang “belum siap pakai”. Mengingat para jasa pengajaran remedial cukup luas, tulisan ini mencoba memaparkan ruang gerak pengajaran remedial, langkah-langkah pengembangan serta fungsi-fungsinya dalam dunia pendidikan \u0000 \u0000Kata kunci: Bimbingan tes, teknik bimbingan, pengajaran remedial","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"53 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127243174","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Masyarakat muslim dewasa ini menyadari bahwa dirinya merasa tertinggal dari segi penguasaan ilmu teknologi. Sementara barat, lewat berbagai pengembangan dan penelitian yang tiada henti-hentinya didesain untuk semata-mata kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, semakin berada pada barisan terdepan dalam keunggulan sains. Kenyataan ini amat mengherankan mengingat dalam beberapa abad sebelumnya pengembangan ilmu pengetahuan berada ditangan cendikiawan muslim terlebih pada saat yang sama barat baru saja belajar pada peradaban muslim lewat poros Andalus (Spanyol). Untungnya, sekarang ini sudah mulai muncul usaha-usaha untuk menyadarkan kembali pada proses pencapaian dan penguasaan IPTEK yang lepas dari genggaman generasi muslim pada abad-abad sebelumnya. Sungguhpun usaha itu mengalami hambatan dan rintangan yang tidak gampang. Akan tetapi sebagai sebuah usaha awal, diharapkan adanya kesadaran qur’anik dari masyarakat muslim, bahwa kita harus mengejar segala ketertinggalan itu.
{"title":"Signifikansi Nilai-Nilai Islam Dan Peraturannya Dengan Ilmu Pengetahuan Modern","authors":"Ach Khusnan","doi":"10.37812/fikroh.v4i1.10","DOIUrl":"https://doi.org/10.37812/fikroh.v4i1.10","url":null,"abstract":"Masyarakat muslim dewasa ini menyadari bahwa dirinya merasa tertinggal dari segi penguasaan ilmu teknologi. Sementara barat, lewat berbagai pengembangan dan penelitian yang tiada henti-hentinya didesain untuk semata-mata kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, semakin berada pada barisan terdepan dalam keunggulan sains. Kenyataan ini amat mengherankan mengingat dalam beberapa abad sebelumnya pengembangan ilmu pengetahuan berada ditangan cendikiawan muslim terlebih pada saat yang sama barat baru saja belajar pada peradaban muslim lewat poros Andalus (Spanyol). Untungnya, sekarang ini sudah mulai muncul usaha-usaha untuk menyadarkan kembali pada proses pencapaian dan penguasaan IPTEK yang lepas dari genggaman generasi muslim pada abad-abad sebelumnya. Sungguhpun usaha itu mengalami hambatan dan rintangan yang tidak gampang. Akan tetapi sebagai sebuah usaha awal, diharapkan adanya kesadaran qur’anik dari masyarakat muslim, bahwa kita harus mengejar segala ketertinggalan itu.","PeriodicalId":219039,"journal":{"name":"Fikroh: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam","volume":"7 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124469459","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}